
Itu pertanyaan yang dilontarkan Geg Ina di milis kampung edan. Ini pun suatu pertanyaan yang sudah sering saya tanyakan ke diri sendiri.
Rumah itu apa? Tempat tinggal itu bagaimana? Griya yang bentuknya seperti apa, yang wanginya bagaimana, yang layak disebut kediaman kita?
Bangunan, ruang, benda, atau keadaan yang bagaimana yang membuat kita berseru ‘inilah kediaman saya yang paling saya sukai’, bahkan ketika kita baru saja menginjakkan kaki di dalamnya.
Rasanya saya akan butuh seumur hidup untuk menjelaskannya; bukan hanya karena tempat itu adalah tempat yang bicara dengan bahasa dan logika jiwa yang sulit dimengerti, tapi juga karena keterbatasan bahasa yang saya punya.
Tapi, ini adalah satu sudut kediaman saya di mana saya bisa menemukan hampir semua yang saya asosiasikan dengan ‘tempatku’.
Tak ada makhluk hidup dalam bingkai ini, memang, tapi keterlibatan mereka butuh dua jilid lagi untuk bisa dijelaskan. Tapi saya selalu dikelilingi nafas dan degup jantung, itu pasti.
Barang, ruang, orang. Saya tidak bisa membayangkan hidup tanpa mereka.