Beberapa hari yang lalu, saya pergi ke suatu pasar swalayan (menemani teman). Bukan swalayan yang extra-super-duper mahal yang jualan barang-barang impor dengan aksara alien, tapi bukan juga swalayan grosir atau swalayan yang “rame-banget-kalo-tanggal-muda-itu” (misalnya: Swalayan Perempatan Perancis, Swalayan Raksasa, dst dsb), tapi swalayan yang gambarnya orang Romawi itu. Selama di sana hingga pulang, mungkin sudah tak terhitung berapa banyak “lebih murah di pasar kayaknya sih”, walaupun nggak mahal-mahal banget sampe kebangetan.
Memang sih, sekarang di Indonesia kayaknya harga swalayan udah mulai turun (apalagi di swalayan Perempatan, atau sejenisnya) dan bisa bersaing dengan harga pasar. Malah mungkin ada beberapa barang yang “jatuhnya” lebih murah daripada di pasar tradisional.
Waktu aku kuliah dulu, aku bergantung banget sama yang namanya swalayan. Malah pasar tradisional itu sangat susah sekali ditemukan. Sebeneranya di setiap kota itu ada sih pasar tradisional, tapi entah itu diberdayakan sebagai atraksi turis atau tempatnya terpencil sekali.
Di sana, yang namanya pasar swalayan barangnya murah-murah, seringnya lebih murah daripada di pasar tradisional. Mungkin karena mereka membeli dalam jumlah yang naudjubileh banyaknya dan mereka memang punya perkebonan yang luar biasa luas (untuk makanan jenis tumbuhan dan buah seger), perternakan yang banyak hewannya (buat makanan jenis daging-dagingan seger), dan pabrik sendiri. Jadinya harganya pun lebih bersaing begitu.
Selain itu, di sana peraturan kedaluwarsa (mungkin sebutannya shelf life, atau display by) itu sangat diperhatikan sekali. Jadi, kalo yang sudah hampir kedaluwarsa ini didiskon gila-gilaan. Paling mentok, sehari sebelum kedaluwarsa (H-1) itu barang-barang sudah harus dijual atau dibuang. Yang pas hari itu kedaluwarsa dijadikan gratis. Malah kalau mereka melakukan “kesalahan”, misalnya dengan memajang barang kedaluwarsa (yang hari itu habis waktunya), atau yang sudah lewat tanggalnya, mereka bisa dituntut lho.
Jadi tipsnya: pergi ke pasar swalayan di malam hari (sekitar sejam atau dua jam sebelum mereka tutup (atau sejam atau dua jam sebelum pergantian hari untuk yang buka 24 jam) dan pasti akan banyak barang diskonan.
Selain itu, ada juga swalayan-swalayan yang menentukan jam diskon (misalnya di atas jam 11 siang, rak diskon baru akan diisi), nah datanglah pas jam 11 itu. Pasti barang di rak itu masih banyak dan lengkap.
Dulu aku pernah dapet sekilo kentang dengan harga 1 pence (atau 0.01 poundsterling, atau sekitar Rp170). Gila, di manapun di Indonesia nggak akan pernah bisa dapat kentang sekilo dengan harga segitu. Sering juga membeli makanan siap saji (yang kemudian masuk ke freezer untuk sebulan ke depan) dengan harga kurang dari 20 pence.
Belum lagi susu, roti, dan lain sebagainya. Memang sih ada beberapa orang dewasa yang bertanya: apa nggak takut keracunan makanan? Tapi pada kenyataannya, mungkin karena iklim yang rada beda dari di Indonesia, makanan yang sudah tidak fresh lagi menurut tanggal di kemasannya itu masih bisa tahan sekitar semingguan. Dan kalaupun sudah berjamur (misalnya roti), bagian yang berjamur itu yang dibuang sisanya dimakan lagi. Bahkan pernah juga makan makanan berjamur tanpa sadar kalau jamurnya ikut kemakan. Maklum namanya juga ngantuk, baru bangun pagi. Yang terbersit di pikiran: “kok rotinya rada pahit ya?” tapi itu juga keburu makan 3 helai roti dulu baru nyadar. Dan masih sehat-sehat saja seperti sekarang lho. Ah, namanya juga student. Katanya, perut para mahasiswa itu lebih kebal.
Apapun sebutannya, motto pola belanja makanan mahasiswa adalah: “Best Before. After that, Better”.
Ini nggak cuma untuk makanan dan swalayan loh sebenernya. Beli tiket nonton teater atau opera atau orkes atau orkestra juga begini. Ada teater-teater yang menjual tiket late-seating atau skema melalui badan mahasiswa (atau OSIS-OSISan gitu) yang akan ngirim SMS yang dikirimkan pada hari pertunjukan kira-kira isinya: “Tiket 5 poundsterling, datang 15 menit sebelum acara di mulai, dengan membawa kartu pelajar”.
Pasar tradisional memang nggak gitu beken dalam arti kata “tradisional”, karena barangnya kadang-kadang lebih mahal daripada di supermarket. Mungkin karena mereka numbuhin sendiri dalam jumlah yang nggak segede punya swalayan. Tapi kadang-kadang barang di pasar tradisional ini antik-antik. Dan pasar tradisional di situ benar-benar pengalaman belanja yang tak terlupakan. Mulai dari buku bekas (second-hand), pernik-pernik dan asesoris, sampai hal jagal-menjagal, sampai sayur, sampai tanaman hias dan bunga segar, buah, dan bahkan piringan hitam, semuanya tumplek ubleg di satu pasar. Pokoknya antik.
Antik-antik maksudnya: yang jarang ditemukan di pasar swalayan biasa. Misalnya, di pasar yang agak nggak jauh dari Stasiun Kereta Liverpool Street (di London), temenku jualan tahu. Dan tahunya ini mirip banget dengan tahu-tahu sumedang yang ada di Indonesia. Usut punya usut, si bule satu ini emang udah menuntut ilmu sampai ke negeri sumedang loh. Beda dengan tahu-tahu yang ada di pasar swalayan yang (bagiku) rada aneh rasanya, tahu yang ini benar-benar membangkitkan selera nostalgia. Si teman ini juga seneng banget kalo disogok sama tempe. Jadi sering juga barter tempe dengan tahu. Hohoho.
Katanya, suatu saat nanti dia juga akan memasarkan tempe a la Indonesia aseli (bukannya yang bau bir kayak yang dijual di Chinatown), tapi nanti kalo “pabriknya” sudah lebih luas dari satu petak. Kalo nggak ntar jamurnya terbang-terbang ke mana-mana, bisa-bisa tahunya nggak jadi dong.
Selain itu, nilai tambah pasar tradisional itu ada di hubungan atau interaksi langsung dan menyeluruh (hweh? naon yeuh) dengan si penjualnya (apalagi kalo ngganteng dan cakeup). Sering kali di pasar seperti ini aku belajar cara menanam a la hidroponik, mengetahui kehidupan sehari-hari kasta petani di Inggris, ngobrol-ngobrol dengan nenek pencinta buku yang menjaga stan piringan hitam, dan diundang ke pesta rakyat tradisional.
Pasar swalayan adalah hal penting dalam kehidupan ekonomis dan murah, tapi pasar tradisional tak tergantikan sebagai tempat belajar tentang keseharian para native.