Uncategorized

To Kaissa

Icha, selamat menempuh hidup baru, selamat telah menemukan teman hidup untuk saling berbagi, selamat telah menemukan sandaran dan tangan yang siap menopang dan memegangmu saat goyah… 

Icha, semoga kalian dapat menua bersama dalam bahagia…

kaissa

Photo credit: Kaissa’s Facebook

Kaissa Melian, saya memanggilnya Icha. Seorang yang saya kenal sekitar 3 tahun lalu. Teman satu pleton saat prakondisi tahun 2012 di AAU. Teman satu lokasi penempatan, Kabupaten Ngada, walau berbeda kecamatan, Malatalokolo dan Bajawa. Teman tinggal satu lantai di gedung asrama. Tapi, ternyata jodoh kita hanya sampai disitu. Akhirnya dia melanglang buana kemana-mana, sedang saya tetap stay di Jogja.

She’s more than a friend.

Dia ibu guru, bukan hanya bagi muridnya, namun juga bagi saya. Banyak hal yang membuat saya salut; sholat tertibnya, baca kitabnya, puasa-puasa sunahnya, ngajinya, sholehahnya – saya masih jauh dari itu. Seseorang yang cantik, baik, tulus, rajin, pintar, berani, teladan, siapa yang menyangkal? Iya, dia memiliki itu semua. Saya belajar memiliki itu semua.

Perfect. She is. 

Banyak waktu yang telah terlewati bersama. Paling tidak setahun di lokasi pengabdian itu membuat saya paham arti pertemanan. Teman yang harus ada saat yang lain membutuhkan. Dia teman berbagi cerita, bahagia, dan air mata saat sama-sama jauh dari keluarga. Teman berbagi peluh dan keluh.

Sepertinya saya tidak akan pernah bisa lupa saat kami tidur di gudang itu dan menggigil saat musim dingin memeluk kota Bajawa. Bertiga dengan Vera.

10 hari di markas AAU, 11 bulan di Kab. Ngada, 6 bulan di asrama, hingga akhirnya, jiwanya terpanggil untuk mendidik anak bangsa di tengah hutan sawit, di Riau sana. Keputusan yang saya tidak berani mengambilnya. Beberapa bulan kemudian, dia memutuskan untuk mengajar anak TKI di Sabah Malaysia. Sungguh mulia, Cha. Sungguh berani, sedang saya tak punya nyali untuk sekedar pergi jauh lagi.

Ibu Guru Icha, tetaplah menginspirasi.

Lalu beberapa hari lalu, akhirnya saya tau bahwa akhirnya dia telah menemukan pendamping hidup. Dan saya yakin bahwa siapapun yang bersanding dengannya adalah lelaki yang beruntung – Lucky – yang ternyata adalah nama suaminya.

Iya, Cha. Dia beruntung. Sangat beruntung menemukanmu dan bisa hidup denganmu.

Icha… Aku ikut berbahagia. Semoga bahagia selama-lamanya. 

Warm hugs and kisses,
Hesti~

Short Stories

Secuil Rindu Untuk Asramaku

Beberapa hari ini saya sedang merasakan hidup-segan-mati-enggan. Entah, lagi galau gitu soalnya. Lalu mengingat kehidupan asrama yang ternyata pernah lebih menyenangkan. Sayangnya, saya baru sadar sekarang.

Jujur saja, beberapa hari sebelum di-asramakan, semua rasanya mengerikan. Seolah-olah masa hura-hura saya terengut. Nggak akan ada lagi acara semacam Happy Puppy time, soda time, hangout time, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Lalu saya akan terpenjara dalam tembok asrama tanpa asmara (*gayamu).

Ya, pada awalnya memang mengerikan, jadwal bejibun dan segala peraturan semacam nggak boleh keluar malem, nggak boleh pulang ke rumah, nggak boleh ini itu, harus ini itu, dan sebagainya. Kuliah pagi sampai sore disambung kegiatan asrama, belum lagi tugas kuliah yang bakal bikin asma saya sering kumat.

Pulang-pergi kuliah dianterin, makan harus di asrama, sekamar bertiga, lalu dimana coba saya bisa dapat private space to talk to the wall? Lalu akhir pekan udah disusunin jadwal untuk kegiatan-kegiatan tambahan, semacam training ini itu, seminar, pelatihan. Kapan liburannya coba?

Waktu itu saya kurang bersyukur.

Tapi, sekarang betapa saya rindu masa-masa bangun pagi, mandi, makan katering disiapin, piring dicuciin, berangkat kampus dianterin, kuliah dan makan siangnya dianterin, pulang dijemputin, makan malam catering disiapin lagi, ya gitu-gitu terus tiap hari.

LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME.

Lalu pada masa itu, saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai kota di Indonesia dengan segala tetek bengeknya, dengan bahasa ngapaknya, dengan dangdut koplonya, dengan nyebelin-nyebelin-ngangeninnya, dengan semua apa adanya mereka. Sekarang mereka sudah tersebar lagi ke seluruh sudut Indonesia, untuk menjadi guru bagi anak bangsa di pelosok sana. Dari Aceh sampai Papua bahkan ada yang di Malaysia. Ada yang di kota, dan mungkin ada pula yang tinggal ditempat yang listrikpun bahkan belum menyala. ONE THING I MUST ADMIT, YOU ALL ARE GREAT.

Makan apa hari ini? Saya sih tetiba kangen sama oseng-oseng kikil katering asrama ala chef Mbak Tri Queen. Walaupun dulu sempat klenger sama menu katering yang itu-itu aja (kalo nggak oseng-oseng janggel, oseng-oseng kikil, sop, nugget, ya soto (baca: kumkuman kobis), tempe, tahu, lele, ayam goreng, gudeg,). Namun ternyata jamane Mbak Tri enak to? Makan disiapin, piring dicuciin. Kalau menu nggak cocok tinggal protes. Esok harinya dibawain gerobak bakso. INI ADALAH CONTOH PENERAPAN PASAL 34 AYAT 1: FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA MBAK TRI.

Dulu awalnya saya mikir bahwa, menjalani kehidupan kampus di UNY Karang Malang dan kehidupan asrama di UNY Wates bakalan berat. Lha gimana? Jogja – Wates 1 jam lebih. Kuliah jam 8 sampai jam 3, lima hari seminggu. Bakalan lelah lahir batin.  Tiap hari harus bolak-balik. BUT LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME. Ada bis UNY dan bis BIMO yang tiap hari bolak-balik antar jemput. Antar jemput kayak kita orang penting gitu. Lalu perjalanan Wates-Kampus hanya semacam pindah tidur. Lha gimana, Di dalam bis semacam ayunan paling nyaman yang membuat terlelap dalam waktu sekejap.

Sekarang kalau lewat jalan wates pengennya dianterin lagi, tinggal naik bis duduk santai, di dalem bobok sambil dengerin dangdut pantura ala monita atau palapa sambil nonton video klip “mending tuku sate timbang tuku wedhuse”.

Enak kan (satene)?

Jadi siklus hidup pada waktu itu adalah: Bangun tidur – mandi – sarapan (disiapin) – berangkat (dianterin) – kuliah (dikuliahin) – pulang (dianterin) – makan (disiapin) – tidur (ditidurin #eh).

Lha kalau kuliah pada ngapain? Belajar dong. Bikin materi, micro teaching, diskusi, nonton movie, bikin kopi, sambil nunggu kiriman nasi box dari catering (tetep makan siang juga dikirimin!)

Saya harusnya bersyukur dengan itu semua, hidup setahun ditanggung negara. Kalau nggak salah, saya pernah print buku tabungan, ada saldo lewat sebesar 60 juta. JELAS BUKAN UANG SAYA. Tapi itu uang negara untuk kami, untuk makan, jajan, pendidikan, hiburan, dolan, training, seminar, workshop, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lainnya *lalu ngitung sertifikat*.

Ah! Kali ini saya beneran rindu. Rindu teriak “woooiii makan malam lauknya apaaa?” dari lantai 4 ke penghuni lantai 1. Rindu aerobic gratisan, masuk kamar demi kamar ngemis cemilan, rindu logat “aja kaya kue” atau “batiri inyong yuh”, rindu Mami Bega dan kebahenolannya, rindu tengah malam dangdut koploan, dan rindu-rindu tak terungkap lainnya.

Atau rindu ini hanya milik saya saja? (Iya, mungkin sih. Soalnya yang lain rindunya udah terbagi buat belahan jiwa dan buah hatinya.) *lalunyakarnyakartembok

Biarlah rindu tetap menjadi rindu. Di akhir tulisan ini, saya memutuskan untuk tetap menjalani hidup dengan penuh suka cita. Menikmati setiap momen yang ada. Nggak boleh lagi merasa hidup segan mati enggan.

Nggak ada yang tau kedepannya bakal jadi kayak gimana. Dulu yang sepertinya masa-masa asrama serasa neraka, kini akhirnya menjadi #asramayangdirindukan. Bisa saja, masa-masa galau sekarang ini, bisa jadi menjadi #masayangdirindukan.

Love every moment in life. Time never turns back. Be grateful and stay wonderful.

Uncategorized

Flores Journey – Air Panas Mengeruda, Soa

Mengeruda Trip #Latepost

Mengeruda, salah satu obyek wisata sumber air panas di Kecamatan Soa, Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sela-sela pengabdian saya mengajar dolan di daerah terpencil, saya minum air sambil menyelam (apasih -,-). Mumpung ada di perantauan, nggak ada salahnya menyelami seluk beluk destinasi wisatanya. Refreshing gitu deh. Selama 2011-2012, empat kali saya mengunjungi tempat ini, yang pertama sama temen-temen sepenempatan, yang kedua pas jadi guide temen beda penempatan, yang ketiga pas sama rombongan sekolah, dan yang keempat pas sama sodara baru.

Sayangnya, sebagai salah satu tempat wisata di Ngada yang memiliki potensi menarik minat turis baik local maupun manca, tempat ini kurang mendapat pengelolaan yang baik. Beberapa bangunan (kayaknya sih bekas tempat makan) rusak nggak diperbaiki, tempat ganti yang rusak dan penuh vandalisme dan kotor, sampah berserakan, tanaman penghias yang nggak dirawat, dan beberapa hal yang membuat tidak nyaman. But if you visit Ngada, you must be here.

It was the first time I went there. Kami berangkat ber-6, Anang, Cucun, Agil, Adisti, Tuning, dan saya. We rent an ‘angkot’ to take us there. We took some pictures tapi ya karena kami menggunakan kamera handphone, gambarnya nggak terlalu oke. Foto yang atas pas di dalem angkot, yang di bawah pas di entrance gate Mengeruda. For the entrance ticket, we paid 3000 rupiahs, if I’m not mistaken.

Menge 1

Disela-sela proses pemandian (ceileh), kami masih sempat narsis. Ada satu kolam air panas tenang, ada juga yang air mengalir. Yang dibagian air mengalir bisanya dipakai buat bilas-bilas gitu juga. Tuh, liat si Disti yang sempet ngiklan shampoo >.<

Menge 2Sumber air su dekat

Menge 3

Mengeruda dengan kamera yang sedikit lebih bagus

Untuk kunjungan saya yang kedua, ketiga, keempat, saya nggak banyak ambil foto. I think it’s enough to show you this pics. Mengeruda 3 tahun yang lalu, apakah sekarang sudah berubah? Semoga saja. J

Ps: Ini bukan foto yang asli saya ambil sendiri, cuma ngumpulin dari folder foto temen-temen (Agil, Cucun, Imam).

Traveling

Flores Journey – Taman Laut 17 Pulau Riung

Masih dalam seri sambil menyelam minum air. As we know, kawasan Indonesia Timur punya pantai-pantai yang indah… yang terkenal sih Raja Ampat di Papua. Tapi saya merasa cukup puas, senang, dan bangga pernah kesini, Taman Laut 17 Pulau Riung. Tepatnya akhir 2011 saya dan rombongan para guru muda yang terdampar di Flores berkesempatan melihat kekayaan alam Indonesia, anugerah Tuhan YME. Aha!

Kepulauan ini berjumlah 17 pulau (katanya, saya nggak ngitung sih) dan masih bener-bener alami. Emejing. Kayaknya kalo diminta menulis deskripsi perjalanan ini bakal jadi panjang banget. Indah, biru, bening, ikan dan penghuni dasar lautnya warna-warni, walaupun saya nggak nyelam (kalo ada yang phobia ketinggian, saya phobia kedalaman) tapi ngeliat dari permukaan laut aja udah seneng.

Karena ini late post saya bener-bener lupa berapa biaya yang dikeluarkan untuk trip ini, tarif hotel sekitar 50 rb – 100 rb perkamar, kalo makanan bakso atau nasi ayam/ nasi telur sekitar 10.000-20.000 rupiah. Biaya sewa kapal untuk sekitar 10 penumpang sekitar 300 ribuan (dua tahun yang lalu) untuk mengelilingi 17 pulau. Tapi dijamin sehari nggak bakal selesai keliling pulau. Biaya sewa alat snorkeling berapa yah?? *lupa.

Kami berkeliling ke beberapa pulau, Pulau Kelelawar yang saya inget, dimana banyak banget kelelawar raksasa yang itu bergantungan di pohon. Tapi cuma lewat aja. Lalu kami mendamparkan diri ke sebuah pulau, kayaknya dulu pernah bagus, tapi udah nggak terawat lagi. Ada beberapa temen yang nyelam, tapi saya cukup menunggu diatas kapal.

Haha! I’m not good at taking pictures. Foto-foto ini foto seadanya yang saya ambil pake kamera saya.

Riung 1Foto yang diatas adalah kapal di dermaga sebelum berangkat keliling pulau, kalo yang dibawah pas udah nyampai pulau yang indah banget. Karena kami berjumlah 20an orang, maka kami menyewa dua kapal.

Riung 4

Ini foto-foto geje waktu di kapal, waktu temen saya snorkeling (sayangnya nggak ada yang punya underwater camera, jadi nggak bisa ambil gambar pembandangan bawah laut. Padahal indah banget, dari atas aja keliatan ada ikan berenang-renang), dan waktu lompat-lompat di pantai.

Riung 2

Pas banget buat prewedding photo venue. Indah, men! Sayangnya saya cuma foto sama Kaissa. Pasirnya putih, lautnya biru, nikmat Tuhan manakah yang kau dustakan?

Riung 3

Anda penasaran dengan 17 Pulau Riung? Samaa saya juga. Rasanya belum puas karena baru beberapa pulau yang kami singgahi. Ah Riung, aku rindu.

Traveling, Uncategorized

Flores Journey – Danau Tiga Warna Kelimutu

Masih inget sama selembar uang lima ribuan jaman dulu yang ada gambar Danau Tiga Warna Kelimutu? Saya pernah ada disana 😀 rugi dong udah di Flores tapi nggak datang ke Kelimutu. Akhirnya di akhir tahun 2011 lalu saya dan teman-teman sepenempatan traveling kesana. Kelimutu terletak di Kabupaten Ende sedangkan starting point kami dari Kabupaten Ngada. Menempuh sekitar 8 jamperjalanan dnegan bus pariwisata. Kata temen saya sih, “Kita naik bus pariwisata kok.” Saya sudah bayangin bus AC yang nyaman. Ternyata… sebelasduabelas sama bus Jogja-Wates. Yasudahlah, antimo, saya minum 2 *kok kayak ikaln Yak*lt yah?

Untuk mencapai Kelimutu ini kita seperti melewati jalanan sakaratul maut (ini mah lebay, Hes) lha gimana enggak, kiri tebing kanan jurang berkelok-kelok sopir ngebut dan kondisi bus yang saya aja nggak yakin. Saya sempat ngamuk sama temen saya karena sepanjang perjalanan malah bercanda jorok sedangkan saya takut memikirkan kelangsungan hidup kami kalo di sepanjang jalan yang mengerikan ini terjadi apa-apa. Tapi Alhamdulillah senja itu kami tiba di Kelimutu. We spent the night in an inn in Moni. Kelimutu is best viewed at dawn.  So after having dinner in the restaurant nearby, we took a rest for the next morning.

Kelimutu 1

Subuh-subuh kami mandi lalu bersiap mendaki. Danau kok didaki?Iyalah, kan danaunya ada di puncak gunung. Karena banyak rumor mistis mengenai Kelimutu ini kami mengadakan doa bersama terlebih dulu. Yeah, it’s hiking time. Pas terang kami mencapai puncak. Ada tiga danau, tapi warnanya nggak kayakyang di gambar di uang 5000an. 2 danau ijo-kehitaman, dan yang satu biru. Memang kata orang sih bisa berganti-ganti warna.

Kelimutu 2Kalo dirasa mistis sih, saya percaya. Konon katanya ada seorang yang bunuh diri nyemplung ke danau, dan nggak mayatnya nggak pernah terapung dan ditemukan, tim SAR pun nggak ada yang berani mencari di danau karena ada energy magnetic dari dinding danau yang membuat object apapun tertarik dan nggak bisa mencapai dasar danau. Nah, kamipun penasaran. Kami melempar batu ke danau, tapi anehnya batu itu tiba-tiba hilang. Kami nggak melihat bekas gelombang batu di permukaan danau, yah, mungkin memang ditarik sama dindingnya.

We took a lot of pics. Karena udah mulai panas, kami akhirnya turun dan sarapan di warung pop mie di kaki bukit.

Kamipun get on the bus melanjutkan perjalanan, 17 Pulau Riung (temennya Wakatobi dan Raja Ampat), we’re coming.

Eh dalam perjalanan ke Riung, kami sempat mampir ke tempat pengasingan Bung Karno di Kabupaten Ende kota 😀

Traveling

Flores Journey – Kampung Adat Bena

Kampung Bena adalah salah satu dari sekian banyak kampong adat di Pulau Flores. Sambil menyelam minum air (lagi), sambil menunaikan tugas Negara, saya menyempatkan menengok keindahan lain di sudut negeri (bahasamu, Hes -,-) Kampung Bena ini bisa ditempuh kira-kira 1 jam dari pusat kota Bajawa, Kabupaten Ngada, Flores, NTT. Kampung ini ada dibawah kaki Gunung Inerie. (Inerie ini udah difilmkan sama Mbak Lola Amaria, lho). Kampung ini terdiri dari rumah-rumah penduduk yang masih sangat tradisional, bahkan listrik belum masuk. Mungkin karena masyarakat Bena ingin menjaga keorisinalitas tradisi dan budayanya. Masyarakat Bena bekerja menenun kain, yang dijual di depan rumah-rumah mereka, untuk kain tenun yang selebar sarung atlas berharga antara 300 ribu – 1 jutaan (tergantung motif dan kualitas) dan selendang/ syal seharga 50 ribuan. Mihil yes? T.T

I visited Kampong Bena twice. These pictures were taken in my first visit. Kunjungan yang kedua fotonya ilang T.T

Begitu masuk perkampungan, kami diminta menulis buku tamu, dan sumbangan sukarela, jadi nggak ada HTM yang pasti.

Bena 1

I went there with some friends by motorcycle from Bajawa. From the guest book, we knew that many foreign tourists also visited this place (jadi bangga gitu pernah kesini). Masih tradisional banget. Kampungnya kalo dari atas bentuknya mirip kayak kapal yang gede. Sayangnya saya nggak sempet foto dari atas, pas itu udah sore dan adem banget dan harus buru-buru pulang. Sebenernya pas kunjungan kedua, saya ambil foto banyak dari berbagai sudut (ciee) tapi satu folder ilang semua *nangis*. Ada juga batu yang katanya ada bekas jejak makhluk purbakala (bukan hoax, tapi saya emang nggak punya fotonya). Di bagian atas ada patung Bunda Maria yang dipake buat beribadah masyarakat Bena. Bena itu kayak yang diiklan ‘roso-roso’ versi trio macan… dan pernah beberapa kali jadi lokasi syuting ethnic runaway TTV. Coba youtubing deh.

Bena 2

-Kampung Adat Bena-

Kalau dari Kota Bajawa menuju Kampung Bena, kita nglewati kampung adat juga Bela (Flores memang kaya dengan kampung adat). Sebenarnya Bela itu cuma beberapa meter dari sekolah saya, one thing I regret, kok dulu nggak mampir ya? Sebenernya masih banyak yang pengen saya tulis, tapi karena ini late post dan kejadiannya sudah lebih dari 2 tahun yang lalu, banyak hal yang saya lupa. Mungkin saya mulai pikun… >.<