Beberapa hari ini saya sedang merasakan hidup-segan-mati-enggan. Entah, lagi galau gitu soalnya. Lalu mengingat kehidupan asrama yang ternyata pernah lebih menyenangkan. Sayangnya, saya baru sadar sekarang.
Jujur saja, beberapa hari sebelum di-asramakan, semua rasanya mengerikan. Seolah-olah masa hura-hura saya terengut. Nggak akan ada lagi acara semacam Happy Puppy time, soda time, hangout time, dan hal-hal menyenangkan lainnya. Lalu saya akan terpenjara dalam tembok asrama tanpa asmara (*gayamu).
Ya, pada awalnya memang mengerikan, jadwal bejibun dan segala peraturan semacam nggak boleh keluar malem, nggak boleh pulang ke rumah, nggak boleh ini itu, harus ini itu, dan sebagainya. Kuliah pagi sampai sore disambung kegiatan asrama, belum lagi tugas kuliah yang bakal bikin asma saya sering kumat.
Pulang-pergi kuliah dianterin, makan harus di asrama, sekamar bertiga, lalu dimana coba saya bisa dapat private space to talk to the wall? Lalu akhir pekan udah disusunin jadwal untuk kegiatan-kegiatan tambahan, semacam training ini itu, seminar, pelatihan. Kapan liburannya coba?
Waktu itu saya kurang bersyukur.
Tapi, sekarang betapa saya rindu masa-masa bangun pagi, mandi, makan katering disiapin, piring dicuciin, berangkat kampus dianterin, kuliah dan makan siangnya dianterin, pulang dijemputin, makan malam catering disiapin lagi, ya gitu-gitu terus tiap hari.
LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME.
Lalu pada masa itu, saya bertemu dengan teman-teman dari berbagai kota di Indonesia dengan segala tetek bengeknya, dengan bahasa ngapaknya, dengan dangdut koplonya, dengan nyebelin-nyebelin-ngangeninnya, dengan semua apa adanya mereka. Sekarang mereka sudah tersebar lagi ke seluruh sudut Indonesia, untuk menjadi guru bagi anak bangsa di pelosok sana. Dari Aceh sampai Papua bahkan ada yang di Malaysia. Ada yang di kota, dan mungkin ada pula yang tinggal ditempat yang listrikpun bahkan belum menyala. ONE THING I MUST ADMIT, YOU ALL ARE GREAT.
Makan apa hari ini? Saya sih tetiba kangen sama oseng-oseng kikil katering asrama ala chef Mbak Tri Queen. Walaupun dulu sempat klenger sama menu katering yang itu-itu aja (kalo nggak oseng-oseng janggel, oseng-oseng kikil, sop, nugget, ya soto (baca: kumkuman kobis), tempe, tahu, lele, ayam goreng, gudeg,). Namun ternyata jamane Mbak Tri enak to? Makan disiapin, piring dicuciin. Kalau menu nggak cocok tinggal protes. Esok harinya dibawain gerobak bakso. INI ADALAH CONTOH PENERAPAN PASAL 34 AYAT 1: FAKIR MISKIN DAN ANAK TERLANTAR DIPELIHARA OLEH NEGARA MBAK TRI.
Dulu awalnya saya mikir bahwa, menjalani kehidupan kampus di UNY Karang Malang dan kehidupan asrama di UNY Wates bakalan berat. Lha gimana? Jogja – Wates 1 jam lebih. Kuliah jam 8 sampai jam 3, lima hari seminggu. Bakalan lelah lahir batin. Tiap hari harus bolak-balik. BUT LIFE WAS MUCH EASIER AT THAT TIME. Ada bis UNY dan bis BIMO yang tiap hari bolak-balik antar jemput. Antar jemput kayak kita orang penting gitu. Lalu perjalanan Wates-Kampus hanya semacam pindah tidur. Lha gimana, Di dalam bis semacam ayunan paling nyaman yang membuat terlelap dalam waktu sekejap.
Sekarang kalau lewat jalan wates pengennya dianterin lagi, tinggal naik bis duduk santai, di dalem bobok sambil dengerin dangdut pantura ala monita atau palapa sambil nonton video klip “mending tuku sate timbang tuku wedhuse”.
Enak kan (satene)?
Jadi siklus hidup pada waktu itu adalah: Bangun tidur – mandi – sarapan (disiapin) – berangkat (dianterin) – kuliah (dikuliahin) – pulang (dianterin) – makan (disiapin) – tidur (ditidurin #eh).
Lha kalau kuliah pada ngapain? Belajar dong. Bikin materi, micro teaching, diskusi, nonton movie, bikin kopi, sambil nunggu kiriman nasi box dari catering (tetep makan siang juga dikirimin!)
Saya harusnya bersyukur dengan itu semua, hidup setahun ditanggung negara. Kalau nggak salah, saya pernah print buku tabungan, ada saldo lewat sebesar 60 juta. JELAS BUKAN UANG SAYA. Tapi itu uang negara untuk kami, untuk makan, jajan, pendidikan, hiburan, dolan, training, seminar, workshop, pelatihan dan kegiatan-kegiatan lainnya *lalu ngitung sertifikat*.
Ah! Kali ini saya beneran rindu. Rindu teriak “woooiii makan malam lauknya apaaa?” dari lantai 4 ke penghuni lantai 1. Rindu aerobic gratisan, masuk kamar demi kamar ngemis cemilan, rindu logat “aja kaya kue” atau “batiri inyong yuh”, rindu Mami Bega dan kebahenolannya, rindu tengah malam dangdut koploan, dan rindu-rindu tak terungkap lainnya.
Atau rindu ini hanya milik saya saja? (Iya, mungkin sih. Soalnya yang lain rindunya udah terbagi buat belahan jiwa dan buah hatinya.) *lalunyakarnyakartembok
Biarlah rindu tetap menjadi rindu. Di akhir tulisan ini, saya memutuskan untuk tetap menjalani hidup dengan penuh suka cita. Menikmati setiap momen yang ada. Nggak boleh lagi merasa hidup segan mati enggan.
Nggak ada yang tau kedepannya bakal jadi kayak gimana. Dulu yang sepertinya masa-masa asrama serasa neraka, kini akhirnya menjadi #asramayangdirindukan. Bisa saja, masa-masa galau sekarang ini, bisa jadi menjadi #masayangdirindukan.
Love every moment in life. Time never turns back. Be grateful and stay wonderful.