“Bang, menurut abang hidup itu apa? Kematian itu apa?”
“Hingga hari ini, abang belum diberikan jawaban secara langsung oleh Tuhan, tentang pertanyaan itu. Jawaban orang lain sih, banyak.”
“Tapi, mungkin setelah membaca tentang membran sel di buku The Hidden Connections karya Pritjof Capra, atau membaca perdebatan tentang DNA di buku Life: Origin and Nature karya Hereworth Carrington, setidaknya kita akan tahu bahwa hidup adalah..tentang mengambil secukupnya; tentang mengambil yang baik-baik; tentang memberi selebihnya; tentang menjaga keseimbangan.”
“Sedangkan kematian hanya berarti satu: tidak berfungsi lagi.”
“Lalu Bang, Perlukah kita alasan untuk hidup? Kenapa bertahan hidup?”
“Perlu, alasan itu perlu. Sekalipun itu bukan untuk kita sendiri. Dan dalam pengertian tertentu, memang alasan hidup terbaik memang bukan untuk kita sendiri.”
“Kenapa begitu, Bang? Bukankah manusia mahluk egosentris?
“Apakah artinya cap ‘egosentris’ itu, selain sebuah produk konseptual dari era kolonial?” Apakah tidak ada pandangan alternatif yang lebih jernih dan adil tentang manusia, selain konsepsi ‘egosentris’ itu? “
“Menurut Abang pandangan ‘pas’ bagi manusia itu sebagai mahluk apa selain mahluk egosentris?”
“Mengingat manusia adalah bagian dari alam, berunsurkan alam, tumbuh dengan mengasup unsur-unsur alam, berkebudayaan di alam, dan mati kembali ke alam, hemat abang, manusia mewarisi dan seyogiyanya menganut prinsip-prinsip ini. Ia adalah makhluk ekosentris, bukan makhluk egosentris.”
“Konsekuensinya, alasan hidup manusia yang sesungguhnya bukanlah dirinya sendiri, melainkan keutuhan yang lebih besar, keseimbangan dan kasih sayang.”
“Karena itulah kita menemukan para Nabi yang bersedia menderita demi memperbaiki. Karena itulah kita menemukan ajaran tentang memberi dan berkorban.”
“Dalam Islam, alasan hidup manusia hanyalah satu: ALLAH. Itu bahasa untuk keutuhan, keseimbangan, ke-maha-an, kesakralan, yang hadir di alam. Manusia ada untuk merawat itu semua: itu yang dinamakan khalifah.“
“Tentang orangtua yang banting tulang untuk anak, tentang anak yang berbakti pada orangtua, betul Bang?“
“Itu segelintir dari sekian juta bentuk ekosentrisme, ya.”
“Tapi bagaimana bagi orang yang tidak percaya dengan konsep keberadaan Tuhan, Bang? Alasan hidup apa yang akan cukup rasional baginya?“
“Ekosentrisme adalah etika global. Bila pun mereka tidak menyimpulkannya sebagai Tuhan, siapapun yang meneliti sungguh-sungguh bisa menemukan karakteristik khas alam. Integritas alam pun sudah cukup sebagai ‘tuhan’ bagi seseorang dan menjaganya cukup pula sebagai ‘agama’. Ia cukup menjadi alasan hidup. Ia cukup mendorong siapa saja mengembangkan sikap baik dalam hidup.”
“Tentang mengambil secukupnya, yang baik, memberi selebihnya, untuk keseimbangan, dan kasih sayang. Diri kita sendiri tak perlu jadi satu-satunya alasan bertahan, maka tetap bertahanlah, betul Bang?”
“Benar..”
“Dek, abang ralat, kematian adalah pengorbanan terakhir; Dengan kata lain, kematian adalah dikembalikannya unsur-unsur alam dalam tubuh mahluk ke siklus alam yang utuh, seimbang, dan sakral tadi..”
“Jadi Bang..sebelum kita kembali, kita harus hidup dengan sebaik-baiknya?”
“Iya….tentu saja”
“Aku boleh share ini di blogku, Bang?”
“Boleh saja, lama juga gak disebut di blog kamu, hahaha”
23/7/19,
Percakapan di siang bolong dengan Ical.








Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.