PAMERAN SENI RUPA SELAMA INI CENDERUNG IDENTIK DENGAN ‘PERAYAAN PESTA’ SEGELINTIR ORANG. DI KOTA-KOTA BESAR SEBAGAI CONTOH, PAMERAN SENI RUPA, TERUTAMA YANG BERLANGSUNG DI GALERI-GALERI KOMERSIAL, ADALAH RITUAL KAUM ‘ELIT-URBAN-MODERN’(SENIMAN, KOLEKTOR, KURATOR, PEMILIK GALERI, ART DEALER, DLL) YANG MUNGKIN TAK BISA DINIKMATI OLEH LAPISAN MASYARAKAT YANG LAIN.
Untuk mereka yang masih kesulitan memenuhi kebutuhan seperti sandang, pangan, papan, kesehatan dan pendidikan, menonton pameran seni rupa, apalagi membeli karya – karya yang dipamerkan bisa jadi sesuatu yang sama sekali tidak penting, bahkan ‘’mubazir’’. Seni rupa dalam konteks ini bukanlah praktik budaya yang bias memenuhi kebutuhan dan mengakomidir kepentingan semua pihak. Di Indonesia, tumbuhnya lapisan masyarakat yang (konon) ‘lebih berbudaya’’ dan bias mengoleksi karya – karya yang berharga sangat mahal memang bukan fenomena baru. Paling tidak sejak booming seni lukis yang terjadi pada dasawarsa 1980-an, kegiatan mengoleksi karya seni menjadi gaya hidup yang digilai masyarakat kelas atas. Tumbuhnya kelas social baru ini memang menandai pula meningkatnya standar kehidupan sebagian masyarakat di Indonesia. Fenomena ini boleh disebut sebagai sebuah ‘’kemajuan’’ jika diukur dari standar pencapaian peradaban masyarakat modern.
Namn disisi lain, kita juga tidak bias menutup mata bahwa sampai hari ini sebagian besar masyarakat yang lain di Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan – kebutuhan yang mendasar. Kenyataan ini paling tidak tergambar melalui jumlah anak – anak putus sekolah dan tingkat pengangguran yang masih sangat tinggi. Pendidikanpun masih menjadi barang mahal yang tidak terjangkau. Kesenjangan ekonomi yang mencolok di negeri ini memang berakar pada kesenjangan system pendidikan yang semakin menganut polo – pola kapitalistik.apa yang bias dilakukan oleh para elitis seni rupa untuk membantu memecahkan persoalan ini?
.F Budi Sambara. Kepergian.oil on canvas. 70×90 cm