BULAN SYA’BAN, PEMBUKAAN BULAN RAMADHAN
Al-Imâm Ibn Rajab Al-Hanbalîy Rahimahullâh berkata,
لما كان شعبانُ كالمقدمة لرمضان، شُرعَ فيه ما يُشرَعُ في رمضان، من الصيامِ وقراءةِ القرآن؛ ليحصُل التأهُبُ لتلقي رمضان، وترتاضَ النفوسُ بذلك على طَاعةِ الرحمنِ
“Karena Bulan Sya’ban itu seakan seperti pembukaan Bulan Ramadhan, maka pada bulan tersebut disyariatkan amalan-amalan yang disyariatkan pada Bulan Ramadhan, seperti PUASA dan MEMBACA AL-QUR’AN. Hal ini agar siap menyambut Ramadhan dan jiwa menjadi terlatih dalam ketaatan kepada Ar-Rahmân.”
(Lathâifu Al-Ma’ârif, 1/258)

اللَّهُمَّ أَدْخِلْهُ عَلَيْنَا بِالأَمْنِ وَالإِيْمَانِ، وَالسَّلَامَةِ وَالإِسْلَامِ، وَجِوَارٍ مِنَ الشَّيطَانِ، وَرِضوَانٍ مِنَ الرَّحمَنِ
“Ya Allah, masukkanlah kami pada bulan ini dengan rasa aman, keimanan, keselamatan, dan Islam, juga lindungilah kami dari gangguan syetan, dan agar kami mendapat Ridha Ar-Rahman.”
(HR. Al-Baghâwî, Mu’jam Ash-Shahâbah, sanadnya shahîh. Al-Imâm Ibnu Hajar “Shahîh” Al-Ishâbah, 6:407-408).
Syaikh Muhammad Shâlih Al-Munajjid, “Doa ini ada riwayatnya.
Seorang muslim sangat bagus sekali mengamalkan do’a ini ketika masuk awal bulan, terlihat hilal.” (Fatâwâ Al-Islâm Suâl wa Jawâb, no. 322345)
MENGAPA DINAMAKAN BULAN SYA’BAN ?
Ibnu Hajar Al-‘Asqalânî berkata,
وَسُمِّيَi شَعْبَانُ لِتَشَعُّبِهِمْ فِيْ طَلَبِ الْمِيَاهِ أَوْ فِيْ الْغَارَاتِ بَعْدَ أَنْ يَخْرُجَ شَهْرُ رَجَبِ الْحَرَامِ وَهَذَا أَوْلَى مِنَ الَّذِيْ قَبْلَهُ وَقِيْلَ فِيْهِ غُيْرُ ذلِكَ.
“Dinamakan Sya’ban karena mereka Orang Arab berpencar-pencar mencari air atau di dalam gua-gua setelah bulan Rajab Al-Haram. Sebab penamaan ini lebih baik dari yang disebutkan sebelumnya. Dan disebutkan sebab lainnya dari yang telah disebutkan.”
(Fathul-Bârîy, Bab Shaumi Sya’bân, IV/213).
BULAN SYA’BAN, AMALAN DINAIKKAN KEPADA ALLAH
ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ
“Bulan Sya’ban adalah bulan di mana manusia mulai lalai yaitu di antara bulan Rajab dan Ramadhan. Bulan tersebut adalah bulan dinaikkannya berbagai amalan kepada Allah, Rabb semesta alam. Oleh karena itu, aku amatlah suka untuk berpuasa ketika amalanku dinaikkan.”
(HR. An-Nasâ’i, no. 2357. Syaikh Al-Albânîy mengatakan hadîts ini hasan).

RASULULLAH MEMPERBANYAK PUASA DI BULAN SYA’BAN
Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يُفْطِرُ ، وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لاَ يَصُومُ . فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلاَّ رَمَضَانَ ، وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِى شَعْبَانَ
“Aku tidak pernah sama sekali melihat Rasûlullâh Shallallàhu ‘alaihi wa sallam berpuasa secara sempurna sebulan penuh selain pada bulan Ramadhan. Aku pun tidak pernah melihat Beliau berpuasa yang lebih banyak daripada berpuasa di Bulan Sya’ban.”
(HR. Al-Bukhârîy, no. 1969 dan Muslim, no. 1156).
NABI SHALLALLÂHU ‘ALAIHI WA SALLAM BIASA BERPUASA PADA BULAN SYA’BAN SELURUHNYA
‘Aisyah Radhiyallâhu ‘anhâ mengatakan,
لَمْ يَكُنِ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – يَصُومُ شَهْرًا أَكْثَرَ مِنْ شَعْبَانَ ، فَإِنَّهُ كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ
“Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam tidak biasa berpuasa pada satu bulan yang lebih banyak dari bulan Sya’ban. Nabi Shallallàhu ‘alaihi wa sallam biasa berpuasa pada bulan Sya’ban seluruhnya.”
(HR. Al-Bukhârîy no. 1970 dan Muslim no. 1156)

Subhanallah
Walhamdulillah, Walaa ilaaha illa Allah
Allahu-Akbar
Laa haula wala quwwata illa billahil ‘aliyyil adzim.
Semoga disekeliling kita dipenuhi berzikir kepada Allah SWT
آمِّيْنَ آمِّيْنَ آمِّيْنَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
- Subhanallah (Maha Suci Allah)
- Alhamdulillah (Segala puji bagi Allah)
- La ilaha illallah (Tidak ada Tuhan selain Allah)
- Allahu Akbar (Allah Maha Besar)
- La haula wala quwwata illa billahil aliyyil adzim (Tidak ada daya dan kekuatan melainkan dengan izin Allah)
Semoga zikir ini membawa ketenangan dan kebahagiaan dalam hati kita. Amin!

Hari hari ini adalah kepunyaan Allah,
maka jauhilah perbuatan maksiat.

dan menengok
umat Islam
shalat dengan thaat
walaupun sekitarnya banyak juga
anak muda
yang mulai mengabaikan
suara adzan 👉
Demikian lah pengakuannya ketika meminta untuk disyahadatkan Masyaallah

Demikian lah pengakuannya ketika meminta untuk disyahadatkan Masyaallah

Dengan halus, santun dan cerdasnya
Buya Hamka
menasehati kita semua
tentang Dakwah
- Dakwah itu membina, bukan menghina
- Dakwah itu mendidik, bukan ‘membidik’
- Dakwah itu mengobati, bukan melukai
- Dakwah itu mengukuhkan, bukan meruntuhkan
- Dakwah itu saling menguatkan, bukan saling melemahkan
- Dakwah itu mengajak, bukan mengejek
- Dakwah itu menyejukkan, bukan memojokkan
- Dakwah itu mengajar, bukan menghajar
- Dakwah itu saling belajar, bukan saling bertengkar
- Dakwah itu menasehati, bukan mencaci maki
- Dakwah itu merangkul, bukan memukul
- Dakwah itu ngajak bersabar, bukan ngajak mencakar
- Dakwah itu argumentative, bukan provokatif
- Dakwah itu bergerak cepat, bukan sibuk berdebat
- Dakwah itu realistis, bukan fantastis
- Dakwah itu mencerdaskan, bukan membodohkan
- Dakwah itu menawarkan solusi, bukan mengumbar janji
- Dakwah itu berlomba dalam kebaikan, bukan berlomba saling menjatuhkan
- Dakwah itu menghadapi masyarakat, bukan membelakangi masyarakat
- Dakwah itu memperbarui masyarakat berkemajuan, bukan membuat masyarakat baru yang mengabaikan kemajemukan
- Dakwah itu mengatasi keadaan, bukan meratapi kenyataan
- Dakwah itu pandai memikat, bukan mahir mengumpat
- Dakwah itu menebar kebaikan, bukan mengorek kesalahan
- Dakwah itu menutup aib dan memperbaikinya, bukan mencari2 aib dan menyebarkannya
- Dakwah itu menghargai perbedaan, bukan memonopoli pemikiran tanpa perasaan
- Dakwah itu mendukung semua program kebaikan, bukan memunculkan keraguan yang mengabaikan perbaikan
- Dakwah itu memberi senyum manis, bukan menjatuhkan vonis
- Dakwah itu berletih-letih menanggung problema umat, bukan hanya buat meletihkan umat
- Dakwah itu menyatukan kekuatan, bukan memecah belah barisan
- Dakwah itu kompak dalam perbedaan, bukan ribut mengklaim kebenaran
- Dakwah itu siap menghadapi musuh, bukan selalu mencari musuh
- Dakwah itu mencari teman, bukan mencari lawan
- Dakwah itu melawan kesesatan, bukan mengotak atik kebenaran
- Dakwah itu asyik dalam kebersamaan, bukan bangga dengan kesendirian
- Dakwah itu menampung semua lapisan, bukan memecah belah persatuan
- Dakwah itu kita mengatakan: “aku cinta kamu”, bukan “aku benci kamu“
- Dakwah itu kita mengatakan: “Mari bersama kami”, bukan “Kamu harus ikut kami”
- Dakwah itu “Beaya Sendiri”, bukan “Dibeayai/Disponsori“
- Dakwah itu “Habis berapa ?”, bukan “Dapat berapa ?”
- Dakwah itu “Memanggil/ Mendatangi, bukan “Dipanggil/Panggilan”
- Dakwah itu “Saling Islah”, bukan “Saling Salah”
- Dakwah itu di masjid, di sekolah, di pasar, di kantor, di parlemen, di jalanan, hingga dimana saja, BUKAN HANYA DI PENGAJIAN
- Dakwah itu dengan “Cara Nabi”, BUKAN DENGAN “CARA SENDIRI”
- Maka, “HIDUPKAN DAKWAH, BANGUN NEGERI.”

Mampu menahan marah atau dengan mengendalikan emosi negatif agar tidak meluap, dengan cara seperti menarik napas dalam-dalam,
berhitung apa yang akan dilakukan
untung ruginya,
mengubah posisi
dari duduk ke berdiri,
dan berwuduk,
membaca ta’awudz (A’udzu billah),
dan diam.
Secara spiritual dapat juga dengan berpuasa atau memperbanyak zikir, karena marah berasal dari setan dan air dapat memadamkan api amarah.
Menahan amarah karena Allah sangat dianjurkan dalam Islam dan memberikan keutamaan besar, meskipun juga penting untuk mengelolanya agar tidak berdampak buruk pada kesehatan mental dengan cara yang sehat, bukan dipendam tanpa ekspresi sama sekali.
< Ubah Posisi: Dari berdiri ke duduk, lalu ke berbaring jika masih marah.
< Ambil Wuduk: Air dapat memadamkan api amarah.
< Membaca Ta’awudz: “A’udzu billahi minasy syaithanir rajim” (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan).
< Diam dan Berpikir: Diam adalah sunah Nabi, beri waktu untuk berpikir jernih.
< Napas Dalam & Berhitung: Tarik napas panjang, hembuskan perlahan, sambil berhitung sampai 10.
< Berpuasa: Salah satu cara mengendalikan amarah.
< Berzikir & Syahadat: Memperbanyak zikir dan mengucapkan syahadat.
< Bacalah surah Kahfi, surah Yasin dan lainnya. Mari kita hidupkan malam malam ini dengan iktikaf di Masjid terdekat. Setelah tengah malam kita laksanakan Shalat Tahajjud.
< Perbanyaklah Taubat, berdoa dan berzikir, karena belum tentu umur kita entah sampai esok hari, Hanya Allah saja yang Maha Tahu. Semoga bermanfaat.

Bulan meningkatkan ibadah dan zikir
Zikir sangat penting untuk mengingat kebesaran Allah SWT
WASSALAAM
Buya MAbidin Jabbar Masoed Abidin Jabbar
Buya Masoed Abidin
Buya Hma Majo Kayo



























You must be logged in to post a comment.