Melepas Harapan
Hidup tanpa harapan sama saja seperti mati. Begitu kata orang kepada saya. Saya bukannya tidak punya harapan sama sekali dalam diri. Saya masih punya itu. Hanya saja sekarang saya belajar untuk memilah mana harapan yang bisa saya pertahankan dan perjuangkan, dan mana yang harus saya kubur dalam-dalam.
Kamu. Adalah harapan yang tidak bisa saya pertahankan. Dengan berat hati harus saya kunci rapat dalam kotak pandora dan saya letakkan di tepian hati. Sewaktu-waktu akan saya buka demi untuk melihat kembali kenangan yang tersembunyi. Namun tiada lagi benih untuk menumbuhkan kembali harapan.
Saya belajar untuk melepas harapan tentangmu, sekaligus belajar untuk melepasmu juga. Saya belajar untuk berhenti menanti. Mungkin hanya itu satu-satunya cara, yang mungkin menyakitkan bagi saya, juga kamu. Tapi itu demi kebebasanmu. Dengan begitu saya akan berhenti menyiksamu, tidak lagi menyudutkanmu dengan tuntutan, atau menempatkanmu pada posisi yang serba salah.


Satu yang saya tahu, saya tidak akan lagi meminta hatimu. Kamu membuat segalanya jelas, bahwa kamu tidak bisa memberikan hatimu sekarang. Mungkin nanti. Maka saya pun tak akan memintanya, sekarang ataupun nanti.

