BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angklung merupakan alat musik yang terbuat dari bambu yang mana ditemukan oleh Bapak Daeng Sutigna sekitar tahun 1938, dan awalnya alat musik angklung hanya dimainkan oleh masyarakat sunda karena angklung berasal dari tataran sunda sendiri. Angklung ini dimainkan dengan cara digoyangkan dan akhirnya mengeluarkan nada musik yang berasal dari getaran tersebut, menurut cerita masyarakat sunda alat musik angklung ini dibuat dengan tujuan untuk menarik Dewi Sri turun ke bumi agar tanaman padi para petani tumbuh dengan subur. Tapi saat ini banyak para generasi muda yang tidak atau lupa dengan alat musik trdisional yang terbuat dari bambu tersebut, mereka lebih mengenal musik hip hop yang berasal dari luar.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana proses pembuatan alat musik angklung ?
2. Bagaimana uasaha – usaha yang dilakukan supaya alat musik angklung tidak punah?
BAB II
PEMBAHASAN
Angklung merupakan alat musik tradisional Indonesia yang berasal dari paparan daerah sunda, padahal alat musik tradisional ini sudah telah menjelajah ke mancanegara dengan segudang prestasinya yang gemilang. Belakangan ini banyak para seniman Indonesia terutama seniman angklung yang berkreasi dengan alat musik tradisional ini yaitu dengan cara memainkan alat musik ini untuk mengiringi lagu – lagu pop yang terkenal, dan hasilnya sangat menakjubkan suara yang dihasilkan oleh alat musik ini.
Dalam pembuatannya angklung memerlukan bambu yang memiliki kualitas yang sangat bagus, bambu yang kualitasnya bagus yaitu bambu yang sudah kering dan bambu yang sering digunakan yaitu bambu hitam ( Gigantochloa atter ), bambu tali ( Gigantochloa apus ) dan bambu tutul ( Banbusa vulgaris ). Dalam hal pemilihan bambu ini tidaklah main – main tapi harus benar – benar teliti jika salah memilih bambu yaitu bambu yang terlalu tua akan mudah pecah sedangkan yang terlalu muda tidak bisa menghasilkan suara yang baik. Bambu yang sudah siap untuk bahan dasar pembuat angklung yaitu bambu yang sudah berumur 4 atau telah memiliki 2 tunas atau 3, dan pemanenannya pada bulan juli atau musim kemarau hal ini disebabkan karena zat makanan yang terdapat dalam bambu dan disukai oleh hama serangga ngengat sangat minim. Setelah ditebang bambu dibiarkan selama setengah minggu sampai daunnya menguning kemudian ranting – rantingnya dibersihkan, tahap selanjutnya adalah pengeringan yang berfungsi untuk menyeleksi bambu yang baik yaitu dengan di unun atau di asapi diatas dapur hingga 2 tahun atau dengan cara lain yaitu dengan di angin – anginkan ditempat yang teduh selama 3 atau 4 bulan.
Tahap selanjutnya yaitu pemilihan bambu yang utuh tanpa ada hama yang memakannya, setelah itu barulah bambu tersebut siap untuk dibuat angklung. Dalam porses pembuatan ini hal yang terpenting adalah pembentukan nada dasarnya dari tabung bambu tersebut. Suara bambu itu ada 2 yaitu suara kayu bambu ketika beradu dengan benda lain dan suara yang dihasilkan ketika tabung di tutup, sedangkan alat yang digunakan untuk menentukan nada disebut dengan berina. Adapun jenis – jenis angklung yaitu :
Angklung Gubrag
Angklung gubrag terdapat di kampung Cipining, kecamatan Cigudeg, Bogor. Angklung ini telah berusia tua dan digunakan untuk menghormati dewi padi dalam kegiatan melak pare (menanam padi), ngunjal pare (mengangkut padi), dan ngadiukeun (menempatkan) ke leuit (lumbung). Dalam mitosnya angklung gubrag mulai ada ketika suatu masa kampung Cipining mengalami musim paceklik.
Angklung Badeng
Badeng merupakan jenis kesenian yang menekankan segi musikal dengan angklung sebagai alat musiknya yang utama. Badeng terdapat di Desa Sanding, Kecamatan Malangbong, Garut. Dulu berfungsi sebagai hiburan untuk kepentingan dakwah Islam. Tetapi diduga badeng telah digunakan masyarakat sejak lama dari masa sebelum Islam untuk acara-acara yang berhubungan dengan ritual penanaman padi. Sebagai seni untuk dakwah badeng dipercaya berkembang sejak Islam menyebar di daerah ini sekitar abad ke-16 atau 17. Pada masa itu penduduk Sanding, Arpaen dan Nursaen, belajar agama Islam ke kerajaan Demak. Setelah pulang dari Demak mereka berdakwah menyebarkan agama Islam.
Salah satu sarana penyebaran Islam yang digunakannya adalah dengan kesenian badeng. Angklung yang digunakan sebanyak sembilan buah, yaitu 2 angklung roel, 1 angklung kecer, 4 angklung indung dan angklung bapa, 2 angklung anak; 2 buah dogdog, 2 buah terbang atau gembyung, serta 1 kecrek. Teksnya menggunakan bahasa Sunda yang bercampur dengan bahasa Arab. Dalam perkembangannya sekarang digunakan pula bahasa Indonesia. Isi teks memuat nilai-nilai Islami dan nasihat-nasihat baik, serta menurut keperluan acara. Dalam pertunjukannya selain menyajikan lagu-lagu, disajikan pula atraksi kesaktian, seperti mengiris tubuh dengan senjata tajam.
Angklung Dogdog Lojor
Kesenian dogdog lojor terdapat di masyarakat Kasepuhan Pancer Pangawinan atau kesatuan adat Banten Kidul yang tersebar di sekitar Gunung Halimun (berbatasan dengan Sukabumi, Bogor, dan Lebak). Meski kesenian ini dinamakan dogdog lojor, yaitu nama salah satu instrumen di dalamnya, tetapi di sana juga digunakan angklung karena kaitannya dengan acara ritual padi. Setahun sekali, setelah panen seluruh masyarakat mengadakan acara Serah Taun atau Seren Taun di pusat kampung adat. Pusat kampung adat sebagai tempat kediaman kokolot (sesepuh) tempatnya selalu berpindah-pindah sesuai petunjuk gaib.
Tradisi penghormatan padi pada masyarakat ini masih dilaksanakan karena mereka termasuk masyarakat yang masih memegang teguh adat lama. Secara tradisi mereka mengaku sebagai keturunan para pejabat dan prajurit keraton Pajajaran dalam baresan Pangawinan (prajurit bertombak). Masyarakat Kasepuhan ini telah menganut agama Islam dan agak terbuka akan pengaruh modernisasi, serta hal-hal hiburan kesenangan duniawi bisa dinikmatinya. Sikap ini berpengaruh pula dalam dalam hal fungsi kesenian yang sejak sekitar tahun 1970-an, dogdog lojor telah mengalami perkembangan, yaitu digunakan untuk memeriahkan khitanan anak, perkawinan, dan acara kemeriahan lainnya. Instrumen yang digunakan dalam kesenian dogdog lojor adalah 2 buah dogdog lojor dan 4 buah angklung besar. Keempat buah angklung ini mempunyai nama, yang terbesar dinamakan gonggong, kemudian panembal, kingking, dan inclok. Tiap instrumen dimainkan oleh seorang, sehingga semuanya berjumlah enam orang. Lagu-lagu dogdog lojor di antaranya Bale Agung, Samping Hideung, Oleng-oleng Papanganten, Si Tunggul Kawung, Adulilang, dan Adu-aduan. Lagu-lagu ini berupa vokal dengan ritmis dogdog dan angklung cenderung tetap.
Angklung Kanekes
Angklung di daerah Kanekes (kita sering menyebut mereka orang Baduy) digunakan terutama karena hubungannya dengan ritus padi, bukan semata-mata untuk hiburan orang-orang. Angklung digunakan atau dibunyikan ketika mereka menanam padi di huma (ladang). Menabuh angklung ketika menanam padi ada yang hanya dibunyikan bebas (dikurulungkeun), terutama di Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero), dan ada yang dengan ritmis tertentu, yaitu di Kaluaran (Baduy Luar). Meski demikian, masih bisa ditampilkan di luar ritus padi tetapi tetap mempunyai aturan, misalnya hanya boleh ditabuh hingga masa ngubaran pare (mengobati padi), sekitar tiga bulan dari sejak ditanamnya padi. Setelah itu, selama enam bulan berikutnya semua kesenian tidak boleh dimainkan, dan boleh dimainkan lagi pada musim menanam padi berikutnya. Menutup angklung dilaksanakan dengan acara yang disebut musungkeun angklung, yaitu nitipkeun (menitipkan, menyimpan) angklung setelah dipakai.
Dalam sajian hiburan, Angklung biasanya diadakan saat terang bulan dan tidak hujan. Mereka memainkan angklung di buruan (halaman luas di pedesaan) sambil menyanyikan bermacam-macam lagu, antara lain: Lutung Kasarung, Yandu Bibi, Yandu Sala, Ceuk Arileu, Oray-orayan, Dengdang, Yari Gandang, Oyong-oyong Bangkong, Badan Kula, Kokoloyoran, Ayun-ayunan, Pileuleuyan, Gandrung Manggu, Rujak Gadung, Mulung Muncang, Giler, Ngaranggeong, Aceukna, Marengo, Salak Sadapur, Rangda Ngendong, Celementre, Keupat Reundang, Papacangan, dan Culadi Dengdang. Para penabuh angklung sebanyak delapan orang dan tiga penabuh bedug ukuran kecil membuat posisi berdiri sambil berjalan dalam formasi lingkaran. Sementara itu yang lainnya ada yang ngalage (menari) dengan gerakan tertentu yang telah baku tetapi sederhana. Semuanya dilakukan hanya oleh laki-laki. Hal ini berbeda dengan masyarakat Daduy Dalam, mereka dibatasi oleh adat dengan berbagai aturan pamali (pantangan; tabu), tidak boleh melakukan hal-hal kesenangan duniawi yang berlebihan. Kesenian semata-mata dilakukan untuk keperluan ritual.
Nama-nama angklung di Kanekes dari yang terbesar adalah: indung, ringkung, dongdong, gunjing, engklok, indung leutik, torolok, dan roel. Roel yang terdiri dari 2 buah angklung dipegang oleh seorang. Nama-nama bedug dari yang terpanjang adalah: bedug, talingtit, dan ketuk. Penggunaan instrumen bedug terdapat perbedaan, yaitu di kampung-kampung Kaluaran mereka memakai bedug sebanyak 3 buah. Di Kajeroan; kampung Cikeusik, hanya menggunakan bedug dan talingtit, tanpa ketuk. Di Kajeroan, kampung Cibeo, hanya menggunakan bedug, tanpa talingtit dan ketuk. Di Kanekes yang berhak membuat angklung adalah orang Kajeroan (Tangtu; Baduy Jero). Kajeroan terdiri dari 3 kampung, yaitu Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Di ketiga kampung ini tidak semua orang bisa membuatnya, hanya yang punya keturunan dan berhak saja yang mengerjakannya di samping adanya syarat-syarat ritual.
Begitu banyak jenis angklung yang kita miliki tapi akhir – akhir ini kesenian angklung ini mulai diklaim oleh negara tetangga yaitu Malaysia, mereka mengaku kalau di Malaysia juga ada alat musik angklung. Selain alat musik angklung masih banyak kesenian – kesenian milik Indonesia yang dklaim menjadi milik negara tetangga terutama negara Malaysia, dan ini harus ditangani dengan serius oleh pemerintah agar tidak berlarut – larut. Berikut upaya – upaya yang dilakukan oleh pemerintah dalam mengatasi masalah tentang pelestarian kebudayan yang di miliki oleh bangsa Indonesia yaitu :
Membangun kesadaran akan cinta dengan kebudayan Indonesia sebagai wujud rasa cinta tanah air.
Dengan memberikan penghargaan terhadap seniman – seniman yang berprestasi.
Menurut Sudarso harus melakukan pengenalan seni budaya bangsa kepada generasi muda lewat sekolah harus lebih di tingkatkan.
Menurut Putu Wijaya untuk melestarikan kita harus selalu berkarya.





