Itu Rezeki Saya….

Image

Pagi ini sehabis menyiapkan sarapan untuk suami yang mau berangkat kerja di hari kejepit, iseng buka hape. Lihat2 toko online saya, Alhamdulillah ada yg mau beli buku bantal. Rezeki Jum’at pagi. Padahal malamnya saya agak sedih karena baru tahu ada beberapa calon konsumen buku yg waktu itu sudah tanya2 dan dijawab sebisa2nya ternyata beli bukunya bukan sama saya. Ah… itu belum rezeki saya, begitu pikir saya. Eh, tau2 suami ngingetin. Justru itu rezeki kamu. Mungkin rezeki kamu yg paling baik. Saat kamu tidak mengurus pembelian buku itu, kamu mungkin sedang melanjutkan tilawah, atau mengerjakan pekerjaan rumah, atau bahkan  kamu sedang bermain bersama anak2mu. Menjadi madrasah mereka yang sebenarnya. Degh…. kena banget, nih!

 

Ya, saya memang IRT yang baru belajar berdagang, dengan cara yang paling praktis pula, online. Saya gak butuh toko, etalase, manekin, atau perlengkapan dagang lainnya seperti bapak saya yang berdagang kelontong. Dagangnya pun sesempat saya. Kalau sedang online dan ingin buka lapak, ya tinggal share foto2 dagangan di fans page saya. Itu juga kalau anak2 bisa kooperatif membolehkan saya memegang gadget atau duduk manis depan PC agak lama. Maklum, saya boleh dibilang gaptek, jadi uprek2 online shopnya agak2 lama. Nah, kalau ada calon2 konsumen, biasanya gak selalu langsung deal. Harus kita jabani dulu segala pertanyaan yang dilontarkan. Ini yang terkadang agak sulit. Anak2 saya tidak begitu suka kalau saya menemani mereka dan saya keasyikan utek2 hape. Padahal ya lagi prospek calon pembeli. Kadang juga saya sedang sibut dengan urusan domestik, entah nyuci, nyapu, ngepel, masak, atau menjemur pakaian. Bahkan pernah juga ada calon konsumen pas tanya2 kok ya pas saya sedang bertarung melawan belatung2 yang turun dari atap gegara ada bangkai tikus yg tak terdeteksi tempatnya.

 

 

Begitu saya sedang longgar, saya tanyakan kembali, ternyata sudah beli lewat orang lain… Ihiks…, jujur ada rasa kecewa. Ya, saya sudah berharap banyak sepertinya. Dan, kejadian ini saya alami tidak satu dua kali, lumayan sering sampai malu saya menyebutkan jumlah. Tapi pas dengar nasihat suami saya tadi, saya jadi lebih bersyukur. Iya, bersyukur. Alhamdulillah di tengah keminiman kondisi saya untuk berjualan online, menjawab pertanyaan para calon pembeli, menyervis mereka, selalu saja ada yang mau bertransaksi dengan saya. Saya juga berinstropelsi diri, harus semakin lihai lagi mengatur waktu dan memberi pengertian kepada anak2.

 

Bercerita tentang online shop yang memang sudah menjadi tren usaha pada masa sekarang ini, saya boleh dibilang pemulaaaa sekali. Awal2 jualan masih gak beraturan, apa aja maunya dikulakin. Lama2 saya melihat sendiri keterbatasan kemampuan saya. Ada adik kelas saya yang punya usaha online shop dan sudah mulai lebih dulu. Masya Allah, sudah maju sekali! Ia bahkan sudah punya asisten khusus untuk menangani toko online, transaksi, sampai pengemasan/pengiriman. Belum lagi ada pembantu rumah tangga juga di rumahnya. Jadilah ia Ibu Rumah Tangga yang mengurus full anak2nya tetapi juga tetap berpenghasilan. Ah,… itu rezekinya! Dan, bagi saya, inilah rezeki saya, menjadi IRT tanpa pembantu atau ortu, di rumah yang dihuni dua balita, masih sempat dagang dan uret2 naskah pula. 

 

 

 

 

Mengapa Balitaku Bersekolah?

Suasana liburan sedang menggema….

Image

Ah, kok saya sudah merasakan liburan? Iya, meski saya seorang Ibu Rumah Tangga, saya jadi kecipratan euforia ini. Soale sulung saya, Azzam sudah sekolah. Jadi, ya saya juga mengalami berangkat pagi setiap hari Senin–Jumat dan merasakan “grabak-grubuknya” suasana pagi. Ya…, mirip-mirip waktu saya kerja kantoran dulu. Mulai dari malam menyiapkan pakaian seragam untuk dipakai besok, pagi masak untuk sarapan dan bekal makan siang, sampai antar jemput Kak Azzam. Jadi, mulailah saya bersahabat lagi dengan kuda besi, pinjaman dari Papa Mertua.

 

Loh, Azzam yang usianya baru empat tahun sudah sekolah? Bukannya dia ada keterlambatan bicara? Tidak terlalu dini memangnya? Sesungguhnya, saya juga berat memutuskan Azzam untuk disekolahkan. Ia masih berusia 4 tahun. Saya masih ingin menerapkan home education pada masa-masa keemasannya. Namun, ada banyak kejadian yang membuat saya berpikir lagi dan lagi. 

 

Azzam yang sedang belajar berbahasa dan sedang masanya bermain dan bermain tentunya tidak pernah jauh dari teman-temannya. Siapa mereka? Ya anak-anak tetangga. Dan, anak-anak tetangga ini banyak yang sepantaran, pun lebih tua hanya terpaut 2 tahun, juga yang lebih muda terpaut hitungan bulan atau 1 tahun. Yang menakjubkan, mereka sudah amat lancar berbahasa, bahkan tak ada cadel dalam pelafalan huruf yang menurut saya lumrah pada usia mereka. Sayangnya, banyak kata “ajaib” yang sering terlontar. Tidak hanya itu, kemampuan berbahasa Azzam yang memang terbilang kurang di antara mereka, menjadikan anak-anak itu suka mem-bully Azzam, baik secara fisik maupun psikis dengan perkataan-perkataan kasar yang tidak pantas terlontar dari anak-anak yang masih bersih itu.

 

Ya, memang saya tinggal di lingkungan perkampungan, namun saya lihat para orangtua mereka termasuk yang berpendidikan. Jarang terdengar makian atau kata-kata kasar dari lisan mereka. Saya juga heran, dari mana bocah-bocah itu memeroleh perbendaharaan kata kasar mereka? Kalaulah boleh menduga, bisa jadi memang dari tontonan yang nyaris 24 jam menyala dari televisi mereka. Ah, saya hanya mampu berdoa agar para orangtua ini segera menyadari potensi2 anak-anak mereka, sehingga potensi itu tidak terjerumus ke hal2 yang negatif karena tidak terjaga.

 

Nah, demi mencari teman belajar berbahasa yang baik, maka saya menyekolahkan sulung saya. Saya tetap berusaha untuk selalu mengajak berbahasa yang santun, baik, membacakan buku, mengajak bercerita, berdongeng, dan memberikan pengertian akan nilai baik buruk kepada anak-anak saya. Namun, saya pikir mereka butuh praktik untuk menggunakan bahasanya, dan praktik yang paling mujarab adalah kepada teman-teman seusia mereka. 

 

Itulah sebabnya ekspektasi awal saya menyekolahkan Kak Azzam cukup agar Kakak bisa mengembangkan kemampuan berbahasanya. Jika sekarang ia makin rajin beribadah, makin mandiri, makin bertanggung jawab akan dirinya sendiri, sudah mampu bersosialisasi dengan baik, dan semakin terlihat bakat imajinasinya, itu bagi saya adalah bonus yang luar biasa. Ya, karena saya tidak memasang target apa pun untuk hal-hal tersebut. Saya sudah amat bersyukur karena pembentukan karakternya sudah semakin terlihat. Saya yakin, semua itu bukan hanya karena bentukan dari sekolah, tetapi tentunya tanggung jawab sayalah untuk membentuk karakter anak-anak saya.

 

Nah, ketika liburan sekolah inilah saatnya ia mengamalkan segala yang telah kami tanamkan padanya. Alhamdulillah, saya melihat perbedaan yang cukup signifikan. Mulai dari berbahasa, bersikap, dan caranya sendiri ketika menghadapi masalah dengan teman-temannya. Sekarang ia mampu meminta izin ketika ingin bermain bersama temannya atau meminjam mainan temannya, ia bisa bersabar menunggu giliran, tidak marah ketika tidak diizinkan meminjam atau bermain oleh temannya, dan sudah bisa bilang “jangan pukul2 itu tidak baik” ketika temannya mulai mem-bully. Ah, saya saja nih yang masih khawatir jika ia masih di-bully. PR besar untuk saya untuk mampu melepasnya ke lingkungannya.

Surat Tanggal 22 Desember

Ibu,

Image

Siang ini ketika aku memasak soto, aku teringat masakanmu. Masakan yang katamu paling cepat untuk dikerjakan. Ah, tidak bagiku, Bu! Ternyata prosesnya tak secepat yang ada di pikiranku. Selagi aku mengupas bawang, kuteringat bahwa kurang seminggu adalah tanggal 22 Desember, Bu. Tahukah engkau apa yang istimewa pada tanggal itu? Oya, engkau belum pernah tahu.

22 Desember,

Yang engkau tahu dari tanggal itu adalah, engkau telah melewati waktu sehari setelah melahirkanku. Betapa berterima kasihnya aku, Ibu. Engkau telah mengandungku selama sembilan bulan di dalam rumah bilik, sambil membantu Bapak berdagang soto, juga menjaga kakak-kakak yang masih balita. Pasti berat bagimu, Bu, namun engkau tidak pernah sejenak pun menyesal. Engkau melewati masa-masa itu dengan penuh sabar dan keikhlasan.

22 Desember,

Yang engkau tahu dari tanggal itu adalah, engkau mendapatkan kabar dariku bahwa aku akan menjadi ibu. Ah, betapa raut wajahmu lebih berseri dibandingkan aku. Aku, putrimu satu-satunya ini sedang mengandung cucumu. Sejak itu, mulailah aku menapaki sebuah kehidupan baru, sebuah perjalanan cinta menjadi seorang ibu. Ah, terima kasih, Ibu, karena engkau menjadi ibuku maka kutahu perjalanan ini begitu penuh warna yang indah.

22 Desember,

Bu, tahukah sesungguhnya ada apa dengan tanggal itu? Hari itu adalah Hari Ibu, hari untukmu, Bu. Namun, engkau tak pernah tahu karena aku, kakak-kakakku, tak pernah mengucapkan selamat, terima kasih, atau ungkapan sayang padamu, Bu. Apakah engkau kecewa, Bu? Aku yakin engkau tak pernah memedulikan hal-hal seperti itu. Engkau menjadi ibu kami yang paling tulus, yang paling sayang, dan paling mencintai kami. Tak pernah engkau inginkan ucapan-ucapan selamat itu, yang engkau harapkan kami menjadi putra putrimu yang selalu bahagia di dunia dan kelak di akhirat sana.

22 Desember,

Aku tersentak, Bu. Seminggu sebelum tanggal itu, sulungku memberikan sebuah kartu. Kartu buatannya sendiri di Taman Kanak-kanaknya. Meski kartu itu adalah ide sang guru, namun sulungku memberikannya dengan kecupan sayang kepadaku. Ah, Ibu, aku jadi terharu. Beginikah rasanya bila kusampaikan pula rasa terima kasihku padamu? Bu, sungguh aku mencintaimu. Terima kasihku tak terhingga kepada Allah yang menakdirkan engkau menjadi ibuku. Selamat Hari Ibu! Semoga Allah selalu menyayangi Ibu. Terima kasih atas segala cintamu yang tak pernah habis.

Ngeblog Lagiiii….

Alhamdulillah, akhirnya bisa lagi buka blog wordpress ini. Kemarin2 lupa kata sandi Setelah ingat, semangat ngocehnya melayang. Pas sedang semangat, kadang waktunya gak sempat. Sekarang harus disempat2kan. Minimal satu paragraf berbagi di sini. Hihihi..

 

Doakan semangat saya gak luntur ya, teman2…

Kemampuan Verbal Si Sulung 1

Penyesalan itu selalu datang di akhir, kalau di awal namanya pendaftaran.

Begitu katanya.

Jadi, setelah saya memutuskan bekerja dari rumah saja. Hal pertama yang paling saya utamakan adalah urusan anak-anak. Kalau memang dibilang ada penyesalan, pastinya ada. Tapi, untuk apa lagi saya ungkit-ungkit. Sudahlah hal itu saya jadikan pembelajaran untuk melangkah lebih baik lagi.

Saya tahu, kemampuan verbal si sulung tidak seperti teman2 seusianya. Saya juga tahu gigi-geligi si sulung bisa dikatakan rusak sekali. Namun, kalau saya hanya berhenti di fase menyesal dan tidak ada tindakan, malah justru membuat derita berkepanjangan. Insya Allah masih ada jalan keluar. Tidak pernah ada kata terlambat untuk perbaikan.

Tidak mudah awalnya, terlebih saya orang yang kurang sabar. Iya, gak sabaran yang ujung2nya malah kesal sendiri, dan marah2. Astaghfirullah. Lantas saya menyadari satu hal. Jangan sampai anak2 jadi merasa lebih nyaman ketika bundanya di luar. Tidaaaak.. I’m yours kids, always. Sedikit demi sedikit saya mulai mengelola emosi saya. Meski kadang masih ada keceplosannya.

Saya yakin, si sulung masih menyimpan perbendaharaan katanya di tempat yang belum bisa ia temukan. Saya percaya bahwa ia adalah makhluk Allah yang cerdas pula seperti anak2 seusianya. Dan, sedikit demi sedikit hal itu mulai terkuak. Meski masih cadel di sana sini; konsonan akhir dari tiap kosakata selalu lesap; dan masih bermunculan kata-kata ini itu yang entah apa maksudnya, saya kini bisa berkomunikasi dengan si sulung lebih jelas, lebih panjang.

“Kakak, mau ke mana?”

“Mau kuar (keluar)”

“Hati-hati, Kak. Banyak motor, banyak mobil. Nanti kakak tertabrak gimana?”

“Aku mau liat mobi, munda…” (aku mau lihat mobil, bunda)

“Mobil apa?”

“Mobi sampa, gitu…”

“Kok, tau itu mobil sampah. Dari mana tahunya?”

“Itu, ada sampa-sampanya, tuh. manyaaa manggeee.” (itu, ada sampah2nya tuh. banyaak banget)

—-

itu sekelumit percakapan saya dan si sulung (3thn4bln). Belajarlah terus, Nak. Bunda selalu mendukungmu. (kayak lagu aja yaaa)

Njajal Posting

Assalamu’alaikum,Image

akhirnya bisa buat blog (lagi) di wordpress. setelah desas-desus blog multiply akan digusur sejak beberapa bulan lalu, saya sebenarnya sudah pasrah. ya, bagaimana lagi? semenjak kerja di rumah saja, akses internet yang berkualitas semakin tak terjangkau. pun memiliki modem sampai 3 jenis, tak begitu membantu, terutama untuk membuka blog, atau website yang fiturnya beraneka. pokoknya hopeless untuk bisa melakukan back-up isi blog di sana.

Alhamdulillah, setelah mendapat info dari teman dan diberikan brosur iklan pemasangan jaringan internet f*rst m*dia, akhirnya bisa kembali merasakan internet yang cukup memadai untuk seorang ibu rumahan yang punya sambilan dagang di dunia maya. dan, itu berarti harapan untuk bisa menyelamatkan rumah maya saya masih bisa diusahakan.

dengan waktu yang mepet dan gagap teknologi, saya bersicepat untuk mengamankan torehan kenangan saya. dari surat cinta yang diberikan pihak multiply, secara resmi fitur blog akan ditiadakan tgl 1 desember 2012. sementara itu, saya masih punya waktu 2 minggu jelang terkuburnya Ruang Renung Ian. setelah melakukan back-up seadanya (karena masih gagap memback up foto, saya belum menyelamatnya foto2 yang ada di sana), saya pun merasa lega.

desember pun tiba. sejak H-3 kata-kata perpisahan telah terucap di jejaring sosial, terutama mereka yang memiliki akun di sana. namun, kenyataannya, sampai jurnal ini dibuat pun fitur blog multiply tak kunjung dihapus. entah apa masalahnya. saya sudah tak ambil pusing lagi.

banyak hal yang terjadi sejak keputusan pihak multiply digelontorkan kepada para pemakainya. salah satunya adalah mereka berbondong2 hijrah ke situs lain yang masih menyediakan layanan blog gratis. bahkan saling menjadi contact kembali di sana. nah, itulah yang terjadi pada saya. akhirnya saya membuat akun baru ini di sini. sebagai sebuah ikhtiar untuk bisa tetap merajut tali silaturrahim.

subhanallah, indahnya persaudaraan. banyak kenangan yang terajut di multiply memang. belajar menulis perihal sepele dalam keseharian, tetapi enak dibaca, diambil hikmah, bahkan bisa diikutkan lomba. bukan hanya itu, jalinan persaudaraan pun pernah terbentuk di sana. saya mengenal banyak orang hebat yang pada akhirnya berperan penting pula para perubahan seorang saya, seorang ian, ianaja.

dan, inilah akhirnya. saya beringsut pindah ke sini meski ada rumah lain yang sudah pernah saya buat. namun karena banyak contact multiply yang bermigrasi ke wordpress, saya ingin tetap terhubung dengan mereka.

masih sambil belajar, sedikit demi sedikit saya akan memasukkan content blog di multiply ke sini. sementara ini masih tergagap membenahi rumah baru. maaf ya, perabotannya masih kosong. silakan duduk di alas tikar sambil menyeruput teh yang mungkin kekurangan gula.

 

gambar diambil dari sini.