Kata ini tampaknya yang paling tepat untuk mengomentari sebuah negeri yang dilintasi garis katulistiwa. Negeri yang konon kabarnya sebagai negeri dimana semuanya serba murah. murah papan, murah sandang, murah pangan, gemah ripah lohjinawi,tentrem kerto raharjo. Penggambaran itu memang tidak salah, benar seratus persen , tapi nanti dulu……Penggambaran itu untuk masa lalu bukan untuk masa sekarang. Untuk masa sekarang…..ck…ck…. sungguh memilukan. Satu sisi ada sekelompok orang petinggi negeri menunjukkan “kemaharajaannya” karena fasilitas yang dipunyai, punya mobil mercy, punya gedung tinggi, punya pundi-pundi, tak lupa pula punya istri yang tersembunyi. Mereka bisa jalan-jalan keluar negeri ( kabarnya sih study banding) dengan mengatasnamakan rakyat, padahal tahu sendiri mereka hanya cari sensasi untuk kepuasan diri. Mereka bisa menyekolahkan anak-anaknya keluar negeri, paling tidak memasukkan ke program SBI yang menelan biaya tinggi. Akibatnya persoalan dalam negeri yang segera ditangani, seperti kasus Century yang masih mistery karena tidak jelas kelanjutannya, kasus pornografi pornoaksi cut tari terabaikan menjadi berita basi. Inilah sebuah negeri dimana rakyatnya sangat susah untuk sekedar bisa mempertahankan hidup minimal makan sekali dalam sehari. Biaya hidup semakin tinggi, barang-barang kebutuhan primer tidak terbeli, bahkan ada seorang anak yang begitu semangat untuk tolabul ‘ilmi harus mati gantung diri, karena ketidakberdayaan orang tuanya untuk membiayai Apalagi berpikir untuk mengejar gelar meraih gengsi…..ahhhhh mimpiiiiiii…….. Ya Robb….akankan negeri ini benar-benar menjadi negeri yang gemah ripah lohjinawi. Ataukah negeri ini memang negeri yang penuh tragedi dimana petingginya tak tahu diri? Dengan terpaksa sayapun harus katakan enyahlah kalian dari sini. Kami butuh pemimpin yang mempunyai peduli kepada rakyat ini