Tali pancing tak kunjung menegang. Umpan akan habis. Sedari pagi Ali belum makan, tidak ada ikan yang ia dapat.
—
Tak jauh dari situ, Usman, seorang pengemis juga belum makan sedari pagi. Biasanya ia mendapatkan banyak sedekah dari para pemancing di sana. Namun, karena ikannya sedang sedikit, hanya ada Ali saja yang memancing di sana. Ia pun hanya bisa menahan lapar sambil tertawa kecil jika melihat Ali mendapatkan sampah, bukannya ikan.
—
Tali pancing menegang. Ali mendapatkan sesuatu. Mungkin hanya sampah lagi, mungkin ikan. Tapi Ali tak peduli, ia tarik tali pancing sekuat tenaga. Namun apa yang ia dapat? Lagi-lagi bukan ikan, tapi juga bukan sampah. Sebuah Bejana Emas !! Ali sangat senang, ia bisa membeli makanan dari hasil menjual bejana tersebut.
—
Dari jauh Usman tertawa kecil lagi melihat Ali tidak mendapatkan ikan untuk yang kesekian kali. Namun senyumnya berubah menjadi penasaran ketika ia melihat Ali kegirangan dan ada yang bercahaya dari hasil pancingannya. Ia bergegas mendekati Ali, lalu segera mengetahui bahwa Ali mendapatkan bejana emas. ia berpikir bawa ia bisa mendapatkan uang yang banyak dari hasil penjualan bejana emas tersebut. Otaknya berputar mencari siasat bagaimana caranya ia bisa mendapatkan bejana tersebut. Namun sebelum ia berencana lebih jauh, dengan spontan mulutnya berbicara, “Bolehkah aku memiliki bejana itu hai pemuda? Aku belum makan sedari pagi.” Usman menyadari, sangat kecil kemungkinan permohonannya dikabulkan. Namun karena terlalu terkesima dan bernafsu untuk menguasai bejana emas tersebut, ia akan melakukan apapun, bahkan tindakan kasar untuk mendapatkannya.
—
Di tengah kegirangan, Ali sembari berpikir berapa harga bejana tersebut. Tiba-tiba ada seorang pengemis yang mendatanginya, dan berkata, “Bolehkah aku memiliki bejana itu hai pemuda? Aku belum makan sedari pagi.” Ali dengan spontan dan segera menjawab ” Oh boleh, silakan, ambil saja bejana ini” sembari tersenyum. Lalu ia kembali mengambil umpan dan berencana untuk melanjutkan memancing.
—
Usman terkaget ketika pemuda tersebut memberikan bejana emas itu dengan mudahnya, cuma-cuma, dan tanpa syarat. Dengan kegirangan, Usman dengan segera membawa bejana emas tersebut menjauh dari sang pemuda. Ia takut pemuda tersebut berubah pikiran.
Mendekati pasar, Usman masih memandangi bejana emas tersebut, namun perasaan senangnya berkurang seiring dengan bertambahnya rasa penasaran ia. Mengapa pemuda tadi dengan mudahnya memberikan bejana emas yang berharga ini? Apakah ini tidak berharga baginya? Padahal ia tau pemuda tadi juga belum makan sedari pagi, dan pasti akan menjual bejana emas tersebut untuk makan. Apa dibalik sifat pemurah itu? Apakah sebenarnya ia orang kaya? Lalu ia merefleksikan diri, pekerjaannya selama ini hanya mengemis. Ia tidak perlu repot memancing, hanya menunggu sebagian hasil pancingan orang-orang yang datang ke sana. Mungkin hasilnya bisa melebihi hasil pancingan satu orang. Tanpa usaha, ia mendapatkan banyak hasil pancingan, tapi ia selalu merasa miskin. Menjadi orang yang diberi.
Sesampainya di pasar, ia sejenak berhenti dan merenungi apa yang baru saja terjadi. Lalu seketika ia kembali ke arah danau tempat sang pemuda memancing.
—
Akhirnya Ali mendapatkan hasil pancingan. Ia merasa cukup, dan berkemas untuk segera pulang. Tiba-tiba pengemis tadi dengan tergopoh-gopoh memanggilnya, sambil membawa bejana emas yang tadi.
“Wahai pemuda, aku kembalikan bejana emas ini, tapi aku mohon, sekiranya engkau berkenan memberikan aku yang lebih berharga dari ini.” kata Usman.
Ali kebingungan lalu berkata,”Aku tidak mengerti apa maksudmu. Aku tidak punya apa-apa lagi selain hasil pancingan ini.”
Usman berkata “Sesuatu yang lebih berharga dari ini, yaitu apa yang ada dibalik pemberianmu ini. Aku ingin memiliki ilmu, kebesaran jiwa yang membuatmu bisa memberikan bejana emas yang sangat berharga ini dengan cuma-cuma kepadaku.”
Ali baru mengerti. Ia tersenyum sambil berkata, “Oh, baiklah. Mari kita berjalan ke rumahku, sambil menikmati hasil pancinganku ini. Engkau belum makan dari pagi bukan?”
Itulah perkenalan pertama mereka. Obrolan panjang dan ikan bakar hasil pancingan terasa jauh lebih berharga daripada bejana emas bagi mereka.


Recent Comments