
Segala acara yang menggunakan embel-embel “Summer” di Indonesia adalah absurd. Itu adalah opini saya yang tertanam sedari dulu. Sebagaimana yang kita pelajari di IPS tingkat SD, Indonesia adalah negara tropis dengan dua musim, musim kering dan hujan. Tidak ada “Summer” disitu. Baiklah, lupakan. Terlepas dari opini saya tersebut, saya akan menulis tentang pengalaman saya selama 36 jam mengikuti perhelatan kemah musik indie yang diselenggarakan oleh Yamasurih, suatu clothing line terkemuka di Kota Kembang.
Musik dan alam adalah dua hal yang dapat dipadukan menjadi resep yang sempurna secara alami. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa gigs yang mengambil lokasi di alam terbuka jauh dari hiruk pikuk suasana urban. Misalnya saja, Ruru pernah mengadakan RRREC Fest in the Valley tahun lalu, dan ada pula Jazz Gunung yang sudah established bertahun-tahun. Saya sendiri selalu menggebu-gebu mengikuti gigs dengan konsep serupa bebas meskipun saya ini bukan anak alam, hal ini terinspirasi dari dokumenter Heima rilisan punggawa post-rock Islandia, Sigur Ros yang saya tonton 6 tahun lalu. Lalu akhirnya baru pada Maret ini berkesempatan untuk mendatangi perhelatan Summer and Rain.
Dengan semangat tinggi, beberapa hari sebelum hari-H sibuk dengan mencari teman sana-sini dengan harapan ada teman berangkat bareng dari wilayah Jabodetabek (padahal gak nemu juga). Hingga akhirnya pada H-1 memutuskan berangkat ke Bandung untuk bermalam terlebih dahulu, karena ternyata registrasi ulang untuk berangkat ke lokasi perkemahan itu start pukul 6.00 pagi dan jam 8.00 pagi hari Sabtu sudah harus berangkat menuju TKP. Oh iya, untuk venue sendiri terletak di Rahong Camping Ground, yang mana saya tidak menemukan infonya apapun di Google, yang saya tahu hanya lokasi itu terletak di Pangalengan, Kab. Bandung (ingat Susu Murni Nasional). Untuk harga tiket event ini sendiri, aslinya free entry, tenda, dan transportasi dengan syarat membeli merchandise Summer and Rain berupa long sleeve tees dengan harga Rp280.000 atau membeli jaket parka seharga Rp750.000. Ya, kamu pasti tahu kan saya beli apa?
Pukul 7.15 saya sudah sampai di tempat registrasi, dan tidak lama kemudian saya menaiki bis B, dengan nomor tiket B27. Dari situ dimulalah perjalanan spiritual saya menuju selatan. Sekitar dua jam perjalanan dan kebanyakan dihabiskan dengan tidur, akhirnya sampailah di TKP. Pada awalnya saya mengira tempatnya benar-benar camping ground, dengan tanah rata dan setidaknya ada satu bangunan permanen. Faktanya: saya diturunkan di hutan karet dan pinus di samping kebun teh, dengan kumpulan tenda sudah berdiri tegak di sekeliling alang-alang yang ditebang. Wow.
.. and the show begins

Karena banyaknya line-up yang tampil, saya tidak akan mengulas satu persatu secara utuh karena kemalasan saya dalam menulis. Saya akan mencoba menceritakan secara keseluruhan ya. Adapun, line-up yang tampil yaitu: Tigapagi, Under the Big Bright Yellow Sun, Spring Summer, Rusa Militan, The Fox and The Thieves, Teman Sebangku, L’alphalpha, Tetangga Pak Gesang, Anjing Balada, Flukeminimix, Deugalih and Folks, Nada Fiksi, Mustache and Beard, Akarsana dan Suara, Mr Sonjaya, Space and Missile, Ansaphone, Littlelute, Serayu Jingga, Pemandangan, Parahyena.
Lewat tengah hari, panggung diisi dengan penampilan band folk, Littlelute yang menghangatkan suasana perbukitan sejuk. Disusul penampilan dari Akarsana dan Suara, serta Serayu Jingga. Tiga nomor awal grup folk di sabtu siang itu sangat menghibur telinga, suara-suara yang keluar dari instrumen yang dimainkan berbaur dengan suara angin dan serangga, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?
Setelah itu cuaca kian dingin ditandai dengan turunnya kabut di TKP. Setelah berserius-serius ria, Pemandangan memulai bobodoran dengan menyanyikan lagu-lagu yang liriknya sangat absurd. Di tengah sesi komedi oleh Pemandangan, sayang sekali cuaca tidak mendukung, hujan mulai turun dan penonton mulai membubarkan diri dari depan panggung. Di saat yang sama, saya pun kabur menuju area tenda.

Tiga jam sudah hujan turun, hal ini membuat tenda yang kami tempati menyerah, dia mulai basah karena rembesan dari tiap sisi tenda. Tanpa gadget karena program penghematan baterai, dan tanpa sinyal yang tidak memadai, dengan kondisi kurang hiburan saya mencoba membuang waktu di tenda basah selama beberapa jam. Dengar-dengar gosip tetangga, tenda kami tergolong masih baik, konon ada tenda yang sudah kebanjiran dan tidak bisa ditempati sama sekali. Masalah tenda ini adalah salah satu masalah yang cukup mengganggu selama perhelatan.
Memasuki gelap, kondisi cuaca jauh membaik dengan dingin yang tidak kunjung berkurang. Dengan pakaian semi basah saya mencoba menyimak kembali ke arah panggung. Dengan kondisi jadwal yang tertinggal sekitar 2 jam dari rundown, Anjing Balada menghibur peserta dengan lagu-lagu Sunda yang vulgar pisan, sebut saja “Baturan Aing Kaluman Kabogoh Aing Jadi Kabogohna”, “Mantan Aing Anjing”, “Kanjut Aing Sagede Bitis” (lebih baik tidak usah diterjemahkan), dan lagu terbaru mereka yang akan menjadi single berikutnya yang berjudul “Sheila on 7”. Stage act dan lawakan Anjing Balada mencuri perhatian penonton malam itu, sang vokalis, Masbay yang hiperaktif membuat onar. Pada lagu kedua, ia melepas kaosnya, pada lagu ke empat, ia menanggalkan celana jeans pendeknya, menyisakan area kelamin yang terbungkus celana dalam putih longgar di tengah cuaca super dingin. “You rock! Kamu batu!” ujarnya.
Space and Missile, adalah band post-rock pertama yang mengisi panggung pada hari itu. Dengan demikian, impian saya untuk menonton band post-rock di alam terbuka selayaknya dokumenter Heima telah terwujud. Di antara line-up yang didominasi oleh penampil folk dan post-rock, ada satu performer yang terasa ganjil yaitu The Fox and The Thieves. Lupakan perbedaan genre itu, nyatanya The Fox and The Thieves menjadi primadona malam itu dengan lagu-lagu paling keras sepanjang hari, distorsi yang meraung-raung dan hentakan drum memanaskan malam. Untuk mendinginkan suasana, Teman Sebangku, duo minimalis hadir menghipnotis penonton dengan kesederhanaan musiknya.
Jika ada hutan, tentunya disitu ada binatang. Setelah sang rubah tampil mengisi panggung, berikutnya adalah giliran gerombolan rusa, RusaMilitan. Gerombolan folk ini tentunya memainkan nomor andalan mereka, “Senandung Senja”, meskipun waktu saat itu sudah menunjukkan jam 10 malam. Flukeminimix, band eksperimental asal Bandung menambah kebhinnekaan line-up yang ada. Pada akhir lagu penutup, kondisi panggung sudah panas dengan bebunyian eksperimental, dan para personil sudah eargasm tingkat langit ke tujuh. Hingga akhirnya, salah satu instrumen floor tom yang dibawa, menjadi korban amukan Flukeminimix.
Saya berterima kasih kepada panitia yang membuat rundown pada malam itu yang begitu menarik. Setiap penampilan band yang loud, selalu disisipi dengan band yang bersifat quiet. Sehingga telinga tidak monoton dengan tempo lagu yang sejenis. Panas panggung Flukeminimix diademkan dengan kehadiran Nada Fiksi, yang mana aslinya adalah kuartet akustik. Tetapi dengan terpaksa tampil dengan format duo karena satu dan lain hal. Pada satu lagu terakhir, berkolaborasi dengan Sarita Teman Sebangku dan Dimas Mr. Sonjaya (kalau tidak salah) membawakan lagu dengan harmonisasi vokal yang apik. Waktu menunjukkan tengah malam, mendengarkan lagu mereka membuat saya mengantuk.

Menonton Tigapagi pukul Satupagi
Dahulu, jika saya sedang berada di kosan dan tidak bisa tidur. Saya selalu diiringi dengan lagu post-rock apapun dengan volume speaker sedang. Beberapa tahun kemudian, saya berada di tengah pepohonan karet pada tengah malam, dan dengan keadaan mengantuk, diiringi oleh penampilan Ansaphone secara live. Dengan raungan instrumen yang dimainkan, Ansaphone berhasil membangun atmosfir indah di tengah malam. Hingga akhirnya hadirlah line-up penutup pada hari pertama. Tigapagi. Grup akustik ini mengiringi malam dengan nomor-nomor andalan seperti “Tangan Hampa dan Kaki Telanjang”, “Alang-Alang”, dan “The Maslow”, rasanya hanya 5 atau 6 lagu saja yang mereka bawakan, dan cukup terganggu dengan adanya noise gangguan berbunyi jeduk-jeduk sepanjang penampilan. Cukup mengurangi kesyahduan menyaksikan Tigapagi pada pukul 1.00 pagi.
Hari kedua
Tidur dengan tenda semi basah dan hanya berbalut selimut adalah pengalaman yang tidak menyenangkan setiap saya berkemah di manapun. Terbangun jam 7.00 dan kelewatan menikmati matahari terbit dari perbukitan kebun teh di sisi timur camping ground cukup membuat saya menyesal. Aktivitas di venue pun masih minim hanya terlihat beberapa orang sedang berolahraga dan yoga pagi. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk mengambil satu atau dua potret di TKP.

Salah satu hal yang hanya bisa dilakukan di sini adalah, menikmati segelas susu dan yogurt segar KPBS Pangalengan langsung di Pangalengan. Entah sugesti atau apa, menurut saya jauh lebih nikmat dan segar dibandingkan dengan susu KPBS biasa yang dijual oleh abang-abang penjual susu keliling.

Susu Asli Pangalengan di alam terbuka
Dengan rasa bosan yang ada, akhirnya saya kembali ke tenda dan melewati beberapa jam hingga panggung kembali berbunyi. Sayangnya, yang ada malah saya kembali tertidur, dan melewati dua penampilan pertama pagi itu yaitu Tetangga Pak Gesang dan Spring Summer. Dengan cuaca hari Minggu pagi yang cerah, hari itu seharusnya hari yang sempurna untuk menikmati lantunan lagu-lagu folk pagi hari.
Saya kembali ke hadapan panggung ketika Mr. Sonjaya sudah memainkan lagu pertamanya. Bagi saya pribadi favorit adalah “Sang Filsuf“. Petikan gitar pagi hari itu terasa sangat adem, dengan suasana panggung disinari matahari Minggu pagi, turut dihangatkan oleh suara Dimas sang vokalis yang sangat jantan menurut saya. “… Tuhan bukan pembenci..” begitu potongan lirik dari lagu Sang Filsuf. Mr. Sonjaya disambung dengan penampilan Deugalih and Folks, mereka juga adalah salah satu penampil favorit saya di pagi itu. Band yang satu ini juga telah meluncurkan album terbaru dengan judul “Anak Sungai”, bisa didapatkan di toko CD indie terdekat di kotamu. “Earth” dibawakan dengan memukau pagi itu, intro bunyi suling bergema di lembah pohon karet, dan pada klimaks lagu teriakan Galih sang vokalis mengguncang pagi itu. Disambung dengan penampilan band post-rock kawakan kota Bandung, yaitu tidak salah lagi Under The Big Bright Yellow Sun. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali melihat mereka secara live, dan seperti biasa, penampilan yang selalu berakhir dengan eargasm. Salah satu goal hidup juga berarti sudah tercapai: menonton Under The Big Bright Yellow Sun di bawah matahari yang bersinar kuning dan terang. “Threshold”, menjadi lagu andalan mereka untuk menutup pagi itu.

Di bawah matahari yang bersinar kuning dan terang
Memasuki siang, saya harus bolak-balik tenda untuk menengok kondisi kawan saya Raikhan yang tergeletak malas keluar dan kebelet untuk buang air besar, dan saya juga harus bolak balik mencari saluran listrik yang tersedia demi smartphone saya yang sakaratul maut. Sehingga siang itu saya tidak fokus untuk menyaksikan Parahyena dan Mustache and Beard. Salah satu yang menurut saya epic adalah, ketika menjelang penampilan akhir Mustache and Beard, membawakan lagu andalan dari John Denver – Take Me Home, Country Roads, mengajak semua untuk berdansa country di depan panggung hingga akhirnya terbentuk crowd dancing massal. Sejauh 24 jam saya mengikuti acara, aksi ini adalah aksi paling ramai sepanjang acara.
Waktu menunjukkan pukul 14.30, kabut mulai turun beberapa jam sebelumnya dan bisa ditebak apa yang terjadi berikutnya: hujan. Padahal hanya satu penampilan terakhir yaitu L’alphalpha. Hasilnya adalah ketika L’alphalpha tampil penonton yang tidak menggunakan perlengkapan hujan terpaksa mengungsi. Begitupun juga saya yang hanya memakai kaos seadanya dan celana training. Terpaksa mengungsi ke booth kosong di belakang panggung. Cukup sedih saya terpaksa melewatkan L’alphalpha yang siang itu membawakan lagu di antaranya adalah “Tarian” dan “Comet’s Tail” yang merupakan favorit saya.
Demikianlah penutup perhelatan di panggung itu. Tetapi urusan saya dengan alam belum selesai. Selepas acara, para peserta diperkenankan untuk packing untuk menunggu bis jemputan pickup point yang terletak di pinggir jalan sehingga harus berjalan dari camp sekitar pukul 16.00. Nyatanya sedari jam 16.00 peserta menunggu bis yang tidak kunjung tiba, dan hujan yang semakin lebat, tanpa ketidakpastian. Sekitar pukul 17.00, 3 bis pertama dari 7 bis tiba. Bisa ditebak, yang terjadi adalah chaos. Para peserta berebutan masuk bis tanpa instruksi panitia, tanpa menyesuaikan dengan bis keberangkatan. Alhasil, tidak semua peserta kebagian bis, termasuk saya, yang harus bersabar menunggu bis berikutnya.
Lagi-lagi hal menyebalkan terjadi, hingga turun gelap, bis tidak kunjung datang. Sekitar tiga jam kami menunggu di bawah hujan dengan raincoat yang sudah mulai rembes, dan backpack dan carrier kami yang mulai basah. Saya membunuh waktu dengan mengobrol di tengah hujan dan dingin dengan kawan saya yang baru berkenalan di lokasi, mas Andhika (yang kebetulan dari Bogor juga), dan mas Ari. Gelap semakin pekat dan sulit untuk melihat pepohonan di lokasi, hingga pukul 18.30, ada panitia yang mengabarkan bahwa telah terjadi miskomunikasi antara awak bus dengan manajemen bus yang disewa panitia terkait dengan masalah hak harian para awak bis. Hal ini mengakibatkan awak bis enggan masuk ke dekat campsite untuk mengantar kami pulang. Panitia mencoba menjelaskan dengan detil di tengah para peserta yang mulai kehabisan kesabaran. Tetapi sayangnya, kesan yang ditangkap oleh peserta yaitu panitia enggan dipersalahkan, dan bukannya mencari solusi, malah melempar masalah ke floor pada saat itu. Dengan negosiasi yang berlanjut akhirnya pukul 19.13 kami bisa naik bis mencari atap untuk berteduh. Saya mengecek perlengkapan, dan benar, ternyata bawaan saya basah kuyup semua. Satu-satunya sisi positif dari insiden itu, yaitu bis yang menjadi sangat lengang karena massa terbanyak sudah diangkut oleh bis sebelumnya. Massa sekitar 60-an orang dibawa dengan 4 buah bis pariwisata besar. Saya bisa tidur selonjoran di bis setelah berganti baju yang agak kering sedikit. Tetapi efek lain yaitu artinya adalah 2,5 jam perjalanan akan saya hadapi dengan dinginnya AC bis, dengan kondisi pakaian setengah basah dan sepatu basah. Akhirnya jam tangan saya menunjukkan pukul sekitar 21.30, kami tiba di daerah Gudang tempat kami registrasi pada pagi hari sebelumnya. Dengan demikian, saya harus berpisah dengan mas Andhika dan Ari, yang berpisah jalan untuk kembali beraktivitas senin pagi esok. Berakhirlah petualangan saya selama 36 jam bersama Yamasurih.
Penutup

Event Summer and Rain ini adalah acara yang cukup ambisius, yang menghadirkan puluhan line up dengan konsep camping. Untuk event perdana, tentunya masih banyak kekurangan di sana sini. Hal yang paling pertama saya kritisi mungkin adalah ketersediaan panitia yang ada di lokasi. Menurut rumor yang saya dengar dari hasil obrolan di sana, panitia inti adalah 4 orang, sisanya adalah cabutan, tentunya jika 4 orang ini harus full time melayani 200-an peserta, akan tidak maksimal bukan? Lalu cara komunikasi dan menyampaikan informasi oleh panitia di lokasi sangat mengecewakan. Banyak hal yang tidak jelas, dan antara panitia dan peserta sulit dibedakan. Dan tentunya insiden bis telat akan menjadi coretan merah dari saya. Selain itu juga mengenai fasilitas, terutama fasilitas sanitasi sangat tidak layak. Hanya disediakan satu stall toilet portabel untuk digunakan pria dan wanita bersamaan, dan tentunya hal ini kurang memadai untuk melayani ratusan orang di lokasi. Padahal, menurut brosur rundown yang saya dapat dari mas Andhika, janjinya akan disediakan beberapa toilet stall di lokasi. Demikianlah hal yang harus saya kritisi dari acara ini.
Mengutip obrolan yang saya dengar selama diguyur hujan, “Summer and Rain ini adalah konsepnya concert and camp, kalau concert-nya cukup berhasil, tetapi bagian camp-nya menjadi gagal.” Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Dari line up yang dihadirkan, dan harga yang harus dibayar sangat memadai, menghibur, dan masuk akal. Akan tetapi banyak sekali kendala dari segi camp-nya yang memengaruhi kualitas acara ini. Dapat saya simpulkan kalau Summer and Rain adalah acara yang lumayan untuk perhelatan pertama. Tentunya, suasana Summer hanya saya rasakan pada hari Minggu pagi saja, sisanya adalah Rain, sehingga argumen saya di atas tentang nama event yang mengusung “Summer” masih valid.
Akhir kata, saya berterimakasih kepada panitia yang sudah menginisiasi dan menjalankan acara ini. Apresiasi setinggi-tingginya bagi Yamasurih dan panitia. Saya sangat berharap tahun depan event ini akan dilanjutkan dengan evaluasi dan perbaikan yang maksimal untuk kenyamanan semua pihak. Salam indie spirit.