avatar Tidak diketahui

Mengisi Kevakuman

Blog ini menjadi cerminan betapa malasnya saya ketika harus menulis. Di Jepang ada istilah 三日坊主 atau mikka-bouzu, secara harafiah biksu tiga hari. Maknanya adalah orang yang seakan-akan hanya menjadi serius dan niat hanya selang dalam waktu singkat (tiga hari). Ya kurang lebih begitulah kondisinya.

Jadi dikira-kira sudah satu setengah tahun blog ini tidak terisi dan tidak terawat. Secara keseluruhan pun blog ini hanya terisi 1-2 post per tahun, bukan prestasi yang baik. Mari kita mulai era baru di tahun 2018 ini. Ada banyak hal semestinya bisa dituliskan.

avatar Tidak diketahui

Suatu Guilty Pleasure itu Bernama M83

guilt·y pleas·ure (n.): something, such as a movie, television program, or piece of music, that one enjoys despite feeling that it is not generally held in high regard.

Mungkin dalam beberapa hal, saya seorang konservatif garis keras, menolak perubahan yang sangat radikal jika itu berkaitan dengan selera. Contoh paling sederhana: saya tidak bisa menerima album Linkin Park sejak Minutes to Midnight yang berubah drastis meninggalkan era nu metal/rap metal. Saat itu saya baru masuk SMP, hingga kini saya tidak pernah mengikuti mereka lagi. Padahal sebelumnya bisa jadi saya merupakan hardcore fans mereka.

M83 Live in Jakarta – photo: @kiosplay

Berbicara tentang M83, saya kurang menyukai album baru mereka: Junk. Berbekal prejudice saya setelah memutar album 2-3 kali, saya hampir menjadikan mereka Linkin Park versi 2016. Saya lebih suka dengan M83 tempo dulu, M83 yang membuat saya mengawang terbang ketika mendengarkan “Lower Your Eyelids to Die with the Sun” atau galau maksimal ketika menyetel “Wait”. Perubahan tema dari shoegaze/dreampop menjadi tema 80’s revival yang diangkat dalam Junk terlalu radikal bagi saya. Tapi akhirnya saya tetap membeli tiket M83.

Dari 6 lagu dalam Junk yang dimainkan dalam 18 lagu setlist di Senayan kemarin (21/05), saya tidak protes sama sekali. Semuanya terasa sempurna malam itu. Mulai dari settingan pencahayaan panggung yang menawan dengan konsep neon color ala 80’s, dan permainan live yang benar-benar tanpa cela. Hanya satu mungkin kekurangannya, entah kenapa pada awal mulai suara bass/kick drum yang keluar dari sound system terasa sangat kencang sekali. Setiap bass/kick dibunyikan, saya merasa sesak nafas. Awalnya saya kira hanya saya yang mulai tidak kuat dengan hingar bingar konser seiring bertambahnya umur, tapi pengalaman pengap akibat sound system terlalu keras juga dialami teman saya yang lain yang concert goers.

Meskipun gradasi genre antar album cukup drastis, M83 dapat mengemasnya dengan baik. Seketika lagu “Road Blaster” yang upbeat selesai, langsung disambung dengan “Wait” yang mengawang. Sungguh kombinasi yang radikal, tapi saya tidak protes. Begitupun dengan tiga lagu encore, dimulai dari “Solitude” yang low tempo, lalu diikuti dengan “Couleurs” yang mengubah lapangan berlumpur jadi lantai dansa, dan ditutup dengan pamungkas “Lower Your Eyelids..” Saya tetap tidak suka dengan album Junk, tapi itu memang guilty pleasure.

disclaimer: seluruh foto dan video bukan milik saya

avatar Tidak diketahui

Mew Jakarta 2015, Hipnotis Aurora Nordik di Jakarta

21899

Jika ada kesempatan, salah satu list hal yang saya harus lakukan sebelum mati adalah melihat aurora borealis secara langsung. Tetapi sepertinya setengah dari cita-cita itu sudah saya rasakan pada hari Selasa (31/03) lalu di Jakarta.

Bertempat di Skenoo Hall Gandaria, Mew datang kembali ke Indonesia setelah terakhir datang sebagai salah satu line up di perhelatan Guiness Arthur’s Day Indonesia. Terhitung (kalau tidak salah) sudah total empat kali Mew datang ke Indonesia, dan sayangnya baru kali ini saya berkesempatan menyaksikan secara langsung. Berbeda dengan kedatangan sebelumnya, Mew kali ini tidak berbagi panggung dengan siapapun, selain itu juga ada Johan yang sebelumnya hengkang pertama kalinya menginjakkan kakinya di tanah air. Hanya Frengers dan Mew. Suatu atmosfir yang intim bukan?

Jam tangan saya menunjukkan pukul 8.00 kurang sedikit, setelah bersabar menanti. Akhirnya mereka yang saya tunggu naik panggung dan memandu instrumen masing-masing. Lalu kalimat pertama dari mulut Bo: “Good evening Jakarta! It’s glad to be back!“, disambut dengan sorak Frengers yang sudah menunggu. Pukul 8.00 tepat pada jam tangan saya, petikan pertama dari intro “Coffee Break” dimainkan. Sungguh acara yang sangat tepat waktu.

Dimulai dengan menyalakan atmosfir lagu yang sangat galau yang jarang sekali dimainkan secara live, hingga akhirnya di penghujung lagu terjadi koor massal pertama di malam itu. “It’s not by choice is it? I hope you never come back…” Dengan diterangi seksi pencahayaan panggung dengan dominan biru, lagu pertama pada setlist mereka menyatu dengan kegelapan Skenoo Hall.

Pada tur mereka tahun 2015 ini, beberapa lagu terkini yang akan dirilis dalam album +- akan turut dimainkan. Nyatanya benar, setelah Coffee Break langsung dilanjutkan dengan single nomor pertama di album mendatang, Satellites. Tanpa basa basi, intro Satellites dimankan dan tidak canggung meski lagu baru Frengers turut singalong dalam lagu itu.

Tanpa banyak jeda dan basa basi, lagu berikut yang dimainkan adalah yang My Complications dilanjutkan dengan tembang legendaris mereka, Snow Brigade. Sontak terjadilah lagi choir massal. “I‘ll find you somewhere to show you how much I care.” Kami bernyanyi.

Diselipi dengan Beach, nomor berikutnya tidak lain dan bukan kombo tembang legendaris mereka lagi, Am I Wry? No, yang langsung disambung dengan 156. Saya sungguh menikmati saat singalong 156, terutama menjelang outro, “one… five… six… don’t you just love goodbyes?” sambil mengacungkan jari membentuk 1, 5, dan 6 bersama Frengers di area tempat saya berdiri.

Meskipun tur tahun ini bertema untuk promo album +- nyatanya, setlis mereka mayoritas diisi dengan lagu-lagu favorit Frengers yang sudah mendarah daging. Bahkan beberapa lagu langka yang dimainkan secara live pun turut disertakan dalam setlist ini. Sebut saja Coffee Break, Silas the Magic Car, dan She Came Home for Christmas.

Dengan embel-embel konser tunggal, sesungguhnya saya berharap dapat menyaksikan video animasi background karya-karya Jonas Bjerre yang memukau itu, akan tetapi sayangnya konsep panggung kali ini “hanya” diisi oleh permainan tata lampu yang memukau. Berbicara mengenai teknis, saya sesungguhnya menikmati permainan pencahayaan yang disajikan, meskipun di beberapa titik sangat berbahaya bagi penderita epilepsi. Saya membayangkan menikmati sinar aurora borealis di situ.

Dari segi tata suara pun tidak kalah memukau, permainan instrumen kuartet yang saya tahu dengan kerapihan di atas panggung terakomodasi dengan baik. Dengan sound clarity yang sangat baik dan memperhatikan detil setiap bebunyian instrumen yang ada. Hats off untuk teknisi panggung, sound engineer, dan lighting operator.

Berbicara tentang album terbaru mereka, dari dua lagu yang sudah dirilis sebagai single terlebih dahulu yaitu Satellites dan Water Slides (Water Slides sudah masuk dalam line up sejak 2014). Saya lebih menyukai Water Slides, dan beruntung pada malam itu turut serta dimainkan dalam setlist. “for such a long time I didn’t know if I’d find you, say stop, made up, lying on the bathroom floor, ah ah ah ah ah..

Tidak terasa sudah satu jam lebih hampir secara berturut-turut lagu-lagu yang ada dalam setlist dimainkan, dan sudah waktunya mereka turun panggung. Di sini saya sangat kagum dengan suara Jonas yang nyaris bernyanyi secara terus menerus dan tanpa ada satupun nada yang meleset, sementara itu kami kaum singalong di floor panggung sudah kehabisan suara entah dari lagu ke berapa.

Setelah break, kembali dengan encore, dan tidak lain riff yang dimainkan adalah riff dari Special. Setelah itu tanpa jeda seperti dalam album And Glass Handed Kites disambung dengan Zookeeper’s Boy. “are you, my lady are you?” ujar jamaah malam itu bernyanyi.

Sudah dua encore terlewat, berarti lagu penutup adalah tidak lain dan tidak bukan Comforting Sounds. Secara khidmat, jamaah Frengers pada malam itu turut serta menemani Jonas bernyanyi pada bait-bait awal. Diiringi dengan kesederhanaan instrumen dan keredupan cahaya panggung, “why don’t we share our solitude?”

Jakarta, Indonesia you’ve been amazing, thank you so much, we’ll see you again really soon!” memasuki paruh akhir Comforting Sounds, dimulailah petualangan eargasm Frengers yang didukung dengan pencahayaan surgawi. Sungguh short tripping yang menyenangkan.

Dengan meninggalkan noise dari atas panggung, berakhirlah pula perjumpaan Frengers dengan sang idola. Masih berharap encore, kami turut berteriak “we want more“, dengan berharap pada loyalitas Frengers Indonesia siapa tahu ada satu lagu ekstra, nyatanya tidak.

Pertunjukan dimulai dengan tepat waktu, dan harus berakhir juga dengan waktu yang relatif cepat. Pukul 9.30 di jam tangan saya, acara telah selesai. Sampai jumpa lagi Mew!

Disclaimer: Saya tidak memiliki video yang di-upload di YouTube di atas, video adalah milik masing-masing uploader.

avatar Tidak diketahui

Summer and Rain 2015: Camp Indie Minus Suasana “Summer”

 

Segala acara yang menggunakan embel-embel “Summer” di Indonesia adalah absurd. Itu adalah opini saya yang tertanam sedari dulu. Sebagaimana yang kita pelajari di IPS tingkat SD, Indonesia adalah negara tropis dengan dua musim, musim kering dan hujan. Tidak ada “Summer” disitu. Baiklah, lupakan. Terlepas dari opini saya tersebut, saya akan menulis tentang pengalaman saya selama 36 jam mengikuti perhelatan kemah musik indie yang diselenggarakan oleh Yamasurih, suatu clothing line terkemuka di Kota Kembang.

Musik dan alam adalah dua hal yang dapat dipadukan menjadi resep yang sempurna secara alami. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa gigs yang mengambil lokasi di alam terbuka jauh dari hiruk pikuk suasana urban. Misalnya saja, Ruru pernah mengadakan RRREC Fest in the Valley tahun lalu, dan ada pula Jazz Gunung yang sudah established bertahun-tahun.  Saya sendiri selalu menggebu-gebu mengikuti gigs dengan konsep serupa bebas meskipun saya ini bukan anak alam, hal ini terinspirasi dari dokumenter Heima rilisan punggawa post-rock Islandia, Sigur Ros yang saya tonton 6 tahun lalu. Lalu akhirnya baru pada Maret ini berkesempatan untuk mendatangi perhelatan Summer and Rain.

Dengan semangat tinggi, beberapa hari sebelum hari-H sibuk dengan mencari teman sana-sini dengan harapan ada teman berangkat bareng dari wilayah Jabodetabek (padahal gak nemu juga). Hingga akhirnya pada H-1 memutuskan berangkat ke Bandung untuk bermalam terlebih dahulu, karena ternyata registrasi ulang untuk berangkat ke lokasi perkemahan itu start pukul 6.00 pagi dan jam 8.00 pagi hari Sabtu sudah harus berangkat menuju TKP. Oh iya, untuk venue sendiri terletak di Rahong Camping Ground, yang mana saya tidak menemukan infonya apapun di Google, yang saya tahu hanya lokasi itu terletak di Pangalengan, Kab. Bandung (ingat Susu Murni Nasional). Untuk harga tiket event ini sendiri, aslinya free entry, tenda, dan transportasi dengan syarat membeli merchandise Summer and Rain berupa long sleeve tees dengan harga Rp280.000 atau membeli jaket parka seharga Rp750.000. Ya, kamu pasti tahu kan saya beli apa?

Pukul 7.15 saya sudah sampai di tempat registrasi, dan tidak lama kemudian saya menaiki bis B, dengan nomor tiket B27. Dari situ dimulalah perjalanan spiritual saya menuju selatan. Sekitar dua jam perjalanan dan kebanyakan dihabiskan dengan tidur, akhirnya sampailah di TKP. Pada awalnya saya mengira tempatnya benar-benar camping ground, dengan tanah rata dan setidaknya ada satu bangunan permanen. Faktanya: saya diturunkan di hutan karet dan pinus di samping kebun teh, dengan kumpulan tenda sudah berdiri tegak di sekeliling alang-alang yang ditebang. Wow.

.. and the show begins

20150321_133805

Karena banyaknya line-up yang tampil, saya tidak akan mengulas satu persatu secara utuh karena kemalasan saya dalam menulis. Saya akan mencoba menceritakan secara keseluruhan ya. Adapun, line-up yang tampil yaitu: Tigapagi, Under the Big Bright Yellow Sun, Spring Summer, Rusa Militan, The Fox and The Thieves, Teman Sebangku, L’alphalpha, Tetangga Pak Gesang, Anjing Balada, Flukeminimix, Deugalih and Folks, Nada Fiksi, Mustache and Beard, Akarsana dan Suara, Mr Sonjaya, Space and Missile, Ansaphone, Littlelute, Serayu Jingga, Pemandangan, Parahyena.

Lewat tengah hari, panggung diisi dengan penampilan band folk, Littlelute yang menghangatkan suasana perbukitan sejuk. Disusul penampilan dari Akarsana dan Suara, serta Serayu Jingga. Tiga nomor awal grup folk di sabtu siang itu sangat menghibur telinga, suara-suara yang keluar dari instrumen yang dimainkan berbaur dengan suara angin dan serangga, nikmat Tuhan mana lagi yang kamu dustakan?

Setelah itu cuaca kian dingin ditandai dengan turunnya kabut di TKP. Setelah berserius-serius ria, Pemandangan  memulai bobodoran dengan menyanyikan lagu-lagu yang liriknya sangat absurd. Di tengah sesi komedi oleh Pemandangan, sayang sekali cuaca tidak mendukung, hujan mulai turun dan penonton mulai membubarkan diri dari depan panggung. Di saat yang sama, saya pun kabur menuju area tenda.

20150322_072604

Tiga jam sudah hujan turun, hal ini membuat tenda yang kami tempati menyerah, dia mulai basah karena rembesan dari tiap sisi tenda. Tanpa gadget karena program penghematan baterai, dan tanpa sinyal yang tidak memadai, dengan kondisi kurang hiburan saya mencoba membuang waktu di tenda basah selama beberapa jam. Dengar-dengar gosip tetangga, tenda kami tergolong masih baik, konon ada tenda yang sudah kebanjiran dan tidak bisa ditempati sama sekali. Masalah tenda ini adalah salah satu masalah yang cukup mengganggu selama perhelatan.

Memasuki gelap, kondisi cuaca jauh membaik dengan dingin yang tidak kunjung berkurang. Dengan pakaian semi basah saya mencoba menyimak kembali ke arah panggung. Dengan kondisi jadwal yang tertinggal sekitar 2 jam dari rundown, Anjing Balada menghibur peserta dengan lagu-lagu Sunda yang vulgar pisan, sebut saja “Baturan Aing Kaluman Kabogoh Aing Jadi Kabogohna”, “Mantan Aing Anjing”, “Kanjut Aing Sagede Bitis” (lebih baik tidak usah diterjemahkan), dan lagu terbaru mereka yang akan menjadi single berikutnya yang berjudul “Sheila on 7”. Stage act dan lawakan Anjing Balada mencuri perhatian penonton malam itu, sang vokalis, Masbay yang hiperaktif membuat onar. Pada lagu kedua, ia melepas kaosnya, pada lagu ke empat, ia menanggalkan celana jeans pendeknya, menyisakan area kelamin yang terbungkus celana dalam putih longgar di tengah cuaca super dingin. “You rock! Kamu batu!” ujarnya.

Space and Missile, adalah band post-rock pertama yang mengisi panggung pada hari itu. Dengan demikian, impian saya untuk menonton band post-rock di alam terbuka selayaknya dokumenter Heima telah terwujud. Di antara line-up yang didominasi oleh penampil folk dan post-rock, ada satu performer yang terasa ganjil yaitu The Fox and The Thieves. Lupakan perbedaan genre itu, nyatanya The Fox and The Thieves menjadi primadona malam itu dengan lagu-lagu paling keras sepanjang hari, distorsi yang meraung-raung dan hentakan drum memanaskan malam. Untuk mendinginkan suasana, Teman Sebangku, duo minimalis hadir menghipnotis penonton dengan kesederhanaan musiknya.

Jika ada hutan, tentunya disitu ada binatang. Setelah sang rubah tampil mengisi panggung, berikutnya adalah giliran gerombolan rusa, RusaMilitan. Gerombolan folk ini tentunya memainkan nomor andalan mereka, “Senandung Senja”, meskipun waktu saat itu sudah menunjukkan jam 10 malam. Flukeminimix, band eksperimental asal Bandung menambah kebhinnekaan line-up yang ada. Pada akhir lagu penutup, kondisi panggung sudah panas dengan bebunyian eksperimental, dan para personil sudah eargasm tingkat langit ke tujuh. Hingga akhirnya, salah satu instrumen floor tom yang dibawa, menjadi korban amukan Flukeminimix.

Saya berterima kasih kepada panitia yang membuat rundown pada malam itu yang begitu menarik. Setiap penampilan band yang loud, selalu disisipi dengan band yang bersifat quiet. Sehingga telinga tidak monoton dengan tempo lagu yang sejenis. Panas panggung Flukeminimix diademkan dengan kehadiran Nada Fiksi, yang mana aslinya adalah kuartet akustik. Tetapi dengan terpaksa tampil dengan format duo karena satu dan lain hal. Pada satu lagu terakhir, berkolaborasi dengan Sarita Teman Sebangku dan Dimas Mr. Sonjaya (kalau tidak salah) membawakan lagu dengan harmonisasi vokal yang apik. Waktu menunjukkan tengah malam, mendengarkan lagu mereka membuat saya mengantuk.

Menonton Tigapagi pukul Satupagi

Menonton Tigapagi pukul Satupagi

Dahulu, jika saya sedang berada di kosan dan tidak bisa tidur. Saya selalu diiringi dengan lagu post-rock apapun dengan volume speaker sedang. Beberapa tahun kemudian, saya berada di tengah pepohonan karet pada tengah malam, dan dengan keadaan mengantuk, diiringi oleh penampilan Ansaphone secara live. Dengan raungan instrumen yang dimainkan, Ansaphone berhasil membangun atmosfir indah di tengah malam. Hingga akhirnya hadirlah line-up penutup pada hari pertama. Tigapagi. Grup akustik ini mengiringi malam dengan nomor-nomor andalan seperti “Tangan Hampa dan Kaki Telanjang”, “Alang-Alang”, dan “The Maslow”, rasanya hanya 5 atau 6 lagu saja yang mereka bawakan, dan cukup terganggu dengan adanya noise gangguan berbunyi jeduk-jeduk sepanjang penampilan. Cukup mengurangi kesyahduan menyaksikan Tigapagi pada pukul 1.00 pagi.

Hari kedua

Tidur dengan tenda semi basah dan hanya berbalut selimut adalah pengalaman yang tidak menyenangkan setiap saya berkemah di manapun. Terbangun jam 7.00 dan kelewatan menikmati matahari terbit dari perbukitan kebun teh di sisi timur camping ground cukup membuat saya menyesal.  Aktivitas di venue pun masih minim hanya terlihat beberapa orang sedang berolahraga dan yoga pagi. Lalu akhirnya saya memutuskan untuk mengambil satu atau dua potret di TKP.

20150322_075016

Salah satu hal yang hanya bisa dilakukan di sini adalah, menikmati segelas susu dan yogurt segar KPBS Pangalengan langsung di Pangalengan. Entah sugesti atau apa, menurut saya jauh lebih nikmat dan segar dibandingkan dengan susu KPBS biasa yang dijual oleh abang-abang penjual susu keliling.

Susu Asli Pangalengan di alam terbuka

Dengan rasa bosan yang ada, akhirnya saya kembali ke tenda dan melewati beberapa jam hingga panggung kembali berbunyi. Sayangnya, yang ada malah saya kembali tertidur, dan melewati dua penampilan pertama pagi itu yaitu Tetangga Pak Gesang dan Spring Summer. Dengan cuaca hari Minggu pagi yang cerah, hari itu seharusnya hari yang sempurna untuk menikmati lantunan lagu-lagu folk pagi hari.

Saya kembali ke hadapan panggung ketika Mr. Sonjaya sudah memainkan lagu pertamanya. Bagi saya pribadi favorit adalah “Sang Filsuf“. Petikan gitar pagi hari itu terasa sangat adem, dengan suasana panggung disinari matahari Minggu pagi, turut dihangatkan oleh suara Dimas sang vokalis yang sangat jantan menurut saya. “… Tuhan bukan pembenci..” begitu potongan lirik dari lagu Sang Filsuf. Mr. Sonjaya disambung dengan penampilan Deugalih and Folks, mereka juga adalah salah satu penampil favorit saya di pagi itu. Band yang satu ini juga telah meluncurkan album terbaru dengan judul “Anak Sungai”, bisa didapatkan di toko CD indie terdekat di kotamu. “Earth” dibawakan dengan memukau pagi itu, intro bunyi suling bergema di lembah pohon karet, dan pada klimaks lagu teriakan Galih sang vokalis mengguncang pagi itu. Disambung dengan penampilan band post-rock kawakan kota Bandung, yaitu tidak salah lagi Under The Big Bright Yellow Sun. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali melihat mereka secara live, dan seperti biasa, penampilan yang selalu berakhir dengan eargasm. Salah satu goal hidup juga berarti sudah tercapai: menonton Under The Big Bright Yellow Sun di bawah matahari yang bersinar kuning dan terang. “Threshold”, menjadi lagu andalan mereka untuk menutup pagi itu.

Di bawah matahari yang bersinar kuning dan terang

Memasuki siang, saya harus bolak-balik tenda untuk menengok kondisi kawan saya Raikhan yang tergeletak malas keluar dan kebelet untuk buang air besar, dan saya juga harus bolak balik mencari saluran listrik yang tersedia demi smartphone saya yang sakaratul maut. Sehingga siang itu saya tidak fokus untuk menyaksikan Parahyena dan Mustache and Beard.  Salah satu yang menurut saya epic adalah, ketika menjelang penampilan akhir Mustache and Beard, membawakan lagu andalan dari John Denver – Take Me Home, Country Roads, mengajak semua untuk berdansa country di depan panggung hingga akhirnya terbentuk crowd dancing massal. Sejauh 24 jam saya mengikuti acara, aksi ini adalah aksi paling ramai sepanjang acara.

Waktu menunjukkan pukul 14.30, kabut mulai turun beberapa jam sebelumnya dan bisa ditebak apa yang terjadi berikutnya: hujan. Padahal hanya satu penampilan terakhir yaitu L’alphalpha. Hasilnya adalah ketika L’alphalpha tampil penonton yang tidak menggunakan perlengkapan hujan terpaksa mengungsi. Begitupun juga saya yang hanya memakai kaos seadanya dan celana training. Terpaksa mengungsi ke booth kosong di belakang panggung. Cukup sedih saya terpaksa melewatkan L’alphalpha yang siang itu membawakan lagu di antaranya adalah “Tarian” dan “Comet’s Tail” yang merupakan favorit saya.

Demikianlah penutup perhelatan di panggung itu. Tetapi urusan saya dengan alam belum selesai. Selepas acara, para peserta diperkenankan untuk packing untuk menunggu bis jemputan pickup point yang terletak di pinggir jalan sehingga harus berjalan dari camp sekitar pukul 16.00. Nyatanya sedari jam 16.00 peserta menunggu bis yang tidak kunjung tiba, dan hujan yang semakin lebat, tanpa ketidakpastian. Sekitar pukul 17.00, 3 bis pertama dari 7 bis tiba. Bisa ditebak, yang terjadi adalah chaos. Para peserta berebutan masuk bis tanpa instruksi panitia, tanpa menyesuaikan dengan bis keberangkatan. Alhasil, tidak semua peserta kebagian bis, termasuk saya, yang harus bersabar menunggu bis berikutnya.

Lagi-lagi hal menyebalkan terjadi, hingga turun gelap, bis tidak kunjung datang. Sekitar tiga jam kami menunggu di bawah hujan dengan raincoat yang sudah mulai rembes, dan backpack dan carrier kami yang mulai basah. Saya membunuh waktu dengan mengobrol di tengah hujan dan dingin dengan kawan saya yang baru berkenalan di lokasi, mas Andhika (yang kebetulan dari Bogor juga), dan mas Ari. Gelap semakin pekat dan sulit untuk melihat pepohonan di lokasi, hingga pukul 18.30, ada panitia yang mengabarkan bahwa telah terjadi miskomunikasi antara awak bus dengan manajemen bus yang disewa panitia terkait dengan masalah hak harian para awak bis. Hal ini mengakibatkan awak bis enggan masuk ke dekat campsite untuk mengantar kami pulang. Panitia mencoba menjelaskan dengan detil di tengah para peserta yang mulai kehabisan kesabaran. Tetapi sayangnya, kesan yang ditangkap oleh peserta yaitu panitia enggan dipersalahkan, dan bukannya mencari solusi, malah melempar masalah ke floor pada saat itu. Dengan negosiasi yang berlanjut akhirnya pukul 19.13 kami bisa naik bis mencari atap untuk berteduh. Saya mengecek perlengkapan, dan benar, ternyata bawaan saya basah kuyup semua. Satu-satunya sisi positif dari insiden itu, yaitu bis yang menjadi sangat lengang karena massa terbanyak sudah diangkut oleh bis sebelumnya. Massa sekitar 60-an orang dibawa dengan 4 buah bis pariwisata besar. Saya bisa tidur selonjoran di bis setelah berganti baju yang agak kering sedikit. Tetapi efek lain yaitu artinya adalah 2,5 jam perjalanan akan saya hadapi dengan dinginnya AC bis, dengan kondisi pakaian setengah basah dan sepatu basah. Akhirnya jam tangan saya  menunjukkan pukul sekitar 21.30, kami tiba di daerah Gudang tempat kami registrasi pada pagi hari sebelumnya. Dengan demikian, saya harus berpisah dengan mas Andhika dan Ari, yang berpisah jalan untuk kembali beraktivitas senin pagi esok. Berakhirlah petualangan saya selama 36 jam bersama Yamasurih.

Penutup

20150322_074724

Event Summer and Rain ini adalah acara yang cukup ambisius, yang menghadirkan puluhan line up dengan konsep camping. Untuk event perdana, tentunya masih banyak kekurangan di sana sini. Hal yang paling pertama saya kritisi mungkin adalah ketersediaan panitia yang ada di lokasi. Menurut rumor yang saya dengar dari hasil obrolan di sana, panitia inti adalah 4 orang, sisanya adalah cabutan, tentunya jika 4 orang ini harus full time melayani 200-an peserta, akan tidak maksimal bukan? Lalu cara komunikasi dan menyampaikan informasi oleh panitia di lokasi sangat mengecewakan. Banyak hal yang tidak jelas, dan antara panitia dan peserta sulit dibedakan. Dan tentunya insiden bis telat akan menjadi coretan merah dari saya. Selain itu juga mengenai fasilitas, terutama fasilitas sanitasi sangat tidak layak. Hanya disediakan satu stall toilet portabel untuk digunakan pria dan wanita bersamaan, dan tentunya hal ini kurang memadai untuk melayani ratusan orang di lokasi. Padahal, menurut brosur rundown yang saya dapat dari mas Andhika, janjinya akan disediakan beberapa toilet stall di lokasi. Demikianlah hal yang harus saya kritisi dari acara ini.

Mengutip obrolan yang saya dengar selama diguyur hujan, “Summer and Rain ini adalah konsepnya concert and camp, kalau concert-nya cukup berhasil, tetapi bagian camp-nya menjadi gagal.” Saya setuju dengan pernyataan tersebut. Dari line up yang dihadirkan, dan harga yang harus dibayar sangat memadai, menghibur, dan masuk akal. Akan tetapi banyak sekali kendala dari segi camp-nya yang memengaruhi kualitas acara ini. Dapat saya simpulkan kalau Summer and Rain adalah acara yang lumayan untuk perhelatan pertama. Tentunya, suasana Summer hanya saya rasakan pada hari Minggu pagi saja, sisanya adalah Rain, sehingga argumen saya di atas tentang nama event yang mengusung “Summer” masih valid.

Akhir kata, saya berterimakasih kepada panitia yang sudah menginisiasi dan menjalankan acara ini. Apresiasi setinggi-tingginya bagi Yamasurih dan panitia. Saya sangat berharap tahun depan event ini akan dilanjutkan dengan evaluasi dan perbaikan yang maksimal untuk kenyamanan semua pihak. Salam indie spirit.

avatar Tidak diketahui

Funkot: Irama Pantura di Jantung Kota Tokyo

Di tengah hiruk pikuk denyut Ibu Kota, anda sebagai kaum urban mungkin pernah mendengar  lagu-lagu terkini baik itu dalam atau luar negeri dari berbagai genre disulap menjadi lagu disco-elektronik berbalut irama dangdut yang apik. Musik ini pun memiliki tingkat penetrasi yang lumayan di masyarakat, mulai dari para supir angkot yang memutar di angkotnya, hingga diputar di portable tape yang dibawa oleh banci ngamen. Masyarakat mengenal musik ini sebagai musik koplo, atau dangdut pantura. Secara historis booming sekna musik ini ditandai dengan populernya grup Barakatak yang menghasilkan hits dengan judul Bergoyang lagi.[1]

Poster dengan khasanah warna influence Pantura yang kental

Menurut peristilahannya genre ini disebut juga dengan dangdut Pantura karena lekatnya image musik ini dengan kehidupan para supir truk tronton lintas Pantai Utara Jawa (Pantura) yang membutuhkan musik bertempo tinggi dalam memacu truknya dengan penuh adrenalin. Skena musik ini pun berkembang di tengah masyarakat pantura dengan lahirnya biduwan-biduwan dan DJ lokal setempat.[2]

Menariknya, saat ini lagu koplo tidak hanya populer di masyarakat Pantura dan Indonesia. Di Jepang pun di Tokyo terdapat skena klub malam lokal yang tengah menggandrungi musik koplo dari Indonesia. Di Tokyo, genre musik ini dikenal sebagai Funkot yang merupakan portmanteau dari Funky dan Kota. Awal mula popularitas Funkot ini diawali pada tahun 2009, TBS Radio Tokyo mengundang grup elektro Leopald yang digawangi oleh DJ Jet Baron. Leopold adalah grup elektro yang memadukan unsur-unsur koplo pada lagu-lagu mereka. Sedangkan, DJ Jet Baron sendiri meruapakan salah satu penggerak sekna Funkot di Tokyo. Ia sendiri pernah berkunjung ke klub-klub di Jakarta dan Bali untuk mempelajari Funkot dari tanah kelahiran Funkot.

DJ Jet Baron, junjungan besar skena Funkot Tokyo

Lalu sejak itu Funkot mulai menambah khasanah skena musik elektro di klub-klub malam Shibuya. Salah satu kafe yang menjadi pelopor skena ini adalah kafe ACID PANDA yang rutin menyelenggarakan MEGA DUGEM sebagai event Funkotterbesar.[3] Di klub-klub Funkot, tidak hanya musiknya yang dibawa dari Pantura, tetapi juga berbagai budaya termasuk makanan Indonesia dan poster-poster vulgar yang lekat dengan citra musik Koplo. Beberapa peristilahan pun diimpor dan digunakan secara aktif dalam skena Funkot. Kata-kata seperti “Deejay”, “Bagus”, “Enak”, “Kencang” bukanlah istilah asing dalam skena Funkot. Bukti-bukti eksistensi Funkot ini dapat anda lihat sendiri di YouTube dengan kata kunci Funkot dan di bandcamp DUGEM RISING DJ TEAM. Selain itu, beberapa website berbahasa Jepang pun turut membahas musik kultur sub-urban ini. [4]

Skena Funkot di Jepang semakin berkembang dengan semakin banyaknya rilisan Funkot dan klub-klub yang mengadakan event khusus Funkot. Ironis, di Indonesia sendiri khususnya bagi kalangan menengah ke atas Funkot atau Koplo masih dianggap sebelah mata. Citra koplo lekat dengan dangdut yang dinyanyikan biduwan yang cenderung menonjolkan sisi sensualitasnya, serta tidak dapat dipungkiri koplo tidak bisa lepas dari citra sebagai musik para supir. Padahal pandangan demikian telah dipatahkan oleh orang-orang Jepang yang menggandrungi Funkot. Akankah suatu saat nanti Funkot dimainkan pada Djakarta Warehouse Project?

[1] Lihat Barakatak – Bergoyang lagi di http://www.youtube.com/watch?v=trqWCBm5WQk

[2] Lihat juga Acha ft. DJ Romli – Gala-gala (Pantura Live Music) di http://www.youtube.com/watch?v=lJMI66waTL8

[3] Dokumenternya dapat dilihat di http://www.youtube.com/watch?v=Jupfmo2UApk

[4] Salah satunya dapat dilihat di http://dic.nicovideo.jp/a/funkot

avatar Tidak diketahui

Tujuh Setengah Bulan.

Juni 30, 2013 – 16 Februari 2014.

Bukan, itu bukan penanda lamanya menjalin hubungan kasih yang digandrungi pasangan bocah suburban kekinian. Itu adalah jangka waktu ketika gue terakhir menulis posting di blog ini, hingga menit ini gue tengah menulis posting baru. Tujuh setengah bulan kira-kira kasarnya blog ini telah kosong. Secara tepat genap sudah 230 hari dilewati tanpa sepatah katapun yang tertuang secara digital di blog ini.

Puluhan tahun silam, Einstein telah menyimpulkan bahwa waktu adalah relatif. Bisa jadi akan sangat lama bagi satu orang, bisa juga akan sangat cepat bagi orang lainnya dengan satuan waktu yang sama. Begitu pula dengan 230 hari atau 7,5 bulan itu. Mungkin bagi pasangan suami isteri, mereka tengah merayakan tradisi tujuh bulanan untuk kehamilan mereka. Mungkin bagi pasien kanker stadium IV, 7,5 bulan adalah vonis sang dokter padanya. Atau mungkin juga bagi sebagian orang lagi 7,5 bulan itu tidak berarti apapun pada mereka.

Bukankah mengagumkan bagaimana salah satu sisi dari 4 dimensi yang bernama ‘waktu’ itu bekerja? Dan ternyata amatlah mengejutkan bila masa 7,5 bulan itu cukup untuk mengubah kehidupan seseorang secara drastis.

Dan gue berharap ‘waktu’ bisa ini kembali hingga ketika gue tengah menulis post pada tanggal 30 Juni 2013 silam. Begitu banyaknya memori yang tidak tertulis.

avatar Tidak diketahui

Best Album 2013 by Me

dimuat di laman rtc.ui.ac.id

Bila kita mengingat kembali, banyak hal dalam dunia music 2013 dimulaihype Harlem Shake pada awal tahun yang dilanjutkan dengan Goyang Cesar yang digandrungi masyarakat Indonesia, dan ditutup dengan indah dengan berkah pensiunnya Justin Bieber dari karirnya. Ya, tahun 2013 telah berlalu dan telah membuahkan banyak sekali rilisan musisi yang sangat memanjakan telinga, amat sulit rasanya menentukan lima album terbaik pada tahun 2013 lalu. Inilah kelima terbaik santapan sehat untuk telinga anda yang telah dirilis selama tahun 2013.

Pandai Besi – Daur Baur


Tidak dapat dipungkiri lagi, Efek Rumah Kaca adalah salah satu band indie papan atas yang malang melintang di jagat musik indie Indonesia. Namun di tahun 2013 ini kita telah beruntung dapat mendengarkan suatu sisi lain dari Efek Rumah Kaca yang bernama: Pandai Besi. Pandai Besi menelurkan album perdananya dari studio Lokananta, suatu studio legendaris yang telah menghasilkan album-album legendaris Indonesia era 50-an. Kesembilan lagu dari album ini merupakan materi yang serupa dengan materi yang telah dirilis oleh Efek Rumah Kaca pada dua album sebelumnya. Namun materi-materi tersebut tidak dirilis begitu saja seperti album repackage, Pandai Besi telah menempa ulang lagu-lagu Efek Rumah Kaca dengan apik. Bila kita mendengar album ini tanpa mengetahui judul lagu-lagunya amatlah sulit untuk mengetahui lagu tersebut kecuali dari liriknya. Sebagian besar album ini mengalami perubahan komposisi album secara total, baik itu dari segi tempo, mood dan timbre lagu. Contoh penempaan paling ekstrim dapat didengar pada track Laki-Laki Pemalu. Bila pada versi aslinya, Laki-Laki Pemalu merupakan suatu track yang bernuansa jazz, kini telah berubah menjadi lagu dengan tempo cepat lengkap dengan riff gitar, bassline dan ketukan drum yang apik. Dengan jumlah musisi yang lebih banyak terlibat pada proyek ini, tentunya komposisi lagunya pun menjadi bertambah rumit. Kerumitan itulah yang membedakan antara Efek Rumah Kaca dengan Pandai Besi pada album ini. Dengan berbagai kejutan yang dihadirkan oleh Pandai Besi, tidaklah mengherankan bila album ini menjadi salah satu album terbaik tahun 2013. Pandai Besi telah menempa album emas sebelumnya menjadi suatu bentuk album emas lainnya.

Sigur Ros – Kveikur

Setelah membawa kita pada hamparan bunyi ambien pada album Valtari dan mulai merakyatnya orang-orang ber-Hoppipolla ria, Sigur Ros memberikan suatu warna keceriaan pada beberapa karyanya yang terakhir, sehingga orang-orang pun terkesima dengan sisi ceria dari Sigur Ros. Semuanya indah hingga akhirnya album Kveikur datang menyerang. Dengan nuansa gelap yang diusung pada Kveikur, Sigur Ros mencoba mengembalikan sisi gelap mereka yang pernah ada pada album pertamanya; Ágætis Byrjun. Kesan gelap  yang pertama bisa didapatkan dari artwork sampul album ini bergambar masker gas berlatar hitam yang tentunya terkesan menyeramkan. Bila kita mendengarkan single pertama dari album ini, yaitu Brennisteinn, langsung terasa bedanya. Dengan raungan bass distorsi yang lebih keras pada, jauh berbeda dengan album Valtari yang sebelumnya yang didominasi dengan bebunyian ambien. Begitupun dengan materi-materi pada album ini yang lain yang bernuansa lebih keras lagi, misalnya pada lagu Kveikur. Tetapi bagi yang masih berharap dengan sisi cerah dari album ini, dapat didengar pada track Rafstraumur. Dengan nostalgia era Sigur Ros lama yang dibawa, album ini layak menjadi salah satu album yang dapat menyehatkan telinga anda di tahun 2013. Selamat datang kembali di kegelapan Sigur Ros.

Banda Neira – Berjalan Lebih Jauh

Proyek duo folk minimalis – Rara Sekar dan Ananda Badudu ini merupakan pendatang baru yang patut diperhitungkan eksistensinya dalam permusikan indie Indonesia. Bila beberapa band/duo pendatang baru dengan vokalis wanita lebih memilih berkecimplung dalam musik twee, Banda Neira memilih untuk mengemas karya-karyanya dalam bentuk yang mereka sebut sebagai nelangsa pop. Keseluruhan lirik dalam album ini dikemas dalam bahasa Indonesia, hal ini merupakan suatu kebanggaan tersendiri, mengingat pada periode yang sama, terjadi suatu fenomena English-isasi (dan Vickynisasi) pada rilisan karya-karya musik Indonesia. Unsur lain kesusastraan Indonesia yang didukung oleh ini dapat dirasakan pada lagu Rindu yang merupakan musikalisasi puisi dari puisi karya Subagio Sastrowardoyo, lalu pada lagu penutup Mawar yang diselipi dengan puisi Sajak Suara karya Wiji Thukul yang menggambarkan peristiwa 1998. Album minimalis ini tentunya dapat menjadi penyegar telinga di tengah hiruk-pikuk berita-berita politik yang menjejali telinga pada tahun 2013 lalu.

Lorde – Pure Heroine


Beri aku 10 pemuda, niscaya akan kuguncangkan dunia.” – Soekarno.

Bila pada tahun 2008 silam seorang bocah Kanada yang baru berusia 15 tahun mengguncang (pemudi) dunia dengan hits One Time-nya. Dan bila pada tahun 2010 pemuda Indonesia menggucang pemudi dalam layar smartphonenya. Maka, tahun 2013 adalah giliran seorang pemudi New Zealand yang menggucang dunia. Ella Yelich O’Connor atau Lorde, usianya baru 16 tahun saat menghasilkan album pertamanya, tetapi materi album ini (dan make-up nya) 10 tahun melebihi usianya. Seluruh lagu dalam album ini ditulis dan dikomposisi oleh Lorde sendiri kecuali lagu Swinging Party. Hal ini merupakan sesuatu yang patut diapresiasi, mengingat materi pada lagu-lagunya cukup berbobot. Pada single Royals misalnya, lagu ini menceritakan tentang kastaisasi antara si kaya dan si miskin dari perspektif remaja, “And we’ll never be royals (royals). / It don’t run in our blood,  / That kind of luxe just ain’t for us. / We crave a different kind of buzz.”. Suatu materi lagu yang mungkin tidak dapat dibayangkan oleh si pemuda Kanada tadi. Lorde adalah pemudi yang menggucang tahun 2013 ini. Dengan kematangan music, pemikiran, dan make up yang jauh melebihi usia aslinya, maka tidaklah heran bila Pure Heroine ini menjadi salah satu album yang paling layak dikonsumsi oleh telinga anda.

L’Alphalpha – Von Stufe Zu Stufe


Pada album pertamanya, L’Alphalpha mengantarkan pendengarnya ke dalam alam dongeng nordik. Maka pada album keduanya, L’Alphalpha mencoba membawa kita ke dalam suatu panggung yang berbeda dari sebelumnya, oleh sebab itu mungkin album ini diberi judul Von Stufe Zu Stufe, sebuah kalimat bahasa Jerman yang memiliki terjemahan “Dari panggung ke panggung”. Dari track pertama yang dimainkan, “All Birds Are Against Gravity” mulai terasa eksplorasi bunyi yang dimainkan oleh L’Alphlpha, track ini masih memiliki nuansa kesinambungan dengan album sebelumnya. Nuansa berbeda mulai ditawarkan pada track Future Days, dimana nuansa lagunya menjadi lebih keras, suatu unsur yang tidak terdapat pada album sebelumnya. Secara keseluruhan, L’Alphlpha mengalami perkembangan dibandingkan album sebelumnya. Beberapa track diwarnai lebih gelap, misalnya pada track Gema, Reverie dan Tarian. Dan satu hal yang paling menonjol adalah penggunan lirik bahasa Indonesia di mana pada album sebelumnya sepenuhnya menggunakan bahasa Inggris. Von Stufe Zu Stufe; dari panggung ke panggung, L’alphalpha telah berhasil memberikan panggung kejutan di penghujung 2013 lalu. Dengan keunikan musiknya karya mereka patut menjadi salah satu album yang paling layak didengarkan pada tahun 2013.

avatar Tidak diketahui

Jadi Dewasa Itu Menyenangkan, Tapi…

Sering kita berkhayal di waktu kecil tentang cita-cita kita mau jadi apa nanti kalau sudah gede. Kalau Susan akan menjawab mau jadi dokter, sebagaimana cita-cita mainstream orang Indonesia kebanyakan. Gue sendiri pernah bercita-cita jadi pilot fighter, tapi ya itu mimpi masa kecil doang sih. Cita-cita menjadi dewasa, itulah yang diangkat sama iklan Tri Indie+ di TV belakangan ini. Menurut gue iklan ini kreatif banget, menyentil bagaimana pandangan ‘menjadi dewasa’ itu di mata anak-anak zaman sekarang.

Jujur, kalimat penutup iklan ini sempet bikin gue merinding. “Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah dijalanin“. Karena faktanya adalah hampir sebulan lalu gue kebetulan bertambah usia, legal age alias cakap hukum 21 tahun. Pastinya banyak banget implikasi menjadi seorang yang berusia 21 tahun ini. Gue sendiri pada saat nerima telepon pertama di malam pas 21 tahun, gue curhat ke temen gue itu kalo gue belum siap menjadi seseorang dengan label ’21 tahun’. Dengan cap kedewasaan dari segi usia yang melekat pada gue sekarang gue merasa belum pantas, jauh dari kata pantas, jiwa masih merasa kalo gue itu masih seorang teenage walaupun gue udah gak teenage lagi sejak dua tahun lalu. Rasa ketidakpantasan gue ini yang akhirnya bikin gue galau sebulan belakangan.

Then it came a turning point…

Bulan Juni ini seolah-olah jadi titik permulaan ‘kedewasaan’ gue, dan Alhamdulillah di bulan ini gue bisa mendapatkan apa yang didapatkan oleh orang dewasa: income. Dengan skill sederhana gue untungnya gue bisa dipercaya oleh beberapa senior dan belakangan bisa dapet beberapa project yang menghasilkan (setelah sekian lama berkutat dengan desain gratis), tanpa meninggalkan kuliah hukum gue (walaupun semester kemarin adalah devastation). Mungkin kalau dinilai dengan materi gak seberapa bagi beberapa orang, tapi jika rezeki gue lancar ke depannya gue bakal bisa bayar kuliah dengan penghasilan yang gue dapet sendiri, itulah yang bikin gue bisa cerita dengan bangga ke orang tua gue kemarin. Dan gue mengutip apa kata bang Choky Ramadhan, “income tidak selamanya berupa kapita, bisa jadi link, relasi dll.” itu pula lah yang gue syukurin belakangan ini.

Kalo weekend sarapan di cafe sambil sibuk laptopan
Pesen kopi secangkir harga 40 ribuan
Minumnya pelan-pelan biar tahan sampai siang demi WiFi gratis

Dan itu terjadi tadi pagi, dan beberapa hari lalu, dan beberapa minggu lalu. Pola kerja lepas ini menuntut gue untuk selalu standby di laptop buat kerjaan dan kopi tentunya menjadi teman setia untuk bekerja (untuk beberapa cangkir kopi masih dibayarin lol). Dan ada satu nilai yang gue belajar banget dari kerja freelance ini: profesionalitas. Menurut gue, gak ada cara lain untuk belajar profesional selain bekerja langsung, ya namanya juga profesional pasti di bayar dong, dan implikasi dari payment yang kita terima adalah profesionalitas, vice versa. Jadi agak ngaco lah kalo organisasi kuliah/sekolah menuntut profesionalisme kerjaan seseorang, toh dasarnya adalah volunter. Bicara profesionalisme juga gue sebenernya baru belajar gara-gara kerjaan doang sih, toh sebelumnya gue juga seorang deadliner, jarang kontak sama orang. Improvement diri gue perlu dilakukan, cara terdekatnya itu ya ngatur waktu supaya gak lewat deadline dan selalu berusaha buat mudah buat dihubungin sih. Dengan keep up reputasi, semoga kedepannya lancar juga, amin.

Jadi orang dewasa itu menyenangkan, tapi susah dijalanin.
Ya, gue beranjak dewasa, dan fakta itu agak sedih sih……

Sekian curhatnya, semua tulisan ini murni buat sharing, tiada maksud lain kok, cheers :)