Latest Entries »

Dauroh Fiqh Nasional II

Ikutilah

Dauroh Fiqh Nasional II

Pelajari ulang materi Daurah Fiqh Nasional I

Waktu Senin 28 Juni – Rabu 7 Juli 2010

Tempat Masjid Al-Madinah, Kulon Kupo, Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah. Lihat Peta

Materi Kitab Minhaj As Salikin karya Asy Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Si’di

Pembicara Al-Ustadz Dzulqarnain bin Muhammad As Sunusi

Kontribusi 250.000 IDR

Fasilitas 1) Kitab Daurah, 2) Block Note & Ballpoint, 3) Sertifikat, 4) Penginapan, 5) Konsumsi

Daftar di http://daurohfiqh.co.cc

Informasi Bayu 085642423182 Suprastyo 08122619849

Catatan Harap bawa baju hangat, lokasi berada di daerah dingin, di bawah Gunung Merapi dan Merbabu

Berikut ini adalah adab-adab dari adab penuntut ‘ilmu…..

“Membersihkan hati dari kedengkian, dendam dan hasad serta jeleknya
keyakinan atau akhlak agar dengan itu dapat menerima ilmu dan
menghafalnya dengan baik.”

“Memiliki niat yang baik dalam tholabul ilmi dengan bertujuan meraih
keridhoan Alloh Ta’ala dan mengamalkanya serta menghidupkan
sunnah, menerangi hatinya dan mengisi batinnya.

“Bersegera untuk mencapai ilmu di waktu muda, jangan terpengaruh
dengan tipuan orang-orang yang mengulur-ngulur (waktunya) karena
setiap waktu yang telah lewat dari umur tidak ada penggantinya.”

Metode berdakwah yang diridloi Allah Ta’ala
Al Ustadz Muhammad Afifuddin

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ ﴿يوسف: ١٠٨﴾

Katakanlah (hai Muhammad): “Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah (petunjuk dan ilmu), maha suci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)

Makna Lafadz
(هذه سبيلي) : – Berkata Ibnu Zaid: “urusanku, sunnahku dan manhajku.”

– Berkata Rabi’ bin Anas: “Dakwahku.” (At-Thabari 7/315)

– Berkata Muqatil: “Agamaku.”

– Berkata Al-Qurthubi: “semua makna di atas adalah satu, yaitu (jalan dakwah yang ditempuh oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang bisa mengantarkan ke surga).” (Tafsir Jami’ li Ahkamil Qur`an 9/179).

(على بصيرة) : – Berkata Ibnu Jarir At-Thabari: “di atas keyakinan dan ilmu.” (At-Thabari 7/315)

– Berkata Qatadah: “di atas petunjuk.” (Ad-Durrul Mantsur 4/93)

– Berkata Abdur Rahman As-Sa’di: “di atas ilmu dan keyakinan dengan tanpa ada keraguan dan pertentangan.” (Tafsir Karimir Rahman fi Tafsiri Kalam 4/93)

– Berkata Abu Bakar Al-Jazairi: “di atas ilmu dan keyakinan terhadap Dzat yang aku (Nabi) berdakwah kepada-Nya serta terhadap hasil dan buah dakwah ini.” (Aisarut Tafaasir 2/653)

(ومن اتبعني) : – Berkata Ibnu Jarir At-Thabari: “orang yang mengikutiku, membenarkan dan beriman kepadaku.” (At-Thabari 7/315)

(سبحان الله) : – Berkata Ibnu Katsir: “yakni aku (Nabi) mensucikan Allah (dari sifat-sifat negatif dan sifat-sifat ketidaksempurnaan), aku agungkan Allah dan aku sucikan Allah dari sekutu-sekutu, persamaan-persamaan, tandingan-tandingan, anak, bapak, istri dan wazir.” (Ibnu Katsir 2/652)

(وما أنا من المشركين) : – Berkata Ibnu Jarir: “dan aku (nabi) berlepas diri dari ahli syirik, aku bukan dari mereka dan merekapun bukan dari golonganku.” (At-Thabari 7/315)

Tafsir Ayat

Berkata Ibnu Katsir dalam tafsirnya 2/652:
“Allah Ta’ala berfirman kepada utusan-Nya (Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) yang diutus kepada manusia dan untuk memerintahkan kepadanya agar mengkabarkan kepada manusia (dan jin) bahwa ini adalah jalannya, yaitu berdakwah kepada kalimat “Laa Ilaha Illallah wahdahu laa syarika lahu” (tiada sesembahan yang hak kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya). Beliau (rasul) berdakwah ke jalan Allah dengan bashirah, keyakinan dan kejelasan, dan semua yang mengikutinya juga berdakwah kepada apa yang didakwahkan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan bashirah, keyakinan dan kejelasan akal serta syari’at.”

Ibnu Jarir dalam kitabnya Syarhul Manazil mengatakan:
“Allah menghendaki dengan pemahamanmu terhadap dalil ini supaya kamu sampai kepada derajat ilmu tertinggi, yaitu bashirah yang merupakan derajat khusus, yang membedakan para shahabat dengan umat-umat yang lainnya. Maka ayat ini menunjukkan bahwa pengikut Rasulullah adalah ahli bashirah (yang punya bashirah) yang berdakwah ke jalan Allah. Adapun orang-orang yang bukan ahli bashirah maka mereka bukan pengikut Rasulullah yang hakiki. Dan kalaupun mau dikatakan pengikut beliau, maka hanya semata-mata penisbatan dan pengakuan semata.” (lihat Fathul Majid hal. 101)

APA HUKUMNYA BERDAKWAH?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Daqaiqut Tafsir 3/288-289 berkata: “Berdakwah ke jalan Allah merupakan kewajiban setiap orang-orang yang mengikuti beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka itu adalah umat beliau yang berdakwah ke jalan Allah seperti dakwah beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam…. Dan kewajiban ini juga merupakan kewajiban seluruh umat. Inilah yang dinamakan oleh para ulama dengan fardhu kifayah yang bila sudah ada satu kelompok yang menegakkannya maka gugurlah kewajiban yang lainnya.” Allah berfirman:

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ ﴿ال عمران: ١٠٤﴾
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan yang mencegah dari yang munkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (Ali Imran: 104)

Seluruh umat beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam menduduki tempatnya dalam dakwah ke jalan Allah. Oleh karena itulah, ijma’ (kesepakatan) mereka merupakan hujjah yang qath’i (pasti) karena mereka tidak akan berkumpul di atas kesesatan. Apabila mereka berselisih pendapat dalam suatu masalah, maka mereka mengembalikan apa yang mereka perselisihkan itu ke Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (As-Sunnah). Dan masing-masing dari umat beliau mendapat kewajiban untuk berdakwah dengan segenap kemampuannya (kalau tak ada yang berdakwah). Maka, apa yang telah dia dakwahkan menjadi gugur (kewajibannya) atas yang lain dan apa yang dia tidak mampu maka dia tidak dituntut untuk mengerjakannya. Dan sesungguhnya dakwah itu sendiri adalah amar ma’ruf dan nahi munkar.

Syaikh Abdul Aziz bin Bazz dalam kitabnya Fadhlu ad-Da’wah ilallah wa Hukmuha hal. 14-16:

“Telah dijelaskan oleh para ulama bahwa dakwah ke jalan Allah adalah fardhu kifayah, kalau ditinjau dari segi wilayah dan daerah yang membutuhkan adanya kegiatan dakwah. Maka dakwah ini hukumnya fardhu kifayah. Tetapi apabila sudah ada salah seorang yang menegakkannya, maka itu sudah cukup dan gugurlah kewajiban dakwah bagi yang lain. Dan apabila di suatu wilayah penduduknya tidak menegakkan dakwah dengan sempurna, maka semua penduduk tersebut berdosa dan semuanya dibebani kewajiban dakwah menurut kadar kemampuannya.

Adapun kalau ditinjau dari segi keseluruhan negeri maka harus ada satu kelompok yang menegakkan dakwah ke jalan Allah di segenap penjuru daerah. Menyampaikan risalah agama Allah dan menjelaskan perintah-perintah Allah dengan metode yang memungkinkan. Karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus para dai dan mengirimkan surat-surat kepada para raja dan pemimpin serta mengajak mereka ke jalan Allah. Kadang-kadang dakwah ini menjadi fardhu ‘ain yaitu apabila kamu berada di suatu tempat yang tak ada padanya orang yang menegakkan dakwah selain kamu. Hal ini sama seperti amar ma’ruf nahi munkar, karena hukumnya bisa fardhu ‘ain dan bisa juga fardhu kifayah. Apabila kamu berada di suatu tempat di mana tidak ada padanya orang yang mampu menegakkan dakwah dan menyampaikan perintah-perintah Allah selain kamu, maka wajib atas kamu untuk menegakkan dakwah ini. Tetapi kalau sudah ada orang yang menegakkan dakwah dan beramar ma’ruf nahi munkar, maka dakwah ini menjadi sunnah atas kamu, dan apabila kamu bersemangat untuk menegakkan dakwah, maka kamu termasuk orang-orang yang berlomba di dalam kebaikan dan ketaatan.”

MANHAJ PARA NABI DAN RASUL DALAM BERDAKWAH

Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali berkata dalam kitabnya Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah hal. 41-44: “Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولاً أَنِ اُعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ فَمِنْهُمْ مَنْ هَدَى اللَّهُ وَمِنْهُمْ مَنْ حَقَّتْ عَلَيْهِ الضَّلاَلَةُ فَسِيرُوا فِي الأَرْضِ فَانْظُرُوا كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُكَذِّبِينَ ﴿النحل: ٣٦﴾
“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu.’ Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya, maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (Rasul-Rasul).” (An-Nahl: 36)

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلاَّ نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنَا فَاعْبُدُونِ ﴿الأنبياء: ٢٥﴾
“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya bahwasanya tidak ada sesembahan yang haq melainkan Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)

يَاأَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعْمَلُوا صَالِحًا إِنِّي بِمَا تَعْمَلُونَ عَلِيمٌ ﴿٥١﴾ وَإِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاتَّقُونِ ﴿المؤمنون: ٥١-٥٢﴾
“Hai para Rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah amal yang shalih. Sesungguhnya Aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. Sesungguhnya (agama tauhid) ini adalah agama kamu semua, agama yang satu dan Aku adalah Rabbmu, maka bertakwalah kepada-Ku.” (Al-Mukminun: 51-52)

Al-Hafiz Ibnu Katsir berkata:
“Agama kalian wahai para Nabi adalah satu, yaitu berdakwah untuk beribadah hanya kepada Allah saja, tiada sekutu bagi-Nya.” (Ibnu Katsir 3/ 257)

Adapun dalam As-Sunnah yang semakna dengan ayat di atas adalah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam:

أَنَا أَوْلَى النَّاسِ بِعِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ فِي الدُّنْيَا وَاْلآخِرَةِ، وَاْلأَنْبِيَاءُ إِخْوَةٌ لِعَلاَّتٍ، أُمَّهَاتُهُمْ شَتَّى وَدِيْنُهُمْ وَاحِدٌ ﴿رواه البخاري (٣٤٤٣) ومسلم ٤/١٨٣٧ وأحمد في المسند ٢/٣١٩، ٤٠٦، ٤٨٣﴾
“Aku adalah manusia yang paling layak dengan Isa bin Maryam di dunia dan akhirat. Dan para Nabi itu saudara ‘allat, ibu mereka berbeda-beda tapi agama mereka satu.” [HR. Bukhari (3443), Muslim 4/1837, dan Ahmad 2/319, 406, 483]

Ini adalah dakwah seluruh para Nabi, khususnya para Ulul ‘Azmi di antara mereka. Dakwah mereka semua berjalan di atas satu manhaj dan mereka memulai dakwahnya dengan satu hal, yaitu tauhid, karena tauhid ini adalah permasalahan terbesar umat manusia dari jaman ke jaman. Dakwah yang dilakukan para Nabi dan Rasul tersebut membuktikan bahwa tauhid-lah satu-satunya jalan yang harus ditempuh dalam mendakwahi manusia ke jalan Allah. Dakwah kepada tauhid juga merupakan sunnatullah yang telah digariskan untuk para Nabi-Nya dan pengikut-pengikut mereka yang sejati, tidak boleh ditukar dan tidak boleh menyimpang daripadanya.”

Dalam tafsir Ibnu Katsir hal. 123-125 dinyatakan:
“Tidak diperbolehkan secara syara’ maupun akal untuk menyimpang dari manhaj ini dan memilih manhaj yang lain, karena beberapa sebab:

(1) Manhaj ini (dakwah kepada tauhid) adalah jalan yang paling lurus yang telah digariskan oleh Allah untuk seluruh para Nabi, dari yang awal sampai yang akhir. Allahlah peletak manhaj ini dan Allahlah yang menciptakan manusia. Dia adalah Dzat yang Maha Tahu akan kemaslahatan rohani dan jiwa mereka.

(2) Para Nabi dan Rasul telah mempraktekkan manhaj ini dengan sungguh-sungguh dan ini menunjukkan suatu bukti nyata bahwa manhaj ini bukan hasil ijtihad. Oleh karena itu, kita tidak menjumpai di dalamnya:
a) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan tasawuf.
b) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan filsafat dan ilmu kalam.
c) seorang Nabi yang memulai dakwahnya dengan politik.

Justru kita dapati bahwa mereka menempuh satu manhaj dan perhatian mereka pun hanya satu, yaitu tauhidullah (mentauhidkan Allah). Inilah yang mereka letakkan di peringkat pertama.

(3) Apabila kembali kepada Al-Qur’an, kita akan temui bahwa semua rasul, aqidahnya adalah Aqidah Tauhid dan dakwahnya dimulai dengan tauhid. Tauhid ini merupakan masalah terpenting dan terbesar dari apa yang mereka bawa. Kita akan jumpai pula bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan kepada Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk mengikuti dan menempuh manhaj para Rasul terdahulu. Apabila kita menelaah perjalanan dakwah Nabi kita, niscaya akan kita jumpai bahwa dakwah beliau dari awal hingga akhir difokuskan kepada masalah tauhid dan memberantas syirik beserta fenomena-fenomena dan sebab-sebab yang menjerumus kepadanya.”

Semua itu adalah gambaran sekilas tentang manhaj para Nabi dan Rasul dalam berdakwah ke jalan Allah yang wajib bagi semua du’at (para da’i) untuk ittiba’ dan menempuh apa yang mereka tempuh. Untuk lebih rincinya, bisa dilihat di buku karya Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali yang berjudul Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah.

BAGAIMANAKAH METODE DAKWAH YANG BENAR ?

Allah Azza wa Jalla berfirman:

اُدْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ﴿النحل: ١٢٥﴾
“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan dengan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (An-Nahl: 125)

Berkenaan dengan ayat ini, Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah berkata: “Allah menyebutkan jenjang-jenjang dakwah dan menjadikannya tiga bagian menurut keadaan mad’u (obyek dakwah), karena sesungguhnya mad’u itu kadang-kadang:

1) Orang yang mencari dan cinta kebenaran, dia akan lebih mementingkan kebenaran daripada yang lainnya kalau dia mengetahuinya. Maka orang seperti ini diseru dengan al-hikmah (ilmu), tidak membutuhkan pengarahan ataupun bantahan.

2) Orang yang sibuk dengan sesuatu yang menyelisihi kebenaran, tapi kalau dia mengetahuinya maka dia akan mengikutinya. Maka orang yang seperti ini membutuhkan mau’izhah (pengarahan) berupa kabar gembira dan ancaman.

3) Orang yang menentang dan berpaling dari kebenaran. Maka orang semacam ini dibantah dengan cara yang baik, kalau-kalau dia mau ruju’ (kembali kepada kebenaran). Tetapi kalau tidak mau maka dibawa kepada algojo/eksekutor (dalam pemerintahan Islam, red) jika memungkinkan.” (Lihat Fathul Majid hal. 101)

Syaikh Abdur Rahman bin Nashir As-Sa’di berkata:
“Termasuk al-hikmah adalah berdakwah dengan ilmu, bukan dengan kebodohan. Juga di antaranya memulai dari perkara yang paling penting (yakni tauhid), dengan masalah yang mudah dicerna dan dipahami, serta dengan cara yang lemah lembut. Tetapi, apabila cara ini tidak berhasil, gunakanlah metode berikutnya yaitu mau’izhah hasanah (pengarahan yang baik). Cara ini disertai dengan targhib (kabar gembira) dan tarhib (ancaman). Tetapi jika mad’unya merasa dirinya benar atau dia penyeru kepada kebatilan, maka bantahlah dia dengan cara yang baik, yaitu dengan cara yang tepat yang membuat dia mau memenuhi panggilan dakwah.” (Taisirul Karimir Rahman fi Tafsiri Kalamil Mannan 4/254-255)

AKHLAK SEORANG DA’I

Akhlak da’i yang baik, dapat kita ketahui dari kriteria yang diberikan oleh Syaikh bin Bazz dalam kitabnya Fadhlud Dakwati ilallah hal. 32-34. Beliau berkata: “Adapun akhlak dan sifat yang harus dipunyai oleh seorang da’i di dalam berdakwah banyak sekali, antara lain:

a. Ikhlas.
Wajib atas seorang da’i untuk ikhlas karena Allah (di dalam berdakwah), tidak riya’, sum’ah (cari popularitas) ataupun pujian orang. Sebagaimana firman Allah yang artinya:

“Katakanlah (hai Muhammad): Inilah jalanku, aku berdakwah ke (jalan) Allah….” (Yusuf: 108)

b. Memiliki ilmu tentang apa yang didakwahkannya.

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ ﴿يوسف: ١٠٨﴾
“Katakanlah (hai Muhammad): “inilah jalanku, aku berdakwah ke (jalan) Allah dengan bashirah….” (Yusuf: 108)

Wajib bagi setiap da’i untuk mengilmui apa yang dia dakwahkan dan melihat dalil-dalilnya, maka apabila telah jelas bagi dia kebenaran dan dia mengetahuinya maka dia dakwahkan, apakah itu berbentuk perbuatan ataupun sesuatu yang dilarang untuk dikerjakan.

c. Ramah dan lemah lembut di dalam berdakwah.

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik….” (An-Nahl: 125)

d. Mengamalkan dan menjadi suri teladan yang baik dari apa yang dia dakwahkan. Tidak seperti orang yang mendakwahkan sesuatu kemudian dia meninggalkannya atau melarang sesuatu kemudian dia malah mengerjakannya. Sebab, ini adalah keadaannya orang-orang yang merugi. Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لاَ تَفْعَلُونَ﴿٢﴾ كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللَّهِ أَنْ تَقُولُوا مَا لاَ تَفْعَلُونَ ﴿الصف: ٢-٣﴾
“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu perbuat.” (Ash-Shaf: 2-3)

Menanggapi tentang akhlak yang harus dimiliki para da’i Syaikh Shalih bin Fauzan di dalam mukaddimah kitab Manhajul Anbiya’ fid Dakwah ilallah mengatakan:

1. Mengilmui apa yang dia dakwahkan, karena orang jahil tidak berhak untuk menjadi da’i. Allah berfirman:

قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ﴿يوسف: ١٠٨﴾
“Katakanlah (hai Muhammad), “inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku berdakwah ke (jalan) Allah dengan bashirah.” (Yusuf: 108)

2. Mengamalkan apa yang dia dakwahkan.
Ini dimaksudkan agar dia menjadi suri teladan yang baik, yang amalannya membenarkan perkataannya, sehingga ahlul batil tidak mempunyai hujjah untuk melawannya. Allah berfirman tentang Nabi Syu’aib bahwa dia berkata kepada kaumnya:

وَمَا أُرِيدُ أَنْ أُخَالِفَكُمْ إِلَى مَا أَنْهَاكُمْ عَنْهُ إِنْ أُرِيدُ إِلاَّ الإِصْلاَحَ مَا اسْتَطَعْتُ…﴿هود: ٨٨﴾

“… Dan aku tidak berkehendak menyalahi kamu (dengan mengerjakan) apa yang aku larang, aku tidak bermaksud kecuali (mendatangkan) perbaikan selama aku masih berkesanggupan ….” (Hud: 88)

3. Ikhlas dalam berdakwah.
Yaitu karena Allah semata, tidak ingin riya, popularitas, pangkat, kepemimpinan, dan tidak pula karena tujuan-tujuan duniawi yang lainnya, karena kalau diselipi dengan maksud-maksud di atas tadi, maka dakwahnya bukan karena Allah melainkan karena kepentingan pribadi.

4. Memulai dari yang terpenting kemudian yang penting (berikutnya).
Yaitu memulai dengan perbaikan aqidah, dengan memerintahkan untuk ikhlas dalam beribadah kepada Allah dan melarang dari perbuatan syirik. Kemudian juga memerintahkan shalat, zakat, amalan-amalan wajib dan melarang dari perkara-perkara haram yang lainnya. Sebab, inilah jalan yang ditempuh oleh para Rasul. Allah berfirman yang artinya:

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): ‘Sembahlah Allah saja dan jauhilah thaghut itu….” (An-Nahl: 36)

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “bahwasanya tidak ada sesembahan yang hak kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya’: 25)

Sejarah perjalanan dakwah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam merupakan contoh yang baik dan manhaj dakwah yang paling lengkap, karena beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tinggal di Mekkah selama 13 tahun untuk menyeru umat manusia kepada tauhid dan melarang mereka dari perbuatan syirik. Ini dilakukan sebelum menyeru kepada shalat (lima waktu), zakat, puasa, dan haji. Dan ini sebelum melarang mereka dari zina, riba, mencuri dan bunuh diri.

5. Bersabar terhadap apa yang menimpa dirinya dalam berdakwah ke jalan Allah.
Seorang da’i harus sabar dalam berdakwah karena perjalanan dakwah tidak selamanya mulus dan tidak semudah yang dibayangkan. Jalan dakwah itu penuh dengan rintangan dan marabahaya. Contoh-contoh da’i yang baik tentu saja adalah para Rasulullah shalawatullah wa salamuhu alaihim. Allah berfirman:

وَلَقَدْ كُذِّبَتْ رُسُلٌ مِنْ قَبْلِكَ فَصَبَرُوا عَلَى مَا كُذِّبُوا وَأُوذُوا حَتَّى أَتَاهُمْ نَصْرُنَا ﴿الأنعام: ٣٤﴾
“Dan sesungguhnya telah didustakan (pula) Rasul-Rasul sebelum kamu, akan tetapi mereka sabar terhadap pendustaan dan penganiayaan (yang dilakukan) terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka….” (Al-An’am: 34)

6. Berbudi pekerti yang luhur dan menggunakan hikmah dalam dakwahnya.
Dengan cara ini, dakwah sering kali lebih mudah diterima. Dan ini sesuai pula dengan apa yang Allah perintahkan kepada Nabi Musa dan Nabi Harun ketika mereka berdakwah kepada Fir’aun, orang yang paling kafir di muka bumi saat itu karena mengaku sebagai Tuhan. Allah berfirman:

فَقُولاَ لَهُ قَوْلاً لَيِّنًا لَعَلَّهُ يَتَذَكَّرُ أَوْ يَخْشَى ﴿طه: ٤٤﴾

“Maka bicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha: 44)

Demikian pula apa yang difirmankan Allah pada Nabi Muhammad, bagaimana beliau harus berdakwah kepada umatnya:

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لاَنْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ﴿ال عمران: ١٥٩﴾

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka, sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (Ali Imran: 159)

7. Bertekad bulat dengan cita-cita yang kuat.
Seorang da’i tidaklah boleh putus asa dalam berdakwah dan tidak pula boleh putus asa dari pertolongan dan bantuan Allah, walaupun ia telah berdakwah dalam jangka waktu yang lama. Cukuplah bagi dia, para Rasul sebagai suri teladannya. Ingatlah bagaimana sikap Nabi Nuh yang selama 950 tahun menyeru kaumnya ke jalan Allah. Ingatlah pula apa yang dilakukan oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika kaumnya dengan kejamnya menganiaya beliau, sampai-sampai beliau didatangi malaikat penjaga gunung yang meminta izin untuk menjatuhkan batu-batuan kepada mereka. Rasulullah pada saat itu hanya menjawab (yang maknanya): “Jangan, (biarlah) aku tangguhkan mereka. Mudah-mudahan Allah mengeluarkan dari anak cucu mereka, orang-orang yang beribadah kepada Allah saja dan tidak menyekutukannya dengan sesuatupun.”

Inilah beberapa akhlak yang harus dimiliki oleh setiap da’i. Para da’i yang tidak memiliki sifat dan akhlak di atas, dakwahnya niscaya akan kandas dan usahanya akan menjadi sia-sia.

FADHILAH (KEUTAMAAN) DAKWAH

1. Allah berfirman:

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلاً مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ ﴿فصلت: ٣٣﴾
“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru ke jalan Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” (Fushshilat: 33)

Setelah membaca ayat ini, Hasan Al-Bashri berkata:
“Orang ini adalah kekasih Allah, wali Allah, dan pilihan Allah. Ia adalah orang yang paling dicintai Allah. Allah kabulkan doanya dan menyeru manusia kepada apa yang (menyebabkan dia) dikabulkan doanya oleh Allah. Dan dia beramal shalih ketika dikabulkan doanya sambil berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri (muslim).” Maka orang ini adalah khalifah Allah.” (At-Thabari 11/109-110)

2. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Ali bin Abi Thalib:

لَأَنْ يَهْدِيَ اللهُ بِكَ رَجُلاً وَاحِدًا خَيْرٌ لَكَ مِنْ حُمُرِ النَّعَمِ ﴿رواه البخاري ٧/٥٨، ومسلم (٢٤٠٦) وأحمد (٥/٣٣٣)﴾
“…Sungguh jika Allah memberi hidayah kepada seorang laki-laki disebabkan (dakwah) kamu, niscaya itu lebih baik bagimu daripada unta merah (harta kekayaan yang termahal).” [HR. Bukhari 7/58, Muslim (2406) dan Imam Ahmad 5/333]

3. Dari Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiallahu ‘anhu beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ ﴿رواه مسلم (١٨٩٣)﴾
“Barangsiapa menunjukkan (orang) kepada kebaikan, maka baginya seperti pahala orang yang melakukannya.” (HR. Muslim 1893)

4. Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ اْلأَجْرِ مِثْلُ أُجُوْرِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْئًا، وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ اْلإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا ﴿رواه مسلم (٢٦٧٤)﴾
“Barangsiapa menyeru kepada huda (petunjuk) maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tidak akan dikurangi dari pahala mereka (pengikutnya) sedikitpun. Dan barangsiapa menyeru kepada kesesatan maka baginya dosa seperti dosa orang yang mengikutinya, tidak dikurangi dari dosa-dosa mereka sedikitpun.” [HR. Muslim (2674)]

TUJUAN DAKWAH SALAFIYYAH
Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz hafizhahullah berkata dalam bukunya Fadhlud Da’wah ilallah hal. 32:

“Tujuan dakwah adalah mengeluarkan manusia dari gelapnya kekufuran dan keragu-raguan kepada cahaya kebenaran yang jelas dan murni. Di samping itu, juga membimbing mereka kepada kebenaran sehingga mereka mengetahuinya dan mengamalkannya. Pada akhirnya, mereka selamat dari api neraka dan kemurkaan Allah. Tujuan dakwah juga mengeluarkan orang kafir dari gelapnya kekufuran kepada cahaya iman dan petunjuk; mengeluarkan orang jahil dari kegelapan kebodohannya kepada cahaya ilmu, dan mengeluarkan ahli maksiat dari kegelapan kemaksiatannya kepada cahaya ketaatan. Inilah seluruh tujuan dakwah, sebagaimana yang difirmankan Allah:

اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ ءَامَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ ﴿البقرة: ٢٥٧﴾
“Allah pelindung orang-orang yang beriman, Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kufur) kepada cahaya (iman)…” (Al-Baqarah: 257)

Wallahu a’lam bis-Shawab

Maraji:

1. Tafsir At-Thabari oleh Ibnu Jarir At-Thabari

2. Tafsir Ibnu Katsir oleh Ibnu Katsir

3. Ad-Durrul Mantsur oleh Imam Suyuthi

4. Jami’ li Ahkamil Qur’an oleh Imam Qurthubi

5. Aisarut Tafasir oleh Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi

6. Taisirul Karimir Rahman oleh Syaikh Abdur Rahman As-Sa’di

7. Daqa’iqut Tafsir oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah

8. Manhajul Anbiya’ fid Da’wah ilallah oleh Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali

9. Fadhlud Da’wah Ilallah oleh Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Bazz.

(Dikutip dari Majalah Salafy/Edisi III/Syawwal/1416/1996, rubrik Tafsir, penulis Al Ustadz Muhammad Afifuddin, judul asli Dakwah ke Jalan Allah, url http://salafy.iwebland.com/baca.php?id=35)

Bismillah, insya’ Allohu ta’alaa mulai dari kesempatan ini saya akan menayangkan artikel-artikel yang berkaitan dengan aqidah islam yang shohihah……

Tauhid, inti Dakwah para Rasul
Ustadz Abu Hamzah (Kitab Tauhid, Fathul Majid)

“Dan sesungguhnya telah Kami utus seorang rasul pada setiap ummat agar mereka menyeru, Beribadahlah kalian semua kepada Allah dan jauhilah thaghut”. (An-Nahl : 36).

“Dan tidaklah Kami utus seorang rasul sebelum kamu (Muhammad), kecuali telah Kami wahyukan kepadanya bahwa sesungguhnya tiada ilah (sesembahan yang benar) kecuali Aku, maka sembahlah Aku.” (Al-Anbiya : 25).

Telah lewat jaman para Rasul, dan telah turun syariat mereka untuk kaum-kaum mereka. Begitu pula telah ditetapkan inti ajaran dan dakwah dari Rasul kita, yaitu Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasalam.

Para rasul adalah orang-orang yang terpilih untuk menyampaikan risalah yang agung ini. Tidaklah Allah Ta’ala mengutus dan memberikan amanah ini kepada seseorang kecuali pasti dan pasti Allah Ta’ala mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Allah ‘Azza wa Jalla juga tidak akan menciptakan manusia begitu saja, ditelantarkan dan dibiarkan hidup tanpa tujuan. Hal ini sebagaimana firman Allah Ta’ala : “Apakah manusia mengira bahwa mereka ditelantarkan dan didiamkan saja “ (Al-Qiyamah : 36). Imam Syafi’i menafsirkan ayat ini, “Tidak dilarang dan tidak diperintah “ (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid Muhammad Abdul Wahhab, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh)

Akan tetapi Allah berfirman : “Dan tidaklah kuciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (Adz-Dzariyat : 56)

Setelah kita dapat mengetahui tujuan Allah menciptakan kita, maka akan jelaslah apa tujuan dakwah para rasul bagi setiap umatnya, karena yang menjadi tujuan Allah pastilah juga menjadi tujuan para utusan-Nya. Tujuan dakwah para rasul tidak lain adalah makna dari ayat yang telah tertulis di awal risalah ini (An-Nahl : 36).

Adapun makna dari ayat tersebut, Syaikh Abdurrahman bin Hasan Alu Syaikh berkata, “Sesungguhnya Dia telah mengutus seorang rasul kepada setiap kelompok manusia dengan kalimat yang tinggi, “Beribadahlah kalian kepada Allah dan jauhilah thaghut”, yang artinya adalah beribadahlah kalian hanya kepada Allah semata dan tinggalkan peribadatan kepada selain-Nya.”

Adapun makna Thaghut, Ibnul Qayyim berkata, “Thaghut adalah suatu keadaan yang melebihi batasan-batasan seorang hamba, seperti diibadahi, diikuti atau ditaaati (dalam hal yang melanggar syariat).”
Maka Ibnul Qayyim membagi macam-macam thaghut pada setiap kaum, yaitu :

1. Orang yag berhukum selain dari hukum Allah dan rasul-Nya (al-Qur’an dan as-Sunnah).

2. Orang yang diibadahi selain Allah dan dia ridlo.

3. Orang yang diikuti, tetapi dia tidak berada di atas bashirah (ilmu) dari Allah dan diapun ridlo.

4. Orang yang ditaati dalam perkara-perkara yang dalam perkara-perkara tersebut hanya Allah-lah yang pantas untuk ditaati dan diapun dalam keadaan ridlo. (Fathul Majid Syarh Kitabut Tauhid)

Sungguh para rasul yang telah diutus sangat memperhatikan ilmu tauhid ini. Dapat dilihat dari sejarah Nabi kita, Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam, beliau selama tigabelas tahun mendakwahkan tauhid dan aqidah di Makkah, baru kemudian ilmu yang lainnya di Madinah.

Perjalanan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam ini menunjukkan betapa besarnya perkara tauhid ini. Dalam hal ini Syaikh Muhammad bin Abdil Wahhab berkata, “Dan perkara yang paling agung, yang Allah perintahkan adalah Tauhid yang artinya mengesakan Allah dalam beribadah, sedangkan larangan yang paling besar adalah Syirik yang artinya beribadah kepada Allah tetapi disertai juga beribadah kepada selain-Nya.” (Syarh Tsalatsatul Ushul Muhammad at-Tamimi, Syaikh Muhammad Shalih Al-Utsaimin).

Allah Ta’ala berfirman dalam kitab-Nya : “Beribadahlah hanya kepada Allah dan jangan kalian menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun.” (An-Nisa : 36)

Ibnul Qayyim pun berkata, “Barangsiapa yang ingin meninggikan bangunannya, maka wajib bagi dia untuk memperkuat pondasinya, karena tingginya bangunan itu ditentukan oleh kekuatan pondasinya. Amal shalih merupakan cermin dari bangunan dan keimananlah (tauhid) sebagai pondasinya.

Tentu seorang yang bijaksana akan memperhatikan secara khusus pada pondasinya dan berusaha untuk memantapkannya, akan tetapi orang yang bodoh akan berusaha untuk meninggikan bangunannya, maka tidak berapa lama bangunannya pasti akan runtuh.” (Sittu Duror min Ushuli Ahlil Atsar : 13, Syaikh Abdul Malik Ahmad Ar-Ramadhany)

Perkataan Ibnul Qayyim ini merupakan perkataan yang sangat indah. Perkataan yang menggambarkan betapa pentingnya tauhid untuk mendapatkan keutamaan di sisi Allah jalla jalaluh. Dengan tauhid maka akan menimbulkan keyakinan di hati seorang hamba dan akan melaksanakan syariat ini dengan sungguh-sungguh, dia tidak akan goyah dari hembusan-hembusan orang disekitarnya yang akan melencengkan dia dari jalan yang lurus. Jika ada suatu hal yang mencocoki syariat, maka akan dipegang erat-erat, jika tidak, maka akan dijauhi sejauh-jauhnya. Itulah hasil yang didapat dari pondasi yang kuat atau tauhid yang mantap.

Akan tetapi sungguh telah banyak manusia yang melalaikannya, bahkan dari orang-orang yang ditokohkan banyak yang mengatakan, “Untuk memajukan umat ini kita harus memperhatikan permasalahan ekonomi, teknologi, dan sosial serta politik agar tidak tertinggal dari peradaban barat yang sangat maju, dan hanya permasalahan inilah yang menjadi titik tumpu bagi kemajuan bangsa-bangsa barat”.

Subhanallah !!! Maka tidak heran jika mereka, yaitu orang-orang yang ditokohkan, berbicara di atas panggung, maka mereka akan mengambil tema “Teknologi Islam”, “Ekonomi Islam”, dan mengenyampingkan permasalahan tauhid.

Jika ada yang mengambil tema “Tauhid yang benar”, “Aqidah yang lurus”, “Keutamaan Tauhid”, maka ini semua dianggap kuno dan ketinggalan jaman, padahal untuk mendapatkan yang mereka idamkan diperlukan kekokohan pondasi yaitu kekuatan tauhid dengan pengamalannya yang sesuai dengan al-Quran dan as-Sunnah, jika tidak, maka, demi Allah, hancurlah bangunan mereka.

Allah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia : “Allah telah menjanjikan bagi orang-orang yang beriman lagi beramal shalih diantara kalian untuk menjadikan mereka pemimpin-pemimpin di bumi ini, sebagaimana Allah telah jadikan pendahulu kalian sebagai pemimpin, dan sungguh Allah akan menetapkan agama yang diridloi-Nya untuk mereka, dan sungguh Allah akan menggantikan rasa takut menjadi rasa aman bagi mereka. Yang demikian itu akan didapatkan manakala kalian menyembah-Ku dan tidak berbuat syirik dengan sesuatu apapun. Dan barangsiapa yang kufur setelah itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (An-Nur : 55). Ayat di atas menjelaskan kepada kita, bahwa akan tercapainya kepemimpinan di muka bumi, ketetapan agama dan ketenangan hidup adalah hanya dengan mengamalkan tauhid, yaitu hanya beribadah kepada-Nya, dan meninggalkan syirik, yaitu tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun dalam beribadah kepada-Nya. Ini adalah janji Allah, yang Allah tidak akan menyelisihi janji-Nya. Akan tetapi jika kita mengingkari hal tersebut, melaksanakan tauhid dan meninggalkan syirik, maka Allah Ta’ala akan memasukkan kita ke dalam golongan orang-orang fasiq.

Dengan semua penjelasan-penjelasan di atas, lalu bagaimanakah kita ? Apa yang akan kita utamakan setelah ini, tauhid atau yang lainnya ? Dengan apakah kita akan mendapatkan kejayaan, dengan tauhid atau dengan yang lain ? Sungguh jawabannya hanya berkisar pada satu titik, yaitu inti dari dakwah para rasul, yaitu mengetahui dan mengamalkan tauhid dan meninggalkan syirik. Semoga Allah memasukkan kita ke dalam golongan muwahhidin (orang-orang yang bertauhid) dan bukan musyrikin, Amiin ya Rabbal ‘Alamin.

Wallahu A”lamu Bishshawab.

Sungguh dunia ini adalah tempatnya manusia menaruh keinginan dan impiannya, bagi yang belum mengetahui hakikat kehidupan dunia….

Namun bagi mereka yang mengetahui hakikat kehidupan dunia yang hina dan serba fana, dunia merupakan kenyataan yang mau tidak mau musti mereka hadapi… Lika likunya, terjalnya perjalanan, maupun suka dan duka yang silih berganti.

Dan kesemuanya memerlukan sebuah persiapan demi menuju tujuan yang hakiki, bagi mereka yang ingin dan sadar akan hal itu…..

Salam Perkenalan

Bismillah

Assalamu’alaykum warohmatullohi wabarokatuh.

Selamat Datang di blog saya….

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!

Design a site like this with WordPress.com
Get started