Dari Stesen KL Sentral ke Stesen Masjid Jamek hanya melewati 1 stesen, yaitu steses pasar seni. Kami turun dari stesen dan mencari pintu masuk menuju Masjid Jamek. Ternyata saat kami berkunjung Masjid Jamek sedang direnovasi sehingga ada pagar seng mengelilingi kompleks Masjid Jamek. Kami melihat ada celah diantara pagar seng, namun disitu ada penjaganya, etnis India tinggi besar dan seram. Mereka mengijinkan yang kerudungan masuk tapi yang ga pake seperti ditahan dan diajak ngobrol. Melihat kondisi seperti itu, 2 rekan saya yang non islam jadi merasa enggan untuk masuk. Saya juga jadi feeling gak enak kalo maksain masuk. Akhirnya kami mengurungkan niat kami masuk ke dalam kompleks Masjid Jamek dan berjalan lagi ke tujuan selanjutnya : Dataran Merdeka.

Dataran merdeka, tapi sayang lagi mendung
Berbekal google maps kami berjalan melewati trotoar2 dengan gedung bernuansa kolonial. Suasananya mirip seperti Jakarta kalau menurut saya, ya sedikit lebih besih lah, kalo keruwetan dan kemacetan lalu lintas rasanya mirip dengan di Bandung. Saya sempat melihat di perempatan seperti jadi ‘terminal’ dengan bus bus usang berebut nyari penumpang, mirip seperti angkot yang lagi ngetem di Bandung.
Setelah berjalan kurang lebih 10 menit akhirnya kami sampai juga ke Dataran Merdeka yang sejatinya adalah alun-alun, mirip lapangan upacara bagi saya karena ada tiang bendera nya. Yang menarik adalah gedung-gedung di sekelilingnya. Gedung berarsitektur kolonial warna merah dan putih terlihat sangat cantik. Setelah puas foto2 dan mau apalagi disana selain foto-foto kami menuju ke KL City Gallery yang dekat dari situ. Tiket masuk KL City Gallery 5 RM yang bisa ditukar menjadi voucher untuk beli souvenir atau makanan/minuman. Isi KL City Gallery menceritakan tentang sejaranh pembangunan KL, yang menarik ada pertunjukan diorama rencana pembangunan KL. Pertunjukannya di dalam ruangan tertutup, saat mulai lampu dimatikan lalu ada pertunjukan lampu2 yang menyorot. Keren abis. Selesai nonton, kami keluar menuju souvenir shop untuk beli tempelan magnet dengan voucher yang didapat saat beli tiket masuk tadi. Keluar dari Gallery tidak lupa kami berfoto di huruf KL raksasa warna merah.

Iconic Statue
Beres dari situ sekitar jam 5 kami berjalan menuju shelter bus Go KL pasar seni untuk naik bus jalur ungu menuju KL Tower. Sempat nyasar karena kami mengira2 dengan GPS dimana letak shelter nya. Akhirnya saat kami nunggu geje di pinggir jalan kami lihat ada bus Go KL lewat, dan kami lari ngikutin bus nya berharap bisa naik di shelter selanjutnya. Ngos-ngosan ngejar bus gak sia-sia karena kami berhasil naik ke dalam bus. Bus pun berjalan lalu di shelter berikutnya berhenti di belakang antrean bus bus lainnya. Lalu semua orang turun, kami masih bingung kok pendek amat trayeknya. Kami pun turun dan melihat papan nama di Shelter nya bertuliskan PASAR SENI. Ternyata oh ternyata kami naik dari shelter sebelum pasar seni, dan pasar seni ibarat tujuan akhir. Jadi kami jalan menuju bus terdepan, masuk ke dalamnya dan baru bisa duduk lega.
Kami turun di shelter Menara Olympia karena dari hasil googling shelter tersebut yang paling dekat ke KL tower. Dari situ kami menyusuri jalan yang agak menanjak hingga ke gerbang masuk. Dari situ masih lumayan jauh menuju tower, namun sudah disediakan shuttle gratis untuk menuju dasar tower. Sampai di dasar tower kami disambut oleh usher yang dengan ramah menawarkan tiket2 yang ada. Saat melihat tiket untuk ke observation deck kami shocked, karena harganya 2 kali lipat dengan yang kami lihat di internet. Kami mengira harga tiket hingga open deck sekitar 50 RM, namun ternyata paket open deck + conservatory nya 105 RM. Disitu kami mulai galau apakah kami akan rela mengikhlaskan ringgit yang kami bawa mengingat jumlahnya tidak terlalu banyak. Setelah menimbang matang-matang, dengan asas mumpung ke sini dan ga tau kapan lagi kesini akhirnya kami memutuskan untuk beli tiket open deck. Setelah mendapatkan tiket, kami diminta mengisi semacam form gitu. Intinya pihak KL tower tidak bertanggung jawab atas segala tindakan membahayakan diri sendiri yang dilakukan saat ada di open deck. Mungkin biar ga disalahin kalau ada wisatawan yang tiba-tiba loncat dan bunuh diri. Kami antre untuk naik lift ke lantai open deck berada. Ngantri nya lumayan lama, sampai ada salah satu guide bilang gini ‘where you go?open deck? Oh that will be so long, wait for a life’ Singkat cerita kami tiba di open deck. Kesan pertama uanginnya kuenceng banget. Ya wajar open deck memang di desain seperti koridor terbuka dengan pengaman pagar kaca di sekelilingnya. Dengan prinsip ogah rugi yang kami junjung tinggi, kami rela nunggu sekitar 2 jam untuk mendapat view sunset dan menara Petronas. E-me-jing. Puas liatnya, dipuas-puasin sih sebenernya. Setelah langit betul-betul gelap, dan sudah puas jeprat jepret, kami turun ke observation deck. Suasana di observation deck sangat ramai saat itu. Ruangan yang seperti koridor melingkar dengan dinding luar kaca menyuguhkan pemandangan yang kurang lebih sama dengan open deck. Bedanya hanya terhalang kaca. Kalau ditanya worthed enggak?hmm relatif. Buat kami kesannya adalah : bagus sih, kemahalan tapinya. Cukup sekali aja ngerasainnya.

Twin Tower dari KL Tower
Selesai dengan KL tower kami masih melanjutkan itinerary kami ke tujuan akhir : China town. Kami naik Go KL jalur ungu tapi dari sebrang jalan tempat kami turun. Agak lama nunggu go KL lewat, dan saat kami masuk suasana bus sudah penuh. Untung badan kami termasuk mungil jadi bisa nyelip diantara pada orang-orang India yang tinggi gede. Kami turun di shelter kotaraya dari situ kami berjalan ke Petaling street, kawasan pecinan di KL. Suasana Petaling street seperti layaknya chinatown, dengan lampion warna merah yang menggantung di langit-langitnya dan kios-kios yang menjual berbagai macam. Kami berniat mencari souvenir disini, dan membeli gantungan kunci dan magnet sebagai suvenir untuk rekan-rekan kantor. Selesai dari Petaling Street kami jalan ke stesen LRT Pasar Seni kembali ke KL Sentral dan beristirahat di Hotel.












