“WAHAI SUAMI, SEMOGA LURUS NIATMU DAN BAGIMU IJAB QOBUL ITU” November 19, 2006
Posted by ikarifki in "what a wonderful world".1 comment so far
Tanggapan kolom muslimah – Majalah SAKSI no.1 th.IX
Subhanalloh. Adalah menarik bahwa tema poligami makin sering diperbincangkan pada beberapa tahun terakhir ini. Tak hanya di kalangan para aktivis dakwah, bahkan masyarakat umumpun mulai terbiasa dengan hadirnya tokoh-tokoh yang “bangga” dengan pilihan mereka berpoligami. Sebut saja contohnya Puspo wardoyo yang bisnis ayam bakarnya makin populer berkat “kebanggaannya” itu. Ditambah lagi dengan makin maraknya berbagai meia termasuk TV yang mengangkat tema tersebut dalam berbagai programnya. Sebut saja sebuah sinetron yang tampaknya mencoba menggambarkan poligami yang “baik”, bukan yang “jahat” sebagaimana kesan yang selama ini tertanam di masyarakat. Bahkan dengan tokohnya yang berjilbab. boleh jadi masyarakat akan menganggapnya sebagai tampilan poligami yang bukan saja “baik”, bahkan mungkin “islami”.(???) Terlepas dari pro-kontra di kalangan masyarakat umum, atau pembahasan yang lebih “syar’i” di kalangan aktivis dakwah, saya tertarik untuk membahasnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda. Namun sebelumnya, sepakat berat dengan tulisan ukhti SP Indriyaningsih pada kolom muslimah majalah SAKSI edisi sebelumnya. Bahwa apapun yang terjadi, hukum Alloh tidak akan pernah berubah. Bahwa poligami diperbolehkan, mukmin sejati akan tetap mengimaninya sebagai bagian dari kebenaran kalimatulloh di dalam Al-Qur’an. Persoalannya adalah, kami ini (para isteri) selamanya “masih” jadi manusia biasa, yang dalam kondisi tertentu belum mampu mengelola akal, hati dan rasa dengan sempurna sesuai dengan kehendakNya. Kalau tidak dikemas dengan iman dan ikhlas, mungkin berat rasanya untuk bisa “sami’na wa atho’na” dalam hal yang satu ini. Maklum saja, dahulu sebagai gadis kecil banyak diantara kami yang tumbuh besar bersama bayangan pangeran impian dari negeri dongeng, dimana biasanya tiap cerita berakhir happy ending diiringi kalimat yang berbunyi “…then they’ll be happily ever after”. (…kemudian mereka akan hidup bahagia selama-lamanya) Ditambah lagi dengan berbagai istilah yang cukup membuai angan yang sudah biasa kita dengar. Semisal soulmate atau yang tak jauh beda artinya adalah istilah Jawa yang menyebut pasangan (suami/isteri) dengan garwo (sigarane nyowo), yang berarti belahan jiwa, separuh nyawa, atau pasangan hidup. Maka tak heran bila muncul pula istilah cinta sehidup semati (apa ini berarti bila salah seorang mati maka pasangannya harus ikut mati?) na’udzubillahi min dzalik. Ini jelas tidak syar’i sama sekali. Semua istilah itu tentunya ditujukan hanya bagi sepasang manusia dan tidak memungkinkan munculnya pihak lain sesudahnya untuk ikut nimbrung di dalamnya. Hmm…romantis, memang! Tapi akankah kita terjebak pada romantisme semu itu, sementara kita sudah sampai pada pemahaman bahwa Alloh-lah zat tertinggi yang seharusnya menjadi yang paling dicintai oleh setiap manusia, termasuk para isteri dan tak terkecuali para suami?
Maka seharusnya sedikitpun kita tak boleh berharap, bahkan harus hindarkan pasangan kita dari mencintai kita secara berlebihan, apalagi lebih dari cintanya kepada Alloh, rasul dan jihad fi sabilillah. Bukankah ini berarti pula bahwa semestinya para isteri bisa berbahagia (atau minimal bernafas lega) saat para suami memutuskan berpoligami? Karena itu bisa berarti sebuah bukti bahwa mereka tidak menjadikan isteri sebagai cintanya yang tertinggi, dan isteri bukanlah segala-galanya baginya? dan kerelaan sang isteri untuk berbagi bisa pula menjadi bukti, bahwa suami bukanlah yang paling mereka cintai, karena Alloh-lah yang paling berhak miliki cinta tertinggi.
Realita menunjukkan bahwa berbeda dari laki-laki yang lebih mengedepankan logika, wanita umumnya lebih didominasi oleh perasaannya. Maka lumrah saat seorang teman saya nyeletuk: “Sedih rasanya membayangkan suami berpikir menikah lagi saat kehidupan (baca:ekonomi) semakin mapan. Kita para isteri telah dengan setia mendampingi mereka disaat “susah”, eh saat senang mereka ingin menikmatinya dengan yang lain, tega ya…!”
Sepertinya sudah saatnya wanita belajar untuk lebih meredam perasaan yang mendayu dan mengharu biru semacam itu. Dan tidak membiarkannya tumbuh berkembang menguasai akal pikiran dan hatinya. Karena bagaimanapun, ayat Alloh secara tersirat telah meminta wanita untuk bersiap diri (dan juga hati) saat dihadapkan pada kondisi yang diperbolehkan meski tidak dianjurkan tersebut.
Saya pernah coba “menganalisa” dari sudut pandang lelaki dan memposisikan diri sebagai mereka. Terlepas dari segala konsekuensi yang pasti akan mengiringi keputusan itu, sepertinya berbagi rasa cinta pada saat yang sama dengan lebih dari satu wanita (baca:isteri) bukanlah sesuatu yang luar biasa buat mereka. Itu bukanlah suatu masalah dan bisa-bisa saja untuk dilakoni. Dan dalam sebuah diskusi ringan dengan suami, itupun diiyakan olehnya. Ternyata uji coba empati itu cukup berhasil membuat saya sedikit lebih bisa memahami lelaki dengan segala karakteristiknya.
So, wake up ladies and face it! Bahwa tidak mungkin paksakan sudut pandang wanita yang penuh perasaan dan romantisme itu pada para lelaki yang secara fitrahnya memang sudah diciptakan berbeda. Mereka lebih berbuat berdasar realita yang ada dan berpijak pada rasio atau logika. Kalaupun ada lelaki yang romantis dan penuh perasaan, yakinlah bahwa itu tak banyak jumlahnya di dunia ini, wahai wanita!
Satu hal yang ingin saya bagi adalah pernyataan suami saya pada akhir diskusi ringan tadi, saat saya bertanya-tanya apakah niat pada saat menikah yang kedua, ketiga atau keempat kali bisa seagung, sesuci dan setulus niatsaat menikah yang pertama kali? (apalagi bila isteri pertama masih ada). Ternyata suami hanya menjawab singkat, “Itu yang aku tidak yakin dan aku kuatirkan.”
Maka menurut saya yang perlu digarisbawahi adalah, walau apapun rasa yang berkecamuk di dalam dada, isteri sholihah semestinya siap saat seruan ibadah dan peluang pahala itu tiba menyapanya. Namun yang jauh lebih penting adalah para suami sholih semestinya juga berusaha menata hati, luruskan niat dan jujur pada diri sendiri saat memilih berpoligami dan berniat menikah lagi. Itu bila mereka ingin pernikahannya dihadapan Alloh tercatat sebagai suatu amalan ibadah yang baik dan benar. Bila Alloh saja ridho, tentunya para istri sholihah perindu surga akan mengikhlaskan suaminya mengucap ijab qobul berikutnya, pada ukhti muslimah selain dirinya. Di sisi Allohlah segalanya bermuara. Hanya Allohlah yang berhak menilai dan memberi sanksi. Wallohu a’lam bishowab.
Abi’s Kebab Hmm… Beda! November 19, 2006
Posted by ikarifki in "what a wonderful world".1 comment so far
Bukan sekedar slogan kosong… bila saya belum mencoba sendiri dan membandingkan dengan banyak kebab yang belakangan ini menjamur di Indonesia. Bukan juga karena adik saya sendiri (Yudha Kurniawan Akbar) pemilik dari usaha ini, tapi Abi’s Kebab memang beda!. Jika ditinjau dari segi rasa Insya Alloh, bagi saya memang pas komposisi antara Daging, Topping, Saos dan Mayonaisenya. Namun jika anda belum merasakannya sendiri, mungkin anda tidak akan percaya. Ooops… Hati-hati ketagihan….!
Jika ingin tahu info tentang Abi’s Kebab Klik pada Gambar atau Klik http://abiskebab.wordpress.com
