Hafalan-Hafalan yang Dibukukan


Di suatu social media, saya pernah mendengar ada yang menanyakan, mengapa mukjizat nabi Muhammad hanya berupa sebuah ‘buku’?

Kembali ke konteks masing-masing nabi/rasul, mukjizat itu sesuai dengan zamannya. Misal di zaman nabi Musa, tongkatnya bisa berubah menjadi ular, yaitu sihir dilawan dengan (mukjizat) sihir juga.

Nah, apakah benar al-qur’an adalah sebuah buku?

Saat ini di hadapan kita, alquran memang tampak seperti sebuah lembaran-lembaran kertas yang dijilid. Namun jika dilihat dari sejarahnya Al Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril bukan sebagai buku; melainkan berupa hafalan demi hafalan. Jibril menyebutkan iqra’ agar Rasulullah mengikuti pengucapan tersebut hingga hafal – bukan menyuruh membaca ya. Al Quran baru dibukukan pada masa khalifah (kepala negara) Utsman bin Affan.

Yang Namanya hafalan, supaya tidak lekang dari ingatan, maka harus diulang-ulang terus perapalannya. Apakah Al Quran itu banyak sekali untuk dihafal? Tergantung bagaimana sudut pandangnya. Al Quran sendiri terdiri dari 30 juz, 114 surat, dan 6.236 ayat. Bisa jadi banyak dan sulit untuk dihafal.

Ada sebuah buku yang membedah kosakata-kosakata apa saja dalam Al Quran dan berapa kali perulangannya. Judulnya “ebook 80 kosakata Al Qur’an”. Kata “Allah” disebut 2.697 kali, “Rabb” 839 kali, “Ilah” 147 kali, “Fabiayyi ala Irobbikuma Tukazziban” 31 kali, dan seterusnya. Dari sini, terlihat bahwa tidak sebanyak yang kita bayangkan pada mulanya. Justru, perulangan-perulangan tersebut menjadi sebab yang masuk akal mengapa Al Quran ‘lebih mudah’ dihafal. Bisa dibuktikan dari banyaknya orang-orang yang telah menghafal mulai dari 1 juz saja bahkan banyak juga yang hafal hingga 30 juz.

Mukjizat lain dari Al Quran adalah ‘buku’ ini anti penjiplakan. Di masa percetakan kertas saja, mudah sekali mengubah isi sebuah buku. Apalagi di era internet seperti sekarang ini. Era di mana hoax sangat mudah diproduksi dan disebar ke mana-mana.

Makanya saya tidak ragu untuk membeli Al Quran baru. Karena saya percaya bahwa tidak ada yang mengubah isinya. Pun demikian Ketika membuka buku Al Quran yang lain di tempat berbeda. Baik Al Quran fisik di masjid-masjid yang saya kunjungi, maupun Al Quran digital di internet. In shaa Allah, tidak ada perubahan apapun di dalamnya.

Atas fakta-fakta tersebut saya menjadi lebih punya alasan dan semakin termotivasi untuk ‘membuka‘ Al Quran setiap hari. Baik lewat muraja’ah, membaca cetakan Saudi, maupun terjemahan Bahasa Indonesia. Hal ini mendorong saya membuat jadwal khusus dalam berinteraksi dengan Al Quran:

  • Ketika menyetir jarak jauh: Juz 30
  • Weekend: baca fisik dari belakang (start dari An Naas)
  • Kamis: surat yasin untuk almarhum bapak
  • Jumat: surat al kahfi
  • Sabtu/minggu: ayat-ayat pendek yang populer, seperti awal al Baqarah, ayat kursi, akhir al Baqarah, ayat puasa (al Baqarah 183), ayat zakat (at taubah 60), awal al kahfi (1-10), dlsb.

Kebencanaan Kita


Ada banyak bencana alam di sekitar kita, namun sejauh ingatan saya, hanyalah tsunami aceh tahun 2004 dan likuifaksi palu tahun 2018. Ini saya belum riset lebih lanjut lho.

Bencana tsunami 2004 melahirkan BNPB, yang keberadaannya secara legal ditopang oleh UU No.24 tahun 2007. Untuk diketahui, ada negara-negara seperti jepang yang “menyebarkan” unit-unit bencana di dalam kementerian-kementeriannya instead of menyatukannya jadi badan nasional.

Oiya, ada juga gempa yogya 2006. Lombok 2018. Gempa bumi Palu-Donggala yang disertai likuifaksi itu juga tahun 2018. Tidak semuanya diberitakan secara masif di media nasional, tidak pula semuanya tertinggal dalam ingatan kita. Satu yang pasti: bencana-bencana tersebut nyata sejarahnya.

Mitigasi bencana mestinya mempengaruhi tata kota kita. Kota Palu itu terlampau ramai kehidupan ekonominya untuk sebuah kota yang ternyata bisa diserang oleh tiga bencana: gempa, tsunami, dan likuifaksi.

Institusi Terkait Bencana

Yang paling diingat warga masyarakat sesuai surveinya adalah BMKG. Wewenang ke-geofisika-an masih di BMKG. Sesuai amanat UU. Itulah yang menjadikan BMKG ‘besar’ seperti sekarang. Miris memang karena soal kebencanaan kita masih terpecah-pecah, ada BNPB, BMKG, Badan Geologi, BRIN, dll

Ada PVMBG yang memantau aktifitas lempeng dan gunung berapi aktif. Tupoksinya PVMBG juga meliputi rilisan peringatan dini, menyampaikan bagaimana memitigasi bencana dan pastinya mengedukasi masyarakat lewt sosialisasi.

Sebagai lembaga penelitian, PVMBG sendiri selalu menemukan Kawasan Rawan Bencana (KRB) yang baru. Jadi memang masih banyak bencana yang belum terpetakan oleh kita manusia Indonesia.

Kalau di sekitar tempat tinggal saya, yang paling populer adalah patahan/sesar lembang. Yang sayangnya, semakin ke timur malah banyak perumahan yang dibangun berdekatan dengan sesar lembang tersebut. Tentu mereka ini adalah potensi korban jiwa yang kuantitasnya sangat besar.

Ring of fire adalah julukan kepada negeri kita. Mengingat jalur patahan/sesar mulai dari sumatra, pulau jawa, hingga kepulauan maluku. Kalimatan memang paling aman dari sesar/patahan tersebut (meskipun masih ada sedikit di kalimatan timur, kalteng, dan kaltara). Situasi ini dimanfaatkan oleh yang berkuasa untuk memvalidasi pendirian IKN di titiknya sekarang ini.

Mitigasi Tingkat Keluarga

Di tingkat individu maupun kepala keluarga yang bisa dilakukan adalah menyiapkan tas siaga bencana. yang misal ada bencana “kecil” sekalipun, seperti kebakaran, setidak-tidaknya kita bisa tingggal membawa saja tas siaga bencana tersebut untuk keluar dari rumah

Isi tas siaga bencana antara lain dokumen berharga, kain serbaguna seperti sarung, kotak P3K (manatau terjadi luka luar karena tertimpa benda berat), makanan tahan lama seperti sarden, mie instan, kornet, dll (pahit-pahitnya jika lama baru bisa ditemukan oleh tim SAR), serta air minum yang paling penting (karena manusia tidak bisa bertahan lebih dari 3 hari tanpa air minum).

Kita juga bisa melakukan mitigasi pada dokumen berharga dengan melakukan scanning, lalu file-nya kita upload ke cloud seperti google drive atau Microsoft one drive, dan membagikan aksesnya dengan keluarga kita.

Edukasi kepada keluarga ini penting banget menggunakan jargon-jargon yang simpel. Ada jargon 20-20-20 untuk daerah pesisir yang rawan gempa-tsunami yang artinya gempa 20 detik berpotensi mendatangkan tsunami, sehingga kita hanya punya 20 menit untuk mengevakuasi diri dan keluarga ke ketinggian minimal 20 meter dari permukaan laut.

Infrastruktur Tahan Gempa

Konsep-konsep seperti bangunan tahan gempa sudah ada namun diaplikasikan di tingkat mikro, misal penggunaan material seperti kayu dan sejenisnya yang menyerap getaran-getaran sehngga lebih “tahan” terhadap gempa.

Nenek moyang kita bahkan sudah mendesain rumah untuk mengatasi bencana juga, misalnya rumah panggung yang sengaja dibuat untuk mengantisipasi banjir.

Kaca itu bagus untuk penerangan dengan sumber luar, namun kaca yang pecah karena gempa itu sangat mungkin menjadikan kita sebagai korban luka-luka, lho.

Namun yang lebih krusial dan berdampak masif adalah infrastruktur-infrastruktur seperti jembatan, jalan raya, dan transportation hub seperti pelabuhan, bandara, dan lain sebagainya. Yang jika ikut rusak ketika bencana terjadi, juga menyulitkan distribusi kepada korban bencana. Di samping faktor hilangnya ekonomi masyarakat, tentu saja.

Playtime Bagi Orang Dewasa


Do you play in your daily life? What says “playtime” to you?

Playtime di usia dewasa seperti sekarang ini bagi saya adalah ketika bepergian sendiri. Bukan atas peran sebagai suami atau bapak, yaitu pencari nafkah atau dalam rangka memenuhi kebutuhan keluarga. Kalau PJKA, yaitu Pulang Jumat Kembali Ahad, selama berpekan-pekan atau bahkan berbulan-bulan,  tentu bukan playtime.

Playtime itu bagi saya seperti misalnya saya pergi sendirian ke ambon selama sepekan. Memang itu urusan pekerjaan, tetapi karena one time menjadikan itu sebagai playtime. Meskipun ada report dan deliverable juga, tetapi itu sangat-sangat menyenangkan dan memberikan jeda sejenak atas peran-peran yang segambreng.

Atau misalnya, mudik ke kampung halaman selama 2 pekan. Mengenang masa-masa kecil, mengingat rasa menyesal karena kurang main bareng ayah, nostalgia dengan teman-teman sekolah, dll jadilah itu playtime.

Playtime yang sangat short tapi tidak releasing stress dalam jumlah besar adalah bermain hape ketika anak-anak sudah tidur.

Olahraga mandiri juga playtime in short term, mengingat anak-anak masih di pendidikan dasar sehingga saya sadar diri untuk tidak keluar rumah berlama-lama untuk bersenang-senang sendirian, hehehe.

Kalau sedang mengunjungi mertua, anak-anak bisa dititipkan di mertua. Dan itu enak saja untuk saya. Karena kami visit ke mertua hanya 1-2 kali dalam setahun.

Bukan seperti para ortu yang menitipkan anak-anak hampir setiap hari di rumah kakek-nenek (yang ternyata menyulitkan para lansia tersebut untuk ngapa-ngapain atau ke mana-mana, hehehe).

However, kerja itu stressful. Ada yg release stressnya lewat merokok. Btw, laki-laki yang tidak merokok dan tetap sholat lima waktu itu double minorities, lho.

Sehingga, pesan saya untuk para istri yang suaminya double minorities tersebut adalah, berikan waktu dan ruang bagi suamimu untuk menggunakan playtime-nya sendiri. Coz mereka tetap laki-laki yang tidak bicara, tetapi masuk ke guanya masing-masing.

Memikirkan Tidur


Dulu saya gak memikirkan tidur. Sekarang saya jadi lebih concern soal tidur. Waktu kecil, saking tidak memikirkan tidur, saya gak tidur siang di hari minggu dan ibu saya sering menegur saya soal itu. Saat itu, saya masih sekolah ya di hari sabtu – berbeda dengan anak-anak sekolah sekarang ini.

Photo by Andrea Piacquadio on Pexels.com

Dulu, tidur itu secapek/sengantuknya saja. Tidak saya pikirkan, apalagi saya rencanakan. Dan hal tersebut masih berlangsung hingga sekarang. Kalau belum ngantuk/capek, ya belum tidur. Bahkan ketika sudah jam 12 malam.

Seiring berjalannya waktu -dan umur-, tentunya saya makin tahu lebih banyak, termasuk tidur dan keutamaannya.

Poin pertama, ada organ-organ tubuh yang bekerja optimal di waktu-waktu tidur.

Empedu

Saat pukul 23.00-01.00, waktunya kandung empedu bekerja, dan tubuh beristirahat. Dalam pengobatan Tiongkok, periode waktu ini adalah saat energi yin memudar dan energi yang mulai tumbuh. Energi Yang membantu kamu tetap aktif di siang hari dan disimpan saat tidur.

Hati

Ketika pukul 01.00-03.00 waktunya hati beraktivitas. Selama waktu ini, racun dilepaskan dari tubuh dan darah baru yang segar dibuat. Menurut pengobatan Tiongkok, bila terbangun selama waktu ini, kamu mungkin memiliki terlalu banyak energi Yang atau masalah dengan hati atau jalur detoksifikasi kamu.

https://www.medcom.id/gaya/fitness-health/4KZ1YBqk-organ-tubuh-pun-punya-jam-kerja-yuk-cari-tahu

Kedua, durasi tidur malam itu penting dan ini tidak boleh digabung dengan tidur siang, ya.

On the contrary, Rapid Eye Movement (REM) itu makin tinggi seiring bertambahnya umur. Sehingga, kurangnya tidur malam pada usia paruh baya menjadi alasan yang bisa diterima oleh akal. Padahal tidak baik juga. Sehingga kesimpulan sementaranya adalah peningkatan REM harus dilawan.

Situasi getting worse karena sudah lama saya tidak WFO. Di mana durasi kerja bertambah panjang, yaitu sejak subuh hingga malam hari pasca semua anggota rumah tidur. Pada situasi rumah yang sepi, suasana semakin kondusif untuk bekerja.

Sisi positifnya adalah, sore hari ketika anak-anak sudah di rumah pasca pulang sekolah, malah terasa lebih nyaman untuk meninggalkan meja kerja lalu bersilaturahmi dengan rekan-rekan, yang seringnya di kafe seberang rumah.

Situasi-situasi yang saya sebutkan di atas justru “melanggengkan” kurangnya tidur malam pada diri saya. Ini sudah jadi bom waktu. Minimal, dampaknya pada tekanan darah saya yang cenderung lebih tinggi daripada orang-orang kebanyakan. Pada satu waktu, saya sampai diminumkan obat penurun tekanan darah. Alhamdulillah belum sampai rutin sekali sehari. Cukup sekali itu saja. Mudah-mudahan tidak pernah perlu lagi.

Jadi, apa yang harus dilakukan? Jawabannya sebenarnya sudah ketemu: tidurlah lebih awal, supaya kalau terbangun di dini hari, masih ada waktu untuk melengkapi durasi tidur jika dirasa masih kurang.

Jika saya bangun pagi bersamaan dengan anak-anak, maka tidak ada waktu tambahan untuk tidur; karena harus bantu mereka menyiapkan diri bersiap-siap ke sekolah – sekaligus mengantar mereka.

Tidak bermaksud ngeles atau menghindari, tetapi begitulah situasi tidur malam saya saat ini yang membuat saya terus-menerus Memikirkan Tidur.

Kehidupan Saya Nanti Setelah Memasuki Masa Pensiun


How do you want to retire?

Waktu saya pensiun nanti, berarti anak-anak sudah bekerja. Mungkin sudah menikah. Mungkin juga sudah punya anak – berarti saya sudah menjadi kakek juga.

Namun sepertinya, si bungsu masih akan kuliah. Jadi saya masih ada pengeluaran berupa pendidikan anak.

Tentang apa yang akan saya kerjakan di masa tersebut, mungkin jualan ritel ya. Seperti yang pernah saya kerjakan di masa sekolah saya. Sambil ngonten blog juga – kalau blogging itu masih ada ya. Jadi, jaga warung sambil menulis.

Kalau saya punya cukup uang, mungkin saya akan hidup dari imbal hasilnya surat hutang.

Soal ibadah, akan lebih punya persiapan untuk shalat 5 waktu di masjid. Selama ini masalahnya di persiapan itu. Sekarang ini maksimal 3 kali aja sehari jamaah di masjid.

Supaya tetap beraktivitas fisik, palingan saya bersih-bersih rumah tinggal dan bangunan kost.

Cara saya berlibur mungkin masih sama: pergi ke suatu kota, tinggal selama 1-2 pekan di sana.

Mestinya anak-anak sudah bisa menyetir dengan saya sebagai penumpang. Mudah-mudahan pun saya juga masih bisa menyetir di usia-usia segitu – kalau tidak ada anak yang menyetirkan.

Apa lagi ya? Nanti kalau ada ide baru untuk ditambahkan, saya tambahkan deh.

Demikian bayangan saya tentang cara hidup saya di masa pensiun nanti.

Pengalaman Hampir Depresi


Rupanya benar bahwa depresi itu sesuatu yang kompleks.

Saya kutip dari buku Merawat Luka Batin oleh dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ

Biopsikososial inilah penyebab depresi. Depresi diakibatkan interaksi kompleks antara genetik, hormon, infeksi, makanan, anatomi dan fungsional otak, usia, gender (faktor biologis), coping mechanism, trauma masa kecil, pola asuh orangtua, skema berpikir, kemampuan interpersonal, stres dan stresor, kemaknaan dalam hidup (faktor psikologi), support system, lingkungan yang tidak mendukung, serta pengabaian (faktor sosial).

Merawat Luka Batin, halaman 18

Saya tidak ingin mengungkap terlalu dalam tentang kasus saya yang hampir depresi tersebut, tetapi saya coba uraikan penyebab dan penyelesaiannya yah.

Penyebab

Pola asuh oleh orang tua

Dampak yang saya rasakan, adalah takut melakukan sesuatu tanpa ridho orang tua. Bapak-ibu yang diam saja, tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk menanggapi, bagi saya adalah sebuah penolakan.

Anggapan ini yang keliru. Padahal andai saja saya melakukan konfirmasi, apa benar itu yang mereka maksudkan, maka saya tidak akan salah paham.

Support system.

Time will heal, katanya kan. Saya setuju ya. Bahwa seiring menjauhnya waktu dari peristiwa tersebut, waktu juga lah yang memberikan saya kesempatan untuk melihat peristiwa tersebut lebih objektif.

Jadi, waktu berjalan terus dan kita tidak harus buru-buru. Pelan-pelan saja juga tidak apa-apa.

Simpulan

Saya berdamai dengan membangun mindset baru bahwa tidak ada yang sempurna di dunia ini. Ya orangtua kita, keluarga kita, pernikahan kita, hubungan dengan orang lain, dll. Jadi, kesalahan adalah sesuatu yang biasa.

Saya menanam mindset juga bahwasanya mereka berniat baik dan pun terjadi kesalahan, siapapun itu yang menyebabkan, juga tidak sengaja melakukannya.

Sebagai catatan untuk saya pribadi, adalah bahwa komunikasi adalah SANGAT penting. As simple as, saya melakukan (.. isi pekerjaan..) dan kamu sebagai (.. peran..) perlu mengetahui hal tersebut.

Dan demikian pula sebaliknya. Saya adalah (.. isi peran..) bagi kamu, sehingga kamu perlu mengetahui hal yang akan saya kerjakan tersebut. Supaya kita bisa saling berkoordinasi/menyelaraskan mengenai hal tersebut.

Terakhir, bentuk komunikasi yang paling harus dan sering saya lakukan adalah konfirmasi/verifikasi. Gunanya untuk memastikan kembali apa yang orang lain mau dari saya. Bukan sekedar asumsi saya belaka.

Konstantin dan Konsili Nicea


Gw semalam cari tahu ulang soal Konstantin yg katanya menjadikan Kristen sebagai agama negara. Padahal 11 kaisar sebelum dia tuh mempersekusi Kristen terus. Terutama adalah penghukuman kpd Paulus pendirinya.

Katanya sih, alasan politik aja biar diterima sama warga. Rupanya doesn’t make sense karena populasi Kristen paling 5%-15% pd masa itu. Lagipula Romawi bukan negara demokrasi di mana every vote is matter.

Satu-satunya alasan paling bisa diterima ya karna dia monotheis, yg didapat sejak kecil dari ibunya without publicly declaration. Jd dia sendiri menentang polytheism Romawi secara tersembunyi.

Ibarat walisongo yg melakukan asimilasi islam dan budaya Jawa, Konstantin rupanya jg melakukan yg sama: mengkombinasikan ajaran monotheism tsb dgn simbol-simbol visual dan fisikal ala paganisme Yunani.

Kelihatannya, Konstantin ingin negara yg bersatu karena ortodoksi/kekaffahan/radikalitas agama, bukan bersatu atas ketakutan krn ancaman/teror/hukuman fisik.

Caranya adalah dengan menyeragamkan cabang-cabang gereja-gereja yg ada utk berfilosofi dan mempraktikkan ritual Kristen yg sama.

No wonder dia sebagai kepala negara menyelenggarakan Konsili Nicea, yg hasilnya adalah menjadikan yesus sebagai salah satu Tuhan. Whatever the result is, bagi dia negara bersatu di bawah naungan satu agama yg benar-benar sama.

Gw jd paham knp consili nicea itu ada. jd pihak yg berseberangan pendapat memang ada. dan keduanya karena dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran yunani. mereka meributkan soal ilahiah-nya yesus.

Padahal kalo kita di muslim, nyebutnya kenabian. which is, mereka emang manusia cuma dalam sifat yg sangat baik. tp tidak sama dgn sifat Tuhan (asmaul husna). cmiiw, kalo di islam, kenabian = fathonah, tabligh, amanah, siddiq.

Kambing dan Hujan


kambing-dan-hujan-new

Yang kedua adalah Kambing dan Hujan yang dikarang oleh Makhfud Ikhwan. Dasar ceritanya adalah perbedaan-perbedaan dalam praktik beragama antara Nadhlatul Ulama (NU) dengan Muhammadiyah. Makhfud mengilustrasikannya dengan baik sekali via keberadaan dua masjid di sebuah kampung; satu Masjid Utara, satunya adalah Masjid Selatan. Penulis mengekspresikan plot cerita lewat sejarah pemikiran-pemikiran, maupun upaya-upaya dari tokoh-tokoh –bisa disebut persaingan antar masjid-di antara kedua masjid tersebut. Cerita ini menarik sekali karena disentuh dengan pendekatan seorang pemuda dan seorang pemudi yang baru saja wisuda dan ingin menikah. Si pemuda biasa berjamaah di masjid utara, sedangkan si perempuan biasa berinteraksi dengan masjid selatan.

Bagaimana dengan karya Makhfud Ikhwan? Saya mengagumi karya ini karena direkayasa sedemikian rupa. Dalam istilah saya, fiksi ini ditulis dengan pendekatan non-fiksi. Tentu ini sok tahu-nya saya. Tapi maksud saya begini: pengumpulan fakta dan data dulu—kisah cinta tertolak antara insan NU dengan insan Muhammadiyah pastinya sangat menarik. Diikuti dengan penyusunan plot demi plot cerita. Penetapan nama dan pembentukan karakter tokoh-tokoh dalam cerita. Analog dengan pengembangan aplikasi digital, setiap perpindahan server dan environment yang baru, penulis selalu melakukan penyesuaian ulang, apakah setiap kata, kalimat, dan paragraph koheren menyusun cerita yang menarik.

Kambing dan Hujan itu, pemberian judul yang menarik. Tapi analoginya kurang masuk bagi saya. Kambing memang menghindari hujan, namun hujan tidak menghindari kambing, ‘kan? Padahal kedua ayah yang diceritakan memang saling menghindari satu sama lain.

Omong-omong, karya Makhfud Ikhwan ini menjuarai sayembara novel dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di tahun 2014.

Menjadi Guru Digital Zaman Now


Guru zaman sekarang pastinya tidak mau ketinggalan dari siswa di kelas dalam hal teknologi, khususnya teknologi digital.

tugas guru di era digital – Kumpulan Artikel Dan Berita Pendidikan  Indonesia Berbasis Tehnologi Digital

Menjadi tuntutan juga gak, sih? Ini pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak caturwulan kedua 2020, masih berlanjut di tahun 2021 ini. Bahkan, proses vaksinasi sendiri bahkan direncanakan baru tuntas tahun 2023.

Tuntutannya adalah semester genap tahun 2021 ini masih dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau disebut pula BDR (Belajar Dari Rumah). Omong-omong, kebanyakan istilah sebenarnya enggak membuat lebih pintar juga ya, padahal.

Dalam imajinasi saya, berikut adalah sedikit di antara tuntutan tersebut.

Guru perlu membuat konten pelajaran menjadi lebih menarik; misalnya dengan membuat video konten pelajaran yang keren dan bisa diputar di kelas.

Guru juga sebaiknya membuat jurnal. Terutama dalam bentuk blog. Sekarang ‘kan sudah banyak sekali platform blog. Ada WordPress, Medium, Blogspot, dan lain sebagainya. Fungsi utama membuat catatan tidak digantikan sama sekali. Hanya mediumnya yang berpindah ke blog digital masing-masing. Apapun bisa dijurnalkan. Di antaranya topik semisal perkembangan dinamika kelas, implementasi kurikulum, perkembangan siswa secara personal, misalnya.

Dengan rutin mencatat seperti ini, guru kemudian dapat melakukan penelusuran (tracking) terhadap perkembangan siswa, baik secara perorangan maupun perkembangan kelas secara umum.

Kolaborasi merupakan salah satu kunci perubahan pendidikan. Milenial, sebagai “anak kandung” teknologi internet suka sekali berkolaborasi. Google menyediakan banyak sekali platform untuk berkolaborasi, semacam Google Docs, Google Sheet, Google Slides. Membuat soal ujian pun bisa dilakukan dengan Google Form.

Tidak heran, dalam suatu kelas di sebuah perguruan tinggi, beberapa orang mahasiswa mencatat penjelasan lisan dari dosen ke dalam sebuah Google Docs saja. Dengan saling menambahkan konten penjelasan dari satu sama lain, maka konten akan semakin lengkap dan komprehensif. Nah, guru digital zaman now ini tidak boleh kaku dan ketinggalan dari konsep kolaborasi ini.

Seni mendidik adalah seni memanusiakan manusia. Teknologi digital bukan menghindarkan apalagi mematikan seni tersebut. Prinsipnya tetap sama. Hanya mediumnya saja yang berbeda dan berubah menjadi medium-medium digital. Misalnya kalau generasi terdahulu belajar menggunakan papan tulis atau Overhead Projector (OHP), kini mediumnya sudah bergeser ke Ms PowerPoint atau Google Slides (yang bisa digunakan untuk berkolaborasi secara real-time).

Kalau generasi sebelumnya menggunakan kertas, sekarang kita memakai perangkat digital seperti Ms Word atau bahkan sudah kita mencatat bersama via Google Docs yang memungkinkan kolaborasi. Jadi, setiap generasi siswa sebenarnya sudah siap dengan teknologi di zamannya masing-masing. Termasuk dengan teknologi digital atau teknologi internet. Tinggal kita saja bagaimana memampukan diri sendiri dan guru-guru lainnya dalam mendayagunakan para guru agar dapat mengoptimalkan teknologi-teknologi tersebut untuk pembelajaran.

Kolaborasi wajib didahului dan didasari oleh rasa saling percaya satu sama lain. Tanpa kepercayaan tersebut, akan berat bagi kita untuk bersikap transparan dan saling membantu satu sama lain. Kolaborasi sebagai suatu gagasan baru yang inovatif, bisa terjungkal dalam perjalanannya, tatkala ketidakpercayaan menjadi batu sandungan. Bila kita terus mempertahankan ketidak-percayaan ini, niscaya inovasi hanya akan disambut dengan apati dan dianggap sebagai beban administrasi.

Guru adalah orang tua bagi siswa selama berada di sekolah. Menjalani peran sebagai orangtua saja sudah tidak mudah. Apalagi di era digital yang banyak mengubah pola-pola interaksi di antara kita, memang semakin tidak mudah. Namun demikian, kita tidak boleh menyerah. Harus tetap berusaha dan mencoba. Terutama dalam mengoptimalkan media-media digital untuk pembelajaran kita.

Kita, baik murid maupun guru, yang bertempat tinggal di kota-kota besar di Indonesia, sepatutnya bersyukur karena kita sudah memiliki akses internet yang memadai. Bahkan, akses-akses internet tersebut semakin cepat koneksinya dan semakin terjangkau harganya. Perlu kita ingat bahwa pada tahun 2018 saja, ada 9 juta anak di 10.000 sekolah di Indonesia belum memiliki akses internet untuk menikmati konten-konten video belajar yang berkualitas.

Pekerjaan administratif di kelas itu sangat menyita waktu. Namun bagaimanapun juga itu bagian dari pekerjaan seorang guru.

Sekarang ini, sudah ada aplikasi-aplikasi pembelajaran digital yang memindahkan beban pekerjaan administratif para guru. Karena pada prinsipnya, pekerjaan administratif tersebut dialihdayakan (outsource) ke aplikasi digital. Sehingga lebih cepat selesai. Bayangkan, berapa banyak waktu yang dapat dihemat dan dioptimalkan kembali demi meningkatkan produktivitas para guru. Rileks-nya para guru bukan berarti produktivitasnya menurun. Justru hal tersebut harus dilihat sebagai pemicu (trigger) untuk lebih produktif. Sehingga guru dapat fokus pada kreativitas, medium dan konten pembelajaran, serta para siswa mereka itu sendiri.

Variasi pengajaran ini kemudian berdampak pula pada persiapan pengajaran itu sendiri. Beberapa persiapan pengajaran tersebut, antara lain adalah menuliskan atau mendokumentasikan konten-konten pelajaran yang akan disampaikan. Kedua adalah melatih diri secara lisan dalam menyampaikan atau mempresentasikan suatu konten pelajaran. Karena medium yang digunakan para guru tidak lagi berupa papan tulis semata, tetapi juga via proyeksi dan internet. Nah, mengkombinasikan penjelasan lisan dengan medium-medium tersebut tetap perlu latihan.

Setidaknya, ada tiga tipe pembelajaran oleh manusia, baik pada anak-anak maupun manusia dewasa. Yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), maupun kinestetik (gerakan). Pada dasarnya, teknologi digital lebih bisa diberdayakan untuk memenuhi ketiga jenis pembelajar tersebut. Gambar-gambar, berupa foto atau kartun, penggunaan warna, atau gambar bergerak (video, animasi) ditargetkan untuk pembelajar berbasis visual. Penggunaan rekaman suara-suara, speaker, serta pengelolaan aspek akustik ruangan bisa dioptimalkan untuk segmen pembelajar auditori. Sedangkan untuk pembelajar kinestetik bisa diberikan hasil kombinasi antara visual dan auditori tersebut, berikut dengan gerakan-gerakan tubuh yang tidak statis hanya di meja dan kursi siswa saja.

Pencapaian Tahun 2020.


Tidak sampai satu jam. Hanya beberapa puluh menit saja kita akan meninggalkan tahun 2020.

2020: Scam alert over how we write the year in France

Tahun yang berat. Ada yang omzet menurun, sampai harus memecat karyawan. Ada yang dipecat, hingga belum dapat pekerjaan lagi.

Yang sekolah, terpaksa sekolah di rumah — seperti Anak Dua. Ibunya, terpaksa harus menjadi ibu guru juga. Double ya. Ibu adalah madrasah anak. Sekarang ditambah sebagai ibu guru sekolah juga di rumah. Dengan bantuan dan bimbingan para guru asli dari sekolah.

Saya sendiri, sejak 8 bulan lalu di rumah saja. Benar-benar di rumah saja. Bedanya tipis banget antara workday ma weekend. Workday ya di rumah aja. Weekend gak bisa ke mana-mana. Bedanya tipis banget, ‘kan? Hehehe.

Apapun itu, disyukuri saja.

Masih bisa hidup. Karena ada tenaga kesehatan (nakes) yang meninggal dunia pasca berjihad melawan covid-19.

Masih bisa bekerja. Ada yang menanggung malu dan terluka harga dirinya karena tidak bekerja dan tidak berpenghasilan. Sementara ada tanggungan.

Masih bisa di rumah saja. Karena ada yang harus keluar rumah untuk menunaikan kewajiban-kewajibannya. Tidak bisa tidak.

Masih bisa berbelanja. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan sendiri. Tetapi juga menjadi pahlawan bagi orang lain yang berdagang produk atau jasa. Alias, masih bisa berperan sebagai jalan rezeki orang lain.

Masih bisa menahan diri. Sudah banyak yang tidak bisa bersabar. Di seseakun instagram, rupanya isi story orang-orang yang di-follow memotret dan mendeskripsikan suasana di Bali. IG story rasa Bali, katanya.

Masih bisa bantuin keluarga. Belanja, masak, cuci piring, cuci pakaian,dst. Kecuali menyapu atau mengepel nyaris enggak pernah si gw. Kebiasaan terima beres atau hanya berkontribusi sedikit, jadinya grateful juga sudah membantu setting and configuration of housekeeping.

Tiba-tiba jadi ingat tiga anak kantor yang resign. Ada yang pindah ke Jakarta. Ada yang bosan kerja — karena berbulan-bulan WFH di rumah banget (btw sebelumnya dia anak kost). Satu lagi resign karena mau menikah (padahal dia kesayangan si bos).

Paragraf terakhir barusan cuma keluar begitu aja dari pikiran. Rasanya gak penting-penting amat untuk kalian para pembaca. Hehehe. Maafkan ya.

Yang diharapkan dari 2021

Berlebihan kalo disebut “menginginkan”. Cukup berharap saja, deh. Dapat syukur, enggak dapat ya gapapa. Masih lebih banyak hal perlu disyukuri.

Mengapa??? Karena situasi ekonomi masih akan begini-begini saja.

Hanya bisa berharap supaya bisa ada mainan baru yang lebih challenging. Makanya kemarin bikin proposal terus hubung-hubungi orang. Kali ada yang mau dengar ocehan-ocehan gw tentang masa lalu dan masa depan. Syukur alhamdulillah bila ada 1 dari 10 tembakan yang jadi.

Sebab, rasa bosan pasti masih menjadi nomor satu. Belum tentu kantor boleh didatangi sama kami-kami ini. Di sanalah saya rasa pentingnya punya mainan baru.