Guru zaman sekarang pastinya tidak mau ketinggalan dari siswa di kelas dalam hal teknologi, khususnya teknologi digital.

Menjadi tuntutan juga gak, sih? Ini pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung sejak caturwulan kedua 2020, masih berlanjut di tahun 2021 ini. Bahkan, proses vaksinasi sendiri bahkan direncanakan baru tuntas tahun 2023.
Tuntutannya adalah semester genap tahun 2021 ini masih dilakukan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau disebut pula BDR (Belajar Dari Rumah). Omong-omong, kebanyakan istilah sebenarnya enggak membuat lebih pintar juga ya, padahal.
Dalam imajinasi saya, berikut adalah sedikit di antara tuntutan tersebut.
Guru perlu membuat konten pelajaran menjadi lebih menarik; misalnya dengan membuat video konten pelajaran yang keren dan bisa diputar di kelas.
Guru juga sebaiknya membuat jurnal. Terutama dalam bentuk blog. Sekarang ‘kan sudah banyak sekali platform blog. Ada WordPress, Medium, Blogspot, dan lain sebagainya. Fungsi utama membuat catatan tidak digantikan sama sekali. Hanya mediumnya yang berpindah ke blog digital masing-masing. Apapun bisa dijurnalkan. Di antaranya topik semisal perkembangan dinamika kelas, implementasi kurikulum, perkembangan siswa secara personal, misalnya.
Dengan rutin mencatat seperti ini, guru kemudian dapat melakukan penelusuran (tracking) terhadap perkembangan siswa, baik secara perorangan maupun perkembangan kelas secara umum.
Kolaborasi merupakan salah satu kunci perubahan pendidikan. Milenial, sebagai “anak kandung” teknologi internet suka sekali berkolaborasi. Google menyediakan banyak sekali platform untuk berkolaborasi, semacam Google Docs, Google Sheet, Google Slides. Membuat soal ujian pun bisa dilakukan dengan Google Form.
Tidak heran, dalam suatu kelas di sebuah perguruan tinggi, beberapa orang mahasiswa mencatat penjelasan lisan dari dosen ke dalam sebuah Google Docs saja. Dengan saling menambahkan konten penjelasan dari satu sama lain, maka konten akan semakin lengkap dan komprehensif. Nah, guru digital zaman now ini tidak boleh kaku dan ketinggalan dari konsep kolaborasi ini.
Seni mendidik adalah seni memanusiakan manusia. Teknologi digital bukan menghindarkan apalagi mematikan seni tersebut. Prinsipnya tetap sama. Hanya mediumnya saja yang berbeda dan berubah menjadi medium-medium digital. Misalnya kalau generasi terdahulu belajar menggunakan papan tulis atau Overhead Projector (OHP), kini mediumnya sudah bergeser ke Ms PowerPoint atau Google Slides (yang bisa digunakan untuk berkolaborasi secara real-time).
Kalau generasi sebelumnya menggunakan kertas, sekarang kita memakai perangkat digital seperti Ms Word atau bahkan sudah kita mencatat bersama via Google Docs yang memungkinkan kolaborasi. Jadi, setiap generasi siswa sebenarnya sudah siap dengan teknologi di zamannya masing-masing. Termasuk dengan teknologi digital atau teknologi internet. Tinggal kita saja bagaimana memampukan diri sendiri dan guru-guru lainnya dalam mendayagunakan para guru agar dapat mengoptimalkan teknologi-teknologi tersebut untuk pembelajaran.
Kolaborasi wajib didahului dan didasari oleh rasa saling percaya satu sama lain. Tanpa kepercayaan tersebut, akan berat bagi kita untuk bersikap transparan dan saling membantu satu sama lain. Kolaborasi sebagai suatu gagasan baru yang inovatif, bisa terjungkal dalam perjalanannya, tatkala ketidakpercayaan menjadi batu sandungan. Bila kita terus mempertahankan ketidak-percayaan ini, niscaya inovasi hanya akan disambut dengan apati dan dianggap sebagai beban administrasi.
Guru adalah orang tua bagi siswa selama berada di sekolah. Menjalani peran sebagai orangtua saja sudah tidak mudah. Apalagi di era digital yang banyak mengubah pola-pola interaksi di antara kita, memang semakin tidak mudah. Namun demikian, kita tidak boleh menyerah. Harus tetap berusaha dan mencoba. Terutama dalam mengoptimalkan media-media digital untuk pembelajaran kita.
Kita, baik murid maupun guru, yang bertempat tinggal di kota-kota besar di Indonesia, sepatutnya bersyukur karena kita sudah memiliki akses internet yang memadai. Bahkan, akses-akses internet tersebut semakin cepat koneksinya dan semakin terjangkau harganya. Perlu kita ingat bahwa pada tahun 2018 saja, ada 9 juta anak di 10.000 sekolah di Indonesia belum memiliki akses internet untuk menikmati konten-konten video belajar yang berkualitas.
Pekerjaan administratif di kelas itu sangat menyita waktu. Namun bagaimanapun juga itu bagian dari pekerjaan seorang guru.
Sekarang ini, sudah ada aplikasi-aplikasi pembelajaran digital yang memindahkan beban pekerjaan administratif para guru. Karena pada prinsipnya, pekerjaan administratif tersebut dialihdayakan (outsource) ke aplikasi digital. Sehingga lebih cepat selesai. Bayangkan, berapa banyak waktu yang dapat dihemat dan dioptimalkan kembali demi meningkatkan produktivitas para guru. Rileks-nya para guru bukan berarti produktivitasnya menurun. Justru hal tersebut harus dilihat sebagai pemicu (trigger) untuk lebih produktif. Sehingga guru dapat fokus pada kreativitas, medium dan konten pembelajaran, serta para siswa mereka itu sendiri.
Variasi pengajaran ini kemudian berdampak pula pada persiapan pengajaran itu sendiri. Beberapa persiapan pengajaran tersebut, antara lain adalah menuliskan atau mendokumentasikan konten-konten pelajaran yang akan disampaikan. Kedua adalah melatih diri secara lisan dalam menyampaikan atau mempresentasikan suatu konten pelajaran. Karena medium yang digunakan para guru tidak lagi berupa papan tulis semata, tetapi juga via proyeksi dan internet. Nah, mengkombinasikan penjelasan lisan dengan medium-medium tersebut tetap perlu latihan.
Setidaknya, ada tiga tipe pembelajaran oleh manusia, baik pada anak-anak maupun manusia dewasa. Yaitu visual (penglihatan), auditori (pendengaran), maupun kinestetik (gerakan). Pada dasarnya, teknologi digital lebih bisa diberdayakan untuk memenuhi ketiga jenis pembelajar tersebut. Gambar-gambar, berupa foto atau kartun, penggunaan warna, atau gambar bergerak (video, animasi) ditargetkan untuk pembelajar berbasis visual. Penggunaan rekaman suara-suara, speaker, serta pengelolaan aspek akustik ruangan bisa dioptimalkan untuk segmen pembelajar auditori. Sedangkan untuk pembelajar kinestetik bisa diberikan hasil kombinasi antara visual dan auditori tersebut, berikut dengan gerakan-gerakan tubuh yang tidak statis hanya di meja dan kursi siswa saja.