all about electricity (indonesia)

Surya vs Bayu

Yang jelas kita bukan sedang ngomongin om Surya Saputra atau kak Ario Bayu ya. Terus juga bukan lagi ngebahas Bebek goreng mana yang paling enak.

Sesuai AD ART blog ini, saya akan bahas dunia kelistrikan. Mohon maaf 🙂

Ya betul, Surya disini adalah PLTS, listrik tenaga matahari. Bayu adalah PLTB, atau listrik tenaga angin. Dua-duanya sumber energi baru dan terbarukan (EBT). Dua-duanya juga lagi jadi trending topic bagi pemerhati isu energi, terutama EBT. Apalagi para pemimpin dunia juga lagi mengkampanyekan target Net Zero Emission dalam beberapa dekade mendatang. Target Indonesia di 2060.

PLTS dan PLTB sudah ada di Indonesia. Meski belum sebanyak di negara maju. Tapi yang kita bahas bukan PLTS/PLTB yang di Indonesia.

Idealnya, kita akan menyerap listrik EBT sebanyak mungkin. Sebanyak-banyaknya sehingga menggantikan listrik berbahan bakar fosil. Fosil apaan sih? Itu tuh… seperti minyak dan gas bumi (solar diesel, bensin dll). Juga batubara (masih sodara-an sama arang untuk bakar sate).

Asap hasil pembakaran bahan bakar fosil menghasilkan CO2 (gas rumah kaca). Asap atau emisi ini sebetulnya bukan dari pembangkit listrik saja. Sumber emisi lain yang sangat besar adalah emisi kendaraan bermotor bakar.

Kalau kendaraan bermotor listrik bagaimana? Ya tidak ada emisinya. Sektor transportasi bisa betul-betul bersih jika sumber energi kendaraan listriknya dari listrik EBT.

Tujuannya apa? Tentu saja agar emisi gas rumah kaca dapat ditekan. Kalau tidak ditekan bagaimana? Ya.. Bumi akan semakin hangat. Efek dari semakin banyak CO2. Yang “menahan” panas radiasi matahari dalam atmosfir bumi. Akibatnya, es di kutub mencair. Tinggi permukaan air laut mengancam menenggelamkan kota-kota di pesisir. Iklim jadi tidak menentu. Memicu gagal panen. Krisis pangan adalah efek berikutnya yang menghantui.

Yang terjadi di negara maju, musuh EBT ternyata bukan energi fosil saja. Sesama EBT ternyata juga bisa salip menyalip. Publikasi AEMO untuk sistem Australia Barat buktinya.

Kurva Beban Harian Sistem Australia Barat 8 November 2021

Dari grafik ini terlihat sekali. Warna kuning menggusur warna hijau. Kurva ini dinamakan “the duck curve”, kurva bebek. Mirip gambar bebek, begitulah kira-kira imajinasi insinyur listrik.

Untuk mengakomodir masuknya listrik dari PLTS, PLTB harus “mengalah”. Di siang hari, sangat wajar jika produksi listrik fosil dikurangi. Tapi jika ternyata harus mengurangi produksi EBT listrik dari angin, tentu ini mengejutkan.

Namun demikian, selalu ada solusi untuk problem teknik. Australia sudah menyiapkan gudang energi, dan sedang terus memperbesarnya. Tempat menyimpan energi listrik dari EBT. Berupa power bank raksasa. Battery Energy Storage System (BESS) namanya.

Yang tidak dapat diserap karena bersaing dengan saudaranya sendiri, sesama EBT. Jadi memang benar, Surya vs Bayu, telah terjadi di negeri seberang. Dan akan didamaikan dengan BESS.

Klausul kontrak “Take or Pay” dalam Perjanjian Jual Beli Listrik (Power Purchase Agreement atau PPA) antara produsen listrik independen (IPP) dan perusahaan utilitas terintegrasi vertikal seperti PLN di Indonesia menyediakan mekanisme terstruktur di mana perusahaan utilitas tersebut, berkomitmen untuk membeli (atau membayar) volume listrik minimum yang dikontrak, terlepas dari permintaan aktual atau pengiriman ke konsumen akhir. Pendekatan ini, meskipun terkadang dikritik karena beban keuangan jangka pendek pada pembeli, menawarkan beberapa keuntungan jangka panjang yang membantu meminimalkan tarif listrik bagi konsumen.

Apa alasannya?

Berdasarkan prinsip ekonomi energi dan konteks Indonesia, “Take or Pay” akan:

1. Mengurangi Biaya Pembiayaan bagi IPP, yang Mengarah pada Harga Kontrak yang Lebih Rendah

Proyek pembangkit listrik, terutama skala besar seperti batubara, gas, atau energi terbarukan, memerlukan investasi modal awal yang besar—seringkali miliaran dolar untuk satu pembangkit listrik. IPP biasanya bergantung pada pembiayaan proyek (project financing), di mana pemberi pinjaman dan investor ekuitas menilai risiko secara hati-hati. Risiko demand atau permintaan listrik (ketidakpastian apakah listrik akan dibutuhkan dan dibeli) merupakan kekhawatiran utama, karena dapat menyebabkan kekurangan pendapatan.

  • Di bawah ketentuan Take or Pay, risiko ini bergeser ke PLN, memberikan IPP aliran pendapatan yang dapat diprediksi selama periode panjang (seringkali 20-30 tahun) dalam PPA Indonesia. Kepastian ini membuat proyek lebih “bankable”, memungkinkan IPP mendapatkan utang dengan suku bunga lebih rendah (misalnya, 5-7% daripada 10-12%) dan menarik ekuitas dengan pengembalian (cost of equity) yang lebih rendah.
  • Akibatnya, IPP dapat menawarkan harga per unit yang lebih rendah dalam penawaran atau negosiasi dengan PLN. Misalnya, dalam tender kompetitif, penurunan biaya modal secara langsung diterjemahkan ke biaya listrik yang diratakan (levelized cost of electricity atau LCOE) yang lebih murah.
  • Dalam konteks Indonesia, di mana PLN bekerjasama dengan IPP, hal ini telah memungkinkan proyek seperti pembangkit listrik berbahan bakar energi fosil besar atau energi terbarukan baru untuk beroperasi dengan tarif kompetitif, menghindari biaya lebih tinggi yang mungkin ditanggung PLN jika membangun semuanya sendiri dengan pembiayaan dari negara.

Tanpa kontrak Take or Pay semacam itu, IPP akan menuntut harga jual listrik yang lebih tinggi untuk menutupi risiko proyek, atau proyek mungkin tidak dibiayai sama sekali, memaksa PLN bergantung pada solusi jangka pendek yang mahal seperti generator diesel atau sewa PLTD, yang meningkatkan tarif.

2. Menarik Investasi Swasta dan Meningkatkan Kapasitas Pasokan Listrik

Permintaan listrik Indonesia tumbuh pesat (sekitar 5-7% per tahun), didorong oleh pertumbuhan penduduk, industrialisasi, dan upaya elektrifikasi. PLN, sebagai entitas milik negara, menghadapi keterbatasan anggaran dan tantangan birokrasi dalam mendanai semua kapasitas pembangkit listrik baru sendiri.

  • Kontrak Take or Pay mengurangi risiko investasi bagi IPP swasta, mendorong aliran modal asing dan domestik. Hal ini telah menghasilkan penambahan kapasitas signifikan—sesuai RUPTL PLN, IPP diproyeksikan mengembangkan lebih banyak pembangkit listrik dalam satu dekade mendatang dibandingkan dengan PLN. Kapasitas pasokan listrik yang lebih banyak mencegah kekurangan pasokan listrik, pemadaman, atau ketergantungan pada pembangkit listrik yang melayani beban puncak (peaker power plant) berbiaya tinggi, yang secara historis meningkatkan biaya sistem secara keseluruhan.
  • Jangka panjang, kapasitas berlimpah menciptakan pasar yang lebih kompetitif. Saat lebih banyak IPP masuk, proses penawaran (misalnya, seleksi langsung atau lelang) menekan harga lebih rendah lagi. Untuk energi terbarukan, hal ini mendukung target Indonesia (misalnya, 23% terbarukan pada 2025), di mana biaya turun secara global—Take or Pay memungkinkan percepatan tren global ini secara lokal.
  • Bandingkan dengan skenario tanpa jaminan dalam bentuk Take or Pay: Investor akan menjauh, menyebabkan kekurangan investasi, defisit pasokan listrik, dan harga pasar spot lebih tinggi atau pengadaan pasokan listrik darurat atau emergency, semuanya meningkatkan tarif bagi pengguna akhir.

3. Memungkinkan Alokasi Risiko yang Efisien dalam Sistem Terintegrasi Vertikal

Sebagai utilitas terintegrasi vertikal yang mengendalikan pembangkit, transmisi, dan distribusi, PLN berada pada posisi terbaik untuk mengelola risiko permintaan sistem secara keseluruhan, seperti fluktuasi ekonomi atau variabilitas cuaca yang mempengaruhi energi terbarukan. IPP, yang fokus hanya pada pembangkitan listrik, kurang siap untuk hal ini.

  • Take or pay memungkinkan PLN “mengalihkan” pembangkitan listrik ke pemain swasta kelas dunia yang sering beroperasi lebih efisien (misalnya, pengurangan risiko cost overrun konstruksi atau adopsi teknologi lebih baik) daripada proyek milik negara. Efisiensi ini menurunkan biaya sistem secara keseluruhan.
  • Meskipun PLN mungkin sesekali membayar daya yang tidak dikirim (misalnya, selama periode permintaan energi listrik yang rendah seperti era COVID-19), pembayaran tetap biasanya terstruktur sebagai biaya kapasitas (hingga 40% dari tarif), memastikan ketersediaan kapasitas pembangkit listrik tanpa perusahaan utilitas menanggung risiko konstruksi pembangkit listrik secara penuh. Seiring waktu, hal ini menstabilkan basis biaya PLN, untuk proyek EBT dapat menghindari eksposur harga bahan bakar yang volatil (misalnya, dari batubara atau gas impor) dan memungkinkan perencanaan jangka panjang yang lebih baik.
  • Untuk tarif, sistem subsidi Indonesia (di mana pemerintah mengkompensasi PLN untuk penjualan di bawah biaya pokok produksi listrik) mendapat manfaat: Harga pengadaan listrik lebih rendah dari IPP mengurangi beban subsidi pada anggaran negara, memungkinkan tarif tetap terjangkau (tetap sejak 2017 untuk sebagian besar konsumen). Tanpa Take or Pay, harga IPP lebih tinggi akan memperbesar subsidi atau memaksa kenaikan tarif.

4. Mendukung Dekarbonisasi Jangka Panjang dan Penurunan Biaya

Dalam konteks transisi energi yang lebih luas, Take or Pay memfasilitasi pergeseran ke energi terbarukan, yang memiliki biaya bahan bakar nol dan LCOE yang menurun (misalnya, energi surya sekarang di bawah 6 sen USD/kWh di beberapa sistem ketenagalistrikan). Komposisi bauran energi Indonesia yang mayoritas energi fosil (66% batubara) mengekspos PLN pada volatilitas harga bahan bakar, tetapi PPA Take or Pay untuk energi terbarukan memberikan biaya yang tetap atau dikunci di harga relatif rendah pasca-konstruksi.

  • Dengan membuat proyek pembangkit listrik hijau menjadi layak, kontrak ini mendorong inovasi, rantai pasok lokal (contohnya pabrik panel surya Tier-1 dalam negeri seperti Trina Mas Agra Indonesia), dan skala ekonomi—misalnya, melalui persyaratan konten lokal (7-70%) atau kebijakan TKDN. Jangka panjang, hal ini mengurangi ketergantungan pada bahan bakar impor, memangkas eksternalitas lingkungan (misalnya, biaya emisi gas rumah kaca atau polusi), dan selaras dengan tren global di mana energi terbarukan mengalahkan energi fosil.
  • Jika PLN mencoba mendanai semua transisi energi sendiri, keterbatasan modal bisa menunda pengembangan atau pembangunan infrastruktur listrik baru, menyebabkan biaya lebih tinggi dari ketergantungan energi fosil yang berkepanjangan atau jaringan listrik yang tidak efisien.

5. Pelajaran dari Negara Lain yang Tidak Mengadopsi Take or Pay Secara Konsisten

Pengalaman negara lain menunjukkan bahwa tanpa jaminan pembayaran kuat seperti Take or Pay dalam PPA jangka panjang, investasi swasta menjadi sulit, menyebabkan kekurangan pasokan listrik, ketergantungan pada sumber energi mahal, dan tarif listrik yang tinggi.

  • Di Nigeria, sektor listrik menghadapi tantangan besar karena kurangnya jaminan off-taker yang kredibel bagi IPP. Meskipun ada reformasi privatisasi sejak 2013, banyak proyek IPP gagal mencapai financial close akibat ketidakpastian pembayaran dan regulasi. Hal ini menyebabkan pasokan listrik yang rendah (rata-rata hanya 3.000-4.000 MW dari kapasitas terpasang 13.000 MW), pemadaman sering terjadi, dan tarif listrik tetap tinggi meskipun ada subsidi. Investor menuntut pengembalian yang lebih tinggi karena eksposur risiko tersebut, yang akhirnya dibebankan ke konsumen.
  • Di beberapa negara Afrika lainnya (seperti Ghana dan Kenya pada periode tertentu), upaya beralih ke “take-and-pay” (hanya bayar yang diambil) untuk mengurangi beban overcapacity justru membuat proyek kurang bankable, menghambat investasi baru, dan perusahaan utilitas mempertahankan tarif listrik tinggi karena ketergantungan pada pembangkit listrik darurat yang mahal.
  • Sebaliknya, negara seperti Pakistan dan Filipina yang mengadopsi take or pay berlebihan mengalami overcapacity dan capacity payment tinggi, tapi tanpa mekanisme ini, risiko akan lebih tinggi lagi menyebabkan kurangnya investasi dan tarif listrik lebih mahal dari sumber energi alternatif.

Pelajaran ini memperkuat argumen bahwa Take or Pay, jika dikelola dengan baik melalui tender kompetitif dan pengawasan regulasi, adalah alat penting untuk menjaga tarif listrik tetap rendah dalam jangka panjang dengan mendorong investasi yang efisien.

Kesimpulannya, meskipun Take or Pay dapat menciptakan kewajiban jangka pendek bagi PLN (misalnya, pembayaran selama kelebihan kapasitas), nilai strategis jangka panjangnya terletak pada penciptaan pasokan listrik yang lebih murah dan andal melalui investasi swasta yang berisiko rendah. Hal ini sangat penting bagi ekonomi negara berkembang seperti Indonesia, di mana menjaga tarif listrik rendah (sekitar Rp 1.000-1.500/kWh untuk rumah tangga) adalah keharusan atau imperatif politik dan ekonomi untuk mendukung pertumbuhan dan keterjangkauan. Alternatif seperti ketergantungan pasar spot pada sistem pasar listrik liberal atau integrasi vertikal penuh sistem ketenagalistrikan (tanpa IPP) kemungkinan menghasilkan risiko lebih tinggi, investasi yang masuk di infrastruktur ketenagalistrikan lebih sedikit, dan akhirnya biaya atau tarif listrik yang lebih tinggi.

The renewable energy sector in Indonesia is encountering challenges in implementing Local Content Requirements (LCR) or TKDN policy. This study aims to explore recent initiatives to overcome these challenges and identify the most effective approach for the government, state-owned enterprises (SOEs), and the industrial sector to establish photovoltaic solar panel manufacturing that meets TKDN requirements. The research follows a descriptive study design with a case study at PLN Indonesia Power and utilizes qualitative methodology due to the limited availability of proprietary data from solar manufacturers in Indonesia. In late 2023, PLN announced its entry into the renewable energy industry by acquiring shares in a solar photovoltaic manufacturing company, PT Trina Mas Agra Indonesia (TMAI), through its subsidiaries, PT PLN Indonesia Power (PLNIP) and PLN Indonesia Power Renewables (IP-Ren). This strategic move addressed the slow progress of solar PV power plant development in Indonesia, a requirement under the LCR policy. The LCR policy aims to foster the growth of the national industry in Indonesia and yield additional economic benefits for the country. PLN’s investment has generated a demand for utility-scale solar PV up to 1 GWp, which aligns with the economic scale of the plant. Concurrently, the government has revised the TKDN policy to promote investment in renewable energy and encourage solar PV manufacturing. The study’s findings suggest that a combination of supply and demand for solar PV and collaboration between the government, SOEs, private entities, and technology owners is essential to develop a TKDN-compliant local solar PV panel manufacturing business.

Published in: 2024 International Conference on Technology and Policy in Energy and Electric Power (ICTPEP)

Date of Conference: 03-05 September 2024

Date Added to IEEE Xplore31 October 2024

ISBN Information:

Electronic ISBN:979-8-3315-1864-6

Print on Demand(PoD) ISBN:979-8-3315-1865-3

https://ieeexplore.ieee.org/document/10733367

M. Imaduddin, “Market Survey on the Addition of Cilegon Fuel Gas Compression Capacity as the Sourcing Best Practice of EPC Small Scale Project,” 2019 International Conference on Technologies and Policies in Electric Power & Energy, Yogyakarta, Indonesia, 2019, pp. 1-5, doi: 10.1109/IEEECONF48524.2019.9102545.

Abstract:

Small EPC project will not be economical if the owner use the same approach in developing project design or planning documents as if it is large scale EPC project. The development of procurement planning documents such as feasibility study, term of references and bidding documents in large scale EPC project usually will be supported by at least one international consultancy firm. This is to ensure the quality of the procurement planning documents. It can cost the owner up to several hundred thousand U.S. dollars per document, but it only have small amount of percentage compared to the total project cost. In small EPC project, this cost will have much bigger percentage.

The method proposed to develop procurement planning documents for small EPC project is by doing market survey or market sounding mechanism. This method is similar to pre-qualification of bidders but it is emphasized more on technical and financial matters than administrative qualification. In this study, we hypothesize that the project chosen as the best solution will be found among several project alternatives, and we use financial indicator analysis method to test this hypothesis.

A case study on how this method implemented can be seen at fuel gas compression capacity addition project in Cilegon combined cycle gas turbine, Indonesia. This method is successfully helping the plant management to develop procurement planning documents independently. This method is also useful to build an analysis of which project financing is more preferable. Market survey on the project provides data which helps owner to determine whether using direct investment or build-own-operate (BOO) or build-operate-transfer (BOT) to finance the project. In the case of the Cilegon compressor project, it was found that BOO project financing was the best project solution that provided the highest IRR of 11.9%.

keywords: {combined cycle power stations;economic indicators;financial management;fuel gasification;gas turbine power stations;investment;power generation economics;power generation planning;procurement;project management;tendering;BOO project financing;market survey;Cilegon fuel gas compression capacity;EPC small scale project;project design;procurement planning documents;bidding documents;total project cost;financial indicator analysis method;Cilegon combined cycle gas turbine;Cilegon compressor project;fuel gas compression capacity;market sounding mechanism;plant management;direct investment;build-own-operate;build-operate-transfer;Procurement;Planning;Natural gas;Investment;Turbines;Sourcing Methodology;Small EPC Project;Economic Feasibility Study;Project Financing},

URL: https://ieeexplore.ieee.org/stamp/stamp.jsp?tp=&arnumber=9102545&isnumber=9102473

Disclaimer: Bagi teman2 yang sedang menulis skripsi, makalah ilmiah, paper dan sejenisnya, informasi yang saya sampaikan ini valid, meskipun biasanya reviewer atau dosen pembimbing akan meminta referensi yang lebih bisa dipercaya ketimbang sekedar blog pribadi. Namun demikian, saya berkeyakinan, studi empiris ini dapat memberi gambaran aktual mengenai bagaimana realisasi produksi listrik dari sebuah PLTS.

imadudd1n.wordpress.com
PLTS Roof-top 5,4 kWp di Serang, Banten

Pembangkit listrik tenaga surya atau photo-voltaic system yang akan saya cerita kan ini adalah PLTS on-grid atau grid connected PV system. Artinya, PLTS ini menghasilkan listrik dan terhubung ke jaringan, dalam hal ini jaringan tegangan rendah.

Lokasi PLTS ini ada di Serang, Banten. Kapasitasnya 5400 Watt-peak. Terpasang di atap bangunan atau roof-top mounted. PLTS ini beroperasi mulai pertengahan tahun 2019. Karena sudah beroperasi lebih dari 1 tahun, saya hendak bagi kan pengalaman kami terkait produksi listriknya.

Menurut saya hal ini penting diketahui bagi siapa pun yang berminat memasang PLTS. Saat ini banyak sekali informasi terkait PLTS, hanya saja saya pribadi melihat, informasi-informasi ini terkadang terkesan bias. Bias ini biasanya dipengaruhi oleh misi dari institusi atau lembaga afiliasi pemberi informasi.

Sebagai contoh, penjual PLTS, terutama yang reputasinya belum dikenal, cenderung akan memberikan informasi yang optimistik mengenai potensi dan hal-hal manis lainnya. Sedangkan konsumen, harus berhati-hati, jangan sampai over-estimate dan menaruh harapan yang berlebihan terhadap apa yang dapat dihasilkan PLTS. Jika PLTS dibeli dengan uang pribadi, tentu kita akan kecewa ketika produksi PLTS ini tidak sesuai harapan. Ketidaksesuaian ini sering berasal dari ketidaktahuan kita mengenai PLTS ini. Namun demikian, saat ini sudah banyak software, baik dari pabrikan atau non-pabrikan, yang membantu kita merancang PLTS. Sehingga kemungkinan kinerja PLTS kita meleset jauh dari estimasi dapat dihindari.

Memilih penjual PLTS yang terpercaya juga sangat penting. Jika PLTS yang akan anda beli tidak terlalu besar, supplier PLTS yang bonafid akan membantu kita mendisain sistem PLTS dengan benar. Untuk proyek besar, sebaiknya anda disain sendiri atau gunakan konsultan enjiniring untuk membantu anda.

Semakin banyak data yang dimasukkan ke dalam designer software, akan semakin akurat.

Sebagai contoh, saya menggunakan software online,

https://www.sunnydesignweb.com/sdweb/#/Home

dari pabrikan inverter PLTS terkenal, SMA Jerman,

https://www.sma.de/en.html

Dengan memasukkan data lokasi, merek dan jenis PV modul, saya mendapatkan disain ini:

Software ini memperkirakan produksi PLTS 1 tahun sejumlah 5750 kWh. Kapasitas grid tied inverter yang disarankan untuk 20 PV modules @270 Watt-peak adalah 4 kW. Artinya, PLTS ini akan menghasilkan daya maksimal 4000 Watt dalam kondisi terbaiknya, meskipun kapasitas PV modulnya 5400 Watt-peak. Atau rasio antara kapasitas inverter dengan kapasitas PV modules adalah 74.1%.

Kenapa kapasitas inverter lebih kecil daripada kapasitas PV modules?

Tujuannya adalah untuk mengoptimalkan produksi listrik karena besar kemungkinan PV modules selalu akan bekerja di bawah kondisi STP dan menghindari rugi-rugi akibat penggunaan inverter yang terlalu besar. Jadi, ketika sebuah keping panel PV diberi label 270 Watt-peak, maka aktualnya, produksi listriknya pasti akan di bawah 270 Watt. Penyebabnya, kondisi sinar matahari sangat jarang bersinar dalam kondisi irradians 1000 Watt/m2 dan suhu cell 25 C (STP).

Realisasi produksi 1 tahun PLTS 5,4 kWp sebesar 7308 kWh

Pada kenyataannya, PLTS ini menghasilkan energi 7308 kWh dalam setahun atau 27% lebih banyak daripada perkiraan awal. Tentu saja hal ini menggembirakan pemilik aset. Apa penyebab kinerjanya lebih baik dari rencana?

Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp di bulan Agustus 2019

Yang paling signifikan tentu saja pada pemilihan material, berupa modul PV dan inverter yang berkualitas. Instalasi yang benar juga berpengaruh besar. Salah satu kesalahan klasik yang sering dilakukan adalah survey lokasi yang sembarangan. Bayangan atau shading pada PV modules akan mengurangi kinerja PLTS sangat signifikan.

Inverter Sunny Boy dari SMA Germany

Inverter yang tidak andal dan boros energi juga dapat mengurangi kinerja PLTS. Selain merek yang teruji, lokasi pemasangan inverter juga menentukan awet tidaknya inverter.

Profil PLTS Rooftop 5,4 kWp

Selain produksi tahunan, ada hal lain yang lebih menarik. Ternyata produksi PLTS tidak konstan sepanjang tahun. Terlihat produksi pada musim kemarau (April-Oktober), dimana langit cenderung bersih, cenderung lebih baik. Pada musim hujan (Oktober-April), dimana langit sering berawan, produksinya lebih sedikit.

Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp pada 11 Juli 2019
Produksi PLTS Rooftop 5.4 kWp pada 13 Februari 2020

Fenomena ini terlihat jelas dalam dua grafik di atas. Ketika musim kemarau dan langit cerah, PLTS dapat menghasilkan listrik 12 jam atau sehari penuh dan dayanya maksimal 4 kW di tengah hari. Sementara itu, pada musim hujan, produksinya sangat rendah, bahkan dayanya kurang dari 2 kW di sepanjang hari tersebut. Selisih produksi listrik PLTS pada bulan di musim kemarau dengan musim hujan dapat mencapai 50%.

Dari studi empiris di atas kita dapat mengambil kesimpulan, pemasangan PLTS akan lebih menguntungkan di daerah yang jarang berawan, karena produksi akan lebih maksimal di semua bulan di sepanjang tahun. Di Indonesia, yang sangat ideal adalah daerah seperti Nusa Tenggara.

Nulis Apaan Aja Deh

all about electricity (indonesia)