Imannissa Saputra

Menulis + Membaca = Karya cipta

  • Galery Para Penulis
  • keTiga Penulis

Kiwi Mountain

Posted by imannisasaputra on Mei 5, 2012
Posted in: monolog. Tagged: bersamamu, cinta, es kiwi, ice, kiwi mountain, penantian. Tinggalkan komentar

Dua Kuris Satu Meja.

aku duduk di samping mu disinari temaram dan langit sedang cerah. secerah hati kita, duduk berdua di sini.

Tempat tua. ya… di tempat tua ini pertama aku membidik hatimu dengan nyanyian rindu beriring nada-nada penantian. dan kaupun tau itu.

ah, aku lupa. tadi aku memesan semangkuk Kiwi Mountain. Ada banyak alasan kenapa aku memesan Kiwi Mountain malam ini saat bersamamu. Uapnya yang dingin memijarkan perasaan lega dan tenang. dan itu menunjukkan perasaanku pada mu. Mangkuk Hitam dan Gunung Es nya yang putih, berpadu. Tam Continue Reading

sesal…

Posted by imannisasaputra on April 13, 2012
Posted in: monolog, sajak. 1 Komentar

biarlah aku menghukum diri … mengikat sayap ku yang patah dan kini terkulai rapi meniduri kehampaan. terpepah hari kian hari oleh waktu-waktu yang tlah lama menikamkan sembilu …

mungkin … aku tak sebaik yang terpancar dari sudut air mata mu … mungkin … aku terlalu hina untuk memiliki mu sepenuh ruh dan jasadku..
kau terlalu indah dan berharga. sedang aku selalu menjadi remah-remah yang tak seharusnya menyulam cinta.

biarlah … aku yang menghukum diri. mengurung jiwa di tembok hitam yang kemarin sempat menyuram di lading waktu. bola-bola rindu ku akan terus berguguran. seputih nafas yang tersesat entah kemana. menanti mu. mengangkat aku nanti dari pembaringanku. sayang… aku terlalu hina untuk mu.

untitle – 1

Posted by imannisasaputra on April 12, 2012
Posted in: monolog. Tinggalkan komentar

aih … jauh nian waktu mengaitkan aku kepada mu. tak seperti mereka mengait jemari sepanjang larung. menyusuri cerita mereka sejauh rel kereta menetak jalan. sedekat mereka bisa saling berpelukan…

jauh sayang … jauh nian aku terpaut rindu kepada mu…

perjalanan di jalan raya = jalanan kehidupan

Posted by imannisasaputra on April 10, 2012
Posted in: Kajian, Uncategorized. Tagged: jalan kehidupan, traffic. Tinggalkan komentar

hei.. hei.. lama tak bersua ya guys ..

kali ini, kami mau ngebahas tentang ” sebuah perjalanan di jalan raya layaknya perjalanan kehidupan”

Pastinya pernah kan kalian berjalan mengendarai kendaran ( seperti motor, mobil, sepeda dan lain sebagainya ) ? Nah, suatu kali kami berjalan mengendarai sepeda motor di jalan raya, tanpa sengaja perjalanan itu mengeinspirasi kami untuk membuat tulisan ini.

perjalanan panjang di jalan raya ternyata dapat kita subtitusi terhadap perjalanan kehidupan. Jalanan yang berliku, tanjakan, turunan, dan berbagai pasir serta kerikil adalah hambatan-hambatan yang kita temui dalam sebuah kehidupan. Semua orang menghadapi masalah yang berbeda setiap harinya. Ban kempes, bocor, habis bensin, kendaraan belum di servis, dan berbagai macam permasalahan yang terjadi  dalam sebuah perjalanan adalah merupakan sebuah seni. Bagaimana cara kita menyelesaikan masalah itu, adalah seni k Continue Reading

terdiam (kematian)

Posted by imannisasaputra on Maret 21, 2012
Posted in: monolog, puisi. Tagged: afganishtan, bom, bom timur tengah, darah, hasan, niah. 1 Komentar

   tiba – tiba hitam

tiba – tiba merah…

tiba – tiba darah.

 

niah memekik. hasan hanya diam

niah menangis. hasan hanya diam

niah berdarah… memekik lengking

menangisi hasan yang hanya diam

hasan hanya diam. beku di balik keriuhan

hitam.

merah.

darah.

oh… tiba – tiba darah

darah di sekujur kota

 

hasan terdiam.

 

 

#mengenang darah di sekujur timur tengah _

batam tanjung pinang — maret 2012

hidup itu, tak lebih dari seutil senyum :)

Posted by imannisasaputra on Maret 12, 2012
Posted in: monolog. Tagged: senyum, senyuman, tersenyum. 5 Komentar

hidup ini tak lebiH dr seuTiL senyum.
Sangat sederhana, tapi lebiH dari sekeDar rasa syukur terhadap seribu maCam anugrah.
_ terSenyum karena nikmat nya bernafas sbg nikmat yg paling besar, yg seharusnya pernah dan selalu kita miliki. Karena dgn bernafas kita akan menikmati anugrah kehidupan yg lain nya
_terSenyum karena nikmatnya paNcA indra yg kita miLiki . Karena dgn keLengkapan bAgi yg di beri sempurna, kehidupan akan lebiH bermakna.
BAhkan bAgi yg diberi kurang sempurna pun tetap terSenyum dan berSyukur karena nikmat nya anugRah hdup
_kemudian senyum dri nikmat bAkat dan kemampuan apa pun yg pernaH kita miLiki.
Karena nikmat itU adalah nilai masing.masing dari sebuah rasa yg mampu membAwa kelancAran dlm menjaLani hidup
sungGuh Allah swt maHa bijaksana atas peNgetahuan_NYA terhadap kebuTuhan yg kita miLiki.
_lalu terSenyum atas nikmat nya perasa’an pada hati dan akal pada pikiRan. Karena mereka saling melengkapi untUk menyeimbangkan antara nafsu dan ibAdah.
BAhkan ada pula nikmat nya nafsu beribadah.
SungGuh maha besar Allah swt yg menciptakan aLam sesuai dgn ukuran nikmatnya berdasar kan kemampuan aLam itU sendiri
_dan terSenyum lah atas nikmat dari seribu maCam anuGrah Yg di berikan oLeh Allah swt.
Karena dgn terSenyum, akan meringan kan langkah hdup kita.
_
_
_ mengapa hidup ini tak lebiH dari seuTiL senyum ???
Karena dgn seuTiL senyum itu, akan membuat kita mengerti maniS getiR nya alam semesta _
jd, , marilah terSenyum.
Dan jangan ingkari, senyum itU IBADAH.
_ 🙂 seLamat terSenyum kawan

rindu si paras empuni

Posted by imannisasaputra on Maret 12, 2012
Posted in: puisi. Tinggalkan komentar

ku tULiS dgn rinduU. .

sepenuh petian rumi saAt meneGuk air mawar.

Oh .

BAGAI rumi menanti angin di tepi api. .

Aku pun sama menjejaki  dikau yg berParas empuni

di sini, di nada merah cinta

Posted by imannisasaputra on Maret 10, 2012
Posted in: puisi, sajak. Tagged: nada merah cinta. 4 Komentar

ku tulis disini, dalam nada merah cinta

bersamaan dengan hadir seorang kekasih

di sini… di bawah kotak waktu berkutik

ketika larung angin menyepi . di sini

ada yang sedang tersenyum, menikmati malam

bersamaku mengayun nada merah cinta

di sini… di nada merah cinta

dan kotak – kotak waktu berkutik lagi

ah, kiranya larung tak lagi sepi

dan kami masih di nada merah cinta

semoga senantiasa, kiranya

di sini, di nada merah cinta _

perjalanan – nafsu

Posted by imannisasaputra on Maret 10, 2012
Posted in: puisi, sajak. Tagged: ilalang padang, nafsu. 2 Komentar

Terakhir aku terpejam,

memegang sebilah nafas

terengah – engah mengatur nadi di sangkuran

sepintas tampak bayangan jiwamu

tatkala aku telah berperang dalam sebuah lingkaran yang sangat indah

menebas setiap bentuk, memapas dan merasuk

telah kulalui seratus ilalang padang

dan akhirnya, menyerantahlah aku di sini

aih. merah darah tanah ku basah

kau pun ku tapaki

setelah membunuhi nafsu, cintamu mengalir damai

Sesajimu, yang dituan !

Posted by imannisasaputra on Maret 10, 2012
Posted in: puisi, sajak. Tagged: koruptor, sesaji, yang dituan. 2 Komentar

ini sesajimu, yang dituan

kupetik dari patahan darah dan keringat

bocah – bocah kecil, serta merta turut juga kerabatnya

kusediakan sesajimu ini, yang dituan

di sudut pegangsaan satu dua lima

berisi gizi buruk, pengangguran, perampokan

dan masih banyak lagi pidana yang lahir

dari sejuta kekayaan dan kebahagiaanmu, atas kemerdekaan ini

kupilah sesajimu ini dari masa orde lama, orde baru, dan reformasi

serta satu la sesaji. saat demokrasi berganti kulit,

menjadi evolusi ulat – ulat bulu,  bermeta-morfosis kepada kupu – kupu

sesaji ini, yang di tuan…

adalah nasib seribu ( mungkin ) keturunan di bawah kami

semoga yang dituan, bukan lagi keturunan kaum ini

saat nafsu dan syahwat tuan, mengubur kami

–

Navigasi pos

← Older Entries
  • Halaman Induk

    • Galery Para Penulis
    • keTiga Penulis
  • Tulisan Terakhir

    • Kiwi Mountain
    • sesal…
    • untitle – 1
    • perjalanan di jalan raya = jalanan kehidupan
    • terdiam (kematian)
    • hidup itu, tak lebih dari seutil senyum :)
    • rindu si paras empuni
    • di sini, di nada merah cinta
    • perjalanan – nafsu
    • Sesajimu, yang dituan !
    • dua pilah sajak rasa mencintaimu
    • (tanpa judul)
    • sebenarnya – sebuah alasan –
    • Mawar ‘ berdua di kursi meja batu ‘
    • (tanpa judul)
    • (tanpa judul)
    • (tanpa judul)
    • jalan hidup orang kecil
    • kaki kecil dibawah senandung hujan
    • (tanpa judul)
    • entah siapa kepadanya aku
    • Pelangi Jingga
    • membaca layaknya sekumpulan warna
    • belum di terbitkan
  • Si empunya Blog :)

    sedang berkumpul di rumah Nuriman :)

  • Arsip

    • Mei 2012
    • April 2012
    • Maret 2012
    • Februari 2012
  • Katergori Karya

    Kajian monolog puisi sajak Uncategorized
  • Para Penulis

    • avatar imannisasaputra imannisasaputra
  • Alur Waktu

    Januari 2026
    S S R K J S M
     1234
    567891011
    12131415161718
    19202122232425
    262728293031  
    « Mei    
Blog di WordPress.com.
Imannissa Saputra
Blog di WordPress.com. Tema: Parament.
Privasi & Cookie: Situs ini menggunakan cookie. Dengan melanjutkan menggunakan situs web ini, Anda setuju dengan penggunaan mereka.
Untuk mengetahui lebih lanjut, termasuk cara mengontrol cookie, lihat di sini: Kebijakan Cookie
  • Berlangganan Langganan
    • Imannissa Saputra
    • Sudah punya akun WordPress.com? Login sekarang.
    • Imannissa Saputra
    • Berlangganan Langganan
    • Daftar
    • Masuk
    • Laporkan isi ini
    • Lihat situs dalam Pembaca
    • Kelola langganan
    • Ciutkan bilah ini
 

Memuat Komentar...
 

    Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
    Mulai