SUNAT itu WAJIB! Nangis…


Minggu lalu dering hape mengagetkan saya yang sedang asik bekerja (bilang asik biar keliatan profesional) dan suara lucu Fasya, keponakan saya yang sekarang sudah masuk TK 0 kecil diujung sana terdengar antusias.

 

“Om.. Imooonnnccckk… besok pulang yaaa…” Suara Fasya sedikit nyaring.

 

“O iya.. abang Fasya sunatan ya..”

 

“Iya donk…”

 

“Mau hadiah apa nih?”

 

“Mau Om Imonck dateng aja”

 

“Wui.. InsyaAllah ya… emang abang sudah siap di SUNAT?”

 

“Belum…”

 

“Lah kok…? Emang berani sunatan?”

 

“Gak…”

 

“lah…” gubrak.

 

 

Unfortunatelly, saya gak jadi pulang buat nengokin titit-nya Fasya, tapi mendengar kabar burung  Alhamdulillah si Fasya habis disunat malah bisa lari. Buset anak sekarang kuat-kuat, perasaan zaman saya kecil dulu kalo habis di sunat titit bakalan opname dari fungsi aslinya selama minimal 2 minggu! Ada yang pake sarung kemana-mana, ada juga yang pake tudung nasi buat menjaga pergerakan titit-nya, mungkin ada juga yang lebih ekstrim memilih pake koteka buat melindungi asset paling berharganya itu. Bahkan ada seorang teman yang jalan ngangkang sampai hampir 1 bulan!, tapi itu gak tau, faktor sakit pasca sunat atau memang dia-nya memang keturunan siluman kepiting. Dari hal kecil itu dapat disimpulkan anak sekarang tumbuh lebih kuat, evolusi dunia yang mungkin membuat titit manusia lebih sehat.

 

Sunat atau Khitan dalam agama Islam merupakan sebuah kewajiban. Wajib artinya harus dikerjakan, kalau tidak bakalan kena dosa dan diasingkan dari pergaulan. Maklum dalam pergaulan kalo seorang anak cowok yang belum sunatan artinya belum dewasa, dan kalau belum dewasa artinya gak boleh pacaran, kalo gak bisa pacaran berarti bakalan jadi “JONES” alias Jomblo Ngeness… Sebuah anomaly yang cukup menjadi spirit dalam dunia perSunatan. Ya.. walaupun pada kenyataan-nya sehabis sunat pun belum tentu ada cewek yang mau, karena memang hasil dari Sunat tadi gak boleh ditampilin sembarangan ke cewek yang kita suka, tapi setidaknya itu cukup menaikkan drajat seorang Pria diantara sesama Pria.

 

Realita itu pernah saya buktikan sewaktu SMP. Ada seorang teman yang namanya saya samarkan menjadi JONI. Saat itu sehabis olah raga kami para murid cowok biasanya mengganti baju olahraga dengan seragam di Mushalla sekolah, ini karena biasanya ruangan kelas sudah dikuasai kaum Cewek. Saat itu saya yang tengah mencuci muka dikagetkan tawa beberapa teman, karena penasaran saya mencari arah suara, dan mendapatkan pemandangan aneh bin ajaib si JONI teman saya tadi tengah di bully. Celana-nya tampak dilempar kesana kemari oleh teman yang lain, sedangkan Joni sibuk berlari-lari tanpa celana!. Dalam deritanya dia malah di ejekin “JONI BELUM SUNAT…  JONI BELUM SUNAT… JONI BELUM SUNAT”. Saya yang merasa sangat iba akhirnya mendatangi kerumunan itu dan merebut celana JONI dari tangan seorang teman lalu… melemparkan lagi kearah teman yang lain sambil ikutan berteriak “JONI BELUM SUNAT… TITITNYA GAK PUNYA HELM.. NANTI KENA TILANG..”

IYA dari kecil saya memang sudah sangat kampret.

 

 

Rasa khawatir terhadap sunatan Fasya sebenarnya sangat wajar mengingat masa sunatan saya dulu yang berbarengan dengan sang kakak, (Bapaknya Fasya). Kak Ismu saat itu sudah kelas 5 SD dan saya masih duduk di kelas 2 SD. Kami berdua digiring menuju Rumah Sakit Umum Mataram, diantar rombongan keluarga. Sunatan itu sakral, mirip2 orang mau nikah, kudu melakukan persiapan yang matang baik dari segi fisik dan mental, jadi saya memutuskan buat di sunat karena di imingi hadiah dari orang tua dan juga punya kak Ismu sebagai teman sependeritaan dalam persunatan ini.

 

Kak Ismu masuk lebih dahulu kedalam sebuah ruangan, hening sejenak, lalu mamaq bilang sambil membelai rambut saya “tuh.. kan Kak Ismu aja lancar sunatnya.. gak sakit kok”

Namun sesaat kemudian,

 

“ARGGGHHH… GROAAARRR TIDAAAK…” Suara kak Ismu yang berteriak didalam ruangan itu menggema.

Saya memeluk mamaq erat “Maaaqq… apa itu?”

 

“ow.. itu…itu apa ya..?” sambil nunjuk2 dagang cilok lewat.

 

“Maaaaq gak mau sunat… pasti sakit!” saya tetap merengek.

 

“gak papa… gak sakit kok… kaya di gigit semut”

 

Lalu…

 

“ARGGGHHH…. GAK MAU… GAK MAUUU… TIDAK!!” suara kak ismu semakin menjadi-jadi didalam ruangan.

 

“maaaaq… tu kan! Itu sih bukan digigitin semut namanya… itu suara titit digigitin GODZILAA” saya merengek

histeris.

 

“Bukan ah… itu… itu palingan..”

 

Belum selesai mamaq bicara, tiba-tiba seorang perawat keluar sambil berteriak..

“PERAWAT YANG COWOK-COWOK KESINI CEPAT… BANTU PEGANGIN!! PASIEN DISINI NGAMUK”

 

Mamaq lalu menunduk dan tersenyum manis memandang saya.

 

“gluk” saya menelan ludah.

 

 

Akihirnya setelah beberapa belas menit perjuangan rombongan perawat pria yang dibantu bapak dengan totalnya kurang lebih 6-8 orang memegangi kak Ismu yang ngamuk-ngamuk, sunatan epic itu berlangsung sukses.. meninggalkan saya yang akhirnya diseret paksa dengan muka pucat pasi. Bahkan ketika sampai ditempat tidur pun sang mantri yang masih keringetan berkata lembut.. “tenang aja dek… hah.. hah..” dia menarik nafas sejenak “Gak sakit kok… paling kaya..  di gigit semut… ya digigit semut” dia senyum lagi sambil ngelap keringet.

Ini yang aneh, Entah kenapa orang dewasa dan orang tua kerap menggunakan istilah ini saat menenangkan anaknya. Seperti sudah menjadi terapi khusus…

 

“Nak.. jangan takut.. disuntik itu gak sakit kok.. paling kaya digigit semut”

 

“Nak.. jangan takut.. lukanya dijahit gak sakit kok.. paling kaya digigit semut”

 

“Nak.. jangan takut.. giginya dibor itu gak sakit kok.. paling kaya digigit semut”

 

Bisa jadi nanti ada terapi cinta yang menggunakan istilah ini,

 

“Sudahlah jangan takut.. PUTUS CINTA.. sakitnya itu paling kaya di gigit semut”

 

“tapi dokter cinta… saya pernah dengar ada yang pernah MATI karena putus cinta?”

 

“oh… itu wajar karena ada beberapa jenis semut berbahaya.. salah satunya adalah jenis semut api dan semut punuai kuning dari Arizona Amerika.. gigitan mereka bisa menyebabkan reaksi alergi dan kematian…”

 

“ta…tapi dok.. ini masalah putus cinta… bukan semut…”

 

“o…iya.. BISA JADI… BISA JADI”

 

….

 

Bagi yang penasaran titit saya jadinya bagaimana? Tenang aja… sunat saya juga sukses, sudah menggunakan helm SNI dan bersertifikat halal.

 

IMONCK

 

4 Years My Ages…. (Halah!)


Saya melongo melihat kalender kamar dan terdiam beberapa saat, sudah bulan september tahun 2013. Semua berjalan terlalu cepat hingga membuatku cukup lama untuk menyadari semuanya. Saya menatap kembali pada dinding kamar kost yang sudah 4 tahun ini sudi menjadi saksi bisu sekaligus teman curhat paling efektif. Cat warna krem-nya masih setia, serta guratan2 yang terbentuk lama, dan tak lupa retakan sisa gempa 3 tahun yang lalu masih menempel manis.

 

Ok… saya menarik nafas sejenak dan berfikir panjang, ternyata semua yang ada dikamar ini tidak berubah, apa saya juga seperti itu?

 

Kodratnya seorang manusia semakin bertambah usianya maka semakin banyak perubahan yang terjadi. Entah bentuk wajahnya, bentuk tubuhnya, pemikirannya, dan mungkin bahkan mimpinya.

 

Masih teringat jelas saat pertama kalinya saya datang ke Kota BIMA Bulan September 4 Tahun yang lalu, kota yang notabene tidak pernah  saya jadikan sebuah target destinasi di masa lampau. Sepanjang perjalanan yang memakan waktu 14 jam perjalanan darat dari Kota Mataram, saya banyak berfikir dan menduga-duga, seperti apa bentuk dari Kota yang terkenal dengan buah kinca ini. Apalagi jika mengingat kata seorang teman.

 

“Hati-hati tinggal di Bima, orang-nya keras-keras sering rusuh”

 

“Masa sih?” saya tertegun seraya menyedot es kelapa muda di tangan.

 

“Iya… kemarin aja masuk tv gara2 ada perang kampung”

 

“Oya? Wuii… kayanya kalo kesana kudu kursus gerilya biar bisa hidup”.

 

“Oya.. ada cerita juga, disana pernah ada maling sendal eh dihakimi massa terus dibakar hidup2”

 

“wuiii… na’as banget tuh orang” nelen ludah.

 

Kalau teringat percakapan itu saya tersenyum dan bergumam, “setidaknya alasan saya masih hidup sampai sekarang adalah karena gak pernah (ketahuan) nyolong sendal” *one does not simply.

 

 

Tenang bro, ternyata Kota Bima itu gak seperti yang digambarin orang-orang. Kotanya cukup tertata rapi, ada bukit-bukit kecil di tengah Kota, Pantai yang memanjang, dan persawahan, Memang benar udaranya cukup panas, tapi setidaknya belum pernah ada yang sampai pake bikini dan tiduran di pinggir jalan. Lalu alasan sebenarnya seorang Imonck di Kota ini adalah karena tuntutan pekerjaan dan sebuah kalimat sakti di sebuah kontrak kerja “Saya bersedia di tempatkan diseluruh wilayah Negara Indonesia”.Yang artinya kalau kalian disuruh ngantor didalem laut perairan Raja Empat, selama daerah itu  masih NKRI.. lu harus bijaksana buat beli baju selam.

 

Masuk kantor di hari pertama, saya datang lebih awal dari pegawai lain agar terkesan anak baik2. Saya sedikit mengintip pada cermin disebuah ruangan, dandanan  cukup rapi, sepatu sudah mengkilap, rambut indah berkilau, bulu idung disisir rapi, bulu mata lentik, gincu oranye plus dress gelap2.. (buseet ini mah banci mangkal) pokoknya semua sudah saya persiapkan dengan baik. Ini sudah sesuai dengan etika pekerja kantoran “Pandangan pertama awal aku berjumpa…tsaahhh…” bukan bukan itu… ehm.. “Penampilan luar seorang pekerja mencerminkan sikap profesionalitas-nya”, jadi jangan heran kalo produk MLM yang reward-nya BMW kalian gak laku karena kalian datang prospek naik ojek.

 

Saya sering menonton di televisi tentang pegawai kantoran, menggunakan dasi, berbadan tegap, senyum menawan, sekretaris-nya cantik yang ujung2nya malah terlibat cinta lokasi sama bos-nya… tapi ibu sang bos yang notabene galak tidak setuju anaknya yang kaya raya pacaran dengan sekretaris yang dari keluarga sederhana..  tapi berkat keteguhan cinta mereka akhirnya mereka…ehem.. uhuk2 oke ini efek kebanyakan nonton sinetron. Setidaknya atitude di televisi mencerminkan realita. Biasanya bos sebuah kantor akan menyambut pegawai baru tersebut dengan bersalaman, saling senyum, berbasa-basi, memotivasi, tertawa, dan bersalaman kembali dan mengucapkan “Selamat Bekerja…”

 

 

Saya sudah mempersiapkan diri untuk hal klise tersebut dengan cara menyikat gigi 30 menit, agar senyum saya lebih mengkilap dibanding biasanya. Setidaknya wajah saya yang pas-pasan bisa tertutupi kilatan senyum pepsodent. (Parah juga lu Monck… udah korban sinetron, korban iklan pulak).

 

Akhirnya waktu yang saya nantikan tiba, sang Bos terlihat berjalan tegap, dandanannya pimpinan banget, langsung masuk ke ruangannya. Dan dengan diantar salah satu unsur  pimpinan saya menghadap.

 

“Permisi.. Pak Ketua…” Sang bos (dikantor saya manggilnya “Ketua”) tengah duduk di meja kerjanya sambil menulis sesuatu pada lembar kertas.

 

“Ya..” jawab Bos, singkat jelas dan padat.

 

“Ini ada pegawai baru…”

 

Saya langsung menyalami beliau dan tersenyum cerah, dan antiklimaks  ternyata beliau hanya bersalaman sambil menatap saya heran. Beliau lalu terdiam beberapa saat, saya berfikir pasti sang bos lagi mikir kata2 motivasi yang pas untuk pegawai baru setampan saya.

 

“KENAPA TERLAMBAT DATANG? INI SURAT PANGGILANMJU MASUKNYA SUDAH LAMA?” nada beliau tegas dan keras sambil menatap saya dalam-dalam.

 

*saya pipis di celana*

“eh.. iya pak? Kenapa?” saya masih syok.

 

“INI SURAT KAMU TANGGAL BERAPA? BARU DATANG SEKARANG HAH?” beliau melotot.

 

“ehm… anu pak.. saya nunggu lebaran dulu baru kesini.. biar bisa Minal Aidin wal…”

 

“SUDAH!…mphhh…huh” beliau berdengus. “Ya Sudah sana…..”

 

Saya masih bengong. “Sa.. Sana?”

 

Beliau berhenti menulis, lalu memandang saya dengan aura seorang Batousai.. seperti berkata KAMU MINTA DIPOCONGIN SEKARANG ANAK MUDA?

 

“I…Iya.. Pak… anu… terima.. kasih…” *Saya pipis dicelana lagi*

 

 

Oke sebuah pengalam masa lalu yang cukup lucu untuk diingat, bos itu sebenarnya baik kok, tapi lebih baiknya lagi karena beliau sudah pindah jauh ke kampung halamannya hehe… setidaknya Zaman sudah berubah, sudah tidak ada lagi era kediktatoran di Indonesia, semua (harusnya) sudah transparan dan demokrasi sesuai azas Reformasi birokrasi dan konsentrasi administrasi mmbbbhhh… go to hell Vicky!.

 

 

Mamaaaaq sudah 4 tahun ternyata….

ANAKMU DIRANTAUAN

 

IMONCK

 

 

CINTA NADIA


Aku melirik pada jam tangan hitamku, sudah hampir pukul lima sore dan Nadia belum juga muncul seperti janjinya. Aku kembali membuang pandangan pada sekeliling, dimana sebuah taman yang cukup sepi, hanya ada sepasang pria dan wanita yang sedang menikmati sebuah ice cream cone sacara bergantian. Sang pria terlihat merayu wanita dengan pura-pura memberikan suapan ice cream tapi ternyata dia malah menikmatinya sendiri, sang wanita terlihat manyun dan akhirnya ikut tertawa lepas ketika ice cream itu malah mengenai hidung si pria hingga meninggalkan noda. Terlihat norak dimataku!. Ya orang jatuh cinta memang akan selalu terlihat norak.

 

Sejenak aku melihat sebuah mawar putih dengan pita warna emas serta tulisan “I LOVE U” yang kubawa. Kuselipkan manis di dalam tas ransel agar menjadi sebuah kejutan yang indah nantinya. Aku mulai tersenyum membayangkan wajah Nadia, wanita yang baru ku kenal dua minggu belakangan. Aku sangat ingat, di taman ini, dimana semuanya berawal.

 

Saat itu aku duduk tepat di kursi taman ini juga, sembari menulis puisi rasa sakit hati. Ya saat itu aku baru saja mengalami goncangan dalam asmara. Kutumpahkan semuanya dalam beberapa lembaran buku catatanku. Aku memaki pada entah kutukan apa, Vera, wanita yang selalu bersamaku, seorang kekasih yang menurutku sangat ideal dan sempurna untuk kujadikan istri nantinya malah memilih laki-laki yang baru saja dikenalinya untuk dijadikan suami. Aku tidak mengerti salahku dimana. Aku memang biasa menulis segala apa yang aku rasakan, karena semuanya akan terasa lebih mudah untuk kuhadapi setelah menuliskannya. Namun tiba-tiba sebuah gumpalan kertas melayang dan tepat mengenai kepalaku. “doh…”

 

“Maaf… aku gak tau kalau ada orang disana..”

 

Aku menoleh dan menemukan seorang wanita dengan rambut sebahu dan bando pink, wajahnya sangat tidak asing. Iya, dia sangat mirip dengan Vera. Bahkan senyum dengan lesung pipi itu sangat mirip. Aku tertegun beberapa detik.

 

“Mas… maaf ya…”

 

Lamunanku buyar, “eh iya… gak papa kok…” aku memungut kertas yang berbentuk bola hasil remasan tangan itu dan membukanya untuk membaca isi tulisan didalamnya.

 

“Eit… jangan di bacaaaa….”, wanita itu berlari mendekatiku. Tapi dia malah tersandung dan menimpa tubuhku hingga kami pun terjatuh di rerumputan.

 

“Aduh…” aku membuka mata dan mendapati wanita itu sudah menindihku. Dia mencoba bangkit dan saat itu secara tidak sengaja mata kami bertemu. Ada keheningan sesaat saat memandang matanya. Ini seperti adegan film-film india yang sering kulihat di televisi.

 

“Maaf…” wajah wanita itu memerah padam dan langsung mencoba berdiri.

 

“Aku yang minta maaf…” aku menyodorkan gumpalan kertas darinya yang tidak sempat aku lihat apa isinya.

 

“namaku Nadia” dia menyodorkan tangannya mengajak untuk berkenalan.

 

“Aku… Reno Ferdinan”

 

 

 

Aku kembali dari lamunanku, aku melirik jam sudah pukul lima lebih lima belas menit. Belum ada tanda-tanda dari Nadia. Ku buka kembali pesan di Blackberry Masengger-ku siang tadi. Disana terpampang jelas, Nadia mengajak bertemu di tempat ini pukul lima sore. Aku mencoba mengirimiya pesan, namun sepertinya tidak sampai karena tidak ada tanda “delivered” atau “read”. Sinyal sialan.

 

Nadia memang sering terlambat saat janjian seperti ini, entah sudah berapa kali dalam seminggu ini kami bertemu dan dia selalu saja membuatku menunggu. Tapi di luar itu, dia sangat sempurna, tawa-nya selalu lepas saat aku menceritakan hal yang lucu, dia selalu menyemangatiku disaat aku mengeluh pada hidup, dia bahkan tidak keberatan menjadi tumpahan curhat ku tentang Vera, bagiku Nadia benar-benar anugerah yang diturunkan Tuhan disaat aku benar-benar terpuruk.

 

Anehnya Nadia terlihat sepintas sangat mirip dengan Vera, entah dari postur tubuhnya, gesture manja saat dia minta ditemani kedalam sebuah toko, Hobinya membaca majalah Gadis, reaksinya saat menemukan horoskop, lalu membaca zodiaq Aries dengan lantang. Semuanya terlihat begitu mirip. Kadang aku berfikir kalau Tuhan terlalu baik dengan memberikan seseorang yang begitu mirip untuk masuk kembali didalam kehidupanku.

 

Aku jadi teringat beberapa kali berdebat tentang Zodiak, horoskop dan ramalan cinta, Nadia selalu bersikeras kalau yang ditulis dalam majalah itu banyak benarnya. Dan sebagai pria dengan pola pikir logika, aku selalu menentangnya.

 

“Aries… akan menyadari kalau meninggalkan pasangannya adalah hal yang salah…”

Nadia membaca dengan lantang Zodiak di majalah yang di genggamnya sambil melirik untuk melihat reaksiku.

 

“Kenapa sih kalau baca Aries harus keras-keras? Penting gak sih…?” Aku sewot dengan gaya mengejeknya.

 

“Kenapa? Ngambek? Hahahaha…” Nadia menjulurkan lidahnya dengan manja.

 

“Ah… males… kamu norak mainnya…” Aku berdengus, sambil mengaduk Ice Capucinno dan menyenderkan badan di kursi.

 

“Aku kan cuman bercanda… Ren…”

 

“Iya… bercanda sih bercanda, tapi jangan bawa-bawa zodiak si Vera dunk..”

 

“hahaha… udah… gak lagi deh… tapi senyum dulu dong… kan aku pake Bando warna pink kaya warna kesukaan Vera..” Nadia tersenyum mengejek.

 

“Nih… Pink…” Aku melemparinya dengan tisuue sambil tertawa kecut.

 

“Hahahahaha… galau galau… tapi aku heran kenapa sih kamu gak percaya sama ramalan cinta?” Nadia menatapku lama.

 

“Gak kenapa-kenapa…”

 

“Tapi kamu percaya kan, kalau Jodoh itu gak akan kemana-mana?”

 

“Iya.. aku percaya… jodoh ya gak akan kemana-mana” aku masih memasang wajah ngambekku.

 

“hehe.. biarin si cupid yang atur urusan cinta kita ya…” Nadia mencubit kedua pipiku.

 

“Isshhh… sakit ah…” Aku berdengus sambil melepaskan diri dari cubitannya.

 

“Makanya senyum dong…”

 

Aku tersenyum simpul. Nadia memang selalu bias membuatku tersenyum.

 

 

 

 

Kali ini sudah kelewatan, Nadia terlambat tiga puluh menit. Ini bukan hal yang biasa. Aku bangkit dari kursi dan melihat ke ruas jalan di seberang. Tidak ada tanda-tanda, hanya ada seorang bapak-bapak yang berlari kecil menyusuri taman.

 

“Nadia kemana sih…?”

 

Aku kembali duduk. Sebenarnya kali ini aku ingin jujur pada Nadia bahwa sebenarnya aku masih menyayangi Vera, sepertinya dia juga tau hal itu. Tapi aku juga sepertinya mulai menyukai segala hal yang ada dalam diri Nadia. Aku menarik nafas panjang, mungkin saat ini aku memang belum bisa sepenuhnya melupakan Vera, bahkan kehadiran Nadia seperti mengingatkanku bahwa Vera itu selalu bersamaku.

 

“Reno….”

 

Suara seorang wanita tepat di belakang, cukup membuatku kaget dan bangkit dari kursi.

 

“Reno… aku tau kamu disini…”

 

Aku terdiam tidak percaya, Vera berdiri tepat didepanku. “Ve… Vera?”

 

“Ren…” Vera langsung berlari memelukku.

Vera masih menangis dalam pelukanku, dan aku hanya bisa mengelus rambutnya sambil menyuruhnya tenang.

 

“Sudah… Ver… kenapa?”

 

Vera melepaskan pelukannya, “Aku kangen kamu Ren, Aku mau nikah sama kamu! Bukan dengan pilihan ibu..”

 

“Tapi… tapi… bukannya kamu sendiri yang…” belum selesai aku bicara Vera memotongnya.

 

“Maafkan aku Ren… aku sudah yakin, Cuma kamu yang bias buat aku bahagia.. please.. say “Yes…”..”

 

Aku terdiam sejenak, aku tidak menyangka hal seperti ini bisa terjadi.

 

“Ren… Please.. Aku sayang sama kamu…” Vera masih memandangku erat.

 

Aku pun memeluk Vera, “Iya Ver… aku juga selalu sayang kamu…”

 

Aku memeluk Vera, perasaan yang lama telah kupendam itu akhirnya terkuak, aku memang masih cinta padanya. Tapi tiba-tiba tak sengaja aku melihat sosok wanita di kejauhan memandangiku… itu Nadia! Aku terdiam memandanginya. Nadia tampak tersenyum dan entah bagimana dia seperti berlari dan menghilang.

 

Kulepaskan pelukan Vera sejenak. “Tunggu disini sebentar ya Ver…”

 

Aku pun berlari ke arah sosok Nadia tadi, tetapi rasanya Nadia seperti menghilang begitu saja. Aku terdiam, ada perasaan bersalah bercampur aduk. Hingga akhirnya aku menemukan gumpalan kertas tergeletak tepat di tempat sosok Nadia muncul tadi. Aku membukanya perlahan dan akhirnya membaca tulisan didalamnya.

 

Dear, Reno.

 

Aku harus minta maaf karena mengakibatkan semua kisah cintamu berantakan, mungkin kamu tidak akan percaya dengan apa yang aku tulis disini. Namaku bukan Nadia, aku bahkan tidak bernama. Tapi kamu tetep boleh menyebutku “NADIA”. Aku hanya di tugaskan untuk mengatur dan memastikan kisah cinta mu dengan Vera berjalan lancar. Tapi aku malah membuat kesalahan dengan menembakkan anak panah kearah yang berlawanan, sehingga Vera tiba-tiba jatuh hati pada pria lain. Aku tahu efek buruknya bahwa perasaan suka itu akan bertahan selama dua minggu, jadi demi memastikan kamu tidak jatuh hati pada wanita lain, aku pun menyamar menjadi gadis impianmu… dan ternyata itu masih si Vera… aku salut sama kegigihan cintamu…

 

Sekali lagi maaf…

 

PS : Cupid itu ada loh… tapi kadang2 dia bisa salah

 

Your Stupid Cupid… ^_^

 

 

Setelah aku membaca tulisan itu, aku terdiam sedikit tidak percaya, “Cupid itu ada?” aku tersenyum lalu tiba-tiba saja kertas itu berubah menjadi butiran keemasan dan hilang tertiup angin.

 

“Reno… kenapa?” Vera datang menghampiriku.

 

Aku tersenyum padanya.

 

“Gak ada apa-apa kok… Cuma.. mau bilang terima kasih sama Cupid yang membawamu kemari…”

 

“Ish… Bisa aja… aku kesini naek ojek… bukan sama cupid… haha…”

 

Aku tersenyum sambil menatap butiran keemasan itu terbang tertiup angin.

 

 

-END-

 

PS : posting cerpen biar keliatan keren aja kok *modus*

JUST “TED”


Happy morning…

Kali ini lagi pengen aja bahas film…

Karena akhirnya kesampaian juga buat nonton film “TED”, that’s a funny movie. Ceritanya sebenernya cukup simple, tentang “kesetiaan dalam persahabatan” dimana si John Bennett (diperankan Mark Wahlberg) diceritakan tidak memiliki sahabat semasa kecilnya. Hingga akhirnya sebuah keajaiban permohonan natal merubah hidupnya. Di film, John kecil yang berusia 8 tahun mendapatkan hadiah sebuah boneka beruang atau yang lebih kita kenal kenal dengan sebutan “Teddy Bear” dari sang ayah. Dan karena si John kecil tidak pernah memiliki teman baik, dia akhirnya menceritakan segala keluh kesah dan kebahagiaannya pada si Teddy. Hingga suatu malam natal dia berharap si boneka beruang Teddy diberi kehidupan.

 

Yup… guess it! Keajaiban Hollywood akhirnya membuat si boneka beruang Teddy benar-benar hidup. Dan sejak saat itu si “TED” selalu menjadi sahabat baiknya hingga dewasa.

 

Tidak menarik? Terlalu biasa?

 

Tenang Hollywood lagi-lagi membuat keajaiban, dengan cerita sederhana seperti itu si pembuat film menambahkan sisi liar dibalik kelembutan si Teddy. Cerita tidak biasa muncul karena si Teddy dan John yang sudah dewasa berubah menjadi anak yang liar, yang suka mabuk-mabukan, menghisap narkoba, main wanita dan berpesta. Jadi buat kalian yang tadinya berfikir ini film anak-anak, just be aware!. Karena film ini di kategorikan film dewasa yang penuh adegan ala adult only!.

 

And bla bla bla…

Sebenernya pengen cerita sampai habis, tapi buat movie hollic yang belum nonton, sebuah tulisan ending reveall akan terdengar sebagai sebuah bencana. So… just watch this funny movie on title “TED”.

 

 

Setelah nonton film ini saya jadi mikir, Mila Kunis ternyata masih tetep keliatan sexy, cantik, elegan dan smart ups ehm.. uhuhk… hehe.. maklum cowok kalo liat yang bening-bening jadi susah fokus. Maksudnya saya jadi inget tentang persahabatan dari kecil hingga dewasa, saya jadi inget beberapa sahabat yang memang tumbuh di lingkungan yang sama, yang terlahir menjadi anak pinggiran jalan raya. Ada Aang, Madi, Didik, Yuyung, Tri, Ivan dan Faras, semuanya alhamdulillah masih pada hidup. Merekalah mungkin beruang-beruang teddy saya, cuma mungkin bedanya, kalo si Teddy di film keliatan lucu, imut dan menggemaskan, nah kalo mereka tadi keliatan horor, pecicilan, dan gak ada unyu-unyu-nya (ampuuunn guys realita emang pahit).

 

Bersama mereka waktu terasa berputar sangat cepat, karena saat kita berada dalam zona waktu bahagia, semua akan berlalu bagaikan kereta ekspress. Kalau pun harus memaksakan untuk menceritakan satu persatu kisah dengan mereka, mungkin membutuhkan ribuan halaman kosong untuk di isi. Dari sekian banyak hal, mungkin ada satu kejadian bodoh tapi sedikit romantis yang terjadi, ketika saya yang kalau tidak salah masih kelas 5 SD pergi ke rumah aang yang berada persis di depan rumah. Saat itu memang momment perpisahan aang yang mau pindah sekolah ke daerah kediri. Jadi malam itu saya, aang dan madi masih tertawa-tawa diluar rumah menceritakan segala hal keren. Hadiah tazos, roller blade, film unyil, megaloman dan semuanya.

 

Hingga akhirnya, waktu bermain kami habis karena waktu menunjukkan jam 10 malam. Sejanak kami saling menatap dan tidak ingin waktu berjalan.

 

Aang : “Tenang bro… nanti saya tetep balik kesini kalo ada hari libur..”

 

Saya : “oke.. sipp…”

 

Madi : “kita tetep tunggu ente balik bro..”

 

Saya : “kita pulang dulu dah… besok hati-hati di jalan…” *sambil salaman gaya MLM*

 

Aang : “o..iya… bentar… coba liat itu..”, aang menunjuk keatas langit yang penuh bintang.

 

Madi : “ada apaan? Piring terbang?”

 

Saya : “please dah Di… UPO… itu namanya UPO”

 

Aang : “eh… UFO kaleee….”

 

Madi : “mana? UFO?…”

 

Aang : “bukan… itu lo… liat bintang yang itu… yang bertiga berderet”, sambil nunjuk-nunjuk keatas.

 

Saya : “yang mana.. yang itu?” saya mangut-mangut.

 

Madi : “mmm… yang itu kan? Kenapa?”

 

Aang : “kita kasih nama itu Bintang kita…, jadi selama masih ada bintang itu, persahabatan kita masih tetep ada…” aang berbinar-binar.

 

Saya dan Madi : “wow… keren…”

 

 

Ya… mungkin terdengar sedikit menjijikkan kalo di inget lagi, tapi gak nyangka juga seorang aang bisa bicara hal begitu. Hebatnya tiga bintang itu masih tetep ada, bersinar hingga saat ini, dan sesuai janji, sampai hari ini kami juga masih bersahabat meski mungkin jarak memisahkan kami.

 

O iya… mengenai tiga bintang tadi, ternyata gak sengaja baca di sebuah site tentang tata surya, kalau ternyata bintang yang seolah-olah nampak berdiri sejajar dan menempel itu memiliki jarak yang berlainan dan sangat jauh. Dari sebelah kiri, namanya bintang Mintaka, yang memiliki jarak dengan Bumi sejauh 900 tahun cahaya, lalu Alnilam sejauh 1.359 tahun cahaya dan terakhir Alnitak sejauh 800 tahun cahaya. Sughoiiiii….

 

 

Mungkin sesuai dengan bintang tadi, kami bener2 terpisah jarak tapi hebatnya masih bisa bersahabat dengan bantuan teknologi sehingga tetap bisa terlihat bersinar berdampingan.

 

 

Saya bingung kenapa dari film jadi bahas bintang?

Sekian… saya mau sarapan dulu..

 

IMONCK

BLACK SNAKE LEGEND


Hai guys… I miss u… haha..

 

Entah kenapa rasanya emang lama banget saya gak pernah posting tulisan baru, rasa-rasanya sih tahun lalu terakhir posting. Lama banget kan? (pliss dah monck… tahun baru nya kan baru beberapa hari juga). Ishh… rewel ya… Intinya… saya pengen nulis! Saya udah gatel pengen cerita tentang kegelisahan saya beberapa hari belakangan ini. Awalnya saya selalu skeptis dengan yang namanya mimpi. Mimpi menurut saya hanya hiasan tidur, gak lebih dari nonton film yang kebetulan aja tokoh utamanya kita. So.. seperti film tadi, semua hal dalam mimpi tidak akan pernah menjadi sebuah realita.

Kenapa saya tiba-tiba ngomongin mimpi?

 

mmm… ini berawal pada suatu pagi saya terbangun dari mimpi yang cukup aneh, sambil mengingat-ingat mimpi itu saya pergi mencuci muka dan melaksanakan shalat Shubuh. Sehabis shalat saya kembali mencoba mengingat beberapa hal didalam mimpi itu, karena saya merasa ada sesuatu yang penting dan mengganjal banget di hati.

 

Hal pertama yang saya ingat adalah : entah kenapa saya merasa keliatan lebih unyu di dalam mimpi itu (ehm..). hush… yang kedua : ada wanita didalam mimpi itu. Tapi saya tidak bisa mengingat wajahnya. Yang ketiga : setting-nya ada didalam kamar yang sangat remaja banget, dengan aksen corak warna pink, penuh boneka, sangat ceweeeek banget, kaya kamar saya dulu. Ups!@#$$. Tapi tunggu dulu… jangan berpikiran negatif!. Walaupun saya didalam kamar berdua saja dengan seorang wanita, tapi suerrr saya gak melakukan hal yang “nggak nggak”, paling cuman maen boneka barbie berdua sambil pake roll diatas rambut. Ish… itu juga Gak gak… itu mah kerjaan saya didunia nyata bukan dalem mimpi. Yang paling penting saya ingat dalam mimpi ada ular hitam masuk ke dalam kamar!!.

 

 

Jadi saya akhirnya memutuskan menceritakan mimpi itu pada orang yang tepat, yang kira2 bisa menerjemahkan mimpi saya. Biasanya orang pintar itu gayanya ekstrim mirip-mirip orang pintar di tipi-tipi itu. Yah dan saya akhirnya memilih cerita ke bang zoel. Ehm… emang sih paling gak gayanya udah nyerempet Ki Joko Bodo dah. Setelah cerita cukup panjang lebar, Ki Zoel mengerutkan dahinya. Lalu berkata dengan gaya sedikit misterius.

 

“Ular ya? Warna hitam… mmm… mimpinya shubuh ya?”

 

“Iya mbah Zoel..” saya nunduk sambil bakar menyan merk china.

 

“Bahaya ini…” Ki Zoel memasang gaya semakin mistis.

 

“Kenapa mbah?” saya mulai panik.

 

“Kalo mimpi ular hitam, dan mimpinya subuh, itu tandanya ada yang mau jahat sama kamu!!”

 

“APAAA!!!” saya berteriak sambil masang gaya tante meriam belina di sinetron2.

 

“Iya.. itu artinya ada yang niat jahat sama kamu! Tapi tunggu dulu… ularnya gigit kamu gak?”

 

“Ularnya? Ular yang mana mbah?”

 

“Ular hitam itu!!”

 

“oh… kiraen ular saya mbah”

 

“hush… itu si ulet bulu”

 

Saya mikir-mikir lagi sejenak mencoba mengingat, “Ah gak! Ular-nya gak gigit saya, coz ularnya juga agak unyu, trus dia jalan melet2, eh temen cewek saya dalam mimpi itu teriak suru bikin pala ularnya benyek ampe mati…”

 

“trus?” Zoel semakin tertarik dengan cerita mimpi aneh ini.

 

“trus saya gencet aja uler-nya pake tangan, ampe benyek pala-nya.. malah keluar darahnya warna hitam menjret2 gitu”

 

“ergh… jijay… tapi Syukurlah… artinya dia gak jadi niat jahat ke kamu” Ki Zoel senyum2 sambil bakar rokok. “tapi tetep harus hati-hati…”.

 

 

Pasca mimpi itu berlalu, entah kenapa beberapa hari kemudian saya sering mengalami kesialan. Seperti kerjaan yang gak beres, jemuran gak pernah kering, kamar saya berantakan, duit saya habis eh.. kok jadi malah curhat. Intinya kesialan itu memuncak di suatu malam. Malam itu saya, Jack, Yadoz dan Sindu mau balik ke kost-an setelah ngadem di rumah Bang Zoel semenjak sore. Waktu sudah menunjukkan tengah malam dan kami memacu sepedah motor melalui jalan yang agak gelap karena berada di wilayah pematang sawah dan sungai kecil. Entah karena jalannya gelap atau memang mata si yadoz sudah kena diare akut. Dia malah ngebut menerobos malam yang berbalut hujan gerimis, maksudnya sudah jelas supaya tidak basah oleh hujan.

 

Beberapa saat kemudian, “byuuurrrrr” air entah darimana membasahi kami, rasanya seperti disiram air seember, dan luar biasanya, air itu bau. Ya… BAU!. Bau khas comberan. Setelah mengusap wajah yang basah, saya baru sadar disekeliling kami ada air yang menggenang dan mengalir.

 

“wah jalannya banjir…!!” yadoz yang jadi depan masih berusaha melewati hadangan air itu.

 

“doz… air-nya bau… bauk kampret… hahaha..” saya ketawa.

 

Setelah ban motor agak selip dan hampir membuat kami jatuh, saya dan yadoz akhirnya berhasil melewati jalan itu dengan selamat. Yang bikin kaget adalah di depan sudah ramai beberapa orang dengan sepedah motornya memandang kami dengan kebingungan karena kami berani melewati jalan itu. Kami pun berhenti sejenak karena si Jack dan Sindu tidak terlihat dibelakang. Saya lalu turun dan melihat arus air yang cukup lumayan deras. Takutnya si Sindu sudah hanyut dan berubah jadi putra duyung versi om-om girang. Syukurlah hal itu tidak terjadi, beberapa menit kemudian mereka muncul sambil mendorong sepedah motor abu kesayangan Sindu.

 

“Mati ni motornya.. kena air tadi kayanya” Sindu mencoba men-starter motor berkali-kali hingga akhirnya menyala.

 

Kami melanjutkan perjalanan, namun beberapa saat saja motor Sindu sudah mati lagi. Disaat super kampret seperti itu, hujan malah turun dengan lumayan deras, dan Kami pun memutuskan untuk berteduh sejenak dibawah atap sebuah ruko. Suasana dingin dan kami sudah lumayan basah, sedangkan motor satu dalam keadaan mati. Ditengah kegentingan seperti ini hal yang menakutkan bisa saja terjadi. Misalnya : tiba-tiba karena udara dingin yang menusuk kami saling pandang, lalu berpelukan seperti adegan film brokeback mountain.

 

Ini jelas tidak bisa dibiarkan, disaat seperti inilah dibutuhkan seseorang dengan jiwa pemimpin yang kuat dan berani ambil resiko. Ya mereka beruntung punya seekor “imonck”. ya Saya akhirnya mengalah (baca : dikorbankan) untuk mencoba menggeret motor abu yang mati dengan sepedah motor milik yadoz. Karena agak berat kami memutuskan meninggalkan Yadoz dan Sindu di ruko itu.

 

Saya dan jack melaju seirama melewati jalanan yang sepi dan sangat becek. Perjalanan cukup lancar hingga tinggal seperempat jalan menuju kost-an, tiba2 saja motor yang saya gunakan untuk mendorong motor abu itu mengalami keanehan. Ya… motor hitam milik yadoz itu bergetar dan berjalan dengan cara yang aneh. Setelah diperiksa ternyata ban belakang motor itu pecah. Ditengah kepasrahan harus mendorong motor (lagi) saya bergumam.

 

“Oh.. God… apa yang lebih sial dari ini…??”

 

Dan sesaat kemudian hujan turun lagi. (sempurna).

 

Setelah berbasah ria, saya dan jack akhirnya tiba di kost-an, tapi rasa letih karena mendorong motor di tengah hujan harus dilupakan sejenak, karena saya harus menjemput yadoz dan sindu di ruko tempat kami meninggalkan mereka tadi. Saya dan jack akhirnya kembali dengan motor masing-masing untuk menjemput mereka. Ditengah perjalanan saya menceritakan kesialan tambahan tadi pada si Yadoz. Kami pun tertawa sepanjang perjalanan sampai akhirnya motor saya mengalami akselerasi aneh tadi.. yang sama!. giliran motor saya yang pecah ban!. Oh GOD!.

 

 

Lalu apakah mimpi ular hitam itu ada hubungannya dengan semua ini?

 

Entahlah… yang pasti saya baru tersadar, di setiap saya memakai baju hitam anehnya jadi kena sial. Seperti saat ini… saya mau lembur, sampai kantor baru sadar kunci ruangan ada di teman saya. Dan setelah menghubunginya berkali-kali, tidak ada jawaban. Saya sudah mencoba masuk lewat jendela. Tapi juga tidak bisa. Dan sekarang saya terjebak di kantor karena hujan. and YES I’M WEARING BLACK!!

“ALONE!”

 

 

 

IMONCK