Goodnight Forest by Carmen Saldana

Buku ini adalah salah satu buku yang dibeli saat kalap BBW 2020 atas rekomendasi Bu Damar panutanku. Awalnya tertarik karena temanya cocok sekali buat pengantar tidur, ditambah lagi ilustrasinya yang menarik.

Etapiiii, awal-awal anaknya kurang tertarik dan bukunya dicuekkin. Hiks Untung bundanya pantang menyerah, alias gamau rugi haha Berkat rajin dibacain setiap malam, akhirnya berhasil juga jadi salah satu buku favorit kakak.

Buku ini bercerita tentang kehidupan binatang di malam hari. Tentang binatang nokturnal dan diurnal (bunda nya pun baru belajar istilah ini). Buku ini juga menggambarkan bagaimana para binatang tidur: di bawah tanah, di pinggir sungai, diatas pohon.

Kesulitannya, banyak istilah bahasa Inggris yang baru untuk Bundanya, jadi mesti belajar dulu sebelum cerita ke Kakak. Kakak lagi tertarik sama bahasa Inggris, jadi sesekali sesi ceritanya dilakukan dengan bahasa Inggris.

Buku ini bikin kegiatan sebelum tidur kami jadi lebih seru atas improvisasi kakak: nyanyi lagu tentang bulan dan bintang, menghitung jumlah kelelawar, atau bahkan gantian kakak yang bercerita buku ini untuk ayah, bunda, dan adik.

Pic source: Google

Kina and Her Fluffy Bunny by Maudy Ayunda

Bundaaa ayo kita baca Kina…

Buku ini punya moral story yg menarik, bahwa barang yang rusak masih bisa berusaha diperbaiki. Alasan ini yg bikin Bundanya impulsif jajan buku lagi bulan ini. hihi

Buku ini bilingual book tentang Kina yg boneka kesayangannya rusak dan minta tolong mama papa untuk memperbaikinya. Kebetulan si Kakak lagi tertarik sama Bahasa Inggris, jadi ayah bunda seringkali diminta bacanya dengan bahasa Inggris, walaupun belepotan. Jadi sama-sama belajar deh kami.

Ilustrasinya bagus, Kakak suka sekali gambar bunny nya. Tapi sayangnya jilidan bukunya kurang tahan banting, karena Kakak terlalu semangat kali ya buka bukunya haha Sekarang buku ini jadi salah satu buku wajib Kakak untuk bedtime story, saking sukanya.

The Butterfly Garden by Laura Weston

“Bundaaa tadi ada kupu-kupu di kamar mandi,

buka-tutup-buka-tutup (sayapnya)…”

Celoteh Kakak selepas mandi sore  tentang kupu-kupu warna cokelat yang hinggap di kamar mandi belakang. Semangat sekaliii dia ceritanya, diulang-ulang terus setiap hari.

Kebetulan saat itu Bu Damar review buku ini untuk BBW haulnya. Pas bangeet, buku kupu-kupu untuk Kakak yang lagi suka sekali dan ingin tau sama kupu-kupu.

Buku ini berbentuk buku lift-the-flap yang didominasi warna hitam dan putih, tapi saat kita buka flaps nya akan muncul kupu-kupu dengan sayapnya yang indah. Dari buku ini, Kakak bisa belajar metamorfosis kupu-kupu sambil bernyanyi “telur-telur ulat-ulat kepompong kupu-kupu…”. Bisa belajar tentang makanannya, cara tidurnya, cara hidupnya. Salah satu buku kesukaan Kakak sampai sekarang.

the butterfly garden

MengASIhi

Appreciation post untuk diri sendiri karena Alhamdulillah, adik akhirnya lulus juga ASI enam bulan. Berhubung udah pengalaman sama Kakak dua tahun sebelumnya, urusan ASI kali ini alhamdulillah lancar. Gak menjadi lebih mudah, karena tiap anak sungguh beda tantangannya, tapi gue lebih prepare dan ekspektasi gue lebih realistis.

Disaat di UGD pembukaan empat jam 10 malam, gue janjian sama bu bidan langganan untuk pijat laktasi begitu adik lahir. Alhamdulillah beliau available di hari kedua adik lahir, dan kita pijat di kamar RS. Gue gak lagi panik soal ASI keluar atau ngga. Ga lagi stres liat hasil pumping yang masih seuprit di awal kelahiran adik sampe trauma sama pompa ASI kayak jaman Kakak. Mulai pumping lebih awal walaupun belum rajin. Makan buanyaaak supaya ASI gue berkualitas sehingga pengalaman kakak bb nya naik cuma dikit di bulan pertama kelahirannya gak terulang lagi sama Adik. Alhamdulillah kenaikan bb adik aman jaya sampai bulan keenam ini. Masyaallah tabarakallah.

adik

Tantangan mengasihi adik dimulai pas awal-awal di RS, dia cukup susah untuk latch on. Mungkin karena IMDnya kurang lama karena gue masih harus ditangani Bu Obgyn buat pasang IUD. Setelah itu lancaar jaya, sampai ketika gue udah mulai harus sering ke kampus urusan skripsi dan Adik mulai belajar pakai dot yang berujung bingung puting hiks Blessing in disguise, saat itu mulai covid dan semua urusan kampus bisa diremote dari rumah jadi setiap hari bisa full DBF sama Adik. Nikmat Tuhan mana yang kamu dustakan? :”

Sekarang mulai MPASI, perjuangan yg bikin gue lebih jantungan daripada mengASIhi hahaha Semoga adik makannya pinter dan gue diberi pencerahan buat variasi makanan adik, kenaikan bb tb dan perkembangan adik sesuai umurnya. Dan tentu aja, semoga bisa terus mengasihi adik sampai tuntas 2 tahun. Aamiin

Cerita Menyapih Kakak

Alhamdulillah bisa nulis ini, setelah proses 1,5 bulan dan Kakak udah gak mau lagi waktu Bunda iseng tawarin untuk mimi haha Akhirnya dinyatakan luluuuus ASI 2 tahun~ MasyaAllah Tabarakallah.

Walaupun gue hamil lagi saat Kakak usia 15 bulan, Alhamdulillah ASI nya masih ada (sedikiiit) dan ga ada efek negatif ke kehamilan gue. Meski begitu, gue udah stop pumping dan Kakak juga udah dibantu sama susu tambahan. Lama kelamaan, karena ASI nya juga udah ga banyak, Kakak cuma minta mimi saat mau bobo siang dan malam. Kalau malam kebangun pun dia minta air putih kalau masih haus setelah mimi Bunda. Hal ini yang bikin gue santai aja gak memaksa untuk menyapih Kakak selama hamil. Pernah dicoba satu dua kali, cuma emang dasar Bundanya juga belum ikhlas, jadi aja gagal total, dapet nangis-nangisnya aja.

Rencana gue, berhubung Adik bakal lahir saat Kakak 23 bulan, rasanya gapapa banget nunggu sampai Kakak genap 2 tahun baru mulai proses sapih pelan-pelan. At least hak nya Kakak untuk dikASIhi selama dua tahun terpenuhi. Ternyataaa, gak semudah itu fergusooo.

Saat Adiknya lahir, otomatis produksi ASI gue makin banyak dan deras. Naaah, Kakak jadi keenakan deh minta mimi terus. Makin drama saat dua anak ini minta mimi barengan dan Kakak cemburunya lagi besaaar sama Adik barunya, tantrum gak bisa dihindari. Sebulan awal di rumah isinya tangisan tantrum si Kakak, dan omelan Bunda. hikssss

Sebenarnya semua hal tsb masih bisa di handle, tapi yang bikin kami mantap buat ngebut menyapih Kakak adalah karena Kakak mulai mogok makan dan maunya mimi teruuus. Udah gak beres dong, secara nilai gizi ASI nya udah ga mencukupi lah untuk anak (hampir) 2 tahun.

Sounding

Akhirnya 3 minggu sebelum ulangtahun Kakak, kami mulai sounding “kalau sudah ulangtahun, sudah tiup lilin artinya sudah besar, gak mimi Bunda lagi yaa…” dan tentu aja dijawab gemas “mau mimi ajaaa…“. wkwk Tapi Alhamdulillah ternyata dalam hati dia paham, seminggu kemudian dia sering bilang sendiri “kalau sudah tiup lilin gak mimi Bunda lagi…” huhu terharu.

Hasil kepo dari IG nya Bu Damar tentang menyapih dibilang bahwa istilah “sudah besar” itu abstrak bagi anak. Anak akan bingung ketika misalnya minta kopi dan kita jawab “gaboleh, kan masih kecil…”. Lho, jadi sebenarnya udah besar atau masih kecil akutuuu Bun? haha makes sense yaa.

Baca hal tsb bikin gue mengganti kalimat sounding jadi “kalau sudah ulangtahun, tiup lilin, jadi umur 2 tahun sudah anak-anak, gak mimi Bunda lagi yaa. Mimi itu untuk bayi…“. Sesuai kenyataan, tapi masih gampang dicerna oleh Kakak. Dan supaya Kakak mengerti kalau Adik nya masih bayi, jadi harus mimi. Seringkali kami tambahin dengan “wahh Kakak bisa minum yang enak-enak banyak sekali yaa: susu kotak, teh manis, yakult, eskrim. kalau Adik cuma bisa mimi Bunda, belum bisa minum yang lain…” supaya Kakak gak cemburu karena Adiknya boleh mimi. Terus-menerus kami (seluruh penghuni rumah) lakukan sounding tsb di setiap kesempatan.

Sampai di hari-H ulangtahunnya, kami sengaja siapin dekorasi dan acara kecil sekeluarga lengkap dengan kue dan tiup lilin, supaya dia ngeh bahwa ini lhooo hari ulangtahun dan tiup lilin yang selama ini dibilang.

Apakah setelah tiup lilin doi langsung lupa mimi? Ha-ha-ha tentu tidaaak sahabat.

Tapi kami tunjukkan kalau kami konsisten, gak mimi lagi setelah ulangtahun. Seminggu pertama setiap mau bobo siang dan malam selalu drama. Nangis dan tantrum minta mimi. Tapi seperti kata Bu Damar, anak cuma cari kenyamanan. Alhasil setiap mau bobo, meskipun lagi tantrum, dengan dia berontak sekalipun, gue selalu peluk dia. Makin meronta, makin gue peluk. Sambil usap-usap dan sounding lagi. Sampai anaknya tidur. Lebih drama lagi saat anaknya kebangun tengah malam minta mimi. Tantrum tengah malam wes biyasaaa. Seringkali Ayah yang prihatin minta gue untuk pakai plester aja, bilang mimi Bunda sakit. Tapi gue tolak. There’s no shortcut. Gue gak mau bohong, gue ikuti aja alurnya sampai Kakak siap.

Kedua, kata Bu Damar, buat keteraturan baru utk gantiin mimi sebelum bobo. Mencari nya pun berproses sekali, kami amati setiap hari baiknya gimana. Pertama, kami mundurkan jam makan malam nya dan biasakan minum susu dulu supaya sebelum bobo perutnya kenyang, jadi Kakak gak terbangun tengah malam. Kedua, supaya gak tantrum terus saat mau bobo, kami relakan untuk screen time. Demi kewarasan bersama. Ketiga, perlahan berusaha ganti screen time dengan baca buku sebelum bobo. Awalnya cuma mengurangi waktu screen time, lama-lama bisa no screen time before sleep anymore. Alhamdulillah saat ini, 1.5 bulan kemudian, Kakak bisa bobo cuma dengan main dan baca buku sebelumnya, dan tetap minta dipeluk Bunda, Nenek, atau Ayah.

Aftermath

Alhamdulillah setelah menyapih, kami alihkan Kakak biar lebih banyak makan, ngemil, dan tetap minum susu tambahan. Sekarang Kakak juga lebih fleksibel bobo sama siapa aja yang dia mau, kadang sama Nenek, kadang sama Ayah sleepover di rumah sepupunya, walaupun tengah malam pasti bangun minta peluk Bunda. Terimakasih, Kakak, sudah berbesar hati disapih. Masyaallah Tabarakallah. Kita harus yakin ya, Kak, kalau Allah sudah bilang dua tahun, pasti ada hikmah dibaliknya, walau berat dan sedih. Terimakasih Ya Allah, kami diberi kesempatan mengASIhi bersama selama dua tahun ini. It was a rollercoaster yet beautiful journey for us. Semoga Adik bayi diberi rezeki yang sama, bisa dikASIhi selama dua tahun juga sesuai perintah Allah Ta’ala. Insyaallah. Aamiin.

Resolusi 2020

Glowing. Se-glowing Dinar Amanda. haha

Sekian dan terima SKII.

dan lulus D4 juga deng. Aamiin. Mohon doanya semuaaa.

Punya toddler plus newborn bikin skincare regime gue rombak total. Mana ada waktu buat 10 step skincare lha wong mandi aja ditangisin haha Akhirnya move on ke skipcare aja. Lagi booming juga di Koreya sana katanya.

Ada 2 produk andalan gue saat ini. Pertama, Blithe 8 seeds nourishing beans hasil diskonan di CnF berhubung harga normalnya mayan pricey. Tapi awet kok ini 3 bulan masih sisa seperempat. Ini bisa sebagai hydrating toner sekaligus essence. Gak cuma melembabkan tapi juga mengandung antioksidan dan untuk anti aging. Tinggal di tutup moisturizer and voilaaa~ kulit termaintain dengan baik. Miluuuv.

Kedua, Laneige cream skin refiner versi mini 50ml. Aslinya ini hydrating toner sekaligus moisturizer. Sayangnya gue kurang suka kalo dia dipake sendirian, akhirnya tetep timpa moisturizer lagi, atau kalau agak santai di layer Blithe setelahnya baru terakhir ditutup moisturizer. Done.

Moisturizer andalan saat ini gue pakai Make Prem Safe me relieve, yang simpel banget cuma 12 ingredients sajaa versi sampel size jadi tetap murce #mamaekonomis. Tentuu atas rekomendasi nya mbak Dinar Amanda panutanqu haha

Jangan lupa tetep exfoliate seminggu sekali dan pake sunscreen

A decade recap!

2010 : lulus SMA melepas salah satu masa termenyenangkan dlm hidup haha Berhasil lulus PTN idaman but plot twist nya akhirnya masuk kampus kedinasan. Its okay gapapa udah jalannya :”

2011 : adaptasi di kampus baru, masa galau love life dan pengen punya mesin waktu balik SMA lg hiks rindu serindu rindunya sama temen2 SMA level sampe males bergaul sm temen kampus. Hidup datar tyda bergairah wqwq

2012 : mulai move on dan berteman. There’s always 1st time for everything dan memulai ((karir)) sebagai tutor anak sekolah dan anak saman kampus. ((One of)) the time when I feel content the most in my life, doing something that I love. Pagi ngampus, siang sore ngajar, malem latian saman, repeat! Bisa produktif dan pencapaian IP tertinggi gue saat itu.

2013 : tahun terakhir di kampus, PKL di Bekasi, lulus AMd. Magang di oil company sampe akhir taun. Gaji kecil tapi dapet ilmu baru. Masih ngajar jugaa. My very first mountain with someone that I never knew would be my future husband.

2014 : Masa tunggu penempatan. Sesuai rencana awal, magang di KAP 4 bulan lanjut ngajar bimbel sampai penempatan. Masih ngajar privat juga. Kumpulin uang buat masa OJT yang mizqueen haha sambil traveling tipis tipis. Penempatan di instansi dan kantor gue yg sekarang.

2015 : diklat diklat diklat. Sampai gosong hitam legam haha sampai pulang diklat udah balik kulit semula pada pangling. Dikira gue suntik putih kali ah. Rapelan, sejenak foya foya, terus gone haha

2016 : Udah PNS. My first trip abroad. Tetiba dilamar pas udah pasrah. Meniqa.

2017 : Japan trip for honeymoon part kesekian. Pulang pulang hamil alhamdulillah

2018 : Lahiran anak pintar dan cantik. Rollercoaster menjalani peran sbg ibu baru. Back to school, lanjut D4, which later I regret a bit karena challenging luar biasa haha Korea trip with baby

2019 : Dikasi amanah hamil anak kedua saat kakaknya baru 15 bulan haha Everything happen for a reason, we believe. Mulai susun skripsi. Melahirkan di akhir taun, a healthy baby boy masyaallah.

Pengaturan Kelahiran

Well, gue sampai pada kesimpulan kalau pengaturan jarak kelahiran itu penting banget dan Suami yang gak mendukung istrinya buat KB tuh bullsyit. Iyalah bullshyit, yang hamil dan kesakitan lahiran kitaaa, yg begadang kitaa, yg repot ya kita kita inilah perempuan. I learned the hard way, kalau perempuan tuh harus bisa stand up for ourselves in every way, termasuk untuk hal ini. Makanya gue langsung pasang IUD pas melahirkan kemarin tanpa kompromi dulu hahaha tapi denger testimoni banyak yg jebol juga walau pake IUD bikin gue mulai mempertimbangkan buat steril aja. Saat ini masih tahap ngumpulin info karena sifatnya permanen kan, etapi segenap jiwa raga gue udah ga sanggup juga sih kalo kudu hamidun dan ngurusin orok lg di masa depan hahaha jadi sepertinya bukan masalah ya. Nanti deh di update lagi jadinya gimana 😁

Life Today

Well… hampir sebulan berjibaku menjadi Ibu buat dua anak, rasanya kewarasan gue mulai terganggu hahaha Judge me then karena punya anak jaraknya kedeketan~ kayak komentar orang orang sok ikrib diluar sana.

Sesungguhnya gue fully aware kalo ini gak akan mudah, baik buat gue maupun si Kakak. Gue udah meng-set ekspektasi gue ke titik terendah dan kesabaran gue ke titik maksimal yg gue bisa. Cuma tetep aja, most of the time, si Kakak terus-terusan bikin emaknya bertanduk. Salah gue dulu gak sapih si Kakak, karena gak tega dan gak tahan ditangisin mulu minta mimik dan sekarang jd boomerang buat gue. Sekarang masalah mimik ini yg nangis dua orang, si Kakak plus adeknya. Plus gue. Mati gak Haha

Gue sudah mengupayakan dr awal menyiapkan support system buat si Kakak, ada Mamak pengasuh, nyokap yg gue booking selama sebulan plus plus, ayahnya yg siap siaga, tp tetep aja setiap hari ga bisa kalo gak drama huft buntutnya gue selalu berakhir marah marah (kadang sampai kelewatan, I know) dan nyesel kemudian. Setiap hari kepala gue mau pecah, not to mention gue juga masih harus bagi waktu buat nyelesaiin skripsi yang deadline nya tinggal 3 minggu lg. Gatau lah~ mukjizat rasanya kl gue bisa lulus nanti.

Mungkin separuh drama baru bakal berakhir kalo si Kakak udh berhasil disapih (which is need for another miracle hiks), ntah gimana caranya. Itupun kalo kalian gak duluan liat headline news seorang ibu dua anak ditemukan pecah kepalanya akibat beratnya beban hidup duniawi hahaha Rasanya pengen fast forward ke 17 tahun mendatang dimana dua anak ini bakal pergi merantau kuliah entah kemana dan gue bisa dengan zhantayyy leyeh leyeh di kasur tanpa digelendotin dan ditangisin.

By the way, Happy Mother’s Day, everyone.

Sorry to say, anak anaku, I’m not malaikat-tanpa-sayap kinda mom that the poems tell you so. Sabar is never been my forte. Your mom is ordinary human being. But I’ll try my best, kiddos, and will always do.

DIA ANAK LAKI-LAKI KAMI

Alhamdulillah setelah 38++ minggu, anak kedua kami launching ke duniaaa. Masih santuy aja Bapak-Ibuknya soalnya perkiraan lahir masih awal Desember, ternyata oh ternyataaa, bulan November belum juga habis, dek bayi udah pengen keluar ajaa, padahal Ayahnya udah nyiapin nama yg ada “Des” nya, gagal deh hahaha Alhasil sampai h+4 lahiran namanya belum fix juga.

Sejak menuju 9 bulan, jadwal kontrol dsog mulai satu minggu sekali, tapi si Ayah lagi sibuuuk sekali kerjaan kantornya jadi kami baru sempat ke dokter 2 minggu kemudian pas 38 weeks. Eh ternyataaa, dokternya cuti dong, sampai waktu yang belum ditentukan huaaa. Mana beliau satu-satunya dokter perempuan pulak di RS tsb. Galau dong yaa~ ini anak udah bisa brojol kapan aja, masa ganti dokter lagi, kalopun mau di RS yang sama pilihan sisanya cuma dokter laki-laki yang mana gue ga sreg. Pilihan terdekat lainnya ada klinik bersalin, cuma kami prefer melahirkan di RS karena pasti ada NICU nya *naudzubillah* persiapan kalo dibutuhkan. Akhirnya kami kontak Bu dokter untuk konfirmasi cutinya sampai kapan. Ternyata Beliau SIP nya habis dan masih diurus, dan minggu depan udah jadi dan bisa praktek lagi. Alhamdulillah masih rejekinya adek bayi lahiran sama Bu dokter hihi

Selasa, 26 November 2019

Akhirnya bu dokter udah mulai praktek dan kami pun kontrol seperti biasa. USG dan cek dalam untuk ngeliat udah ada bukaan atau belum. Hasilnya alhamdulillah semuanya bagus, mulut rahim juga sudah melunak dan kemungkinan berhasilnya tinggi kalau ternyata gak mules-mules dan harus diinduksi. Jenis kelamin masih sama seperti USG sebelum-sebelumnya, dan BB janin alhamdulillah udah naik jadi hampir 3 kilo.

Rabu. 27 November 2019

Pak Suami shift sore dan baru sampai rumah jam 1 pagi. Gue kebangun seperti biasaa untuk nyempetin ngobrol, Pak Suami terus lanjut tidur sedangkan gue kok mulai merasakan sensasi mules dikiit. Alhasil gue download aplikasi timer kontraksi dan mulai catat waktu kontraksi. Dalam hati sih masih mengira ah paling cuma kontraksi palsu aja ini, secara hpl masih jauh. Walaupun interval nya masih panjang dan durasinya cuma sebentar, ternyata mulesnya berlanjuuut sampai pagi bikin gue gabisa tidur pules lagi.

Begitu Pak Suami bangun, gue langsung laporan kalo daritadi udah ada mules. Pak Suami langsung panik haha secara masih banyak to-do-list yang belum dilakuin sebelum bayiknya lahir. Belom beli kasur, belom servis mobil, belom cukur rambut #yhaa dsb.

Akhirnya kami siap siap makan siang diluar (gue ngidam pizza haha) dan lanjut cari kasur dan servis mobil. Selama diluar itu mulesnya masih berlanjuut, kadang makin intens, kadang hilang, dan andalan gue cuma atur nafas aja ala prenatal yoga. Agak amsyong juga mules begitu sambil jagain toddler, apalagi pas anaknya minta pangku atau minta mimik yang mana mancing kontraksinya makin intens huhu Thanks to Pak Suami yang banyak ambil alih si Kakak selama gue mules.

Sampe rumah jam 4 sore dan waktunya Suami pergi kerja. Saat itu kontraksinya menghilang, jadi gue dengan pedenya nyuruh Pak Suami ngantor ajaa, tapi beliau yang gak pede ninggal istrinya takut mulesnya datang lagi haha akhirnya kontak Bu dokter lagi cerita kalo udah mules, dan malah ditelfon suruh langsung ke RS haha Setelah diskusi sama Suami, kami mutusin utk gak ke RS dulu, secara mulesnya lagi hilang dan gue takut malah nanti harus induksi segala kalo kelamaan nunggu di RS, padahal kan hpl masih lama.

Pak Suami akhirnya gajadi ngantor dan pamit keluar utk cukur rambut. Nah saat itu kontraksi mulai datang lagi dan makin intens. Gue rebahan miring kiri, hitung waktu kontraksi sambil denger afirmasi dari aplikasi Bidankita, dan puter lagunya Andien yang Belahan Jantungku hiks bikin relaks sekaligus mellow. Berusaha praktekin senyum saat kontraksi karena katanya mulut rahim jadi rileks dan melunak saat kita senyum 😀

Lepas maghrib Pak Suami sampai rumah lagi dan ternyata dia beliin gymball (punya gue mendadak bocor), sampai chat owner tokonya minta digojekin sekarang juga istrinya mau lahiran, untungnya ownernya baik bgt mau usahain cari kurirnya haha Alhamdulillah gymballnya datang di saat yg tepat :”

Jam 7 malam gue kelaperan dan pengen nge-gofood nasi gila. Akhirnya melalui kontraksi sambil main gymball (gerakannya liat yutub aja hha), disuapin nasi gila sama Suami, sambil ditemenin si Kakak yang lagi nonton Rarra.

Gue saat itu berfikir ah nanti ajalah jam 10 malam ke RS nya supaya tidur di RS aja, daripada misal tengah malam mules di rumah malah rempong. Ternyata Pak Suami ngajak habis makan aja langsung ke RS biar ga kemalaman. Akhirnya setelah beres makan dan siap-siap, jam 9 malam kami ke RS. Mellow bgt saat itu karena pertama kalinya gue selama 22 bulan umurnya ini gak tidur malam bareng si Kakak huhu Udah khawatir bgt dia akan nyariin Bunda dan mimiknya, tapi Alhamdulillah ternyata si Kakak pinter dan anteng bgt walau kami tinggal :”””

Selama di perjalanan mulesnya makin intens, dan gue ngantuk beraat, dari subuh tadi gabisa tidur pules karena kontraksi, dan di mobil entah gimana bisa pewe sekali sampai ketiduran haha

Sampai di RS, langsung masuk via IGD, di cek ini-itu, di infus, dan ternyata Alhamdulillah udah bukaan 4. Gue dipindah ke ruang bersalin, di kasur yg persis sama saat gue lahiran si Kakak haha Beda sama waktu lahiran Kakak yang gue dipijit Pak Suami supaya mules, kali ini gue menolak dipijit soalnya udah mules bgt dan dipijit bikin mulesnya makin ga santay haha jadilah Pak Suami dibejek-bejek aja selama kontraksi 😂

Bidan minta gue panggil mereka kalau merasa mules kayak mau pup, karena riwayat lahiran anak pertama yg termasuk cepat. Sialnya gue hari itu belum pup jadi galau sendiri ini mulesnya dalam rangka mau lahir atau emang krn belum pup seharian aja 😂 akhirnya gue minta Suami panggil Bidan dan setelah dicek ternyata udah bukaan 7.

Gue pun dipindah lagi ke ruangan untuk lahiran dan disana, seperti waktu lahiran Kakak, setelah bukaan 7 tuh rasanya udah luarbiasaa gak tahan. Ada dorongan ngeden tapi gak boleh ngeden karena bisa bikin ketuban pecah, malah diminta tarik nafas panjang aja huuuuft Buyar deh cita-cita mau lahiran cantik dan ngeden dengan senyuman ala gentle birth, yang keluar malah teriakan haha dan bener aja, padahal udah ditahan sekuat tenaga tapi tetep gak kuat dan alhasil pyaarrrr pecahlah ketuban gue. Panik bgt saat itu. Bidan cek bukaan lagi alhamdulillah bukaan lengkap, dan perlengkapan lahiran pun disiapkan. Saat itu Bu dokter belum ada dan Bidan udah minta ijin sama Pak Suami utk dibantu lahir sama dokter jaga aja. Untungnya pas lagi siap-siap, Bu dokter datang masih pakai kaos rumah hahaha kami pun kena omel karena tadi sore ngeyel gak ke RS dan sekarang ngerjain dokternya tengah malem mau brojol 😂

Kali ini ntah kenapa lebih deg degan daripada yg pertama. Masih bisa ngeden gak ya gue… masih inget caranya ga ya… Salah sendiri sih gak sempet ikut senam hamil buat belajar ngeden haha Alhamdulillah gak lama kemudian adek bayi berhasil lahir dengan selamat, dilanjut dgn prosesi diadzani dan IMD 😍 Rasanya kayak mimpi waktu ngeden, waktu ngeliat bayi yg baru keluar dari perut, waktu IMD… jadi flashback kayak mimpi juga saat mendapati dua garis di testpack menandai ada amanah baru buat kami, saat USG pertama, dan rasanya those 9 months of pregnancy sprinted… buat we are blessed and forever grateful ❤

Dia anak kedua kami.

Dia anak laki -laki kami.

Syukur, arti namamu.

Bukan hanya supaya kamu jadi manusia yang pandai bersyukur,

tapi juga sebagai pengingat

untukmu, mereka, dan terutama untuk kami

Ayah, Bunda, dan Kakak

bahwa waktu-Nya selalu tepat

dan selamanya kami bersyukur punya kamu.

Design a site like this with WordPress.com
Get started