oh, Demak….
Sekian lama merantau untuk menuntut ilmu, pastilah telah membuat hati ini mengalami kerinduan yang sangat pada kampung halamanku, Demak, sebuah kota kecil di jawa tengah. Boleh jadi kerinduan ku untuk pulang, terutama bukannya kerinduan kepada Demak sebagai sebuah kota, namun lebih karena disana ada keluarga, kedua orang tua yang aku cintai, dimana mengabdi kepada kedua orang tua adalah suatu hal yang sangat penting untuk diutamakan. Ini bukannya masalah anak kecil yang kangen kepada orang tua karena telah ditinggal lama, tapi lebih pada keinginanku untuk benar – benar melaksanakan kewajibanku sebagai seorang anak, untuk birrul walidain tentunya. Semoga saja aku benar – benar bisa memenuhi hak orang tuaku atas diri ini sebelum malaikat maut menjemput.
Tetapi, bukan berarti hanya kesenangan ataupun kebanggaan saja yang kurasakan ketika pulang ke Demak. Meskipun ada kebaikan – kebaikan yang berhasil aku raih, toh itu bukan hal yang terlalu istimewa, apalagi pantas untuk dibanggakan. Ya, hal ini berhubungan dengan Demak, sebagai sebuah kota yang boleh jadi aku cukup sedih dengan kondisinya saat ini. Kondisi yang aku maksudkan adalah mengenai kondisi keberagamaan, perekonomian, maupun perilaku dan pemikiran masyarakatnya secara umum. Aku merasa tidak banyak kemajuan yang telah diraih di Demak. Kejumudan yang masih dimiliki oleh sebagian besar masyarakat, yaitu dengan mengedepankan taqlid yang berlebihan pada para kyiai, menurutku membuat kondisi keislaman masyarakat dipenuhi dengan kebid’ahan. Ya, sebagaimana banyak kota – kota lain di jawa yang masih kental dengan tradisi jawa, maka ritual islam yang dilakukan benar – benar sulit dibedakan dengan pelaksanaan tradisi yang notabene dihasilkan dari budaya hidu -budha, bahkan animisme dinamisme. Menurutku masalah – masalah yang lain, seperti masalah ekonomi, akan sangat sulit diselesikan jika kondisi keislaman masyarakat tidak diperbaiki dulu. Tentu saja, bagaimana kita akan mendapat keridhoan Allah jika tindakan kita tidak sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.
Sepengatahuanku, kondisi seperti ini mungkin tidak hanya terjadi di Demak saja, tetapi tentu demak memiliki arti tersendiri bagiku. Tentu saja karena disitulah kampung halamanku, yang mana aku bertanggung jawab juga terhadap kemaksiatan – kemaksiatan yang terjadi kecuali aku telah melakukan nahi mungkar sebagai kewajibanku. Hal inilah yang banyak menjadi beban pikiranku. Aku belum bisa berbuat banyak, bahkan untuk kebaikan kampung halamanku sendiri, sebuah kota kecil di ujung jawa tengah. Sebagai seorang mahasiswa, aku mempunyai tanggung jawab yang besar. Ilmu yang telah aku pelajari, dan seluruh pengalaman yang telah didapat seharusnya bisa aku amalkan, sehingga menjadi hal yang bermanfaat, dan semoga bisa menjadi hujjahku ketika aku harus mempertanggung jawabkan hidupku di hadapan Allah Subhanallahu Wa Ta’ala, Tuhan Yang Maha Adil.
Apakah ITB masih jadi Institut Terbaik Bangsa?
Sebuah kebanggaan tentu saja dapat kuliah di ITB, yang katanya kampus yang paling top di Indonesia. Tapi sebenarnya apa sih kriteria untuk mengukur kualitas suatu lembaga pendidikan? Sebagai sebuah sistem, boleh jadi kita melihat dari kualitas input, proses, atau outputnya. Secara ideal, aku beranggapan ketiga hal tersebut harus digunakan secara paralel untuk menilai kualitas suatu institusi, dalam hal ini ITB.
Dari segi input mahasiswa yang didapat, sampai saat ini aku masih yakin kalau ITB mempunyai kualitas masukan diatas rata – rata, ya sebagian dari mereka boleh jadi adalah siswa siswi terbaik di daerahnya. Tapi apalah arti sebuah input yang berkualitas jika tidak diiringi dengan proses yang baik. Aku belum bisa mengatakan kalau proses yang terjadi di ITB, termasuk keseluruhan penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh pihak rektorat termasuk dalam kategori baik atau buruk. Sulit bagiku mengatakan kalau pembelajaran di ITB sudah optimal, ataupun sebaliknya, karena aku sendiri kurang mengetahui keadaan kampus lain. Tanpa adanya perbandingan yang akurat, penilaianku mungkin hanya bersifat subjektif saja. Namun, yang menyedihkan adalah minimnya perlombaan yang dimenangi oleh mahasiswa ITB. Dimana hal ini, menjadikanku berpikir bahwa ada yang salah dengan sistem di ITB. Jadi paling jelas akan terlihat ketika kita melihat kualitas output yang dihasilkan, yaitu bagaimana kiprah alumninya di dunianya masing – masing. Nah, boleh jadi ITB cukup berbangga karena tidak sedikit lulusan ITB yang telah berperan dalam pembangunan di Indonesia. Namun, lagi lagi hal itu bisa jadi hanya kebanggaan semu karena itu sudah berlangsung beberapa tahun atau mungkin puluhan tahun yang lalu. Alumni ITB saat ini menurutku belum menunjukkan kualitas yang terbaik.
Yah, itu baru beberapa hal yang aku rasakan karena aku merasa masih sangat banyak potensi yang dimiliki oleh ITB, baik mahasiswa, fasilitas, maupun keseluruhan isi sistem di dalamnya yang belum dioptimalkan. Semoga saja hal itu dapat menjadi pelecut semangatku untuk berusaha lebih baik lagi, berjuang lebih keras lagi untuk mendayagunakan seluruh kemampuan yang ada karena seluruh potensi yang ada sebenarnya adalah amanah, sehingga memanfaatkannya adalah kewajiban dan termasuk ungkapan rasa syukur kita kepada Allah SWT.
Menjadi yang Terbaik
Selama ini aku seringkali bingung ketika ditanya , “Mau jadi apa ntar kalo lulus?” wah suatu pertanyaan yang sangat umum dan sering ditanyakan, tapi tetep saja sering ragu dalam menjawab. Bahkan sampai saat ini pun aku belum bisa memastikan ingin jadi apa aku nanti, hehe.. Tapi yang jelas, sejak dulu aku mempunyai prinsip kalau aku ingin menjadi yang terbaik yang aku bisa lakukan.
Ya, menjadi yang terbaik.. suatu harapan yang menurutku diinginkan oleh setiap orang (wajar, tentu saja) dan aku beranggapan kalo semua manusia juga bisa menjadi yang terbaik. Aku sendiri sudah cukup bangga jika aku bisa melakukan usaha yang optimal dalam setiap hal yang kulakukan. Namun, tidak bisa kupungkiri kalo aku juga seringkali merasa bahwa aku harus lebih baik dari yang lain, terbaik di lingkunganku, dsb. Hal tersebut memang memberikan suatu dorongan semangat tersendiri bagiku, tapi tidak jarang juga hal itu sering menyesakkan ketika aku mengalami kegagalan atau melakukan kesalahan yang tidak perlu. Jadi, aku akan selalu berusaha untuk menjadi yang terbaik meskipun secara hasil ada orang lain yang jauh lebih baik pencapaiannya dari apa yang sudah aku dapatkan. Cukuplah bagiku mengeluarkan usaha yang optimal, dimana hal ini pun masih sering belum dapat kulakukan..