Pembuatan E-Passport Kantor Imigrasi Jakarta Selatan

Angkat topi, salam takzim dan hormat gw untuk petugas imigrasi Kelas I Jakarta Selatan yang membantu proses perpanjangan passport hari ini. Mulai dari bapak parkir, bapak Antrian, kobapak sortir data sebelum ambil nomor, bapak fotokopi, bapak penyuluhan pengisian formulir, bapak counter 6 (Pak Paudan dan Pak Putu) serta ibu pusat informasi lt. 1, mereka adalah orang yang masuk dalam scene pembuatan passport gw dari pukul 5:55-7:02 WIB.

Berbekal semua dokumen asli: KTP, Ijazah, Kartu Keluarga dan passport lama yang akan habis masa berlakunya, sesampai di Kantor Imigrasi Jakarta Selatan pukul 5:55 wib tukang parkir mengarahkan pergi ke sisi kanan gedung untuk menunggu pelayanan di kantor dibuka. Di sana telah disediakan kursi yang hampir penuh terisi. 5 menit duduk, bapak yang ramah dan informatif ini memberitahukan bahwa hari Selasa dan Jumat adalah “morning service” kantor Imigrasi Jaksel yang artinya pelayanan pembuatan passport dilayani mulai dari pukul 6 pagi. Yay!

Tepat pukul 6, kami dipersilakan masuk ke gedung utama di lantai 2 . Ada dua petugas yang memeriksa data pemohon pembuatan passport memastikan dokumen pemohon memenuhi syarat dan lengkap untuk diproses lebih lanjut. Setelah lolos seleksi adm kemudian bergeser ke “counter” lain untuk mengambil nomor antrian. Jangan lupa menginformasikan jenis pelayanan yang diambil e-passport/passport biasa dan online atau walk-in. Selain map kuning berlogo, selembar kecil nomor antrian, dan formulir pengiriman passport, pastikan tulisan e-passport tertempel di formulir permohonan yang akan diisi, itu jika pilihan passport yang dibikin adalah “e-passport”

Alhamdulillah kantor ini menyediakan pelayanan jasa fotokopi dokumen, sangat membantu pemohon kayak gw yang ga sempat fotokopi dokumen persyaratan. semua dokumen dengan kertas ukuran A4 (termasuk ktp). Rp.2.000 untuk 4 lembar dokumen.

Sembari menunggu antrian foto kopi, tiba-tiba ada petugas “bermic” yang mengucapkan salam penuh semangat. Bapak ini adalah petugas penyuluhan pengisian formulir permohonan dan formulir pengiriman passport. Bapak ini dengan sabar mengarahkan cara pengisian formulir 1 lembar tersebut. Cuma keterangan pribadi yang harus diiisi seperti: nama, TTL, alamat, no ktp, nama orang tua/suami, pekerjaan. Sementara formulir pengiriman passport harus mencatumkan nama penerima passport yang akan dikirim jika passport telah selesai. Kecuali dengan alasan yang kuat, passport bisa diambil di kantor Imigrasi.
Cukup 15 menit si Bapak menerangkan cara pengisian, beliau berkeliling dan menghampiri pemohon yang bertanya hal teknis. Sabar sekali. Ah benar-benar melayani.

Di layar ruang tunggu akan kelihatan proses antrian. Nomor yang terpanggil dan kounter yang sedang diproses. Nomor antrian dibagi menjadi 3 “counter”. “Counter” 1 untuk pemohon prioritas yaitu yang usia sepuh dan ibu hamil. Eh tapi kenapa ibu menyusui ga masuk yah?. Sementara menunggu untuk diwawancara dan difoto pastikan bahwa muka udah agak kece dikit, ga bau bantal karena subuh-subuh udah sampai sana. Hehehe. Bedakan atau lipstikan dikit karena kamera mereka bukan kamera hp yg dilengkapi beauty selfie *yakali yah*

Pukul 6:48 nomor saya, 02-019 dipanggil. Ih cepet bener yah. di kounter nomor 6 tersebut ada 2 petugas yang menginput data ke sistem, sambil basa basi nanya sedikit mau kemana dan nama tempat lahir gw yanh unik menurut si bapak. 5 menit kemudian gw dipersilakan bergeser ke meja petugas yang mengambil sidik jari dan foto. Andai foto bisa diulang berkali-kali kayak ambil sidik jari karena ga kebaca mesin. Sekali cetek jadi. 😂 Sebenarnya bisa minta ulang kali yah, cuma yah gw ga ngerasa perlu karena hasilnya bakal sama selain juga akan menambah lama antrian. Rasanya sepuluh menit kelar. Akhirnya keluarlah tanda bukti pembayaran dilakukan. Bisa melalui bank mana saja. Si petugas menyarankan setor teller tapi gw coba via atm BNI dengan bantuan ibuk pusat informasi tinggal pilih mutasi setor penerimaan negara/pajak dan masukkan 15 digit kode bayar MPN G2, persis diataa barcode.
Setelah struk bayar diterima, tidak perlu balik ke petugas. Cukup simpan bukti bayar dan tunggu passport sampai di rumah dalam jangka waktu 3-4 hari untuk passport biasa dan 6-7 hari untuk e-passport.

Sesederhana dan semudah itu. Padahal udah pakai deg-degan dan mules mikirin dokumennya bakal diterima atau ga, karena biasanya pakai akte kelahiran bukan ijazah. Dan ga ada juga petugas yang marah, jutek nyebelin pengen diuyel-uyel.semua yanh saya temui dalam kondisi memberikan pelayan terbaik termasuk si mbak toiletnya. Ah menyenangkan. Kudos!. Keep up the good work bapak- bapak dan ibuk2 petugas imigrasi Jakarta Selatan. Gw bangga dengan kinerja kalian. Xoxo

Kuliner Aceh, Tidak Hanya Mie Aceh

Berikut kuliner disela dinas kantor selama 2 hari pertama di Banda Aceh.
Siang setelah waktu zuhur, Kami diajak makan mie aceh Razali di daerah Peunayon.  Saya memilih mie Goreng Basah, 10k dan jus timun yang awalnya saya kira mentimun kerok. 

image

Saya mengharapkan rasa khas aceh yang kuat tapi ternyata mie aceh ini rasanya cukup “ringan”. Untuk yang biasa makan mie aceh Seulawah atau Meutia (sekarang sudah tidak ada) Benhil, Jakarta, siap-siap menemukan rasa beda yang cukup signifikan.
Walau yang saya pesan adalah mie goreng basah biasa, namun rasa amis sempat tercium. Saya duga pesanan saya dimasak setelah mie seafood pesanan teman-teman-teman saya.

image

sate matang

Malam harinya,Sate Matang menjadi pilihan menu makan malam. Sate kambing yang dulunya berasal dr sate jualan gerobak ini selalu ramai dikunjungi oleh masyarakat setempat. Saya suka dengan bumbu kacang, bumbu utama sate yang lebih mirip kuah dibanding saus. Kacang ditumbuk tidak terlalu halus sehingga tekstur kacang masih terlihat jelas. Sajian sate kambing disajikan  dengan nasi dan kuah berbumbu yang juga terasa cita rasa kambingnya.  Jangan jika pesanan sate kambing satu porsi tidak habis karena kita hanya ditagih sebesar tusuk sate yang kita makan. Cita rasa satenya sendiri yang saya suka adalah bau kambing yang tidak tercium. Jarang yang bisa memasak kambing tanpa harus meninggalkan bau kambingnya. Namun sayang, beberapa kali saya menggigit potongan daging kamb

image

ing sa

ya kur

ang ma

sate kambing,  kue kaldu kambing dan bumbu kacang.

Esok hari, makan siang kami memilih makan di Rumah Makan Ayam Pramugari yang berlokasi tidak jauh dari bandara. Nama RM ini sendiri konon katanya dinamai karena seringnya tempat ini dikunjungi oleh pramugari. Yang istimewa adalah ayam kampung yang disajikan lengkap dengan daun ini adalah dimasak ketika dipesan. Ayam yang sebenarnya mirip dengan ayam tangkap ini memiliki potongan yang lebih besar dibanding dengan ayam tangkap yang dipotong lebih kecil, one bite.  Saya lebih menikmati ayam tangkap dibanding ayam pramugarinya sendiri, walau cita rasanya tidak berbeda karena sama-sama disajikan dengan daun kari, pandan dan cabe hijau goreng. Saya senang memakan daun kari goreng yang dominan menutupi ayam goreng ini. Untuk cocolan, sebagai ganti sambal, disajikan dalam piring kecil irisan bawang merah, cabe rawit yang puedesnya, war bias

image

ak!, sert

a potonga

ayam pramugari satu porsi isi 4 potong. 2 paha 2 dada lengkap dengan lehernya.

Berbeda dengan ayam pramugari, ayam tangkap yang dipotong lebih kecil dan dihargai langsung satu porsi begitu dipesan, maka ayam pramugari akan dihitung sejumlah potongan yang dimakan.

Menu lain yang disajikan di sini adalah gulai kambing dengan santan yang sangat encer dicampur dengan labu dan nangka. Ingin makan bersantan tapi ga terlalu bersantan #apeu bisa jadi pilihan.

Rumah makan ini istimewa karena meski berada jauh dari pusat kota namun sangat dikunjungi. Beberapa mobil sudah berjejer rapi pada saat makan siang. Mungkin karena memang cita rasa yang enak, kalo saya sendiri view sawah di sekitar

image

nya menjadi

makan es kerok mentimun, pepaya dan cincau dengan view bukit dan sawah, I cant resist. 

Malam hari kedua, kami diajak makan di Canai Mamak KL. Tempat makan yang bernuansa nyaman. Nasi mamak ayam goreng sebenarnya adalah nasi kuning dan ayam goreng, yang sedikit beda adalah rasa kari begitu mengunyah nasi kuning tersebut.  Ringan, ga lebay.

Jika beberapa teman saya memilih canai kari ayam, maka saya memilih planta srikaya. Saya suka canai, saya pecinta srikaya.  Saya tidk bisa tidak memesan Ketika ada menu canai berjudul “planta”. Planta sebenernya canai tapi dengan isian rasa manis.
Planta srikaya yang saya pesan,  enak

image

planta: canai dengan topping manis. Di gambar ini planta isi srikaya.  Must try!

Serikaya Telur Padang RM Sari Indah

image

Tidak seperti kebanyakan  srikaya telur padang, srikaya RM. Sari Indah dikemas dalam mangkok beling yang mungil, manis.seperti menyesuaikan dengan porsi yang sekali dua kali sendok habis. 

Dan baru kali ini saya menemukan srikaya berwana pandan. Warna ini seperti mematikan pakem warna srikaya yang selalu, well, nyaris selalu, berwarna gula palem, salah satu bahan dasar srikarya telur.

Despite ukuran yang kecil dan warnanya yang ga biasa, saya cukup senang dengan tekstur dan kelembutan srikaya.  Dan untuk ukuran perempuan,  menikmati pencuci mulut asal sumatra barat ini menjadi ga merasa dosa-dosa amat.

resep: Sunrise

Gw terbilang sangat suka dengan cincau. Tapi demi melihat bagaimana cincau (yang belum diolah jd minuman) tersaji diatas meja para penjual camilan di pasar deket rumah membuat 100 kali 10 untuk membeli jajanan dr abang-abang gerobak,kecuali kefefet kepengen sangat. 

 
Salah satu paling aman makan cincau ditempat yang terlihat dijamin bersihnya alias beli di restoran atau salah duanya bikin sendiri, eh bukan bikin cincaunya sih. Tapi bikin minuman yang bercincau yang cincaunya beli sendiri dari tempat yang kita yakin bersihnya, di supermarket gitu.
Paling banter bikin cincau itu yah cemplung2 aja di dalam air yang sudah manis atau nutrisari misalnya.
Nah, bbrp hari lalu untuk kedua kalinya minum ‘sunset’ di food louver grand indonesia. Jus buah mangga yang di taburi jelly dan cincau. That’s it. Mangganya kental dan ga terlalu mencolok manisnya.

2 hari ini setelah sukses dengan sengaja  beli cincau kotak di total fresh, akhirnya coba-coba ikut bikin sunset, meraba2 aja.
Karena mangganya cuma tinggal setengah buah, makan dicampur dengan buah apa aja yg bertekstur lembut.

 
sengaja tidak menambahkan susu, nambahin gula 3 sdm kedalam jus ini rasanya aja kok merasa bersalah gitu. 😀
 


Bahan untuk di blender:
Stgbuah mangga
200gr melon
1 pir hijau (yg keras itu) :ukuran sedang
3 sdm gula pasir
2sdm plain yoghurt (inna pakai merk Cimory)
Diairin secukupnya ketika akan diblender.

Topping:
Cincau (potong dadu)
Jelly -inna bikin 2 warna: hijau dan bening (potong dadu)
Selasih 1sdm (rendam dalam air)
2 potong strawberry untuk pemanis.

Cara membuat:
Blender semua buah sampai halus, masukkan mangkok sajikan topping. Taruh dalam kulkas. Sajikan ketika dingin.

[repost] Logam Mulia Pertama

Entah kesambet apa, tiba-tiba kemaren pagi itu berfikir pengen beli Logam Mulia (LM). Akhirnya pasang status di socmed. FB, Twitter dan Multiply menanyai yang sudah pengalaman membeli LM.  Responnya macam-macam dan bagus-bagus. keren euy temen-temen, melek emas!

Awalnya pengen beli dipegadaian aja, karena ada cabang terdekat di rumah. Kondisi di kantor lagi tidak  memungkinkan untuk izin lama-lama keluar. Ada yang menyarankan beli ke Antam langsung daripada di pegadaian. Baca-baca prosesnya di blog mbak Ida ternyata cukup seru. Tapi….inna ga mungkin ke antam.

Akhirnya mengikuti saran mbak Ning, beli DO, karena antam Pulo Gadung memberikan service Delivery Order. Hari ini, dengan semangat 66, pukul setengah 8 dah dial 021 (47884146), ternyata masih kepagian, belum ada yang ngangkat. Setengah baru sempet nyoba lagi nada sambung dah sibuk. 10 menit kemudian…., 1 jam kemudian berlalu dengan episode yang sama, memegang gagang telp mencari nada tidak sibuk. Putus asa, akhirnya berani menanyakan diri ke temen yang memang dari dulu sering update harga dinar. Ternyata beliau jualan LM juga. Tanya-tanya harga sambil tetap mencoba nelp antam. Hahhaha, sumpah penasaran ama prosesnya dan pengen mengalami langsung.

Si teman kasih harga ga beda tipis dengan harga antam, paling beda 5rb aja katanya. Namun beliau belum rilis harga resminya. Inna disuruh menunggu jam 12an. Eh ndilalah…disaat yang ga berselang lama, mbak Ning nelp, karena lagi lagi away, akhirnya mbak Ning YM. MBak ning ternyata lagi on the way ke toko emas langganannya di Ambass dengan  harga bagus. Inna bandingin harganya beda 80k. lumayan.

Inna menelp ke toko emasnya, ngebook dan berjanji transfer ke norek yang disebutkan. Berbarengan jam istirahat, kok pas nyampai ATM, inna jadi ragu buat transfer. Lah ….gw ga kenal sama yang angkat telpon. Bener sih itu no telpnya dikasih dari Mbak Ning, Cuma ga kenal sama yang angkat, bisa jadinya orang lewat kan?
Hahhaha*parno lebay ala Ally Mcbeal deh. Telp mbak Ning, kayaknya ga denger…berkali-kali. Batal transfer akhirnya inna makan siang dulu. Ditengah asyik makan siang, ternyata mbak Ning respon lewat YM dan meyakinkan inna kalo no rek yang tersebut adalah benar. Akhirnya dengan  pede sejuta, mentransfer ke mandiri untuk kemudian konfirmasi ulang ke toko dan ke Mbak Ning yang sudah duduk manis dan sabar menanti.

Alhamdulillah….LM pertama inna berhasil di transaksi. Walau belum megang bentuknya. Yang pasti godaan buat ga jadi investasi itu ada aja yah. 😀

sengkyu Mbak Ning, for everything

[repost] catatan kecil ketika planning trip ke New Zealand


3 Tante-tante lagi syaik pake 1 computer gratisan di MCd Sarinah Thamrin….4 meja lainnya didominasi anak2 kecil. Beberapa meja tampak dikerubuti dengan anak2 lain yang sepertinya pengen pakai komputer juga.

*5 menit kemudian…belum ada yang bergeser*

*10 menit…posisi masih belum berubah*

Adalah kemudian, anak kecil, 7yo, menghampiri 3 tante-tante yang lagi serius bahas ini itu, sambil merhatiin layar komputer.

Ponakan lucu : “Tante udah selesai belum maen komputernya?”

3 tante-tante manis : *lirik2an*….”beeeelummm.”

*2 menit kemudian*

Ponakan lucu : “tante udahan downg maen komputernya” * nada ga sabaran*

1 tante ikutan lucu : “belum sayang”  *nyobain sabar2an*

Ponakan lucu : “gantian dong tante”

3 tante pengen jaim : *diam aja*

Selang 10 menitan kemudian, ada anak kecil langsung berdiri sebelah gw.., badannya di balut pashmina, 5yo, manis dan lucu juga, pasang wajah memelas, wajahnya mirip anak kecil yang 7tahunan tadi.

“tante gantian downg, udahan maen komputernya” *mukanya makin memelas *

“ belum sayang…” *jawab gw*

“gantian dong tante…” *matanya ga berani natap*

“kan masih dipake…, coba ke meja lainnya, siapa tau ada yang mau udahan” *gw lirik meja2 yang masih penuh anak2*

“mereka ga mau juga”  *mata masih berharap kami segera cabutt*

[Repost] Hari ke 2 di New Zealand. Christchurch- Greymouth via Tranzalpine

alert : mencoba mengingat kembali perjalanan 4bulan lalu. catper di hape menghilang karena hang. 😦

Aotearoa : Anggaran dan Visa
Aotearoa : No Rendang, Kurs Menggila, 5 Layer
Aotearoa : Day 1: Disambut Kerlip Bintang dan Dinginnya Christchurch

Jam 4 pagi kami memicingkan mata, setengah jam kami udah bangun lagi. Ga kuat mandi, cuma basah2 yang perlu aja itupun pakai gemeretek kedinginan. Jam 6 kami sudah siap,untuk  sarapan kami memanfaatkan biskuit bekal dari Jakarta. Josh, Adiknya Lewis dan temannya masih bermain game dari kami datang tidak beranjak dari main game. Gelo. Sementara kami tidak bisa pamit ke Lewis dan Hortencia, masih lelap.

Berdasarkan petunjuk dari Horte semalam,  untuk menuju stasiun tranzalpine selanjutnya kami cukup sekali naek Bis No….64 (kalo ga salah). Bus stop persis didepan gang kondo Horte.  Gerek-gerek2 koper yang  gw rasa makin berat dibanding ketika di KL, sy dan Aya kemudian dengan pede sejuta naek keatas bis dengan pak tua sebagai sopir. Penumpangnya Cuma 1. Hehehe. Aya langsung menanyakan lokasi tujuan kami berhenti. Oh oh.., ternyata bus kami tidak menuju stasiun transalpine, jadilah kami turun berjalan kaki mengikuti petunjuk pak sopir tua yang baik hati (beliau bela-belain turun dari kemudinya untuk menunjukkan arah ke stasiun). Karena masih lama dan katanya lagi Cuma butuh 10-20 menit kesana jadilah kami norak2 foto sepanjang  RIccarton Rd yang masih sepi, nyaris kami tidak melihat satupun manusia. Hahaha.

Short story, kami sampai juga di stasiun Transalpine sekitar jam 7:30, berjumpa dengan teman MP yang tinggal di North NZ  beberapa tahun ini, Mbak Etty plus anaknya Aura yang dah jadi ABG cantik.  Oh iya untuk tiket tranZalpine kami sengaja menitip bookingan tiket kereta tersebut ke Mbak Etty karena ternyata harga beli dari Luar dan dalam NZ sangat beda.

Pukul 8:15 kereta TranZalpine beranjak menuju Greymouth, estimasi  akan sampai 2:45. Keretanya sendiri ga istimewa, jujur gw agak kaget melihat penampilan kereta yang harga tiketnya hampir menyamai tiket JKT-KL PP. tapi  untuk kami yang baru menginjak kaki disana..semua terbayar dengan view sepanjang perjalanan yang keren habis. Perbukitan ditutupi salju yang tidak putus-putus dan hampir setiap melihat Sheep Gw dan Aya teriak kegirangan sampai Aura ketawa2 ngeliat kami. Hahhaha. Sampai ngelutuk “ its only sheeps, you know”.   ya maap, kan belum pernah liat.

Oh iya, di TranZalpine ini disediakan 1 gerbong untuk yang ingin menikmati panorama langsung. Better bawa scarf untuk tutup muka, plus kaca mata dan baju hangat. Anginnya kencang nabok belum lagi pasirnya bikin kelilipan mata. 4 jam perjalanan kami habiskan memoto view yang bikin kami berdecak kagum plus sakit mata. :p.Ada 2 kali pemberhentian 5 menit, di Arthus Pass dan satu lagi dimana gitu.

Pukul 2:45 kami menginjak kaki di Greymouth, sekilas kota ini mirip kota coboy entah kenapa. Gw liat stasiunnya yang imut dan bangunan sekitar. Kami menunggu jemputan dari Noah’s Ark.  Sampai menunggu hamper 30 menit yang mau jemput ga datang-datang. Akhirnya si mbak2 penjaga toko distasiun membantu kami menelp si Noah’s Ark. Sambil menunggu sempat2nya Aya merekam mas2 backpacker maen harmonika, ah berasa adegan film ngeliatnya.

5 menit kemudian ada mobil elf menjemput kami, yang lucunya, baru mau pasang seatbelt karena  Aura memperingatkan kami eh ndilala kami nyampai. Ternyata jarak Noah’s Ark Cuma 200 meter dari stasiun. Lol
Sesuai jadwal kami kemudian mencari taxi untuk ke Punakaiki, pemilik Noah’s Ark ini menolong kami mencari taxi langganannya ternyata setalah 30 menit karena ga datang-datang, si James (kalo ga salah namanya) menawarkan diri untuk mengantar dengan harga lebih murah dibanding nyewa taxi.

Sampai di Punakaiki, pancake Rock,  ternyata kami tidak mendapat sunset seperti yang diharapkan.  Agak kecewa sih gw karena Cuma mendapatkan taman gede dengan beraneka ragam tanaman khas NZ, sesekali melihat binatan mirip kiwi melintas dengan view pantai dan batu yang bersusun tanpa sunset sama sekali. Ihiks.

Ga terlalu berlama-lama mengikuti tracking yang bersih dan sunyi itu..akhirnya kami balik ke hostel untuk kemudian mampir ke groceries store membeli bekal perjalan selanjutnya menuju Queenstown. Terkaget-kaget melihat udang seuprit harganya sama dengan 10 tangkai daun bawang gendut dibandrolin 3.5NZD. akhirnya kami membuat nasi goreng keesokan harinya cuma pakai Bombay. Beras dijual 1kg seharga NZD, roti tawar kemasan supermarket 1 NZD, 6 butir telor 3 NZD

Kembang Lawang Pejaten Village

Posisi resto ini persis di lantai bawah Pejaten Village, bersebrangan dengan Breadlife. karena belum pernah kesini sempet ga mudenk, nama restorannya Kembang Lawang atau Gadis Lawang, walau ternyata Gadis dan Kembang bisa dijadikan sinonim ternyata artinya Kembang Lawang sendiri adalah jenis bumbu dapur yang saya kenal sebagai pekak. bisa ditebak menu andalannya adalah menu tradisional. hampir semua signature dish dari mewakili daerah tertentu terutama Pulau Jawa.Tempe mendoan, gado-gado, mie kocok, sop buntut, nasi goreng kambing, mie jawa, you name it deh..:D

Tempe mendoan seharga Rp 4.000/pcs (jadi bisa pesan jumlah instead of porsi) menurut saya rasanya juara! bumbu dan ketumbarnya berasa pas.  cuma sayang terlalu kering. mendoan menurut saya sih agak lembek2 dan tidak garing.

Urusan snack lain seperti pisang goreng menurut saya standar, tidak istimewa cuma pisang goreng tepung dengan tabur gula halus. saya malah berimajinasi coba dikasih bubuk kayu manis kayaknya sedep deh.

Image

minuman yang saya coba selain teh poci yang wangi khas dan disajikan di pot adalah es campur yang saya makan ternyata tidak dikasih sirop sesuai gambar. its ok. mengenai rasa es campur yang dibandrol harga psikologis Rp19k-an…standar. Es Tape seharga Rp 15k berisi 3 jenis tape, lumayan beda. yang agak amazed dengan tampilan es buah. yang isinya cuma pepaya, bengkoang dan melon dipotong dengan bentuk kotak yang kurang cantik. benar-benar buah yang diesin. 😀
ImageImageImage

Makanan yang lumayan berat: Mie Goreng Empalnya wajib coba!. mie goreng kuning biasa, dengan potongan wortel, irisan bakso dengan bumbu yang saya tidak kenali sebagai resep mie goreng standar saya:bawang putih, merica. saya pikir empalnya bakal diamprokin di atas mie gorengnya ternyata disuwir-suwir tebal. aihh, mantap pokoknya, pantesan dimarked sebagai menu rekomendasi chef. harganya? Rp 25k-an

Mie Goreng Kambingnya saya coba tanpa dagingnya ternyata juga endang!, rasa amis kambing ga berasa terus juga tidak oily harganya sekitar Rp 25k-an.

sebenernya sempet tergiur untuk pesan mie kocok. tapi demi melihat kikil dan kebayang mie kocok yang diabang-abang, akhrnya batalkan niat, dan cuma icip dari punya teman. ternyata mie kocok yang dihargai Rp 20k itu beda dengan mie kocok abang-abang. selain tampilannya lebih “bersih” alias tidak berminyak ngapung diatas kuah juga kikilnya bersih dan putih dan diiris tipis. yang mendominasi justru mie kuning dan togenya, untuk tampilannya saya suka, rasanya juga cukup segar.

Image

 

kalo diajak balik lagi untuk makan kesini, saya mau…mau nyobain goreng buntutnya. 😀

 

Richeese Factory Blok M

Saya tahu tempat ini dari Tity, tukang makan yang referensi kulinernya patut dicoba. Kami berempat memanfaatkan Wiken ke Plaza Blok M. Richeese Blok M ini merupakan outlet kedua RF. yang pertama berlokasi di Plaza Arion, Rawamangun Jakarta TImur. Konon kata tity, tempatnya lebih luas, dan lebih lengkap fasilitasnya. yang mirip RF Rawamangun dengan Blok M  adalah lokasinya yang sama-sama berdampingan dengan KFC. saya sempet nanya karena penasaran, walau sebelumnya saya sempet baca bahwa RF ini merupakan gerai fastfood lokal yang kepanjangan dari produk dari RF snack keju itu loh. yang saya baca kemudian disahihkan oleh si mbak-mbak penjaga outlet: indeed,  gerai ini adalah produk lokal tulen, yang awalnya didirikan di Bandung.

Semula saya pikir tempatnya berkonsep kafe, dan tidak menyangka kalo ternyata masuk kategori fastfood, jadi tempat dan lay-outnya mirip-mirip fastfood kebanyakan..
Menu yang disajikan berbau keju, entahlah cocolannya atau sausnya pakai keju. seperti andalah mereka Fire wings, paham ayam yang dicocol pakai saus melting keju.

Menu juga belum terlalu banyak varian. makanan besar yang ketangkap dimata saya : burger, Fire Wing pakai nasi. kategori cemilan: kentang Wedges (kalo gembul kayak gw, wedges  masuk camilan kali yah?), nachos, cheesy ball dan dessertnya berupa semacam ciskek. Dari hasil browsing saya bertekad untuk mencoba menu andalah mereka, Fire Wing, goreng paha ayam (pahanya kecil gitu, mirip2 drumstick)  selain saus cocolannya mengandalkan keju melting yang berwarna khas, kuning RF, juga tingkat kepedasannya yang bisa disesuaikan request , tapi ternyata sebelum acara ketemuan, saya batal pesen fire wings dan akhirnya cuma comot punya Nina dan Tity yang pesan pakai nasi dengan tingkat kepedasan 0 (level:0-5). Dan sumpah….dengan level 0 aja, itu rasanya udah pedes.  Menu yang saya pesan sendiri adalah nachos. Nachos dengan sedikit saus nachos dan dilelehin keju melting, duuuh…enak. Harga bersahabat Rp 10k-an.

Ciskek blueberry menurut saya manis banget, sementara yang original rasanya: not bad. Sayang saya melewatkan pilihan Ciskek Oreo, mungkin ga akan terlalu manis rasanya. Harganya kalo ga salah inget ga sampai Rp 8k-an.  Camilan yang sempet saya comot juga adalah Cheezy Ball. Bola daging ayam berisi keju. Lumayan enak. Harga untuk 1 porsi (isi 2 pc) Rp 10k-an. Hihihi…maaf nih, struk bayarnya belum nemu jadi general harga 10k-an, kurang lebih.

Oh iya, ada mango tea dengan gelas regular seharga Rp6k, patut dicoba. minuman bersoda Slush saya ga coba euy. Kalo saya balik lagi kesini, saya akan pesan : fire wing, nachos dan ciskek Oreo.

Foto : tks to Tity