
Tujuan hari ini. Segara Anakan! pulau sempu. let’s talk about this amazing lagoon. Pagi ini kami mulai dengan sarapan mewah. Kenapa? setelah 4 hari perjalanan kami terbiasa sarapan di tempat dan waktu yang serba seadanya kalo dapet syukur kalo ga ya gabung aja ama makan siang. Tapi kali ini kami terbangun dengan kasur dan kamar yang nyaman serta meja makan yang dipenuhi oleh makanan serta buah. Ini semua berkat keluarga Rara yang bersedia memberikan tempat untuk kami bermalam di Malang, thx a lot ya Ra.. Rencana meninggalkan rumah pukul 07.00 ngaret 2 jam dikarenakan sang pelaksana harian lagi mogok menghalau anak-anak untuk bergegas, kayaknya masih trauma ama kejadian kemaren. hihihihi…
Pukul 09.00 kami meninggalkan rumah, menuju selatan kota Malang untuk mencari dermaga Sendang Biru. Berbekal tentiran dari om-nya Rara, peta, GPS yang udah ga update, dan pak Polisi di sekitar kota Malang. Dua Innova racing berisi 12 orang dokter yang haus dahaga liburan mencari surga lain di pulau Jawa. Pelajaran yang kami dapat selama perjalanan adalah.. percayalah kepada papan petunjuk jalan ketimbang GPS yang ga update.
70 km menuju selatan kota Malang kami habiskan dalam waktu kurang lebih 2 jam. Sampailah di dermaga Sendang Biru, untuk masuk, kami harus membayar Rp 4.000 perkepala dan Rp 11.000 untuk mobil. Sebelum masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu kami harus membuat suatu perjanjian untuk tidak mengurangi atau menambah apa-apa dari dan ke pulau sempu. Membayar perijinan Rp 20.000, perahu Rp 100.000, dan guide Rp 75.000. Selesai semua urusan dan kami segera ke dermaga.
Dermaga sendang biru merupakan dermaga kecil dengan beberapa perahu nelayan yang kesemuanya ramai dengan bendera merah putih. Harmonis sekali dengan latar langit biru dengan sedikit guratan awan putih.
Perahu yang kami tumpangi berjalan santai membelah air tenang menuju bibir pulau sempu. Kira-kira 10 menit waktu, perahu merapat ke bibir pantai, pantai kecil dengan sedikit tumbuhan bakau.
Kami mulai menjejakkan kaki di daratan, pasir yang menyambut kami tidak begitu menarik, berwarna kecoklatan. Dihadapan kami terbentang “pintu masuk” pulau sempu, pepohonan tinggi menjulang, mengapit bagian kosong yang tidak ditumbuhi apapun, tanah yang tidak ditumbuhi tanaman menunjukkan betapa seringnya menjadi pijakan manusia. Selamat datang di pulau sempu.

Masuk lebih dalam menyusuri hutan yang konon sudah tidak lagi berpenghuni, maksudnya hewan-hewan. Sang pemandu bilang, “dulu masih ada macan, sekarang mah udah ga ada” fuiihhh thx God udah ga ada macannya. kalo ada gimana?? lari ga bisa.. dikejar paling cuma bisa nangis…
Tanah yang kami pijak merupakan campuran tanah liat, jadi jangan heran kalo harus ektra hati-hati saat memijakkan kaki, salah-salah bisa jatuh terjerembab. Saya mengadakan survey kecil-kecilan dengan 13 orang subjek, terdiri dari 12 orang dokter tanpa pengalaman treking dan 1 orang guide yang dalam sehari bisa 2x bolak-balik pulau sempu. well, sebenarnya penelitian ini ga valid ya.. subjeknya ga sama gitu. yaudahlah.. pokoknya ini penelitian tentang alas kaki. ada yang pakai sepatu converse, sendal jepit (bukan sendal jepit swallow ya.. sendal jepit bagusan lah), corcs KW dan asli, serta nyeker. Hasilnya adalah semua peserta mengakui bahwa nyeker lebih mudah dalam mengatur grip di medan tanah liat yang licin ini. sedangkan pakai sepatu, hanya menambah kerjaan karena sepatu jadi sangaaatttt kotor dan licin tetep aja licin. Saya sendiri pake sepatu crocs asli, dan licin tapi mendinglah kalo kotor tinggal dilap aja juga langsung bersih.
Menyiasati trek yang licin, pilihlah pijakan yang bukan tanah! kalau bisa akar-akar pohon yang berseliweran dan membentuk satu pijakan baru. Mantapkan pijakan baru mengangkat badan, jadi memang sudah siap menerima seluruh berat badan. sebisa mungkin pegangan saat melangkah, apalagi di trek yang sulit, seperti turunan atau tanjakan atau bahkan trek miring. dan jangan pernah pegangan ke teman! itu hanya akan menambah beban teman, syukur-syukur kalo temannya siap dijadiin pegangan, kalo ga siap bisa jatuh barengan. jadi lebih baik pegangan aja ke pepohonan.
Treking di pulau sempu sekitar 1-2 jam, tergantung cuaca sebelumnya. kalau habis hujan waktu yang dihabiskan akan lebih lama karena tanah menjadi licin dan sulit ditempuh. Nah berhubung saat kami treking cuaca hari sebelumnya dan hari H sangat cerah, jadi kami hanya menempuh waktu sekitar 1 jam.
Akhir dari treking ini merupakan jalan setapak miring yang butuh kehati-hatian tingkat tinggi untuk melewatinya. Sekilas di kejauhan terdengar deburan air yang belum menampakkan wujudnya. Berjalan lebih jauh, pepohonan mulai nampak jarang dan berganti dengan pemandangan alam lepas. Di sisi kanan kami semburat warna kebiruan sesekali mengintip di balik hijau daun yang mulai berangsur jarang.
Ketika tanah liat berangsur berganti menjadi pasir, menandakan 1 jam treking kami benar-benar berakhir. keringat mengucur, napas tersengal terobati oleh pemandangan kolam hijau kebiruan yang dikelilingi oleh tembok pepohonan tinggi dengan “keran” yang terbentuk dari karang bolong yang menghubungkan kolam besar ini dengan samudera Hindia.
Air tenang, jernih, dan dangkal membuat semua peserta treking yang berpeluh tak sabar ingin segera merasakan segarnya bermandikan air samudera Hindia. Saya sendiri dengan outfit yang kurang OK, baju blouse dengan celana jeans, awalnya hanya mau jadi fotografer alias ga ikut nyemplung, tapi tempting banget ngeliat teman-teman bermain air, berenang bagai di kolam renang namun dengan air samudera Hindia yang asiiiinnnn banget. sampe bikin mata perih.
Mencoba mencari sumber dari air ini, saya meminta sang guide untuk mengantar saya dan seorang teman untuk melihat samudera Hindia. Untuk mencapai tempat yang dapat langsung melihat samudera Hindia, saya harus mendaki karang tajam sejauh kira-kira 10 meter dan sangat tajam, hati-hati memilih alas kaki, pakailah yang tertutup. Sesampainya di atas, saya disajikan air yang jauh dari kata tenang. gelombang datang dan menghempas tebing tinggi, pecah dan kembali lagi ke tengah lautan. begitu melewati lubang menuju laguna, sang airpun kembali menjadi air yang tenang.


Oh iya, tips lagi. kalau kesini, bawa perbekalan cukup. air putih 1,5 iter untuk satu orang dan makanan pengganjal seperti roti. karena akan sangat berguna mengingat tidak ada warung disini (ya iyalah.. siapa yang mau beli, ratu pantai selatan?!) saran saya ga usah bawa nasi, mending makan roti aja dulu trus makan besarnya di pelelangan ikan. dan yang paling penting. jangan meninggalkan sampah! plissss…. jagalah kecantikan alam ini, ini hal simpel tapi berdampak besar.
Dua jam kami menghabiskan waktu di laguna, bermain air, pasir dan hal-hal kekanak-kanakan lain. namun kami sungguh menikmati masa itu. Kembali menyusuri pulau sempu untuk menuju bibir pantai dan menunggu jemputan kapal yang kembali membawa kami ke dermaga. sesampainya di bibir pantai, ternyata air surut sehingga kami harus berjalan menuju perahu yang terparkir hampir berjarak 500 m dari bibir pintu keluar pulau sempu. Sang perahu kembali membawa kami ke dermaga, meninggalkan surga yang baru saja kami singgahi.
Sesampainya di rumah, sisa tenaga yang saya miliki saya pakai untuk mandi dan bersih-bersih. Diajak empunya rumah untuk berkeliling malang dan menikmati jajanan malam. Yang masih ada sisa tenaga hanya saya dan 6 orang teman saya. Kembali ke rumah dan sedikit berbincang dengan om-nya Rara tentang rencana kami besok untuk melihat sunrise di Bromo. Dan mendapat saran bahwa untuk melihat sunrise di Bromo esok hari merupakan hal yang hampir mustahil. Mengingat kami harus berangkat pukul 12 malam untuk menempuh perjalanan ke Bromo dan mengejar sunrise. Dengan tenaga kami yang terkuras di pulau sempu, supir yang tidak tahu medan Bromo dan jalan yang mendaki serta kemungkinan kabut yang turun membuat rencana kami harus dikaji ulang. Sehingga kalau memang ingin melihat sunrise kami disarankan untuk menginap di Bromo.
Rapat mendadak. Dan diputuskan untuk tidak melihat sunrise Bromo, mengingat mataharinya itu-itu aja yang terbit. laaahhhhhh… aneh! Akhirnya kami putuskan untuk tidur malam itu dan bangun besok pagi untuk kembali mengunjungi surga lain. Bromo.
to be continue…