Memberikan ASI ekslusif

Kehadiran Aiko di tengah-tengah keluarga kami merupakan anugerah terbesar. Yah.. pasti setiap pasangan yang dipercayai untuk mendidik dan membesarkan buah hati merasakan hal yang sama.

Saya bertekad untuk memberikan yang terbaik untuk Aiko, termasuk urusan asupan untuk nutrisi untuknya. Kita semua tahu bahwa ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi. Untuk ibu bekerja mempunyai tantangan tersendiri untuk tetap memberikan ASI secara ekslusif kepada bayinya. Saya sendiri bertekad untuk bisa memberikan ASI S-1 dan S-2 (minimal) kepada bayi saya, yang artinya selama 6 bulan penuh hanya ASI saja dan 6-12 bulan ASI + mpasi.

Berapa hal yang perlu disiapkan untuk meninggalkan bayi bekerja bersama asip.

1. Manfaatkan masa cuti 3 bulan untuk menyetok asip. 1 bulan sebelum selesai masa cuti. saya menyetok 2 botol perhari sehingga terkumpul 60 botol stok ketika saya masuk kerja.

2. Menyimpan stok asip. Stok tersebut saya simpan di freezer bukaan atas. saya menyewa freezer tersebut dengan biaya 100rb/bulan. saya memilih menyewa dengan pertimbangan biaya, karena rata-rata harga freezer 1,5-2,5 juta

3. Media penyimpanan. Saya menggunakan media penyimpan botol kaca asip ukuran 100ml. botol ini banyak dijual di ols (online shop-red) dengan harga sekitar 2000-3000. Pertimbangan menggunakan botol kaca agar lebih rapih dalam pengaturan di kulkas dan saya dapat mensteril botol tersebut serta lebih eco-friendly dibanding menggunakan plastik penampung asip.

4. Waktu memerah. saya bekerja dari pukul 08.00-16.00, saya menjadwalkan setiap 3 jam sekali untuk memompa. Jadi ketika sampai kantor (saya bekerja di rumah sakit sebagai dokter-red) kalau tidak ada pasien saya langsung memompa, maksimal sampai pukul 10 saya sudah harus memerah sesi I. jadwal berikutnya pukul 12 dan 15.30 sebelum saya pulang. saya harus mematuhi jam memerah ini untuk tetap menjaga demand asi saya. kalaupun jam nya tidak tepat setidaknya selama di kantor saya harus memerah 3x.

5. Alat memerah. ada berbagai metode memerah, memerah pakai tangan, pompa manual dan elektrik. saya sendiri sudah mencoba ketiganya dan saya paling nyaman menggunakan pompa elektrik.

6. Manajemen asip. di awal-awal bulan saya kembali bekerja, dalam sehari saya bisa membawa pulang sampai 500 ml, sedangkan kebutuhan anak saya sekitar 400 ml jadi saya masih bisa menyimpan untuk stok. sesampainya di rumah, asip yang saya bawa saya masukkan ke dalam botol kaca @100ml dan saya mendapatkan 5 botol. saya menggabungkan antara metode FIFO dan LIFO. dengan metode FIFO, 2 botol saya simpan di freezer dengan menuliskan nomor urut dan tanggal, lalu saya ambil 1 botol asip yang terlama untuk diminum keesokan harinya. dengan seperti itu, umur asip saya selalu berotasi. sedangkan 3 botol yang tersisa, untuk diminumkan ke anak saya keesokan harinya. sehingga, anak saya tetap mendapatkan asip terbaru (hasil perahan kemarin) dan stok saya tetap terjaga.

yang terakhir adalah kunci dari memberikan asi ekslusif adalah kepercayaan diri, saya harus percaya bahwa saya bisa memberikan asi untuk bayi saya. saat ini, saya memang sudah tidak lagi membawa sampai 500 ml ke rumah tapi saya tetap bersyukur dengan berapapun hasil perahan saya.

semangat untuk para bunda yang berdedikasi untuk memberikan hak bayi, asi.

Life Changes

Life Changes

Sudah sekian waktu lama saya nganggurin blog ini. Kebiasaan menulis pun seakan hilang tak berbekas. Apakah saya berubah? huuummm… antara ya dan tidak.

Tidak, karena saya masih Vini yang sama, suka menulis, membaca, travelling bersama kawan-kawan menikmati alam, bercerita panjang lebar bersama sahabat-sabahat saya dan hal-hal menyenangkan lainnya. Suka, bukan berarti saya masih rutin melakukan kegiatan-kegiatan di atas, ya saya menyukai dan mencintainya tapi karena satu dan banyak hal, kegiatan-kegiatan tersebut sudah jarang dan bahkan beberapa sudah tidak pernah saya lakukan.

Ya, karena saat ini hidup saya yang jauh berubah dari waktu terakhir kali saya menulis di blog ini. Saya menikah akhir tahun 2011 dan di bulan yang sama tahun 2012 saya resmi menjadi ibu dari seorang bayi mungil.

Satu tahun merangkai berbagai cerita, menikah, menjadi istri, hamil, dimanja semua orang, melahirkan, mengasuh bidadari mungil, mencintai bidadari yang lebih saya cintai ketimbang saya mencintai diri saya sendiri.

Saat ini the centre of my life ya dia, bidadari mungilku. Menghabiskan masa cuti yang tinggal hitungan hari. Tapi, hari ini, saya keluar rumah, mengunjungi coffee shop dan menulis. Seperti hal-hal yang sering saya lakukan dulu.

Java Trip (Day 6 ; Bromo)

Perjalanan ke Bromo hari ini dimulai pukul 08.00, saya sendiri harus mengalah untuk tidak melihat sunrise Bromo demi keputusan dan kenyamanan bersama. Setelah berpamitan dan mengucapkan beribu terima kasih atas jamuan yang “mewah” dua innova racing pergi menempuh 53 km menuju utara Malang. Bromo.

Menyusuri jalan kota Malang, setelah satu jam pemandangan di sekitar kami berganti. Jalanan pun mulai tak bersahabat, jalan kecil menanjak, berliku membuat sistem keseimbangan tubuh terganggu menimbulkan rasa mual. Namun mata termanjakan oleh apa yang ada di sekitar kami. Perbukitan hijau, rapat berbaris, kabut mengambang tipis di tengahnya bermain di sela hijaunya pepohonan. langit… yah langitnya tidak bisa dikatakan biru cerah, langit abu-abu akibat debu vulkanik kawah Bromo semakin menambah kecantikan alam pegunungan di timur Jawa.

Memasuki ke kawasan bromo, hawa keindahan yang sudah tersohor seantero nusantara seketika menerpa. Hembusan angin dingin menusuk hingga ke sendi, setiap kami merapatkan baju berusaha mencari cara menghangatkan tubuh.

Tujuan kami kali ini adalah kawah bromo, padang pasir bromo, dan sabana. Untuk mencapai ketiga tempat itu kami harus menggunakan jeep dikarena jalan yang akan kami lalui berupa padang pasir yang tidak memungkinkan ditempuh dengan mobil biasa. Jeep disewakan seharga Rp 200rb untuk kapasitas 5 orang, kalau lebih dari itu, perorang dikenakan biaya Rp 50rb.

Tempat yang pertama kami singgahi adalah sabana. Hamparan padang rumput bak permadani menyambut kedatangan kami.  Gunung tinggi menjulang, bukit-bukit kecil dikejauhan seakan memanggil kami untuk berlari ke arahnya dan melepaskan seluruh penat yang ada. Saya sendiri tak berkesudahan mengagumi bayangan yang ditangkap retina saya, rumput ini tidak hijau. Warna kecoklatan yang justru mendominasi lapang luas ini, dengan ilalang tinggi dan bunga ungu tumbuh diantaranya memberikan kesan cantik.

Pasir berbisik. Have u ever heard before? yes! judul film yang dibintangi Dian Sastro memang mengambil setting di padang pasir Bromo. Hamparan pasir luas ini sesekali berbisik, terbang tinggi tertiup angin dan menimbulkan suara halus bak bisikan alam. Beberapa bebatuan menjulang di antaranya menjadikan tempat pijakan kami untuk menatap padang luas.

Kawah Bromo tujuan terakhir kami. Sekali lagi istilah no pain no gain kembali berlaku.  Untuk mencapai kawah Bromo kami harus menempuh perjalanan sekitar 2 km dengan kondisi medan berupa padang pasir dan tanjakan bebatuan yang (menurut saya) terjal namun masih bisa didaki tanpa bantuan alat. huuummmm… kalo alatnya tabung oksigen kayaknya bisa juga siy.. in case keabisan napas pas nanjak… Kalo mau ga capek, bisa naik kuda dengan mengeluarkan kocek Rp 100rb return. Saya memilih berjalan kaki untuk menikmati pemandangan (padahal mau irit). Lagian yah, bule-bule ga ada yang naik kuda pada jalan semua, malu ah ama bule fisik mereka ok banget. Bahkan sepanjang jalan saya menemui beberapa anak bule berjalan mendaki sembari bersendang gurau, sedangkan saya seperti biasa.. speechless karena ngos-ngosan.

Perjuangan mencapai kawah tidak hanya sampai tanjakan itu saja, masih ada tanjakan lainnya dalam versi berbeda. Tangga. Yak! kami harus mendaki anak tangga untuk mencapai kawah, 250 anak tangga (katanya… saya juga ga ngitung) cukup membuat tenaga yang tersisa terkuras. Sesampainya di puncak, kecantikan yang tersohor ini memang terbukti bukan isapan jempol belaka. Kawah gunung yang mengepul putih, hamparan padang pasir dengan pura berdiri diantaranya, gunung menjulang dihadapan kami bak lukisan sang maestro. Inilah lukisan sesungguhnya karya sang Maha.

Turun dari pegunungan Bromo lapar menyerang tak tertahankan, warung yang kami singgahi bak kemasukan segerombolan manusia yang tidak mengenal makanan sejak seminggu terakhir. Menyeruput kuah gulai kambing dan dinginnya angin Bromo merupakan perpaduan yang pas untuk memanjakan si perut. Perjalanan meninggalkan Bromo mungkin merupakan perjalanan paling senyap, semua tertidur kecuali sang supir tentunya. Perjalanan seharian yang menguras tenaga dan perut yang kenyang membuat kami menyerah pada kantuk. Makasih loh supir kedua innova yang berhasil tetap komposmentis.

Perjalan kami berikutnya menuju Surabaya untuk tempat kami menginap malam ini. Memasuki kota Surabaya kami disambut  “peradaban”. Enam hari belakangan yang kami lihat adalah gunung tinggi menjulang, deburan ombak laut selatan, tebing mengapit jalan, sungai mengalir deras, hamparan rumput dan padang pasir. Saat ini gedung tinggi dengan lampu menghiasi dia yang gagah berdiri di tengah kota sudah hampir tidur berjajar di hadapan kami. siiigghhh…. kota besar. Kami numpang istirahat yaahhh….

to be continue…

I’m Officially Doctor

I’ve been through this for five years

Diiringi lagu komersium akademik -Gaudeamus Igitur- yang dinyanyikan oleh 3500 paduan suara mahasiswa 2010, saya dan ratusan wisudawan lain memasuki balai dimana 5 tahun lalu saya berdiri di tribun atas, mengenakan jaket kuning kebanggaan dan berharap dapat menjadi saya sekarang. Wisudawan profesi UI 2010.

Sebenarnya saya dan sebagian besar teman-teman lain menganggap seremonial wisuda profesi di depok ini hanya sebuah acara tanpa makna. Karena, memang tidak ada yang perubahan berarti setelah acara ini selesai. Hanya duduk, mendengarkan pembacaan para mahasiswa cum laude -dimana sepanjang 5 tahun perkuliahan tidak sekalipun saya mengenyam jabatan membanggakan itu-, mendengarkan paduan suara dibawah pimpinan Pak Dibyo, dan pulang. That’s it!

Acara kami sesungguhnya adalah angkat sumpah dokter yang diselenggarakan oleh fakultas, 3 oktober mendatang. Setiap kami akan mengucapkan janji hipocrates sebagai sumpah kami kepada Tuhan untuk dapat melayani masyarakat dan mengabdikan ilmu kami untuk mereka.

Tapi ternyata saya keliru, seremonial wisuda ini tidak hanya menjadi acara tanpa makna semata. Saya, berbalut toga hitam dengan dua buah garis hijau di lengan kanan, menandakan saya adalah wisudawan profesi, masuk ke ruang prosesi bersama ratusan rekan sejawat diiringi tatapan haru setiap pasang mata yang memandang kami.

Berjalan bersama teman-teman seperjuangan membuat saya kembali pada ingatan perjalanan 5 tahun untuk mencapai semua ini. Menangis, tertawa, kecewa, bahagia, bangga, malu semua perasaan yang mengiri saya hingga akhirnya saya dapat duduk berdampingan bersama kalian dalam acara megah tahunan UI.

Orang tua saya, jangan ditanya. Mereka adalah tipikal orang tua melankolis. Saya bukanlah seorang cemerlang, tidak pernah sekalipun saya menyandang predikat cum laude, apalagi untuk menjadi seorang yang dipanggil ke podium untuk menerima penghargaan rektor karena ipk nyaris sempurna. Saya hanyalah seorang Vini dengan segala kekurangan dan kelebihan saya. Saya seorang vini dengan segala kegagalan yang saya lakukan dan berusaha bangkit tertatih dengan iringan doa kedua orang tua saya serta belajar dari apa yang sudah saya alami. Namun mereka tetap menitikkan air mata haru, bangga, dan bahagia untuk saya. Saya yang terbaik bagi mereka dan begitupun mereka untuk saya.

Selamat berjuang kawan! Ini baru permulaan. Selamat datang di dunia nyata.

Pelajaran Berharga di Pulau Pramuka

Lagi-lagi ada postingan di sela penulisan javatrip.. Fuuiiihhh beginilah nasib nulis berseri. Tulisan berseri lagi kering ide, timbul pengalaman baru yang wajib di-share.

Pengalamannya adalah… Liburan di pulau pramuka! Tapi saya tidak akan bercerita keindahan pulau, laut, pantai, dermaga, bawah laut, keramahan penduduk karena itu sudah diceritakan oleh teman-teman yang sudah lebih dahulu menyambangi bagian dari kepulauan seribu ini. Saya akan bercerita betapa saya belum siap menjadi seorang dokter yang mandiri dan mampu mengendalikan diri saya.

Pagi itu.. Di pulau Pramuka, saya terbangun dengan jeritan tangis histeris adik sepupu saya. Perempuan, 13 tahun. Seperti tersengat lebah (well, jujur saya belum pernah tersengat lebah dan jangan sampai!) Saya bangun dan menuju sumber suara. Saya mendapati dia menangis histeris menahan sakit yang teramat sangat sembari memegangi telapak kakinya. Semua orang panik dan berusaha menenangkan si adik. Saya?! Ikut panik dan bengong. Dok! Sadar dok.. Ada pasien di depanmu.

Ok! Inspeksi.. Liat ABC, kesadaran, nilai keadaan umum. Tampak sakit berat. Langsung ke status lokalis, di telapak kaki kanan tampak kemerahan dengan dua titik berwarna lebih pucat berdiamter kira-kira 1cm. What? Apaan ini? Ketusuk karang? Keinjek duri? Ga.. Mungkin! Kalau dari tangis yang teriak-teriak ditambah sesekali berguling, mencengkram bantal menahan sakit, saya memberikan nilai VAS (skala yang digunakan untuk menilai rasa nyeri, range 0-10 dengan 0 adalah tidak nyeri sama sekali dan 10 nyeri sangat hebat-red) minimal 9 untuk sakitnya. Saya semakin panik karena tidak ada yang bisa saya lakukan, seandainya ada darah yang keluar akan saya bersihkan atau melakukan apapun sesuai teori buku. Akhirnya yang saya bisa lakukan adalah mengambil alat p3k saya dan mengeluarkan obat dewa prednison ditambah asam mefenamat.

Saya teringat bahwa di pulau ini terdapat RSUD di dekat dermaga. “Bawa ke sana!” Titah saya, halaaahhh kayak raja. Jarak penginapan saya ke RSUD sekitar 2km, sangat tidak mungkin si adik berjalan ke sana, untuk menggerakkan kaki saja hal yang mustahil baginya. Diputuskan mencari pinjaman motor dari penduduk pulau.

Tangisan yang histeris ternyata membuat tetangga sekitar penginapan berdatangan ke pelataran penginapan saya. Dari penduduk saya mengetahui bahwa penyebabnya adalah ikan lepo, ikan ini sangat berbisa dan nyerinya teramat sangat bila mengenai anggota tubuh. Seorang pria berkata kepada saya “saya juga dulu pernah kena mbak, ampe guling2 saya saking sakitnya. Gimana kalo cewe yang kena, ga kebayang saya” ternyata emang ga salah si adik menangis histeris. Datanglah motor yang membawa adik ke RSUD.

Lantas.. Saya gimana.. Sebagai dokter (hihihihihi… Jadi malu ngomongnya) bodoh yang ga tau apa2 saya harus ke sana dan liat apa yang dilakukan. Kalo saya jalan barang pasti udah selesai tindakannya, lari?! Sangat tidak mungkin. Daaannn.. Depan mata saya ada sepeda nganggur. Langsung saya ambil, naik, gowes. Di liburan saya tempo hari saya juga naik sepeda, gowes cepat balapan dengan teman2. Kali ini saya juga melakukannya.. Gowes cepat balapan dengan sang waktu. Kalo cepat pasti ada fase lambatnya dooonngg.. Nah masalahnya tidak mudah mencapai fase lambat pada sepeda ini. Karena.. GA ADA REM! Mati! Gimana ini ngeberentiinnya.. Ga lucu kalo saya juga ikut2an jadi pasien karena jatuh terjerembab dari sepeda. Akhirnya karena percepatan 0 maka dengan sendirinya setelah sekian lama sepeda itu melambat. Akhirnya saya mengambil kesimpulan “alon-alon asal klakon” saya menggowes sepeda sangat santai seperti di acara car free day.

Sampai di IGD RSUD si adik sudah berbaring, sepertinya 1 ampul lidocain sudah masuk dan mata pisau sudah siap menginsisi luka gigitan tersebut. Wait?! Mana gagang pisaunya.. Hahahaha… Ternyata ga pake gagang, langsung aja mata pisaunya yang dipegang. Ok! Selanjutnya pake duk alas, dan yang digunakan sebagai duk adalah koran! What?! Ini masih di Jakarta kan ya? Gimana kalau saya ada di pedalaman asmat?

Insisi kedua bekas gigitan dan keluarkan darah dengan tujuan mengeluarkan bisa yang masuk. Daerah pucat bekas gigitan berangsur-angsur memerah dan terlihat segar. Beri betadine dan tutup luka dengan kassa.

Setelah kembali lagi ke rumah dan situasi mulai terkendali saya coba googling tentang si ikan lepo. Dari berbagai sumber saya mendapat informasi bahwa ikan lepo atau stonefish atau Synanceia termasuk dalam kategori berbisa, berbahaya, bahkan dapat berakibat fatal bagi manusia. Habitatnya di laut, namun juga sesekali dapat di temukan di air tawar. Dia memiliki semacam duri pada punggung yang dapat mengeluarkan racun berupa neurotoxin. Neurotoxin adalah racun yang langsung bekerja pada ujung saraf penghantar rasa nyeri. No wonder sakit yang dirasakan akan sangat hebat dan tidak tertahakan. Bahkan pada beberapa kasus diperlukan analgesik narkotika intavena, analgesik blok, dan analgesik regional. Pada bekas tusukan duri ikan akan terjadi perubahan warna menjadi putih pucat, hal ini disebabkan penurunan pasokan oksigen di daerah yang terkena. Penanganan awal pada kasus seperti ini adalah dengan menggunakan air hangat dengan suhu tidak kurang dari  45 °C (113 °F), air hangat ini dapat menghancurkan bisa ikan dan memberi sedikit rasa nyaman pada korban. Penggunaan antibisa dapat digunakan pada kasus ekstrim seperti dengan bekas tusukan yang banyak yang mengindikasikan banyak juga bisa yang masuk. Pada kasus ringan, cukup berikan sedikiti sayatan pada bekas tusukan dan keluarkan darah hingga daerah sekitar yang tadinya nampak pucat berangsur memerah. Setelah pengeluaran bisa dengan cara ini, korban akan merasa lebih nyaman dan rasa nyeri jauh berkurang.  Pada kasus ringan, daerah tempat tusukan akan menjadi bengkak dan nyeri ringan akan hilang dalam 3-5 hari.


Well, pelajaran liburan kali ini adalah saya benar-benar belum siap untuk terjun ke masyarakat dan mandiri sebagai orang yang lebih dulu tahu masalah medis. Saya tidak harus kembali ke kelas, atau ikut KKD lagi, bahkan juga tidak harus ujian komprehensif untuk bisa melakukan semua itu.
Yang harus saya lakukan adalah terjun langsung ke masyarakat, ke lapangan. Memberikan yang terbaik berdasarkan ilmu yang saya dapat 5 tahun. Belajar dari kesalahan yang saya perbuat. Belajar dari kebengongan-kebengongan akibat ketidaktahuan. Belajar dari yang lebih dulu ada di lingkungan itu, walaupun pasien saya sendiri. Saya tidak akan pernah siap jika saya tetap di kelas, memegang buku, memegang pasien dibawah supervisi sang dosen. Saya harus jadi bagian dari kehidupan pasien saya!!!

Java Trip (Day 5 ; Malang)


Tujuan hari ini. Segara Anakan! pulau sempu. let’s talk about this amazing lagoon. Pagi ini kami mulai dengan sarapan mewah. Kenapa? setelah 4 hari perjalanan kami terbiasa sarapan di tempat dan waktu yang serba seadanya kalo dapet syukur kalo ga ya gabung aja ama makan siang. Tapi kali ini kami terbangun dengan kasur dan kamar yang nyaman serta meja makan yang dipenuhi oleh makanan serta buah. Ini semua berkat keluarga Rara yang bersedia memberikan tempat untuk kami bermalam di Malang, thx a lot ya Ra.. Rencana meninggalkan rumah pukul 07.00 ngaret 2 jam dikarenakan sang pelaksana harian lagi mogok menghalau anak-anak untuk bergegas, kayaknya masih trauma ama kejadian kemaren. hihihihi…

Pukul 09.00 kami meninggalkan rumah, menuju selatan kota Malang untuk mencari dermaga Sendang Biru. Berbekal tentiran dari om-nya Rara, peta, GPS yang udah ga update, dan pak Polisi di sekitar kota Malang. Dua Innova racing berisi 12 orang dokter yang haus dahaga liburan mencari surga lain di pulau Jawa. Pelajaran yang kami dapat selama perjalanan adalah.. percayalah kepada papan petunjuk jalan ketimbang GPS yang ga update.

70 km menuju selatan kota Malang kami habiskan dalam waktu kurang lebih 2 jam. Sampailah di dermaga Sendang Biru, untuk masuk, kami harus membayar Rp 4.000 perkepala dan Rp 11.000 untuk mobil. Sebelum masuk ke pulau sempu, terlebih dahulu kami harus membuat suatu perjanjian untuk tidak mengurangi atau menambah apa-apa dari dan ke pulau sempu. Membayar perijinan Rp 20.000, perahu Rp 100.000, dan guide Rp 75.000. Selesai semua urusan dan kami segera ke dermaga.

Dermaga sendang biru merupakan dermaga kecil dengan beberapa perahu nelayan yang kesemuanya ramai dengan bendera merah putih. Harmonis sekali dengan latar langit biru dengan sedikit guratan awan putih. Perahu yang kami tumpangi berjalan santai membelah air tenang menuju bibir pulau sempu. Kira-kira 10 menit waktu, perahu merapat ke bibir pantai, pantai kecil dengan sedikit tumbuhan bakau.

Kami mulai menjejakkan kaki di daratan, pasir yang menyambut kami tidak begitu menarik, berwarna kecoklatan. Dihadapan kami terbentang “pintu masuk” pulau sempu, pepohonan tinggi menjulang, mengapit bagian kosong yang tidak ditumbuhi apapun, tanah yang tidak ditumbuhi tanaman menunjukkan betapa seringnya menjadi pijakan manusia. Selamat datang di pulau sempu.


Masuk lebih dalam menyusuri hutan yang konon sudah tidak lagi berpenghuni, maksudnya hewan-hewan. Sang pemandu bilang, “dulu masih ada macan, sekarang mah udah ga ada” fuiihhh thx God udah ga ada macannya. kalo ada gimana?? lari ga bisa.. dikejar paling cuma bisa nangis…

Tanah yang kami pijak merupakan campuran tanah liat, jadi jangan heran kalo harus ektra hati-hati saat memijakkan kaki, salah-salah bisa jatuh terjerembab. Saya mengadakan survey kecil-kecilan dengan 13 orang subjek, terdiri dari 12 orang dokter tanpa pengalaman treking dan 1 orang guide yang dalam sehari bisa 2x bolak-balik pulau sempu. well, sebenarnya penelitian ini ga valid ya.. subjeknya ga sama gitu. yaudahlah.. pokoknya ini penelitian tentang alas kaki. ada yang pakai sepatu converse, sendal jepit (bukan sendal jepit swallow ya.. sendal jepit bagusan lah), corcs KW dan asli, serta nyeker. Hasilnya adalah semua peserta mengakui bahwa nyeker lebih mudah dalam mengatur grip di medan tanah liat yang licin ini. sedangkan pakai sepatu, hanya menambah kerjaan karena sepatu jadi sangaaatttt kotor dan licin tetep aja licin. Saya sendiri pake sepatu crocs asli, dan licin tapi mendinglah kalo kotor tinggal dilap aja juga langsung bersih.

Menyiasati trek yang licin, pilihlah pijakan yang bukan tanah! kalau bisa akar-akar pohon yang berseliweran dan membentuk satu pijakan baru. Mantapkan pijakan baru mengangkat badan, jadi memang sudah siap menerima seluruh berat badan. sebisa mungkin pegangan saat melangkah, apalagi di trek yang sulit, seperti turunan atau tanjakan atau bahkan trek miring. dan jangan pernah pegangan ke teman! itu hanya akan menambah beban teman, syukur-syukur kalo temannya siap dijadiin pegangan, kalo ga siap bisa jatuh barengan. jadi lebih baik pegangan aja ke pepohonan.

Treking di pulau sempu sekitar 1-2 jam, tergantung cuaca sebelumnya. kalau habis hujan waktu yang dihabiskan akan lebih lama karena tanah menjadi licin dan sulit ditempuh. Nah berhubung saat kami treking cuaca hari sebelumnya dan hari H sangat cerah, jadi kami hanya menempuh waktu sekitar 1 jam.

Akhir dari treking ini merupakan jalan setapak miring yang butuh kehati-hatian tingkat tinggi untuk melewatinya. Sekilas di kejauhan terdengar deburan air yang belum menampakkan wujudnya. Berjalan lebih jauh, pepohonan mulai nampak jarang dan berganti dengan pemandangan alam lepas. Di sisi kanan kami semburat warna kebiruan sesekali mengintip di balik hijau daun yang mulai berangsur jarang.

Ketika tanah liat berangsur berganti menjadi pasir, menandakan 1 jam treking kami benar-benar berakhir. keringat mengucur, napas tersengal terobati oleh pemandangan kolam hijau kebiruan yang dikelilingi oleh tembok pepohonan tinggi dengan “keran” yang terbentuk dari karang bolong yang menghubungkan kolam besar ini dengan samudera Hindia.

Air tenang, jernih, dan dangkal membuat semua peserta treking yang berpeluh tak sabar ingin segera merasakan segarnya bermandikan air samudera Hindia. Saya sendiri dengan outfit yang kurang OK, baju blouse dengan celana jeans, awalnya hanya mau jadi fotografer alias ga ikut nyemplung, tapi tempting banget ngeliat teman-teman bermain air, berenang bagai di kolam renang namun dengan air samudera Hindia yang asiiiinnnn banget. sampe bikin mata perih.

Mencoba mencari sumber dari air ini, saya meminta sang guide untuk mengantar saya dan seorang teman untuk melihat samudera Hindia. Untuk mencapai tempat yang dapat langsung melihat samudera Hindia, saya harus mendaki karang tajam sejauh kira-kira 10 meter dan sangat tajam, hati-hati memilih alas kaki, pakailah yang tertutup. Sesampainya di atas, saya disajikan air yang jauh dari kata tenang. gelombang datang dan menghempas tebing tinggi, pecah dan kembali lagi ke tengah lautan. begitu melewati lubang menuju laguna, sang airpun kembali menjadi air yang tenang.

Oh iya, tips lagi. kalau kesini, bawa perbekalan cukup. air putih 1,5 iter untuk satu orang dan makanan pengganjal seperti roti. karena akan sangat berguna mengingat tidak ada warung disini (ya iyalah.. siapa yang mau beli, ratu pantai selatan?!) saran saya ga usah bawa nasi, mending makan roti aja dulu trus makan besarnya di pelelangan ikan. dan yang paling penting. jangan meninggalkan sampah! plissss…. jagalah kecantikan alam ini, ini hal simpel tapi berdampak besar.

Dua jam kami menghabiskan waktu di laguna, bermain air, pasir dan hal-hal kekanak-kanakan lain. namun kami sungguh menikmati masa itu. Kembali menyusuri pulau sempu untuk menuju bibir pantai dan menunggu jemputan kapal yang kembali membawa kami ke dermaga. sesampainya di bibir pantai, ternyata air surut sehingga kami harus berjalan menuju perahu yang terparkir hampir berjarak 500 m dari bibir pintu keluar pulau sempu. Sang perahu kembali membawa kami ke dermaga, meninggalkan surga yang baru saja kami singgahi.

Sesampainya di rumah, sisa tenaga yang saya miliki saya pakai untuk mandi dan bersih-bersih. Diajak empunya rumah untuk berkeliling malang dan menikmati jajanan malam. Yang masih ada sisa tenaga hanya saya dan 6 orang teman saya. Kembali ke rumah dan sedikit berbincang dengan om-nya Rara tentang rencana kami besok untuk melihat sunrise di Bromo. Dan mendapat saran bahwa untuk melihat sunrise di Bromo esok hari merupakan hal yang hampir mustahil. Mengingat kami harus berangkat pukul 12 malam untuk menempuh perjalanan ke Bromo dan mengejar sunrise. Dengan tenaga kami yang terkuras di pulau sempu, supir yang tidak tahu medan Bromo dan jalan yang mendaki serta kemungkinan kabut yang turun membuat rencana kami harus dikaji ulang. Sehingga kalau memang ingin melihat sunrise kami disarankan untuk menginap di Bromo.

Rapat mendadak. Dan diputuskan untuk tidak melihat sunrise Bromo, mengingat mataharinya itu-itu aja yang terbit. laaahhhhhh… aneh! Akhirnya kami putuskan untuk tidur malam itu dan bangun besok pagi untuk kembali mengunjungi surga lain. Bromo.

to be continue…

Java Trip (Day 4 ; Pacitan-Malang) Part-2

Perjalanan pulang dari pantai klayar berbeda dari perjalanan kami biasanya. Terutama di mobil saya, dimana terdapat korban pengambil alih kepemilikan kamera dari seorang Ari (sori ri, akhirnya nama lo kesebut juga) kepada sang Ratu pantai selatan. Saya sendiri merasa bingung harus bersikap bagaimana.. Mw ngomong “ya udah ri gpp, nanti beli lagi aja” laaahhh.. Ga ngebantu banget gw. Akhirnya semobil pun diem dan hanya mengucapkan sepatah dua patah kata, yang perlu-perlu aja lah..

Setelah melalui perjalanan 20 km paling sepi selama 8 hari kami keliling Jawa, sampailah kami ke Gua Gong. Untuk masuk ke Gua Gong kami perlu mengeluarkan uang tiket masuk Rp 4.000 untuk dan Rp 20.000 untuk guide selama perjalanan. Oh iya, guide ini agak semi ga resmi siy, jadi pas kami semua datang dia menawarkan diri untuk memandu ke dalam. Baiknya tawar menawar harga dulu sebelum masuk agar semua pihak merasa diuntungkan.

Untuk menuju gua Gong kami harus menaiki tangga, ga banyak siy tangganya tapi cukup bikin ngos2an juga. OK saya akui untuk kesekian kalinya fisik saya ga bagus. Sepanjang perjalanan, kami melewati kios-kios kecil yang ditunggui oleh kebanyakan ibu-ibu berusia lanjut dengan barang dagangan rata-rata pisang sale, keripik pisang. Tidak banyak kios yang buka, mungkin karena sudah bukan musim liburan anak sekolah. Hoooo senangnya berlibur tidak bertepatan dengan libur anak sekolah, setiap tempat yang kami kunjungi terasa ekslusif.

Sampai di mulut gua, saya seakan melihat sebuah miniatur alam karya tangan seorang anak adam. Langit-langit gua dipenuhi oleh deretan straw, ornamen bebatuan berbentuk halus seperti sedotan, seakan-akan siap jatuh meluncur dan menancapkan kakinya ke dasar bumi. Memandang sekeliling hanyalah membuat saya lupa saya berada di dalam perut bumi.

Menuruni tangga masuk lebih jauh mata saya dimanjakan dengan lebih banyak lagi ornamen-ornamen bebatuan gamping. Berbagai macam bentuk dan rupa sang alam membentuk batuan ini dari tetesan air tanah yang masuk meloloskan diri diantaranya selama ratusan tahun. Tak tersisa ruang gerak, terbatas jalan turun membuat air bumi harus memahat bebatuan gamping sedemikian rupa. Menyentuhnya terasa aliran dingin yang dihantarkan dari batu gamping ke tubuh ini membuat rasanya tidak sedang berada di jauh dari bumi dimana biasa saya pijak. Berjalan diantara stalagtit dan stalagmit masuk dan turun lebih dalam saya mendapati banyak lagi bentuk-bentuk karya Sang penguasa keindahan, tiang-tiang tinggi bergelombang berdiri tegak bak tiang penyangga, bebatuan menyerupai bentangan kain gourdyn berukuran besar bagai tirai sang bidadari.

Penasaran dengan namanya, saya pun mencoba memukul salah satu bebatuan yang menggantung di langit-langit gua. Bunyi berdengung terdengar memenuhi ruangan. Nyayian alam jauh puluhan meter di dasar bumi.

Hampir satu jam kami menghabiskan waktu di dalam gua, saatnya melanjutkan perjalanan menuju kota lain. Sebelum pulang saya menyempatkan berbincang dengan salah satu pedagang kios di sepanjang jalan menuju gua. Pembicaraan biasa namun sarat makna. Saya pun membeli sedikit buah tangan untuk orang di rumah.

Ari has returned! “sini gue yang nyupir! daripada gue mikirin mulu mending gue kembali (normal) perjalanan ini kan masih panjang” (sori ri kalo ga sesuai tapi intinya itu kan yang lo maksud?) yeay!!! seengaknya kami semobil ga mesti diem2an.

Kami akan menempuh perjalanan menuju Malang. Mungkin ini adalah medan terberat sekaligus terindah. Daerah Pacitan merupakan daerah pengunungan dengan jalan sempit berliku dan menanjak tajam namun dengan pemandangan gunung dan bebatuan luar biasa indahnya. Di sisi kiri jalan terdapat tebing tinggi dipadati pepohonan hijau sedangkan di sisi berlawanan terbentang sungai bertabur bebatuan berbagai ukuran dengan air tenang mengalir di antaranya. Sayang, saya tidak dapat mengambil gambar yang cukup dapat mewakili betapa indahnya alam Pacitan. Gambar ini masih jauh dari keindahan yang sesungguhnya.

Mampir ke Blitar untuk makan siang yang tertunda karena kami memasuki Blitar pukul 4 sore. Mengunjungi makam sang proklamator juga menjadi agenda kami di Blitar sekaligus melihat lukisan berdetak yang legendaris. Ya.. Secara kasat mata lukisan itu memang bergerak di bagian dada.. Saya tidak tahu pasti penyebabnya tapi kata si Bima pasti akan ada penjelasan logis suatu saat.

Kami sampai di Malang kira-kira pukul 9 malam, as always.. selalu sampai di kota tujuan malam hari. Dapat tempat menginap di rumah icha (sodaranya rara) benar-benar sesuatu yang patut disyukuri karena inilah tempat bermalam paling mewah selama 8 hari perjalanan kami.

Setelah melakukan diskusi dengan warga asli Malang, maka diputuskan perjalanan menuju pulau sempu keesokan hari tidak harus dimulai di pagi buta, jam 7 cukuplah untuk mencapai sendang biru, dermaga menuju pulau sempu yang berjarak sekitar 69 km dari pusat kota malang.

Saya, Wita, Uti, Ari, dan last but not least Bima mempersiapkan segala hal terkait perjalanan kami besok ke pulau sempu. Beli persediaan minum dengan estimasi satu orang menghabiskan 1,5 liter air mineral maka 12 botol besar air mineral akan kami borong. Roti sebagai pengganjal sebelum makan siang yang sesungguhnya, ga mungkin kan di tengah laguna kita mau mancing ikan di samudera Hindia?! kelamaan keburu sore. (vin, that’s not the main problem)

Bingung gimana minta ijin dengan empunya rumah karena harus keluar pukul 11 malam akhirnya memberanikan diri untuk minja ijin sambil senyum2 merasa ga enak. Dengan estimasi 15 menit mengingat toserba yang akan kami kunjungi hanya sekitar 300 m dari rumah maka kami berdalih “sebentar ya.. makasih om” Sampai di toserba 24 jam itu ternyata TUTUP! what?! stock opname. aaarrrgggghhhhh tidak disaat yang tepat!

Kami disarankan untuk ke toserba di jalan raya berjarak kurang lebih 2 km dari rumah. Well.. jauh dan tengah malam. Kami berjalan sambil sesekali bersendang gurau dan melihat kehidupan malam kota Malang yang hanya sesekali mendapati toko yang buka. Perjalanan kembali dari toserba menuju rumah merupakan perjalanan terberat untuk Bima dan Ari, terberat bener-bener berat karena masing-masing membawa 6 botol air mineral besar. Berat kan?! dengan mata yang tinggal sisa hari itu dan tenaga sisa perjuangan perebutan nyawa (lah ini menjurus lagi ke lo ri). Yah pokoknya makasih untuk Bima dan Ari.

to be continue…

Salah atau Benar?

salah atau benar apakah sesuatu yang mutlak kah?

apakah salah atau benar seperti hitam dan putih

atau.. malah seperti sungai dan lautan yang berbeda namun sulit dibedakan.

saya tau ini salah.. tapi saya juga tidak dapat membenarkannya.

tapi saya tidak tau bahwa ini benar-benar salah sehingga apakah saya harus sekuat tenaga untuk membuat ini sesuatu yang memang sebenarnya.

see… kita ga bisa tau yang benar dan salah, karena sebenarnya semua itu hanyalah penilaian suatu norma yang belum tentu berlaku di setiap tempat dan setiap masa.

sampai pada suatu masa saya dapat suatu hasil berupa keburukan maka saya tau bahwa apa yang saya lakukan sebelumnya adalah suatu kesalahan.

saat ini… saya tidak peduli apakah ini benar atau salah.. saya akan jalani.

tulisan aneh di sela tulisan2 saya tentang javatrip

Java Trip (Day 4 ; Pacitan-Malang) Part-1

The Mystical Klayar. Mungkin itu lah julukan yang paling tepat untuk pantai ratu selatan ini. Perjalanan mencapai tempat ini tergolong tidak mudah. Pantai ini bersembunyi dibalik bukit terjal dan jalan kecil berliku. Untuk mencapai tempat yang hanya berjarak 45 km dari pusat kota Pacitan, harus menghabiskan waktu sekitar 1,5-2 jam mengingat kendaraan yang melintas tidak akan bisa memacu kendaraannya sampai dengan kecepatan maksimal.

Jalan kecil yang dilalui menuju pantai Klayar merupakan jalan beraspal dengan lebar tidak lebih untuk satu mobil. Bila terpaksa harus berpapasan dengan mobil lain maka berdoalah semoga hal itu tidak terjadi. Jalan itu berliku dan menanjak tajam dengan pemandangan tebing curam dan jurang dalam, sesekali diselingi rumah penduduk berjarak setengah kilometer antara rumah satu dengan rumah lain. Sungguh ada sesuatu yang sangat berharga dibalik semua ini.

Pemandangan perbukitan berganti dengan hamparan warna biru di kejauhan, nyiur mulai menampakkan dirinya. Tidak berapa lama si biru pun menghilang dan kembali tergantikan oleh bukit dengan pepohonan hijau menghiasi. Jalan semakin terjal dan aspal yang menjadi pijakan mobil pun menghilang digantikan oleh bebatuan dan pasir sebagai tempat berpijak. Dan kali ini si biru terpampang di horizon dengan langit biru berhiaskan awan putih lembut berpadu dengan air laut hijau dan biru di kejauhan menjadi tempat ombak menari berkejaran diantara hijau pepohonan pantai. Klayar.

Pasir putih terhampar berkilauan dibawah siraman matahari. Kelembutannya membuat sang putri laut selatan sekalipun dapat tidur dengan nyaman di atasnya.

Tebing-tebing tinggi membingkai keganasan pantai laut selatan. Tebing menjulang berhiaskan permadani kehijauan dengan jilatan-jilatan ombak di kakinya membuat tak satupun mata mampu berkedip menyaksikan tarian alam ini.

Ombak saling berkejaran satu sama lain, inilah sebuah balapan alam di laut selatan Jawa. Datang, bergelung dan terhempas di tebing tinggi memberikan percikan air menghias langit biru dan lagi-lagi membuat setiap mata tak berpaling darinya.

Di sudut pantai terdapat bukit karang yang tak henti-hentinya diterjang ombak dan memecahkan gelombang lautan. Membuat sang gelombang menari tinggi di sela-sela bebatuan tebing.  Seruling laut mengiringi tarian laut, hempasan gelombang yang melewati celah sempit karang dan tebing menciptakan suara alam. Seketika semua makhluk terdiam demi memberi penghormatan saat seruling laut bertiup. Air mancur setinggi 10 meter membuat perbukitan karang ini semakin menambah kepercayaan bahwa alam menyimpan suatu rahasia dibaliknya. Gerimis dan percikan yang dihasilkan membuat siapapun terpana dan tergerak menghampirinya.

Well, manusia satu ini cukup punya keberanian untuk menyambangi pementasan alam laut selatan. Bermodal niat dan kamera untuk mengabadikan air mancur alam, diapun menghampiri barisan tebing tinggi yang dari jauh tampak menggoda dengan hempasan ombak yang hanya datang sesekali. Sempat mengambil foto air mancur sebanyak tiga kali membuatnya bangga atas pencapaiannya. Tidak berapa lama datangnya ombak besar menghempas tebing tempatnya berpijak dan membasahi dirinya hingga batas lutut.

Merasa bahwa sang ratu mulai terusik dengan keberadaannya dia memutuskan untuk turun, belum sampai ke daratan, ombak kedua datang lebih besar dari sebelumnya. Untuk menghindari basah sekujur tubuhnya dia pun meloncat. Namun, meloncat justru membuatnya hilang keseimbangan dan jatuh tersunghur hingga dirinya terseret ombak menuruni undakan terbing.

Akhirnya berhasil mencapai bibir pantai setelah diberikan dua kali salam perkenalan sanga ratu. Dia memeriksa barang bawaanya berupa tas berisi kamera dan HP. Membuka seleting tas dan tidak mendapati kameranya, ya! kameranya lenyap di dalam tas yang tertutup rapat oleh seleting. Dia kembali ke tebing dan mencoba mendapatkan apa yang menjadi haknya.

Selama pencarian, kembali datang tiga ombak yang tidak kalah besar dari pendahuluanya membuat dia harus rela menghentikan pencarian kamera.  Mungkin inilah bayaran yang diminta sang ratu untuk sebuah pertunjukan alam, diapun kembali ke bibir pantai dengan tangan hampa.

to be continue…

Java Trip (Day 3 ; Dieng-Pacitan) Part-2

Hari ini kami tidak punya waktu banyak untuk mengunjungi banyak tempat yang disarankan oleh Pak Didi. Dikarenakan kami sudah harus meninggalnya kawasan Dieng sebelum pukul 11 siang untuk melanjutkan perjalanan menuju Pacitan. Jadi kami memutuskan untuk mengunjungi kawah Sikidang, komplek candi Arjuna, dan telaga Warna. Tempat-tempat inilah yang paling memungkinkan kami kunjungi mengingat waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai tempat ini tidak banyak, hanya sekitar 5-10 menit mengendarai mobil.

Jadi kami melewatkan sumur Jalatunda, sumur ini berasal dari kawah yang mati ribuan tahun lalu dan terisi air. Berdiameternya kurang dari 90 cm , banyak orang percaya bila seseorang dapat melempar batu menyeberangi sumur terebut maka segala keinginannya akan terkabul. Sayang sekali kami tidak punya waktu cukup untuk menunjungi tempat itu. Selain itu, kawah sileri yang merupakan kawah yang terluas di dataran Dieng yang masih aktif juga karena masalah keterbatasan waktu tidak bisa kami kunjungi.

Kawah Sikidang adalah tujuan pertama kami setelah melihat sunrise di gunung Sikunir. Kawah Sikidang merupakan kawah yang masih aktif dan terus mengeluarkan asap belerang. Kawah ini selalu berpindah-pindah tempat, dinamakanlah Sikidang seperti Sikidang -Kijang- yang melompat-lompat.  Untuk berjalan di kawasan ini diperlukan perhatian ekstra mengenai mana tanah yang bisa dipijak atau tidak. Alih-alih bertamasya, kaki dapat terperosok ke kawah aktif yang dapat mematangkan apapun yang masuk ke dalam situ. Selain itu kami juga mengunjungi kompleks candi di sekitar sini diantaranya komplek candi Arjuna.

Selesai kawah Sikidang kami mengunjungi telaga Warna. Harga tiket masuk telaga warna adalah Rp 6.000 ditambah parkir mobil Rp 2.000/mobil. Kami masuk ke kawasan Telaga Warna dan menyusuri jalan setapak. Terlihat telaga luas berwarna hijau bersembunyi dibalik tanaman-tanaman yang mengelilinginya. Masuk lebih dalam lagi, kami menemukan berbagai gua yang sampai saat ini masih sering digunakan sebagai tempat bersemedi. Gua-gua tersebut terkunci karena dianggap suci tidak semua orang bisa masuk untuk melihat-lihat isi gua. Ternyata, telaga warna tidak dapat dilihat dari tempat ini. Tidak dapat dilihat dalam artian kami tidak dapat melihat warna-warna yang berbeda dari telaga tersebut. Kami harus pergi ke suatu daerah dimana ada bukit kecil di situ yang harus kami daki untuk mencapai puncaknya.

Perjalan ke bukit tersebut hanya memakan waktu 5 menit. Pekerjaan kami selanjutny adalah mendaki bukit tersebut. Menurut Pak Didi hanya 10 menit untuk mencapai puncak tapi ternyata, saya dan teman-teman menghabiskan waktu 20 menit untuk mencapai puncaknya. huufff.. jangan pernah percaya kepada perkataan penduduk setempat mengenai waktu yang dihabiskan untuk mencapai suatu daerah, sangat tentatif!Perjalanan mendaki sebenarnya lebih mudah daripada mendaki Gunung Sikunir pagi sebelumnya, namun dikarenakan hanya ada sisa tenaga maka pendakian ini terasa lebih sulit. Saya sempat merasakan awan di mata saya… “wow ada awan.. bagus banget” jedaaaanggg!!!! ternyata pandangan saya berkabut saudara2.. saya butuh asupan makanan segera. Pendakian punselesai dan saya lagi-lagi disuguhkan suatu lukisan alam, telaga-telaga bersatu membentuk perpaduan warna harmonis. Ini yang namanya no pain no gain!

Selesai melihat kecantikan alam Dieng, saatnya kembali ke losmen untuk mengisi perut. ini yang namanya bersakit-sakit dahulu senang kemudian. Ngutang energi dulu baru dibayar. hadeeegggghhhhh ga enak banget rasanya udah kelaperan setengah mati. Sampai di losmen ternyata sarapan belum siap, nasib.. nasib.. berhubung saya seorang mandi oriented yang dalam keadaan apapun harus mandi, jadi saya memutuskan untuk mandi terlebih dahulu. Air dieng di pagi menjelang siang hari sangat berbeda dengan air di malam sebelumnya, tetap dingin namun tidak sampai membuat saya harus menahan napas akibat serangan dingin.

Sarapan, mandi, packing selesai kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan kami menuju kota berikutnya. Pacitan. Perjalanan menuju Pacitan benar-benar merupakan perjalanan yang tidak akan pernah saya lupakan, pengunungan yang kami lewati begitu berliku-liku, jalan yang sempit dan menanjak membuat seisi mobil harus terjaga dan ikut waspada melihat jalan. Namun sekali lagi, semua itu terbayarkan dengan pemandangan yang luar biasa, jurang di sisi kami dihuni bebatuan dengan air jernih yang mengalir di sela-selanya. Well tidak banyak orang tau tentang daerah ini tapi ternyata inilah surga lainnya.

to be continue…