★★ RESUME DISKUSI EKSTERNAL HSMN 4 ★★
Tema: Mengenalkan Al-Qur’an Sejak Dini
Hari,tgl : Jum’at,17 April 2015
Jam: 19.30-21.30
Narsum: Bu Bhara
Momod 1 : Dian Musthofiah
Momod 2 : Ratih Purbasari
Nonot : Santy Sintil
Assalamualaikum mbak2 dan ibu2 sholihat, perkenalkan nama saya Bhara Widyastuti. Status menikah dengan 2 putra dan 1 putri. Sekarang alhamdulillah sedang menunggu kelahiran anak ke 4 putri lagi. Mohon doanya dari mbak2 dan ibu2 sholihat. Saya alumni Biologi UNDIP. Masuk 93 lulus 99 🙊
Berbicara mengenai memaksimalkan potensi anak sejak dini dengan Al-Qur’an, kita punya teladan yang sangat baik dalam kisah hidup Imam Syafii yang saya ringkas dalam tulisan di bawah ini:
Ibu2 sholihat yang dirahmati Allah. Kita mulai dengan menyimak biografi ibunda Imam Syafii. Imam Syafii sudah yatim sejak kecil. Beliau bersama ibunya tinggal di Mekkah di suatu tempat yg dikenal dengan nama Syi’bu al-Khaif.
Pada usia kurang dari 13 tahun Imam Syafii meminta izin kepada ibunya untuk pergi menimba ilmu di luar kota Mekkah.
Awalnya sang ibu keberatan dengan keinginan beliau sehingga Syafii kecil memutuskan untuk memendam keinginannya belajar di luar Mekkah karena tidak mendapatkan restu dari ibunda.
Meskipun demikian, karena melihat kesungguhan dan keyakinan Imam Syafii, sang ibu akhirnya memberikan restu kepada Imam Syafii untuk pergi belajar.
Dalam tulisan lain disebutkan Syafii kecil meninggalkan kota Mekkah di usia 9 tahun.
Saat meninggalkan Mekkah, beliau sudah hafal Al-Qur’an, dan dalam perjalanan ke Madinah beliau mengkhatamkan Al-Qur’an sebanyak 16 kali. Setahun di Madinah, beliau sudah berhasil menghafalkan kitab Al-Muwatha’ karya Imam Malik yang berisi 1.720 hadist pilihan. Banyak lagi prestasi beliau yang luar biasa sehingga pada usia 15 tahun sudah menduduki jabatan sebagai Mufti sekembalinya ke Mekkah setelah belajar di Madinah beberapa tahun.
Menarik buat saya pribadi, melihat sejarah kehidupan Imam Syafii. Saya bertanya2: ibu seperti apa yang berhasil mendidik putranya sedemikian hebat dalam keadaan tidak memiliki suami
Sehingga Imam Syafii tumbuh menjadi anak yang cerdas, mandiri, tangguh, bertanggungjawab, dan dapat dipercaya.
✅
TANYA JAWAB
🙋 Bu Dian
Tanya:
Teknisnya yang diajarkan itu, huruf hijaiyah dulu atau hafalan dulu bu?
Trus bagaimana mengajarkan kandungan Al-Qur’an yg mudah dipahami anak batita?
Jawab:
Sebaiknya anak usia batita dan balita fokusnya ke hafalan mbak. Malah seharusnya proses mengenalkan Al-Qur’an pada anak sudah dilakukan sejak si kecil masih dalam kandungan kita. Jadi proses belajar Al-Qur’an itu dimulai dari memperdengarkan dulu sebelum yang lain.
Ilmu psikologi modern mengeluarkan teori meningkatkan kecerdasan anak dengan musik klasik yang diperdengarkan sejak anak masih dalam kandungan.
Prinsip kerjanya adalah memanfaatkan gelombang dan frekuensi pada musik klasik yang naik turun yang dianggap dapat menstimulasi simpul2 syaraf otak.
Kenyataannya frekuensi bacaan Al-Qur’an lebih luas jangkauannya jika dilihat dari tinggi rendahnya suara dan variasinya.
Malaikat Jibril ketika diutus oleh Allah SWT untuk menyampaikan wahyu kpd Rasulullah juga dengan cara memperdengarkan suara terlebih dahulu.
✅
Tanya (lanjutan):
Saya pernah baca musik Mozart, penemunya terinspirasi oleh Al-Qur’an. Benarkah bu?
Trus untuk kandungan Al-Qur’annya gimana bu?
Jawab:
Bisa jadi mbak. Sejarah umat Islam kan memang banyak yg dikaburkan. Teori2 klasik yg sebetulnya berasal dari Islam banyak yg diklaim oleh Barat.
Untuk kandungan Al-Qur’an bisa disampaikan juga secara bertahap dengan bahasa sesuai usianya. Bisa dilakukan setelah anak bisa berkomunikasi secara verbal. Jadi kita bisa meminta timbal balik dari anak untuk mengetahui sejauh mana anak2 faham dengan yg kita sampaikan.
✅
🙋 Bu Nury
Tanya:
Bagaimana cara Bu Bhara mendidik anaknya sampe bisa ke Mesir saat usia baru lulus SD?
Jawab:
Wallahu a’lam ya…terus terang memang saya pengagum Ibunda Imam Syafii sejak dulu
Beliau sosok wanita luar biasa yang sangat menginspirasi. Kesungguhan beliau mendidik putranya dalam keadaan tidak memiliki suami benar2 luar biasa. Kalau kita lihat biografi beliau, Masya Allah…
Rajin mengumpulkan tulang2 kemudian menuliskan ayat2 Al-Qur’an di situ sampai habis 30 juz, dilanjutkan dg menuliskan hadist2. Jadi isi rumah beliau saat itu bukan perabotan macem2 tapi pecahan2 tembikar, tulang2 binatang, pelepah kurma dan lain2 yg beliau kumpulkan untuk menulis ilmu2 yg didapatkan.
Kelak setelah Syafii lahir ilmu2 tsb disampaikan kepada Syafii (saat itu belum jadi Mufti).
Banyak yg nanya ke saya gimana abang bisa belajar di Mesir setelah lulus SD. Sebetulnya kisahnya dimulai sejak sebelum saya menikah. Waktu itu saya baca kisah ibunda Imam Syafii. Baca kisah keluarga Ibu Wirianingsih. Dulu dimuat di majalah Ummi saat beliau bolak-balik mengantar putranya yg pertama dan kedua mondok di Kudus. Masya Allah.. Saya saat itu termotivasi, ternyata mempunyai anak penghafal Al-Qur’an di zaman skrg bukan sesuatu yg mustahil. Kuncinya motivasi yang kuat dari orangtuanya, konsisten, dan mendidik anak2nya dengan penuh kasih sayang. Walaupun orang tuanya belum bisa menjadi penghafal Al-Qur’an Insya Allah dengan kesungguhan bisa mencetak putra putrinya menjadi penghafal dan pengamal Al-Qur’an.
Yang tidak kalah pentingnya adalah orang tua tidak memaksakan ‘obsesi’ menjadi penghafal Al-Qur’an shg anak juga belajar dan mengamalkan Al-Qur’an dengan kesadaran sendiri bukan karena ‘paksaan’ dari orang tuanya.
Jika sudah tumbuh keinginan yg kuat dalam diri anak, niscaya halangan apapun tidak akan menjadi penghalang.
Anak saya dua laki2 dan satu perempuan. Anak laki2 saya dua2nya ‘gagap’ sejak kecil. Bahkan abang (anak saya yg di Mesir) sampai usia 5 tahun selain gagap setiap bicara dengan orang selalu dobel. Jadi misal ngobrol dengan temannya ketika temannya bilang: ‘main yuk..’, abang mengulangi ‘main yu..’, baru dia jawab: hayuu
Sampai2 ada satu temannya yg memperhatikan dan sempat ngebully. Alhamdulillah lama-kelamaan gagap dan dobel ketika bicara makin lama makin berkurang bahkan skrg sudah hilang sama sekali.
Saat itu saya benar2 tidak melakukan hal lain selain mengurus anak. 3 batita dan tanpa asisten. Ini sangat penting ternyata.
Ketika kita mendampingi anak sampai usia batita, sebisa mungkin jangan sampai ada sosok lain selain ibu yang bergaul akrab dan berinteraksi secara intensif dengan si kecil (ART, nenek kakek, tante om dll). Kalau harus ada asisten usahakan ART tsb mengerjakan pekerjaan2 rumah tangga selain berinteraksi dengan anak. Ini termasuk membuatkan dan menyiapkan makanan, bermain, berbincang2, menjalankan ibadah yaumiyah, menjelang tidur dan saat bangun tidur.
Anak saya yang ketiga (laki2) malah baru bisa bicara saat usia 18 bulan dan gagap juga sampai usia 3-4 an tahun.
Sebisa mungkin orang tuanya yg dilihat oleh anak2, baik ayah maupun ibu. Jangan sampai anak ditidurkan oleh ARt, atau anggota keluarga yang lain. Demikian juga saat bangun tidur jangan sampai ketika membuka mata disambut oleh orang selain ayah dan atau ibunya.
Saat2 usia batita ini sangat penting dalam menanamkan dasar2 pendidikan karakter walaupun tidak dilakulan melalui ceramah atau taushiyah. Saat berbincang2 dengan ayah atau ibunya anak akan merasa nyaman dan aman. Bekal ini sangat penting untuk membangun kemandirian dan rasa percaya diri anak. Kalo di usia batita anak2 merasa nyaman dan dekat sama orang tuanya insya Allah selanjutnya anak akan lebih mudah menentukan pilihan2 hidupnya.
✅
🙋 Bu Kiki
Tanya:
Dr Kamil al Labuudi : Pendiri Markaz Tabaarak Tahfiidz Al-Qur’an untuk anak2 dan dewasa di Tanta Kairo–metode beliau mengajarkan anak2 beliau menghafal dimulai dengan mendengarkan murottal ke anak2 beliau sejak masih dalam kandungan. Alat apa yang efektif ya bu? Haruskah pakai audio khusus bumil–saya tadi search ketemu Ritmo (ada 4 speaker yg sudah teruji aman untuk baby di perut + earphone untuk bundanya). tapi saya belum tahu Ritmo ini ada mini speakernya atau tidak. Maksudnya biar masih kepake kalau babynya sudah lahir. Atau cukup dengan mini speaker yang didekatkan ke perut? Jadi semua bisa dengar? (bunda,abi dan kakak2nya)
Mohon pencerahannya mbak Bhara tentang alat apa yang sebaiknya dipakai yg efektif.
Jawab:
Saya sudah pernah ke rumah Dr Labboudy waktu saya nengok abang ke Mesir kurang lebih setahun yg lalu. Yazid dan tabarok hafal Al-Qur’an di usia 7 tahun. Dr Labouddy sendiri dan istrinya sudah hafal Al-Qur’an di usia 14 tahun.
Alat paling efektif adalah mulut ayah dan ibunya mbak Kiki.
Tanya (lanjutan):
Afwan krn masih belajar juga jadi mengandalkan murottal dulu, krn harus 1 juz diulang 5x dalam sehari. Saya belum bisa. Jadi mau nyoba tekniknya Dr Kamil ini dengan bantuan murottal dari alat
Jawab:
Betul mbak Kiki. Intinya pengulangan. Tapi mungkin bisa disesuaikan ya.
✅
🙋 Bu Ivo
Tanya:
Kalo anak saya hampir 3 thn blm bisa baca tp krn sodara2nya sedangg hapal surat Yasin maka dia ikut2an dan udah bs mengikuti awal dan akhir ayat-ayatnya. Bagaimana mbak apakah hal ini bisa langsung dilanjutkan tanpa mengenal huruf hijaiyah atau bisa diteruskan hapal langsung?
Jawab:
Gak apa2 diteruskan menghafal tanpa dikenalkan huruf hijaiyyah. Nanti ada waktunya sendiri belajar huruf hijaiyyah maupun huruf latin.
Usia batita adalah usia di mana otak anak sperti spons yang menyerap apa saja dengan kemampuan yg luar biasa. Sehingga saat itu sangat tepat jika anak2 dimaksimalkan untuk menghafal Al-Qur’an.
✅
🙋 Bu Dania
Tanya:
Bagaimana jika ortunya belum pandai tajwidnya?
Saya takut mengajarkan lafal yg salah pada anak.
Jawab:
Orang tua sambil belajar dan mengajarkan ke anak. Bisa dibantu dg audio. Tapi sebaiknya langsung dari mulut orang tuanya hasilnya jauh lebih efektif dibanding rekaman kaset.
✅
🙋 Santy
Tanya:
Bagaimana cara teknisnya agar anak batita bisa hafal surat?
Jawab:
Kuncinya konsisten mbak. Perdengarkan terus menerus. Kalo merujuk metode tabarok minimal 5x sehari diulang2nya. Kalo orang dewasa malah diulang 20x. Mengingat orang dewasa lebih mudah lupa karena dosanya lebih banyak daripada anak batita.
Tanya (lanjutan):
5x sehari itu satu surat yg sama atau satu ayat saja?
Misal kita belum bisa bacain langsung, diperdengarkan pake alat gpp kan? (Hp, laptop, mp3, ato yg lain)
Jawab:
Iya mbak, kalo merujuk metode yang digunakan
oleh DR. KAmil LAboudy dalam membiasakan anak-anak beliau berinteraksi
dengan Al-Qur’an salah satunya dengan metode pengulangan, malah bukan cuma 5x melainkan 20x sehari.
Mengenai jumlah ayatnya tentu disesuaikan
dengan target yang ingin kita capai. Prioritas kita adalah proses, bukan hanya
hasilnya. Insya Allah dengan kesungguhan tidak ada yang mustahil.
Terus terang saya termasuk yang terlambat menyadari keutamaan
membiasakan anak berinteraksi dengan Al-Qur’an sejak dini, jadi ketika anak-anak masih
batita saya kurang maksimal. Mudah2an keterlambatan kita tidak menjadikan kita patah semangat. Insya
Allah, Allah Maha Melihat dan penuh kasih
sayang kepada
hamba-hambaNya.
Sarana bisa apa saja mbak, seperti di mahad tabarok juga memanfaatkan
gadget dan alat elektronik lainnya. Tetapi DR
Kamil dan istrinya ketika
yazid dan tabarok masih bayi memang lebih sering
memperdengarkan bacaan Al-Qur’an dari mulut mereka sendiri karena beliau berdua memang sudah hafidz dan hafidzoh sejak usia 15 tahun kurang.
Faktor makanan juga berpengaruh mbak, jadi
salah satu kunci kesuksesan
menghafal Al-Qur’an adalah mengkonsumsi
makanan2 halal dan thoyib, terutama kurma.
Ini jawaban beliau ketika ditanya mengenai
kegiatan sehari-hari selama yazid dan tabarak masih bayi, semoga
bermanfaat :
1. Setelah bangun pagi dan melaksanakan sholat
shubuh, kami sekeluarga
melakukan wirid pagi.
2. Talqin untuk Tabarok surat yg akan dihafal
oleh ayahnya, dan aku bersiap untuk langkah selanjutnya yaitu
memperdengarkan ayat yg telah ditalqinkan, hingga 20x melalui audio.
3. Untuk makanan yg mereka makan aku sudah
menyiapkan dari malam, susu, roti yg terbuat dari kurma, atau kalau tidak ada roti aku sudah mempersiapkan
kurma 7 butir sebagai makanan pendamping
ketika menghafal.
4. Kegiatan penghafal selesai di waktu sebelum
dzuhur, sedangkan suamiku ketika
proses menghafal tersebut beliau berangkat
menuju ke tempat kerja
sebagaimana kepala rumah tangga yang lainnya.
5. Setelah selesai menghafal aku berikan kepada tabarok dan yazid hadiah bisa berupa stiker,balon, mainan yg terbuat dari plastik berupa hewan-hewanan.
6. Setelah sholat dzuhur mereka tidur.
7. Setelah sholat ashar murojaah (mengulang) hafalan lama. Pedoman yang kita pakai anak akan mengulang hafalan yang telah mereka hafal seperempat dari yang mereka hafal. Setelah proses murojaah selesai anak-anak bebas bermain.
8. Setelah sholat isya selesai mereka harus menuju ke tempat tidur supaya bisa bangun di pagi hari, karena Rasulluah bersabda: Ya Allah berkahilah ummatku di pagi hari.
Alhamdulillah dengan cara ini dan dilakukan terus-menerus hanya dalam waktu 1,5 tahun Yazid dan Tabarok selesai menghafal 30 juz lengkap dengan hafalan mutqin. Ketika suami datang dari tempat kerja pertanyaan yang selalu beliau lontarkan pertama kepada kita: “Bagaimana pelajaran Al-Qur’an kalian hari ini?”.
Di tengah asyiknya perbincangan tersebut salah seorang peserta bertanya: “Jarak tabarok dan yazid sangat dekat,
bagaimana menyiasati hal tersebut? apakah Yazid dibiarkan bermain sesukanya?
Beliau menjawab: “Yazid ada di samping saya dan
aku berikan kepadanya
kertas dan pulpen kepadanya, dan ketika dia juga ikut ingin menghafal dengan hafalan terbata-bata, aku selalu berikan
kesempatan itu untuknya supaya tidak ada kecemburuan di antara mereka”.
Apakah anda melakukan sendiri tanpa seorang pembantu? Beliau menjawab, “iya aku lakukan semuanya seorang diri tanpa seorang pembantu, walaupun waktu itu suamiku menawariku untuk mengambil pembantu yang bisa menghandle sebagian pekerjaan rumah tanggaku”.
Subhanallah… Ya Allah berkahilah keluarga kami,
dan jadikan kami beserta
ahli keluarga kami sebagai ahli Al-Qur’an.
Wallahu a’lam bishhowwab….
Saya belum hafal Al-Qur’an dan anak2 saya belum
hafal Al-Qur’an juga mbak, tetapi saya berharap kami semua menjadi ahli Al-Qur’an. Penjaga dan pengamal Al-Qur’an. Aamiin Ya Rabb..
✅
🙋 Bu Woro
Tanya:
Saya meyakini bahwa keberhasilan anak dlm berinteraksi dg Al-Qur’an termasuk membaca tartil, mentadaburi dan menghafal sangat tergantumg dari kedua org tuanya terutama ibu, entah dlm membersamai maupun tdk (di pondok).
Pertanyaan saya,
1. Sejauh apa ibu dan bpk hrs membersamai putra putrinya?
Atau apa yg hrs bapak ibu lakukan agar potensi interaksi anak bisa maksimal?
2. Terkait dg pernyataan bahwa “ketika kita mendampingi anak sampai usia batita, sebisa mungkin jangan sampai ada sosok lain selain ibu yang bergaul akrab dan berinteraksi secara intensif dengan si kecil”.
Bagaimana kalo keluarga dg pertimbangan birrulwalidain dan 2 pintu surga kita ada orang tua, ibu dan bpk kita, harus ikut kita?
Ditambah amanah ayah dan ibu yg tanpa mengabaikan tugas utama bertanggungjawab dg anak yg ada, sebut dakwah “memaksa keduanya” untuk mempertukarkan keutamakan dakwah dg kebaikan keluarga dan anak2nya? Sekali lg tetap mengasuh dan mendidik anak dg baik?
Jawab:
1. Kalo merujuk metode yang digunakan oleh DR. Kamil Laboudy dalam membiasakan anak-anak beliau berinteraksi dengan Al-Qur’an salah satunya dengan metode pengulangan, 20x sehari. Jumlah ayatnya disesuaikan dengan target yang ingin kita capai. Prioritasnya adalah proses, bukan hanya hasilnya. Insya Allah dengan kesungguhan tidak ada yang mustahil.
Tentang kegiatan sehari2 selama Yazid dan tabarok masih bayi sudah saya share di pertanyaan bu Santy di atas.
2. Jangan berputus asa dari rahmat Allah. Allah yang menciptakan kita, Allah pula yang akan mengatur segala sesuatunya. Tidak perlu diragukan keutamaan birrul walidain sebagai salah satu pintu syurga buat kita, Insya Allah kita yang paling tahu situasi dan kondisi keluarga kita seperti apa. Kaitan dengan ‘tugas dakwah’ yang mengharuskan kita keluar rumah sehingga harus meninggalkan anak2 di waktu-waktu emasnya, tinggal kita evaluasi terus-menerus tanpa mengabaikan amanah yang sudah kita terima. Selanjutnya diatur kembali langkah-langkah strategis yg berkaitan dengan target2 tersebut, misal : posisi kita ketika mendapatkan amanah tersebut apa? Apakah posisi kunci seperti ketua, sekretaris, bendahara dalam sebuah organisasi, ketua panitia, MC, seksi acara dalam sebuah kepanitiaan. Tentu beban amanahnya berbeda dengan posisi-posisi lain yang tidak mutlak mengharuskan kehadiran kita secara fisik.
Insya Allah akan ada waktunya kita bisa leluasa mengaktualisasikan diri dengan menerima amanah-amanah ‘kelas berat’ seperti contoh yang saya sebutkan di atas.
Jika memang amanahnya kelas berat, keberadaan keluarga seperti kakek nenek, kakak dan adik kita justru bisa menjadi salah satu solusi dengan catatan mereka faham dengan visi dan misi keluarga kita.
“ala kulli haal, kita sendiri yang bisa menentukan skala prioritasnya.
Wallahu a’lam bishshowwab.
✅
🙋 Bu Amalia
Tanya:
Mba Bara tolong motivasi saya agar berani bermimpi dan bercita2 punya anak penghafal Al-Qur’an..
Saya dan suami bukan dari keluarga penghafal. Bahkan ketika saya “rasan2” pingin mondokkan anak saya untuk menghafal, cita2 saya dipatahkan oleh kakak saya. Katanya susah kalo ga ada keturunan hafiz.
Jawab:
Jangan putus asa dari rahmat Allah mbak.
Banyak kisah2 yang dapat dijadikan sebagai contoh, baik dari kalangan generasi terdahulu maupun generasi sekarang yang layak dijadikan contoh dan motivasi dalam membimbing anak menjadi penghafal Al-Qur’an.
Salah satu contohnya adalah seorang pemuda yang berhasil menjadi penghafal Al-Qur’an padahal ibunya seorang pendeta, dan lain-lain.
✅