Tulisan semrawut ini niat awalnya Menganalisa Manajemen Komunikasi Kota Solo dalam Bidang Kesenian dan Kebudayaan. Namun saya sadar kalau tidak berhak menganalisa apalagi tanpa data yang lengkap. Alangkah lebih bijak jika pembaca menyadari jika saya adalah pemilik blog ini, maka berilah hak kepada saya untuk sekedar menulis, sekenanya.

Kota Surakarta, yang lebih dikenal dengan Solo mempunyai sejarah panjang tentang kesenian dan kebudayaan. Didalamnya terdapat proses panjang berkembangnya seni dan budaya di masyarakat kota bengawan, dimulai dari keraton yang menjadi pusat kebudayaan mataram khususnya dan jawa umumnya.
Seiring perkembangan tata kelola pemerintahan, peran keraton sebagai pusat seni dan budaya mulai bergeser oleh proses kreatifitas masyarakat. Pada umumnya masyarakat mengadopsi seni dan budaya yang populer. Namun tak sedikit juga yang setia mempertahankan seni budaya daerah yang dibawa leluhur.
Seni dan Budaya di Kota Solo berkembang sesuai generasinya. Dalam kisaran satu dekade terakhir, seni budaya di Solo nampak meriah. Dilihat dari agenda kota Solo yang padat dengan acara kirab, pagelaran seni, pameran dan pertunjukan, dapat dikatakan proses perkembangan seni dan budaya di Solo cukup dapat diharapkan.
ANALISA
Sedikitnya terdapat 50 event di Solo pada tahun 2013. Di bulan September sendiri ada 4 event besar, antara lain (sumber:tentangsolo.web.id) :
- Grand Final Putra Putri Solo. 7 September 2013 di Balaikota Surakarta. Puncak acara dan penobatan Putra-Putri Solo 2013.
- Solo Keroncong Festival. 13-14 September 2013 di Kawasan jl. jendral Sudirman. Menampilkan para seniman keroncong local, nasional, maupun International dalam upaya melestarikan musik tradisi dan memupuk rasa nasionalisme.
- Solo International Performing Art (SIPA). 20-22 September 2013 di Pamedan Pura Mangkunegaran. Pegelaran seni internasional yang menampilkan artis-artis dari dalam dan luar negeri yang diikuti sekitar 7 – 10 negara asing.
- Solo City Jazz. 27-28 September 2013 di Ngarsopuro/Sriwedari. Gelaran Tahunan musisi Jazz Nasional dan International yang secara rutin di gelar di Solo, sebagai tolok ukur perkembangan musik jazz dengan menampilkan artis-artis Jazz Nasional maupun International.
Mayoritas event di Solo memang berwujud pagelaran atau Performing Art. Pagelaran Musik lebih dominan dibandingkan yang lain. Dilihat dari mobilisasi massa, pagelaran khususnya musik memang dapat menyedot minat masyarakat untuk berbondong-bondong menyaksikan. Tak kalah dengan Music Performance, Pameran dan kirab juga dapat mendatangkan masa yang tak sedikit.
Dalam pengelolaan event di kota Solo, Disbudpar menjadi tangan panjang Pemkot. Dalam tataran teknis, dinas dibantu oleh masyarakat melalui Lembaga kesenian, Event Organizer ataupun Komunitas-komunitas di Kota Solo. Sebagai contoh, Solo Batik Carnival (SBC). Event yang mengadopsi Jember Batik Carnival tersebut dikelola oleh Mataya Heritage, sebuah lembaga yang berfokus pada event seni dan budaya.
Ada beberapa pihak penyelenggara yang juga bekerjasama dengan instansi pendidikan yang terkait event tertentu. Sebagai contoh pelibatan siswa SMKI dan mahasiswa ISI Surakarta dalam pagelaran sendra tari Matah Ati, SIPA dan beberapa event yang lain. Hal ini menjadikan kalangan akademisi mendapatkan apresiasi dalam bidang yang ditekuninya. Ada juga kegiatan yang melibatkan masyarakat dari kelurahan-kelurahan yang ada di Solo. Salah satu contoh adalah Solo Kampoeng Art.
Adanya komunikasi antara pemerintah dengan masyarakat ini berdampak pada bertaburnya event di kota Solo. Hal ini karena masyarakat merasa dilibatkan, baik sebagai panitia maupun penonton. Dengan begitu, kesenian di kota Solo dapat bertahan dan berkembang.



