Bedtime Story: The Unknown Cake


Once upon a time, in a cozy house, there lived two close friends, Cat and Dog. They shared a room and were always playing together. One day, after a tiring play session outside, they returned to their room feeling hungry.

“Hey Cat, do you see that big cake over there?” Dog asked, pointing excitedly.

“Yeah, I see it. But whose cake is it?” Cat wondered aloud.

“I don’t know, but since it’s in our room, maybe it’s for me,” Dog suggested eagerly.

“No way, maybe it’s for me!” Cat countered.

They couldn’t agree, so they decided to split the cake. “Let’s just divide it and enjoy,” Cat proposed.

“That’s a good idea, let’s do it,” Dog replied.

After dividing the cake, they both ate it hungrily. But just as they finished, a big bulldog stood in front of them.

“Hey Cat and Dog, how’s it going?” the bulldog greeted them. “I’ve been looking for my cake. Have you seen it?”

Cat and Dog froze, feeling guilty. “Um, yes, we did… We ate it,” they confessed nervously.

“Oh, that’s a relief! It was a two-month expired cake anyway,” the bulldog reassured them.

“What!!! Two months expired?” Cat and Dog exclaimed in surprise.

“Oh my goodness, you need to drink a lot of water if you don’t want to get a stomachache now,” the bulldog advised.

The cat and dog both ran in a rush to drink glasses of water, worried they would get sick from eating the expired cake. After returning to their room, they felt calm.

“It’s okay, but remember, you shouldn’t eat something that isn’t yours,” the bulldog advised them kindly.

Realizing their mistake, Cat and Dog apologized to the bulldog. “We’re sorry for eating your cake without asking,” they said sincerely.

“It’s alright. Just remember not to take things that don’t belong to you,” the bulldog replied gently.

Cat and Dog nodded, understanding the lesson. They thanked the bulldog and laughed together, grateful for the funny story and the important lesson they had learned.

Taiwan, March 2024

Sisi Lain Manusia Normal


Kisah tentang seorang komandan kamp konsentrasi Auschwitz, Rudolf Hoess, dan kehidupan keluarganya. Mereka tinggal persis di sebelah dinding kamp konsentrasi Auschwitz. Film ini menggambarkan kontras antara kehidupan nyaman keluarga Hoess yang tampak sempurna dan ironi di balik kamp konsentrasi yang penuh dengan kebrutalan. Film ini berhasil menunjukkan sisi keganasan dari manusia yang begitu menikmati kenyamanan sebagai sebuah keluarga yang utuh dan sempurna, walaupun mereka mengetahui kebrutalan di balik dinding tempat tinggal mereka. Mereka hidup layaknya keluarga yang bisa sarapan dengan nyaman, bermain air di musim panas lengkap dengan papan seluncuran, sementara suara jeritan dan tembakan terdengar dari balik dinding tepat dari sebelah rumah mereka.

Menurut saya, film ini menunjukkan bagaimana sisi lain dari manusia yang bisa tenang menjalani peran sebagai sebuah kenormalan. Sebagai seorang pekerja, Hoess terlihat seperti seorang komandan profesional biasa dalam menjalankan pekerjaannya. Fokus dan berkerja keras untuk pengembangan proyek yang sedang ditangani. Digambarkan pula begitu sibuknya ia saat berurusan dengan organisasi keprofesionalan dan kerumitan pekerjaan. Sebagai seorang profesional, Hoess menjalankan tugasnya dengan baik, terutama saat dia mengembangkan metode pengembangan kamp yang baru dan lebih efisien. Dia membahas itu di rumahnya saat keluarganya asyik bermain dengan ceria.

Sutradara menggarap film ini dengan serius lengkap dengan detail dan gambaran lingkungan yang sangat indah dan sinematografi yang memukau. Latar belakang kehidupan tentara Jerman dan kehidupan sosial lengkap digambarkan dalam beberapa adegan. Tak ada konflik khusus dalam plot cerita ini, namun dengan latar suara yang menggigit di setiap adegan di rumah Hoess, dan keluarga tak mengganggu secara level suara, namun sangat mencekam dalam arti suara yang sebenarnya. Sungguh, film ini berhasil menggambarkan kengerian yang luar biasa tanpa menunjukkan sedikitpun adegan yang mengerikan. Tak semua anggota keluarga terbiasa dengan kondisi ini, terdapat adegan di mana ketika mertua Hoess mengunjungi mereka tidak bisa tidur di malam hari karena gelisah. Kejadian ini digambarkan dengan apik saat api pembakaran dari kamp sebelah menerangi malam.

Bagi kita mungkin sangat mudah menghakimi Hoess sebagai satu sisi monster dan setan kejam karena kebijakan dan profesionalismenya dalam membunuh ribuan orang tak bersalah setiap hari. Namun, di sisi lain, setelah selesai bekerja, ia seperti kebanyakan orang lainnya, dia kembali sebagai seorang ayah yang baik. Kelelahan setelah bekerja, lalu pergi ke kamar anak perempuannya dengan membacakan dongeng pengantar tidur kepada putri yang tercinta. Gambaran ini tak lebih sama dari kita para bekerja biasa yang kita klaim sebagai peran yang baik, sementara Hoess menjalankan peran lain. Bisa jadi ini adalah bahan renungan apakah kita yang selama ini merasa baik juga melakukan hal benar dalam hal lain. Hoess bisa saja berpikiran bahwa tidak ada yang salah atas nama profesionalisme dan bisa menghidupi keluarga dengan baik dan normal. Atau sisi lain kenyataan kita sebagai manusia dengan naluri mengerikan. Kita akan memilih diam dan menganggap kebrutalan sebagai hal yang normal dan wajar selama kita bisa hidup tenang dan damai. Atau mungkin kita memang harus melihat sesuatu dari sisi lain, jauh dari sudut pandang kita sendiri sehingga kita terkungkung dengan kenyamanan dan buta terhadap yang seharusnya tidak kita lakukan.

Sungguh film yang menakjubkan, bintang lima. Tak salah menjadi nominasi di banyak ajang perfilman bergengsi dunia.

Taiwan, Maret 2024.

Memancing di Muara


“Pusing benar dengan pekerjaan ini!” ujarku dalam hati. Tak ada waktu santai untuk menikmati daerah yang indah ini. Kota ini penuh dengan tempat wisata yang eksotis, tapi tak ada waktu untuk sekadar berkunjung. Kegiatan yang sangat padat dan penuh tekanan benar-benar menyisakan dada dan memusingkan kepala. Kopi pahit pun tak bisa menghilangkan kepenatan ini. Liburan di pantai rasanya hampir tak terbayangkan bisa dilakukan.

Di antara kepenatan yang menyelubungi, telepon genggam berdering. “Halo bro, lagi sibuk apa? Ada rencana besok minggu?” Kebetulan, hari Sabtu itu saya tidak kemana-mana, hanya menunggu kabar dari tim yang bekerja di lapangan. Langsung saja saya menjawab dengan lancar, “Tidak ada acara apa-apa bro, ada rencana apa?” balas saya. “Ayo kita pergi memancing, ada tempat baru yang menarik. Minggu saya jemput ya.” Tanpa berpanjang lebar, saya langsung mengiyakan.

Minggu pagi ketika dijemput, saya tidak berekspektasi berlebihan dengan perjalanan ini. Itu dikarenakan memancing memang bukan hal yang saya gemari, tidak menarik. Tapi saya tertarik dengan tawaran daerah baru yang akan kami tuju. Lokasi tempat pemancingan ini adalah di daerah muara air tenang. Tempat ini terpencil, banyak ikan, dan bukan lokasi turis. Mendatangi tempat baru adalah hal yang saya sukai, apalagi di daerah ini masih banyak sekali tempat yang terpencil yang hanya warga lokal yang mengetahuinya.

Setelah mobil operasional lapangan 4×4 tiba di depan penginapan, saya bergegas merapikan barang dan membawa beberapa batang biskuit. Saya diberi tahu bahwa perjalanan akan memakan waktu dua jam dan saya tak ingin kelaparan di hutan Papua. Kami sempat pula menambah bahan jajanan seadanya dengan membeli di warung lokal. Karena ini ingin memancing, saya merasa perlu ikutan berpesta dengan membeli alat pancing dan umpan seadanya. Alakadarnya saja. Setelah menjemput sopir tambahan yang juga warga lokal, kami pun berangkat.

Lokasinya memang lebih ke pedalaman, melewati banyak desa kecil. Lokasi yang bisa dikeanli terakhir adalah sebuah pantai wisata yang hanya ramai di tanggal merah saja. Lokasi yang kami tuju masih ada beberapa jarak lagi. Setelah makan siang dari bekal nasi bungkus, kami tiba di muara itu. Setelah melakukan pencarian lokasi pemancingan dan cukup untuk membakar api unggun, kami siap untuk memancing. Infonya, waktu terbaik untuk memancing adalah sore menjelang malam. Entah apa dasarnya, saya hanya menurut saja. Kegiatan memancing ternyata tak membosankan, banyak obrolan menarik dan waktu saling mengenal satu sama lain. Teman yang mengajak adalah rekan kerja yang merupakan pengawas lapangan untuk pekerjaan saya. Dia layaknya rekan yang harus saya layani. Kegiatan memancing ditengah lawakan dan obrolan ringan membuat kami terasa akrab dan tak berjarak dalam hubungan pertemanan. Sungguh menarik, sekarang saya rasa ini pula mungkin alasan ini pula yang membuat olahraga adalah bahasa lain alam mengakrabkan sesama rekan kerja.

Malam itu terasa sangat menyenangkan. Ditengah kegelapan, kami bakar sisa-sisa kayu yang ada sehingga api unggun menghangatkan malam. Area sekitar muara tak ada sinyal, sungguh melegakan tak terusik oleh dering telepon. Tidak ada gangguan dari panggilan pekerjaan yang mengganggu. Sambil menyeruput kopi sachetan dan lawakan serta guyonan terus berlangsung. Suara tawa membelah malam.

Tiba jam delapan malam, tak terasa akhirnya kegiatan memancing hanya mendapatkan beberapa ikan kecil. Rasanya tidak sebanding dengan pengorbanan kami membeli alat pancing dan jajanan lainnya. Namun yang tidak tergantikan adalah pengalaman kabur dari kepenatan pekerjaan yang sangat menyesakkan. Pemandangan di muara itu dengan langit bertabur bintang ditengah kegelapan dan api unggun kecil dari kayu bakar seadanya yang dikumpulkan seadanya adalah hal yang sangat indah pada hari itu. Setelah malam mulai menggelap, kami mengambil jalan pulang dalam waktu dua jam, kemudian saya sudah tiba di penginapan lagi dan siap membuka buku catatan untuk mengecek pekerjaan dan melakukan laporan pekerjaan kembali untuk persiapan esok hari.

Rasanya benar memang jika ditengah penatnya pekerjaan dibutuhkan waktu istirahat sejenak dari kebiasaan. Meski memancing di muara bukanlah tempat yang menarik, tapi keakraban itu terasa hangat. Catatan ini mengenang perjalanan memancing di muara bersama rekan kerja dimans kami biasanya sering berdebat. Meski sering tidak akur dalam hal profesionalisme tapi dalam hal pergaulan ternyata teman saya ini orang yang asik. Semoga bisa kembali lagi ke kota ini dengan tujuan yang berbeda, saya menikmati pekerjaan disana.

Manokwari, Oktober 2018.

Antara Draf Saya dan AI


Saya bukan termasuk orang yang bagus dalam menjaga konsistensi. Tetapi jika sedang asyik pada sesuatu, saya bisa terlibat dengan satu hal dan larut di dalamnya untuk waktu yang lama. Seperti halnya menjaga konsistensi dalam menulis artikel di blog ini. Ada masa di mana saya begitu rajin menulis hingga saya ingat bahwa satu bulan, atau paling tidak dua bulan, tidak ada tulisan singkat yang bisa saya hasilkan. Tulisannya bisa berupa curhatan, pembahasan gosip, puisi, cerita perjalanan, atau berbagi informasi. Rasanya saat itu selalu ada ide untuk bercerita dan menulis. Entah karena alasan klasik, masih banyak waktu luang, atau karena dikelilingi teman yang gemar melakukan hal ini.

Hari ini, jika dilihat dari statistik penulisan di blog ini sungguh menyedihkan. Dalam satu tahun nyaris bahkan tidak ada tulisan yang dipublikasikan. Ingat, tulisan yang dimaksud adalah bukan tulisan dengan nilai tulisan yang baik berdasarkan kriteria tertentu. Hanya sebuah tulisan yang menurut saya sudah rapi dari segi alur dan tuntas saja penulisannya dan ceritanya. Rasanya tidak rumit, bukan sesuatu yang harus memenuhi kaidah penulisan jurnalistik yang standar, menggunakan ejaan baku, tidak… masih jauh. Sebuah catatan harian selama rapi formatnya saja bisa saya publikasikan kok. Nyatanya, yang ada hanya semangat untuk menulis cerita yang menumpuk di pikiran dituangkan dalam kisah tanpa akhir. Ibarat naskah film yang tak kunjung selesai ditulis alur ceritanya.

Jika dilihat dari statistik, ada lebih dari 80 tulisan yang sudah terkumpul. Tulisan-tulisan tersebut sudah memiliki kerangka, informasi, alur cerita, opini, dan tema yang sudah dirancang, namun sayangnya belum saya eksekusi. Semua itu teronggok basi di dalam draft. Hanya menjadi penghias jumlah calon judul

Saat ada keinginan untuk menyelesaikan tulisan, saya membuka satu persatu draft tersebut dan berfikir, ‘Apakah mungkin saya menyelesaikan minimal satu tulisan ini dalam enam bulan, misalnya, agar tetap bisa membiasakan menulis?’ Rasanya kok ya, sulit sekali membangun semangatnya. Kemudian terlintas untuk memanfaatkan teknologi LLM seperti Chat GPT. Teknologi ini bisa membantu saya memproduksi cerita dari draft-draft yang sudah menumpuk. Ide brilian, mari kita coba manfaatkan teknologi untuk memompa produktivitas. Saya kini bersemangat sekali dan merasa tercerahkan. Pertanda baik nih!

Satu persatu draft lama saya buka, memilah draft cerita yang paling fantastis, menarik, dan dramatis untuk segera dipublish dengan bantuan AI. Akhirnya saya membaca ulang sebuah draft lama, kemudian membenarkan kerangka karangan, menambahkan unsur-unsur pemanis dan lain-lain. Simsalabim! Ratusan untaian kata dan frasa keluar dengan rapi dan menarik. Yes! Tulisan saya sudah jadi, lengkap dengan judul.

Dengan semangat, saya membaca tulisan ‘tangan’ saya ini. Hmmmm… rapi sekali, tapi kok tidak ada rasanya ya. Terlihat sekali bukan saya yang menulisnya. Ini terlalu sempurna dan terlalu rapi serta pintar dalam merangkai kata, dan terlalu sopan dalam berkalimat. Saya seperti membaca cerita orang lain, tak ada ‘perasaan’ yang sama yang saya rasakan pada kalimatnya. Walaupun dengan unsur kalimat dan isi kalimat yang sama, rasa yang ingin diutarakan seperti tidak sampai. Adapun ide, kerangka, dan informasi di dalam paragraf adalah benar, namun ada rasa yang tidak kena.

Ibarat menjelaskan malam yang dingin, kalimat ‘dingin’ yang tercipta bukan ‘dingin’ yang saya rasakan. Sangat subjektif memang. Tulisan tersebut terlalu kaku, ibarat perempuan cantik, sangat cantik, tapi itu boneka. Secantik dan semulus apapun, tetaplah boneka. Ada elemen emosi yang tidak ada. Pada akhirnya saya paham, kata bisa diciptakan tapi rasa atau perasaan tidak ada yang bisa digantikan. Mungkin ini bisa terjadi nanti saat mesin ini semakin pintar dan terlatih. Sejatinya jika instruksi lebih detail, informasi lebih terstruktur, dan instruksi lebih jelas untuk pengolahan bahasa, maka mesin akan lebih bisa memproduksi sesuatu yang lebih memiliki ‘rasa’.

Akhirnya tulisan tersebut kembali saya simpan di draft. Rasanya belum layak untuk dipublish. Meskipun saya tidak memiliki pembaca setia, sebagai pembaca blog saya sendiri, rasanya tulisan tersebut kurang enak untuk dibaca. Sangat jelas untuk menilai bahwa tulisan tersebut bukan tulisan saya hanya dari gaya bahasa yang ada. Rasanya ketika semua kesalahan manusiawi dihilangkan dalam sebuah tulisan, itu dapat mengubah karakter tulisan tersebut. Mungkin itulah yang membuat sesuatu terasa lebih “manusiawi” ketika ada kesalahan yang dirasakan. Dan, bukankah untuk membuktikan bahwa sesuatu adalah karya manusia, kita bisa melihat adanya “human error”? Tentu saja, sebaiknya kita berusaha menghindari kesalahan tersebut, tapi dalam beberapa kasus, kesalahan tersebut adalah bukti bahwa manusia selalu berusaha untuk belajar.

Draf-draf ini tetap tak tersentuh, dan jumlahnya tidak berkurang. Seiring berjalannya waktu, mungkin akan muncul draf-draf baru dengan ide-ide yang meluap-luap untuk diceritakan, namun tetap tidak ada semangat untuk menyelesaikannya. Jika ada tulisan yang dipublish hari ini, itu adalah tulisan ini. Perlu dicatat, tulisan ini juga dibantu oleh teknologi untuk memperbaiki beberapa kesalahan yang muncul, seperti kesalahan ejaan. Ingat, saya selalu mendukung teknologi. Saya bekerja di bidang pengembangan teknologi LLM seperti ini. Teknologi tidak salah, pemanfaatan oleh kita saja yang kadang tidak tepat guna. Tentu saya masih dan akan terus pakai alat bantu ini salah satunya untuk mengoreksi ejaan dalam tulisan ini 🙂

Intinya, pesan untuk diri sendiri: tetaplah menulis. Setidaknya, masih ada beberapa catatan yang tetap terdokumentasi dalam bentuk draft! Salam untuk semangat!

Taiwan, Oktober 2023.

Hanya Sebuah Tur Biasa


Di tengah kesibukan konferensi yang saya hadiri akhir bulan lalu, kegiatan tur menjadi momen yang paling dinantikan untuk menjelajahi tempat yang telah dipersiapkan oleh panitia. Acara kali ini berlangsung di Kenting, Pingtung, bagian paling selatan Taiwan. Terletak di titik paling ujung, wilayah ini memiliki geografi yang berbeda dari bagian lainnya. Wilayah ini adalah salah satu destinasi wisata yang sebagian besar berada dalam cagar alam taman nasional. Pantai sepanjang wilayah ini juga memiliki ombak besar yang terbentuk dari pertemuan Selat Taiwan dan Samudra Pasifik.

Dalam jadwal tur, kami diajak mengunjungi lokasi menarik di dalam kawasan taman nasional Kenting. Perjalanan menuju lokasi dilakukan dengan bus pariwisata dan ditemani oleh pemandu wisata lokal. Jarak tempuh dari lokasi konferensi hari itu pun tidak begitu jauh, hanya sekitar 30 menit saja. Setibanya di lokasi, kami langsung dihadapkan dengan pintu gerbang tertutup. Pemandangan yang sangat tidak lazim sebagai tempat yang menarik, tidak ada gerbang spesial atau palang khusus yang meriah di area depan. Sepertinya memang tempat ini tidak dipersiapkan untuk menjadi tempat wisata umum atau masal. Seperti yang sudah diberitahu oleh panitia bahwa jumlah pengunjung sangat dibatasi dengan peraturan cukup ketat. Saat mendaftar, kami diminta untuk menyiapkan berbagai dokumen seperti paspor dan keterangan untuk tidak melanggar aturan. Tidak terlihat seperti mendaftar kegiatan wisata. Setiap pengunjung, termasuk pengunjung lokal, diidentifikasi dengan ketat untuk membatasi jumlah kunjungan harian. Pembatasan ini membuat tur ini menjadi kesempatan langka untuk bisa mengunjungi lokasi ini. Pikiran saya pun melayang, mengapa perlindungan terhadap tempat ini begitu ketat?

Sejak awal, kami telah diberitahu bahwa tujuan utama tur ini adalah melihat pohon banyan. Terus terang saya tak ada bayangan bentuk pohonnya seperti apa sampai saya mencari tahu dari internet. Tampak seperti beringin besar jika dilihat dari artikel bebas. Nyatanya, pohon ini begitu istimewa, bukan hanya terletak pada ukuran dan bentuknya. Pohon banyan adalah jenis pohon yang termasuk ke dalam keluarga Moraceae. Pohon Banyan menjadi jenis pohon terluas di dunia berdasarkan luas area tumbuhnya. Pohon ini tumbuh dengan akar menjalar dari dahan atasnya hingga mencapai tanah, membentuk batang baru yang terus memperkuat diri seperti batang utama. Fenomena ini sering diilustrasikan sebagai pohon seribu kaki.

Menurut yang dipaparkan oleh pemandu, perihal habitat, pohon ini hanya tumbuh di tropis dan subtropis. Ada beberapa negara Asia seperti India, wilayah Asia Tenggara, termasuk Taiwan. Karena kelangkaannya, lokasi ini dijaga khusus untuk melindungi pohon dari kegiatan ilegal seperti vandalisme, tangan jahil hingga penebangan dan pengambilan bahan hutan lainnya. Perlindungan ini menjadi penting untuk menjaga kelangsungan hidup pohon yang butuh waktu sangat lama untuk bisa tumbuh seperti pohon dewasa saat ini. Oleh karena itu, lokasi ini dibiarkan berada dalam keadaan alami dan terbatas. Pengunjung dilarang membawa barang-barang yang berpotensi menjadi sampah seperti makanan kecil, botol dan bungkus plastik. Benda tajam, spidol, cat warna, tali adalah benda yang dilarang. Pengambilan foto hanya diperbolehkan tanpa menyentuh pohon tersebut. Larangan terakhir saya rasa agak berlebihan untuk sebuah kunjungan ke hutan. Tapi bisa jadi ini adalah peraturan yang akan mencegah semua kemungkinan kebiasaan buruk terjadi jika dinormalisasi.

Hal menarik lain dari tur ini adalah pengalaman mengamati pohon-pohon ini dan bagaimana unsur pariwisata dikelola. Saya menyadari bahwa pohon-pohon yang dipamerkan dan dijadikan “objek” bagi banyak pengunjung adalah pohon yang biasa saya lihat di Indonesia. Ada pohon Ketapang, pohon Ketapang biola, putri malu, dll. Dalam sajiannya, pemandu wisata membawa narasi yang menarik mengenai pohon “biasa” ini menjadi sesuatu yang informatif dan menarik. Sebagai contoh, dalam tur ini kami diberi penjelasan tentang perilaku reproduksi pohon-pohon tersebut. Waktu kawin, perilaku khusus dari pohon atau tanaman sekitar. Semua menjadi istimewa begitu mengetahuinya. Saya hampir tak pernah tahu apa spesialnya dari pohon Ketapang yang banyak ditanam di pinggir jalan selain alasan teduh dan tidak susah dirawat. Rasanya tak ada istimewanya, namun di sini pohon-pohon ini menjadi objek wisata yang menarik bahkan bagi saya sendiri. Reaksi ini terlihat dari banyak turis berfoto di depan pohon-pohon tersebut, mencium bau daun layu yang gugur, mengamati detail serat daun, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan bagaimana objek yang tampak sederhana bisa menjadi sebuah daya tarik dalam industri pariwisata.

Kembali ke pohon banyan, sejak semakin banyak dikenal karena sempat dijadikan lokasi syuting film internasional (Life of Pi, 2012), lokasi ini menjadi semakin dibatasi. Kini lokasi ini lebih dijadikan pusat riset untuk pengembangan pohon dan lingkungan. Kami melewati lokasi kantor yang lengkap dengan berbagai sensor dan kamera pengawas untuk mendeteksi manusia dan hewan. Kondisi ini memberikan pandangan menarik tentang bagaimana Taiwan mengawasi hutan dan lingkungannya.

Pengalaman menjelajahi lokasi ini memang hanya berlangsung selama satu jam, tetapi banyak memberikan pengetahuan baru tentang dasar-dasar tanaman melalui pemandu wisata yang fasih berbahasa Inggris. Pendekatan ini memberikan keuntungan dalam mempromosikan pariwisata lokal. Saya pikir pendekatan ini bisa diadopsi oleh para pemangku jawaban di Indonesia, terutama di tingkat pemerintah daerah, untuk terus mengembangkan potensi wisata lokal yang melimpah. Menarik melihat bagaimana mereka menjaga dan memanfaatkan potensi objek wisata yang pada umumnya dianggap sepele. Di Indonesia, potensi wisata yang beragam dan unik tersedia, namun kurangnya pengembangan masih membuat dampaknya terbatas pada masyarakat. Seperti dalam industri pariwisata, pengembangan riset ilmu lingkungan juga harus diperhatikan lebih serius. Pikiran saya melayang, apabila setiap hutan memiliki pusat riset khusus untuk menggali potensi ilmu dan teknologi yang dapat dimanfaatkan, seperti yang dilakukan di Taman Nasional Kenting ini.

Taiwan, Agustus 2023.