Kalau China berperang melawan Israel, kita harus dukung yang mana?

Jawabannya adalah: berdasarkan ayat Al-Qur’an, kita harus mendukung China.

Lho, bukannya China itu atheis (atau tanpa agama), sedangkan Israel itu beragama Yahudi yang masih masuk kategori Ahli Kitab?

Jawabannya, karena menurut ayat Al-Qur’an, kita memilih teman yang non-muslim itu bukan karena agamanya, tapi karena dia memusuhi kita atau tidak, atau karena dia mengusir kita dari tanah air kita atau tidak, apapun agama mereka.

Selama mereka tidak memusuhi kita dan tidak mengusir kita dari tanah air kita, maka kita boleh berteman dengan mereka, apapun agama mereka.

Dan sebaliknya, kalau mereka memusuhi kita, atau bahkan mengusir kita dari tanah air kita atau menjajah kita, atau mereka mendukung penjajahan itu, maka kita dilarang untuk berteman dengan mereka, apapun agama mereka.

Inilah ajaran Al-Qur’an, di dalam surat Al-Mumtahanah ayat 8 dan 9:

{ لَّا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ لَمۡ یُقَـٰتِلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَلَمۡ یُخۡرِجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ أَن تَبَرُّوهُمۡ وَتُقۡسِطُوۤا۟ إِلَیۡهِمۡۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُقۡسِطِینَ }

_Allah tiada melarang kamu berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tidak memerangimu dalam urusan agama dan tidak mengusirmu dari kampung halamanmu. Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berlaku adil._

{ إِنَّمَا یَنۡهَىٰكُمُ ٱللَّهُ عَنِ ٱلَّذِینَ قَـٰتَلُوكُمۡ فِی ٱلدِّینِ وَأَخۡرَجُوكُم مِّن دِیَـٰرِكُمۡ وَظَـٰهَرُوا۟ عَلَىٰۤ إِخۡرَاجِكُمۡ أَن تَوَلَّوۡهُمۡۚ وَمَن یَتَوَلَّهُمۡ فَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلظَّـٰلِمُونَ }

_Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawan orang-orang yang memerangi kamu dalam urusan agama dan mengusir kamu dari kampung halamanmu, serta membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Barang siapa menjadikan mereka sebagai kawan, mereka itulah orang yang zalim._

_[Surah Al-Mumtaḥanah: 8-9]_

Maka, kembali pada pertanyaan di atas, jawabannya, kita harus mendukung China. Karena saat ini, yang benar2 memusuhi kita adalah Israel, yang benar2 menjajah kita dan melakukan genosida terhadap saudara kita juga Israel, dan yang mendukung penjajahan dan genosida itu adalah Amerika. Maka tidak boleh kita berteman dengan Israel dan juga dengan Amerika.

Semoga kita semua mau kembali kepada Al-Qur’an kita, sebelum kembali kepada pendapat lainnya, aamiin.

Sebaliknya, negara manapun juga, baik itu China, Rusia, Thailand, Ethiopia, Somalia, Namibia, Rwanda, Zimbabwe, atau lainnya, kalau mereka berperang melawan Israel, maka kita boleh berteman dengan mereka dan juga wajib mendukung mereka. Bukan karena kita membenarkan aqidah mereka, tapi karena kita paham kitab suci kita.

Ta’wil ayat “dengan tangan”

Mari kita lihat ayat ini:

وَالسَّمَاءَ بَنَيْنَاهَا بِأَيْدٍ وَإِنَّا لَمُوسِعُونَ

Dan langit Kami bangun dengan tangan dan sesungguhnya Kami luaskan (Adz-Dzaariyat: 47)

Mari kita lihat apa kata ahli tafsir, tentang maksud “dengan tangan” (بِأَيْدٍ) pada ayat ini.

Dalam tafsir Ath-Thabari ada 7 riwayat yang menyebutkan bahwa maksud “dengan tangan” ini adalah “dengan kekuasaan” (بقوة).

Silakan lihat di:
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/tabary/sura51-aya47.html

Lalu, mari kita lihat tafsir Ibnu Katsir. Ternyata yang disebutkan juga sama, yaitu maksud “dengan tangan” adalah “dengan kekuasaan” (بقوة).

Silakan lihat di:
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/katheer/sura51-aya47.html

Lalu, mari kita lihat tafsir Qurthubi. Ternyata disebutkan bahwa makna “dengan tangan” di situ artinya adalah “dengan kekuatan dan kemampuan” (بقوة وقدرة).

Silakan lihat di:
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/qortobi/sura51-aya47.html

Berikutnya, tafsir al-Baghawy, juga sama, yaitu maksudnya adalah “dengan kekuatan dan kemampuan” (بقوة وقدرة).

Silakan lihat di:
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/baghawy/sura51-aya47.html

Terakhir, mari kita lihat tafsir As-Saadi, ternyata sama juga, yaitu maksudnya adalah “dengan kekuatan dan kemampuan” (بقوة وقدرة).

Silakan lihat di:
https://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura51-aya47.html

Kesimpulan: jangan mudah membid’ahkan ta’wil, karena terbukti, para ulama tafsir juga menggunakan metode ta’wil dalam memahami ayat ini, dan tidak memaksakan diri “pokoknya tangan ya tangan” atau klaim2 semacam itu.

Kisah Nabi Daud dan konflik antar etnis atau antar agama di Indonesia

Dulu Nabi Daud as pernah diuji. Tiba2 datang dua orang ke hadapannya, mereka minta agar mereka diberi keputusan yang adil.

Salah satu dari mereka lantas menceritakan bahwa orang yang satu lagi adalah saudaranya, dan saudaranya itu memiliki 99 ekor kambing, sedangkan dia sendiri hanya memiliki 1 ekor kambing. Lalu saudaranya itu memaksa dengan keras agar 1 ekor kambing itu diberikan kepadanya agar kambingnya genap menjadi 100 ekor.

Mendengar hal ini, langsung saja Nabi Daud marah dan memutuskan bahwa orang yang memiliki 99 ekor kambing itu adalah orang yang salah.

Beberapa saat kemudian, setelah kedua orang itu pergi, Nabi Daud sadar, bahwa seharusnya dia tabayyun dulu pada orang yang satu lagi untuk memastikan apakah benar seperti itu duduk perkaranya. Tapi dua orang itu sudah pergi.

Lalu Nabi Daud beristighfar memohon ampun kepada Allah lalu bersujud. Dan Allah kemudian menerima permohonan ampun ini.

Apa pelajaran dari kisah ini untuk kita yang ada di Indonesia?

Tabayyun lah.

Kalau kita mendengar kisah, atau mendapat foto atau video mengenai orang yang sedang bertengkar, apalagi yang berbeda etnis atau berbeda agama, karena biasanya ini jadi isu yang sensitif, maka kita harus bisa bersikap adil. Pastikan dulu duduk perkaranya seperti apa, dengan cara bertanya pada kedua orang itu atau dengan cara tabayyun yang lain. Jangan sampai kita menghukumi dengan tidak adil hanya karena kita tidak suka pada seseorang atau tidak suka pada etnis tertentu atau tidak suka pada agama tertentu.

Islam meminta kita agar kita bisa berbuat adil kepada semua orang di Indonesia, apapun etnisnya, apa pun agamanya. Tidak selamanya teman kita yang satu etnis atau satu agama itu benar, dan tidak selamanya orang dari etnis tertentu atau agama tertentu itu salah. Pada setiap kasus, harus selalu dilihat duduk perkaranya secara adil.

Mari kita menjadi muslim yang adil, karena keadilan itu lebih dekat kepada taqwa. Dan janganlah kebencian kita pada satu orang, satu etnis atau satu agama membuat kita menjadi tidak adil lagi.

Mari kita selaku bertabayyun,
marilah kita bersikap adil.

Salam.

Ini kutipan ayat mengenai kisah nabi Daud tsb:

۞وَهَلۡ أَتَىٰكَ نَبَؤُاْ ٱلۡخَصۡمِ إِذۡ تَسَوَّرُواْ ٱلۡمِحۡرَابَ ٢١ إِذۡ دَخَلُواْ عَلَىٰ دَاوُۥدَ فَفَزِعَ مِنۡهُمۡۖ قَالُواْ لَا تَخَفۡۖ خَصۡمَانِ بَغَىٰ بَعۡضُنَا عَلَىٰ بَعۡضٖ فَٱحۡكُم بَيۡنَنَا بِٱلۡحَقِّ وَلَا تُشۡطِطۡ وَٱهۡدِنَآ إِلَىٰ سَوَآءِ ٱلصِّرَٰطِ ٢٢ إِنَّ هَٰذَآ أَخِي لَهُۥ تِسۡعٞ وَتِسۡعُونَ نَعۡجَةٗ وَلِيَ نَعۡجَةٞ وَٰحِدَةٞ فَقَالَ أَكۡفِلۡنِيهَا وَعَزَّنِي فِي ٱلۡخِطَابِ ٢٣ قَالَ لَقَدۡ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعۡجَتِكَ إِلَىٰ نِعَاجِهِۦۖ وَإِنَّ كَثِيرٗا مِّنَ ٱلۡخُلَطَآءِ لَيَبۡغِي بَعۡضُهُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٍ إِلَّا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَعَمِلُواْ ٱلصَّٰلِحَٰتِ وَقَلِيلٞ مَّا هُمۡۗ وَظَنَّ دَاوُۥدُ أَنَّمَا فَتَنَّٰهُ فَٱسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُۥ وَخَرَّۤ رَاكِعٗاۤ وَأَنَابَ۩ ٢٤ فَغَفَرۡنَا لَهُۥ ذَٰلِكَۖ وَإِنَّ لَهُۥ عِندَنَا لَزُلۡفَىٰ وَحُسۡنَ مَ‍َٔابٖ ٢٥

“Dan adakah sampai kepadamu berita orang-orang yang berperkara ketika mereka memanjat tembok tempat ibadah? Ketika mereka masuk (menemui) Daud lalu ia terkejut karena (kedatangan) mereka. Mereka berkata: Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; Maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus. Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Maka dia berkata: “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan”. Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini”. Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. dan Sesungguhnya Dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.“ (Q.S. Shad [38]: 21-25).

Depok, 22 Mei 2024.

Di mana Allah vs teori makhluk 4-5 dimensi

Ruang empat dimensi

Negara2 maju sudah lama memulai riset tentang makhluk 4 dimensi dan makhluk 5 dimensi.

Kalau Anda simpan seekor semut di sebatang lidi, dia hanya akan bisa jalan maju mundur. Ini contoh makhluk 1 dimensi.

Kalau Anda simpan seekor semut di sebuah kertas putih yang lebar di lantai, maka dia akan bisa berjalan maju mundur kiri kanan. Ini contoh makhluk 2 dimensi.

Lalu kita manusia, kita adalah contoh makhluk 3 dimensi, yang bisa bergerak maju mundur kiri kanan atas bawah.

Lalu makhluk 4 dimensi itu apa? Itu adalah makhluk yang bisa bergerak maju mundur kiri kanan atas bawah besok kemarin. Di level ini, pertanyaan “di mana” sudah tidak tepat lagi digunakan, seharusnya “di mapan” yaitu di mana dan kapan.

Lalu makhluk lima dimensi adalah makhluk yang bisa memindahkan makhluk lain yang ada di dimensi bawahnya.

Jadi kalau sekarang ummat Islam masih mempertanyakan “di mana Allah?”, maka pertanyaan ini akan ketinggalan jaman, seharusnya minimal diganti menjadi “di mapan Allah?”

Ini seperti perdebatan tentang bumi Datar, lagi2 hanya kelompok salafi yang “hanya mengandalkan dalil, dan mengabaikan iptek”. Akibatnya, ummat Islam mendapat malu dan makin jatuh level teknologinya.

Sebaiknya pemikiran “hanya mengambil dalil salaf” ini dilengkapi dengan melihat kemajuan teknologi saat ini, karena pendapat para salaf dulu juga pastinya dibatasi oleh level teknologi saat itu.

Kalau tidak mau, ya silakan terus menggunakan teori yang akan ketinggalan jaman, seperti teori bumi datar, teori di mana Allah, atau lainnya. 😬

Percayalah, Islam yang benar pasti yang sejalan dengan teknologi, bukan yang mengabaikan teknologi.

Himbauan di awal Ramadhan untuk semua yang beragama Islam

Kita sudah memasuki bulan Ramadhan, dan mulai hari ini kita bekerja lebih pagi, istirahat siang jam 12:00 sampai jam 12:30, dan selesai kerja lebih cepat.

Terutama sekali selama di bulan Ramadhan ini, tolong dijaga agar jangan sampai sholat dan puasa kita membuat kita malah mengabaikan pekerjaan kita.
Benar bahwa jangan sampai kita mengabaikan ibadah2 kita (sholat dan puasa harus tetap kita jaga, jangan sampai terlewat atau terabaikan), tapi juga jangan sampai ibadah-ibadah kita malah membuat kualitas kerja kita menjadi lebih rendah dibanding yang tidak sholat atau yang tidak puasa.

Ibadah2 yang wajib, tetap harus kita lakukan.
Ibadah2 yang sunnah, tolong dijaga agar tidak mengganggu pekerjaan yang hukumnya juga wajib.
Dan pelaksanaan ibadah2 wajib juga tolong diatur dan diefisiensikan agar tidak mengganggu pekerjaan yang hukumnya juga wajib.

Contohnya:

  • Sebisa mungkin, tolong gunakan waktu istirahat siang yang 30 menit itu benar2 untuk istirahat dan sholat, bukan hanya untuk istirahat saja (lalu sholat-nya nambah lagi istirahat di jam kerja). Ini bisa mengurangi kualitas kerja kita.
  • Kalau mau mengaji, sebaiknya tidak di jam kerja, karena mengaji itu sunnah sedangkan bekerja itu wajib. Usahakan agar mengaji di luar jam kerja.
  • Kalau mau sholat sunnah, sebaiknya di jam istirahat, atau kalaupun di jam kerja tolong dibuat seefisien mungkin, karena sholat sunnah itu sunnah dan bekerja itu wajib.
  • Kalau mau sholat tarawih, ini bagus, tolong dijaga sholat tarawihnya. Tapi kalau ternyata harus bekerja di jam sholat tarawih, tolong diingat lagi bahwa bekerja itu wajib sedangkan sholat Tarawih itu sunnah. Jangan sampai hal yang sunnah malah mengalahkan yang wajib.

Karena dalam Islam, ibadah yang wajib itu wajib dan bekerja juga wajib.
Sedangkan ibadah yang sunnah itu sunnah.
Hal-hal yang sunnah tidak boleh mengalahkan yang wajib.

Ini semua untuk menunjukkan bahwa kita orang Islam adalah orang2 yang benar agama-nya, dan juga bagus kualitas kerja-nya.

Dan terakhir, jangan sampai juga di Ramadhan ini kita malah mengabaikan ibadah2 wajib kita, terutama sekali sholat dan puasa. Jangan sampai kita menunda-nunda sholat, sehingga akhirnya malah tidak bisa sholat. Jangan sampai kita tidak memasukkan jam sholat kita dalam perencanaan perjalanan kita atau pekerjaan kita sehingga akhirnya malah tidak bisa sholat. Dan jangan sampai pula kita mengabaikan puasa kita hanya karena alasan yang kita buat-buat sendiri.
Orang Islam yang baik itu yang baik sholat-nya, dan baik puasanya. Setelah itu adalah orang yang baik kerjanya.
Jangan sampai malah terbalik, kita bekerja tapi malah tidak sholat, atau kita bekerja dan berpuasa tapi malah tidak sholat.

Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai bahan latihan bagi diri kita, untuk menjaga hal-hal yang wajib, dan untuk mengatur hal-hal yang sunnah agar tidak mengalahkan yang wajib, dan juga untuk menunjukkan bahwa orang Islam yang benar itu adalah orang yang bagus kualitas kerja-nya.

Salam.

MASJID KAMPUS SIBUK SHOLAWATAN

Masjid kampus terkenal di salah kampus ternama di Indonesia, saya lihat sekarang “rajin sholawatan”. Bahkan di saat ada puluhan orang sedang melakukan sholat di masjid itu pun, sholawatan tetap dilakukan dengan suara keras, menggunakan speaker dalam dan speaker luar.

Ini bukan masalah boleh sholawatan atau tidak, tapi masalah kepantasan saja. Apa pantas masjid kampus sibuk dengan sholawatan?

Di kampus ternama seperti ini, seharusnya yang dikembangkan adalah Islam yang berfikiran maju ke depan, yang mau memikirkan masalah2 ummat, mulai dari masalah ekonomi, sosial, politik, budaya, dan juga iptek. Karena negara2 Islam selamanya akan menjadi negara dunia ketiga, kalau para mahasiswanya hanya dibekali dengan sholawatan saja.

Apakah sholawatan itu salah? Tidak, tidak salah.

Tapi sholawatan berjam2 di masjid, dengan menggunakan speaker dalam dan speaker luar, yang suaranya sampai bisa terdengar dari jarak puluhan atau ratusan meter jauhnya, di dalam masjid kampus ternama di Indonesia, dan di saat itu di masjid itu ada puluhan orang sibuk sholat bergantian (karena acara wisuda baru selesai), sedangkan yang sholawatan hanya ada lima orang dan mereka itu yang pegang mic, dan suaranya juga bising di dalam masjid (padahal banyak yang sholat di situ), apa seperti ini pantas?

Itu beberapa bulan lalu.

Dua minggu lalu mampir lagi ke masjid tsb, lagi2 kegiatannya sama. Sibuk sholawatan.

Mau dibawa kemana kah anak2 muda kita ini?

Kampus ternama adalah pusat pembinaan generasi muda yang akan memimpin negara kita ini. Kita butuh orang2 yang bisa banyak berusaha, bukan hanya bisa banyak berdoa. Ya, berdoa itu penting, tapi ini bisa dilakukan oleh semua orang. Dan yang harus dilakukan oleh para anak muda di kampus2 ternama adalah berusaha dan berusaha. Karena tidak semua orang bisa berusaha.

Seperti kasus Perang Palestina vs Israel saat ini. Ratusan juta ummat Islam mungkin sibuk berdoa untuk Palestina, tapi berapa orang yang mau dan mampu untuk berusaha membantu Palestina?

Kampus adalah pusat pembinaan anak2 muda, agar mereka bisa dan sibuk berusaha, bukan malah bisa dan sibuk berdoa.

Untuk para pemuda di kampus ternama, berdoalah secukupnya, dan berusahalah sebanyak2-nya. Karena sudah ada banyak orang yang tidak bisa berusaha, akhirnya hanya sibuk berdoa. Yang seperti ini boleh, tapi inilah selemah2nya iman, dan bukan ini yang harus diajarkan pada anak2 muda kita, apalagi para mahasiswa di kampus ternama.

Muslim pinggiran: tidak ngerti syahadat.

Muslim pinggiran seperti kita2 ini, pasti ilmunya minim.
Sholat juga mungkin masih malas-malasan.

Tapi minimal, syahadat kita harus benar.

Syahadat pertama kita itu Laa ilaaha illa Allah.
Artinya, tidak ada Tuhan selain Allah, tidak ada yang kita sembah selain Allah, tidak ada yang kita pentingkan selain Allah.

Kalau kita mengaku Islam tapi masih menomorduakan agama atau menomorduakan aturan Allah, itu artinya kita belum ngerti apa itu makna syahadat. Artinya, sebenarnya kita ini belum Islam.

Contoh mudahnya, kasus Al-Maidah 51 kemarin.
itu ayat Allah, yang mungkin saja bertentangan dengan aturan lain.
Ini ujian untuk syahadat kita, mau menomorsatukan aturan Allah? atau mau menomorsatukan aturan lainnya?

Kalau aturan Allah masih kita nomorduakan,
artinya kita belum lulus syahadat,
dan itu artinya, sebenarnya kita ini belum sah jadi orang Islam.

Note: ini baru makna syahadat ya, tapi inilah pintu gerbang untuk menjadi orang Islam.

Mari kita pahami syahadat kita dengan benar,
dengan konsekuensinya, jadi bukan hanya sekedar ucapan di mulut saja.

Muslim Pinggiran: Yang paling penting apa?

Kalau kita masih malas2 sholat, percayalah, kita ini muslim pinggiran.

Satu hal yang harus kita perhatikan sebagai muslim pinggiran adalah, modal kita untuk masuk surga nanti apa?

Modal minimal kita adalah syahadat,
dan syahadat pertama kita adalah Laa ilaaha illa Allah.
Arti mudahnya adalah: yang paling penting itu Allah.

Jadi kalau kita mau masuk surga, maka kita harus punya prinsip hidup “yang paling penting itu adalah Allah”.

Artinya, ketika ada benturan antara aturan Allah dengan aturan lainnya,
di situlah keislaman kita diuji: sebenarnya kita ini mau jadi orang Islam atau tidak?

Kalau kita masih menomorsekiankan aturan Allah,
percayalah, bisa jadi sebenarnya label “Muslim Pinggiran” pun sudah tidak pantas untuk kita lagi.

Tapi kalau kita masih mau menomorsatukan aturan Allah,
maka berarti kita masih selamat sebagai muslim pinggiran,
meskipun kita ada di emperan agama kita ini.

Mari tetap belajar.

Libur Maulid Muslim Pinggiran

Hari ini kita libur Maulid.
Yang diperingati kelahirannya hari ini adalah Muhammad bin Abdullah, nabi terakhir untuk seluruh ummat manusia.

Kalau kita tidak percaya bahwa Muhammad bin Abdullah adalah nabi untuk seluruh ummat manusia, berarti ada yang salah dalam pemahaman Islam kita. Artinya, kita adalah muslim pinggiran yang ilmunya ada di emperan. Hati2, bisa jatuh ke jurang.

Dan kalau kita merasa bahwa Muhammad itu adalah orang biasa, bukan nabi yang mendapat wahyu dari Allah, maka sudah jelas, meskipun kita ngakunya Islam, tapi sebenarnya kita bukan di emperan lagi melainkan benar2 sudah masuk ke jurang. Kita tidak pantas menggunakan nama “Muslim”.

Kalau hal seperti ini kita tidak tahu, artinya saat ini kita mungkin berada di ujung emperan atau mungkin sudah di dalam jurang, dan kita tidak menyadarinya.

Harusnya kita belajar lagi, bukan malah diam saja. Ini kalau kita memang masih mau dipanggil Muslim.

Salam

Depok, 12 Robiul Awwal 1445 H

Kita muslim pinggiran?

Kalau kita masih malas sholat, mungkin kita ini adalah muslim pinggiran.
Kalau kita masih malas mengaji, mungkin kita ini adalah muslim pinggiran.
Kalau kita ngaku islam tapi sholatnya bolong2, atau hanya seminggu sekali, atau malah tidak pernah sholat sekali, maka jelas kita adalah muslim pinggiran.

Untuk muslim pinggiran seperti kita ini, percayalah, selagi kita percaya bahwa Allah itu Tuhan kita, dan bahwa Nabi Muhammad itu adalah nabi kita, maka insya Allah kita akan tetap berhak mendapat gelar muslim, meskipun kita ada di emperan.
Untuk kita-kita yang berada di area ini, marilah kita banyak berdoa agar kita bisa menjadi muslim yang lebih baik lagi.

Tapi ada satu hal yang bisa membuat kita malah makin celaka, disebabkan karena kita adalah muslim pinggiran.
Hal itu adalah: muslim pinggiran seperti kita ini, biasanya ilmunya mepet2 atau bahkan mungkin nol.
Paling aman, kita ikut orang yang kita lihat bagus agamanya.
Paling bahaya, kalau kita malah ikut orang yang justru makin menjauhkan diri kita dari islam.

Artinya, hal yang paling berbahaya bagi kita adalah: kalau kita salah milih orang!

Bagaimana caranya agar kita tidak salah milih orang?

Jawabannya adalah:

Yang pertama, lihat dulu, orang tersebut anti agama atau tidak?
Agama kita jelas-jelas mengajarkan Laa ilaaha illa Allah, artinya, yang paling dinomorsatukan itu adalah Allah saja.
Jadi kalau ada orang yang mengatakan bahwa “yang paling dinomorsatukan adalah budaya (misalnya)”, sudah jelas, ini adalah orang yang akan membuat kita makin jauh dari agama. Tinggalkan.
Atau kalau ada orang yang selalu bilang “jangan bawa2 agama”, nah ini, jelas. Tinggalkan.

Yang kedua, lihat dulu, orang tersebut terlihat islami atau tidak?
Kalau kesehariannya tidak pernah bicara tentang Islam, tapi mendekati pemilu tiba-tiba tampil wudhu dan sholat di TV, maka ini lampu kuning. Hati-hati, orang seperti ini, bisa jadi akan menipu kita, agar kita menyangka bahwa di adalah muslim yang baik. Lebih baik kita cari calon lain.
Karena kalau kita salah pilih, maka kita akan menjatuhkan diri kita pada dosa yang jauh lebih besar lagi.

Yang ketiga, setelah itu, baru kita lihat prestasi-prestasi lainnya.
Di bagian ini, silakan gunakan patokan masing-masing.
Pilihlah yang terbaik, tapi setelah nomor 1 dan 2 di atas dipenuhi.

Penutup,
ingat, kita mungkin adalah muslim pinggiran yang minim ilmu agama.
Dengan kondisi seperti ini, kita mungkin masih tertolong kalau kita diam atau “tidak salah dalam memilih barisan”.
Yang parah itu adalah, kalau kita salah milih barisan.

Di zaman nabi, apa ada muslim pinggiran yang akhirnya dihukumi sebagai musuh Islam?
Wow, ada, dan banyak.

Contohnya adalah orang2 yang murtad setelah nabi kita wafat.
Mereka adalah orang2 muslim pinggiran, bisa jadi seperti kita saat ini.
Lalu setelah nabi wafat, mereka akhirnya memilih untuk mengikuti orang yang salah, karena mereka tidak paham apa itu Islam yang benar.
Bisa jadi mereka juga sebenarnya sholat, meskipun bolong-bolong. Hal yang seperti ini masih dimaafkan.
Tapi ketika mereka ikut di barisan yang salah, dan malah memusuhi para sahabat nabi, akhirnya mereka dikategorikan sebagai orang-orang yang murtad.

Sekali lagi, kita muslim pinggiran atau bukan?

Kalau bukan, ya bagus.

Kalau iya, sebaiknya kita lihat lagi panduan di atas.

salam

Depok, 27 Sept 2023