October 6, 2008 by iwaphei
Kutatap mata hitam orang itu. Seakan memancarkan hawa dingin dari segala penjuru arah. Lama kutatap mata itu. Mata seorang lelaki bertubuh kurus dengan penuh bekas luka. Memakai mantel hijau kusam dan celana jeans butut seakan menjelaskan bahwa orang ini baru saja tersesat di hutan selama setahun. Rambut yang panjang dan berantakan itu memperlihatkan semua ketakutan dan kegelisahan yang dirasakannya.
Kuusap mataku dan menatap kembali orang tak kukenal itu. “Cepat bangun..!!”, teriak lelaki itu. Dengan hati ragu aku beranjak dari tempat tidurku. “Ikut aku dan jangan banyak tanya..!!”, teriak kembali orang itu. Saat dia membalikkan tubuhnya, seakan mataku tak percaya, kulihat robekan sepanjang kurang lebih 30 sentimeter menghiasi punggung mantel hijau itu dengan cairan berwarna merah keluar dari robekan itu. Darah! Kenapa orang itu berdarah dan kemana aku akan dibawanya pikirku dalam hati. Siapakah dia?!
Dengan langkah gontai aku berjalan mengikuti orang tak dikenal itu menelusuri lorong sempit dan gelap. “Kemana kau bawa aku?!”, tanyaku. Akan tetapi jawaban yang kuinginkan dari pertanyaanku tadi tak kudapatkan. Orang itu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata. Hanya terdengar suara hembusan napas yang begitu berat keluar dari mulut orang teraneh yang pernah kulihat itu. Siapakah dia?!
“Kemana kita akan pergi?!”, teriakku karena kesal dan penuh amarah. Orang itu menghentikan langkahnya. Sekitar delapan detik orang itu berdiri bagaikan patung, kemudian ia membalikkan tubuhnya. Kutatap matanya dengan penuh amarah, akan tetapi sedetik kemudian seluruh jiwa raga ini merinding ketakutan. Dengan tatapan tajam dan menakutkan ia memelototiku dan berkata, “Akan kutunjukkan siapa dirimu sebenarnya..”. Apa maksud orang itu?! Mengapa dia berkata seakan dia tahu siapa diriku. Aku sendiri belum mengenal siapa diriku. Siapa dia?! Darimana dia?! Mengapa dia kenal diriku?! Seribu pertanyaan yang ingin kutanyakan, akan tetapi aku terlalu takut untuk menanyakan semua.
Kira-kira waktu telah berjalan sekitar lima belas menit hingga akhirnya kita berbelok memasuki sebuah kuburan tua dan tak terawat. Suasana gelap mencekam dengan hawa dingin yang begitu menusuk hingga tulang dan kelelahan akibat berjalan tiada henti tanpa tahu tujuan membuat langkahku semakin berat. Lelaki itu menghentikan langkahnya didepan sebuah nisan yang terbuat dari sepotong kayu rapuh yang telah ditumbuhi lumut dan jamur. Menjijikkan!! pikirku. Mengapa ia berhenti disini, pikirku dalam hati. Kulihat kuburan itu seolah-olah disini dikubur orang yang tak begitu dikenal, tiada terawat dan terlihat asal-asalan. Rumput-rumput liar memenuhi kubur itu dengan beberapa buah batu berbagai ukuran terdapat diatas makam itu. “Siapakah yang dikubur disini?”, tanyaku sopan karena takut menyinggung perasaan lelaki itu.
Sebuah senyum menghiasi wajah orang itu diikuti tawa terbahak-bahak membuatku semakin bingung. Setelah kurang lebih lima detik kunanti jawaban dari orang itu, kusadari bahwa aku sia-sia menanti sebuah jawaban dari lelaki bertubuh kurus itu karena ia tidak menghentikan tawanya. Kuputuskan untuk mencabut nisan itu lalu kebersihkan lumut yang menempel menutupi nisan itu. Menjijikkan..pikirku dalam hati. Siapa gerangan yang terkubur disini?! Pentingkah aku tahu?!
Sedetik kemudian tubuhku terdiam kaku setelah membaca nama yang diukir di atas nisan kayu itu. Darah mengalir deras melewati nadi-nadi dalam tubuh ini. Dengan tak percaya kuberteriak, “Mengapa namaku?!!”. Kutoleh kembali lelaki aneh itu, akan tetapi, kemana ia telah pergi?! Kenapa dia menghilang?! Dan kenapa namaku yang tertulis disini?!
Kriiing..kriing..Kudengar bunyi HandPhone Sony Ericsson-ku. Hhh.. Ternyata ini semua mimpi. Mimpi buruk di sore hari. Kuusap mataku sejenak lalu kucoba membuka mata dengan pelan. Kira-kira dua detik kemudian kurasakan aliran darah yang mengalir deras melewati nadiku. Kutatap seorang lelaki tak kukenal memakai mantel hijau kusam dan celana jeans butut berdiri menatapku dengan pancaran hawa dingin… Ku hanya terdiam seribu bahasa dan berharap ku masih dapat melihat datangnya hari esok…. Yang kupikir tak mungkin akan datang lagi….