Dia hanya seorang gadis cilik. muslimah. Kerudung putih menutupi rambut dan dadanya. Baju gamis hitam yang lebar, sebuah topi bergambar siluet Salahuddin Al-Ayyubi sedang berkuda—tampak kubah Masjidil Aqsa di atasnya—, selembar bendera hitam Liwa bertuliskan lafadz arab putih ‘Laa ilaha illallah muhammadur rasulullah’. Dan sebuah kitab Al-Qur’an terdekap erat di depan dadanya. Namun ada satu hal yang tidak biasa. Sangat aneh. Bukan, bukan kerudung putihnya ataupun gamis hitam lebarnya. Bukan pula topi Salahudin beserta bendera hitam dan Al-Qur’an itu. Namun satu hal yang mengherankan: gadis cilik itu terlihat menenteng sebuah senapan.
Ya, sepucuk senapan perang. Yang biasa kau lihat digunakan oleh para pejuang Palestina ketika mereka sedang bepergian melawan tentara Yahudi. Senapan yang dahulu pernah digunakan oleh para mujahidin Afghan ketika mereka sedang bertempur melawan serdadu Sovyet. Senapan yang biasa dipegang oleh sepasang lengan kokoh pria dewasa ketika memperjuangkan kebebasan mereka.
Tapi sekali lagi, dia hanya seorang gadis cilik. Bertubuh mungil, hanya memiliki sepasang lengan kecil yang bahkan untuk mengangkat senapan itu saja memerlukan banyak tenaga. Namun, sungguh, dia tetap melakukannya.
Tidakkah kau berfikir kalau gadis cilik itu lebih baik memegang boneka saja ketimbang senjata? Tidakkah semuanya akan terlihat lebih menyenangkan kalau dia bermain bersama teman seusianya daripada pergi berperang?
Ataukah memang harus seperti itu?
Kau memang tidak melihatnya langsung. Wajah polos itu, begitu membekas dalam ingatan. Seakan kau melihat cerminan adikmu atau bahkan anak cucumu sendiri. Yang biasanya selalu terlihat ceria bermain-main dengan temannya di sekolah. Yang selalu merayu dan menggodamu agar memberinya sedikit uang untuk jajan. Sekarang, secara tiba-tiba dia berubah. Bukan lagi sebagai seorang gadis kecil yang lugu dan polos. Boleh jadi ia memang masih lugu dan polos, namun sorot matanya memberitahumu bahwa dia bukan hanya sekadar seorang gadis kecil dan ingusan. Dia terlihat lebih dewasa, lebih tajam. Dan berbeda dengan sahabat seusianya di berbagai penjuru dunia lain, temasuk di sini, di negerimu sendiri. Namun tetap saja bagi kita itu semua tidak biasa. Sangat tidak normal.
Lalu apa menurutmu yang telah menjadikan dia bersikap seperti itu. Tidakkah kau berfikir mengapa gadis sekecil itu bisa melakukan sesuatu yang oleh kita hanya pantas dilakukan oleh orang dewasa?
Tamukanlah jawabannya. Dalam hatimu sendiri.




