Ramalan Masa Depan

June 3, 2008

Saya meramalkan pada tahun 2008 :

  1. Obat penangkal penyakit AIDS dan Dengue berhasil ditemukan.
  2. Pada Jum’at, 18 Juli akan terjadi gempa bumi berskala besar di Filipina, dan akan terdapat ribuan korban jiwa.
  3. Gedung Empire State Building di New York akan mengalami teror oleh sekelompok orang tak dikenal pada bulan September.
  4. Pada tanggal 13 September akan terjadi gempa bumi sebesar 9.1 skala Richter di Tiongkok. Sumber gempa tersebut berasal dari Nanning dan Pulau Hainan. Bersamaan dengan itu, juga akan terjadi gelombang Tsunami setinggi 30 meter lebih, dan mengakibatkan jutaan korban tewas, dan akan sangat mungkin menyapu sebagian besar Jepang pula.

Maaf kepada Bung Deddy, ramalannya keduluan 😛

i’m flying

May 6, 2008

Sedang apa mereka?

September 24, 2007

oleh-oleh from 17th august 2007


Soeharto

2007
1921
____ –
   86

Met’ ultah ke 86 Pak! Semoga sehat selalu.(sm)

Dia Memang Ada

June 8, 2007

Anda pernah mendengar lagu Padhyangan Project yang berjudul “Kop dan Haden”?. Lagu yang merupakan ‘parodi’ dari lagu barat berjudul “Close to Heaven’ oleh Color Me Badd ini, bercerita tentang legenda sepakbola luar dan dalam negeri sambil diiringi dengan kata-kata kocak khas P. Project. Ada salah satu penggalan liriknya:

…Ruud Gulit Van Basten dan Maradona
contoh pemain klas dunia yang tlah ternama
Sucipto Suntoro Anjas Asmara…

Nama yang terakhir merupakan nama yang membuat saya bengong ketika saya melihat sosoknya untuk pertama kali dalam salah satu acara di stasiun televisi swasta dua atau tiga hari kemarin. Sosok Anjas Asmara memang benar-benar ada. Awalnya saya kira nama tersebut hanyalah plesetan dari nama seorang aktor indonesia yang cukup terkenal pada waktu itu (sekitar akhir 90’an). Namun sekarang saya baru tahu ternyata Anjas Asmara memang benar-benar nyata, dia memang seorang legenda sepakbola Indonesia. Dia merupakan pemain andalan Persija dan Indonesia di awal tahun 70’an dan sudah banyak prestasi yang ditorehkannya baik bagi klub maupun timnas.


Anjas Asmara

Padhyangan Project (note: bedakan dengan Project Pop) ternyata punya pesan tersendiri dibalik tiap lagunya yang kebanyakan membanyol, peace yo!.(sm)

Spider-Man 3

May 1, 2007

 

Spider-Man 3

Spider-Man 3

Inilah salah satu film yang paling dinanti di tahun 2007, Spider-Man 3. Dibanding 2 film sebelumnya, jelas Spider-Man 3 lebih banyak adegan laga, gimana enggak coba, soalnya musuh yang muncul bakal ada 3 karakter, mereka adalah :

a. Harry Osborn as The New Green Goblinharry osbornHarry adalah sahabat karib Peter sendiri. Harry dendam terhadap Spider-Man karena dianggap sebagai pembunuh ayahnya (Norman Osborn/Green Goblin, musuh Spider-Man di sekuel pertama). Kekuatan New Goblin ini tidak berbeda jauh dengan Goblin yang dulu, namun sedikit lebih kuat.

b. Flint Marko as Sandman
Abilities:sandman

Seluruh tubuh terbuat dari pasir
  • Dapat mengubah tubuh sesuai keinginan bentuk, ketajaman, berat, dan kelenturan
  • Kuat banget deh pokoknya

Dia disebut-sebut sebagai pembunuh sebenarnya paman Peter, Ben Parker.

c. Eddie Brock as Venom
Dialah musuh terkuat Spider-Man sepanjang masa. Venom adalah sejenis parasit luar angkasa yang bertahan hidup dengan menempati tubuh makhluk lainnya. Makhluk/induk yang dihinggapi parasit ini akan mendapatkan kekuatan fisik yang luar biasa sebagai dari akibat penyatuan adrenaline dengan unsur yang dimiliki parasit itu. Pada awalnya Venom ini hinggap di tubuhnya Spidey, namun kemudian dia hinggap di tubuh seseorang bernama Eddie Brock. Sosok inilah Venom yang paling mengerikan yang ada pada gambar.

Abilities:

  • Sama dengan Spidey bahkan lebih kuat, karena pertama menempel di tubuh Spidey
  • Tidak dapat terdeteksi “spider-sense” Spidey

Oh iya, bakal ada juga sosok wanita bernama Gwen Stacy yang menjadi saingan Mary Jane Watson untuk mendapatkan perhatian Peter Parker. Seru kan? Kalo saya sih pengen banget ngeliat Venom. Yang pasti kalau mau nonton, tunggu aja di bioskop sekitar awal Mei nanti, yang mungkin aja jadi sekuel terakhir Spider-Man.(sm)

‘KALA’ the Movie

April 27, 2007

Kala the Movie

Kala the Movie

Rabu malam kemarin, saya menonton Kala di bioskop bersama keenam teman sejurusan saya: Simon, Amudi, Andoko, Rika, Octa, Dibond. Ini adalah kali kedua saya menonton film Indo di bioskop setelah 9 Naga.

Pernahkah anda menonton sebuah film indonesia yang bergenre thriller fantasy dengan gaya noir? Tampaknya sudah jarang. Hadirnya film ini adalah sebuah alternatif dari konvergensi jenis film-film indonesia saat ini.

Begini ceritanya. Pada suatu waktu di sebuah kota dari negeri antah berantah yang sedang dipenuhi kekacauan, seorang polisi bernama Eros (Ario Bayu) tengah menyelidiki kasus kematian lima orang laki-laki yang dibakar oleh massa. Di tempat lain di kota tersebut Janus (Fahri Albar), seorang wartawan pengidap narkolepsi (british concise : Sleep disorder with sudden, uncontrollable spells of daytime sleep and disturbances of nighttime sleep) yang sedang dalam proses perceraian dengan istrinya (Shanty), meliput insiden tersebut untuk korannya (namun kemudian dipecat). Dalam upaya diam-diam mewawancarai salah satu istri korban, tape recorder Janus menangkap satu perkataan istri korban dalam bahasa jawa yang menggambarkan suatu tempat misterius. Tak lama kemudian perempuan tersebut mati menggenaskan tertabrak bis. Ketika akhirnya Janus bertemu dengan adik si perempuan, penyanyi kelab malam bernama Ranti (Fahrani). Janus diberitahu, perkataan dalam rekaman itu mengandung kutukan. Hanya satu orang yang boleh mengetahuinya. Kalau sampai ada orang kedua yang mengetahuinya, salah satu dari mereka harus mati. Korban telah jatuh, dan korban-korban lain siap menyusul.

Mengapa hal itu terjadi? Ternyata semua kejadian tersebut berkaitan erat dengan suatu ramalan dari raja Jayabaya tentang pengharapan akan hadirnya suatu sosok yang dinamakan Ratu Adil, sebagai penyelamat bagi bangsa yang sedang dilanda kekacauan, kekerasan, keserakahan, dalam situasi yang tidak menentu. Juga mengenai desas-desus harta karun yang disembunyikan presiden pertama. Melalui penyelidikan dengan dibantu teman kerjanya (August Melast), Eros akhirnya berhasil menguak sebagian misteri tersebut, tentang apa yang sedang terjadi dan keterkaitan keluarga Ranti dengan presiden pertama. Namun, itu juga berarti, bagi dirinya dan Janus, salah satu dari mereka harus mati. Sebelum malaikat maut menjemput, mereka hanya bisa menunggu pertolongan dari sang penyelamat, Ratu Adil yang dinanti-nantikan.

Joko Anwar, setelah komedi romantis segar Janji Joni, menggambarkan film keduanya ini secara cerdas. Keping demi keping teka-teki tersusun rancak, ketegangan demi ketegangan susul-menyusul, secara pelan tapi pasti menyingkapkan misteri. Yang jelas, berbeda dengan kebanyakan film Indonesia yang kelimpungan dalam urusan logika, Joko justru amat piawai dan ketat menata untaian sebab-akibat. Penonton dibuat penasaran sepanjang film, dan akhirnya tercenganglah mereka di ujung film.

Banyak hal-hal menarik yang menjadi nilai tambah film ini. Tata artistik dan sinematografinya, dengan penerangan yang minimal tapi optimal, secara menawan menampilkan sebuah kota yang gulita, pedih, dan menyimpan ancaman di sudut-sudutnya. Tampilannya mengingatkan pada kota-kota lama Indonesia pada masa kolonial saat penerangan masih menggunakan lampu gas. Kota antah-berantah itu juga belum mengenal telepon selular, namun toko eletroniknya memajang tumpukan televisi menyala di etalase, memungkinkan tokoh kita memantau sejumlah berita penting. Musik Score yang melingkupi sepanjang film terasa sangat pas dan mendukung dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi dalam film. Tata bahasa (dialog) yang digunakan dalam film ini juga terasa sangat beradab. Hal lain yang unik adalah adanya sosok makhluk gaib bernama Pindoro (entah apa artinya), yang pasti saya jadi teringat dengan smeagol di LOTR. Ia hanya penampakan dan tidak membunuh manusia, dan karenanya malah menebarkan teror yang lebih mencekam. Di sisi lain, ia menjadi pamomong bagi mereka yang patut dilindungi.

Yang menjadi sedikit persoalan adalah penggambaran tentang adanya kekacauan negeri tersebut yang terasa masih kurang dan beberapa adegan yang patut dipertanyakan. Selain situasi sepi, gelap, dan sunyi sewaktu malam, saya hanya melihat sebuah adegan sekumpulan massa memecahkan kaca jendela sebuah panti pijat, ketidak pedulian orang-orang di kota tersebut (adegan awal sewaktu Janus naik bis kota). Akan lebih baik jika penggambaran tentang kekacauan tersebut ditambah sedikit lagi.

Namun bagaimanapun secara overall Joko Anwar telah berhasil membuat sebuah film yang sangat menarik dan sangat cerdik. Ratu Adil yang akhirnya memang muncul benar-benar membuat kecele. Juga terkuaknya asal-usul tokoh-tokoh lain dalam cerita yang menurut saya benar-benar membuat film ini unik.

Kata-kata Pindoro ke Eros yang saya ingat (dalam bahasa Jawa) :
“Terimalah takdirmu Eros, kami telah lama menunggumu”

Kala telah menciptakan sebuah standar tinggi untuk film indonesia kedepannya, tidak hanya dari segi cerita, dialog, latar, costume & design, sinematografi, musik, namun juga aspek-aspek lain yang belum banyak dan belum berani dieksplorasi oleh para sineas indonesia saat ini. Anda pasti tahu apa makna sebuah standar.(sm)

Design a site like this with WordPress.com
Get started