Posted by: jsarwono | April 6, 2008

Puspa Iptek Kotabaru parahyangan

Biasanya, setiap Sabtu anak-anak (Cetta dan Ditto) kami ajak ke daerah Cilaki, di dekat Gasibu, untuk naik kuda keliling taman. Sabtu kemaren, untuk menghindari kebosenan kami ajak mereka ke sebuah pusat demonstrasi Iptek di kompleks perumahan Kotabaru Parahyangan (di dekat pintu keluar Tol Padalarang Barat) bernama Puspa Iptek.

Kami berempat (saya, istri dan 2 anak) meluncur kesana sekitar jam 9 pagi….cuaca week end lagi-lagi cerah. Sesampai disana, pengunjung belum terlalu banyak, sehingga anak-anak bisa leluasa mencoba setiap alat peraga di tempat itu. Di pintu gerbang, Cetta-Ditto (4 and 3 years) sudah tertarik dengan 2 buah parabola yang ditempatkan di kanan kiri gerbang. Mereka kemudian bergerak menuju ke parabola di sebelah kiri sambil mengamat-amati…. saya menuju ke parabola sebelah kanan sambil mengamati tingkah lucu mereka, kemudian memanggil nama mereka lirih ke arah parabola…..Cetta Ditto mendengar dengan jelas…they’re exited…. “ayah-ayah…kayak bicara di telpun yaaa….”…. cukup lama kami mencoba berkomunikasi dengan memanfaatkan “wave guide/sound focusing” tersebut…. Senang sekali melihat anak2 menikmatinya….

Eksplorasi kemudian kami lanjutkan ke dalam galery…banyak sekali peraga iptek yang tersedia, but unfortunately kondisinya sudah banyak yang rusak. Sejam lamanya kami disana menikmati peraga-peraga yang masih berfungsi dengan baik, mulai model organ tubuh manusia, peraga arus-tegangan, peraga konversi energi mekanik – listrik, kursi berpaku untuk menjelaskan keseimbangan beban, sampai ke pembangkit gelombang air dan katrol. Menarik juga menjelaskan prinsip kerjanya kepada anak-anak kami yang masih Balita….:)….

Setelah puas disana, kami lanjutkan perjalanan untuk melihat-lihat kompleks perumahan baru ini….terutama mengunjungi Taman tematik nya….interesting…. hanya sayang sekali kami agak terlalu siang, sehingga panas matahari yang menyengat membatasi waktu

Posted by: jsarwono | March 21, 2007

Outing ke THR Djuanda

Long week end yang baru lalu, Bandung diserbu mobil-mobil ber plat B. Walhasil, macet-macetan lah dimana-mana. Mau keluar kota, anak-anak ma istri belum terlalu fit, akhirnya dari pada anak-anak bosen di rumah karena sejak Sabtu praktis beraktifitas di rumah, Senin pagi (19 Maret 2007) kami putuskan untuk jalan-jalan ke THR (Taman Hutan Raya) Djuanda. Walaupun jaraknya dari rumah hanya sekitar 10 menit perjalanan mobil menuju ke arah Dago Pakar, sejak menikah saya (dan keluarga) belum pernah menginjakkan kaki di salah satu situs wisata bandung ini.

Beruntung banget, Senin pagi itu cuacanya cerah banget. Rencana mau berangkat jam 6 pagi, molor ke jam 8 pagi krn anak2 belum bangun (Ayahnya anak2 juga dink…:)…). Kami berangkat berombongan 7 orang: 5 Dewasa dan 2 anak.

Begitu sampai ke tempat parkir (sebenarnya mobil bisa dibawa masuk ke areal THR Djuanda, tapi kami putuskan untuk memarkir mobil di tempat parkir dan menikmati hutan dengan berjalan kaki), Cetta dan Ditto senang bukan kepalang, maklum mereka belum pernah dibawa jalan2 ke hutan…he-he-he. Setelah membayar karcis masuk, mulailah kami menjelajah THR ini. Tujuan utama kami kali ini adalah Gua Jepang dan Gua Belanda. Ada banyak objek lain yang sebenarnya bisa dikunjungi, mulai dari curug (air terjun) sampai hiking ke Maribaya, but mengingat kondisi fisik anak2, hr itu kami putuskan ke 2 objek itu saja.

Setelah berjalan santai menyusuri jalan setapak (jln menurun) dibawah rimbunnya pohon2 pinus, sampailah kami ke lokasi Gua Jepang. Sebuah gua peninggalan jaman Jepang dengan 2 lorong masuk utama dan 2 ventilasi. Kondisi gua yang gelap gulita (tidak ada pencahayaan sama sekali), tapi di depan mulut gua sdh berkumpul banyak org yg menyewakan senter…. lumayan 3000 rupiah per senter, dan pemandu gua (fee 10000 rupiah). Tadinya saya berpikir anak2 bakalan takut nih masuk ke dalam, … eh ternyata mereka enjoy saja menelusuri dalam gua berbekal senter saja. Sisa-sisa tempat bersembunyi dan kamar2 tidur tentara Jepang masih terlihat didalam gua ini.

Selesai di Gua Jepang, kami beristirahat sejenak menikmati camilan sambil merasakan segarnya udara hutan yang penuh oksigen. Setelah fresh, kami lanjutkan perjalanan menuju ke Gua Belanda yang hanya berjarak sekitar 1 kilo dari gua Jepang. Gua Belanda tampak lebih civilized dibandingkan dengan gua Jepang, dinding dalamnya sudah bercat putih, sehingga relatif lebih terang. Lorongnya lebih banyak, karena semula memang difungsikan untuk terowongan air PLTA. Salah satu lorong gua, juga merupakan jalan tembus menuju lokasi wisata Maribaya (ditempuh dgn jln kaki sekitar 5 km). Di dalam gua dijumpai rel utk memasukkan logistik, jalur2 alat telekomunikasi dan ruang2 bekas penjara/ruang interogasi. Biaya sewa senter dan pemandu juga masih sama dengan di gua Jepang. Setelah puas menikmati dalam gua, dan berfoto-foto sejenak di luar pintu masuk gua, kami kembali ke tempat parkir. Rombongan dewasa berjalan kaki, anak2 (Cetta dan Ditto) naik kuda….he-he-he.

Tadinya kami rencanakan utk menikmati makan siang di THR Djuanda, tetapi karena belum waktunya makan siang tiba kami sdh menyelesaikan agenda di THR, maka diputuskan untuk makan siang di kompleks Dago Pakar sambil menikmati air terjun buatan. Nikmat benar makan siang dengan urap, tempe dan ikan asin siang itu, diiringi gemericik air terjun. Jam 2 siang, kami sdh sampai kembali ke rumah. Senang banget melihat anak2 menikmati outingnya hari ini. 

Posted by: jsarwono | March 21, 2007

Hello world!

Welcome to my web blog.

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started