Tin’s World here….

My life’s like a Rose

Rose’s like a Girl

Girl’s like an Angel

‘n Angel’s like Me..

He.. He.. He..

Aku terpaksa menjadi gigolo” (FAKTA PLUS!!)
Teman-teman, Bacalah kisah di bawah ini:
(Cobalah ambil hikmahnya.. jangan terburu-buru silau oleh harta)

Seorang pemuda frustasi mencoba-coba jadi gigolo.
Pengalaman pertamanya bertemu seorang ibu muda perlente dengan mobil mewah.
Pemuda itu dibawa dengan mobil mewah menuju ke sebuah rumah besar milik
wanita itu.

Sesampainya dirumah, Dia dimasukkan ke dalam sebuah kamar. Si pemuda itu
merasa nervous karena ini adalah pertama kalinya masuk ke kamar wanita
lain.

Pikirannya sudah macam-macam, bingung dan juga kikuk. Semakin berpikir
seperti itu, birahinya juga makin muncul.

Sebelum melakukan apa-apa, wanita itu berkata, “Kamu lepas dulu baju kamu
dan tunggu disini dulu ya, jangan ke mana-mana,” ujar wanita itu kemudian
keluar dari kamar. Pemuda itu makin bingung karena ditinggal sendirian.

Sebetulnya dia malu untuk telanjang karena tubuhnya kurus. Akhirnya dia
melepas semua bajunya,dan menunggu di kamar. “Ah sudah kepalang
tanggung,”
pikirnya.

Tak lama kemudian, ibu itu masuk ke dalam kamar. Kali ini diikuti oleh dua
orang anak kecil.

Ibu itu berkata kepada kedua anak kecil itu, “Nah, Wati dan Budi, harus
banyak makan. Kalau tidak, nanti badannya kurus seperti Om ini”

Huahaha..ha. .ha..


Serius Amat Bacanya…!!!!!

Pada pemilihan putri Indonesia ada sebuah cerita yang tidak ter-expose. Cerita ini terjadi pada saat sesi wawancara antara Juri dengan
peserta dari DKI yang akhirnya jadi juara. Begini ceritanya…

 

Juri : “Selanjutnya, tolong sebutkan tokoh idola Anda?”
Putri DKI : “Ehm, sebagai seorang yang nasionalis, saya mengidolakan
orang Indonesia. Dia adalah Pangeran Diponegoro.”

 

Begitu mantap dan meyakinkan kata-kata yang meluncur dari putri DKI ini.
Juri pun begitu terkesan dan kagum padanya, seorang gadis cantik dan muda
seperti dia ternyata sangat nasionalis dan bangga dengan tokoh dalam negeri. Kemudian Juri melanjutkan pertanyaan dengan pertanyaan- pertanyaan
yang ringan-ringan saja, yang tentunya seputar Pangeran Diponegoro.

 

“Kalau begitu, Anda pasti tahu kapan Pangeran Diponegoro meninggal khan?”
Tapi, justru reaksi sang putri sangat mengagetkan Juri, dengan terbata-bata dan penuh rasa kaget dia bertanya, “APPAAA?? MENINGGAAALLL? ??
INNALILLAAHI…”

 

Tentu saja Juri ikut-ikutan kaget dan kecewa dengan reaksi putri DKI itu. Singkat cerita, tanya-jawab pun selesai sudah. Tapi, tidak demikian dengan sang
putri DKI. Kabar mengenai meninggalnya Pangeran Diponegoro sangat menyedihkan hatinya. Dan sesampai di luar ruangan, dia bergegas menemui salah seorang
peserta lainnya, dari Yogya. Tanpa menunda waktu, putri DKI mengkonfirmasi kebenaran berita meninggalnya sang idola, Pangeran Diponegoro…

 

“Mba’, maaf ya benar gak sih Pangeran Diponegoro sudah meninggal?”, begitu tanya putri DKI kepada putri Yogya. Tentu saja pertanyaan itu sangat menggelikan
bagi putri Yogya. Tapi, bagaimanapun dijawabnya juga, “Lho, itu khan sudah lama mba’. Masa mba’ nggak tahu sih?”

 

Putri DKI langsung memotong, “Ooh, sudah lama yah, kok saya belum pernah
denger ya? Kapan sih itu mba’?” Dengan menahan geli, putri Yogya menjawab, “Yaa, sekitar delapan belas tiga puluh (1830) mba’…”

 

Kembali putri DKI memotong, “HAAHH, DELAPANBELAS TIGAPULUH?? ITU BERARTI HABIS MAGHRIB DONK..!!!”

 

 v

ORANG-ORANG Mesir sangat gandrung sama al-Quran. Kemanapun mereka pergi, mereka tidak lupa untuk membawa mushaf. Tidak heran bila hampir semua orang (apapun tugas, karir dan jabatannya) terlihat membaca Quran di sela-sela waktu senggang atau ba’da shalat. Begitu juga pemilik toko, penjaganya, para karyawan, satpam, sopir taksi, bos-bos kantoran, selalu terlihat membaca al-Quran. Kalau tidak dibaca, Al-Quran mereka letakkan dengan rapih di atas mejanya, atau ditenteng dan disimpan dalam tas jika bepergian.
Ayat al-Quran juga sering diperdengarkan dari rumah-rumah sederhana hingga hotel berbintang lima, dari warung-warung kecil hingga shopping center mewah, dari sarana transportasi butut hingga pesawat terbang.
Nyaris di semua tempat selalu ada yang membaca al-Quran. Begitupun di dalam taksi, mikrolet, bus kota, kereta api, tram kota, senantiasa para pemuda, bapak-bapk dan kaum hawa senantiasa khusyu membaca Quran sambil mengusir suara bising obrolan dan deru knalpot.
Secara umum, ayat-ayat al-Quran yang “distel” di dalam kendaraan sangat bempengaruhi “karakteristik” pendengarnya. Normalnya, para penumpang malu untuk berbuat hal-hal yang tidak senonoh.
Kendati begitu, tetap saja ada saja pemandangan yang di luar dugaan. Misalnya, gara-gara ada copet akhirnya copot seluruh isi dompet. Atau ada saja yang berbuat ricuh di dalam bus lantaran rebutan tempat duduk, tak setuju tarif, perempuan disenggol laki-laki nakal, dsb. Sementara pembaca al-Quran tetap anteng dan adem ayem.
Pemandangan lain (yang di luar dugaan) juga terjadi di musim panas tahun 2002, dalam perjalanan menuju Alexandria, kota pantai yang bersejarah itu. Ada seorang gadis yang berpakaian sangat minim, bahkan tipis dan tembus pandang. Semula dia tidak kebagian tempat duduk, akhirnya berdiri, dan “terlihat” oleh semua penumpang (jangan lupa lho, gadis-gadis Mesir kebanyakan montok-montok atawa ‘berisi’). Kebetulan Seorang syekh mencoba mengingatkan, tapi tidak digubris. Selengkapnya ditulis oleh kolumnis majalah Almannar (bukan Almannar yang dulu dikelola syekh Muhammad Rasyid Ridho yang kemudian menulis tafsir Almannar itu, melainkan Almannar Aljadid/neo-Almannar) berikut ini:
Musim panas merupakan ujian yang cukup berat. Terutama bagi Muslimah, untuk tetap mempertahankan pakaian kesopanannnya. Gerah dan panas tak lantas menjadikannya menggadaikan etika. Berbeda dengan musim dingin, dengan menutup telinga dan leher kehangatan badan bisa terjaga. Jilbab memang memiliki multifungsi.
Dalam sebuah perjalanan yang cukup panjang, dari Kairo ke Alexandria; di sebuah mikrobus, ada seorang perempuan muda berpakaian kurang layak untuk dideskripsikan sebagai penutup aurat, karena menantang kesopanan. Ia duduk diujung kursi dekat pintu keluar. Tentu saja dengan cara pakaian seperti itu mengundang ‘perhatian’ kalau bisa dibahasakan sebagai keprihatinan sosial.
Seorang bapak setengah baya yang kebetulan duduk disampingnya mengingatkan bahwa pakaian yang dikenakannya bisa mengakibatkan sesuatu yang tak baik bagi dirinya sendiri. Disamping itu, pakaian tersebut juga melanggar aturan agama dan norma kesopanan. Orang tua itu bicara agak hati-hati, pelan-pelan, sebagaimana seorang bapak terhadap anaknya.
Apa respon perempuan muda tersebut? Rupanya dia tersinggung, lalu ia ekspresikan kemarahannya karena merasa hak privasinya terusik. Hak berpakaian menurutnya adalah hak prerogatif seseorang!
“Jika memang bapak mau, ini ponsel saya. Tolong pesankan saya, tempat di neraka Tuhan Anda!”
Sebuah respon yang sangat frontal. Orang tua berjanggut itu hanya beristighfar. Ia terus menggumamkan kalimat-kalimat Allah. Penumpang lain yang mendengar kemarahan si wanita ikut kaget, lalu terdiam.
Detik-detik berikutnya, suasana begitu senyap. Beberapa orang terlihat kelelahan dan terlelap dalam mimpi, tak terkecuali perempuan muda itu.
Lalu sampailah perjalanan di penghujung tujuan, di terminal terakhir mikrobus Alexandria. Kini semua penumpang bersiap-siap untuk turun, tapi mereka terhalangi oleh perempuan muda tersebut yang masih terlihat tidur, karena posisi tidurnya berada dekat pintu keluar.
“Bangunkan saja!” kata seorang penumpang.
“Iya, bangunkan saja!” teriak yang lainnya.
Gadis itu tetap bungkam, tiada bergeming.
Salah seorang mencoba penumpang lain yang tadi duduk di dekatnya mendekati si wanita, dan menggerak-gerakkan tubuh si gadis agar posisinya berpindah. Namun, astaghfirullah! Apakah yang terjadi? Perempuan muda tersebut benar-benar tidak bangun lagi. Ia menemui ajalnya dalam keadaan memesan neraka!
Kontan seisi mikrobus berucap istighfar, kalimat tauhid serta menggumamkan kalimat Allah sebagaimana yang dilakukan bapak tua yang duduk di sampingnya. Ada pula yang histeris meneriakkan Allahu Akbar dengan linangan air mata.
Sebuah akhir yang menakutkan. Mati dalam keadaan menantang Tuhan.
Seandainya tiap orang mengetahui akhir hidupnya….
Seandainya tiap orang menyadari hidupnya bisa berakhir setiap saat…
Seandainya tiap orang takut bertemu dengan Tuhannya dalam keadaan yangburuk…
Seandainya tiap orang tahu bagaimana kemurkaan Allah…
Sungguh Allah masih menyayangi kita yang masih terus dibimbing-Nya.
Allah akan semakin mendekatkan orang-orang yang dekat dengan-NYA semakin dekat.
Dan mereka yang terlena seharusnya segera sadar…
mumpung kesempatan itu masih ada !
Apakah booking tempatnya terpenuhi di alam sana? Wallahu a’lam.

Andai ku boleh meminta pada Tuhan

Ingin sekali aku berkata

“Tuhan, jangan biarkan aku jatuh cinta lagi pada seseorang yang ta’ pantas ku cintai! Aku tlah bosan lewati semau ini. Jatuh hati, patah hati. Lagi dan lagi…”

^Almenax^

January 2026
M T W T F S S
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Design a site like this with WordPress.com
Get started