Oleh: Iwan | 9 Agustus 2021

Selamat Jalan Ayu

16 Juli 1992, tengah malam engkau lahir di RSUD Dr. Soetomo Karangmenjangan. Aku menunggu ibumu, kakak perempuanku. Saat diperintah dokter untuk mendorong bayi, hampir aku salah mendorong bayi orang lain.
8 Agustus 2021, engkau telah kembali ke pangkuan Ilahi.
Selamat jalan ponakanku… Semoga berbahagia di sana, bertemu dengan Mbah Kung dan Mbah Uti

Sugeng Tindak Pakpoh…
Oleh: Iwan | 4 Mei 2017

Penerobosan ke Papua Nugini

1 Mei 2017, adalah hari libur di Indonesia. Mayday nama kerennya, merujuk pada istilah Hari Buruh yang diperingati setiap tanggal tersebut dan tentunya angka di kalender berwarna merah. Di tanggal tersebut, ada peristiwa yang menurutku cukup membuat jantung berdegup kencang dan adrenaline demikian memuncak. Sebuah cerita lucu tapi menegangkan, ketika aku berhasil masuk ke negara tetangga kita, Papua New Guinea atau Papua Nugini (PNG) dengan cara tradisional tanpa paspor dan visa.

Perjalanan dimulai saat aku meninggalkan Jakarta pada tanggal 29 April 2017 menuju Jayapura untuk melaksanakan pekerjaan seperti biasa. Dengan pesawat Garuda GA650 yang berangkat dari Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta di Cengkareng pada pukul 21.00 WIB dan sampai di Jayapura Papua pada tanggal 30 April 2017 pukul 07.00 WIT setelah transit di Makassar Ujungpandang dan Biak di Papua. Cukup melelahkan perjalanan ini, ribuan kilometer ditempuh dengan pesawat udara selama ± 10 jam dengan transit. Benar benar jauh dan melelahkan.

Setelah sampai di Jayapura, aku singgah di Danau Sentani sekedar untuk makan siang. Rumah Makan yang terkenal di pinggir Danau Sentani salah satunya adalah Yoghwa Resto, sebuah rumah makan terapung yang terletak di pinggir danau. Menu utamanya adalah ikan mujair dan gurami. Maklum, Danau Sentani merupakan sentra budidaya ikan air tawar termasuk mujair dan gurami. Tentu segar segar ikannya.

Melanjutkan cerita tentang perjalanan ke PNG, setelah beristirahat sehari di tanggal 30 April, pada tanggal 1 Mei 2017, timku bersiap berangkat ke perbatasan. Dari Jayapura kami berangkat jam 07.00 WIT agar dapat menikmati perjalanan lebih lama dan pas dengan jam buka pasar di perbatasan RI – PNG. Dari Jayapura ke perbatasan memakan waktu ± 1 jam dengan jarak sekitar 45 km. Perbatasan RI – PNG tersebut terletak di kampung Skouw Distrik (kecamatan) Muara Tami Kabupaten Jayapura. Tahun 2012 aku sudah pernah datang ke perbatasan ini dimana dahulu kondisi gerbang perbatasan ini masih seadanya, dengan bangunan yang kusam dan pagar besi pembatas yang cukup mudah untuk diloncati. Sepertinya sekarang sudah berubah, megah dan cukup mewah.

Sesampainya di pos militer Skouw, yang pasti mobil akan diberhentikan oleh para tentara Angkatan Darat penjaga perbatasan. Ini adalah pos militer terakhir sebelum melewati perbatasan. Tentara tentara muda dengan ramah dan bersikap tenang, menanyakan tujuan kedatangan dan meminta identitas untuk dicatat dan dititipkan di pos militer tersebut. Pos Militer lewat, sekarang perbatasan sudah di depan mata. Imigrasi target selanjutnya. Saat memasuki pelataran perbatasan ini, tampak sebuah gedung megah dengan ornamen ornamen khas Tanah Papua. Megah dan berwibawa. Kami segera masuk dan bertanya kepada petugas jaga imigrasi mengenai prosedur untuk bisa melewati perbatasan dan pergi ke Vanimo, sebuah distrik kecil Papua Nugini yang terdekat dengan Jayapura Indonesia. Paspor dan identitas lain sudah disiapkan, pede banget mau berangkat ke negeri jaran, eh jiran.

copyright harianpapua.com

Ternyata, untuk masuk ke Papua Nugini masih harus dilengkapi dengan Visa yang bisa diperoleh di Kedubes PNG di Jakarta atau Konsulat PNG yang ada di Jayapura. Kesalahan kami yang tidak tahu bahwa ke PNG masih harus memakai visa. Dikira seperti ke Singapore atau Malaysia yang sudah bebas visa. Yahhh… batal deh rencana untuk sekedar melancong ke negeri di tepian Lautan Teduh ini. Tetapi temanku Dolmince Karsau yang asli Papua, sudah gusar dan tetap kekeuh pingin menyeberang. Setelah lobby loby ke bagian imigrasi dan militer, semua berakhir dengan jawaban yang sama, TIDAK BISA! Pupus sudah harapan untuk bisa menyeberang.

TriceDollySaat harapan sudah menipis dan niat untuk menyeberang hampir pudar, tiba tiba kami dikejutkan dengan suara mama mama (ibu ibu) yang terdengar menggelegar. Tampak datang dan masuk ruangan imigrasi, seorang mama mama tua dengan tas dipundak (bukan noken) dan rambut keriting khas Papua yang berwarna merah. Mama mama ini tampak berbincang dengan salah satu staff imigrasi yang juga orang lokal. Timbul ide gila dan nakal “Bagaimana kalau kita menyeberang dengan cara tradisional?

Dolly berkata “Om Iwan, maukah kita coba cara tradisional?”
“Ko atur sudah” jawabku

Menjadi pelintas batas tradisional yang memang bisa melenggang dan lewat tapal batas tanpa perlu identitas” #cling. Ide berubah menjadi kesepakatan yang harus dilaksanakan. Tanpa menunggu lama, Dolmince (alias Dolly) segera bergerak untuk mencoba melobby mama mama itu, yang kemudian kami kenal sebagai Mama Trince (Trince Sibi). Dengan bahasa dan dialek khas Papua, dengan bercerita tentang asal usul keluarga, akhirnya Dolly berhasil mendapatkan akses untuk jadi pelintas batas. Untuk diketahui, sebagai jalur tradisional perpindahan (imigrasi) antar negara, di Papua yang notabene mengenal hak ulayat, batas batas negara dan pemerintahan bukan menjadi batas penghalang keluarga dan mata pencaharian. Orang bisa tinggal di PNG tapi bekerja dan berladang di Papua atau sebaliknya. Melintas batas juga tidak perlu dokumen yang ribet, hanya membawa kartu merah yang menjadi dokumen utamanya. Kartu merah ini aku belum tau isinya seperti apa, suatu saat akan aku cari tau. Yang pasti bukan KTP ataupun Paspor, mungkin semacam dokumen surat jalan.

Surat jalan.jpg

Mama Trince bersedia membawa kami dalam rombongan pelintas batas dimana dia yang bertanggungjawab atas kami yang mengikutinya, yang di dokumen surat jalan ini kami diaku sebagai anggota keluarganya. Asyik!! Sekarang sudah resmi aku jadi anak Papua, hehehe. Urusan dengan imigrasi menjadi sangat lancar karena ada penanggungjawab. Dan kenapa imigrasi dan militer ini begitu mudah memberikan akses kepada Mama Trince untuk membawa kami? Jawabnya adalah….. Mama Trince adalah istri dari Kepala Suku Besar (Ondo Afi) yang menguasai ulayat perbatasan RI -PNG di Skouw ini. Makanya, siapa berani sama istri jagoan! Para Petugas imigrasi dan militer baik di RI maupun PNG dengan mudahnya memberikan akses, cap dan tanda tangan Surat Jalan yang dibawa Mama Trince tanpa banyak tanya. Dan bagai kerbau dicocok hidung, kamipun mengintil di belakang Mama Trince melintas batas antar negara dengan cara tradisional. Yang konyol, sebagai anggota rombongan mama Trince, di Surat jalan, namaku ditambah marga, disamakan dengan Dolly yaitu marga Karsau. Akhirnya namaku menjadi Yoeli Karsau.. akhirnya benar benar menjadi orang Papua, hahaha. Yang lebih parah, di kolom jenis kelamin (sex), aku berubah menjadi perempuan (Female). WTF!!

Mata para tentara PNG menatap kami dengan tajam saat kami memasuki gerbang perbatasan. Dengan wajah hitam legam, mata setajam elang serta bibir dan gigi berwarna merah karena mengunyah pinang, mereka mengawasi kami. Aku merasa agak nervous dan degup jantung bertambah cepat. Sepertinya, aku merasa selalu diawasi. Hadeuh, jadi blingsatan begini. Apalagi sebagai orang berambut lurus, aku masuk tanpa visa dan nebeng ke orang lokal. Banyak cerita yang mengatakan, PNG memang masih rawan. Banyak OPM yang lari ke perbatasan untuk menghindar dari kejaran aparat TNI dan Pemerintah Indonesia. Tentara muda dari Medan yang aku ajak ngobrol di pos militer Indonesia pun mengatakan agar berhati hati karena tidak ada yang menjamin keselamatan. Aku sepertinya telah memasuki sebuah area petualangan yang berbahaya, tanpa tau resiko apa yang akan aku hadapi. #ngeri Namun, rasa was was dan cemas tersebut tidak meruntuhkan niat kami untuk menyeberang ke Papua Nugini. Perjalanan yang sudah dimulai, tidak bisa diakhiri disini, tepat di mulut perbatasan negara ini. Apapun yang terjadi, kami sudah melangkah ke negeri seberang.

Sesampai di seberang, kami segera menuju ke barisan beberapa kendaraan umum yang akan mengangkut kami menuju Vanimo. Sambil menunggu penuhnya angkutan pedesaan ini, kami mengobrol untuk memecah keheningan di bawah panas terik tanah Papua ini. Aku perhatikan, semua kendaraan disini bermerk Toyota. Toyota Hiace yang menjadi alat transportasi antar kota atau pedesaan ini. Ketika mobil sudah penuh, tak berapa lama kami langsung diberangkatkan. Aku duduk bersama Anggi di barisan depan bersama sopir. Dalam hati aku berpikir, wah, kalau ada penyergapan, aku yang ada di depan bisa jadi sasaran empuk panah atau peluru nih. Sekonyong konyong rasa nervous-ku muncul kembali. Apakah Kelly Kwalik masih bergentayangan ataukah kelompok Mathias Wenda masih ada… pikiran itu terus berkecamuk sepanjang perjalanan.

Saat melewati Pos Militer PNG selepas dari imigrasi perbatasan, degup jantung menjadi semakin cepat. Tentara PNG dengan senjata serbu M16 berpelontar granat, menghentikan kendaraan yang kami tumpangi. “Inspection!” teriaknya. Waduh, ada apa lagi ini. Mobil berhenti dan Mama Trince turun menuju pos penjagaan militer sambil membawa dokumen untuk dicap dan ditanya tanya mengenai rombongan yang dia bawa. Dengan wajah sangar dan tidak ramah, tentara tersebut mendatangi mobil dan menyapukan pandangannya ke semua orang di dalam mobil tersebut, termasuk juga kepadaku. Perut terasa mules dan kaki terasa lemesss…

Postmil

DollyMilPos

“Go ahead!” tiba tiba aba aba dari tentara itu membuyarkan bayangan seram akan pemeriksaan ala militer di perbatasan. Hadeuh, aku terlalu banyak membaca cerita perang nih. Segera mobil meluncur pergi meninggalkan pos militer tersebut. Aku ingin rasanya segera lari dari area itu. Perjalanan masih jauh ke Vanimo dan harus melewati hutan yang lebat namun dengan kondisi jalan yang mulus. Ahhh.. petualangan masih belum berakhir. (bersambung)

Oleh: Iwan | 10 Maret 2017

Menjajal mudik dengan Si Banteng Putih

img_3853Beberapa minggu yang lalu, tepatnya dari tanggal 22 – 28 Februari 2017, aku sempatkan diri untuk pulang ke kampung untuk menemani ibuku mempersiapkan dan mengadakan kenduri dan selamatan 1000 hari wafatnya Almarhum Bapakku, Soekatno Bin Kromoastro yang telah meninggal dunia pada tanggal 4 Juni 2014, di kota kecil tempat tinggal ibuku, Kertosono Jawa Timur. Perjalanan sejauh ±600 km melalui jalan darat aku tempuh sekitar 15 jam dengan si Banteng Putih, Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4X2 AT yang sekarang menemaniku menggantikan si cantik putih Livina yang telah menyelesaikan masa pengabdiannya.

Agak agak sedikit nervous saat akan melewati Tol Cipali, dimana akhir September 2016 yang lalu, tepatnya di KM148 arah Cirebon, aku sekeluarga mengalami kecelakaan yang lumayan fatal, terutama hancurnya mobil Grand Livinaku B1702WFN. Tetapi, aku bisa melewati perjalanan di tol Cipali tersebut dengan lancar, toh aku juga seudah beberapa kali melewati tol tersebut pasca kecelakaan, meskipun disopiri orang lain. Yang pasti, aku tidak berangkat malam, dan selalu waspada dengan mengambil jalur kiri serta menjaga kecepatan tetap diangka maksimum 100kpj. Naik naik dikit sih, tapi langsung di-warning sama istriku.

Sore sampai di Cirebon dan beristirahat serta mempersiapkan perbekalan, malam itu aku langsung lanjut berangkat menuju Jawa Timur ketika jam dinding sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB. Rasanya beda banget biasa bawa mobil bensin body kecil dengan mobil diesel berbadan bongsor. Memang setir agak berat, tapi di jalan yang mulus dan lancar (baca : tol), mobil jadi gak kerasa kalau sudah ngebut. Sering tiba tiba jarum di speedometer menyentuh angka 140. Masuk di daerah yang jalannya rusak di pantura Jawa Tengah, ya masih lumayan. Anggep aja main di offroad. Yang cukup terasa adalah bantingan yang cukup keras, mungkin suspensi sudah berkurang kemampuannya, maklum mobil tua (sudah 5 tahun usianya). Dan saat ada goncangan atau pas belok dengan kecepatan agak kencang, mobil terasa limbung. Kayaknya perlu dipasangi swaybar atau juga ditambah strutbar. Tar kita tanya sama ahlinya.

Memasuki kota Semarang di Jawa Tengah, sebelum Subuh, sekitar jam 04.00 pagi. Jalan tol Semarang – Bawen yang sepi dan lengang, dan mata yang cukup berat untuk melek, membawaku beristirahat di Rest Area Pintu Tol Bawen. Sambil istirahat setelah sholat Subuh, udara sangat segar dan dingin. Ghea Rhea terbangun dan bermain main kegirangan, mendapatkan udara segar di pegunungan pagi hari. Jarak ke Kertosono masih jauh, mungkin bisa setengah harian lagi. Rute yang masih harus dilewati adalah Salatiga, Gemolong, Sragen, Ngawi, Caruban, Nganjuk baru Kertosono. Sengaja menghindari masuk kota Solo, lumayan lewat Tingkir Salatiga arah Gemolong Sragen, menghemat 80 km. Di daerah Gemolong, Sragen, jalan begitu hancur oleh masifnya aktifitas pembangunan tol trans Jawa, Solo – Kertosono. Ya maklumlah, namanya pembangunan, akan membawa konsekuensi pengorbanan.. ciyeeee.

Melewati kota Sragen, sudah cukup siang. Jalanan juga tidak terlalu bagus, seperti yang aku bilang tadi, efek dari pembangunan Tol Trans Jawa dan sampai di rumah ibuku jam 12.00 siang, saat datang waktu Duhur. Lumayan, perjalanan dari Jakarta meskipun tidak terlalu ngebut dan banyak berhenti, secara total kurang lebih hanya 15 jam. Secara umum, kalau boleh diceritakan, Mitsubishi Pajero Sport Dakar 4×2 ini, cukup irit. Dengan konsumsi yang aku catat, per Liter Pertamina Dex mencapai jelajah 11.8km, ini adalah pencapaian yang cukup bagus, dengan kapasitas mesin 2500cc. Kalau di Livina terdahulu, untuk luar kota, pernah maksimum dapat 1 liter = 24 km, Pertamax dengan kapasitas mesin 1500cc. Aku sengaja tidak mengisi dengan solar truk atau biosolar, daripada nanti bermasalah. Yang aku baca sih, Pajero tidak masalah mengkonsumsi biosolar, tapi ya kalau mau awet sih pake yang cetane-nya sesuai, rekomendasi pake Dex atau minimum Dexlite.

Sepulang dari Kertosono, aku mencoba jalur balik melalui jalan yang agak menantang. Via jalur tengah membelah Gunung Lawu, dari Madiun, menuju Magetan, Sarangan dan Tawangmangu Jawa Tengah. Kondisi jalan yang menanjak dan berliku liku, cuaca yang lumayan gelap serta hujan, jalanan basah dan licin, sebuah kombinasi yang pas untuk menjajal banteng Mitsubishi ini. Meski anak anak dan istriku agak ngeri ngeri sedap, tapi trek ini bisa dilibas dengan nyaman. Jalur jalur menanjak mulai dari Plaosan Magetan, Telaga Sarangan, Cemorosewu, Grojogansewu, Tawangmangu hingga melandai di Karanganyar, tidak ada masalah. Yang mungkin jadi PR adalah setir yang agak berat, jadi tangan agak capek. Mungkin perlu spooring dan balancing atau minimum mengisi ulang tekanan angin di ban. Di Pasar Plaosan Magetan , satu trek dibawah Telaga Sarangan, berhenti untuk mengisi perut. Cari Bakso lah, untuk pengganjal perut. Jawa Timur memang terkenal baksonya, tapi di sekitar Telaga Sarangan ini apakah baksonya bisa dibanggakan? Di pasar Plaosan, asal masuk aja warung bakso, ternyata memang gak begitu istimewa, hahaha. Yang penting, kenyang deh!

Perjalanan mudik menjajal banteng Pajero kali ini berjalan dengan mulus dan tenang. Karena musim hujan saja, jadi agak mengurangi kecepatan, karena hujan yang turun benar benar lebat. Setelah melewati Solo Jawa Tengah dan memasuki perbatasan Solo – Boyolali, hujan turun demikian besar dan langit gelap. Bahkan, disalah satu tempat yang aku lewati, terjadi hubungan singkat (konsleting) dari kabel listrik tegangan tinggi, sehingga menimbulkan suara ledakan dan bunga api yang lumayan besar. Orang orang pada panik berlarian. Sambil berhenti menunggu hujan reda, mampirlah di Sop Ayam Pak Min Klaten. Ini juara dan pasti enak. Hujan hujan, Sop Dada Pecok dengan tambahan Ceker Ayam yang hangat dan pedas.. wow! Nikmat Tuhan manalagi yang akan engkau dustakan. Alhamdulillah. Untuk Anda penggemar Sop Ayam Pak Min Klaten, pasti tau, bagaimana rasa Sop Ayam yang ini. Benar benar menggairahkan. Sayang, mungkin dengan mahalnya harga cabe rawit, level pedas yang aku harapkan dari sensasi sambel sopnya, tidak aku temukan disini. #Akurapopo

img_3918

Eh, mau tau muatan si Banteng kali ini? Inilah.. hahahaha! The Krupuk Upils (e1)
img_3904

Oleh: Iwan | 25 September 2016

My Cipali Highway crash

24 September 2016, 2 hari menjelang ulang tahun anak kembarku, kami mengalami musibah dan mukjizat dalam sebuah kecelakaan yang cukup hebat dalam perjalanan ke Cirebon di jalan tol Cipali – Jawa Barat.

Inilah Kronologinya.

10.30 : kami sekeluarga berangkat dari rumah PJMI Bintaro dan singgah di Masjid Sektor 2 untuk sarapan soto ayam di depan masjid

11.00 : masuk pintu tol Veteran arah Cikampek, kondisi lumayan padat cenderung lambat. Perut kenyang hati senang meskipun banyak hutang.

12.00 : berhenti di RA 39 untuk beli kopi di Lawson. Sedikit ngedumel, kopi gak enak aja dijual mahal. Mending kopi sachetan sama minta air panas

14.00 : kondisi km 148 arah Cerbon hujan lebat, pekat dan sepi. Kecepatanku sekitar 80-100 kpj. Tetap waspada, sambil ngobrol dan bercanda sama istriku dan anak anak. Tiba tiba, dari jalur seberang Cerbon menuju Jakarta, ada mobil pickup Grandmax plat H meluncur menyeberang parit tengah tol dan berputar seperti gasing sekitar  15-20 meter di depanku.

Jarak yg sangat dekat dan kecepatan tinggi, jalan licin dan pandangan terganggu hujan, kami sudah tidak mungkin bisa menghindar.
Dalam sepersekian detik, aku coba menghindar ke kanan dengan harapan bisa lolos meski harus masuk parit. Tapi gak keburu, coro jowone wes gak nutut. Dengan moncong yang agak mengarah ke kanan, benturan tidak bisa terhindarkan. Paling tidak, aku sudah berusaha menghindar dan menghindari tabrakan frontal dan dengan kemampuan yang tersisa, aku coba mengarahkan supaya hanya terjadi tabrak samping.

Alhamdulillah, meski benturan yg terjadi sangat keras, tidak ada satupun penumpang di mobilku yang cedera. Di depan mungkin sabuk pengaman yg membantu penyelamatan. Di belakang posisi anak2 yang lagi tiduran, jadi akhirnya keruntelan, sehingga lumayan jadi bumper yang bisa menahan.

Dlm kondisi panik dan shock, aku langsung mengecek kondisi seluruh penumpang. Setelah dipastikan semua selamat, aku cek sopir pick up yang ternyata sudah pingsan dg kepala berdarah darah. Tak kiro matek uwonge. Sinyal telepon tidak ada, SOS alias No Service, aku sempat bingung harus bagaimana lagi.

Langsung saja aku evakuasi anakku, aku tarik dan lempar ke parit yang ternyata banyak bunga bougenville yg berduri. Anakku berteriak dan menangis histeris karena panik dan sakit tertusuk duri. Aku wes gak ngreken, yang penting menjauh dari mobil, khawatir ada kendaraan tabrak belakang.

Gak lidok, 2 menit kemudian ada Toyota Hilux dengan kecepatan tinggi menyusul dari belakang. Alhamdulillah, sopirnya membanting stir ke kanan menyeberang ke jalur sebelah dan berakhir masuk ke parit/kali.. terimakasih, pilihan masuk ke parit membantu menyelamatkan anak2ku dari resiko tertabrak dari belakang.


15.30 : semua penumpang dan sopir yg terlibat accident sudahdievakuasi ke RS Mitra Plumbon Cerbon


18.00: sepiring sego sambel mendarat sebagai obat stress.. to be continued

Older Posts »

Kategori

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai