
Sudah 2 mingguan ini aku ga nginep di ruang HMTC lagi, panasnya gak ketulungan. Memang ahir-ahir ini suhu Surabaya kian hari-kian memanas. Dan mungkin akan terus memanas dengan semakin banyaknya pengendara kendaraan bermotor dan asap pabrik di sekitar kota ini. Mmm…peluang besar bagi pedadang es cendol nih.. Yah minimal dengan semakin gak nyamannya aku dengan suhu kota ini, masih ada hamba Allah yang bisa menikmati hasilnya.

Entah darimana dan kapan tradisi arak-arakan keliling kota ketika menyambut berita kelulusan dimulai. Tapi sayangnya, hal itu sudah membudaya di kalangan pelajar di Indonesia. Tanpa konvoi, mungkin bagi mereka terasa seperti nulis artikel di blog tanpa di pubish, hambar banget kan?
Pernah suatu ketika dalam sebuah perjalanan dari kota Magetan tercinta menuju kota Pahlawan, aku bertemu dengan sesosok lelai yang sudah cukup berumur. Penampilanya sangat sederhana, dengan baju garis-garis putih yang sudah meulai usang dimakan usia, ditambah topi khas model kupluk yang sering dipakai lelaki seusianya. Semakin menambah kesan sederhana dan bersahaja. Sorot matanya tajam, berbeda dengan banyak wajah yang siang itu mulai menggerutu dan mengutuk panasnya bis kota. Lelaki itu duduk di depanku.
Suatu ketika, naluri penjelajahanku menemukan sebuah blog yang unik. Extrovet tapi inspiring. Beberapa artikel yang dimuat, diantaranya tulisan
Kalo ditanya mengenai tempat paling inspiratif buat aku, aku pasti menjawab kamar mandi. Percaya atau tidak, berbagai ide sering meluncur ketika aku berada di kamar mandi. Mulai dari hal-hal teknis yang berkaitan dengan peranku sebagai mahasiswa dan programmer, sampai pada perihal non teknis yang berkaitan dengan tanggungjawabku sebagai 

