Membangun Ketahanan Budaya Bangsa Melalui Kesenian
Meutia Farida Hatta Swasono *)
Mengawali keynote-speech ini, pertama-tama perlu saya kemukakan bahwa masih banyak di antara masyarakat awam kita yang mengartikan “kebudayaan” sebagai “kesenian”, meskipun sebenarnya kita semua memahami bahwa kesenian hanyalah sebagian dari kebudayaan. Hal ini tentulah karena kesenian memiliki bobot besar dalam kebudayaan, kesenian sarat dengan kandungan nilai-nilai budaya, bahkan menjadi wujud dan ekspresi yang menonjol dari nilai-nilai budaya.
Kebudayaan secara utuh sebenarnya meliputi pola pikir atau mindset suatu masyarakat (tentang segala perikehidupannya di masa lampau, masa kini dan masa depan), yang banyak terekspresikan melalui aneka-ragam dan aneka dimensi kesenian. Demikian pula, kesenian merupakan salah satu wadah dominan untuk mengartikulasikan kebudayaan tak berwujud (intangible culture).
Kemajuan kebudayaan bangsa dan peradabannya membawa serta, dan sekaligus secara timbal-balik dibawa serta, oleh kemajuan keseniannya.
Agenda Besar Kebudayaan
Bangsa besar adalah yang juga berjiwa besar dan berpikir besar. Bukan yang selalu reaktif, tetapi yang kreatif dan proaktif.
Untuk menegakkan martabat dan mempertahankan kualitas kebudayaan bangsa yang besar, pemerintah bersama seluruh pewaris, pemilik, dan pelaku kebudayaan harus berani membuat rencana dan kerja besar, sekarang juga. Seluruh energi nasional diperlukan untuk menyalakan apinya agar kerja bisa terus terjaga dan cahayanya semarak di langit luas.
Sejarawan: Selesaikan Polemik Vestenburg!
SOLO, KOMPAS.com–Sejarawan dan pengajar Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Negeri Sebelas Maret Solo, Soedarmono mengatakan rekonsiliasi antara pemerintah, masyarakat Solo, dan sejumlah pihak swasta pemilik tanah di Benteng Vastenburg, dibutuhkan untuk menyelesaikan polemik yang terjadi.
“Rekonsiliasi dibutuhkan untuk dapat menampung semua aspirasi yang ada terkait penyelesaian masalah benteng tersebut,” kata Soedarmono dalam diskusi “Masa Depan Benteng Vastenburg” di Balai Soedjatmoko, Kota Solo, Senin.
Akan tetapi, lanjutnya, rekonsiliasi tetap diarahkan pada upaya pelestarian sebuah cagar budaya, khususnya Benteng Vastenburg yang dibangun penjajah Belanda pada 1775.
Sumber Daya Arkeologi Bukti Kemajuan Budaya Bangsa
JAYAPURA, KOMPAS.com–Sumber daya arkeologi yang dimiliki masyarakat Indonesia menjadi bukti berharga atas kebesaran sejarah budaya bangsa.
Menurut Kepala Balai Arkeologi Jayapura, Drs.M.Irfan Mahmud,M.Si di Jayapura, Jumat, sumber daya arkeologi merupakan bagian dari sumber daya budaya yang keberadaannya di Indonesia tersebar hampir di seluruh wilayah Nusantara.
“Sumber daya arkeologi yang dimiliki bangsa Indonesia patut dibanggakan karena sangat beragam, unik dan setiap daerah punya ciri-ciri khusus yang berbeda satu sama lain,” tandasnya.
Cicak & Buaya
… dan metafor pun menang. Mungkin itu tak disadari ketika kata ”cicak” melawan ”buaya” dipakai pertama kalinya dalam pertentangan yang kini disebut sebagai konflik antara ”KPK” dan ”Polisi”. Saya yakin Komisaris Jenderal Polisi Susno Duadji tak memperhitungkan betapa ampuhnya perumpamaan yang dipakainya dalam majalah Tempo, 16 Juni 2009:
”Jika dibandingkan, ibaratnya, di sini buaya, di situ cicak. Cicak kok melawan buaya.…”
Dari sana, muncullah dalam gambaran pikiran kita dua pelaku yang bertentangan—dan tak seimbang.
Kepemimpinan Sebagai Bagian Budaya Bangsa
Konsep Kepemimpinan dalam hastha brata sebagai warisan luhur budaya bangsa. Dapat dijabarkan bahwa hastha brata atau delapan ajaran keutamaan, seperti yang ditunjukkan oleh sifat-sifat alam. Seorang pemimpin harus berwatak matahari, artinya memberi semangat, memberi kehidupan, dan memberi kekuatan bagi yang dipimpinnya. Harus mempunyai watak bulan, dapat menyenangkan dan memberi terang dalam kegelapan. Memiliki watak bintang, dapat menjadi pedoman. Berwatak angin, dapat melakukan tindakan secara teliti dan cermat. Harus berwatak mendung, artinya bahwa pemimpin harus berwibawa, setiap tindakannya harus bermanfaat. Pemimpin harus berwatak api, yaitu bertindak adil, mempunyai prinsip, tegas, tanpa pandang bulu. Ia juga harus berwatak samudera, yaitu mempunyai pandangan luas, berisi, dan rata. Akhirnya seorang pemimpin harus memiliki watak bumi, yaitu budinya sentosa dan suci.
Hastha Brata: 8 Sifat Utama Seorang Pemimpin
Secara etimologis , “hasta” artinya delapan, sedangkan “brata” artinya langkah. Ajaran Hasta Brata mengajarkan kepada setiap orang yang menjadi pemimpin hendaknya memiliki 8 watak/sifat keutamaan seturut alam. 8 watak/sifat tersebut adalah :
“Celengan Bisma”, Menggugat Peran Panutan
Ribuan burung pemakan bangkai berarak di angkasa sehingga langit menjadi hitam. Mereka berebut hendak memangsa jasad Resi Bisma yang terkapar di padang Kuru Setra. Mendadak ribuan burung kuntul menyerbu, lalu menimbuninya dengan bulu-bulu mereka yang putih sehingga jasad itu tertutup seperti padang salju.
Repertoar “Celengan Bisma” yang dipentaskan di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah, Solo, Minggu (26/7), diakhiri Slamet Gundono dengan orasi tentang sisi gelap tokoh yang dianggap panutan, seperti Bisma.
Makna Gunungan dalam Pagelaran Wayang Kulit
Gunung, Candi dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari
Secara umum Gunungan menggambarkan bentuk gunung, profil lapisan permukaan bumi yang menonjol. Gunung mempunyai sifat alamiah yang stabil. Gunung menggambarkan tempat yang tinggi, sejuk, oksigen yang tipis, lereng yang curam penuh hutan belukar, pada kaki gunung biasanya terdapat dataran yang subur. Daerah pegunungan cocok sebagai tempat peristirahatan, tempat mencari kedamaian batin. Pemandangan yang indah dan alami di pegunungan membangkitkan rasa terdalam dalam diri seseorang.
Rampokan Macan dan 200 Tahun Junghuhn
DJALOE.COM – Anda pernah membaca komik Rampokan Jawa karangan Peter van Dongen? Komik dengan garis gambar a.l.a Rin Tintin itu terbit pertama kali berbahasa Belanda, sejak lima tahu lalu sudah terbit edisi terjemahan Bahasa Indonesia. Peter tidak pernah pergi ke Indonesia sebelum bikin komik itu. Ia mengandalkan riset di perpustakaan Belanda.
Rampokan Jawa diilhami cerita dan foto tentang tradisi Rampokan Macan di Jawa. Ini tradisi membunuh macan beramai-ramai di Alun-alun yang bahkan menjadi salah satu obyek wisata, sebelum akhirnya dilarang pemerintah kolonial pada awal Abad ke-19. Akar tradisi ini bermula di Surakarta, berkembang pula ke wilayah di timurnya, mulai dari Kediri, Tulungagung sampai Blitar.