“Abi, sebelum aku tidur, temenin aku dong, pengen curhat nih, bi!” Pinta Nicety yang disuruh umminya segera tidur.
“He? Nicety mau curhat apa sama abi? Lagi pula udah malem begini, apa Nicety belum ngantuk?” Tanggapan dari Abu Nice kepada anak perempuannya tersebut.
“Kan kata abi sebelum tidur kita mesti muhasabah dulu, aku kan masih kecil, jadi abi harus membimbing aku pas lagi muhasabah, mana yang baik yang harus aku tingkatkan, dan mana yang jelek yang harus aku jauhi dan nggak diulangi lagi.”
“Subhanallaah walhamdulillaah… Ternyata begitu! Kenapa nggak sama ummi aja?”
“Sama ummi udah kemarin malem, sekarang bagian abi!”
“Aduh! Digilir ya? Hehe… Ya udah, sekarang Nicety ke kamar duluan ya, nanti abi kesana sehabis gosok gigi!” Ucap Abu Nice sambil memperlihatkan gigi-giginya.
Beberapa saat Nicety yang sudah berbaring di atas tempat tidurnya menunggu sang abi datang, tiba-tiba dari arah pintu tampaklah sesosok makhluk mungil berwarna kuning-hitam dan berantena dua, makhluk itu bergerak-gerak mengeluarkan suara mungil pula, “Assalaamu’alaykum, Nicety! Perkenalkan namaku Sialamah!”
Nicety terperanjat melihat boneka mini berbentuk Sialamah yang dia inginkan semejak dipublikasikan iklannya oleh Boneka Neni, “Abi?” Nicety melirik ke arah pintu berusaha melihat siapa yang menggerakkan boneka tersebut.
Abu Nice menampakkan dirinya, “Hehehe… Sebenarnya boneka Sialamah ini mau abi kasih pas kejutan sarapan pagi tadi. Tapi karena takut nggak jadi kejutan, abi ngasihnya sekarang aja!” Abu mendekati tempat tidur anak perempuannya dan memberikan boneka tersebut.
“Hulala…! Asyiiik boneka Sialamah! Alhamdulillaah… Makasih ya, bi! Dari kemarin-kemarin aku pengen banget punya boneka ini, soalnya temen-temen udah pada punya!” Nicety tampak berseri-seri sambil memeluk erat boneka barunya.
“Oke tuan puteri, silakan segera berbaring bersama Sialamah dan kalau memang mau curhat, segera konsultasikan biar bisa segera tidur.” Abu menyelimuti Nicety lalu duduk pada kursi yang berada di sebelah kanan tempat tidur anak bungsunya itu.
“Oh iya bi, kenapa sebelum tidur kita harus mengusahakan dulu buat muhasabah?”
“Agar kita bisa mempersiapkan diri menjadi orang yang beruntung. Nicety kan udah tau kalau orang yang beruntung itu adalah yang hari esoknya lebih baik daripada hari ini. Jadi, kita harus mengintrospeksi diri, hari ini apa saja yang sudah kita lakukan, amalan sholeh apa yang perlu ditingkatkan. Dan adakah kekhilafan yang sengaja ataupun tidak sengaja dilakukan oleh kita, kita niatkan esok hari agar tidak terulang lagi.”
Lalu masuklah sesi curhatan Nicety tentang kegiatannya dari mulai bangun tidur, kehilangan Si Hero, belajar di sekolah, dan bermain bersama teman-temannya. Seperti biasa, Abu tidak langsung mengatakan yang ini salah dan yang itu benar, tapi membimbingnya terlebih dahulu kepada pemahaman kenapa salah dan kenapa benar. Bagaimana hal yang seharusnya dilakukan, apa akibatnya jika tetap dilakukan, dan berbagai sebab-akibat serta contoh yang menghantarkan anaknya kepada semangat untuk menjadi lebih baik dari hari ke hari.
“Alhamdulillaah… konsultasinya sudah selesai ya! Sekarang jadwalnya istirahat!”
“Kenapa istirahat, bi? Kan belnya juga belum berbunyi!” Jawab Nicety.
“Hahaha… kamu ini, udah ah, malah menggaring. Tuh lihat Sialamah aja udah ngantuk!”
“Hehe, iya bi, makasih ya udah nemenin aku muhasabah, jangan bosen-bosen!”
“Hihihi… in-sya Allah, Abi nggak akan pernah bosen kalau Nicety dari hari ke hari semakin baik, tumbuh dewasa menjadi wanita shalehah. Aduh, abi jadi nggak sabar nih pengen lihat sosok Nicety menjadi seorang remaja nan cantik jelita. Pastinya harus lebih cantik dari pada ummi, hehe!” Harapan Abu pada anak perempuannya.
“Harus dong, bi! Kan biar kita jadi orang-orang yang beruntung, makanya aku harus bisa lebih baik daripada ummi!” Jawab Nicety yang tampak percaya diri.
“Aamiin…” Abu tersenyum menatap dan mengusap rambut anaknya agak lama, “Sip, udah ya, abi juga pengen istirahat nih, jangan lupa berdo’a.”
Saat Abu hendak berdiri, tiba-tiba Nicety memegang tangan abinya, “Abi! Aku takut!”
“Takut apa? Hantu?” Prasangka Abu.
“Bukan, abi! Tadi di sekolah kan bu guru mengulang pelajaran berdo’a, terus aku takut banget sama do’a sebelum dan sesudah tidur, soalnya isinya tentang hidup dan mati.”
“Yups! Isi kedua do’a tersebut sama-sama tentang hidup dan mati, karena tidur itu juga sebenarnya kita mati, tapi mati kecil. Saat kita tidur atau pun meninggal, ruh kita sama-sama dipegang sama Allah, karena kita semua adalah milik Allah, termasuk jasad dan ruh kita. Kalau kita meninggal, jasad akan kembali menjadi tanah, dan ruhnya Allah tahan. Sedangkan ketika tidur, Allah memegang ruhnya, bila dilepaskan lagi, kita akan terbangun kembali.” Penjelasan Abu Nice.
“Uuhm… kalau tidur itu mati kecil, berarti mati itu tidur besar ya, bi?” Tanggapan Nicety.
“Hahaha… Nicety bisa aja! Boleh boleh lah… Hehe. Kadang kala kita suka bermimpi ketika tidur, bisa jadi mimpi di waktu tidur didatangkan oleh setan-setan yang jahat, karena sebelum tidur kita banyak berbuat dosa, tidak bermuhasabah dan tidak berdo’a. Tapi kalau sebelum tidur kita beramal sholeh, in-sya Allah saat tidur pun dijaga dan dilindungi oleh Allah!”
“Ah benar juga! Berarti kalau selama hidup kita selalu beramal sholeh, ketika kita mati nanti, kita akan mimpi indaaaah… sampai alam akhirat. Dan kalau yang suka berbuat jahat ketika hidup, nanti di alam kubur bakal mimpi buruk terus ya, bi?”
“Hehe… iya, ketika mati, yang kata Nicety tidur besar, kita mimpi indah selalu, nanti pas bangun lagi di akhirat, kita akan dihidupkan lagi dan ditempatkan di surga yang indah selama-lamanya. Sedangkan mereka yang mati dan tidak pernah beramal sholeh, akan bermimpi buruk, yaitu disiksa di alam kubur, bahkan pada akhirnya masuk ke neraka, hiiihhh na`uuzubillahi min dzalik!”
“Kalau begitu Nicety sekarang mau berdo’a dan berniat mau jadi lebih baik lagi esok hari!” Kata Nicety.
“Udah nggak takut lagi nih? Tidurnya nggak usah ditemenin kan?” Tanya Abu.
“Nggak usah, bi! Kan kalau tidur ruh kita dipegang sama Allah, jadi Nicety nggak usah takut, soalnya tetep di deket Allah!” Jawab Nicety.
Abu tersenyum, “Alhamdulillaah… Selamat tidur, semoga Allah memberi Nicety mimpi yang indah, dan berjumpa kembali esok hari menjadi anak sholehah yang abi banggakan!”
“Abi juga jangan lupa berdo’a ya! Biar kita berjumpa nanti di mimpi indah bersama-sama, eum… ummi sama kakak juga!”
“Siap tuan puteri! Abi jadi nggak sabar pengen tidur, pengen ketemu Nicety dalam mimpi indah, hehe… Wassalaamu`alaikum wa rahmatullah…”
“Wa`alaykumussalaam wa rahmatullahi wa barakatuh!”
Abu perlahan menutup pintu kamar putri bungsunya yang tampak telah memejamkan matanya dengan bibir yang bergerak-gerak karena membaca do’a. Dari arah lain, Ummu Nicety menghampiri, “Nicety sudah tidur, bi?”
“In-sya Allah segera, hehe. Dia tampak senang dengan kejutan bonekanya, sebagaimana dirimu bergembira menerima hadiah dariku. Oh iya, bagaimana dengan hadiah buat Nice? Sudah ummi berikan padanya?”
“Alhamdulillaah… iya udah aku kasih tadi ketika menemaninya belajar, hadiahnya langsung dipakai, hehe. Nah… sekarang bagian ummi yang mau ngasih kejutan sama abi!”
“Wah wah wah… ummi punya kejutan juga toh? Jadi penasaran, apaan tuh?” Raut muka Abu Nice tampak lebih berseri-seri.
“Mmm… ngobrolinnya di kamar aja yuk!” Ummu mengajak Abu seperti tidak sabar untuk memberitahukannya.
“Eit eit eit… Daku semakin penasaran nih!”
“Ih abi, jangan menduga-duga yang aneh-aneh deh…”
Sepasang suami-istri itu pun masuk ke kamar mereka. Suasana keheningan malam nan tenteram, menyelimuti kelelahan, menyembunyikan kecemasan. Terdengar sayup-sayup ketukan ronda malam yang pada saat itu kembali aktif setelah peristiwa ayam Abu yang dicuri, walaupun pencurinya sudah ketahuan.
Beberapa jam kemudian, di sepertiga malam, tampaklah Abu Nice sedang memilih pakaian bersih dan rapi untuk bertahajjud, sembari menunggu istrinya yang sedang bersuci di kamar mandi. Tak lama kemudian, sosok Nice berjalan perlahan mendekatinya.
“Abi mau shalat malam ya?” Tanya anak cikalnya.
“Wah Nice bangun? Iya, abi mau tahajjud bareng ummi.” Jawab Abu.
“Aku mau ikutan dong, bi!” Ucap Nice.
“Kamu nggak ngantuk? Memang nggak mau tidur lagi?” Tanya Abu sambil tersenyum.
“Ayam-ayam sedang tidur di kandang, kucing-kucing juga sudah nyenyak tertidur, kalau aku juga tidur, apa bedanya aku sama mereka, bi? Aku pengen shalat aja, itu kan lebih baik daripada tidur!” Jawab Nice dengan mata merah tanda baru saja bangun tidur.
“Subhanallaah walhamdulillaah… Kalau begitu, segera ambil air wudlu dan kenakanlah pakaian yang paling bagus dan bersih, abi juga lagi nunggu ummi.”
Dimulailah shalat malam tersebut. Beberapa rakaat awal Nice masih kuat, namun rakaat berikutnya sedikit demi sedikit dia nampak kembali terkantuk-kantuk, bahkan berhenti ketika bersujud tanda dia telah ketiduran dengan posisi tersebut.
Sebelum mengakhiri shalat malam dengan witir, Abu dan Ummu tampak tertawa melihat anaknya yang masih bertahan lama dalam posisi sujud tersebut. Abu pun membawa bantal dan menidurkannya di atas sajadah tepat di pinggir tempat shalatnya, agar ia mudah terbangun lagi dikala adzan subuh berkumandang.
“Abi, kayaknya ummi pengen ke toliet dulu, kalau abi mau witir duluan silakan!” Ucap istrinya sambil memberi aba-aba hendak membuka mukenanya.
“Oh, ya udah, abi witir duluan aja ya!” Tanggapan dari Abu Nice.
Beberapa saat Abu tengah dalam shalatnya, terdengarlah teriakan dari arah kamar Nicety, putri bungsunya, “Abi… Abi… Abi…!”
Beberapa kali teriakan, tidak ada tanggapan, istrinya masih di dalam kamar mandi. Nicety tiba di lokasi, “Abi… Abi… Abi…!” Nice yang tertidur langsung terperanjat bangun karena teriakan adiknya yang tengah berdiri tepat di depannya. Ia langsung menoleh pada abinya yang sedang bersujud.
“Ssst… Abi lagi shalat, tunggu dulu, sini duduk sama kakak!” Nice mencoba menenangkan adiknya yang setengah menangis.
Nicety pun duduk di pangkuan kakaknya sambil memperhatikan abinya yang masih shalat. Beberapa saat kemudian Nicety berkata, “Kakak! Abi kok sujudnya lama ya?”
“Ssst… mungkin abi lagi berdo’a, dan do’anya banyak!”
Dirasa terlalu lama, hingga ia mengira kalau abinya juga ketiduran seperti apa yang dia lakukan sebelumnya, akhirnya Nice mencoba menggoyahkan badannya. “Abi, ini Nicety nangis, abi…?”
Beberapa kali tangan kecil Nice mengguncangkan tangan kanan abinya, seketika itu tubuh Abu Nice terhempas ke lantai. Nice dan Nicety terkejut menatapnya. Nice memberdirikan adiknya dan semakin mendekati abinya, “Abi… Abi…?” Semakin lama, Nice semakin kuat menggoyahkan tubuh abinya yang telah lemah lunglai. “Ummi…! Ummi…! Abi nggak bangun-bangun, ummi…! Nice berteriak masih menggoyahkan tubuh abinya.
Tidak lama, Ummu Nicety keluar dari kamar mandi. Memperhatikan keadaan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Anak perempuannya berdiri terdiam melihat kakaknya mengguncangkan tubuh abinya sambil memanggil-manggil tak berhenti. Ummu berlari ke arah mereka, menghentikan tangan anak laki-lakinya, lalu menempelkan telapak tangan kanannya yang masih basah ke arah jantung suaminya yang sudah tak berdetak. Mengarahkan kembali telapak tangannya ke dekat hidungnya yang sudah tak bernafas, sampai-sampai memeriksa urat nadinya yang kini sudah tak berdenyut.
Badan Ummu menjadi lemas, namun debar jantungnya terasa lebih cepat, tatapan matanya terfokus ke arah wajah suaminya yang tenang tampak sedang bermimpi indah, “Innalillahi wa inna ilaihi raaji’un…”
Nice, yang telah mengerti apa maksud kalimat umminya tersebut, seketika mengucurkan tetesan-tetesan air mata yang sebenarnya tertahan dari semenjak prasangka pertamanya. “Ummi…! A-abi… a-bi…?”
Ummu yang terfokus pada suaminya langsung menoleh pada anak laki-lakinya yang tengah memperlihatkan raut muka ketidakpercayaan. Dia harus sabar… dia harus tabah… dia harus menenangkan anak-anaknya. Ummu pun langsung memeluk anak laki-lakinya yang seketika itu langsung berteriak menangis, “Wwaa… abi… abi…!”
“Sabar Nice… Sabar…” Ummu tidak dapat menemukan penjelasan terbaik untuk menenangkannya selain kata tersebut.
Melihat keadaan tersebut, Nicety pun mendekati umminya, “Abi kenapa, ummi?”
Ummu mencoba menenangkan dirinya, menghirup nafas dan menghembuskannya. Ia meletakkan kepala suaminya di atas pangkuan pahanya, memeluk anak laki-lakinya yang masih menangis dengan tangan kanannya. Dan merangkul anak perempuannya yang masih terheran-heran dengan tangan kirinya. Ia juga belum menemukan penjelasan yang cocok untuk Nicety, bahwa abinya yang kini terlihat tengah terbaring di hadapan mereka, tak kan bisa dia lihat lagi di esok hari.
Akhirnya Nicety pun memulai pembicaraan, “Ummi…! Tadi aku mimpiin abi, katanya abi mau pulang duluan, sampaikan salam buat ummi sama kakak. Memangnya abi pulang kemana, ummi? Bukannya abi ada disini? Bukannya ini rumah kita?”
Mendengar perkataan anak perempuannya, akhirnya air mata Ummu Nicety pun mengalir deras, ia ingin berbicara tetapi masih terbata-bata.
Lama menunggu tanggapan dari umminya yang tidak memberikan sepatah kata pun untuknya, Nicety pun kembali berbicara, “Abi… lagi tidur, kan?” Sambil setengah ragu karena walaupun tertidur, mengapa abinya tidak terbangun dengan tangisan keras kakaknya.
Ummu Nicety akhirnya menjawab, berusaha tersenyum namun masih saja otot pipinya berat karena kedua matanya lebih memilih untuk menangis, “I-iya Nicety, abi sedang istirahat…!”
Masih tidak yakin, Nicety pun kembali bertanya, “A-abi… nanti bangun lagi, kan? Kan?”
Semakin mengiris hati, Ummu lama terdiam memikirkan jawaban untuk putri bungsunya tersebut, hatinya masih belum siap, pikirannya masih kososng. Hingga beberapa saat ia kembali mencoba menenangkan gejolak perasaannya, mengusap-usap kedua matanya yang semakin tampak merah, mencoba tegar lalu menjawab sambil tersenyum menatap anak perempuan kecilnya, “Tentu saja Nicety, abi pasti bangun lagi… Semua orang…, setiap manusia…, pasti akan dibangkitkan lagi.”
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kemudian hanya kepada Kami kamu dikembalikan.” (Al-`Ankabuut:57)
“Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.” (Az-Zumar:42)
0.000000
0.000000