
Bukan Inginku
Burhan Wijaya, itulah namanya. Seorang pengusaha perkebunan kelapa sawit yang saat ini sedang berjaya. Ia tak hanya memasok minyak kelapa sawit di Indonesia, namun juga beberapa negara di Asia Tenggara. Tak ayal, Burhan pun berniat memperluas lahan perkebunan kelapa sawitnya di berbagai daerah di Indonesia. Salah satunya adalah di Pulau Sumatera, tepatnya di pinggiran Kota Bengkulu.
“Jadi, bagaimana, Pak Burhan?”
Burhan membolak-balik kertas persetujuan penjualan lahan yang ada di tangannya. Ia berusaha mencermati segala syarat yang diajukan oleh para pemilik lahan. Usai mempertimbangkan segala sesuatunya, ia pun berkata dengan mantap: “Saya setuju.”
Sebuah materai pun ditempelkan di akte jual-beli, yang kemudian disodorkan oleh perwakilan para pemilik tanah. Tanpa basa-basi, Sang Pengusaha mengambil pena di sakunya. Pena tersebut menari dengan luwes di atas kertas, guna membubuhkan tanda tangan yang setengahnya berada di atas materai.
Dengan begitu, transaksi lahan pun sukses. Burhan segera menyerahkan dua koper besar berisikan uang, yang kemudian akan ditukar dengan lahan hutan seluas empat ribu hektar milik masyarakat sekitar.
“Senang berbisnis dengan anda, Pak Burhan.”
Kedua belah pihak bersalaman, mengakhiri pertemuan mereka yang singkat. Mereka tidak menyadari, bahwa bencana besar akan segera menghampiri mereka karena pertemuan ini.
….
Tiga tahun telah berlalu sejak lahan hutan diubah menjadi perkebunan kelapa sawit. Rupiah yang melimpah ruah pun berhasil diraup berkat perkebunan seluas empat ribu hektar itu. Sang pemilik, Burhan, hingga saat ini masih berdiri di puncak kejayaan karirnya. Tidak main-main, ia didapuk sebagai pengusaha terkaya nomor satu di Asia Tenggara.
Tentunya, hal itu tidak terlepas dari usahanya yang selalu menjaga kualitas kelapa sawit miliknya. Tak jarang, Burhan melakukan perjalanan ke daerah-daerah di Indonesia untuk memeriksa keadaan perkebunan miliknya.
Kali ini, tibalah waktunya ia mengunjungi perkebunannya di Bengkulu, kota yang terletak di pulau paling barat Indonesia.
Di sore hari yang sejuk, Burhan tengah berjalan santai di pinggiran perkebunan miliknya, ditemani oleh seorang mandor kepercayaannya. Arya namanya, seorang jawara kampung yang dikenal dengan keberaniannya. Bahkan, di pinggangnya selalu tersampir sebuah belati dan senapan, berjaga-jaga jika ada orang yang hendak mencelakainya guna merebut gelar jawara.
“Bagaimana keadaan di sini, Pak Arya?” tanya Burhan.
“Tenang saja, Pak. Semuanya aman terkenda—” jawaban dari Sang Mandor terputus karena suara teriakan seorang wanita yang begitu memekakkan telinga: “TOLONG! ADA HARIMAU! TOLONG!”
Burhan dan Arya saling tatap, bertukar ekspresi kaget satu sama lain. Dengan gerakan ragu, Arya selaku mandor yang berkuasa di daerah tersebut pun segera menarik senapan yang ada di pinggangnya. Dua pria paruh baya itu akhirnya berjalan dengan gemetar, menelusuri asal teriakan wanita tadi.
“Tetap di belakangku ya, Pak Burhan.” Arya berucap pelan dengan penuh kegundahan. Jujur, ia bahkan takut untuk bertemu harimau, apalagi harus melawannya. Tapi, bagaimanapun juga, ia wajib memprioritaskan keselamatan atasannya yang juga merupakan pengusaha kelas kakap tersebut.
“Ya, sa-saya di belakangmu!” Burhan menjawab dengan sedikit tergagap, tak mampu menyembunyikan ketakutannya.
Dua ratus meter telah mereka jajaki. Hingga tiba saatnya mereka melihat seekor kucing raksasa yang begitu gagah. Rahang kuatnya tengah mengoyak tubuh seekor kambing, milik peternakan kecil yang berada tak jauh dari perkebunan.
Dari posisi mereka saat ini, Burhan dan Arya pun dapat melihat wanita yang tadi berteriak. Ia terduduk dengan gemetar karena terlalu ketakutan. Ia bahkan tak bisa beranjak seinci pun dari tempatnya.
Wanita itu menengok ke arah Burhan dan Arya, melemparkan tatapan memelas. “To-tolong saya…” lirihnya pelan.
Arya meneguk ludahnya, agak ragu. Meski begitu, ia pun mengarahkan senapannya ke arah harimau yang tengah menikmati mangsanya. Akan tetapi, tangan Arya bergetar hebat, membuat bidikannya kacau dan ia tak mampu menarik pelatuknya.
“Kamu lama sekali!” Burhan yang gemas atas tindakan bawahannya itu, dengan cepat merampas senapan di tangan Arya. Ia pun membidik ke arah badan harimau di hadapannya, lalu—DOR!
Harimau itu sedikit melompat ke belakang, kaget menerima peluru di bagian perutnya. Ia menggeram pelan, seraya menatap tajam pelaku penembakannya. Tanpa aba-aba, kedua kaki depan harimau itu terangkat tinggi. Ya, ia melompat untuk menjangkau Burhan yang berdiri di samping Arya.
BUGH!
“ARGH!” Burhan meringis kesakitan karena kedua kaki depan harimau telah menekan bahunya. Tak mampu mempertahankan keseimbangannya, pengusaha kaya tersebut pun jatuh ke tanah.
Arya yang kaget bukan kepalang, segera mengambil beberapa langkah mundur. Ia segera menarik wanita yang sejak tadi membatu di tanah. “Kita harus menjauh!” ujarnya penuh kepanikan.
Burhan, yang ditinggal sendirian di sana, semakin kalut. “ARYA, TUNGGU SAYA! Agh, harimau sialan!” Tanpa kenal lelah, Burhan berusaha meloloskan diri dari cengkraman Sang Harimau.
Lambat laun, tenaga Burhan pun terkuras. Usahanya sia-sia. Menyadari lawannya tak bisa lagi melawan, harimau itu segera menggigit kerah kemeja putih yang dikenakan Burhan di balik jas hitamnya. Diseretnya pria paruh baya itu, agar memasuki kawasan perkebunan kelapa sawit.
Saat itu, Burhan mulai kehabisan harapannya. Ia terlalu putus asa untuk berusaha mempertahankan hidupnya.
“Lepaskan aku…”
Air mata mulai membanjiri pelupuk mata Sang Pengusaha. Ia tidak tahu harus melakukan apa di posisinya saat ini. Sejak tadi, Sang Harimau terus saja menyeretnya lebih dalam ke perkebunan. Hingga akhirnya mereka tiba di perbatasan antara perkebunan dan hutan yang masih tersisa.
Mati.
Mati.
Mati.
Hanya itu yang terlintas di benak Burhan. “Aku pasti akan mati,” lirihnya. Kedua matanya ia pejamkan dengan erat, merasakan sekujur tubuhnya yang benar-benar tidak dapat berkutik. Beberapa luka pun bersarang di tubuhnya, dan yang paling parah adalah di bahunya—tempat kedua kaki depan milik Sang Harimau tadi bertengger.
“Sakit sekali…,” Burhan mulai meracau. “Apa kau mendengarku? Setidaknya, jika kamu ingin memakanku, makanlah sekarang. Aku sudah lelah….”
Lalu tiba-tiba saja, gigitan harimau di kerahnya melonggar. Burhan mempersiapkan dirinya. Ya, ia sudah siap untuk mati sekarang.
“Grrrr!”
Geraman tertahan itu membuat Burhan segera membuka matanya. Di sana, ia dapat melihat Sang Harimau berdiri tidak jauh darinya. Darah segar mengucur perlahan dari luka tembak di perut Sang Harimau, yang kemudian membasahi tanah di bawahnya.
Kedua makhluk itu saling bertatapan.
“Grraaaah!” Sang Harimau mengaum, sukses membuat Burhan berjengit kaget. Meski begitu, perlahan Sang Harimau menjauhi dirinya. Dengan langkah yang sedikit tertatih, empat kaki milik kucing raksasa tersebut pun menciptakan jaraknya antara dirinya dan Burhan.
Saat itu juga, Burhan baru menyadari satu hal. Harimau itu begitu kurus. Tulang-tulang di tubuhnya tampak menonjol, seperti tidak mendapatkan makanan dalam jangka waktu yang lama. “Bagaimana mungkin…”
Kedua matanya pun berpendar ke sekelilingnya. Hutan. “Tunggu,” gumamnya pelan. Lagi-lagi ia baru menyadarinya. Tidak ada satu pun satwa di sini. Mungkin semuanya telah habis diburu manusia, atau mungkin mati karena habitatnya yang telah tiada. Itu artinya … harimau itu memang tidak dapat mencari mangsanya di hutan
Ya. Bukan inginnya untuk menyerang perkampungan warga. Bukan inginnya pula untuk memangsa hewan ternak yang tak berdaya. Ia … hanya ingin bertahan hidup di dalam hutan yang sepi ini.
Dan baru saja, Burhan menembaki hewan malang yang hanya ingin menyambung hidupnya.
Dengan segenap rasa bersalahnya, Burhan pun terisak kecil. Ia tidak pernah mengerti hal ini sebelumnya. Yang ada di otaknya hanyalah uang, uang, dan uang. Dan ternyata, keserakahannya telah membuat makhluk lain menderita.
Tangan kanannya yang gemetar berusaha mengambil telepon genggam yang berada di saku jasnya. Ia meringis kecil, merasakan sakit akibat luka di lengan dan bahunya. Meski begitu, ia segera memencet beberapa tombol dan segera mengarahkan ponsel tersebut ke telinganya.
“Ini aku. Tolong jemput aku di perbatasan antara perkebunan dan hutan. Dan juga … aku ada sedikit pekerjaaan.” Burhan berkata dengan lemah. Ia dapat mendengar jawaban berupa pertanyaan: ‘Apa, Pak?’
“Aku ingin merestorasi perkebunanku di sini menjadi hutan kembali. Tolong diproses sesegera mungkin.”
Karena mereka sudah sangat menderita.
Atas apa yang telah kita perbuat di habitat mereka.
Kini, sudah tiba saatnya untuk peduli pada sesama.
Bukan hanya sesama manusia, namun juga sesama makhluk yang berada di dunia.
Jagalah hutan, jaga harimau—kawan kita semua.
...TAMAT…
Write By: Aqhmad Baihaqi (Juara 3_Lomba Cerpen_GTD Jambi 2017_Asal Jakarta)
Sang Penguasa di Etalase
Aku tengah berpikir betapa manusia telah berubah menjadi begitu mengerikan untuk dihadapi ketika kusaksikan sebingkai lukisan terdiam sunyi nan kaku diantara gerimbunan mainan super hero,boneka, gelas hias, dan foto keluarga. Sebingkai lukisan indah dengan corak warna penuh rahasia sehingga membuatku diam dan bertanya tanya. Benarkah masih ada ketenangan dan kedamaian di tengah dunia yang telah berubah menjadi tempat pembantaian dan persembunyian?.Disela sela bentuk nyata superhero dan keangkuhan foto keluaraga, lukisan itu terdiam sunyi dalam keindahannya. Seakan corak keabadian yang terbingkai dari duka abadi.
Aku memejamkan mata ketika kembali menyaksikannya tergeletak dietalase. Ini bukan dunia kejam yang ku kenal dulu. Aku menemukan diriku duduk termangu di sofa tamu. Mengehembuskan napas panjang. Seperti melepuh tersengat cahaya matahari siang di luar rumah. Seketika bayang itu muncul kembali. Seperti ketika aku melihat lukisan itu pertama kali di tempat ini. Bayangan yang tak ingin aku kekalkan dalam memoriku. Tapi seperti meendengar gedoran pintu di tengah malam, mengejutkan dan menakutkan. Aku selalu merasa mengenalnya ketika saling berhadapan di ruang tamu. Sebuah bayang yang hadir dalam imajinasi masa kecilku karena terangsang oleh rasa simpati. lalu aku kembali mengingat kisah itu. Kisah sedih penguasa hutan di etalase.
***
Sebelum aku menjadi penghuni etalase yang berdampingan dengan mainan superhero lainnya. Aku adalah penghuni hutan belantara. Menikmati hari dengan aroma lumut basah khas Sumatera. Sepanjang hari di masa kecilku di penuhi dengan kebahagian. Berlari,berkumpul, hingga berburu. Tak pernah sekalipun aku mengenal takut. Karena aku dan kawananku sadar bahwa kami berada di rantai makanan paling atas di ruas hutan ini.
Beranjak dewasa aku mulai tertantang. Aku harus mencari jati diri dan melupakan perjalanan indah di belakang ekor ayah dan ibuku. Tepat di musim kemarau, aku memberanikan pergi meninggalkan hunian kelahiran. Mencoba melihat ruang lain dari hutan ini. Bulan hanya separuh melayang di atas kepalaku saat itu. Barangkali separuhnya lagi tertinggal di hunian sebelah timur bersama kawananku karena tak berani menahan rindu. Aku melenggang sendiri, menapaki tanah nan basah di hutan hujan tropis Sumatera.
Seperti kataku_aku makhluk perkasa di hutan ini. Tak sulit untuk bertahan hidup dari makhluk lainnya. Ketika perut mulai kelaparan aku dengan mudah menagkap makanan lewat berburu. Pemburu handal yang dibekali dengan taring tajam dan otot kekar. Lalu kembali berjalan bila malam menjelang. begitulah seterusnya. Hingga aku merasakan bosan dan kesepian.
Kala itu purnama mengapung di telaga. Sesekali meleleh oleh arus gelombang yang terhempas angin. Aku memandangi dengan gamang. Angin bergegas pergi. Begitu pula makhluk yang lain. Mereka ketakutan. Hingga aku hanya sendiri. Di tangkup sunyi oleh daun daun yang bermandi cahaya. Aku istirahat di pinggir telaga. Hanyut dalam pikiranku. Sudah hampir 10 tahun aku meninggalkan kaumku. Rindu menggeliat. Tapi aku tak bisa pergi. Aku telah lupa jalan pulang. Kesendirian menggiring pada nostalgia.
“Andai saja aku tak meninggalakan kaumku karena ego penasaran, barangkali malam seperti ini aku telah bercanda di bawah percik rembulan”
Inilah perjalanan terjauh dan barangkali terakhirku sampai ke telaga ini. inilah pertamakalinya aku merasa begitu lelah setalah bertahun tahun berjalan. Hingga pelan perlahan tanpa kusadari tubuhku terasa aus. Bagaikan sungai di bantaran tanah yang terguras arus. Arus itu bernama waktu. Kakiku tertancap menjadi akar yang kuat di perut bumi. Aku berevolusi menjadi arca yang bernafas. Aku menua. Lumpuh dalam perjalanan panjang. Pertualangan dalam labirin pencarian jati diri dan jalan pulang. Aku tersesat. Hidup dalam kesendirian. Ditemani jasad babi hutan yang lebur tertimbun tanah. Dalam kelumpuhan aku hanya makan dari tikus tikus hutan yang tanpa sengaja lewat. Begitulah hari menyedihkan dan kesepian itu berlalu. Melawan musim yang berganti. Menahan jerang panas dan guyuran hujan dalam basah kuyup di bibir telaga ini.
Saban hari beberapa kawanan rusa datang mengunjungi hari bisuku. Dia berjalan perlahan sambil meneguk beberapa liter air dari telaga lumut. Beberapa kawanan pernah bertanya.
“Hai penguasa hutan. Apa yang kau lakukan di tempat ini?” tanyanya beberapa meter dari tempatku meringkuk.
“aku hendak pulang dimana kaumku menunggu. Tapi aku telah lupa jalan pulang”
“di mana gerangan rumahmu”
“aku tak tahu pasti. Itu telah lama sekali. Jauh sebelum aku terdampar di tempat ini”
“aku menemukan beberapa ekor di ujung matahari terbenam. Mereka ketakutan. Rumahnya digusur bersama pohon pohon yang bertumbangan.”
“benarkah itu?”
“aku pikir kamu tak akan bisa kembali lagi, nikmati saja telaga ini”. Mereka berlalu.
“tolong sampaikan ke mereka jika kalian bertemu. Katakan aku disini. Sendiri dan tidak bisa bergerak”. teriakku saat kawanan rusa itu melenggang pergi.
Menghibur kesendirian aku terus manatap malam di ujung langit. Berdo’a akan hadir keajaiban_aku menemukan mereka di sini. Tapi itu seperti lintang yang tinggi,sungguh tak bisa di jangkau. Ketika subuh menyongsong. tubuhku meringkuk kedinginan dalam tangis bumi yang menetes. Menangis lah aku dalam perih dan sepi.
Suatu hari, ketika nafas mulai melambat, maut sudah di kerongkongan.Aku mendengar derek langkah lima pasang kaki. Manusiaberseragam menemukan diriku tergeletak pasrah di bawah pohon cantigi. Aunganku hilang perkasa. Aku menatap mata nanar mereka penuh harap. Kelak tangan mereka mengobati lukaku lalu mempertemukanku dengan yang lainnya. Tapi itu seperti kilat. Begitu cepat berlalu. Sebelum akhirnya suara itu menjadi akhir dari cerita kesepian dan kesendirian di belantara hutan tengah Sumatera.
“duarrr…duarrr…duarr”.
Suara itu membisukan semuanya. Membisukan hidup yang telah bisu. Terpejam dalam perih. Darah merah mewarnai lumut basah dan serasah daun yang mengalasi sepanjang altar dudukku. Berakhirlah semuanya. Penderitaan,kesepian dan harapan yang tertanam dalam anganku. Mereka begitu perkasa saat aku tak lagi bisa berdaya. Kelompok kawanan pemburu yang telah lama mencariku. Pemburu berdarah dingin yang terselubung dalam sampul seragamnya. Berkamuflase ketika kembali ke kotanya. Lalu menjelma menjadi monster menakutkan di kawasan hutan ini.
Aku tak lagi hidup. Pisau pisau mereka mengupasku seperti mengupas buah naga sambil mengisap cerutu. Dagingku kini berbaur dengan tulang babi yang mengering. Di biarkan tergeletak di makan cacing dan belatung. Di serbu kawanaan tikus yang membalas kematian teman temannya. Aku bangkai tanpa kulit.
Seiring waktu aku terlahir kembali sebagai lukisan maut yang mengundang decak kagum. Duduk manisdalam etalase dengan nilai estetika dan komersil yang tinggi. Berpangkal dari itu, lahirlah pemburu perkasa yang berasal dari rantai makanan teratas dalam ekosistem. Kaumku terpontang panting tak berdaya. Kami bukan lagi raja dari hutan belantara. Tapi pion pion tersudut yang lelah mencari ruang kosong untuk melangkah.
Suatu malam rumah tempatku tinggal kedatangan tamu. Sepasang suami istri dan anak perempuan yang berumur sekitar enam tahun. Bersama dengan teman baruku, samar samar terdengar suara perbincangan mereka. Perbincangan yang cukup serius oleh dua pejabat ternama di negeri ini. Mereka tampak nyaman dengan sofa mewah yang menghiasi ruang tamu. Kecuali si anak. Saat orang tuanya sibuk berbincang, si anak bosan dan tidak bisa diam. Dia hilir mudik di dalam ruangan sambil memperhatikan foto dan lukisan yang menempel di dinding. Matanya terhenti sejenak di etalase meja. Di sana ada foto keluarga, gelas hias, beberapa boneka dan robot-robot superhero serta tentu saja kulitku yang telah menjadi lukisan mewah. Dipegangnya gagang pintu etalase.
“Rita, jangan sayang. Nanti rusak” tegur ibunya saat melihat si anak hendak membuka etalase untuk mengambil boneka.
“Ah nggak apa-apa. Buka aja nak, itu etalasenya juga gak dikunci. Banyak mainan lho disitu” ujar penghuni rumah.
“Jangan di rusak ya” peringati sang ibu
Si anak tak mengiyakan. Diamembuka etalase lalu mengambil beberapa boneka dan super hero. Seperti magnet untuk pasangan mata manusia, hanya beberapa menit saja kulitku mampu manarik perhatian bocah itu. Dia membiarkan superhero dan boneka tergeletak pasrah di atas karpet. Lalu mengangkatku yang sudah tertata rapi di disamping gelas hias. Tangan mungilnya mencoba menyentuhku, tapi terhalang oleh kaca yang menyatu bersama rangka bingkaiku.
“Ayah, apa ini?” tanya sang anak
“Lukisan” jawab ayahnya singkat sambil terus melanjutkan perbincangan. Si anak diam, dia kembali memperhatikan isi bingkai.
“lukisan? Mirip kulit harimau?” ujar si anak dengan pelan seakan bertanya pada dirinya sendiri.
“Itu kulit harimau, jadi tidak boleh di ganggu. Ayo sini dengan oom” panggil pemilik rumah yang melihat si anak kebingungan. Anak perempuan itu mengembalikan lukisan ke tempat semula. Lalu berlari ke pangkuan ayahnya.
“Ayah, apakah itu sama dengan lukisan di kamar ayah?”
“Mmm”. Jawab sang ayah yang tetap fokus dengan perbincangannya.
“kata ibu guru harimau hewan dilindungi yah. Apakah kulitnya juga dilindungi?” tanya anak perempuan itu polos.
Si ayah menghentikan pembicaraan sejenak. Memperhatikan anak tunggalnya yang berada di pangkuan. Diam dan tersenyum kecut mencoba menyembunyikan ekspresi terkejut itu di depan sang anak. Dia mengalihkan perhatian dengan kembali berbincang kepada tuan rumah.
“Ayah?” tegur si anak yang belum juga menemukan tanggapan yang memuaskan dari sang ayah.
“Rita, ayah sedang bicara dengan oom. Sebaiknya Rita main saja sama bonekanya yang tadi nak” tegur ibunya
Anak perempuan itu mengerutkan kening. Ia beranjak kembali ke etalase. Sebelum bermain dengan boneka, dia menatap warnaku yang bercorak indah.Sejurus kemudian, dengan penuh penasaran dia membuka bingkai itu dan menyentuh kulitku. Tangan kecilnya seperti energi listrik yang mampu memberikan sentruman sihir. Aku terkejut. Belum pernah tersentuh siapapun semenjak menghuni bingkai kaca ini. Namun mendadak tangannya berhenti mengelus. Lampu yang padam kembali menyala. Seperti penghuni ruangan tamu lainnya. Mata mereka terfokus ke sebuah televisi di samping etalase. Sebuah berita muncul seketika memecah fokus pembicaraan di ruang tamu.
“lima orang jaringan perdagangan kulit harimau di temukan di bengkulu utara. Mereka melakukan perdagangan kulit harimau yang di ambil dari hasil pemburuan ilegal Harimau Sumatera di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS)”
Si anak diam. Matanya tersorot ke wajah orang dewasa di sofa mewah yang tak lagi bisa menyembunyikan ekspresi mereka.
***
Dedikasi buat para pemburu berdasi
Write By: Wildan Carbon (Juara 2 Lomba Cerpen_GTD Jambi 2017_Asal Jambi)
Si Belang Yang malang
Pagi yang cerah untuk memulai aktivitas di akhir pekan ini, mentari pun tersenyum dengan indahnya menyapa Mira yang tengah duduk santai dengan segelas coklat hangat. “Apa yang sedang kau baca Mira?” Ucap ibu yang berjalan dari dapur menuju ruang keluarga, dengan dua piring nasi goreng hangat untuk sang putri dan suami tercinta. Dengan senyum cerianya, Mira anak 10 tahun itu menunjukkan buku cerita bergambar miliknya yang baru ia dapatkan kemarin. “Wah, cerita bergambar ya? Kelihatannya seru.” Ibu duduk di sebelahnya sambil memberikan sepiring nasi goreng untuk ayah yang sedang membaca koran. Ayah yang duduk berseberangan dengan Mira tersenyum melihat mata berbinar putrinya saat menceritakan buku baru miliknya.
“Mira senang sekali bisa punya buku baru bu. Ibu mau dengar tidak cerita yang baru saja Mira dapatkan ini?” Ucap Mira sepenuh hati. Ibu mengangguk dengan semangat. “Jadi, buku baru Mira ini menceritakan tentang seekor harimau dan domba yang malang bu. Awalnya harimau dan domba hidup bahagia di rumah mereka masing-masing. Tapi karena hutan sebagai rumahnya harimau rusak, harimau jadi mencari rumah baru bu dan bertemu dengan domba yang tinggalnya di rumah pak Joni, peternak domba. Mira fikir semua hewan itu baik dan menggemaskan, tapi ternyata harimau sangat mengerikan, ih…” Mira terus berceloteh dengan gayanya yang menggemaskan. “Oh ya? Bukannya kemarin Mira bilang harimau itu mirip kucing?.” Mendengar pertanyaan sang ibu, Mira langsung menggelengkan kepalanya. “Sekarang tidak bu, Mira tidak suka dengan harimau. Dia berbeda dengan kucing bu, dia tidak seperti pusy temannya Mira yang bisa diajak bermain bersama.” Ucap Mira, bibir mungilnya ia majukan beberapa senti dengan kepala yang terus menggeleng. Melihat tingkah lucu sang putri, ayah dan ibu tertawa. Mira yang seakan tak terima ditertawakan oleh kedua orang tuanya, kini melihat ayah dan ibunya secara bergantian dengan wajah kesal. “Memangnya kenapa kamu bilang harimau itu mengerikan?” Kini ayah membuka mulutnya. “Karena dia memakan domba milih peternak yah. Dia mengambil semua domba milik peternak dan menyerang pak Joni si Peternak Domba. Kasihan kan bu Domba dan Peternaknya.” Mira memperlihatkan wajah sedihnya. “Tapi sepertinya kamu belum selesai membaca ceritanya. Bagaimana jika kamu menghabiskan sarapannya terlebih dahulu, dan nanti ayah akan mendengar ceritamu lagi” dengan lembut ayah mengambil buku yang semenjak kemarin tidak lepas dari tangan Mira. Menatap ayah yang tersenyum padanya, dengan patuh Mira memulai sarapannya pagi ini.
Buku cerita bergambar itu mungkin telah menyihir Mira untuk terus membawanya kemanapun Mira pergi. Bahkan, saat menonton tayangan televisi kesukaannya di hari libur ini. Ayah dan ibu saling bertatapan melihat tingkah Mira yang masih sibuk dengan buku barunya itu. “Seru ya yah cartoonnya hari ini. Dia mendapatkan teman baru.” Ibu bercerita dengan ayah tentang acara cartoon kesukaan anak mereka. Niat ibu ingin mengacaukan konsentrasi Mira yang sedang asik membaca, malah membuat Mira semakin larut dengan bacaannya. Tiba-tiba saja Mira tertawa dan terlihat begitu senang, hingga membuat ayah dan ibu terkejut. “Sekarang ada apa Mira?” Tanya Ayah yang duduk disamping kanannya. “Mira senang yah, karena membuat masalah, harimau akhirnya ditembak dan ditangkap. Jadi dia bisa merasakan sakitnya domba-domba yang dia makan.” Ucap Mira polos.
Ayah membelai rambut Mira lembut, “Tidak baik bersikap seperti itu Mira, harimau juga makhluk hidup perlu diperhatikan kehidupannya.” “Tapi yah, jika harimau bersikap jahat seperti itu, tidak salah kan kalau harimau dihukum.” Mendengarnya ayah hanya tersenyum, ayah meraih remot televisi yang tidak jauh dari jangkauannya. Secara tidak sengaja, ayah mengalihkan acara di televisi dan memperlihatkan beberapa ekor harimau di sebuah hutan hujan tropis di wilayah Taman Nasional Berbak, Jambi, Indonesia. Harimau Sumatera merupakan salah satu satwa yang dilindungi. Keberadaannya di alam berada dalam tingkat kritis, setelah Harimau Bali dan Harimau Jawa mulai punah sekitar tahun 1980-an. Satwa yang memiliki nama latin Panthera tigris sumatrae ini, berperan sebagai predator puncak dalam tingkatan ekosistem, oleh karena itu kucing besar ini disebut sebagai keystone spesies. Dimana, keberadaannya mempengaruhi keseimbangan ekosistem di lingkungan hidupnya. Televisi itu terus memutar gambar sang predator ulung di alam dengan berbagai tingkah lakunya. Sang pembicara dalam televisi membeberkan keunikan yang dimiliki oleh hewan mamalia pemakan daging tersebut. Mira tampak serius memperhatikan tayangan itu. “Tuh lihat, harimau itu hewan yang kuat dan tangguh. Dia mungkin mengerikan dengan cakar dan taring tajamnya. Tapi dia itu memiliki peran penting di alam.” Ucap ayah, menjelaskan kepada Mira yang tampak terpikat dengan tayangan televisi tersebut.
Carnivora yang memiliki rambut oranye dengan corak hitam disekujur tubuhnya ini, mempunyai gigi dengan taring panjang sekitar 7,5 hingga 10 cm. Selain itu, hewan yang masuk dalam daftar merah IUCN ini, juga memiliki cakar panjang yang digunakannya untuk memangsa. Morfologi tubuhnya membantu harimau hidup sebagai predator unggul di alam, dan keberadaannya dapat mengontrol keberadaan hewan herbivora yang merupakan mangsanya. Tidak seperti kucing peliharaan yang takut akan air, harimau merupakan kucing besar yang handal berenang bahkan diketahui dapat melintasi sungai yang memiliki panjang 6 hingga 8 km. Dibantu dengan otot kakinya yang kuat dan cakarnya yang tajam, harimau diketahui juga sebagai pendaki yang sangat pandai. Dengan mata berbinar-binar dan penuh semangat Mira berdiri dari duduknya. “Wahhhhh…… keren. Lihat yah lihat, harimaunya berenang dan mendaki. Wah wah… Mira jadi malu yah karena tidak bisa berenang sebaik itu.” Ucap Mira saat televisi memperlihatkan kepandaian harimau yang tengah menyeberangi sungai. “Wow, bahkan dia bisa berlari kuat sekali yah.” “Iya, sama seperti kucing, harimau itu bisa berlari dan memanjat. Tapi harimau lebih hebat, dia pandai berenang. Kamu jadi suka kan dengan harimau?.” Tanya ayah. “Tapi yah, kenapa harimau harus memakan domba-domba dan…” Mira menatap ayahnya sekilas lalu beralih pada layar televisi, “Tuh kan dia makan rusa yah, tuh tuh….” Ucapnya sambil menunjuk ke layar televisi, ayah yang melihatnya hanya tersenyum.Ayah membelai lembut rambut Mira, “Sama seperti Mira, harimau juga butuh makan. Sekarang ayah tanya, tadi pagi selain nasi goreng Mira makan apa?” ayah kini kembali bertanya pada Mira yang tampak begitu bersemangat. “Ayam goreng yah.” Jawab Mira polos. “Ayam itu hewan juga kan?” Tanya ayah lagi, Mira hanya mengangguk. “Terus, apa salahnya kalau harimau makan domba dan rusa? Bukannya sama seperti Mira yang makan ayam.” Mira menunjukkan wajahnya yang mencoba mencerna perkataan sang ayah. “Harimau itu butuh makan dan tidur sama seperti kita. Tetapi caranya berbeda, tadi Mira lihatkan harimau punya taring dan cakar yang tajam. Nah, kalau kita memakan ayam yang matang. Maka harimau tidak sama seperti kita, dia memakan mangsanya dengan cara berburu menggunakan cakarnya dan taring tajamnya.” Lanjut ayah.
Mira mulai mengerti dengan penjelasan ayahnya, tetapi wajah Mira menunjukkan kesedihan. “Kenapa wajahnya begitu sedih?” ayah kembali buka suara. “Kalau begitu, kasihan dong yah sama harimaunya. Dia kan juga mau hidup. Kalau misalnya dia ditangkap seperti di cerita buku Mira ini, dia tidak bisa hidup lagi yah.” Jawab Mira dan diikuti kebisuan dari ayah. Sesaat kemudian, televisi kembali bersuara,Keberadaan harimau saat ini hanya berkisar 600 ekor saja. Karena adanya alih fungsi hutan, perdagangan ilegal dan pemburuan liar menjadi faktor utama berkurangnya spesies endemik sumatera ini. Selain itu, konflik dengan warga juga menyebabkan harimau menjadi tersangka utamanya. Sebab, keberadaan harimau hanya dianggap warga sebagai momok yang menakutkan, bagi warga yang tinggal disekitar hutan habitat asli satwa tersebut. Karena kurangnya edukasi kepada masyarakat tentang keberadaan hewan dan lingkungan sekitar, membuat warga berpandangan bahwa harimau hanya sebagai hewan liar yang ganas bukan sebagai hewan langkah yang unik. Wajah Mira tampak begitu sedih saat televisi memutar video dramatis penangkapan harimau di kebun warga. “Kenapa harimau masuk ke rumah warga seperti itu yah?” tanya Mira penasaran. “Karena rumahnya rusak, harimau tidak punya tempat tinggal lagi. Hutan yang menjadi rumah harimau sudah mulai berkurang, berubah menjadi perkebunan. Sungai-sungai tempat harimau berenang dan minum juga mulai tidak bersih lagi. Tuh lihat, hutannya dibakar, kalau begitu harimau tidak bisa tinggal disana lagi. Sekarang ayah mau tanya lagi. Jika rumah Mira rusak apa yang akan Mira lakukan?” Ayah mencoba mengajak putrinya berfikir. “Tentu saja Mira akan pindah yah. Kan tidak bisa tinggal di rumah yang rusak.” Belum sempat ayah kembali buka suara, Mira melanjutkan kalimatnya,”Karena itu ya yah, harimau jadi masuk ke rumah warga dan mencari makan disana?” Ayah tersenyum. “Kasihan ya yah harimaunya. Kalau begitu, Mira mau tanam pohon banyak-banyak yah. Biar nanti Mira bisa buat rumah untuk harimau.” Ayah tampak bangga pada pemikiran anaknya yang begitu antusias dengan lingkungan dan makhluk hidup lainnya.
Seketika ayah teringat sesuatu, ajakan rekan kerjanya untuk mengunjungi kebun binatang dalam rangka menghadiri acara pembukaan Hari Harimau Internasional.“Jadi sekarang Mira pedulikan sama harimau?” tanya ayah pada Mira, yang dibalas anggukan semangat sang putri. “Bagaimana jika besok kita pergi ke kebun binatang. Akan ada harimau dan banyak binatang lainnya. Mira mau tahu sesuatu tidak?” “Apa yah?” tanya Mira semangat. “Sebentar lagi adalah Hari Harimau Internasional. Akan ada banyak acara dan Mira bisa berfoto bersama harimau di kebun binatang besok. Mira juga bisa membantu harimau untuk perlindungannya dengan bermain di kebun binatang itu. Bagaimana Mira mau ikut?” Ajakan sang ayah langsung ditanggapi dengan senang hati oleh putri tercinta. “Tentu yah.” Ucapnya penuh semangat. “Ibu besok kita akan melihat harimau…..” Seru Mira kepada ibu yang tengah membersihkan ruang keluarga mereka.
Hari yang ditunggu Mira tiba, dengan wajah cerah dan senyum hangatnya, Mira membantu sang ibu menyiapkan bekal makan siang mereka. “Ayo semua sudah siap?” Ayah berdiri di pintu keluar, dengan semangat Mira menghampiri sang ayah dan berteriak “AYOO…” Ayah dan ibu hanya terkekeh melihat tingkah lucu sang anak. Sepanjang jalan menuju kebun binatang, Mira tak henti bersenandung. Tidak seperti hari biasanya, hari ini kebun binatang dipadati oleh masyarakat sekitar. Poster dan slogan pelestarian harimau tersusun rapi di setiap sudut kebun binatang, namun yang paling menarik perhatian Mira adalah sebuah boneka besar ditengah keramaian anak kecil. Mira menarik tangan sang ayah untuk mendekati kerumunan, mata kecil Mira tampak antusias ketika melihat bahwa boneka tersebut bergerak. “Ayah ternyata itu badut, bukan boneka. Hehehehe Mira fikir bisa dibawa pulang. Ayo yah Mira mau foto sama badut nya lucu…” Ucap Mira dan terus menarik tangan sang ayah. Ayah hanya tersenyum dan mengikuti langkah mungil putri kecilnya. Ayah dan Mira mendekati badut harimau tersebut. “Haloo gadis manis, namamu siapa?” Sesaat terdengar suara ramah dari paman di dalam badut, “Nama saya Mira, saya sangat menyukai harimau. Harimau tidak mengerikan, sangat lucu dan menggemaskan.” Ucap Mira sambil berusaha mengusap wajah badut tersebut. Badut itu menyetarakan tinggi badannya dengan badan Mira, dan memberikan sebuah balon bertuliskan, Save the Tiger With Fun Ways, dan sebuah gambar wajah harimau yang terlihat ramah. “Terimakasih.” Mira mengambil balon tersebut dan tersenyum hangat. Setelah berfoto bersama, badut melambaikan tangannya dan di balas dengan lambaian tangan Mira. Kini Mira, Ayah dan Ibu tengah mengitari kebun binatang, mulai dari memberi makan gajah, berfoto bersama burung hantu, hingga sampai di depan kandang harimau, yang dikerumuni oleh banyak pengunjung. Dari kejauhan terdengar suara ramah seorang wanita berambut panjang dengan topi dan baju bertuliskan Kawan Imau ”Harimau sumatera ini bernama Si belang, merupakan salah satu harimau yang di lindungi di kebun binatang ini. Si belang telah tinggal di sini selama kurang lebih 2tahun. Si belang merupakan salah satu korban dari kejahatan manusia. 2 tahun lalu, terjadi kebakaran di hutan tempat tinggalnya, ia terpisah dari induknya dan ditemukan pihak polisi hutan dengan memiliki luka bakar pada kaki kanannya.” Mendengar penjelasan dari pembicara tampak raut khawatir dari wajah Mira, ia meminta ayahnya mengendongnya agar Mira dapat melihat dengan jelas keadaan si belang. “Saat ini Si belang sudah kembali pulih dan akan segera di pulangkan ke habitat aslinya di hutan, tepatnya di Taman Nasional Berbak. Untuk kembali mendapatkan perlindungan dan dapat hidup dengan bebas di habitat aslinya.” Wanita itu tersenyum, tampak kelegaan diraut wajahnya. Mira dengan senyuman hangatnya melirik ayah seakan memiliki kelegaan yang sama dengan wanita tersebut.
Mira melirik beberapa stand yang berderet disebelah kanannya. Sepanjang mata memandang, stand tersebut menampilkan corak warna khas kulit harimau, dan tak lupa ada seorang badut yang tengah menari bersama anak-anak kecil disana. Setiap sudut tak luput dari slogan, “Save the Tiger With Fun Ways.” Mira menikmati langkah mungilnya menjelajah setiap jengkal keseruan dimasing-masing stand tersebut, mulai dari melukis wajah, bermain lempar gelang, menyusun puzzle hingga menghancurkan pinata dan mendapatkan hadiah. Tak hanya Mira, Ayah dan ibu merasa sangat bahagia bisa mengajak anak mereka menghabiskan akhir pekan bersama. Tepat setelah mendapatkan hadiah berupa boneka harimau, mata Mira seakan terpancing dengan poster tepat disamping mereka kini tengah beristirahat. Setelah membaca setiap kata pada poster tersebut, Mira dengan sigap langsung berdiri menggenggam erat tasnya yang sedari tadi ia sandang. Ibu dan ayah yang sedikit terkejut, mengikuti anak mereka tepat dibelakangnya. Mira mengeluarkan seluruh isi tasnya yang ternyata beberapa makanan ringan, 2 boneka tangan dan boneka kesayangannya. Dan benda terakhir yang ia keluarkan adalah buku cerita bergambar yang baru ia dapatkan beberapa hari lalu, melihat tingkah sang anak ibu pun buka suara, “Mau kamu apakan barang bawaanmu ini Mira?” Tanya ibu. Mira menunjuk poster yang ia baca tadi, “Harimau adalah satwa yang dilindungi. Mari ikut menjadi relawan penyelamat harimau dengan mendonasikan barang-barang anda, seperti buku atau mainan anak-anak. Seluruh keuntungan dari penjualan barang yang anda donasikan, akan digunakan untuk keperluan perlindungan harimau dan hutan sebagai tempat tinggalnya.” Ibu tersenyum mendengar Mira membaca kalimat tersebut. “Mira mau jadi bagian dari relawan penyelamat harimau bu. Seperti yang dilakukan Tasya dan keluarganya, gadis baik yang menyelamatkan harimau setelah ditangkap oleh warga.” Tambah Mira tersenyum, menceritakan akhir dari buku cerita bergambar yang baru selesai ia baca malam tadi. Ayah dan ibu tersenyum melihat antusiasnya Mira ingin membantu kehidupan harimau. “Terimakasih Mira, kamu baik sekali. Ini kakak kasih boneka baru dan topi. Dan ini bibit pohon yang bisa kamu tanam.” Ucap seorang wanita berambut pirang dan tersenyum ramah pada Mira. “Kebetulan sekali hari ini adalah pembukaan Tiger Day, sebentar lagi akan ada acara simbolis dengan menanam 1000 bibit pohon sebagai simbolis bahwa kita akan melindungi hutan, dengan begitu kehidupan harimau juga akan terlindungi.” Lanjut wanita tersebut sambil tersenyum kepada ibu dan ayah. Tepat jam 11 siang itu, Mira, ayah, ibu dan ratusan pengunjung kebun binatang bersama-sama menanam bibit pohon di sebuah tanah lapang yang tak jauh dari kebun binatang.
“Hari ini adalah hari yang menyenangkan untukku, aku menjadi bagian dari kawan imau yang dapat menyelamatkan kehidupan harimau. Menjadi relawan tidak harus turun lapangan kan, menjadi relawan juga tidak harus tunggu aku dewasa. Banyak cara yang bisa ku lakukan untuk menyelamatkan harimau, seperti yang kulakukan sekarang. Bermain game, melukis wajah, hingga menanam bersama. Semoga bibit yang aku tanam dapat tumbuh menjadi pohon besar. Sekarang keinginanku terwujud membuat rumah baru untuk Si Belang yang malang. Eh tidak, sekarang Si Belang harus bahagia, karena sekarang Si Belang sudah punya banyak teman yang sayang padanya. Namaku Mira dan usiaku 10 tahun, hari ini aku belajar bahwa banyak cara menyenangkan untuk mempelajari dan melindungi satwa liar, seperti Si Belang, sahabat liarku. Aku berjanji untuk terus melindungi Si Belang dan keluarganya, saatnya menyelamatkan Harimau, Happy Global Tiger Days.. :D”Mira.
Write by: Della Oktivia Armhita (Juara 1 Lomba Cerpen GTD Jambi 2017_Asal Jambi)
Gawe Kawan Imau
Horee… ada lomba dikawan imau?? lomba apa yah?? yuks intips.
Dalam Rangka Hari Konservasi Harimau tahun 2017, yang biasa diperingati setiap tanggal 29 Juli. kawan imau mengadakan beberapa kegiatan diantaranya:
- Lomba Infografis
- Lomba Menulis Cerita Pendek (Cerpen)
Lomba terbuka untuk umum. Catat tanggal pentingnya :
- Pengiriman karya : Tanggal 22 Juni s.d 27 Juli 2017
- Penilaian : Tanggal 28 Juli 2017
- Pengumuman : Tanggal 29 Juli 2017
Yang beruntung akan mendapatkan:
Juara 1 : Uang Binaan Rp. 1.500.000,- + Piagam Penghargaan + Tshirt kawan imau
Juara 2 : uang Binaan Rp. 1.000.000,- + Piagam penghargaan + Tshirt kawan imau
Juara 3 : uang binaan Rp. 750.000,- + Piagam penghargaan + Tshirt kawan imau
Informasi Pemenang dapat dilihat di website mongabay indonesia, website kawanimau, instagram/facebook dan twetter kawan imau.
Jangan sampai ketinggalan yah guys…
Kawan Imau Peduli 2017
Tahun ini kita mencoba sedikit berbagi dengan adik-adik panti asuhan. Ahamdulillah berkat teman-teman yang telah berkenan menyisihkan uang jajannya, kegiatan kawan imau peduli 2017 bisa dilaksanakan sesuai rencana. Total biaya yang terkumpul sebanyak Rp. 1.000.000,- (Satu Juta Rupiah), dengan uang itu kami bisa berbagi banyak dengan adik-adik seperti perlengkapan sekolah dan sembako.
Panti asuhan yang kami tuju bernama Az-Zahrawaani, beralamat di jalan pattimura Kota Jambi atau sebelum lapas Kota Jambi. adik-adik asuh berjumlah 20 orang yang terdiri dari 1 mahasiswa, 4 orang Siswa SD, sisanya SMP dan SMA. Semoga kegiatan ini berkelanjutan. amin.


Nilai Penting Harimau Sumatera
Harimau sebagai salah satu satwa prioritas dalam pengelolaan keanekaragaman hayati di Indonesia memiliki beberapa nilai penting. Nilai penting harimau dapat dibahas dari sudut pandang ekologi, politik, hukum dan kebijakan, sosial budaya, ekonomi, dan ilmu pengetahuan.
Aspek Ekologi
Harimau memiliki peranan penting dalam ekosistem sebagai regulator dan indikator biologi. Sebagai regulator biologi, keberadaan populasi harimau menjadi penting sebagai penyeimbang populasi satwa-satwa lain. Harimau yang berada di puncak rantai makanan berperan mengontrol populasi satwa mangsa melalui interaksi pemangsaan. Sebagai indikator biologi, keberadaan populasi harimau berfungsi sebagai penanda kehadiran satwa mangsa dan kualitas habitat. Harimau menjadi indikator kualitas habitat untuk menjamin fungsi hutan sebagai sistem penyangga kehidupan. Selain sebagai indikator, harimau merupakan spesies payung karena memiliki daerah jelajah yang luas. Dengan kata lain, melindungi harimau dapat melindungi bentang alam serta keanekaragaman hayati di dalamnya.
Aspek Hukum dan Kebijakan
Kegiatan pelestarian harimau sumatera didukung melalui kebijakan serta perlindungan hukum nasional dan internasional. Secara nasional, harimau dilindungi dalam UU No. 5/1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, UU No. 41/1999 tentang Kehutanan, UU No 13/2014 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Kerusakan Hutan serta merupakan salah satu dari 25 spesies prioritas Lebih spesifik lagi terkait perlindungan harimau, Kementerian Kehutanan (saat ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan) telah menerbitkan rencana dan aksi konservasi harimau 2007-2017 dan beberapa peraturan menteri sebagai pedoman upaya perlindungan dan pelestarian harimau.
Kegiatan pelestarian harimau sumatera juga dilakukan dalam skala internasional. Kebijakan serta perlindungan harimau sumatera tercatat dalam hukum atau konvensi internasional Convention International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES), Convention on Biological Diversity (CBD), Convention Concerning the Protection of World Cultural and Natural Heritage (World Heritage Convention-UNESCO), ASEAN Agreement on the Conservation of Nature and Natural Resources 1985, serta kerjasama bilateral Indonesia dengan beberapa negara sahabat terkait konservasi satwa liar.
Aspek Ilmu Pengetahuan, Sosial Budaya, dan Ekonomi
Keberadaan harimau sumatera memiliki peranan khusus bagi para peneliti maupun masyarakat yang tinggal di kawasan hutan dalam aspek ilmu pengetahuan, sosial budaya, dan ekonomi. Harimau sumatera memiliki sifat yang sulit dipelajari. Oleh karena sifatnya tersebut, berbagai metode dikembangkan untuk mempelajari kehidupan harimau meliputi dinamika populasi, sebaran, dan perilakunya di alam liar. Perkembangan metode dan pengetahuan kita dalam mempelajari harimau juga berpengaruh pada spesies lain. Misalnya dalam penggunaan metode kamera penjebak, selain merekam harimau alat tersebut juga mendeteksi keberadaan satwa lainnya yang sulit dijumpai. Tercatat, penggunaan kamera penjebak turut mengisi kekosongan informasi mengenai populasi dan ekologi satwa seperti tapir, kucing dampak, kucing batu, dan lain sebagainya.
Dalam sudut pandang sosial budaya, harimau sumatera di berbagai daerah menempati kedudukan yang dihormati oleh masyarakat. Di Tanah Batak misalnya, harimau dipanggil dengan sebutan “Ompung” yang merupakan panggilan kepada seseorang yang dihormati. Lain lagi di Padang dan Jambi, harimau dipanggil dengan sebutan “Datuak” yang biasa digunakan untuk menyebutkan tetua adat, “Inyiak” untuk menyebut orang yang dituakan dan dihormati, ataupun sebutan kehormatan lainnya seperti “Ampang Limo”. Masih banyak lagi berbagai kearifan lokal, kisah-kisah bijak, dan cerita rakyat yang menceritakan bagaimana masyarakat hidup berdampingan dengan harimau. Di daerah Sumatera Barat misalnya, masyarakat yang enggan memanggil “harimau” membagi waktu aktivitas mereka bersama harimau. Masyakarat mengakhiri aktivitas mereka sebelum pukul enam sore agar harimau dapat beraktivitas. Lain di Jambi, perempuan berambut panjang harus mengikat rambutnya jika memasuki hutan atau tidak boleh mematahkan ranting pohon dengan lutut. Di berbagai daerah, cerita-cerita interaksi manusia dan harimau terus dipelihara turun-temurun yang secara tidak langsung berperan dalam pelestarian harimau.
Harimau sumatera juga memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar. Secara langsung, keberadaan harimau membuka peluang usaha ekowisata yang akan mendatangkan pendapatan bagi masyarakat. Secara tidak langsung, harimau berperan serta menjaga hutan yang menyediakan jasa lingkungan sebagai sumber air bersih dan cadangan karbon. Selain itu, harimau mengontrol populasi babi hutan, satwa mangsa yang menjadi hama karena merusak tanaman masyarakat.
(Tim penulis modul monitoring harimau sumatera: Iding Achmad haidir, Irene Margareth Romaria Pinondang, Tomi Ariyanto, FebryAnggriawan Widodo, Wido Albert, Ardiantiono)




