Enam Tahun

Selang enam tahun, apa lagi yang belum kuketahui?

Aku tau bagaimana cara membuatmu tertawa. Pun aku tau bagaimana caranya membuatmu menangis. Aku jago melakukan keduanya

Aku tau jam berapa biasanya kau tidur dan bangun, seperti apa gayamu sewaktu tidur, juga metode paling tepat untuk membangunkanmu.

Aku tau makanan apa yang kau suka. Makanan yang kau benci. Makanan yang kau tak akan berkomentar rasanya bagaimana.

Aku tau kapan kau ingin diperhatikan. Kapan ingin tak dianggap, yang penyebabnya adalah karena tak diperhatikan

Aku tau kau tidak suka kata “sorry”, tapi membuka pintu maaf untuk kata “maaf”

Aku tau saat kau marah. Tau saat kau bersedih. Tau saat kau ingin menjadi dirimu sejadi-jadinya dengan tetap mengindahkan orang lain.

Aku tau saat kau lapar dan kau tak mau mengakuinya.

Aku tau kapan kau suka mendengar lagu. Kapan kau bersenandung. Kapan kau menikmati sebuah lagu hingga tanpa sadar bernyanyi sendiri.

Aku tau kapan kau akan mengeluh di malam hari untuk mulai bercerita dan kapan kau memutuskan untuk mendiamkan suatu masalah sampai keesokan harinya.

Aku tau masa lalumu. 

Aku tau kapan kau membutuhkanku.

Dan aku tau semua yang kuketahui, kau pun mengetahuinya atas diriku. 

Jadi, selang enam tahun, apa lagi yang belum kuketahui? Banyak, banyak, banyak lagi hal yang menjadi misteri. Menunggu untuk diungkap hingga sesaat sebelum kita berdua mati.

Poster – Bali #41

Tugas terakhir kami di IALF adalah presentasi poster. Sesuatu yang sudah kami kerjakan dengan kerja keras. Saya yang kurang familier dengan Canva, menjadi berkenalan kembali dengannya demi membuat poster ini. Tema poster yang saya ambil sejalan dengan tesis saya, yaitu mengenai alih guna lahan yang berlebihan di Batam demi kebutuhan industri.

Continue reading “Poster – Bali #41”

Perpisahan – Bali #40

Tibalah waktunya kami, para students IALF 5-weeks, melakukan perpisahan. Beberapa melakukannya dengan mengadakan acara, tak terkecuali kelas gajah kami. Karena ingin sesuatu yang sedikit spesial, kelas kami memutuskan untuk pergi ke Bedugul. Sebuah tempat dataran tinggi, dekat dengan Danau Beratan, berjarak tak sampai 2 jam dari Denpasar di utara. Tujuan kami ada 3 tempat di Bedugul. Pura Ulun Danu, Stuja di Danau/Bali Farm, dan Kebun Raya Bali. Kami berangkat jam 8 pagi dari Siddhakarya lalu sampai di Bedugul jam 10 kurang.

Continue reading “Perpisahan – Bali #40”

Sabtu Pulang – Bali #39

Seisi IALF sudah membicarakan waktunya pulang dalam seminggu terakhir ini. Kami yang kejatahan 5 minggu sejak awal September kemarin sudah di ambang kepergian meninggalkan Sesetan.

“Gimana senang apa sedih mau pulang?”,

“Sedih dongg, bakal berpisah dengan kalian”

Ya, tentu ada rasa sedih. Tapi bagi saya, lebih banyak senangnya daripada sedih. Tak sabar ingin membeli oleh-oleh makanan. Berkali pikiran ini mengawang membayangkan skenario pertemuan di bandara, meski saya tahu kecil sekali kemungkinannya terjadi. Biarlah. Biar saya tenggelam dalam gegap gempita dalam hati menuju pulang. Mata, telinga, dan hati saya sudah menantikan sebuah kepulangan. Kepada kekasih, kepada anak, kepada rumah. Sabtu bisa jadi begitu lama kala kita menunggu. Ayo cepat bergerak, Rabu!

Bye, Sepeda! – Bali #38

Sedih rasanya saat melepas sepeda yang saya pakai selama sebulan ini. Tak kurang 10km tiap hari saya tempuh bersamanya, pagi-sore. Ia yang selalu setia menemani. Bahkan di malam hari, sepeda ini ada di samping kasur saya. Tak mau saya biarkan ia di luar kamar, apalagi luar rumah. Sejak awal memang saya tahu kalau sepeda ini saya beli hanya untuk sementara waktu. Tak mungkin saya bawa ke Batam. Meski begitu, saya yang gampang merasa ikatan emosional dengan barang-barang, merasa berat untuk melepas sepeda ini dan dijual.

Saya pikir, bakal ada kendala ketika ingin menjual sepeda ini. Namanya juga jualan, nggak pasti bakal laku atau tidak. Makanya saya jaga-jaga dengan mulai menjual sepeda ini di marketplace facebook seminggu sebelum saya pulang. Tapi ternyata, dengan harga 600rb di marketplace, tak sampai setengah jam saya sudah dapatkan janjian untuk cek dan jual barang. Itu masih subuh lho.

Continue reading “Bye, Sepeda! – Bali #38”

Batur – Bali #37

Saya berkesempatan untuk pergi hiking ke Gunung Batur minggu lalu. Memang saya tertarik untuk hiking mumpung di sini ada gunung. Sempat saya cari info mengenai open trip pendakian di facebook, tapi saya mundur ketika diberi tahu harganya. Keluar uang 800rb atau 1.6jt bersama guide naik ke Gunung Agung jelas bukan pilihan saya. Untungnya, tak berapa lama dari info itu, saya mendengar kabar teman sesama students IALF yang mau hiking. Bukan ke Gunung Agung sih, tapi siapa peduli. Setidaknya kalau bersama teman yang lain, hiking tetap dapat dilakukan dengan biaya dapat ditekan. Terlebih di IALF ini, asal bisa sok akrab, bisa gabung ikut kegiatan apapun. Tinggal kita yang pandai-pandai membawa diri.

Pada akhirnya, ada 12 orang yang ikut sama2 mau hiking ke Gunung Batur. Cuma 4 orang yang saya kenal awalnya, namun untungnya semua berjalan lancar dari start, puncak, hingga turun kembali.

Continue reading “Batur – Bali #37”

Diary – Bali #36

Niat saya untuk menulis di blog ini terkait hidup saya di Bali tiap hari ternyata lebih sulit dari yang dibayangkan. Ini baru hitungan 30-an hari, sudah beberapa kali bolos menulis. Bukan ketiadaan waktu luang yang membuat sulit. Tapi mungkin rasa jenuh. Duh. Dulu bahkan lebih muluk lagi. Pengennya bikin video 1 menit tiap hari yang isinya apapun yang terjadi di hari itu. Untung saya urungkan niat itu sejak hari pertama. Bagi saya, menulis lebih masuk akal. Lebih nyaman. Itu pun juga burnout setelah lewat 1 bulan.

Harapannya bisa jadi diary harian, untuk saya di masa depan dan juga untuk sesiapa yang tahu blog ini. Mungkin baiknya santai aja ya biar nggak berasa berat nulisnya

Perpisahan 2 Minggu – Bali #34

Mereka yang dijatah 2 minggu di IALF, yang mana kebanyakan student calon Phd, menghabiskan hari terakhirnya di kampus pagi ini. Tak terasa memang. Oleh karenanya perpisahan yang ini tidak begitu menyedihkan bagi saya. Terlebih tidak banyak yang saya kenal di kafilah 2 weeks ini.

Paling yang saya kenal itu Mas Abay si dosen biologi UGM yang fokusnya di marine ecosystem yang akan lanjut ke James Cook. Kami awal kenal ketika sesi PDNP (semacam ospek) dan berkesempatan ngobrol lebih banyak saat sama-sama main ke Lini di Les. Selain Abay, ada juga Etta si IELTS 8 yang juga mantan PWK ITB. Kerennya Etta, dia masuk kelas 2 weeks bukan karena Phd, yang artinya itu karena bahasa inggrisnya sangat amat jago. Kalo nggak salah dia niat lanjut ke Canberra di development studies. Lalu juga ada Mbak Ida si peneliti UI yang mengejar Phd di Asian Studies di Canberra yang sudah pernah mendapat beasiswa AAS juga pada tahun 2016 yang lalu. Keren-keren pokoknya mereka. Hanya karena tidak banyak menghabiskan waktu banyak dengan anak 2weeks ini, rasanya biasa aja. Tapi tetep, moga bisa ada kesempatan buat ketemu mereka di lain hari.