Bismillah
setelah tentunya sangat lama absent dari blog ini, saya kembali membuka blog ini yang menjadi salah satu jejak digital bagaimana saya bisa kilas balik perubahan pemikiran saya selama hampir 10 tahun ini. saya kemudian scroll scroll membaca bagaimana ternyata waktu membuat saya bertumbuh banyak hingga saat ini.
dulu yang apa-apa panik, emosional…kini kata nya menjadi lebih terarah pikiran nya, sudah bisa lebih sadar diri, sadar nafas sehingga bisa memperlambat reaksi terhadap apa-apa yang sudah terjadi.
lalu hati dan pikiran saya terhenti pada tulisan yang saya tulis 8 tahun lalu, Tepatnya 20 January 2012. tulisan itu berjudul – Bagaimana jika ibuku harus pergi?-, jelas sekali terlihat tulisan itu menggambarkan bagaimana seorang anak yang sangat takut kehilangan orang yang penting dan inti keluarga pasca ayah mereka sudah lebih dulu di panggil YME.
saya seakan-akan mencoba mengembalikan dan mengingat moment saya menulis tulisan itu, ya..sambil nangis…tulisan itu saya tulis di kost dengan penuh tangisan, cukup berat sehingga saya berfikir mungkin saya bisa gila bila nantinya jika Allah memanggil pulang ibuk di sisiNya.
lalu hal yang ditakutkan terjadi tepatnya 21 February 2020 saat akhirnya Ibuk Peri kami berpulang ke Tuhan YME, bertemu kembali dengan bapaknya, Ibuknya, Suaminya, kedua mertuanya dan leluhurnya.
tidak banyak yang terjadi setelahnya, meski kami semua berduka namun ternyata diluar dugaan seakan lebih banyak keikhlasan yang diberikan Tuhan di hati kami anak-anak nya dibanding yang kami kira.
adek yang terkecil pun meski masih SMP namun diberi kedewasaan yang luar biasa yang entah datang nya darimana.
begitulah semua takdir mengatur kehidupan, tepat 13 tahun ayah tiada (19 April 2020) ditahun yang sama pula ibuk tiada. kehilangan demi kehilangan membuat duka tidak lagi hanya dengan air mata, namun semakin meningkatkan kesadaran bahwa sesungguhnya tidak ada yang abadi, semua pun akan berlalu.
doa kami selalu menyertai ayah dan ibuk peri, kalian panutan kami, Selalu.
Balikpapan, 21 April 2020.