kita adalah akumulasi hari-hari kemarin. masa lalu membentuk kita hari hari ini. setiap hal yang kita temui menjadi sinaps baru atau me-reformnya dalam otak, hanya mungkin ada yang kuat/besar atau lemah/kecil tergantung seberapa sering intensitasnya. sehingga ia saling mengait, mengelaborasi, membentuk konklusi, dan mengkristal sebagai cara pandang. dan tentu, ia akan mempengaruhi bagaimana kita merespon segala sesuatunya dalam hidup kita. “qad khalat min qablikum sunan” (sungguh telah terjadi pada orang-orang sebelum kamu sunnah-sunnah alam). namun, tidak perlu lah kita merundungi hari ini karena masa lalu, jikapun masa lalu kita menurut kita, kurang menjadikan kita bahagia hari ini. maka yang bisa kita ubah hari ini, kita lakukan hari ini, ubah dan lakukam. agar bagaimana mendapatkan masa depan yang lebih baik adalah simply dengan mengelola detik demi detik kehidupan kita hari ini dengan kebaikan.
Disparitas Kemajuan dengan Kebahagiaan
alhamdu itu mengakui/memuji bahwa Allah memang paling sempurna, dan pantas ditinggikan. dan memuji sebab telah memberikan anugerah kenikmatan untuk seluruh alam.
Kita patut membuka ruang kesyukuran seluas-luasnya, ditengah himpitan zaman yang semakin tidak karuan. banyak orang yang hari ini burn out dari pekerjaannya.
Juliet B. Schor, seorang Ekonom dan sosiolog, Profesor di Boston College berkebangsaan Amerika, menyampaikan bahwa setengah dari pekerja di US mengalami burn out.
Disparitas yang semakin menganga antara kemajuan dengan kebahagiaan. Hari ini setidaknya teknologi pastinya secara signifikan mengalami perkembangan, kemajuan dan bahkan sangat-sangat maju daripada zaman batu. Tapi nyatanya, mungkin, kita juga tidak jua lantas menemukan sumber-sumber kebahagiaan itu, setidaknya dari fenomena kemajuan teknologi tersebut. Malah jika dilihat semakin beragam varian penyakit jiwa yang diderita.
Jadi, tidak ada sangkut pautnya sama sekali kemajuan teknologi dengan tingkat kepuasan, kesuksesan, dan atau kebahagiaan kita, ya? Kebahagiaan agaknya memang sesederhana mensyukuri apapun yang kita miliki, sekalipun yang kita miliki bukanlah teknologi yang paling modern.
Sekelumit Hikmah dari buku Brief of AI History
Hikmah baca buku brief of AI history
Bahwa Allah telah memberikan nikmat yang sangat rumit dan detail. Dan diberikan secara murah, bahkan cuma-cuma. Saat AI dikembangkan utk menyerupai manusia, dengan segala sistem yang beroperasi menunjang kehidupannya, banyak hal yang harus dipertimbangkan. Seperti bagaimana menerima tanggapan dg sensor atau indera, melakukan planning, problem solving, atau reasoning. Dan bagaimana memori yang terakumulasi dapat tersimpan dan bahkan bukan hanya itu, tapi ia dapat muncul bereaksi pada sesuatu atau konteks yang berbeda.
Memanglah pantas kita mengucap alhamdulillahirabbilalamin. Mewakili keseluruhan.
Alhamdu adalah ats-tsana dan asy-syukru. Ats-taana pujian tersebab terpuji mulia tinggi tanpa cela, tak ada yg bisa menandingi siapapun atau apapun dia, segala pujian memang pantas kita panjatkan.
Asy syukru pujian tersebab Allah jg memberikan kita nikmat yg begitu luar biasa. Sangat awwwesome. Genuine. Ia menciptakan sistem yg sangat rumit dan membantu kita, menunjang kehidupan kita…