Matanya menatap kosong. Setelah beberapa batang kretek terbakar, dia coba merangkai senyum agar kakinya tetap tegap melangkah keluar dari ruangan cintanya itu*
Matanya menatap kosong. Setelah beberapa batang kretek terbakar, dia coba merangkai senyum agar kakinya tetap tegap melangkah keluar dari ruangan cintanya itu*
Lelaki itu tertawa sekaligus tertegun mendengar Rinjani mengatakan warna kesukaannya akan mawar. Matanya sejenak menatap tajam pada Rinjani, lalu tertutup kembali oleh tawa renyah*
Bersamaan dengan itu, kereta berhenti secara mendadak. Batal tidur karena hentakan rem kereta, Mayang menatap ke luar jendela. Matanya mendadak melebar, wajahnya memucat. Kantuknya seketika lenyap berganti dengan wajah yang memutih*
Semakin kuat aku mencoba bergerak dan meronta. Ingin kukatakan padanya aku juga masih ingin bersamanya, tapi tubuhku kaku. Makin ingin kugerakkan semakin kaku, lalu gelap*
Dia sudah menduga pertanyaan itu akan terlontar suatu saat, namun sulit baginya menemukan jawaban yang tidak akan menyakiti hati sahabatnya itu*
Direntangnya tangan menyongsong angin malam dan warna redup bulan dengan senyum kian lebar. Malam berselimut cahaya keemasan dari ketinggian membuat senyum Dodit betah bertengger di bibirnya*
Hembusan angin dengan cepat menyebarkan berita, ada mayat seorang lelaki ditemukan tergeletak di sebuah kamar apartemen itu. Tubuhnya sudah kaku saat ditemukan, mata melebar dan mulut penuh dengan busa
Baskoro berdiri perlahan, mengambil sebuah amplop tebal dari laci mejanya, lalu meletakkan amplop itu di depan Venerose yang menatapnya penuh tanda tanya*
“Kau raih satu cinta yang sebenarnya sudah kau dapatkan, tapi kau akan kehilangan banyak cinta, juga kepercayaan baik dari kekasihmu, kedua orang tua kalian, bahkan teman-teman kalian. Apakah itu yang kau inginkan?”
Suamiku sedang duduk di meja tak jauh dari tempat kami duduk. Tangannya melingkar erat dan mesra pada pundak seorang gadis yang duduk di sampingnya. Gadis itu bergelayut tak kalah mesra di bahunya*
Suatu hari di dataran Dieng, lokasi wisata yang menyimpan aneka keindahan dan kekayaan. Di balik megahnya udara dingin, rupanya banyak tersimpan cerita mistis di sana.
Ada cerita mistis yang bahkan terjadi di depan mata saya. Bukan lagi katanya! Benar-benar terjadi di depan mata saya.
Cerita mistis itu diawali saat saya bersama teman-teman memutuskan untuk mengisi Lebaran dengan berwisata ke Dieng. Kami rombongan beriringan mengendarai lima mobil. Salah satu dari kami membawa anaknya yang berusia belum genap 1 tahun.
Saya tidak menanyakan berapa usia tepatnya waktu itu, yang jelas ibu muda, teman saya ini, masih menyusui. Kami tidak berhasil melarangnya ikut, karena dia juga sedang butuh udara segar.
Sesampai di wilayah Dieng kami mencuci mata dengan pemandangan gunung dan tebing, sehingga tak terasa waktu merambat sedemikian cepat. Saya sudah mengingatkan bahwa surup (sore menjelang malam_Red) sudah mengintip, tapi teman-teman masih asik dengan segarnya udara pegunungan.
Adzan Maghrib sudah berkumandang dari salah satu masjid di sana ketika akhirnya kami memutuskan untuk segera mencari hotel. Bayi teman saya mulai rewel, menangis tak mau berhenti.
“Kamu itu masih menyusui, seharusnya Maghrib sudah di dalam ruangan,” kata saya pada teman yang sedang kewalahan dengan tangis bayinya.
“Ini ga ada hubungannya dengan surup, Nyai, anak ini mungkin haus,” jawab teman saya.
Saya diam saja dan berpikir, mungkin dia mau menyusui di mobil tak enak, karena ada penghuni cowok di mobil kami. Sampailah akhirnya kami di sebuah hotel yang lumayan mewah, tapi terasa aneh buat saya!
Entah kenapa, dalam hati sebenarnya saya tidak ingin menginap di sana. Tapi, karena semua sepakat jadi saya mengalah.
Kamar-kamar di hotel ini sudah penuh, kami mendapat tiga bungalow yang masing-masing terpisah oleh taman. Saya mendapat bungalow yang posisinya di tengah.
Lelah karena perjalanan sekian jam, kami pun memutuskan untuk tidak berkeliling lagi. Kami hanya menghabiskan waktu dengan berbincang di teras masing-masing bungalow sambil menikmati kopi.
Di setiap teras bungalow telah disediakan teko listrik berikut peralatan untuk membuat kopi atau teh. Aneka macam jenis kopi dan teh pun tersedia di sana, kami tinggal menyeduh. Waktu merambat, tak terasa sudah pukul 24.00 saat kami memutuskan untuk masuk ke bungalow dan istirahat.
Sekitar beberapa menit kemudian, saat saya sudah berada di bawah selimut, saya mendengar di bungalow sebelah ada yang sedang menyeduh entah kopi atau teh. Terdengar denting cangkir dan sendok beradu.
Dada saya sempat berdetak, tapi saya abaikan. Saya pun memejamkan mata. Baru beberapa detik mata terpejam, terdengar jeritan teman saya. Kontan saya bersama teman-teman sekamar melompat dari kasur empuk dan berlari ke sana. Saya berpikir, mungkin bayi teman saya mengalami sesuatu.
Sesampai di bungalow sebelah, teman saya sedang meringkuk di sudut tempat tidur sambil memeluk bayinya. Wajahnya pucat pasi, seputih kapas!
Dia mengatakan, beberapa saat tadi dia mendengar seseorang menyeduh kopi di terasnya. Awalnya dia berpikir itu saya yang sedang numpang ngopi. Saat dia keluar kamar ternyata tidak ada siapa-siapa. Saya tidak mengatakan bahwa saya pun mendengar hal yang sama.
Kemudian, saat teman saya kembali ke tempat tidur, suara itu terdengar lagi bahkan lebih keras. Sementara saya hanya mendengar sekali suara denting sendok! Teman saya ketakutan karena suara itu seperti seseorang sedang marah dan sengaja mengeraskan dentingan sendok.
Salam sehat selalu, jangan lupa bahagia bersama semesta.
Catatan: Peristiwa ini terjadi jauh sebelum masa pandemi, nama hotel tidak mendapatkan izin untuk saya cantumkan di artikel.