DIENG
Mengunjungi Dieng di Jawa Tengah menjadi pilihan kami untuk mengisi libur panjang Idul Adha 2023. Sudah lama saya ingin melihat keunikan Dieng. Dikenal sebagai kota diatas langit. Suhu yang dingin dan komplek candi Hindu dari jaman kerajaan Sanjaya.
Kami memasuki Dieng dari kota Batang. Google map memberi alternatif bahwa jalur ini lah yang paling dekat. Dari Batang, kendaraan kami membelah perbukitan sisi selatan kota. Dari ketinggian 100MDPL langsung menuju ketinggian 1000MDPL. Kami menemukan restorant yang sangat fancy . Namanya Kaki Langit. Selain arsitektur restorant yang indah, pemandangan yang tersaji juga tak kalah indah.
Dari Kaki Langit, kami menuju Dieng melewati hutan pinus dan hutan heterogen yang masih lebat. Kami disambut dengan kabut tebal yang meyelimuti suasana desa pertanian. Desa yang kami lewati menuju Dieng mayoritas bercocok tanam sayur. Mereka menanam kentang, kol, wortel dan aneka sayur hijau. Alangkah hebatnya kerja keras yang para petani lakukan membuat terasering. Kombinasi antara terasering dan warna warni sayuran membentuk pemandangan yang memukau.
Sore hari kami memasuki kota Dieng. Cuaca berkabut dengan hujan gerimis. Suhu saat itu 14 derajat. Kota ini sudah menjadi kota wisata. Kendaraan pribadi dari Jakarta, Surabaya, Bandung terlihat ramai bersliweran. Penginapan aneka kelas juga sudah tersedia.
Dieng merupakan lembah datar yang berlokasi diketinggian 2000 MDPL. Saya tidak bisa bayangkan, bagaimana pada jaman dahulu cara untuk mencapai Dieng. Pastilah membutuhkan waktu berhari hari. Pusat atraksi disini adalah komplek Candi Arjuna. Dari referensi yang saya baca, Candi Arjuna dibangun pada abad ke-8 Masehi oleh dinasti Sanjaya dari Mataram Kuno. Disamping Candi Arjuna, terdapat Candi Gatotkaca. Sayang sekali, bangunan Candi Gatotkaca lokasinya sudah terdesak oleh bangunan jajaran penginapan disana.
Malam hari Dieng sangatlah dingin. Kami beruntung sudah mempersiapkan diri dengan pakaian hangat yang cukup. Tidur menjadi tidak lelap karena dingin yang begitu menusuk. Pagi hari, suasana sangat menakjubkan. Dieng begitu indah. Pantaslah jika tempat ini dipilih oleh raja raja Mataram sebagai pusat pendidikan agama dan masa bagi para raja melalui tahapan hidup wanaprasta.
2016
Tahun 2015 telah kita lewati. Tiap orang pastilah memiliki kesan terhadap tahun yang telah berlalu. Kalau dirangkum pasti akan terangkum dua hal besar, sedih dan gembira. Cara pandang pribadilah yang nantinya akan menjadi pembeda. Pribadi positif bisa menjadikan kesedihan sebagai pembelajaran. Menjadikan kesenangan sebagai bentuk rasa syukur. Sedangkan pribadi negatif akan larut dalam kedukaan dan jumawa dengan kesuksesan yang direngkuh.
Tahun 2015 adalah tahun gejolak didunia ekonomi khususnya sektor komoditas. Harga minyak turun serendah rendahnya. Harga batubara setali tiga uang. Turunnya harga batubara bahkan sudah mendahului harga minyak. Diakhir tahun 2012, dalam terbitan majalah coal asia, TP Rachmat patron dunia pertambangan sudah memprediksi bahwa mulai tahun 2013 pebisnis batubara akan menghadapi turbulence yang hebat. Dia benar, memasuki tahun 2013 sampai dengan kini harga komoditas batu hitam terus merosot. Harga terkini sudah menyentuh rock bottom price.
Belajar dari prediksi TP Rachmat, mendengar atau membaca dari para guru bisnis adalah sebuah keharusan. Kita memang tidak akan pernah tahu apa yang terjadi kedepan, kita hanya tahu gejala gejalanya berdasarkan analisa kekinian. Bagi pribadi positif, krisis adalah masa masa emas untuk bekerja. Krisis mendobrak zona kenyamanan. Kreativitas karena kepepet muncul lagi.
Tahun 2015 adalah tahun yang penuh dengan goncangan politik. Indonesia yang terdiri dari banyak partai menjadi panggung akrobat para politisi. Konflik KPK vs Polri diawal tahun dan kasus “Papa minta saham” yang menyeret Setya Novanto menjadi headline utama tahun 2015. Seluruh kisruh politik ini syukurnya berjalan secara pararel dengan percepatan pembangunan proyek infrastruktur yang dikawal Jokowi. Jika belanja APBN tidak optimal ditengah lesunya ekonomi global, maka niscaya Indonesia bisa terjerembab dalam krisis ekonomi. Di akhir tahun, poros partai oposisi pemerintahan telah melemah. Partai PAN, PKS dan Golkar yang sebelumnya menyatakan diri sebagai partau oposisi, sudah tidak malu untuk merapat kepada pemerintah. Kini yang tertinggal adalah para haters jokowi disosial media yang gigit jari.
Tahun 2016 adalah tahun harapan. Apapun yang terjadi ditahun 2015 adalah pembelajaran untuk menatap setahun kedepan. Optimisme mesti digelorakan. Sikap positif mesti ditebarkan. Kesuksesan tidak akan menghampiri pribadi dengan sikap negatif. Sukses adalah hak bagi para petarung yang penuh optimisme dan semangat positif. Selamat datang 2016!
E KTP
Sudahkah anda mengurus E KTP? Saya sudah memiliki KTP Jakarta tapi belum yang berlabel E. Jangankan E, KTP saya bahkan masih katagori jadul. Terbuat dari kertas print dan dilaminating.
Sebulan yang lalu saya mendapatkan surat panggilan dari kelurahan. Surat tersebut meminta untuk melakukan proses pembuatan E-KTP di kelurahan. Batas waktunya adalah 31 Desember 2015. Mendekati batas waktu saya baru merasakan urgensi untuk segera mengurus E-KTP. Ditambah dengan urgensi kalau E-KTP sudah terhubungkan dengan proses administrasi yang lainnya. Salah satu yang saya sudah alami adalah memperpanjang STNK kendaraan bermotor. Kedepan sudah seharusnya semuanya terkoneksi dengan E-KTP seperti pengurusan pasport, pembukaan rekening bank dan pajak.
Mengurus E-KTP ternyata mesti melewati perjuangan. Antrian di Kelurahan Kalibata Jakarta Selatan sudah mengular. Bisa dipastikan karena semua mengejar tenggat waktu yang ditetapkan kelurahan. Satu hal yang membuat nyaman adalah adanya kejelasan dalam proses antrian. Kali ini kelurahan sudah menerapkan loket antrian seperti di bank. Ada penjaga loket yang digawangi para anak muda staf kelurahan. Yang pasti tidak ada lagi calo yang berkeliaran. Semua tertib antri. Saat ini kantor kelurahan Kalibata sedang direnovasi, gedung yang dipakai adalah gedung kontrakan sementara. Kedepan seharusnya pelayanan bisa lebih nyaman lagi dengan adanya gedung baru. Ada optimisme yang besar dari jargon jargon yang terpampang di spanduk. Semoga bisa terwujud karena rakyat sangat membutuhkan pelayanan yang bersahabat.
Krisis
Sekarang ini hampir semua media membahas mengenai krisis ekonomi. Saya mendengar disatu stasiun radio pembahasan yang cukup menyita perhatian tentang krisis ekonomi Indonesia. Penyiar radio mewawancarai seseorang tentang krisis 2015 dibandingkan dengan krisis 1998. Dia menyampaikan kalau krisis kini lebih parah dibanding krisis 1998 karena krisis kali ini menggasak sektor riil sedangkan krisis 1998 hanya menghancurkan perbankan.
Cukup mengagetkan juga pernyataan yang disampaikan tersebut. Kejadian 1998 bagi saya rasanya belum lama berlalu. Saat itu saya masih dibangku kuliah semester 4. Ikut melakukan demonstrasi ke gedung MPR. Ikut juga menjadi saksi kelamnya Indonesia pasca 1998. Hampir setahun ekonomi lumpuh total. Sosial politik carut marut. Harapan akan Indonesia rasanya sirna. Pasca 1998 kerusuhan horisontal meledak diberbagai daerah. Pembantaian atas sesama saudara terjadi tidak berprikemanusiaan. Poso, Sampit, Ambon, Aceh dan lepasnya timor timor menjadi catatan kelam efek 98. Belum lagi ledakan bom diberbagai titik yang menggerus kepercayaan publik dalam dan luar negeri akan keamanan Indonesia.
Kita mundur begitu jauh saat itu karena kehilangan kepercayaan akan hal mendasar yaitu keamanan hidup. Sudah pasti ekonomi juga ikut hancur karena jaminan keamanan yang lemah saat itu.
17 tahun berlalu, berani menyebut diri dalam kondisi krisis yang lebih parah dari 98 adalah pemikiran yang aneh. Kondisi disegala aspek sangat jauh berseda. Kini Indonesia telah memiliki pondasi sistem negara yang jauh lebih baik. Demokrasi Indonesia adalah kini adalah berkah. Keamanan terjamin, TNI Polri satu komando dalam bekerja. Sistem pemerintahan khususnya pelaksanaan otonomi daerah makin membaik melalui proses ujicoba dan perbaikan.
Memang harus diakui perlambatan ekonomi terasa. Sektor komoditas sebagai penarik gerbong ekonomi RI sedang terpukul sebagai akibat perlambatan ekonomi global. Satu hal yang menjadi pelajaran bagi kita adalah ternyata selama ini negara terlalu bergantung pada satu sektor ini. Uang yang dihasilkan dari komoditas tidak diubah menjadi belanja modal infrastruktur dasar yang akan menjadi penyelamat disaat harga harga komoditas sedang loyo.
Sudah selayaknya kita bersikap waspada akan krisis. Sudah menjadi keharusan kita selalu bersiap akan datangnya krisis. Terlepas dari efek buruk akibat krisis 1998, sebagian orang yang siap mendapatkan keuntungan dari kondisi krisis yang terjadi. Siapa tahu kali ini kita yang mendapatkan hoki tersebut.
Pertengkaran ke…
Pertengkaran keluarga adalah zero sum game.
Yang kalah hancur yang menang juga hancur.
Pemenang sesungguhnya adalah mereka yang iri hati dan dengki
(12/01/14)
TAHUN POLITIK
Lima tahun lalu, suara saya berikan kepada partai dan presiden berlambang mercy. Hasilnya adalah, saya membeli mobil mercy dengan onderdil avanza. Kecewa berat karena penampakannya saja yang bagus diawal, ternyata dijalan tersandung sandung akan berbagai kasus korupsi. Saya memiliki keyakinan para pembeli mobil mercy seperti saya akan mencari kendaraan baru yang lebih menjanjikan harapan perubahan.
Continue Reading January 10, 2014 at 8:35 am Leave a comment
Kabel
Bayangkan seandainya kabel tidak lagi ada yang melintang di udara kota Jakarta. Seluruh kabel baik untuk listrik dan telekomunikasi diposisikan di bawah tanah. Tersusun didalam drainase kota dengan rapi. Saya yakin, hidup kita akan lebih lega. Kabel kabel itu begitu mengintimidasi pandangan. Saking banyaknya jumlah kabel yang melintang diudara, menjadikan seluruh pandangan terasa penuh oleh benda hitam memanjang. Dibeberapa tempat, kabel kabel bahkan saling berebutan tempat dengan pepohonan. Waktu kecil saya juga benci kabel udara, mereka menjadi penghalang keasikan anak anak bermain layang layang.
Kabel ini saya jadikan penanda maju tidaknya sebuah kawasan. Di Lippo Karawaci, seluruh kabel melintas di bawah tanah. Tak ayal, pemandangan dikawasan ini jadi lebih indah. Jakarta sebagai ibu kota negara, penataan kabel masih sangat parah. Kordinasi antar pemegang kepentingan kelihatan sekali tidak singkron. Setiap hari kita melihat pekerja yang melakukan penarikan bentangan kabel kabel baru di jalan raya. Tidak mau kalah, jalan raya ibukota juga setiap hari digali untuk penanaman kabel fiber optic dan utilitas air bersih.
Membayangkan kalau kabel kabel itu tidak ada di udara Jakarta saja sudah membuat hati senang, apalagi memang telah menjadi kenyataan. Kita patut acungi jempol atas kebijakan Gubernur DKI mengatur ulang papan reklame. Dengan dikuranginya papan papan reklame, pohon pohon mulai terlihat, keindahan arsitektur gedung yang tertutup wajah wajah para model juga mulai tampak.
Memang sudah tugasnya pemerintah memberi kenyamanan bagi warganya. Sebagai warga Jakarta, saya sangat berharap pandangan udara yang lapang, bisa melihat pepohonan ditengah kota yang menghijau. Syukur syukur ada aneka bunga bermekaran dan burung burung yang berterbangan seperti di Orchard Road Singapura.
Cabang Koperasi Sinergi Nusantara Pertama
Setelah setahun resmi berdiri, Koperasi Sinergi Nusantara (KSN) sebagai wujud program gerakan ekonomi Peradah telah memberanikan diri membuka cabang pertama. Cabang pertama ini dibuka di Singaraja Bali. Kerja keras para pengurus KSN pusat dan Nyoman Suparna sebagai penggerak KSN Singaraja menjadkan misi strategis ini terwujud.
Berita saya kutip dari portal bisnis.com
Koperasi
Continue Reading January 19, 2012 at 8:56 am Leave a comment
Catatan Mahasabha X Parisada
Jumlah Sabha Pandita yang hadir dalam Mahasabha X tidak cukup untuk dikatakan merepresentasikan keterwakilan daerah dan kelompok. Pandita yang hadir sebanyak 40 an orang, tidak sampai 5 persen dari keseluruhan peserta Mahasabha X. Jika Parisada merupakan majelisnya para pandita, sudah seharusnya kehadiran Pandita lebih banyak lagi. Paling tidak bisa mencapai minimal 25% dari jumlah peserta Mahasabha.Karena minimnya representasi Pandita, forum Mahasabha X menjadi forum majelis yang bercita rasa ormas. Peran dan kiprah walaka begitu dominan dalam pemberian saran dan keputusan. Tak ayal, dalam persidangan persidangan masih terlihat adu urat yang menjurus kasar dalam penyampaian kata kata.
Continue Reading January 19, 2012 at 8:07 am Leave a comment
