Ketika malam makin memanjang
Dan bulan tak juga muncul
Gelap
Entah pada wajah sendu
atau bisu
Di ujung gerbong
pojokan
Entah pada alis tanpa penghias
Atau bedak
Di sebuah stasiun
Peron
Lalu angin akan mengurai semua
Temaram lampu jalan dan gerimis tak henti. Menciut dalam hitam. Berlindung pada asap yang sesak.
Lalu dimanakah bahagia?
Mengukir keindahan pada sebuah halimun
Menangkap detil detil senyum
Dan luka semakin menganga
pada awan yang berarak menghitam, bisakah kulukis wajahmu? agar tenang tak berombak.
pada jendela yang berembun, mampukah kurangkai senyummu? agar hangat tak menggigil
pada bulir-bulir air hujan, sanggupkah kudekap suara tawamu? agar syahdu tak risau
tiga bulan bukan waktu yang lama
sebatang rokok dan asap knalpot berbaur
bau keringat
bunyi kelopak bunga
tiga bulan bukan waktu yang lama
setumpuk goresan pensil
segenggam harapan akan gajian
guratan pada kening kian menebal
tiga bulan bukan waktu yang lama, permataku
Mengusap rambutmu ada bulir-bulir air jatuh. Ditelan angin pada musim panas. Ia yang belum juga menetes ke tanah. Aku yang kehausan.
Basah keringat yang kecut dan debu yang menempel, tentu bukan itu yang kau inginkan. Deru yang beringas menyambar-nyambar, hatiku berdesir.
Erat, mungkin kau takut atau aku yang was-was. Ah..aku merisaukan sepi.
kabut dan samar sisa hujan yang kusangka air matamu. dingin dan sepi yang kukira pelukmu. gelap dan bau tanah basah yang kubayangkan ciumanmu.
tak tersisa kelembutan, kecuali gundahmu. tak terukir kehangatan, kecuali risau.
dingin, sepi dan gelap. tak ada rindu.