Galau


Terkadang
Aku
Merasa

Meninggalkanmu
Adalah
Sebuah
Kebenaran

Namun

Terkadang
Aku
Merasa

Meninggalkanmu
Adalah
Kesalahan

Aku
Kau
Telah
Sangat
Jauh

Kita
Tak
Pernah
Bisa
Kembali

Published in: on Februari 12, 2022 at 3:42 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Pernah, Aku memimpikan memiliki pasangan hidup Seseorang yang akan membangunkanku di saat mentari belum beranjak Mengimami dalam sujud, lalu menutup dengan sebuah tanda cinta di keningku Namun, Ternyata itu hanya harap Sebuah ilusi yang tidak jua terwujud


Published in: on November 27, 2021 at 10:43 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Pernikahan Bullshit!


Pernikahan itu bukan hanya melulu tentang urusan rumah, perut, dan kasur. Seorang perempuan mau dinikahi karena ia memiliki mimpi. Ia ingin menghabiskan sisa usianya dengan seorang partner hidup.

Laki-laki yang bisa menjadi sahabat, tempat bercerita, mengeluhkan penatnya hari setelah seharian dibuat repot oleh balitanya. Tempat mencurahkan kepusingan kepalanya karena harga-harga sembako yang terus menanjak. Seorang teman berbicara dan berbagi.

Laki-laki yang selalu siap memberikan bahunya ketika air mata tak mampu lagi terbendung. Seseorang yang dapat menjadi pelipur lara. Pada senyumannya terdapat ketenangan dunia.

Perempuan ingin menikah karena ia ingin memiliki imam. Seseorang yang mengajari dan membimbing keimanannya. Mengingatkan ketika alpa dan terlewat salatnya. Bukan sosok yang bangun kesiangan senantiasa, atau tidur lagi tanpa membangunkan sang istri saat sudah selesai salat subuhnya. Membiarkan istrinya melewatkan kewajiban sebagai hamba-Nya.

Lalu, ketika sepasang suami istri hanya bisa berbicara dalam amarah. Jika tidak dalam amarah, mereka hanya berbicara seperlunya. Saat sebuah kemesraan yang harusnya ada di atas kasur terasa hambar. Hanya agar menggugurkan kewajiban. Ketika laki-laki dan perempuannya tak lagi memiliki tujuan sama, mulai menyimpan rahasia karena menganggap tak penting pasangannya mengetahui itu. Maka, pernikahan apakah itu?

Ya, aku menyebutnya “Pernikahan Bullshit”! Pernikahan seperti itu lebih baik ditiadakan. Mungkin kedua sosok manusia itu akan hidup bahagia pada akhirnya. Tanpa kepalsuan, tanpa keterkekangan. Mereka sebaiknya hidup sendiri-sendiri dalam kebebasannya.

Namun, ternyata pernikahan bullshit tak semudah itu diputuskan. Ketika anak yang tak mengerti apa-apa tentang ego orang tuanya menjadi korban. Merasa pincang karena harus kehilangan salah satu topangan. Ia tetap tak mengerti akan perpisahan. Matanya akan dibutakan oleh perihnya rasa.

Pernikahan bullsshit ternyata harus tetap dipertahankan. Meski sulit. Walaupun sang perempuan selalu berdoa untuk cepat mati atau pasangannya yang mati. Walaupun semiris itu. Ikatan itu tetap harus terikat erat.

Karawang, 7 Maret 2021

Stocksnap/pixabay

Published in: on Maret 7, 2021 at 11:25 am  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Rayuan Kematian


Terkadang aku merasa kematian begitu indah

Seakan sebuah makanan lezat yang menggiurkan

Sedangkan kehidupan seperti film yang membosankan

Sehingga ingin segera diselesaikan

Namun,

Aku tak punya cukup nyali

Menyambut kematianku

Aku juga tak punya nyali untuk menjadi sosok yang berputus asa

Maka setiap badai akan aku salami

Agar kami bisa berteman

Karawang, 21 Desember 2020

Published in: on Desember 21, 2020 at 4:30 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Ada Apa Ini?


Sembilan tahun yang lalu
Kuakhiri semua

Aku muak!
Aku lelah
Dengan semua penantian itu
Janji palsumu

Namun, mengapa?
Ada apa ini?
Sakitnya tak kunjung reda

Begitu sulitkah diriku memaafkanmu
Bahkan setelahku miliki kehidupan
Juga dirimu dengan lembaran baru
Namun, aku masih benci!

Jauh di dalam relung
Sebuah asa jahat terselip

Aku ingin kau hancur
Seremuk diriku
Bahkan lebih

Maka, setelah itu
Segurat senyum akan tersungging di bibirku
Setelah sekian lama
Aku hidup, tetapi terasa mati

Maka, matilah dirimu!

1 Juli 2020

Sumber gambar: pixabay
Published in: on Mei 31, 2020 at 6:01 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Seandainya


Seringkali terbersit pertanyaan
Bagaimana dirimu, jika tanpa aku?

Apakah kau akan bersedih?
Menangis tergugu di sisi pusaraku
Menggenggam butiran tanah
Memeluk nisanku

Apakah kau akan menyesal
Saat terakhir kali melihat wajahku
Wajah yang jarang kau amati
Sosok yang telah lama tak kau peduli

Mungkinkah kau akan merindukan suaraku
Saat bercerita
Cerita yang tak pernah kau dengar
Saat berkeluh kesah
Keluh kesah yang tak pernah kau hirau
Kau hanya suka desahku

Apakah kau juga akan
merindukan masakanku?
Masakan yang tak pernah kau puji
Hanya cela dan hina yang mampu kau lontar
Saat kau temukan sebuah titik lemahnya

Ah, rasanya aku sangsi padamu
Kau pasti akan sangat bahagia dan bebas
Tanpa aku
Kau bisa memilih perempuan-perempuan cantik
Seperti yang sering kau lihat diam-diam

Duhai suamiku
Seandainya aku tiada
Kau mesti sangat bahagia
Namun, tolonglah jaga
Permata hati kita
Di saat dulu aku masih kau cinta

Karawang, 29 Maret 2020

Published in: on Maret 28, 2020 at 10:40 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags: , , ,

Cintamu Dalam Senyum


Oleh: Asri Susila Ningrum

 

Aku bilang cinta

Kau hanya tersenyum

 

Aku menghujat

Kau tersenyum

 

Aku marah membabi buta

Kau pun tersenyum

 

Aku menyumpah serapah dirimu

Lagi-lagi kau tersenyum

 

Senyumanmu

Pernah melumerkan kerasnya hatiku

 

Tetapi senyumanmu pula

telah membuatku masygul

 

Terkadang kurasa

Senyumanmu terasa benawat

 

Lalu di suatu shyam

Bersama sarayu mendayu

Kau berujar

Lagi-lagi dengan tersenyum

 

Kau berkata

Aku wanitamu

Anindya yang anindita

Inilah caramu mencintaiku

 

Senyuman darimu

Keikhlasan menerima amarahku

Meredam beragam hujatanku

Perlambang cinta darimu

 

Cintaku berbicara

Cintamu membalas

Melalui senyuman

Diakhiri dengan kecupan

 

(Karawang, 28 Oktober 2019)

pexels-photo-949586

Published in: on Maret 15, 2020 at 10:43 pm  Comments (2)  

Sesal


Oleh: Asri Susila Ningrum

  rose-1271216_960_720

Pernah

Aku benci ia setengah mati

 

Mendengar suaranya

Membuat darahku mendidih

Seperti lava yang siap menyembur dari perut ancala

 

Kata darinya membelungsing

Seakan sembilu pada atma

Membuatku terluka dan merana

 

Pernah juga

Kuikrarkan lisan

“Aku benci dirimu, Ibu!”

 

Aksa tak sudi melihat rupa

Sukma tak rela mendoakan ke surga

 

Aku …

Pernah durhaka

 

Ibu

Pada masa rimpuhmu

Menyongsong senja kehidupan

Aku bermandikan sesal

 

Saat hampir hirap mentarimu

Baru kusadari melimpahnya kasih sayangmu

Betapa hidupmu dipenuhi pengorbanan untukku

Kutikam hatimu berkali-kali dengan sikapku

 

Meski terlambat

Kuharap masih sempat

Kupersembahkan permohonan maaf berikat-ikat

Dari buah hatimu yang keparat

 

(Karawang, 28 Oktober 2019)

Published in: on Maret 15, 2020 at 10:39 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  

Hujan Itu Romantis


Hujan itu romantis
(Asri Susila Ningrum)

Aroma petrichor memenuhi rongga hidung
Tetesan hujan berpadu tanah
Mencipta geosmin yang terbang di udara
Semua itu mengingatkanku padamu

Kala itu
Di bawah sebuah atap rumah seseorang
Kita berteduh
Lalu aroma teh melati menyeruak dari diriku

Kau kata …
Sejak itu kau menyukai teh dan menyingkirkan kopi
Minuman hitam pembuka mata
Di awal hari sebelum kau buru berita
Dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya

Kau hujan
Rangkaian aksara indah merajai hatiku
Membekas meski tak lagi tampak wajahmu
Seperti rajutan rinai hujan siang ini
Tersulam rapi dalam ruang rahasia hati

Semenjak bersamamu kusadari
Hujan itu romantis
Ia menghapus sepi, mencipta sendu yang syahdu
Maka biar kukenang kau selalu
Dalam ribuan titik hujan
Jika ia bertandang ke bumi

Karawang, 6 Desember 2019

Published in: on Desember 6, 2019 at 12:46 pm  Tinggalkan sebuah Komentar  
Tags:

Tumbang


Oleh: Asri Susilaningrum

Hilang sehat
Bisa jadi laknat
Atau nikmat

Teguran untuk diri
Telah banyak hak tubuh yang diingkari
Akibat terlalu mengejar ambisi

Tumbang
Terbaring

Saatnya muhasabah
Boleh berlelah-lelah
Tapi waktu istirahat jangan dijarah

Published in: on November 13, 2019 at 9:35 pm  Tinggalkan sebuah Komentar