Terkadang
Aku
Merasa
Meninggalkanmu
Adalah
Sebuah
Kebenaran
Namun
Terkadang
Aku
Merasa
Meninggalkanmu
Adalah
Kesalahan
Aku
Kau
Telah
Sangat
Jauh
Kita
Tak
Pernah
Bisa
Kembali
Terkadang
Aku
Merasa
Meninggalkanmu
Adalah
Sebuah
Kebenaran
Namun
Terkadang
Aku
Merasa
Meninggalkanmu
Adalah
Kesalahan
Aku
Kau
Telah
Sangat
Jauh
Kita
Tak
Pernah
Bisa
Kembali
Pernikahan itu bukan hanya melulu tentang urusan rumah, perut, dan kasur. Seorang perempuan mau dinikahi karena ia memiliki mimpi. Ia ingin menghabiskan sisa usianya dengan seorang partner hidup.
Laki-laki yang bisa menjadi sahabat, tempat bercerita, mengeluhkan penatnya hari setelah seharian dibuat repot oleh balitanya. Tempat mencurahkan kepusingan kepalanya karena harga-harga sembako yang terus menanjak. Seorang teman berbicara dan berbagi.
Laki-laki yang selalu siap memberikan bahunya ketika air mata tak mampu lagi terbendung. Seseorang yang dapat menjadi pelipur lara. Pada senyumannya terdapat ketenangan dunia.
Perempuan ingin menikah karena ia ingin memiliki imam. Seseorang yang mengajari dan membimbing keimanannya. Mengingatkan ketika alpa dan terlewat salatnya. Bukan sosok yang bangun kesiangan senantiasa, atau tidur lagi tanpa membangunkan sang istri saat sudah selesai salat subuhnya. Membiarkan istrinya melewatkan kewajiban sebagai hamba-Nya.
Lalu, ketika sepasang suami istri hanya bisa berbicara dalam amarah. Jika tidak dalam amarah, mereka hanya berbicara seperlunya. Saat sebuah kemesraan yang harusnya ada di atas kasur terasa hambar. Hanya agar menggugurkan kewajiban. Ketika laki-laki dan perempuannya tak lagi memiliki tujuan sama, mulai menyimpan rahasia karena menganggap tak penting pasangannya mengetahui itu. Maka, pernikahan apakah itu?
Ya, aku menyebutnya “Pernikahan Bullshit”! Pernikahan seperti itu lebih baik ditiadakan. Mungkin kedua sosok manusia itu akan hidup bahagia pada akhirnya. Tanpa kepalsuan, tanpa keterkekangan. Mereka sebaiknya hidup sendiri-sendiri dalam kebebasannya.
Namun, ternyata pernikahan bullshit tak semudah itu diputuskan. Ketika anak yang tak mengerti apa-apa tentang ego orang tuanya menjadi korban. Merasa pincang karena harus kehilangan salah satu topangan. Ia tetap tak mengerti akan perpisahan. Matanya akan dibutakan oleh perihnya rasa.
Pernikahan bullsshit ternyata harus tetap dipertahankan. Meski sulit. Walaupun sang perempuan selalu berdoa untuk cepat mati atau pasangannya yang mati. Walaupun semiris itu. Ikatan itu tetap harus terikat erat.
Karawang, 7 Maret 2021


Terkadang aku merasa kematian begitu indah
Seakan sebuah makanan lezat yang menggiurkan
Sedangkan kehidupan seperti film yang membosankan
Sehingga ingin segera diselesaikan
Namun,
Aku tak punya cukup nyali
Menyambut kematianku
Aku juga tak punya nyali untuk menjadi sosok yang berputus asa
Maka setiap badai akan aku salami
Agar kami bisa berteman
Karawang, 21 Desember 2020
Sembilan tahun yang lalu
Kuakhiri semua
Aku muak!
Aku lelah
Dengan semua penantian itu
Janji palsumu
Namun, mengapa?
Ada apa ini?
Sakitnya tak kunjung reda
Begitu sulitkah diriku memaafkanmu
Bahkan setelahku miliki kehidupan
Juga dirimu dengan lembaran baru
Namun, aku masih benci!
Jauh di dalam relung
Sebuah asa jahat terselip
Aku ingin kau hancur
Seremuk diriku
Bahkan lebih
Maka, setelah itu
Segurat senyum akan tersungging di bibirku
Setelah sekian lama
Aku hidup, tetapi terasa mati
Maka, matilah dirimu!
1 Juli 2020


Seringkali terbersit pertanyaan
Bagaimana dirimu, jika tanpa aku?
Apakah kau akan bersedih?
Menangis tergugu di sisi pusaraku
Menggenggam butiran tanah
Memeluk nisanku
Apakah kau akan menyesal
Saat terakhir kali melihat wajahku
Wajah yang jarang kau amati
Sosok yang telah lama tak kau peduli
Mungkinkah kau akan merindukan suaraku
Saat bercerita
Cerita yang tak pernah kau dengar
Saat berkeluh kesah
Keluh kesah yang tak pernah kau hirau
Kau hanya suka desahku
Apakah kau juga akan
merindukan masakanku?
Masakan yang tak pernah kau puji
Hanya cela dan hina yang mampu kau lontar
Saat kau temukan sebuah titik lemahnya
Ah, rasanya aku sangsi padamu
Kau pasti akan sangat bahagia dan bebas
Tanpa aku
Kau bisa memilih perempuan-perempuan cantik
Seperti yang sering kau lihat diam-diam
Duhai suamiku
Seandainya aku tiada
Kau mesti sangat bahagia
Namun, tolonglah jaga
Permata hati kita
Di saat dulu aku masih kau cinta
Karawang, 29 Maret 2020
Aku bilang cinta
Kau hanya tersenyum
Aku menghujat
Kau tersenyum
Aku marah membabi buta
Kau pun tersenyum
Aku menyumpah serapah dirimu
Lagi-lagi kau tersenyum
Senyumanmu
Pernah melumerkan kerasnya hatiku
Tetapi senyumanmu pula
telah membuatku masygul
Terkadang kurasa
Senyumanmu terasa benawat
Lalu di suatu shyam
Bersama sarayu mendayu
Kau berujar
Lagi-lagi dengan tersenyum
Kau berkata
Aku wanitamu
Anindya yang anindita
Inilah caramu mencintaiku
Senyuman darimu
Keikhlasan menerima amarahku
Meredam beragam hujatanku
Perlambang cinta darimu
Cintaku berbicara
Cintamu membalas
Melalui senyuman
Diakhiri dengan kecupan
(Karawang, 28 Oktober 2019)


Pernah
Aku benci ia setengah mati
Mendengar suaranya
Membuat darahku mendidih
Seperti lava yang siap menyembur dari perut ancala
Kata darinya membelungsing
Seakan sembilu pada atma
Membuatku terluka dan merana
Pernah juga
Kuikrarkan lisan
“Aku benci dirimu, Ibu!”
Aksa tak sudi melihat rupa
Sukma tak rela mendoakan ke surga
Aku …
Pernah durhaka
Ibu
Pada masa rimpuhmu
Menyongsong senja kehidupan
Aku bermandikan sesal
Saat hampir hirap mentarimu
Baru kusadari melimpahnya kasih sayangmu
Betapa hidupmu dipenuhi pengorbanan untukku
Kutikam hatimu berkali-kali dengan sikapku
Meski terlambat
Kuharap masih sempat
Kupersembahkan permohonan maaf berikat-ikat
Dari buah hatimu yang keparat
(Karawang, 28 Oktober 2019)

Hujan itu romantis
(Asri Susila Ningrum)
Aroma petrichor memenuhi rongga hidung
Tetesan hujan berpadu tanah
Mencipta geosmin yang terbang di udara
Semua itu mengingatkanku padamu
Kala itu
Di bawah sebuah atap rumah seseorang
Kita berteduh
Lalu aroma teh melati menyeruak dari diriku
Kau kata …
Sejak itu kau menyukai teh dan menyingkirkan kopi
Minuman hitam pembuka mata
Di awal hari sebelum kau buru berita
Dari satu peristiwa ke peristiwa lainnya
Kau hujan
Rangkaian aksara indah merajai hatiku
Membekas meski tak lagi tampak wajahmu
Seperti rajutan rinai hujan siang ini
Tersulam rapi dalam ruang rahasia hati
Semenjak bersamamu kusadari
Hujan itu romantis
Ia menghapus sepi, mencipta sendu yang syahdu
Maka biar kukenang kau selalu
Dalam ribuan titik hujan
Jika ia bertandang ke bumi
Karawang, 6 Desember 2019

Oleh: Asri Susilaningrum
Hilang sehat
Bisa jadi laknat
Atau nikmat
Teguran untuk diri
Telah banyak hak tubuh yang diingkari
Akibat terlalu mengejar ambisi
Tumbang
Terbaring
Saatnya muhasabah
Boleh berlelah-lelah
Tapi waktu istirahat jangan dijarah
