Telanjang badan atau telanjang pikiran?

Ada sebuah anime/manga yang menurut saya punya konsep cukup menarik. Judulnya “Spy x Family”.

Keluarga di situ terdiri dari dua orang pembohong dan satu anak esper yang bisa membaca pikiran.

Pertanyaannya, misal kamu diberi kekuatan untuk melihat transparan atau membaca pikiran. Kira-kira mana yang membuat kamu jadi terbersit rasa malu?

Rasa penasaran, menurut saya cukup manusiawi. Semenjak tahu dari mata pelajaran biologi, saya sendiri sering berfantasi, bagaimana bentuk badan jasmaniah orang-orang jika tidak pakai baju? Bahasa simplenya, bagaimana bentuk anatomi manusia yang bugil dan variansi-nya? Justru variansinya itu yang menurut saya menarik, bukan sekadar tidak pakai baju.

Sama seperti saat melihat wajah seseorang, saya sendiri cukup takjub, kenapa muka orang bisa berbeda-beda. Sampai pada suatu ketika, saya berpendapat bahwa semua orang itu cantik dan ganteng dari sudutnya masing-masing. Tidak ada yang absolut jelek.

Oke, sekarang kita pindah topik dengan: “apa yang terjadi jika kalian bisa membaca pikiran manusia?”

Jujur, saya sangat takut.

Berbeda dengan kemampuan melihat orang telanjang badan, saya pikir akan ada satu titik di mana kita akan terbiasa mengapresiasi apa yang kita lihat sebagai sebuah bentuk keindahan ciptaan Tuhan. Sama halnya seperti saat kita melihat pemandangan yang bagus, atau penampakan alam seperti gunung, kawah, laut, atau gerhana.

Namun, jika kita bisa menelanjangi pikiran manusia, mungkin kita sendiri bisa gila.

Di sini, menurut saya topik komik tadi cukup menantang, namun berhasil dikurangi tingkat stresnya karena orang yang punya kekuatan tersebut masih anak-anak. Bebas dari prasangka negatif.

Tapi kalau itu orang dewasa, bayangkan betapa depresinya dia. Bagaimana jika pikiran orang-orang yang menurut kita dekat, ternyata tidak sebaik yang kita kira? Memang tidak ada orang yang baik sempurna, sama halnya seperti tidak ada tampilan fisik yang perfect. Tapi ide dan pikiran itu bisa lebih tajam dari pedang.

Bagaimana jika orang yang kalian sayangi, tidak sayang kalian? Bagaimana jika orang yang kalian anggap penting tidak menganggap kalian penting? Bagaimana jika kalian mendeteksi niat jahat seseorang pada orang lain, tapi kalian tidak bisa juga bertindak apa-apa, karena levelnya masih berada dalam gagasan?

Tentu saja “membaca pikiran” bisa menjadi super power, seperti yang sering diilustrasikan komik-komik super hero layaknya profesor Charles Xavier di X-Men. Tapi mungkin hati kalian sendiri hancur setelah menerima terlalu banyak fakta. Menurut saya tingkat kerusakannya lebih parah daripada melihat orang telanjang fisik.

Memang ini jadi tema yang menarik untuk membuat suatu cerita. Tapi jika itu benar-benar terjadi, saya sendiri mungkin jadi malu jika saya bisa membaca pikiran Anda.

Memaknai arti hidup

Hari ini 18 September 2025. Sudah 2 tahun saya tidak menulis Repressive Writing lagi.

Percayalah, saya sudah mencoba sekuat yang saya bisa, tapi motivasi itu tidak ada lagi.

Perlahan saya mulai menyadari kalau identitas diri dan pandangan hidup saya terputus dari dunia nyata.

Kalau kalian berkata, “Itulah gunanya keluarga.” Iya tentu benar. Saya dianugerahi anak yang lucu dan istri yang baik. Melihat mereka tumbuh adalah suatu kesenangan tersendiri. Tapi tetap saja, kesenangan tersebut seolah terdiskoneksi dari identitas diri saya.

Ibarat film, yang saya rasakan ini seolah menjadi penonton, tapi bukan aktor di dalamnya. Seorang penonton bisa merasakan simpati dan empati terhadap penokohan yang ada di balik layar. Tapi seolah itu semua berada dari balik lapis dinding kaca, tidak terhubung sedikitpun dengan kondisi si penonton. Apa yang terjadi di dalam layar, akan tetap terjadi di semesta layar. Sedangkan penonton akan kembali meneruskan hidupnya setelah filmnya selesai.

Mungkin ini yang dinamakan passive suicidal thought? Harusnya saya ke psikiater, tapi saya tidak tahu apakah ada spesialis seperti itu di sini. Intinya, yang saya rasakan, seandainya saya tiba-tiba jadi batu, atau hilang lenyap, begitu saja, tanpa konsekuensi. Sepertinya saya akan menerima berperan sebagai penonton. Menyaksikan keluarga melanjutkan kehidupan mereka, seolah sebelumnya memang saya tidak pernah ada.

Menurut saya, ini hal yang cukup aneh. Sepanjang hidup saya, saya selalu punya keinginan tertentu. Saya termasuk anak yang egois dengan kemauannya. Akan berusaha terus sampai titik darah penghabisan, atau wasit menyatakan permainan berakhir. Namun akhir-akhir ini tidak demikian.

Prinsip saya, “Jika mimpimu di saat tidur jadi lebih menarik daripada membangun kehidupan itu sendiri, maka sepertinya ada yang salah.” Sayangnya, itu yang terjadi sekarang. Semua keinginan dan emosi tersebut terputus.

Jika hidup adalah jurnal, bolehkah kita pilih cara lain menulis, selain dengan kertas dan pena?

Saya teringat dulu sekitar saya masih kelas 4 SD, saya membuka-buka lemari kayu di ruang keluarga, yang sebenarnya terkunci. Saya congkel kuncinya karena penasaran.

Di situ saya temukan sebuah buku harian. Ternyata milik Ayah saya. Dengan tulisan yang kursif, alias tegak bersambung, saya berusaha mencuri waktu untuk membacanya. Berharap menemukan sosok bagaimana Ayah saya sebenarnya. Apa yang sering dia lakukan. Apa hobinya. Bagaimana kehidupannya sebelum menikah dan punya anak?

Alih-alih mendapatkan jawaban, yang saya temukan malah misteri. Mungkin dengan sedikit kekecewaan, karena isinya bukan seperti yang saya bayangkan.

Ternyata isi buku harian tersebut adalah tentang saya, saya, dan saya.

Sejak saya lahir, dijabarkan tangisannya, berat badan, jenis kelamin, lokasi dan waktu kelahiran.

Saat saya imunisasi

Saat gigi saya tumbuh

Saat gigi saya juga copot

Ternyata isinya tentang saya.

Kontan, waktu itu saya bingung. Maksudnya, apa serunya membaca tentang diri saya sendiri?

Tapi setelah punya anak sendiri, saya sedikit memahami. Bahwa secara tersirat, jurnal tersebut menggambarkan tentang Bapak saya juga. Tentang kekhawatirannya, ketegangan, dan suka cita.

Sekarang saya bertanya-tanya, apakah alasan beliau berhenti menulis? Saya harap jawabannya sederhana saja. Karena sudah malas, sibuk, capek, dan lain-lain. Bukan karena kehilangan tujuan hidup, seperti yang saya alami.

Oleh karena itu, di hari ini, saya coba menulis lagi. Sampai rasa itu benar-benar pupus.

Do you live to write, or you write to live?

Jika hidup tidak butuh uang, apakah kalian akan tetap hidup?

Repressive writing saya hari ini…

Tentang motivasi yang hilang dalam bekerja.

Saya sudah tidak menemukan makna lagi dari apa yang saya lakukan untuk bekerja.

Coba tanyakan pada diri kalian sendiri.

Jika uang bukanlah masalah. Apakah kalian akan tetap bekerja?

Apa sih yang sebenarnya ingin kalian lakukan? Sekarang saya sendiri tidak bisa menjawab pertanyaan seperti itu. Beberapa tahun yang lalu, saya sendiri punya jawaban.

Saya pernah di posisi melakukan sesuatu yang benar-benar “kelihatan” dampaknya bagi nyawa manusia. Sekarang… saya ga tahu kalau itu masih worth it. Saya sudah melihat dengan mata kepala sendiri. Orang yang mau saya bantu, ternyata tidak peduli dengan iktikad baik yang saya ingin mereka dapatkan. All my work worth nothing.

Ya bener, saya tetep dapet duit. Tapi motivasi, iktikad kerjaan tersebut tidak tercapai secara long term. Itu juga bukan hal yang bisa saya perbaiki secara individu. It’s impossible, dan saya sudah capek.

Seumur hidup saya, semua aksi yang saya lakukan, selalu dibalut niat primer:

  • Ah, ini bisa berguna di kemudian hari
  • Ini akan berguna kalau nanti ada itu

Tapi sekarang saya paham. Hari itu tidak akan datang.

Karena memang orang-orangnya yang bebal.

Apa gunanya belajar storytelling untuk diri sendiri? Apa gunanya membaca berbagai referensi buku-buku dan cerita-cerita. Apa gunanya bekerja cari duit?

Problemnya kan ga bisa selesai menggunakan uang…

Saya ga ngerti lagi.

Eh, tapi, saya tetap masih profesional kok dalam bekerja. Hanya saja sekarang ga ada rasanya aja.

Orang-orang mungkin bilang, “enjoy life“. But, what’s to enjoy anymore?

Mungkin kita memang kerja keras hanya sebagai mengisi waktu kosong sebelum mati.

Repressive Writing

Kita sudah sering mendengar konsep dari Expressive Writing. Suatu upaya menuliskan dan memaparkan prosa secara apa adanya tanpa struktur tertentu. Hari ini saya ingin mencoba kebalikannya. Saya sebut “teknik” ini Repressive Writing.

Tentunya ini bukan termasuk sebuah teori dasar menulis 😀

Akhir-akhir ini pikiran saya selalu dihantui pola pikir negatif dan depresif. Biasanya ini bisa saya tahan, (atau “supresif”)? Kali ini sepertinya itu sulit. Alternatif lain biasanya saya tuliskan pemikiran tersebut dalam bentuk tweet, karena memang itulah tujuan saya menggunakan tweet. Untuk menyebarkan konsep-konsep radikal yang tidak ingin dibelenggu struktur tertentu.

Namun, seiring berjalannya waktu, ternyata follower saya bertambah. Beberapa memang hanya akun random. Beberapa tentu saja teman yang sudah kenal saya secara langsung. Jadi tidak apa-apa kalau saya meracau di depan mereka. Namun ada segelintir kelompok yang merupakan kumpulan anonim twitter, yang juga menggunakan twitter sebagai tempat mereka melontarkan cuitan random.

Kebanyakan mereka follow saya, entahlah karena beberapa eksperimen tweet saya untuk mencari engagement dari model interaksi digital. Beberapa juga murni karena hasil cuitan “serius”, terutama yang bertopik teknologi. Mungkin menurut mereka bagus atau “sehati” jadi mereka follow saya.

Karena saya juga sering melihat tweet-tweet mereka dan terkadang ikutan “sok-kenal” dan menjawab tweet mereka. Perlahan ada perasaan yang aneh yang timbul dalam hati saya.

Tentu saja saya tidak tahu pasti gender mereka. Jadi ini bukan tentang gender. Perlu saya tekankan, ya.

Tapi intinya, saya merasa jadi seolah menjadi bagian dari “hidup” mereka. Tentu saja ini fana dan bertepuk sebelah tangan. Karena berbeda dengan interaksi face to face , saat kita membentuk sebuah kontrak yang bernama “pertemanan”. Tidak ada ritual seperti itu di sini. Jadi belum tentu rasa yang sama, yang saya rasakan, itu sama dengan yang mereka rasakan.

Mungkin bagi saya mereka termasuk “sohib dalam perjalanan”. Mungkin bagi mereka saya cuman lalat lewat. Tentu saja saya tidak siap menerima penolakan seperti itu.

Nah, pada suatu hari. Saya menyadari kalau satu akun anonim tiba-tiba jarang mencuit. Bak hilang ditelan bumi. Saya coba search usernamenya, tidak bisa ditemukan. Ini terjadi kira-kira Oktober tahun lalu. Hanya ada dua kemungkinan. Akunnya jadi protected, karena saya tidak follow, maka akunnya tidak terlihat lagi. Atau akunnya sudah dihapus.

Sontak, entah kenapa saat itu saya merasa kaget. Sejak tahun 2020 hingga 2022, twitter saya anggap sebagai sebuah bagian dari “jati diri” saya. Satu akun yang sering kelihatan di timeline lalu tiba-tiba hilang, itu maknanya sama seperti kehidupan sehari-hari yang tiba-tiba ada yang berkurang. Baru di situ lah saya sadar, artinya rasa kehilangan.

Tidak berapa lama kemudian, ternyata akunnya muncul lagi. Jujur, saya merasa sangat lega. Setelah itu, akunnya langsung saya follow. Belakangan saya baru tahu kalau dia sempat mengalami masa-masa berat secara mental. Jadi mungkin itu sebabnya akunnya sempat menghilang.

Dari pengalaman ini, saya jadi lebih mengapresiasi bentuk interaksi digital di twitter untuk beberapa akun ini.

Rasanya bagaimana ya.

Mirip dengan yang pernah saya rasakan saat sedang ada di perpustakaan.

Beberapa orang yang asing satu sama lain duduk di meja yang sama. Saya sedang baca buku A, dia baca buku B. Dari jauh saya bisa melihat tumpukan buku yang sedang/akan dia baca. Lalu dalam hati saya berkomentar, “nice… buku yang itu juga saya suka.”

Setiap hari kita masuk perpustakaan yang sama dan akhirnya paham selera baca orang lain. Bagi saya, mereka spesial. Tapi secara resmi, kami sebenarnya stranger.

Hanya saja, keberadaan mereka di perpus tersebut, membuat kita sedikit lega. Bahwa masih ada nafas kehidupan dan aktivitas dari buku-buku yang kita suka tersebut. It’s a different feeling of staying alive…

Pemberontakan Repressive Writing

Dengan prolog yang cukup ciamik di atas. Saya suguhkan benak pikiran yang cukup gawat untuk dikeluarkan.

Saya merasa, semakin hari pikiran saya sudah semakin tidak terkendali.

Ibarat perpustakaan tadi. Ingin sekali saya mengeluarkan unek-unek di twitter, semua pemikiran-pemikiran negatif dan depresif ini. Tapi saya juga sadar, efeknya bisa jadi tidak baik. Karena sama saja seperti aksi membakar buku di perpustakaan.

Ternyata posisi saya sudah berubah dari seorang observer menjadi bagian dari hasil eksperimennya itu sendiri. Saya sudah tidak bisa lagi melihat perpustakaan ini secara unbiased sebagai kotak percobaan interaksi digital saya. Karena saya sendiri hidup di dalamnya sekarang.

Tiba-tiba saya begitu care dengan beberapa akun anonim ini. Saya tidak mau twitter yang menjadi safe-space mereka, terkena polusi pikiran negatif saya. Memang ini hanya bermodalkan asumsi yang terlalu percaya diri bahwa saya juga bagian dari mereka. Bisa jadi saya hanya lalat.

Tapi tetap saja…

Sulit sekali memupus harapan diri sendiri.

Oleh karena itu, sekaranglah saatnya tulisan-tulisan ini secara represif akan dibuat.

Agar twitter saya sedikit bersih.

Pikiran saya perlu tempat.

Perlu blackhole.

Dan inilah blackhole yang terbaik.

Karena hanya di sinilah wadah yang murni untuk mencurahkan pemikiran-pemikiran pribadi.

Jika twitter itu perpustakaan.

Maka blog wordpress ini adalah carnival stands. Tempat pemikiran-pemikiran depresif bisa dilihat langsung secara represif.

Hujan Bulan Juni dan refleksi pribadi dalam 10 tahun

Sejujurnya, dari post saya yang terakhir, yaitu tahun 2019, saya membuat beberapa draft tulisan karena memang blog ini ingin saya jadikan curahan pemikiran pribadi. Namun, draft-draft itu urung saya terbitkan. Terutama karena tahun 2020 dan seterusnya terasa seperti shock-therapy. Beberapa masalah yang menurut orang lain “sepele” namun menurut saya cukup membuat keyakinan saya terguncang, adalah dalang dari semua ini. COVID salah satunya.

Orang bilang, jika kita mengingat kematian, perspektif kita akan berubah drastis. Teori ini sudah saya ketahui dari dulu sejak membaca kutipan-kutipan Al Ghazali dan beberapa kisah sahabat Nabi. Sudah sedari saya kecil.

Namun ternyata tetap saja ada hal-hal yang hanya bisa terbayang saat saya benar-benar merasa akan mati, baik secara fisik maupun spiritual. Ini yang saya alami saat terkena COVID. Meskipun akhirnya saya selamat. Tapi rasa takut dan kecewa itu teringat jelas.

Saat saya masih kecil, saya merasa memiliki mimpi yang besar dan tak terbatas. Semua yang saya baca, sedikit banyak memberi saya inspirasi akan hidup. Ingin sekali saya keliling dunia atas dasar rasa penasaran. Sepertinya seru menginjakkan kaki di Antartika atau bertualang ke Himalaya. Hobi saya, yang terutama membaca buku novel, puisi, ataupun game dengan cerita-cerita tertentu, membuat saya bersemangat karena saya yakin informasi apapun yang terkandung di dalamnya akan bisa saya manfaatkan saat saya dewasa.

Sialnya, itu tidak benar.

Dari kecil saya dicekoki pengetahuan bahwa sumber kesengsaraan manusia adalah dari tidak rata dan terorganisirnya distribusi kebahagiaan. Baru di tahun 2020 ini, saya menyadari masalah fundamentalnya begitu real, begitu nyata. Masalah utamanya hanyalah keserakahan manusia.

Di awal peristiwa COVID, sebelumnya saya percaya bahwa sejahat-jahatnya pemerintah, mereka akan tetap mengutamakan kepentingan bersama, pada saat krisis nasional/global. Namun, penanganan pemerintah terhadap COVID membuat saya sadar kalau ini sama sekali tidak benar. Saya cukup sakit hati dan sedih, karena semua harapan saya runtuh seketika melihat hal seperti itu. Dari kecil saya terdidik untuk memberikan sumbangsih balik kepada negara demi orang-orang yang negara ini lindungi. Namun apa yang bisa saya lakukan kalau pemerintahnya sendiri begitu korup sampai-sampai penanganan krisis saja seperti dagelan. Banyak nyawa melayang hanya karena keputusan tidak becus, padahal anjuran internasional sudah jelas dari sekian bulan sebelumnya. Sementara itu berita yang saya lihat hanya berisi keegoisan jajaran eksekutif negara, yang menyepelekan isu nasional karena mereka sendiri pasti akan tetap aman dan sehat.

Oleh karena itu, pada saat saya sendiri yang terkena COVID di sekitar Juli 2021, tiba-tiba saya tersadar kalau saya ini sebenarnya insignifikan, bahkan bagi negara sekalipun. Karena kompas moral saya hilang, suatu malah saat demamnya memuncak, saya berpikir, “Ah, hidup ataupun mati, kontribusi kita tidak akan mengubah apa-apa…”. Karena tujuan hidup saya hilang, mendadak semua fondasi identitas saya hilang. Untuk apa baca buku, belajar, main game, jika informasi tersebut tidak akan pernah bisa kita gunakan. Useless.

Maka satu-satunya pengganjal hidup yang membuat saya masih ingin bertahan hanyalah istri dan anak. Kalau saya meninggal, minimal mereka harus tetap bahagia dan bebas dari kesulitan. Saya sendiri jadi tidak bisa menemukan kebahagiaan dari hal-hal, hobi, ataupun aktivitas yang biasanya membuat saya bahagia. Tidak pernah terpikirkan sebelumnya kalau bermain game digital dan JRPG akan terasa hambar bagi saya. Nyatanya semua jadi hambar. Hanya main bulutangkis saja yang entah kenapa membuat saya sedikit bersemangat.

Alhamdulillah saya memiliki istri yang supportif, meskipun sering marah-marah tapi hobi saya tidak pernah dilarang. Saya pindah kerja karena merasa kehilangan jati diri. Niat saya simple, saya butuh lingkungan di mana saya bisa kerja dengan impact nyata ke orang banyak tanpa saya harus bertanggung jawab penuh atas impact tersebut. Saya ingin kerja di tempat yang meskipun saya tiba-tiba hilang atau meninggal, perusahaan tersebut akan tetap jalan karena semuanya orang asing.

Namun, entah karena kebetulan yang luar biasa, atau memang sudah garis takdir dari Allah. Selesai proses interview, pada hari pertama saya bekerja, ternyata saya baru tahu kalau saya secara kebetulan dan tanpa direncanakan, satu tim dengan rekan kerja saya dulu saat saya baru lulus kuliah. Allah tidak membiarkan saya jadi orang asing…

Sekarang bulan Juni, saya menulis dari kamar hotel sendirian. Saya ingat beberapa tahun silam saat membaca cuplikan puisi Sapardi Djoko Damono dari buku Bahasa Indonesia, yang berjudul “Hujan Bulan Juni”. Saat itu saya bertanya: “Memangnya kenapa dengan hujan di bulan Juni?” Dipikir bolak-balik pun saya tidak paham. Namun, saya sendiri merasa “Juni” merupakan sesuatu yang spesial.

Sewaktu saya SMA, saya dan istri (tentu saja waktu itu hanya sekedar teman), ditugaskan untuk merawat kebun tanaman obat di sekolah. Ada tanaman jeruk nipis yang saya urus, karena tidak kunjung berbuah. Alasannya karena daunnya selalu dimakan ulat, namun saya bukan orang yang tega untuk membunuh ulat-ulat tersebut. Tanaman tersebut saya namakan JuNi, singkatan dari Jeruk Nipis, sekaligus terinspirasi dari puisi Sapardi tadi. Di sebelahnya, ada Jeruk Limau, yang saya namakan JuLi. Setiap hari saya dan istri bergantian menyirami JuNi dan JuLi, karena saya terlalu idealis berharap bahwa tanaman ini akan cukup kuat untuk tetap berdaun sekaligus mensupport ulat-ulat yang akan tumbuh jadi kupu-kupu ini.

Namun saya memang terlalu idealis, akhirnya baik ulat dan tanamannya tetap sengsara. Sohib saya menyarankan untuk membunuhi ulat-ulat ini dulu saja sampai tanamannya sendiri sudah cukup kuat untuk “diulati”. Sambil agak sedih, saya ikuti saran dia. Akhirnya kami bertiga berhasil membikin JuNi dan JuLi tumbuh sehat.

Kisah ini memang tidak ada hubungannya, namun secara simbolik saya baru sadar keterkaitannya.

Jadi begini…

Baru saja saya sadar bahwa saya melihat dunia dengan sedikit berbeda sekarang. Karena semua angan dan cita-cita yang sanggup saya capai sudah terpenuhi dan yang tidak sanggup saya capai tidak akan mungkin terpenuhi, saya tidak melihat ada keterikatan apapun dalam kehidupan duniawi ini. Saya rasa, hidup saya sudah cukup memuaskan. Tidak ada lagi unsur greed yang ingin saya pertahankan. Sebaliknya, saya jadi kasihan melihat istri saya. Hidupnya belum tuntas. Saya tahu dia ada beberapa keinginan yang saya ingin bantu wujudkan, namun saat ini mustahil terjadi, dan saya juga tidak tahu apakah kelak akan mungkin terjadi. Jadi persepsi saya tiba-tiba berubah menjadi kasihan, dan berharap suatu saat dia juga menemukan kebahagiaan yang membuat hidupnya terasa “tuntas”. Tentu saya ingin membantu semampu saya.

Dari sini lah saya teringat apa makna dari Hujan Bulan Juni. Saat saya sadar, sebenarnya cukup jelas. Juni itu memang musim kemarau yang nyaris tidak ada hujan-nya. Jadi kalau ada hujan, bisa dibilang itu keajaiban yang mesti disyukuri.

Hujan Bulan Juni

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan Juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu

tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan Juni
dihapusnya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu

tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan Juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu

(1989)

— Sapardi Djoko Damono

Pandangan hidup saya sendiri sudah terasa seperti hujan di bulan Juni. Melewati musim kemarau yang gersang dan kosong. Lalu tiba-tiba hujan.

Sedangkan hidup saya mungkin seperti tanaman jeruk nipis. Berusaha tetap tumbuh kuat, sehat, penuh harapan untuk berbunga dan berbuah. Namun sembari tetap berusaha mencari cara memuaskan ulat-ulat yang rakus. Koruptor yang merusak negeri ini itu tidak akan habis. Tidak akan puas mereka memakan daun. Saya akan kalah jika berusaha sendirian. Namun jika saya memiliki Penjaga yang bijak dan penuh kasih sayang, (seperti yang kami lakukan bertiga dulu),

memberi pupuk,

disirami air,

dibersihkan daunnya,

maka mungkin saja…

Mungkin saja…. saya bisa tumbuh bebas.

Jikalau nanti kelak saya (atau kita semua) berhasil tumbuh dengan bagus dan kuat, itulah saatnya mengubah ulat-ulat rakus jadi kupu-kupu yang indah. Kupu-kupu inilah yang akan membantu kita berbuah.

Semoga fase negara ulat ini cepat menjelma menjadi negara kupu-kupu dan mengakhiri kerakusannya.

Saya ingin bertemu Eyang Habibie

Tulisan saya di akhir 2019 ini saya dedikasikan untuk mendiang B. J. Habibie.

Eyang, begitu beliau biasanya akrab dipanggil, punya tempat tersendiri di hati saya. Eyang Habibie bisa dibilang tokoh teladan atau “Hero” saya (tentu Rasulullah masih tetap nomor 1). Sosok Habibie pertama kali saya kenal melalui paman saya yang bekerjad di P.T. DI dulu. Dulu PT DI namanya masih IPTN atau Nurtanio.

Paman saya tinggal di Bandung. Saya tidak tinggal di Bandung. Bapak saya kadang membawa saya main ke rumah dinasnya yang letaknya ada di belakang BTC sekarang.
Di rumah itu saya merasa jadi anak bungsu. Tiga orang sepupu saya sudah relatif dewasa (mungkin seusia SMP atau SMA?). Paman saya sangat sibuk. Namun pada suatu sore, beliau menyempatkan diri mengajak saya melihat landasan penerbangan Husein Sastranegara, yang berjarak beberapa blok dari rumah dinasnya. Tentu kita tidak masuk ke area bandara. Hanya duduk di atas motor di luar pagar. Saya melihat pesawat lepas landas sembari mendengarkan paman saya bercerita tentang seorang insinyur jenius yang bernama Habibie. Boleh dibilang ini momen yang sangat berkesan karena itu pertama kali saya melihat pesawat.

Di hari lain, saya diajak paman saya ke Kebun Binatang Bandung. Dari situ kita pindah ke gerbang selatan ITB. Paman saya bilang, dahulu presiden pertama kita, Soekarno, sekolah di sini. Habibie juga sempat sekolah di sini, meskipun langsung pindah ke Jerman. Di situ, saya ingat persis, paman saya berdoa untuk saya, semoga saya diberi kesempatan sekolah di sini. Doa yang ternyata nanti jadi kenyataan.

Hanya di dua peristiwa itulah saya mendengar sosok seorang Habibie. Maklum, saat itu saya masih kecil. Mungkin baru 5/6 tahun. Saya sendiri tinggal di sebuah kecamatan di Jawa Barat yang berjarak sekitar 3.5 jam dari Bandung menggunakan vespa. Sebuah kecamatan biasa-biasa saja. Tidak ada bandara maupun universitas. Jauh dari paparan teknologi. Sebuah kecamatan yang penduduknya mayoritas buruh tani padi, pedagang material, ataupun pengusaha walet.

Tepat di Mei 1998, terjadilah kerusuhan yang terkenal itu. Habibie naik jadi presiden republik. Ibu saya memberitahu, entah paham tidak kalau saya memperhatikan, bahwa Habibie, bosnya paman saya, sekarang jadi presiden. Saya juga mendengar bisik-bisik tetangga dan orang tua bahwa di Jakarta terjadi kerusuhan parah dan banyak keturunan cina jadi korban. Untungnya di tempat saya tinggal tidak begitu. Dalam hati, saya berharap keadaan membaik, karena pak Habibie yang pintar itu sekarang presiden. Namun setelah itu, beliau membuat keputusan yang mengejutkan…

Beliau menyepakati referendum Timor-Timur. Timor-Timur sekarang merdeka. Saya bingung karena saya masih kecil. Mengapa Timor-timur yang selama ini katanya bagian dari Indonesia dilepas? Kenapa? Paman saya itu yang angkatan udara pernah ditugaskan ke Timor-timur. Apakah berarti perjuangan paman saya itu sia-sia? Apa paman saya merasa marah? Saya tidak tahu. Yang jelas saat itu saya mempertanyakan keputusan tersebut. Tapi saya masih bocah ingusan yang tidak tahu apa-apa.

Perlahan-lahan kondisi rumah tangga mulai membaik. Saya sempat mendengar ibu saya berkomentar sebentar, bahwa untung saja pak Habibie yang jadi presiden. Mungkin ada kebijakan beliau yang berpengaruh langsung ke PNS guru? Namun, periode pak Habibie hanya berjalan sebentar. Selanjutnya kalian tahu sendiri.

Loncat linimasa ke masa SMA. Saya bersekolah agak ke kota, di pusat kabupaten. Jaraknya sekitar 2 jam menggunakan vespa bapak saya. Namun, kalau bapak saya sedang ngebut, bisa sampai 1.5 jam. Karena ini lingkungan asing buat saya. Saya mencoba untuk sedikit bergaul dengan orang-orang kota ini. Setiap jeda istirahat antar mata pelajaran, saya sempatkan berkeliling kenalan dengan teman sekelas. Karena tempat duduk saya terpencil, dikelilingi perempuan. Ya mayoritas saya ngobrol dengan teman cewek.

Nah, ada satu kejadian yang cukup berkesan. Sama seperti ke orang lain, saya mulai berkenalan dengan bertanya, mereka asal mana, atau lahir dimana. Saya sendiri punya cerita unik bahwa saya lahir di Bandung, namun akta kelahiran saya menggunakan Indramayu sebagai tempat lahir. Lalu ada seorang perempuan yang menimpali bahwa dia lahir di Dili, Timor-timur. Kontan, saya kaget. Saya tidak pernah menyangka sedikitpun bahwa saya akan ketemu orang yang benar-benar lahir di Timor-timur, sebuah bagian dari Indonesia yang merdeka. Saya bertanya lebih lanjut, apa yang terjadi menjelang referendum Timor-timur. Dia cerita keadaan sangat kacau dan mereka sekeluarga harus mengungsi kembali ke Jawa meninggalkan semua aset yang mereka simpan. Untungnya mereka sekeluarga selamat.

Pada saat itu ada perasaan aneh yang saya rasakan. Saya tidak pernah menyangka bahwa keputusan pak Habibie tersebut akan berdampak langsung pada hidup saya. Saya tidak pernah menyangka bahwa akan ada orang yang mesti mengungsi dari Timor-timur untuk kemudian bersekolah di sekolah yang sama tempat saya bersekolah. Jika referendum tidak terjadi, mungkin mereka tidak akan mengungsi. Mungkin juga malah chaos, saya tidak tahu. Tapi ada dampak langsung yang saya rasakan.

Mungkin di titik itulah, dan disertai faktor-faktor lain. Saya mulai bertekad untuk ingin bersekolah di ITB. Saya ingin tahu seperti apa sekolah yang pernah dijalani pak Habibie. Saya ingin tahu apa yang dia lihat, apa yang dia pertimbangkan, apakah mungkin suatu saat saya bertemu beliau?

Singkat cerita saya berhasil kuliah di ITB, dan saya baru tahu bahwa Habibie cuma sebentar di ITB karena langsung lanjut ke Jerman. Dalam hati saya ingin sekali lanjut kuliah S2 di luar, tapi mungkin tidak ke Jerman karena untuk prodi sains komputer seperti yang saya jalani, kiblatnya bukan ke Jerman. Karena satu dan lain hal, saya harus mengurungkan niat tersebut. Saya kemudian fokus mencari kerja lalu menikah. Alur hidup saya tidak berubah terlalu signifikan semenjak itu.

Menurut istri saya, film bioskop yang pertama kali kami tonton bersama itu Habibie & Ainun. Boleh dibilang ini film yang cukup sakral buat kami berdua. Masing-masing punya kesan yang berbeda terhadap film ini karena sosok Habibie mempengaruhi kami secara berbeda pula.

Suatu saat, saya ingin bertemu Eyang Habibie, sekadar untuk ngobrol. Bertukar pikiran, menggali wawasan dan cerita, menawarkan perspektif yang berbeda dalam bidang keinsinyuran lewat prodi saya yang merupakan next-gen engineering, sekaligus belajar dari sisi aeronautika yang beliau kuasai.

Suatu saat, saya ingin bertemu Eyang…

Tapi kesempatan itu sudah tidak ada lagi.
September, tanggal 11 2019, Eyang wafat.
Di bulan September, bulan yang biasanya menjadi bulan perayaan hari ultah bapak, ibu, istri. Bulan ini sekarang kami berduka.

Saya tidak akan sempat menyampaikan ini secara langsung.
Eyang Habibie, terima kasih, sudah mewarnai hidup saya.
Terima kasih telah menjadi sosok inspirasi saya.
Tanpa beliau, mungkin motivasi saya untuk kuliah tidak terlalu menggebu-gebu.
Tanpa beliau, mungkin tidak ada keinginan untuk selalu terus belajar.
Tanpa beliau, mungkin saya tidak akan pernah bertemu istri saya yang lahir di Dili.

Terima kasih, pak Habibie dan selamat beristirahat dalam damai bersama bu Ainun.

“The moon is beautiful”

Saat membaca judul di atas mungkin Anda bertanya-tanya apa gerangan isi dari tulisan saya ini. Saya katakan dari awal bahwa tulisan berikut hanyalah bacaan ringan semata, sedikit melankolis untuk melepas penat dari suasana sehari-hari, sekaligus memenuhi kuota tulisan di tahun 2017 yang sangat tipis ini (sudah tidak menulis berbulan-bulan). Tulisan ini tidak bernuansa politik apapun dan bisa dinikmati semua kalangan.

Hari ini saya pergi bermain bulu tangkis di GOR dekat rumah, karena ingin sekali melepas penat barang sejenak. Sepulangnya, saya lihat langit cerah sekali tak berawan. Kebetulan hari ini purnama pula. Spontan, sesampainya di rumah, saya katakan pada istri saya.

“Say, bulannya indah banget deh.”

“Mana? coba difoto dari atas atap?”

“Ga ada bedanya difoto dari atap ato dari depan rumah.”

Namun saya tetap pergi keluar untuk memfoto bulan tersebut. Meskipun, saya yakin ga ada gunanya juga sih. Ini hasilnya:

dsc_0156.jpg

Kok jadi ga keren…

Sama sekali ga epic. Tapi toh tetap saya tunjukkan.

Lantas ada apa dengan bulan?

Sebenarnya ini karena saya punya asosiasi sendiri dengan bulan. Atau lebih tepatnya, dengan kalimat: “Bulannya indah”

Entah dulu pernah baca darimana, mungkin dari game Persona 3 atau Persona 4 atau mungkin manga Doraemon. Alkisah ada seorang novelis Jepang bernama Natsume Souseki. Beliau seorang novelis dari jaman Meiji, saat kultur Western sedang dalam proses asimilasi dengan kultur Eastern di Jepang. Dalam suatu kuliahnya, beliau pernah mengatakan pada murid-muridnya bahwa “I love you” kurang cocok ditranslate secara literal ke bahasa Jepang. Beliau menyarankan kalimat lain: “Tsuki ga kirei desu ne?” yang kurang lebih artinya secara harfiah “Bulannya indah sekali ya?” alias “The moon is beautiful, isn’t it?” [1]. Ada juga sumber lain yang bilang, salah satu sarannya: “Tsuki ga tottemo aoi na”, secara harfiah artinya “Bulannya biru sekali ya?” atau “The moon looks so blue, isn’t it?” [2]. Pertama kali saya menyadari hal ini, saya merasa sangat terkejut.

Alasan dari beliau memilih kalimat tersebut adalah, pada zamannya, sangat aneh sekali jika tiba-tiba ada orang bilang, “Cuy, gue suka sama lo.” Terlalu vulgar dan tidak romantis. Entah mengapa bangsa timur dulu suka muter-muter dan menginterpretasi secara simbolis. Maksud dari beliau di sini adalah, jika kamu bersama dengan pria/wanita yang kamu cintai, maka hal-hal kecil pun bisa diapresiasi dan dinikmati bersama. Fakta bahwa Anda dan pasangan menikmati hal-hal trivial seperti melihat keajaiban alam semacam bulan, bintang, langit sore, dan lain-lain, sebenarnya adalah hal yang romantis. Sepertinya itu yang ingin beliau tekankan. Bahwa konteks dalam translasi itu penting dan jangan sampai nuansanya hilang saat dialihbahasakan.

Jadi balik lagi ke tema di awal. Setiap saya melihat bulan purnama, selalu ini yang terpikir. Sudah berkali-kali saya bilang seperti ini, dan kelihatannya memang ga penting (dan kok diulang-ulang). Tapi selalu ditanggapi. Tentu saja istri saya ga ngerti sama sekali masalah ginian karena bukan vvibu karena tidak pernah saya bahas maknanya. Tapi ada rasa tersendiri mengatakan “Bulannya indah” dengan maksud lain, tapi lawan bicaranya tidak tahu. Ada rasa deg-degan gimana gitu.

Nah begitulah, memang tiap-tiap pasangan berbeda. Saya sendiri penasaran apakah orang Jepangnya sendiri masih punya kultur seperti ini. Cuman saya ga punya teman yang couple orang Jepang native gitu. Ya tapi banyak juga sih teman saya yang vvibu tinggal di Jepang dan familiar dengan kultur Jepang. Mungkin mereka pernah juga begini? :p Who knows?

Tentu saja tidak harus bulan yang dibahas. Contohnya saya sendiri punya cita rasa lokal. Kebetulan kadang-kadang di kontrakan saya ada Tokek yang mampir dan bunyi tiap malam. Tahu sendiri lah ya, kalo tokek malam-malam bunyi yang dibahas apaan?

Tokek…

Tokek…

Ya seperti itulah. Kita bahas tokek bunyi berapa kali. Hahaha…

Anyway, the moon is so beautiful tonight…

Share the feelings privately to your loved one…

 

 

 

 

P.S.

Sebagai tambahan, saya pernah baca juga, kalau di Jepang ceweknya “ditembak” dengan cara seperti ini, bisa juga dia nolak dengan bilang. “Iya, bulannya indah karena jauh.”

Ugh. Kacian.

 

Reference:

[1] https://japanese-school-asahi.com/this-moon-is-beautiful/

[2] http://www.durf.org/2011/07/06/love-the-moon-and-translation/

Mengapa Tetikus Mac itu Aneh?

Pagi ini saya membaca artikel teman saya di sini: Tetikus Mac itu Aneh, dan tidak bisa menahan diri untuk setuju dengan poin yang dia tulis. Karena memang dulu juga saya kesal dengan fakta tersebut. Pertama kali saya menggunakan macbook, saya dibuat uring-uringan dengan arah batang gulir (maksudnya scroll bar) yang terbalik, dan bermacam konvensi lainnya yang berlawanan dengan yang biasa saya ingat di Windows.

Nah, artikel ini berusaha menjelajah lebih jauh tentang artikel teman saya tersebut (yang menjawab artikel teman dia juga, yang sayangnya saya tidak tahu). Bersama-sama kita akan melihat, mengapa tetikus mac itu aneh dan mengapa demikian? Jadi sebelumnya mari kita sama-sama tetapkan, bahwa saya sebagai penulis, setuju bahwa tetikus mac itu aneh, tidak biasa, tidak umum. Karena memang saya sendiri lebih sering berinteraksi dengan Windows, bahkan sebelum saya punya akun wordpress. Sudut pandang ini tentu lebih menarik ketimbang sudut pandang orang yang sudah terbiasa menggunakan mac dari awal, karena buat mereka, ya memang begitu dari sananya. Tidak ada yang aneh.

Hal yang perlu diklarifikasi di awal, tentang mengapa kita merasa tetikus mac itu aneh, adalah prinsip dasar interaksi yang digunakan oleh insinyur Apple itu sendiri. Rupanya, setelah saya perhatikan, anggapan dasar kita ini salah. Kita tidak membandingkan hal yang sama. Tidak “Apple to Apple” (Eh, maaf, sengaja kok diselipin pun). Benar sekali yang dikatakan teman saya di artikel tersebut, arah batang gulir di mac itu arah dari penggeseran konten, bukan batang gulirnya. Inilah perbedaan mendasar dari semua interaksi papan lacak (maksudnya trackpad) di mac, pengguna berinteraksi langsung dengan konten. Setelah menerima bulat-bulat anggapan dasar ini, maka semuanya jadi masuk akal dan tidak aneh.

Memangnya apa bedanya?

Beda banget. Perlu saya jelaskan dulu bahwa papan lacak mac itu yang ini:

Screen Shot 2017-06-20 at 05.24.06.png

Papan lacak mac loh ya, bukan laptop Windows.

Apa bedanya papan lacak mac dengan laptop Windows kebanyakan? Perbedaan yang paling mencolok adalah: tidak ada pemisahan tombol klik kiri dan klik kanan. Kenapa? Karena memang tidak ada konsep klik kiri dan klik kanan di mac. Iya, beneran. Tidak ada. Sekarang lupakan semua anggapan dasar dan harapan Anda tentang sebuah papan lacak. Papan lacak yang ini dimaksudkan sebagai perumpaan konten yang sedang Anda lihat di layar. Anggaplah ini sebagai konten, maka semuanya masuk akal.

in1

Mau geser konten ke bawah? ya papan lacaknya geser ke bawah.

Bandingkan dengan yang ini:

in2.gif

Tidak masuk di otak, geser ke bawah tapi kok kontennya berlawanan arah?

Jadi memang begitu anggapan dasarnya, yang digerakkan itu kontennya. Bukan batang gulir (maksudnya scroll bar).

Mungkin Anda berargumen, “Ya ga bisa gitu lah bang.  Kan orang bisa aja asumsinya langsung mikir kalo yang saya gerakin itu scroll bar, bukan halamannya.” Iya kalo di Windows. Di mac? Scroll barScroll bar itu yang mana?

in3.gif

Scroll bar yang mana? Oh yang itu maksudnya…

Di mac, batang gulirnya dari awal memang tidak ditunjukkan, hanya dimunculkan kalau kontennya bergerak saja. “Lah kenapa???”. Kan yang kita gerakkan itu kontennya, bukan si batang gulir. Kalau dimunculkan, penggunanya bingung kita sedang menggerakkan apa? Jadi batang gulirnya di sini cuma sekadar sebagai penanda posisi relatif si konten terhadap viewport. Tentu kita juga bisa berinteraksi dengan batang gulirnya. Tapi coba dilihat lagi, apakah ada tombol klik bawah atau klik atas? Tidak ada. Kalau Anda mau menggerakkan batang gulir, batang gulirnya yang digeser sendiri. Masuk akal kan?

Tidak hanya itu aja. Semua interaksi papan lacak berpegang teguh terhadap pendirian ini. Zoom in – Zoom out menggunakan dua jari seperti orang mencubit konten. Masuk akal juga. Klik kiri adalah klik dengan satu jari. Klik kanan adalah klik dengan dua jari, karena tidak ada istilah klik kanan, sebutannya di mac adalah secondary clickSecondary, dua jari, masuk akal kan? Rotate pakai dua jari juga, satu jadi sumbu, satunya lagi mengatur arah rotasi. Masuk akal juga. Geser antar halaman buku menggunakan dua jari geser kanan kiri. Masuk akal juga. Geser antar jendela aplikasi menggunakan 3 jari geser kanan kiri. Ya masuk akal juga. Jadi memang Apple menganggap papan lacak ini adalah sarana interaksi dengan kontennya, dan konsisten.

“Oke lah. Berhenti bahas trackpad. Yang mau kita bahas di awal itu kan mouse? Mouse!”

Oleh karena itu lah kita bisa pindah ke poin berikutnya.

Seperti apakah tetikus dalam pemikiran insinyur Apple?

Nah, para pembaca sekalian. Seperti inilah tetikus Apple (yang dijual terpisah dari laptop).

Magic Trackpad 2

Screen Shot 2017-06-20 at 06.03.34.png

“Itu trackpad lagi gan. Cuman, terpisah doang kalo yang ini.”

Ah iya maaf. Salah link. Maksud saya yang ini.

Magic Mouse 2

Screen Shot 2017-06-20 at 06.06.46.png

Nah, inilah tetikus yang diciptakan dengan menggunakan anggapan dasar dan filosofi yang tadi saya jelaskan. Karena anggapan dasar tersebut, kita tidak akan kaget bahwa tetikus ini sebenarnya hanyalah “papan lacak yang bisa digeser-geser”.

Tidak ada roda gulir, tidak ada klik kiri, tidak ada klik kanan. Tidak ada. Cara menggulir konten? Ya seperti biasa. Letakkan dua jari di tetikus, terus geser. Klik kedua (secondary click)? Ya tinggal diklik dengan dua jari. Namanya saja klik kedua.

“Tapi maksud saya tetikus itu yang seperti ini kan? Tetikus standar Logitech.”

Screen Shot 2017-06-20 at 06.21.15.png

Tapi kan yang kita bahas itu “tetikus mac”? Kalau yang ini tetikus Windows biasa. Dibuat khusus untuk Windows, tampaknya.

Dari bukti-bukti berikut, maka bisa kita simpulkan bahwa anggapan kalau Tetikus mac itu aneh, sebenarnya kurang tepat. Tetikus mac sangat konsisten menerapkan anggapan-anggapan dasar dan filosofi interaksi mereka sendiri. Malah mereka lebih menyarankan menggunakan yang papan lacak (untuk iMac misalnya) ketimbang tetikus. Tapi untuk beberapa orang, pemain Dota atau Counter Strike misalnya. Ya sulit lah menggunakan papan lacak untuk main Dota, mereka butuh presisi yang ditawarkan oleh tetikus.

Jadi?

Lebih tepat kalau kita katakan, Menggunakan tetikus non-Apple di mac itu sangat aneh. Karena memang tidak Apple-to-Apple (aduh, maaf, sengaja pun).

Catatan:

  1. Saya bukan Apple fan boy. Saya juga kesal dengan arah scroll yang terbalik sewaktu saya menggunakan tetikus logitech kesayangan saya. Tapi saya berusaha beradaptasi setelah menyadari filosofi Apple. Saya berhenti menggunakan tetikus di laptop mac kantor saya.
  2. Saya tidak punya kaitan apa-apa dengan Apple maupun Logitech. Tidak ada hubungan endorse sama sekali.
  3. Tapi saya memang suka product tetikus dan keyboard Logitech. Sangat awet untuk penggunaan standar sehari-hari.
  4. Logitech sudah ganti nama menjadi Logi, tapi mungkin banyak yang belum tahu, jadi saya tetap pakai nama Logitech di artikel ini. Logitech Is Changing Its Name to “Logi” Because Tech Means Nothing
  5. Logi merupakan perusahaan yang berasal dari Swiss, yang menjadi salah satu alasan saya secara bias mempercayai Logi.
  6. Mungkin sebenarnya saya termasuk Logi fan boy. Entahlah.

Ringkasan Istilah-Istilah dalam Legalitas Sebuah Software

Sudah lama saya ga nulis lagi di blog, saking hektiknya tahun kemarin. Waktu luang saya malah seringnya saya pakai buat main game saja atau tidur. Hari ini sewaktu saya buka lagi blog yang udah banyak sarang laba-labanya ini, saya cukup terkejut melihat banyak pending comment di artikel saya yang satu ini:

Beralih secara legal ke Windows 10

Saya cukup senang karena memang banyak juga orang-orang yang tertarik untuk membeli Windows 10 legal. Artinya, sebenarnya ga semua orang mentalnya murni pembajak. Kebanyakan karena terdesak keadaan saja. Lalu, kebanyakan mereka bingung gimana caranya bisa beli yang legal, karena informasi seperti ini memang jarang disosialisasikan. Mungkin karena kebetulan saya kuliah di bidang IT, jadi wajar kalau sudah sering dengar isu legalitas software. Namun, rupanya pemahaman seperti ini kurang memasyarakat. Saya pikir ada baiknya juga untuk share beberapa istilah dan fenomena di dunia software.

Apa itu software komersil

Seperti yang udah ketahuan dari namanya. Software komersil intinya adalah perangkat lunak yang diperjualbelikan. Sebuah perusahaan dikatakan memiliki software komersil, jika software tersebut menjadi komoditi utama untuk dijual (ya iya lah). Contoh gampangnya ya Operating System, semacam Windows atau Aplikasi, seperti Microsoft Office atau Adobe Photoshop.

Dulu penjualan software identik dengan proses penjualan software sebagai “barang”. Misalnya saat kita beli Windows XP dulu, Anda akan dapat box berisi CD dan manual installasi. Beli Photoshop atau Office juga sama. Namun, makin ke sini, proses transaksi ini tidak lagi fisik, namun digital. Hal ini bermanfaat untuk mengurangi cost material yang diperlukan (jadi ga butuh kertas), dan juga mempermudah pencatatan/pendataan siapa saja yang memiliki software tersebut.

Contoh pembelian software dalam bentuk digital, misalnya beli aplikasi Play Store/iTunes, berlangganan Photoshop atau Office, pembelian game di Steam, dan lain-lain. Dari situ bisa dibedakan beberapa skema penjualannya. Misalnya:

  1. Subscriptions: Anda berlangganan Office 365, bayar tiap bulan agar bisa pakai software tersebut. Atau Anda berlangganan kapasitas extra di Google Drive. Intinya, skema ini seperti kita dulu langganan koran. Bisa bayar per bulan atau per tahun untuk memakai software tersebut. Cukup fleksibel. Keuntungannya, Anda ga langsung bayar softwarenya jebret berjuta-juta. Tp cukup saat dipakai saja, sehingga jatuhnya (mungkin) lebih murah. Jadi yang dibeli di sini adalah softwarenya sebagai suatu layanan.
  2. License based: Di skema ini, yang Anda beli sebenarnya bukan softwarenya. Loh kok? Iya, di skema ini, yang Anda beli sebenarnya adalah “hak” untuk menggunakan software tersebut. Biar ga pusing dengan apa itu arti dari license, bayangkan Anda kontrak rumah. Selamanya rumah itu bukan punya Anda, meskipun Anda pake buat macem-macem. Karena yang Anda beli hanyalah hak untuk menempati rumah tersebut, bukan rumahnya. Oleh karena itu, skema license ini macam-macam, beda-beda. Masing-masing license cuman mendeskripsikan izin yang diberikan kepada si pembuat software ke si pengguna software. Ini yang membedakan ada lisensi retail dengan OEM, dan masih banyak lagi jenis lain.
  3. DRM: Digital Rights Management atau disingkat DRM, sebenarnya istilah untuk cara si perusahaan mengontrol penggunaan izin license software tersebut. Misalnya, dulu Anda ga bisa sembarang copy CD software asli, karena ada proteksi DRMnya. Contoh populer penggunaan DRM pada license based software, misalnya di Steam. Steam adalah perusahaan penjual/distributor game digital. Jadi software yang dijual di sini sebenarnya adalah game. Meskipun Anda beli gamenya, Anda cuman dapat izin untuk “memainkan” dan “mendownload” game tersebut, tapi tidak memiliki. Ahaha. Nah untuk mengontrol pengguna biar ga asal bajak game-game ini, Steam menerapkan DRM untuk mengontrol user mana yang punya akses ke game mana. Oleh karena itu, Anda tidak bisa memainkan game tersebut jika tidak terhubung ke Steam.
  4. DRM-free: Nah kebalikannya DRM. Software yang DRM-free artinya ga ada sistem kontrol tersebut. Jadi softwarenya benar-benar dianggap barang. Anda beli software tersebut, ya terserah mau dikopi kek, dipinjemin kek, disimpan kek, sah-sah aja. Sebenarnya balik lagi, DRM ini cuman nama teknik kontrol aja. Bukan skema penjualan. Hak-hak apa yang dimiliki si pembeli ya balik lagi ke license tadi. Sebagai contoh, di GOG, game dijual secara DRM Free, jadi setelah Anda beli, bebas mau diinstall dimana kek, berapa kali, dll.

Nah penjelasan di atas terkait tentang beberapa istilah di software komersil. Nah ada lagi filosofi lain dalam dunia software, seperti ini:

Apa itu Open Source Software

Open Source Software (OSS), atau yang di bahasa Indonesia jadi Perangkat Lunak Kode Sumber Terbuka, mengacu kepada jenis Software yang punya filosofi agak berbeda dari software komersil. OSS memiliki filosofi bahwasanya perangkat lunak merupakan usaha kolaboratif antar umat manusia, sehingga tidak ideal jika hal seperti itu dikomersialkan. Emang kayak agama gitu sih kesannya. Pemahamannya gini, OSS itu dianggap kayak kita lagi gotong royong sama-sama bangun fasilitas umum, misalnya jalan. Masing-masing orang nyumbang hal-hal yang berbeda sesuai kesanggupan. Ada yang nyumbang aspal, ada yang nyumbang tenaga macul, ada yang nyumbang duit buat beli gorengan, dan lain-lain. Nah hasil dari kerja sama itu adalah sebuah jalan raya. Semua orang yang bikin jalan ini, sepakat bahwa seharusnya semua orang boleh lewat jalan ini (atau memanfaatkan fasilitas tersebut) gratis-tis tanpa harus bayar. Soalnya kan kalau jalan bagus, yang bisa mengambil manfaat ya warga sekitar situ juga. Misalnya ekonomi meningkat, daerah menjadi strategis, dan lain-lain. Setiap warga juga bebas dan berhak untuk memodifikasi jalan tersebut demi kepentingan bersama. Misalnya di tengah jalan tiba-tiba ada yang nyumbang lampu karena gelap. Ada yang tanam pohon biar rindang, dan lain-lain. Akhirnya orang-orang terus menambah manfaat pada daerah situ padahal, yang disumbang sudah bukan untuk jalan lagi (ada yang nambahin pohon atau atau lampu).

Nah seperti itulah kira-kira filosofi dari Gerakan OSS. Semua orang bebas menambah manfaat pada software tersebut agar makin banyak orang yang bisa mengambil manfaatnya juga, dengan gratis. Nah tapi lalu muncul pertanyaan. Kalo softwarenya gratis, terus yang bikin softwarenya mau makan dari mana? Jadi, yang unik dari OSS adalah bisnis modelnya. Mereka ga jual softwarenya tapi jasa konsultasi. Misalnya begini, saat jalannya bagus, orang akan banyak datang. Kita jadi bisa buka toko dan jualan makanan di situ. Kita dapat duit dari situ, jadi bukan jalannya yang dipajak. Ya ada juga sih jalan yang dikasih tarif, misalnya jalan tol, nah jalan tol adalah salah satu analogi dari software komersil.

Lalu secara realita, apa sih yang dijual dari OSS? Yang dijual adalah jasa konsultasi. Kita ambil contoh Linux Ubuntu. Ubuntu itu gratis. Ubuntu dibuat oleh semacam organisasi non profit. Anggap aja ada orang yang lumayan tajir dan kebetulan baik yang mendanai itu semua. Kita sebagai user bisa juga kasih donasi. Atau bisa juga beli merchandise2 ubuntu, kayak stiker atau kaos. Nah ada juga yang cari duit dengan cara mengadakan seminar atau jasa konsultasi. Otomatis, semakin banyak pengguna Ubuntu, semakin besar potensi orang butuh training dan semacamnya. Contoh lain yang sangat gampang, Android adalah OS yang Open Source. Android sendiri OS nya tidak dijual, tp yang dijual adalah hardware hapenya, beserta aplikasi-aplikasi di PlayStore misalnya. Androidnya sih gratis dan bisa kita modifikasi.

Apa itu Free Software

Nah yang ini lebih ekstrim lagi “keagamaannya”. Free Software dan OSS sama-sama gratis, sama-sama bisa dikontribusikan, dan sama-sama bisa dimodifikasi softwarenya. Tapi ada perbedaan yang cukup mendasar dan ekstrim dari filosofi Free Software. Sebelum itu, saya perlu menjelaskan arti dari Free Software itu sendiri.

Free dalam frasa Free Software di sini sebenarnya bukan gratis atau g bayar. Tapi lebih ke freedom, kebebasan. Freedom Software ini berarti merujuk pada software yang memberikan kebebasan pada penggunanya untuk, yah, terserah mau diapain itu software. Free software bisa dimodifikasi, diubah, diperbaiki, sebebas mungkin oleh siapa saja, dan konsekuensinya harus bebas dipake oleh siapa saja (jadinya gratis). Gerakan ini punya filosofi yang jauh lebih dalam dibanding OSS. OSS bisa saja source code nya boleh dilihat, tapi bayar. Sedangkan Free software itu harus harus harus bebas dimodifikasi dan dipakai oleh siapapun.

Perbedaan mencoloknya akan kelihatan dari analogi berikut. Jika jalan tadi bebas dimodifikasi dan dipakai oleh orang lain, bisa juga dipakai orang jualan di pinggir, nah jika jalan tersebut adalah free software, atau dalam konteks ini jalan yang bebas. Maka, siapapun dan apapun yang menggunakan jalan tersebut harus bebas juga. Angkot yang bawa penumpang lewat jalan tersebut harus gratis dan harus bebas juga dimodifikasi tergantung kepentingan bersama. Pokoknya apapun yang pake jalan itu jadi gratis. Ekstrim kan?

Nah, mungkin Anda bingung, kok bisa gitu? Kalo begini, gimana caranya kita dapat untung? Memang begitu. Filosofi Free Software adalah filosofi murni untuk kebaikan bersama secara kolektif. Bukan untuk kepentingan perorangan. Free Software adalah jalan bagi para inovator untuk membuat temuannya jadi bebas selamanya, iya selamanya, selamanya ga usah bayar demi mendapat manfaatnya. Namun, ini agak menimbulkan masalah. Software yang menggunakan lisensi Free Software seperti GPL, mengharuskan siapa pun yang mengembangkan software tersebut sebagai dasar, harus berlisensi GPL juga. Jadi jika Anda memodifikasi suatu software dari software lain yang GPL, otomatis software anda harus GPL juga, dengan kata lain, bebas untuk selamanya.

Contoh konkrit Free Software ada di sebagian besar distro Linux yang sudah ada. Sebagian besar software di distro Linux, misalnya Ubuntu, adalah free software. Bahkan compilernya aja free software.

Nah sekian dulu aja artikel hari ini. Nanti dilanjut lagi, dan semoga bermanfaat.

Cheers!

Update AMD Drivers for MacBookPro Bootcamp

Tulisan ini sebenarnya untuk pengingat saja, biar ga lupa untuk ke depannya. Saya menggunakan Macbook Pro Retina 15′ Mid 2015. Penggunaan utamanya ya buat kerja sehari-hari. Tapi saya install Windows 10 juga di mac ini via bootcamp. Macbook ini menggunakan graphic card dedicated yang, yah, lumayan mid range lah. GPU-nya AMD R9 M370X. Saat aktif di bootcamp, ternyata Intel Iris nya tidak bisa digunakan, jadi mac-nya full menggunakan AMD dan tidak ada graphic switching.

Sebenarnya ini mac oke-oke aja buat light gaming. Medium setting di 1080p masih lumayan 30 FPS dapet lah. Cuman, masalahnya driver bootcampnya ini jarang banget diupdate sama Apple. Sehingga, kalaupun AMD ngeluarin driver baru, ga bisa diinstall karena harus dipackage sama si Apple. Nah, waktu AMD Catalyst yang baru keluar, saya akalin sedikit biar drivernya bisa diinstal. Logikanya, kan toh GPU-nya juga satu famili dengan GPU lain, masak drivernya ga bisa dipake juga?

Ketemu lah artikel ini: http://www.remkoweijnen.nl/blog/2015/09/21/update-amd-display-driver-under-bootcamp/. Intinya, sebenarnya kita tinggal ikutin langkah-langkah di sana. Tapi ada beberapa step yang mesti improve juga sih. Hari ini saya update driver lagi, soalnya Catalyst ngasih notif terus kalau ada driver baru, tp begitu diinstall dia ga mau.

Disclaimer: Buat yang ngikutin tutorial ini, saya ga tanggung jawab kalo ada apa-apa :p.

Download Driver

Langsung aja download driver yang sesuai. Nah, karena saya menggunakan Windows 10 64bit dan obviously pake AMD R9 M370X, http://support.amd.com/en-us/download/mobile?os=Windows%2010%20-%2064. Pilih aja di Download centernya situs AMD: http://support.amd.com/en-us/download.

Nah, begitu selesai, jalanin aja proses installasinya, nanti bakalan gagal (Lah?).

no-amd

No supported dodolmu. Udah jelas-jelas pake AMD.

Yah, ini emang g bisa dihindari. Setelah ini, akan ada folder baru di C:\AMD. Cari folder hasil extract installasi tadi, lalu kita masuk ke step selanjutnya. Contohnya, kalo di saya sekarang: C:\AMD\Radeon-Crimson-16.7.3-Win10-64Bit.

Enable Support

Setelah dioprek sedikit, rupanya installernya sengaja mendisable installer khusus untuk M370X ini (aih…). Dengan kata lain, begitu installernya ngeh kalo GPU kita M370X, dia langsung skip, nganggap GPU kita g disupport. Soalnya, well, yang support mestinya dari Apple. Tp karena Apple nya ga bikin custom driver sendiri, ya udah kita pake yang dari AMD aja. Mestinya sih bisa jalan juga.

Tahap berikutnya adalah, kita cari ID driver kita apaan. Spoiler: ID nya sih ini: PCI\VEN_1002&DEV_6821&SUBSYS_0149106B. Mestinya sama juga buat Anda, soalnya kan sama-sama rMBP 15′ 2015. Kalo penasaran cara nyarinya gimana (biar nanti Anda bisa mandiri). Buka Device Manager. Expand Display Adapter, klik kanan Properties. Masuk ke tab Details, pilih Property Hardware Ids. Nah di situ valuenya.

hardware-ids

Value-nya di antara 4 ID ini

Nah, value ini diingat-ingat, soalnya ini yang bakal dicari. Selanjutnya kita buka file .inf nya. Buat yang belum tahu, file .inf ini file driver infonya Windows. Isinya deskripsi kompatibilitas driver dan hardware ID. Daripada pusing-pusing buka aja filenya pake text editor.

Filenya dimana? Cari file .inf di folder AMD tadi. Nah, kalo saya ada di: C:\AMD\Radeon-Crimson-16.7.3-Win10-64Bit\Packages\Drivers\Display\WT6A_INF. Inget ya, yang di folder Display. Soalnya kan kita mau edit driver Display-nya. Nah di situ nanti ada file .inf. Ini file driver yang dimaksud. Di saya, namanya: C0305076.inf. Namanya bakalan beda untuk versi driver yang beda. Contohnya, saya sekarang kan pakai driver Radeon versi 16.7.3. Nanti kalau update lagi, otomatis nama filenya beda lagi.

Buka file ini pake text editor, jangan didouble-click, soalnya itu berarti mau diinstall (dan ga bakal bisa juga sih, kan masih didisable). Kalo bingung, klik kanan, terus cari pilihan Edit atau apalah. Atau drag aja filenya ke text editor. Misalnya, kalau saya, bukanya pake Sublime Text 2 (pake notepad juga bisa sih).

Nah, sebenarnya, meskipun kita udah dapat Hardware ID nya dari device manager. Kita sebenarnya bisa langsung cari juga dari file ini. Caranya, kita cari seri GPU-nya. Berarti untuk kasus ini, R9 M370X. Biar ga pusing, saya cari string “M370X” di file ini. Nanti dapet device versionnya. Contohnya gini:

device-version

ketemu

Artinya, id-nya di file ini adalah: “AMD6821.3”. Nah ini kita search lagi, buat ngecek hardware ID nya. Dapatlah:

hardware-ids-2

ketemu lagi

Yap, sekarang kita dapat Hardware ID nya, crosscheck dengan ID yang didapat dari Device Manager tadi. Mestinya sama, kan? Kalo ga sama, ya berarti GPU-nya bukan M370X, bro!

Terus sekarang ngapain? Kita cari section buat hardware tersebut. Ambil valuenya yang di depan itu loh: ati2mtag_R577. Nah, cari sectionnya, mksdnya find string “[ati2mtag_R577]”:

section

Akhirnya…

Nah, kalo diliat di bawah, ada tulisan: ExcludeID=something-something. Nah itu maksdnya khusus Hardware ID itu, sectionnya diskip. Alias, dianggap ga kedetek. Intinya sih, yang saya lakukan sekarang adalah hapus line tersebut. Ato, kalo pake cara saya di atas, dikasih tanda semicolon (maksudnya sih dicomment). Pastikan juga si Hardware ID nya beneran sama dengan hardware ID yang kita dapat tadi. Atau at least mirip lah.

Udah? Belum. Masih ada beberapa tahapan pelik lain.

Driver Signing

Tadi cuman ngubah file .inf nya aja. File .cat nya juga harus diubah. File .cat ini isinya catalog driver security-nya. Tapi saya yakin seyakin-yakinnya, pasti kalian ga punya certificate buat sign drivernya kan? Wkwkwkwk. Kalo kalian punya, saya yakin kalian bisa sign sendiri. Buat yang g punya (kayak saya), ya udah kita cari cara lain.

Nah, sedikit background dulu. Di Windows 8, driver signing ga strict-strict amat. Jadi mestinya drivernya udah bisa langsung diinstall. Caranya klik kanan aja file .inf tadi, terus klik install. Hanya saja, di Windows 10, kita ga bisa langsung install, soalnya dari bawaannya Windows 10 punya Digital Driver Enforcement bla-bla-bla. Intinya, kalo file .cat dan .inf tadi ga match, dia ga akan terima. Parahnya, barusan saya lupa dan langsung install aja. Jadinya display driver saya crash (monitornya g nyala, g ada gambarnya). Soalnya drivernya bisa diinstall, tp somehow waktu dicocokin sama .cat nya, dia mismatch. Dan karena yang crash itu display driver, jadinya kita ga bisa liat apa-apa di monitor. Ini dihindari saja, untungnya saya masih bisa benerin.

Jadi konsep utamanya di sini adalah, kita harus sign ulang si .cat tadi. Tapi karena kita ga punya certificate, kita sign tanpa certificate. Nah, untuk sign certificate ini, mau ga mau, Anda butuh Windows Driver Kit (WDK). WDK ini mestinya udah terinstall kalau Anda sudah install Visual Studio. Cuman, kalau belum, ikutin aja langkah-langkah di sini: https://msdn.microsoft.com/en-us/library/windows/hardware/ff557573(v=vs.85).aspx, saya males jelasin lagi.

Nah, di tahap ini, saya anggap Anda udah punya WDK (WDK 10 untuk Windows 10 ini). Pergi ke folder C:\Program Files (x86)\Windows Kits\10\bin\x86. Di situ ada program namanya Inf2Cat.exe. Nah, kita akan pake ini. Pergi ke folder ini lewat command prompt (bisa shift+klik kanan, terus pilih open command window here waktu buka folder ini di explorer). Jalankan seperti ini:

Inf2Cat /Driver:”C:\AMD\Radeon-Crimson-16.7.3-Win10-64Bit\Packages\Drivers\Display\WT6A_INF” /OS:10_X64

Penjelasannya, sesuaikan path drivernya dengan path lokasi tempat .inf tadi. Sedangkan OS sesuaikan dengan OS Anda. Kalau Anda jalanin Inf2Cat tanpa parameter, nanti ada list OS-nya, dilihat sendiri aja. Setelah itu, silahkan disign aja drivernya (buat yang bisa sign).

Nah, kalau sukses nanti file .cat nya sudah diperbarui, jadi drivernya tinggal di install aja. Tapi berhubung untuk yang ga bisa ngesign .cat nya, karena ga punya certificate, misalnya. Kita mesti install drivernya saat driver signingnya didisable. Kita lanjut ke langkah selanjutnya.

Disable Driver Signing Enforcement

Windows 10 ini emang agak ribet, tapi jadinya agak secure juga sih. Kita harus reboot Windows, dengan driver signing yang didisable. Caranya klik Start > Settings > Update & Security > Recovery. Di section Advanced Startup, klik Restart Now. Ini maksdnya ngerestart komputer Anda, jadi save semua kerjaan Anda. Nanti Anda bakal balik lagi ke menu Advanced Startup. Karena ga bisa discreenshot, jadi Anda cari aja menunya. Mirip-mirip langkah di sini: http://www.howtogeek.com/167723/how-to-disable-driver-signature-verification-on-64-bit-windows-8.1-so-that-you-can-install-unsigned-drivers/. Di startup settings yang terakhir, pilih nomor 7 (disable driver signature enforcement).

Nah, setelah balik lagi ke Windows, tinggal install aja drivernya. Bisa pake klik kanan, atau lewat device manager, terus install sendiri, kasih lokasi file .inf tadi. Mestinya sih itu udah cukup. Tapi kalo Anda mau install lewat installernya AMD, masih ada tahapan lain.

Enable AMD Installation

Ini sebenarnya saya ga tahu logikanya darimana, untungnya nemu artikel yang ngebahas ini. Intinya, balik lagi ke folder ini: C:\AMD\Radeon-Crimson-16.7.3-Win10-64Bit\Config. Ada file namanya InstallManager.cfg. Buka pake text editor. Tambahin satu entry:

EnableFalcon=true

Untuk yang ini, saya sama sekali ga paham ini dapetnya darimana. Mungkin komunitas ngelakuin crosscheck antara installer Apple dan AMD? Entahlah.

Setelah itu, installernya bisa langsung dijalankan dengan cara biasa.

Troubleshooting & Notes

  • Windows 10 otomatis selalu pakai driver signature enforcement. Jadi kalau Anda restart, otomatis enforcementnya jalan lagi. Jadi kalau Anda mau install unsigned driver lagi, itu mesti didisable lagi.
  • Jika Anda terjebak di monitor mati, kayak saya. Jangan panik, tapi menangislah, karena mac Anda mesti diservice. Ahaha, becanda. Intinya Anda mesti mendisable driver tadi dan rollback. Tapi karena monitor Anda ga nyala, jadi Anda mesti ke Safe Mode Windows, biar monitor Anda pake default driver. Susahnya, ga jelas gimana caranya ke Safe Mode lewat Windows 10, apalagi di bootcamp, soalnya saya sendiri ga tahu caranya masuk BIOSnya Mac (emang ada ya?). Terus, boot Windows sendiri secara default emang cepet banget (apalagi di SSD), jadi kita g bakal sempet mencet F8 atau F-F lain. Nah, di kasus saya, solusinya cukup barbar. Jadi saya nyalain ke windows, hard shutdown (matiin komputernya barbar pake tombol power pencet yang lama), nyalain lagi, hard shutdown lagi. Terus sampe akhirnya saya masuk ke menu recovery (barusan sih cukup 2 kali hard shutdown), ini bakal ditawarin langsung ama Windows. Lalu saya set startup settings untuk booting ke Safe Mode. Lalu ke Device Manager, rollback display drivernya, terus didisable. Habis itu booting normal. Selanjutnya lanjutkan proses instalasi tadi.

Conclusion

Untuk ngecek apakah drivernya sudah diinstall atau belum, cek aja di Catalyst dan Device Manager. Contohnya saya yang sekarang:

driver-version

versi 16.7.3

Yang 16.9.2 ga diinstall soalnya itu Beta driver.

driver-version-2

cek driver version-nya

Nah ini Driver Versionnya mestinya nambah (update), dan Digital Signer-nya ga ada :v. Soalnya kan ga kita sign.

Nah sekian aja sesi kali ini.