Karain: Sebuah Kenangan karya Joseph Conrad

Karain: Sebuah Kenangan
Penulis: Joseph Conrad
Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Dalam Karain: Sebuah Kenangan, Joseph Conrad dengan mahir menenun permadani petualangan dan refleksi pribadi dengan latar belakang Kepulauan Melayu yang eksotis. Narasi ini disajikan melalui ingatan-ingatan yang terfragmentasi dari tokoh utama, Karain, sosok yang terperangkap di antara peradaban dan kekuatan primitif rimba.

Gaya khas Conrad ditandai dengan prosa yang kaya, menggugah, dan bernada kontemplatif menyuguhkan pembaca eksplorasi yang mendalam mengenai identitas, dislokasi budaya, dan momok kolonialisme yang menghantui. Kisah ini berfungsi sebagai memoar pribadi dan komentar yang lebih luas tentang kondisi manusia, yang mencerminkan konteks sastra akhir abad ke-19 yang bergulat dengan implikasi kerajaan dan modernitas.

Joseph Conrad, seorang penulis Polandia-Inggris, banyak mengambil inspirasi dari pengalamannya sendiri di laut dan di daerah kolonial, sering kali menggambarkan karakter yang dihadapkan pada dilema moral dan krisis eksistensial. Karain: Sebuah Kenangan mencerminkan keterlibatannya yang mendalam dengan tema-tema isolasi dan introspeksi, yang terinspirasi oleh perjalanannya di Asia Tenggara. Narasi ini sangat penting dalam karya Conrad, yang menjadi pertanda bagi karya-karyanya yang lebih terkenal di kemudian hari, seperti Heart of Darkness.

Penerbit: Diva Press, 2025, Kategori: Novel, Dimensi: 14 x 20 cm l Softcover,

Tebal: 84 hlm | Bookpaper

Berat:

200g

The Art of War karya Niccolò Machiavelli

The Art of War (Seni Perang)

Penulis: Niccolò Machiavelli

Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Sejarah mencatat bahwa sebuah negara hanya akan bertahan jika rakyatnya rela mengangkat senjata demi tanah airnya. Niccolò Machiavelli, pemikir besar dari Italia, menegaskan bahwa kekuatan sejati sebuah bangsa terletak pada rakyat bersenjatakan disiplin, bukan pada tentara bayaran yang rapuh. Baginya, militer adalah fondasi yang menjaga negara tetap tegak di tengah badai ancaman.

Bagi Machiavelli, peperangan adalah seni agung yang menyatukan taktik, strategi, dan keberanian. Ia menulis dengan keyakinan seorang pengamat tajam perang Italia: bagaimana benteng harus dirancang, bagaimana pasukan harus diatur, dan bagaimana politik selalu berdiri di balik setiap pertempuran. Dalam pandangannya, hanya negeri yang siap secara menyeluruh yang mampu bertahan hidup melawan gelombang ancaman dari segala arah.

Dan akhirnya, perang bukan sekadar pertempuran, melainkan instrumen politik dan ujian terbesar bagi peradaban. Machiavelli mewariskan gagasan bahwa bangsa yang disiplin akan tegak, sementara yang lengah akan runtuh. Di tengah dunia modern yang sarat konflik dan persaingan geopolitik, warisan pemikirannya tetap bergaung—sebagai nyala semangat juang, disiplin, dan strategi yang tak lekang oleh waktu.

Tebal: 256 hlm; 14×20 cm

Harga: Rp75,000 (belum diskon)

Update Informasi dan Pemesanan Buku:

➡www.divapress-online.com

➡0818-0437-4879 (Anita)

SEJAUH MANA TUGAS PENERJEMAH? oleh Sori Siregar


(Kompas, 2 September 2001)

Prinsip penerjemahan adalah memindahkan arti (makna) dari satu bahasa ke bahasa lain. Seorang penerjemah dapat saja terlebih dulu membuat terjemahan kasar dan kemudian membacanya kembali. Setelah itu ia harus membandingkan hasil terjemahannya dengan naskah dalam bahasa aslinya.

Perbaikan biasanya dilakukan pada tahap ini. Kecermatan untuk membandingkan hasil terjemahan dari bahasa asli ke bahasa tujuan sangat diperlukan oleh seorang penerjemah. Hanya dengan demikian akurasi dapat dipertahankan. Selain itu seorang penerjemah hanya bertugas menerjemah. Ia tidak me- miliki otoritas untuk mengedit (menyunting), kecuali atas kesepakatan dengan penulis yang karyanya diterjemahkan.

Inilah yang tidak saya temukan dalam Beautiful Eyes yang diterjemahkan Rebecca Fanany dari Cerpen Pilihan Kompas 2001, Mata Yang Indah. Saya belum membaca keseluruhan terjemahan cerpen dalam Beautiful Eyes, tetapi saya telah menemukan beberapa kesalahan fatal. Rebecca ternyata bukan hanya melakukan kesalahan dalam penerjemahan tetapi juga mengangkat dirinya sebagai penyunting dan melakukan penyuntingan yang merusak keutuhan cerita.

Saya ambil contoh dari cerpen saya sendiri Krueng Semantoh. Dalam menerjemahkan frasa perkebunan kelapa sawit Rebecca tidak berpegang kepada konsistensi. Dalam Beautiful Eyes frasa tersebut diterjemahkan dengan oil palm plantation (hal 49) dan palm oil plantation (hal 52).

Kesalahan berikut terjadi lagi pada kalimat perintah yang datang tetap saja mengharuskan kekerasan dan kekejaman itu (hal 59). Rebecca menerjemahkan ini menjadi every new government continues to demand violence and cruelty.

Setelah itu Rebecca bertindak sebagai penyunting. Kalimat- kalimat berikut dihilangkan begitu saja. “Sebagian besar ceritaku itu benar. Hanya alasan pemecatanku yang kukarang sendiri, paling tidak kuperlunak. Keadaannya sebenarnya sangat bertolak belakang”. Kalimat yang terdapat pada halaman 65 dalam bahasa Indonesia ini tidak muncul dalam terjemahan bahasa Inggris di halaman 56.

Kemudian Rebecca dengan sedapnya (meminjam kata-kata Sutardji Calzoum Bachri) melakukan penyuntingan terhadap dua alinea yang lumayan panjang di halaman 66. Kalimat-kalimat berikut menguap entah kemana. “Komandan kami yang baru pindah dari Jakarta, sangat berang dengan operasi yang aku lakukan. Setelah memakiku habis-habisan aku dikurung dalam tahanan. Setelah itu polisi menjemputku dan mengurungkan lagi dalam tahanan mereka. Setelah diproses aku diajukan ke pengadilan militer, dipecat dan dijatuhi hukuman kurungan satu tahun.”

Parlagutan menghentikan kisahnya ketika sebuah truk yang penuh dengan tandan kelapa sawit lewat dengan suara gemuruh di jalan tanah berpasir.

Seharusnya kalimat-kalimat di atas muncul di halaman 56 terjemahan bahasa Inggris. Rebecca selanjutnya dengan rajin menyunting lagi kalimat-kalimat berikut: Sahat mengangguk. Parlagutan merasa lega karena ia merasa sahabatnya memahami keadaannya dan bersimpati kepadanya. Dan, mata sahabatnya itu tak perlu lagi digayuti berbagai tanya. Pada saat yang sama Sahat terperanjat karena pancingannya terlalu cepat membuahkan hasil.

Seharusnya kalimat-kalimat tersebut muncul di halaman 57 terjemahan bahasa Inggris. Ketika saya membaca tulisan Alois A Nugroho tentang cerpen-cerpen pilihan Kompas ini, saya menemukan kembali kesalahan dalam terjemahan. Alois menulis: Sori Siregar dalam “Krueng Semantoh” dan Martin Aleida dalam “Elegi untuk Anwar Saeedy” berkisah tentang kekerasan yang dialami orang Aceh, hanya cerpen kedua itu terasa lebih subtil.

Rebecca menerjemahkan kalimat tersebut dengan: Sori Siregar in “Krueng Semantoh” and Martin Aleida in “Elegy for Anwar Saeedy” describe the violence experienced by the people of Aceh, but these two stories are subtler.

Dengan beberapa kesalahan terjemahan yang mengganggu dan penyuntingan yang merusak keutuhan cerita pada cerpen saya dan tulisan Alois A Nugroho ini, saya khawatir akan banyak ditemukan kesalahan pada kelima belas cerpen yang terhimpun dalam kumpulan ini. Sebagai penulis tentu saja kecewa dengan karya terjemahan dosen bahasa Indonesia di Uni- versitas Deakin, Australia ini. Apalagi ia dikenal sebagai penerjemah profesional sejak 1981.

Namun, saya tidak serta merta menimpakan kesalahan kepada Rebecca Fanany. Mungkin saja karena keterbatasan waktu yang diberikan Kompas kepada penerjemah ini, dengan karya yang begitu banyak, Rebecca terpaksa melakukan terjemahannya dengan terburu-buru. Karena alasan itu pula ia menunjuk dirinya sekaligus sebagai penyunting untuk mempercepat tugas yang dibebankan kepadanya. Saya mendapat kesan ia juga tidak berkesempatan membandingkan naskah asli cerpen-cerpen dalam kumpulan ini yang ditulis dalam bahasa Indonesia dengan hasil terjemahannya dalam bahasa Inggris, sehingga unsur akurasi terabaikan.

Kalau selama ini banyak keluhan terdengar tentang kualitas terjemahan tulisan dari bahasa asing (khususnya Inggris) ke bahasa Indonesia, kini kita menemukan terjemahan yang mengecewakan dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris.

Niat baik Kompas menerbitkan cerpen-cerpen pilihan ini dalam dua bahasa sebenarnya patut mendapat pujian. Sayangnya niat baik itu tidak didukung oleh profesionalisme yang diharapkan dari seorang penerjemah.

◆ Sori Siregar, sastrawan.

Sumber: Kompas, 2 September 2001

Kematian Ivan Ilych karya Leo Tolstoy

NOVEL KEMATIAN IVAN ILYCH

Penulis: Leo Tolstoy
Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Penerbit Divapress Yogyakarta, Juli 2025

Ivan Ilych memiliki segalanya yang tampak ideal: posisi terhormat di pengadilan, rumah megah yang ditata dengan selera tinggi, keluarga yang terjaga penampilannya. Hidupnya mengalir tenang dan teratur, seperti diharapkan masyarakat dan dirinya sendiri. Namun, ketika rasa sakit yang samar berubah menjadi vonis sekarat, semua yang pernah ia anggap penting berubah jadi bayang-bayang. Di tengah pesta sosial, promosi jabatan, dan obrolan basa-basi, ia sendirian menghadapi sesuatu yang tak bisa dinegosiasikan: kematian yang datang bukan sebagai kejutan, melainkan sebagai penyingkap.

Lewat kisah yang jernih, jenaka sekaligus mengguncang, Leo Tolstoy mengajak pembaca menelusuri lapisan-lapisan ilusi dalam hidup yang “wajar” dan “berhasil.” Kematian Ivan Ilych menyelinap ke titik paling sunyi dalam diri manusia—tempat kita menyimpan rasa takut, keraguan, dan pertanyaan yang terlalu lama ditunda. Di halaman-halamannya yang ramping namun bernapas panjang, kita diajak menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa diwakilkan siapa pun: Apakah hidup ini sungguh hidup? Dan bagaimana kalau segalanya—karier, keluarga, pertemanan—ternyata hanya dekorasi untuk kehampaan yang dalam? Sebuah karya yang menohok dan memantulkan bayangan kita dengan cahaya yang sangat jujur, terus menggema bahkan setelah halaman terakhir ditutup.

Tebal: 104 hlmn; 14 x 20 cm
Harga: Rp50,000 (belum diskon)

Update Informasi dan Pemesanan Buku:
➡www.divapress-online.com
➡0818-0437-4879 (Anita)

Kontrak Sosial karya Jean-Jacques Rousseau

Judul : Kontrak Sosial: Prinsip-Prinsip Hak Politik
Penulis : Jean-Jacques Rousseau
Penerjemah : Slamat P Sinambela
Penerbit : IRCiSoD
Tahun terbit : 2025
ISBN : 978-634-7157-45-4
Halaman : 236 halaman (Ukuran 14 x 20 cm)

Jean-Jacques Rousseau mengajak kita menelusuri kembali fondasi masyarakat dan otoritas politik. Dengan argumen yang tajam dan provokatif, Rousseau membuka mata kita tentang kehendak umum dan bagaimana kedaulatan rakyat menjadi kunci kebebasan sejati, bukan hanya ilusi.

Buku ini bukan sekadar risalah politik, melainkan refleksi tentang dilema antara kebebasan individu dan tuntutan sosial. Rousseau menawarkan konsep filsafat politik tentang bagaimana sebuah negara bisa menjadi wadah bagi warga negara yang benar-benar bebas, yang mematuhi hukum karena hukum itu adalah manifestasi dari kehendak mereka sendiri.

Dari konsep pemerintahan yang ideal hingga pertanyaan tentang keadilan dan hak, setiap halaman buku ini mengajak kita berpikir kritis dan menantang asumsi kita tentang kekuasaan. Selami pemikiran revolusioner Jean-Jacques Rousseau dan terjawablah mengapa karyanya tetap relevan hingga kini dalam membentuk pemahaman kita tentang negara, warga negara, dan arti sejati dari sebuah kontrak sosial.***

Harga: Rp70.000 (belum diskon)
Update Informasi dan Pemesanan Buku:
http://www.divapress-online.com
0818-0437-4879 (Anita)

Kematian Ganda Quincas Water-Bray karya Jorge Amado

Kematian Ganda Quincas Water-Bray karya Jorge Amado

Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Editor: Tia Setiadi

Penerbit: BasaBasi, Yogyakarta: 2025

Tebal: 90 halaman

Bahkan hingga hari ini, masih tersisa kebingungan seputar kematian Quincas Water-Bray. Keraguan untuk dijelaskan, detail yang absurd, kontradiksi dalam kesaksian para saksi, perbedaan yang beragam. Tidak ada yang jelas tentang waktu, tempat, dan kata-kata terakhir darinya. Keluarga, yang didukung oleh tetangga dan teman-teman, tetap bersikukuh dengan versi kematian damai mereka di pagi hari, tanpa saksi, bukti, atau pesan terakhir, yang berlangsung hampir dua puluh jam sebelum kematiannya yang lain.

Above Life’s Turmoil (Pedoman Menjalani Hidup yang Tak Sesuai Keinginan)

Judul: Above Life’s Turmoil (Pedoman Menjalani Hidup yang Tak Sesuai Keinginan)
Pengarang: James Allen
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 978-623-189-585-1
Tebal: 108 hlm.
Jenis Cover: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Tahun: 2025 (Januari)
Ukuran: 14×20 (cm)

Kita tidak selalu dapat mengubah hal-hal di luar diri ini, atau membentuk orang lain seperti yang kita inginkan, atau mengubah dunia sesuai pikiran kita. Namun kita dapat mengubah hal-hal dalam diri sendiri, membentuk diri ini untuk menyukai orang lain, melatih pikiran dengan kebijaksanaan, dan membuat diri berdamai dengan dunia luar, manusia dan peristiwa-peristiwa. Gangguan dari luar mungkin tidak bisa dicegah untuk datang, namun gangguan bagi pikiran selalu dapat kita atasi. Tugas dan kesulitan hidup menyita perhatian, namun kita dapat melampaui semua kecemasan tentangnya. Dikelilingi oleh suara bising, kita masih dapat memiliki keheningan untuk berpikir, ketika dibebani tugas berat, hati masih bisa beristirahat, dan di tengah keributan, kita dapat tetap tenang. Dua puluh bab dalam buku Above Life’s Turmoil ini, kendati beberapa di antaranya tidak berkaitan, akan menjadi harmoni bagi roh kita, membuat siapa pun yang membacanya akan memiliki pengenalan diri yang tinggi sehingga dapat mengendalikan diri dengan baik. Akibatnya, kita dapat naik mengatasi gangguan dunia, meraih puncak tempat keheningan surga memerintah

Revolusi Keuangan Anda: Kekuatan Istirahat

Judul: Revolusi Keuangan Anda: Kekuatan Istirahat

Penulis: Gary Keesee

Penerjemah: Slamat P. Sinambela

Penerbit: Gary Keesee Ministries, USA, 2024

Sang Dionysus – Friedrich Nietzsche

Judul: Sang Dionysus
Pengarang: Friedrich Nietzsche
Penerjemah: Slamat P. Sinambela
Penerbit: DIVA Press
ISBN: 978-623-189-384-0
Tebal: 108 hlm.
Jenis Cover: Soft Cover
Bahasa: Indonesia
Tahun: 2024
Ukuran: 14×20 (cm)

Ketika Nietzsche berbicara mengenai dunia sebagai fenomena estetika, dia tidak sedang berbicara tentang dunia yang ada untuk dipersepsi manusia. Sebaliknya, dunia adalah estetika dalam perkembangannya, dengan cara yang tidak dapat dibatasi atau sepenuhnya terkandung oleh pengalaman manusia. Keberlebihan estetika inilah yang dipahami oleh visi Dionysian atas dunia.

Pembahasan pandangan dunia Apollonian dan Dionysian menunjukkan cara Nietzsche memahami dunia, sifat manusia, moralitas, dan agama. Setelah itu, kita akan menyadari bahwa ungkapan Nietzsche yang paling populer, “Tuhan sudah mati”, tidak muncul begitu saja di kemudian hari. Ide anti-agama ini selalu berkembang dan tumbuh di benak Nietzsche … sejak ia menulis esai ini, atau bahkan jauh lebih awal.

Bisa dipesan di sini: https://tokopedia.link/4ZMvI1rQaLb

Strategi di dalam Dunia Penerjemahan

Atas budi baik Bapak Dr. Raden Arief Nugroho, Dekan FIB Udinus, saya dan Mas Kariadi, penerjemah dan dosen Unsoed, berbagi soal dunia penerjemahan di Udinus.

« Older entries

Design a site like this with WordPress.com
Get started