“Sebentar..” kata orang itu sambil pergi kedalam rumah. Sementara saya hanya duduk di pelataran rumah nya. Sesaat orang itu datang kembali dengan membawa secangkir kopi, saya tidak ditawari oleh nya.
“Jadi masa depan itu apa?” Ia bertanya pada saya sambil duduk dan menyalakan sebatang rokok. Saya tidak ditawari lagi, kali ini saya memang tidak berharap untuk ditawari dan berharap asap rokok itu terbawa angin menjauh dari lubang hidung saya.
Saya berpikir keras.
Lama.
Saya menyerah.
“Masa yang akan datang.” jawab saya. Sesaat pikiran saya merasa nyaman setelah melepas beban dengan menjawab seadanya.
“Seperti apa?” Ia berbicara begitu tenang, seolah memindahkan beban ke kepala saya melalui pertanyaan itu.
Asap rokok terus mengepul.
Saya berpikir keras.
Lama…
Saya menyerah.
“Keadaan yang lebih baik.” saya melepas beban itu walau menjawab dengan sedikit keraguan.
Rokok ia hisap kembali, lalu ia hembuskan nikotin dan racun lainnya ke udara. Saya was was asap itu terhirup oleh hidung saya.
“Seperti apa?” lagi-lagi ia memberi beban kepada pikiran saya.
“tidak tahu.” saya menolak menyimpan beban itu terlalu lama.
“Jadi apa kamu punya masa depan?”
Saya berpikir..
“Punya..masa depan itu ada tapi saya tidak tahu” jawab saya.
“Berarti kamu tidak punya masa depan dong?”
Saya berpikir..
“Punya..masa depan itu hanya masalah waktu, keadaan nya seperti apa saya tidak tahu. Manusia tidak akan pernah ada yang tahu” Saya yakin dengan jawaban saya.
Ia tersenyum. Asap masih mengepul.
“Kalo saya, saya tidak punya masa depan” kata orang itu.
Saya heran.
Saya berpikir.
“Kenapa?” tanya saya.
“Saya tidak tahu masa depan saya seperti apa, maka saya hanya hidup untuk hari ini saja. Saya tidak mengkhawatirkan tentang masa depan saya.” kata orang itu
Saya tidak merasa mendapat beban, saya berpikir hanya karena penasaran oleh pernyataan orang itu. Tidak ada yang salah dengan pernyataan orang tersebut menurut saya. Saya pun tidak berniat untuk membantahnya, hanya menyimpan nya dalam memori yang akan saya buka dirumah nanti.
..
…
…..
“Saya sering disebut aneh oleh teman-teman” lagi-lagi orang itu membuat saya penasaran dengan pernyataan nya.
“Tidak masalah, saya juga terkadang merasa menjadi orang aneh jika dibenturkan oleh pola pikir dan prinsip orang lain. Perbedaan itu biasa, setiap orang itu pada dasarnya unique hanya terkadang mereka tidak tahan untuk menjadi diri sendiri. Mereka kebanyakan mengikuti pola pikir orang-orang kebanyakan. Mereka tidak tahan untuk menjadi diri sendiri mereka takut tidak diterima ditengah-tengah orang banyak dengan menjadi diri sendiri. Kasihan..” Saya merasa perlu untuk menghibur kalimat yang baru saja ia katakan.
Ia masih duduk dengan tenang nya, kali ini ia teguk air kopi nya. Sementara asap masih saja mengebul dari rokoknya. Perbincangan kali ini berlanjut, ia menceritakan kisah hidup nya.
Pahit.
Keras.
Saya benar-benar bisa merasakan kata “struggling” dari apa yang ia ceritakan tentang hidup nya.
..
…
Malam berganti dini hari. Pukul 03.30, saya pamit pulang. Motor saya nyalakan, tancap gas. Merasa bahwa apa yang saya perbincangkan sedikit aneh dan tidak biasa, lama sekali. Namun harus diakui cukup membuka pikiran saya.
“Jangan takut hidup, kalo takut mending mati saja” orang itu meng-analogikan dengan ekstrim nya.
Saya hanya tersenyum, tidak merasa harus mati. Karena saya merasa hidup saya tidak dalam ketakutan, saya bahkan tidak sabar menyambut yang akan datang, tapi tetap menikmati hari ini. Perbincangan yang aneh.
~~~~