Cerpen : Pulang
“Keluarga adalah tempat kita kembali pulang dari pengembaraan kehidupan. Seburuk apa pun yang pernah terjadi, rasa cinta dalam keluarga akan meluruhkan segalanya. Cinta kasih dalam keluarga harus erat terbina, agar anak-anak dapat hidup bahagia
Puisi : Munajatku
*Munajatku*
by: Laila Desvitha.
Tuhanku
tersungkur aku di kaki-MU
menangis aku dalam dekap-MU
dalam bait-bait irama cinta
yang KAU tulis dalam surat cinta-MU.
Tuhanku,
menggelepar aku
dalam noda yang memasung jiwa.
Basuh aku
dengan senyum indah-MU.
Hapus air mataku,
dengan tangan suci-MU.
Tuhanku,
biarkan aku bergelayut di lengan-MU
bermanja dengan belaian-MU
Dalam munajat cintaku
dalam rinduku pada-MU
bawa aku
dalam cinta-MU.
******* 110214_Jkt*******
*Diamku*
*Diamku*
by: Laila Desvitha.
Jangan tanya aku tentang kata
kataku telah hilang dibalik malam.
Jangan tanya aku tentang kata
kataku telah hanyut bersama air mata.
Diamku
adalah lukisan yang tak berwarna.
Diamku
adalah cakar yang mencabik kelembutan mimpi.
Diamku
adalah darah yang mengairi luka
luka dari rindu dan dendam
yang terkubur
dalam nestapa yang terlanjur.
*******Jkt,8514*****
Hilang
*Hilang*
by.Laila Desvitha.
Aku berdiri
di ambang batas sepi.
Hari pun berlari
pergi tanpa permisi.
Aku melangkah
mengikuti arah
dan terhenti pada titik sepi.
Titik sepi
disaat hilang merambati jalan ini.
Hilang
senyum yang terang.
Hilang
mimpi-mimpi yang datang.
Hilang
kaki-kaki kecil yang selalu menari di atas kerikil tajam.
Hilang
hembusan angin yang menyejukkan.
Hilang
lukisan waktu yang telah ku goreskan.
Hilang
gegap gempita cinta yang berkobar.
Hilang
cahaya kristal yang gemerlapan.
Hilang
nyanyian merdu yang melenakan.
Hilang, redup dan tenggelam.
Jejak-jejak kaki pun akan terhapuskan.
Hanya satu yang masih tergenggam
Asa ku padaMU
Tuhan.
Dalam Sepi

*Dalam Sepi*
by: Layla Desvitha.
Disini
biarkan aku bersembunyi
mengunci diri
dari hingar bingar rayuan kehidupan.
Disini
kubenamkan ego diri
dalam asa tanpa daya
yang mematri semua mimpi.
Disini
kulihat potret diri
yang kemarin selalu menari
yang kemarin tertawa mengejar mimpi
yang kemarin tergelincir
hingga jiwa ini terkilir.
Disini
dalam sepi memasung diri
terlena
dalam luka yang terlunta-lunta.
Akh
bumi yang sembab pun telah menguap
lelah menuai basah
dari percikan hujan yang mengguyurnya
dari percikan air mata yang tersisa
dari percikan peluh yang meluluhkan jiwa.
Disini
dalam nyanyi sepi
berkecipak irama diri
dalam helaan nafas panjang
dalam jiwa yang telanjang
kutanggalkan segala pembungkus
yang telah meringkus
hingga asapun nyaris pupus.
Duh Rabku
terimalah seonggok jiwa
yang tak berdaya
yang hanya punya satu asa
pada-MU
pada-MU
titik terakhirku.
***150314***
Puisi : Langkah Malam
*Langkah Malam*
by : Layla Desvitha.
Langkah-langkah malam
tertata suram
beriring lagu merdu gerimis yang mengiris.
Dingin merayap
halus mengelus.
Angin menari-nari
mengarak sepi.
Desah resah mengeluh payah.
Degup sesal
memompa darah ke penjuru arah
ingin rasa mengucurkannya
agar kering segala racun
dari dosa yang tersusun.
O,
pemompa kehidupan
alirkan kembali darah segar di tubuh ini
yang bersih dari racun-racun
yang mengotori jiwa yang limbung.
Bersama langkah malam
berpadu gerimis dan desir angin yang harmonis.
Dalam selimut dingin
berkumul getar dari sesal
atas dosa-dosa yang menggelepar
dalam jiwa yang terkapar.
Puisi : Sujudku
*Sujudku*
by : Layla Desvitha
Sembahyangku
sembahku
nyanyiku
sujudku
pasrahku.
O,
penggenggam hidupku
aku datang
aku datang dengan hinaku
aku datang dengan pengaduanku
aku datang dalam air mataku
aku datang dengan detak sesalku
aku datang dengan denyut dosaku.
Wahai
aku datang dalam sujud piluku
aku bersimpuh dalam pasrahku.
Rabku
Rabku..
kubenamkankan gundah gelisahku
dalam air mata sesalku
rinduku
rinduku
dalam sujudku pada-MU
*******
Jkt, diujung malam
090114
Puisi : Cahaya
*Cahaya*
by: Layla Desvitha.
Tuhanku
aku terdiam dalam getarku
aku terkapar dalam gelisahku
aku terkurung dalam gelapku.
Duh Tuhan
dalam tempatku kini berpijak
kulihat jejak-jejak yang kini membuatku penat
tanpa aku bisa menangkap
aku terjerembab dalam gelap.
O sumber cahaya
berikan sekerlip cahaya-MU
mandikan tubuh dekil ini dengan cahaya indah-Mu
sirnakan dahaga ini dengan kesejukan cinta-Mu.
cahaya
cahayaku yang telah padam terangkanlah
jangan KAU biarkan aku kembali dalam gelap yang pekat.
Cahaya
aku butuh cahaya itu
agar aku tidak salah arah
menuju cinta-MU
O Tuhanku
tiada cahaya seagung cahaya-MU
terangi hidupku
dengan cahaya petunjuk-MU
Senyum Sahabat
Senyum Sahabat
by : Layla Desvitha.
Detak-detak jam menyeret waktu
lambat dan bergumam risau
Ah,
gambaran di titik itu
menggurat senyumku
disaat lincah dan riang kaki ini menapaki hari
dengan gurauan nakal sang mentari
serta lenggang riang sahabat-sahabatku
yang selalu menemaniku menari bersama sang waktu.
Detak jam kembali bergumam
di angka yang sama
di tanggal yang serupa.
Ah,
lamunku hilang
aku termangu sendirian
tak ada lagi gurauan nakal mentari
hanya kerlingan bintang yang jauh di ujung hari.
Dan di ekor mata ini
berbulir kristal yang meleleh dipipi
O
air mata sepi,
tak ada yang mengingatku lagi.
Dimana senyum sahabatku kini?
Dalam sedu pilu
kudengar kembali nyanyian itu
pelukan hangat sahabat-sahabatku
dengan setangkai doa di tanganmu
dan senyum tulus yang selalu kurindu
penguat lemahku.
Senyummu sahabatku
adalah kado terindah di pengulangan hariku
syukurku pada-MU
O Tuhanku.
Karena cinta-MU
terbitkan cinta mereka
untukku.
***********
20122013 (sweet moment on birthday)
Puisi : Nyanyian Gerimis
*Nyanyian Gerimis*
by : Layla Desvitha.
Bergayut pada lengan malam.
Bermanja dalam dekapan angin yang dingin.
Rintihan gerimis mengiris
miris.
Menderu
pilu.
Dalam dekapan malam,
nyanyian gerimis mendayu merdu
beriring irama angin yang dingin
mendeklamasikan misteri malam.
O,
dimana aku dalam misteri ini.
Dalam nyanyian gerimis
yang meluluhkan tangis.
Dalam pelukan malam
yang melenakan
aku hanya terpaku
membeku
dalam dingin
yang menggerus semua ingin.
Bergayut pada lengan malam
menikmati nyanyian gerimis yang manis.
Segala pinta dan asa
tertahan dalam nafas yang lelah.
*********
Jakarta, 19122013



