Hannover Messe Experience: Mengamati Kondisi Terkini Dunia Industrial Robot
May 5, 2016 2 Comments
Pada tanggal 18-29 April lalu, saya berkesempatan untuk menghadiri pameran teknologi industri terbesar di dunia, Hannover Messe 2016, di Hannover, Jerman. Event ini diadakan setiap tahun dengan tema yang berganti-ganti. Kali ini temanya adalah seputar revolusi keempat di dunia industri, sering disebut dengan istilah Industry 4.0. Intinya adalah pergantian filosofi manufaktur dari mass production menjadi mass customization. Visinya, di masa depan nanti setiap unit barang yang dipesan dapat dimodifikasi sesuai keinginan pembeli tanpa mempengaruhi harga dan waktu produksi. Dapat dibayangkan bahwa infrastruktur yang perlu dibangun untuk mewujudkan visi ini antara lain internet of things, network security, big data management, etc.
Pengalaman pertama saya di Hannover Messe (dan Jerman) cukup spesial karena tujuan saya ke sana adalah untuk mengikuti kompetisi KUKA Innovation Award 2016. Kompetisi yang membawa 6 tim dari universitas yang berbeda ini disponsori oleh perusahaan robot ternama asal Jerman, KUKA AG. Setiap tim dipinjamkan robot terbaru mereka, LBR IIWA + flexFELLOW, selama 4 bulan untuk kemudian diprogram mendemonstrasikan aplikasi yang bermanfaat untuk dunia industri. Tim saya (KU Leuven – Buddybot) mempresentasikan automated kitting process – terinspirasi dari studi kasus di pabrik Audi, Brussels. Setelah melalui perjuangan yang cukup melelahkan, sayang tim kami (KU Leuven) tidak berhasil menang. Meskipun demikian, saya masih dapat pembelajaran dan pengalaman yang tidak kalah berharga dari mengikuti event ini.

Menjelaskan cara kerja robot kami ke pengunjung
Kembali ke topik utama yang relevan dengan judul. Selama di sana, saya menargetkan diri untuk mengamati kondisi dunia robotika di sektor manufaktur. Tujuannya, untuk mengamati state-of-the-art teknologi industrial robots, mempelajari pemain-pemain yang ada saat ini, dan mencari celah dimana riset PhD saya dapat diaplikasikan. Dari pengamatan selama dua minggu, saya mengambil kesimpulan bahwa diukur dari kadar inovasi, ada 4 kategori perusahaan yang bermain di dunia industrial robot saat ini. Di level paling atas ada perusahaan-perusahaan besar seperti ABB dan KUKA yang terus melakukan inovasi. Perusahaan seperti ini sudah memiliki roadmap bisnis yang jelas, produk robot yang teruji dan mulai berfokus untuk membangun sistem menyambut Industry 4.0. Satu level di bawahnya ada perusahaan-perusahaan start-up seperti Rethink Robotics dan KBee AG yang memamerkan produk inovatif, namun mereka sepertinya masih berfokus ke inovasi di level robot itu sendiri (membuat robot yang lebih murah, mudah diprogram, safe, dll). Satu level lagi di bawahnya ada perusahaan-perusahaan besar seperti Staubli dan Kawasaki Robotics yang cenderung masih memamerkan produk robot yang sama. Perusahaan jenis ini hanya sedikit berinovasi sehingga terlihat agak ketinggalan. Terakhir, di level terendah ada perusahaan yang tidak terlihat inovatif sama sekali. Malahan, produknya terlihat seperti hanya meniru perusahaan lain. Sebagai contoh, ada perusahaan yang memamerkan robot yang benar-benar mirip robot ABB seri IRB. Bisa ditebak perusahaan ini biasanya berasal dari Cina.

Robot dari Cina yang mirip ABB
Setelah mengamati kondisi dunia industrial robot, satu pertanyaan yang saya sering renungkan adalah: Jika ada perusahaan start-up Indonesia (sebut saja PT. X) yang bercita-cita menjadi perusahaan yang reputable dan inovatif di bidang teknologi industri, harus mulai dari manakah? Jujur sulit sekali untuk berinovasi dan menciptakan produk yang baru tanpa menguasai state-of-the art dari teknologi saat itu. Inovasi itu menurut saya hanya dapat dicapai ketika suatu perusahaan sudah memiliki know-how yang jelas dari permasalahan yang ada di industri sehingga mereka bisa memprediksi future trend dan cara mencapainya. Lagi-lagi contoh kasusnya KUKA dan ABB. Dua perusahaan ini sudah memiliki sejarah yang panjang di dunia robot industri sehingga bukannya memprediksi tren, malah mereka yang membuat standard-standard baru. Rasanya bahaya sekali kalau PT. X memulai inovasi melalui cara coba-coba dan eksplorasi. Bisa-bisa bangkrut duluan sebelum bisa merilis produk yang sukses. Saya rasa ini alasannya kenapa perusahaan robot asal Cina (kebanyakan) cenderung play safe dan meniru produk perusahaan lain. Terus akhirnya PT. X harus gimana? Harus jadi kayak perusahaan peniru dulukah? Sekarang tiru dulu baru nanti kalau sempat bikin yang inovatif.
Oiya, selama dua minggu di Hannover Messe saya saya tidak melihat satupun perusahaan Indonesia. Ketika saya cari di database tidak ada entry Indonesia terlihat di informasi negara asal. Cukup mengherankan mengingat Indonesia sedang cukup giat meningkatkan sektor manufaktur. Saya ingat ada beberapa perusahaan Indonesia di event serupa, Cebit, namun dengan fokus di bidang IT. Sepertinya untuk teknologi manufaktur masih belum banyak pemainnya di Indonesia. Hehe..
Leuven, 5 Mei 2016
Yudha Pane









