Hello, there! It’s the end of year 2014

•December 14, 2014 • 5 Comments

It’s been like a million years I haven’t post on this blog! Nope, it’s only about 2 years, hehe. And now is already the end of year 2014!

Well I have been busy. I’m working in the office, many events, I fell in love more and more to music. I’m taking vocal course (and I’m a vocalist in the band. Well I was too in my university years) and I’m learning to play piano too and sound editing self-taught (and still learning). You can visit my Soundcloud page, I post many songcovers there and some of them are requests from friends. And… I feel like I’m writing many grammatical errors in this post and my fingers have been stimulated only by piano/keyboard keys in these 2 years and I feel like I can not write anymore. Bwahahaa…! There are many chords and tasks and music theories in my head right now and I almost forgot how to write and access this WordPress blog hehe.

Well, just sharing some experiences. Hope I will continuingly write in this blog next time. Thank u for reading.

Peace for the world.

Relationship (Again) and Financial Security

•December 23, 2012 • Leave a Comment

Saat ini, jujur, aku sedang ingin menjauh dari pria. Aku ingin menjauhi dunia percintaan dan lebih memilih untuk masuk goa, menyendiri, dan bertapa. Hahaah… Bertapanya versiku mungkin ya dengan menulis, fokus ke karier, cari uang n nabung yang banyak, dan kembali produktif dengan kegemaranku seperti fitness, nonton DVD (males ke bioskop… Seringnya nemuin orang pacaran mulu), musik dan baca-baca buku/novel/artikel/majalah. Setidaknya untuk beberapa bulan ke depan.

            Pacaran itu menyakitkan ya, apalagi kalo pake dikhianati segala. Aku pengennya penjajakan sebentar terus langsung nikah aja deh. Lebih banyak merasa kecewa dan dikecewakan soalnya. Risiko pacaran memang begitu, harus siap untuk disakiti. Galau? Hahaah… I’m thinking logically n realistic right now. Cinta itu butuh modal-materi-pengorbanan. So, aku mulai mengesampingkan masalah perasaan sekarang. Paling ya imbasnya adalah menulis, menulis, dan menulis. Menulis itu sehat, kawan!

            Dari beberapa pengalaman dan melihat teman-teman pria, aku suka heran sendiri. Entahlah, mungkin karena usiaku yg sudah late 20’s, di umur segini sih aku sebagai wanita sudah tidak mau buang waktu untuk pacaran main-main ya. Wanita yang berpendidikan dan punya penghasilan, mandiri secara finansial, pastilah akan mencari sosok yang jauh lebih dewasa dan jauh lebih mandiri secara finansial. Meski pernah juga aku berada pada fase di mana aku dibutakan oleh cinta dan nyaris sulit berpikir secara realistis dan logis. Sekarang aku mulai memperbaiki diri, mengambil hikmah dari pengalamanku tersebut, dan lebih bijak dalam menghadapi kehidupan. Aku percaya semua akan indah pada waktu-Nya. Sambil menyambut waktu itu daripada buang waktu untuk melakukan hal yang mendekati dosa, lebih baik memperbaiki diri, tingkatkan skill, perbanyak doa dan ibadah, cari uang yang banyak. Itu logis dan realistis. Be logic. Kalo kata temenku: better painful truth from brain rather than sweet lies from heart.

            Oh ya, kembali lagi, mengenai teman-teman pria. Mungkin mereka (pria Indonesia, menurut survei) baru siap untuk settle di usia 30-an ya. Kalo yang sebayaan terkadang ngga dewasa juga gaya pacarannya. Ego masih tinggi, pengennya mesra-mesraan melulu, pengennya diemong, nongkrong n have fun aja, take and give ngga balance, ngga mau rugi, jarang mau keluar uang. Bikin ribet yang ada. Guys, please. Tolong dibedakan antara cuma suka dengan ingin komitmen. Kalo cuma suka aja sih kalian ngga perlu keluar uang, ngga perlu modal. Tapi kalo ingin komitmen, ya… Kalian pria, kalian harus mau keluar uang. Maaf kata, ini realistis. Kami bukan cewe matre. Tapi bukan pula cewe murahan. Seperti kata-kata inspiring dari Mario Teguh:

            “Wanita itu very smart. Dia menuntut Anda untuk menjadi laki-laki hebat−bukan untuk dirinya, TERUTAMA untuk Anda dan anak-anaknya. Apakah Anda memilih wanita yang tidak malu mempunyai suami atau calon suami yang tidak berencana menjadi apa-apa?

            “Anda tidak mungkin berhasil menarik perhatian wanita seperti itu dengan menjadi laki-laki yang tidak menjanjikan kehidupan yang baik, yang mapan, dan yang penuh dengan dinamika yang menumbuhkan dan membahagiakan. Karena dia berkualitas adanya. Jika Anda mengatakan dia matre, itu karena ketidak-ikhlasan Anda untuk menerima bahwa cinta dan keluarga membutuhkan biaya pemeliharaan dan pertumbuhannya.

            “Sudahlah, jangan hidup sibuk menuntut wanita untuk mau diajak susah. Hiduplah sepenuhnya menjadi lelanage jagad, laki-lakinya dunia, yang membanggakan orangtua, istri dan anak-anak.”

            Begitulah, mereka seringkali sulit diminta untuk mau berubah. Ya itu kan padahal untuk diri mereka sendiri pada akhirnya. Biasanya mereka baru mau berubah ketika giliran mereka mengalami sakit hati atau ada suatu kejadian akhirnya yang menyadarkan mereka untuk akhirnya mau berubah dan memperbaiki diri. Ah, entahlah… Bapak-bapak yang udah umur 40 tahunan aja bisa ada istilah puber ke-2 ya…

       Well, anyway, kesimpulannya adalah cinta dan komitmen itu membutuhkan biaya pemeliharaan dan keamanan finansial.

            Peace for the world.

Relationship – Marriage – Financial – Many Things

•November 9, 2012 • Leave a Comment

Recently plenty of thoughts in my head and I’ve decided to back to write again. Sekalipun pekerjaan di kantor menggila, aku akan mencoba menyempatkan diri untuk menulis. Entah  kenapa, aku tetap merasa menulis (dan musik!) selalu menyelamatkan hidupku sampai sekarang. Dan masih merasa tetap ingin mewujudkan mimpiku menjadi penulis kelak kalo sudah ngga kerja kantoran lagi (hahaah… Amiin…).

Again, di usiaku yang sekarang, sepertinya sudah sangat wajar ya kalo di suatu tempat umum seperti mall misalnya aku melihat pasangan muda dengan anak mereka yang masih bayi atau balita, rasanya mupeng gitu. Hahaa… Sepertinya memang sudah saatnya dan secara psikologis aku sudah siap. Tapi setiap aku cerita ke beberapa orang mengenai hal ini, kebanyakan reaksi mereka adalah, “Ya sudah, sudah siap kan? Umur juga sudah sangat pas, jadi nunggu apa lagi?” well, ada satu kendalanya yang sangat-sangat-sangat krusial. FINANSIAL.

Lagi-lagi ada kesan juga kalo membahas hal finansial ini seakan matre. Padahal ini sangat penting, krusial, dan faktor yang sangat-sangat utama dalam membangun biduk rumah tangga. Iyalah, masa nikah cuma modal kolor doang. Harus realistis lah. Jadi yang disebut dengan mampu dan siap ya salah satunya finansial ini. Dan dalam menjalin komitmen di usia sekarang lagi-lagi ya finansial menjadi fokus juga. Iyalah, udah bukan untuk main-main lagi, udah punya visi dan misi.

Apalagi seperti perkataan beberapa teman wanita, bahwa ketika kita telah berjuang sampai sejauh ini dalam karier dan memiliki penghasilan sendiri, otomatis kita para ladies akan memiliki standard tertentu juga. Lagi-lagi masalah finansial. “Kalo ngerasa udah ngga cocok dengan seorang pria, lebih baik tinggalkan. Sayang banget kalo harus mundur setelah pencapaian prestasi sampai sejauh ini hanya demi pria yang bahkan tidak sanggup untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri secara finansial. Kecuali jika memang sudah menikah/berkeluarga, merasa tidak sanggup mengatur waktu antara keluarga dan pekerjaan, ya memang harus ada yang dikorbankan. Tapi kalo kamu sampai harus berkorban demi pria yang jauh di bawah standard, lebih baik tinggalkan pria itu. Jadi ya pastikan bahwa dia memang berarti n pantas untukmu sampai nantinya kamu harus mengorbankan karier.”

Okay, bisa dikatakan bahwa aku mulai realistis dan mengurangi idealisme feminisku. Bagaimanapun aku butuh seseorang untuk bersandar. Tapi sulit sekali mencari sosok yang memiliki visi dan misi yang sama. Kalo berbeda karakter dan hobi ya wajar, anak kembar saja berbeda koq. Tapi justru dari perbedaan ini seharusnya bisa saling melengkapi. Dan tujuan orang menikah itu juga macam-macam kan. Aku ingin banget mendengar tujuan menikah agar mari kita sama-sama maju mencapai kesuksesan n menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Jadi ya bukan asal nikah juga. Aku sempet optimis, tapi sekarang malah jadi skeptic lagi deh. Apalagi yang ada di pikiranku baru-baru ini, aku ngga bisa membayangkan pasangan yang setelah menikah, biaya hidupnya masing-masing, jadi si suami tidak menafkahi istri dan anak tertentu (misal, suaminya hanya mau membiayai anak yang pertama, sementara anak yang ke-2 ditanggung oleh istrinya. Konyolnya lagi, istrinya ngga boleh kerja. Nah lho? Ada ya orang sinting seperti itu?). Entahlah, itu berarti kan tujuan menikah yang aneh. Yaa kasarnya sih begini… Ngga ada cewe yang mau dipersunting secara gratisan dan disentuh sepanjang hidupnya oleh suaminya secara gratisan. Iya kan?

Tapi sepertinya aku lebih memilih untuk tidak pacaran. Aku merasakan lebih banyak sakit hatinya, terutama apabila kesepakatan/aturan pacaran yang sudah dibahas di awal menjalin komitmen malah dilanggar akhirnya. Dan kenapa sih cowo kalo dibaikin sdikit aja malah ngelunjak? (jadi curcol, hahaa…) Okay, aku pribadi lebih memilih penjajakan. Jadi kalo tidak cocok ya udah, bubarnya pasti tanpa ada sakit hati. Atau lebih baik jadi teman atau sahabat saja dulu (bukan teman tapi mesra lho ya…), toh dari situ kita juga bisa mengenal lebih jauh, lebih baik dan tulus kan… beda dengan pacaran, yang notabene banyak curiga dan pura-pura. Toh, kalo dia benar-benar tulus dan sayang, ketika sudah merasa siap pasti akan datang melamar (ini teori beberapa teman sih… Pengalaman mereka). Daripada udah deket, pake hati, ngga mau lepas, banyak janji, akhirnya putus dan sakit hati. Banyak juga sih mereka yang setelah putus bisa menjadi teman… Dengan mudahnya melupakan rasa sakit dan ya jadi teman saja seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Tapi aku pribadi tidak bisa seperti itu. Rasanya malah jadi aneh, jengah, canggung, dan jadi ngga nyaman sendiri. Butuh waktu juga untuk memahami karena prinsipku adalah tidak ada hubungan pertemanan yang diawali dengan rasa sakit hati. Tapi semoga saja aku salah dan bisa menjadi jauh lebih toleran di kemudian hari.

Aku mengutip paragraf bijak, broadcast dari temen-temen BlackBerry Message dan Facebook. Aku tidak tahu dari mana sumber aslinya jadi tidak bisa kucantumkan URL nya:

“Jika dua orang memang benar-benar saling menyukai satu sama lain. Itu bukan berarti mereka harus bersama saat ini juga. Tunggulah di waktu yang tepat, saat semua sudah siap, maka kebersamaan itu bisa menjadi hadiah yang hebat untuk orang-orang yang bersabar.

Sementara kalau waktunya belum tiba, sibukkanlah diri untuk terus menjadi lebih baik, bukan dengan melanggar banyak larangan, nilai-nilai agama. Waktu dan jarak akan menyingkap rahasia besarnya, apakah rasa suka itu semakin besar, atau semakin memudar.”

At least, it gives me hope.

Btw, good news, about my older sister. Dia merampungkan novelnya in English, sekarang sedang dalam tahap editing untuk di-publish. Can’t wait for that, Sis 🙂 Mungkin begitulah… Aku percaya adanya karma dan hukum alam… Aku percaya bahwa doa dan usaha keras orang-orang yang tersakiti akan lebih dulu didengar oleh Penguasa alam semesta dan jagat raya ini. Dan insya Allah mereka akan mencapai kesuksesan jauh dari dugaan orang. Wallahu’alam. It gives me hope again.

Just sharing some experiences. Thank u for reading.

Semoga bermanfaat. Peace for the world.

Let’s Talk About Education (and… Women)

•November 1, 2012 • Leave a Comment

Postingan yang sekarang ini justru terinspirasi dari postingan sebelumnya. Itu pun karena obrolan dengan beberapa teman (cewe n cowo) juga. Jadi… Sebenarnya aku masih mengerutkan kening mengenai perkataan 2-3 orang teman pria, yaitu: “Cari calon istri yang mau diajak susah”. Pertanyaannya adalah: Diajak susah seperti apa? Dalam pernikahan ya memang benar susah senang dihadapi bersama. Tapi masa mau hidup susah terus. Kalo seperti itu ya sekalian saja cari calon istri yang tidak berpendidikan biar mau diajak susah terus-menerus. Istrinya mau diajak susah biar suaminya ntar yang nggak susah begitu maksudnya? Aku jadi semakin bertanya-tanya, memang ada ya orang yang punya tujuan hidupnya untuk mau diajak susah?

Dan mereka yang melontarkan settlement itu pun adalah orang yang berpendidikan. Okay, maybe it’s just me yang berpikirnya terlalu jauh dan berlebihan. Tapi, please, Guys… Intinya adalah, esensi dan fungsi dari pendidikan itu sendiri adalah sebagai bekal u/ memperbaiki taraf hidup masyarakat. Aku mengesampingkan ijasah dulu u/ hal ini karena ijasah cenderung simbolis. Esensinya adalah skill, pengetahuan, pengalaman yang kita dapat untuk dapat meraih kehidupan yang lebih baik. Aku ingat dosenku dulu pernah bilang, “Ijasah itu hanya simbol, mari kita lihat seberapa kuat kalian sanggup bertahan dalam menghadapi badai di luar sana ketika kalian terjun ke masyarakat.” Nah, yang mengherankan adalah ketika para teman-teman pria yang masih mencari calon istri yang bisa diajak susah. Entah kenapa, aku mendengar ada nada pesimis dari pernyataan itu. Lha, Anda punya bekal ilmu yang cukup, koq malah lebih memilih untuk hidup susah?

Aku mengalami betul apa yang dikatakan dosenku itu. Ayahku sudah meninggal bahkan sebelum aku lulus kuliah, aku masih punya adik cewe yang baru mau masuk kuliah saat itu. Itu berat, kami semua wanita, tidak ada anak laki-laki di keluarga, jadilah sejak pertama kali aku bekerja hingga sekarang aku benar-benar merasakan terpaan badai itu. Aku berjuang berdiri dengan kakiku sendiri selama ini, nomaden berpindah dari satu tempat ke tempat lain, jauh dari rumah (aku bahkan sekarang sudah ngga tau rumahku yang mana… Hahaa…). Aku ngga yakin bisa bertahan kalo aku ngga berpendidikan dan tanpa keahlian. Sekarang adikku sudah lulus, Alhamdulillah dan sudah diterima kerja dan memperoleh gaji pertamanya. Rasanya lega dan beban ini mulai berkurang. So, rasanya gemes aja ketika mendengar teman-teman pria, dengan hidup mereka yang normal dan nyaris lurus-lurus saja (ok, aku tau setiap orang punya masalah, tapi kalian kan pria, ayo, belajar untuk berani ambil risiko), dengan bekal pendidikan dan keahlian yang mereka miliki, malah lebih memilih untuk hidup susah dan mencari calon istri yang bisa diajak susah. #tepokjidatoranglaen#

Seperti kata almarhum ayahku dulu, hidup ini harus ada goal, kita harus punya tujuan. Tidak masalah jika kamu harus memulainya dari nol. Yang penting tujuannya jelas. Ada visi dan misi. Harus berani menghadapi tantangan. Begitulah hidup. Dan kata dosenku yang lain, long life education. “Anda lulus kuliah lalu terjun ke masyarakat, Anda belajar. Anda menjalin hubungan dengan pasangan, Anda belajar. Anda menikah, Anda belajar. Anda memiliki anak, Anda belajar. Anak Anda mulai masuk sekolah, Anda belajar. Begitu seterusnya.” Mirip lagunya Alanis Morissette, “You Learn.”

You live you learn

You love you learn

You cry you learn

You lose you learn

You bleed you learn

You scream you learn

And now, kaitannya dengan women. Baru-baru ini ada seorang teman wanita di Facebook yang menulis di statusnya bahwa baru saja dia menghadiri sebuah seminar di mana si pembicara merupakan sosok wanita yang begitu sempurna menurut dia. Bayangkan saja, si pembicara ini dia sangka berusia lebih muda, ternyata seumuran (pertengahan 30-an), dengan gelar Master dan sebagai kandidat untuk gelar Doktor. Dia sangka masih single, ternyata sudah memiliki 3 orang anak. Itu suatu pencapaian/prestasi yang luar biasa. Itulah, kembali lagi, kita harus punya goal, harus memiliki tujuan hidup dan life planning itself.

Ada istilah “Di balik kesuksesan pria selalu ada wanita hebat di sisinya”. Aku tahu aku sendiri belum mencapai kata hebat itu, karena aku juga masih berjuang seorang diri. Apalagi untuk menjadi sosok sesempurna pembicara di seminar yang kuceritakan tadi. Tapi untuk menjadi seseorang yang bisa memotivasi, mendorong, bekerja sama dan berbisnis dengan suami kelak hingga dia mencapai kesuksesan adalah impianku sebagai istri nanti. Amiin.

For another inspiration, check this out:

http://www.andriewongso.com/artikel/viewarticleprint.php?idartikel=3612

Semoga bermanfaat. Peace for the world.

Materialistis vs. Realistis, Feeling vs. Logika

•October 26, 2012 • 1 Comment

Okay, it has been a long time… Almost 3 months I don’t update this blog. Many things happened… Ups n downs. I feel serious again like I used to be. Those has made me a thinker again. Okay, I have experiences with some guys in these recent months. And in here, rite now, let me talk about love.

In my age rite now, aku mulai mikir untuk komitmen serius bahkan pernikahan. Okay, I’m sure Tuhan menciptakan setiap makhluk berpasangan. Dan untuk menyatukan dua persona bukanlah hal yang mudah. Aku mengalaminya sendiri dan itu melelahkan. Dari sini aku menyadari bahwa cinta itu benar-benar rumit… Mix antara feeling n logika. Dan susah sekali untuk memahami jalan pikiran pria (I’m sure begitu juga sebaliknya).

Well, dalam menjalani hubungan, aku sadar aku sering cerewet. Catet ya, semua cewe begitu, wahai para pria! Wajar kalo kami cerita sesuatu, negur sedikit akhirnya merepet ke mana-mana. Habisnya udah dibilangin sekali, masih juga diulangi… kayak bocah aja #tepokjidatoranglaen#… Kalian ngga peka banget sih. Dan ketika kami curhat mungkin kedengeran mengeluh ya… Itu karena kami lagi butuh didengar n lagi pengen dimanja… Ngerti?

Entah ya kalo cewe lain, tapi kalo aku pribadi, mungkin karena aku berkarir n punya penghasilan sendiri, aku ngga pernah minta dibayarin kalo makan bareng koq. Tapi, Guys, kalian pria, kalo pas pacaran aja kalian ngga mau keluar uang dan berkorban sedikit aja, jangan harap bisa jadi calon suami n kepala keluarga yang bertanggungjawab. Okay, I know, tanggung jawab tidak melulu dikaitkan dengan uang. Ada perbedaan yang cukup signifikan antara materialistis dengan realistis. But, let’s make it simple. Kalo Anda merasa tidak mampu bersanding n menyeimbangkan diri dengan cewe tersebut, lebih baik sadar diri… Solusinya adalah turunkan standard.

Tapi aku pribadi optimis bahwa setiap orang bisa berubah jika orang tersebut mau memperbaiki diri. Karena apa adanya itu bullshit, Guys! Sudah seharusnya kita sebagai manusia memperbaiki diri untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi. Oh, come on, grown up! Di era sekarang kami para ladies are smart n sophisticated! Kami sudah lebih mandiri dibandingkan generasi dulu-dulu… Jadi kalian juga sudah seharusnya mengikuti perkembangan zaman. Well, banyak hal, perdalam bahasa asing, baca buku, nonton film, perluas wawasan n skill, n masih banyak lagi deh! Karena hanya makhluk hidup yang mampu beradaptasi dengan lingkungan yang akan bertahan hidup (ini teori biologinya sapa ya… Lupa… Charles Darwin bukan ya… Hehee…).

Aku pribadi, karena sudah jauh dari orangtua sejak kuliah n bokap meninggal sebelum aku lulus, aku ngga suka n ngga biasa terlalu bergantung pada orang lain. Selama aku masih bisa menghadapi n mengerjakannya sendiri ya aku tidak minta bantuan orang lain. Okay, semua pria pasti ingin punya calon istri yang bisa diajak susah, yang ngga bnyak menuntut masalah uang, yang ibaratnya pasrah n manut pada suami.  Catet ya, istri yang baik tentu tidak akan tinggal diam ketika finansial keluarga tidak mencukupi. Tapi kalian sebagai pria tetap harus sadar diri bahwa kalianlah pencari nafkah utama n itu tugas wajib kalian, jadi ya harga diri kalian lah, masa minta ke istri. Aku juga ngga mencari sosok yang mapan di segala hal koq, aku masih mau diajak susah, karena aku menyadari akan lebih indah jika susah senang dihadapi bersama. Tapi catet ya… Susah di sini bukan berarti pasrah tanpa usaha samasekali, jadi hidup susah melulu. Aku mau diajak susah untuk berjuang meraih kehidupan yang lebih baik. Dan kami para ladies juga memang sudah dari sananya diciptakan untuk dilindungi. Jadi wajar apabila kami terkadang manja n ingin dilindungi, n ngga selamanya mau hidup susah terus. So, Guys, please, tough n jangan jadi pengecut… Hadapi semuanya, hadapi! Jangan galau…!

Masalah kesehatan. Tolong, Guys, bersyukurlah jika punya pasangan yang menyarankan kalian untuk berhenti merokok n mengajak jogging or fitness bareng! Apalagi buat para perokok berat, yang sehari bisa habis sebungkus… Tolong ya, itu rokok sebungkus harganya sekitar Rp. 10 ribu, coba dikalikan 30… Berarti kalian membuang uang sebesar Rp. 300 ribu dan merusak badan kalian sendiri! Rp. 300 ribu lebih baik buat bayar premi asuransi kesehatan per bulan atau investasi emas gitu… Smart dikit deh! (Hitung-hitungan lagi deh Rp. 10 ribu x 365 hari = 3.650.000… Okay, bisa berhitung kan?) Udah tau bukan orang kaya, jadi berhentilah berlagak seperti orang kaya. Itu yang membuat kami para ladies lebih cepat menjadi janda karena kalian meninggalkan kami lebih dulu padahal anak-anak masih kecil n butuh perlindungan sang ayah. Dan jika pasangan kalian cerewet soal makanan atau pengaturan pola makan kalian, Guys, yah… Wajarlah, tugas kami sebagai istri kelak adalah memberikan nutrisi yang terbaik untuk keluarga!

Guys, again, bersyukurlah jika kalian punya pasangan yang smart n berpendidikan! Survei membuktikan bahwa itu akan membuat kalian lebih panjang umur, sehat, n awet muda.

Last, but not least, kami para ladies tidak suka dibohongi n dijanjikan segala hal yang belum tentu kalian bisa menepatinya, Okay? Beri kami bukti, bukan janji!!! (iklan bangets… #demo turun ke jalan ini mah#)

Hehee… Sorry, curcol dikit ngga apa-apa kan? (ini mah udah semuanya ya… Hahahaa… #tepokjidatoranglaen#) okay, semoga menginspirasi orang-orang. Still open to comments… Komen yang membangun terutama. Thank u.

Peace for the world.

It’s Complicated…

•July 10, 2012 • Leave a Comment

Mau nulis, tapi males… Lagi ngga jelas. But I’m okay. Everyone has to move on. Banyak kepingan-kepingan semacam flashback di kepala… Tapi yaa… Sudahlah…

Just wanna say thank u for the fact that u’ve been there for me during my darkest moments… I don’t wanna erase them, although it hurts to remember… Just wanna keep it…

Peace for the world…

Be A Totally Present

•February 10, 2012 • 2 Comments

Okay, I feel better. Decent and sober. Stable and calm. Although I’ve got fever and gastro infection, overall, I’m fine now. I’m off from my fitness routine just for a while because I need some rest. I don’t want to get overtraining. And I don’t drink milk with lactose for a while and I’ve been carefully watch my meals. I think it’s more important to buy a little bit expensive healthy meal than a cheap unutritious meal. And now I have to stick with my hi-protein milk. My gastro is already broken. I have to respect myself and my youth. Bener-bener harus berhati-hati dengan makanan. Nggak bisa nahan laper lagi. Setiap 1-2 jam sekali harus diisi perutnya. Tapi juga nggak bisa makan terlalu banyak. Porsi nasi Padang udah nggak bisa. Jadi dalam sehari harus 6-8 kali makan tapi porsinya sedikit-sedikit. Sambal/pedes, santan, mi, minuman es, goreng-gorengan harus dihindari. Kopi udah nggak bisa minum lagi. Harus banyak mengonsumsi sayuran bening, makanan berkuah panas, dan air hangat. But the most difficult thing is to avoid stress. I admit I was stress because of my family problem. Meski sekarang sudah mulai terlihat jalan keluarnya, aku hanya ingin masalah ini berakhir. Itu saja permintaanku saat ini. Okay, mungkin juga karena aku sempet donor darah dan ditambah aku kelelahan, kondisi badanku jadi nge-drop. Sekarang juga udah nggak maksain diri untuk harus mandi setiap pulang kerja, hahah. Kipas angin juga mulai dimatikan. Dan bekerja untuk hidup, bukan hidup untuk bekerja!

So, I’m trying to be a totally present, although I’m actually afraid about my future. Beberapa temen bilang bahwa mentalku kuat. Sesungguhnya aku orang yang selalu galau. Selalu mencoba untuk memusnahkan kemarahan, tapi seringkali tidak bisa. I’m worry about what I would have become in the future. I’m worry if I would have a life like my older sister. I’m worry if I wouldn’t meet someone I love. I’m worry if I have to settle with someone I don’t love. And I’m also worry if someone I love would betray me. Heheh. Yeah, I know, pikiran memang mampu menyebabkan sesuatu yang fatal. So, I’m trying to think positive. Anyway, sometimes it’s just in your mind. That’s all. Period.

But, I was just thinking… Sebenernya tujuan menikah itu untuk apa sih? Tujuan dalam hidup sebagai manusia secara filosofis maksudku, aku ingin membicarakan topik ini di luar masalah agama dan kepercayaan. It’s a difficult thing for me mengingat bahwa aku memang orang yang skeptic. All I know is people may change, including our feelings. So I’m not sure that love is static. Love is dynamic. Dan aku mengalaminya sendiri ketika aku bisa suka dengan seseorang tapi di kemudian hari aku merasa bosan dan jenuh dengan orang itu. Kemudian di hari yang lain lagi aku bisa tertarik lagi dengan orang yang berbeda. Well, sebenernya karena aku tidak bisa melupakan seseorang di masa lalu. Jadinya setiap aku bertemu dengan orang baru aku selalu membandingkan orang yang baru ini dengan someone in the past ini. Dan hasilnya, selalu merasa bahwa someone in the past ini memang sulit untuk tergantikan. Mungkin mirip seperti kisah lagunya Adele – Someone Like You. And, yeah… This someone in my past is already settle and married right now. Hahah. Orangtua zaman dulu dan orang-orang yang konservatif mungkin akan menuntut kita untuk memiliki kehidupan yang sempurna. Menikah di usia muda, punya anak, menjadi wanita sempurna yang harus manut dengan suami. Well, inginnya mungkin kalo boleh memilih kita dapet calon suami tampan dan kaya, hidup datar-datar aja tanpa masalah dan berlimpah harta, hidup bahagia.  Tapi justru hidup seperti itu malah jadi nggak ada tantangannya. Karena pada prinsipnya kita harus fight untuk hidup. So, back again, tujuan menikah, jika dibilang karena love, I’m not so sure. Dibilang untuk memiliki keturunan atau untuk ada yang mengurus atau untuk jadi kaya, I hate to hear that, really. Like they said, “Fallin in love is easy, but it’s our responsibility to keep stay and survive with the love”. So, let’s just make it simple. We need witness in our lives. That’s all. We need witness to bury our dead. Life without friends is like a dead without witness. You need someone who witness your life, when you’re still strong and healthy, and then you’re getting old and weak, your hair become white, and your skin is not young and fair anymore. So, that’s it. That’s the reason. Marriage is to having witness in your life.

And why are there many spams in my blog? It’s so ridiculous and everytime I log into this blog and entering my dashboard I have to deleting spams first. It’s so annoying. Well, btw, I need to read some books…! English books, I think. Immediately! Because I forgot some of my English… And most of my German. Hahah, this is not good, really. Or, perhaps I need to watch some DVD’s, of course with English subtitles, one of my guilty pleasure. And perhaps, I need to wear glasses to make people sure that I’m actually an avid reader. Hahah, no, really, I often get my eyes are so tired after watch my monitor all day.

Btw, Lady Gaga is a truly artist! I’m really into her new songs: The Edge of Glory and Born This Way. She has amazing musical skills and voice, really, although, of course I’m not really interesting to watch her videos and hear many news about her crazy lifestyle. But, honestly, she is fearless and I often salute with this type of lady. This lady is awesome!

And there’s K-Pop girlband that has similar genre of music with Lady Gaga’s. 2NE1. I like their songs and videos: I Am The Best, Ugly, and Can’t Nobody. I think they are very inspiring and really, fearless women with strong characters! And they sing in English very well, hahah…

But of course, still, the first K-Pop girlband I like is F(X). Heheh…

OK. Come on, keep organize our lives! Peace for the world.

References:

Google Images

It’s Great To Be Healthy

•January 23, 2012 • 1 Comment

Sebagian isi postingan ini ada yang udah agak basi sebenernya, heheh. Tapi apa mau dikata, baru punya waktu luang sekarang, bertepatan dengan hari Imlek yang jatuh pada hari… Senin! (Yeah…! Hahahaah…!) Gong Xi Fa Cai! Semoga di tahun naga air ini membawa berkah, rejeki, kesehatan, dan kesuksesan. Amiin…

Well, bertepatan dengan long weekend ini, badanku lagi lelah banget rasanya (Thank God, hari Senin libur, aku jadi bisa istirahat dulu). Mungkin karena seminggu lalu aku ikut mendonorkan darah ke PMI ya… Selama seminggu ini aku mengonsumsi suplemen/vitamin penambah darah setiap hari dan rutin minum susu untuk memulihkan kondisi tubuh (darahku diambil sebanyak 360 ml). Saat hari donor itu, aku fitness dulu sebelumnya selama hampir 2 jam, kemudian makan siang yang banyak dan minum teh manis hangat dan saat itu aku merasa sangat sehat dan bugar. Setelah darah diambil sih belum juga terasa lemes ya, nah baru deh 24 jam setelahnya terasa lemes dan kepala agak pening. Sekarang pun, saat nulis postingan ini (aku nulis di program word terlebih dahulu sebelum internet online dan masuk ke blog wordpress ini), seminggu setelah donor, aku sedang merasa agak pening. Mungkin karena sedang lelah… barusan nyuci baju sekitar 20 potong (pakaian kotor yang seminggu nggak dicuci. Nyucinya pas libur doang nih, seminggu sekali), dan tadi juga agak telat makan, dan kemarin pagi menjelang siang fitness selama 1 jam 30 menit terus jalan-jalan seharian sampe malem. Alhasil, sekarang… Gempor. Hahah… Faktor usia yang mulai uzur juga nih tampaknya… Bwahahah…!

Sebenernya sudah dari zaman SMU pengen ikutan donor darah, tapi kondisi selalu tidak memungkinkan. Pengen beramal, tapi kalo berupa uang, yaah… Belum bisa dulu, aku yang anak kos lagi nabung mati-matian dulu… Tapi aku memang lagi merasa perlu beramal… semoga bisa membantu melancarkan ikhtiar u/ menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi keluargaku saat ini. Amiin…

Btw, ngomongin mengenai nyuci baju. Jujur, aku merasa paling gelisah kalo sudah weekend, tapi ternyata aku belum punya semangat dan tenaga untuk siap melakukan ritual mencuci baju. Hahah… ini ritual paling menyebalkan kedua setelah yang pertamanya adalah memasak! (Aaarrgh…! Aku stress kalo dah masuk dapur!) Maklum, aku orangnya pemalas nih, hahah… Aku masih jauh lebih cinta nyuci setumpuk piring dan gelas kotor atau menyapu dan mengepel deh. Tapi meskipun sebenernya bisa aja aku pake jasa laundry kiloan yang sedang tren sekarang ini, malu juga kalo underwears dicuciin orang lain, hahah. Nggak sopan lah. Dan entah kenapa rasanya kurang puas juga kalo baju sendiri dicuciin orang luar (kalo dicuciin orang rumah sih nggak apa-apa, hahah. Aman), khawatir ada yang hilang juga, atau cara nyucinya salah (karena ada baju-baju dengan bahan dan warna tertentu yang agak rewel).

Okay, mengenai fitness. Baru-baru ini menemukan teknik-teknik baru pada alat yang sama. Juga setelah belajar dan menggeluti fitness sekitar 3 tahunan (tapi banyak vakumnya juga, hahah), 3 latihan terakhir yang lalu mulai nyobain bench press (itupun karena diajari si pemilik gym, kebetulan banget beliau sedang ada di sana saat itu). Efeknya luar biasa. Dan menemukan teknik-teknik baru lainnya pun karena diajari beliau. And he said that I’m a fast learner! Whoo-hoo! Sekarang, untuk cardio sepeda statis jadi kuat sampe 30 menitan (15 menit di awal latihan dan 20 menitan sebagai penutup). Emang sih badan jadi pegal-pegal luar biasa, sampe sekitar 3 harian baru terasa enakan, tapi setelah pegel-pegelnya hilang. Beuh… Badan terasa fit dan ringan… Dan yang biasanya kalo mood lagi jelek suka marah-marah dan ngamuk, sekarang mood relatif stabil. Baju dan celana jadi lebih enak jatuhnya di badan. Lengan rasanya jadi lebih kokoh (halaah… Hahah). Yang perlu difokuskan sebenernya area abdominal atau perut sih. Maklum, doyan banget makan dan ngemil. Percaya nggak, kalo cewe-cewe pada umumnya makan nasi goreng sepiring hanya dimakan setengahnya saja, aku malah satu setengah porsi bisa hanya menyisakan piring yang licin tandas! (tapi aku tahu jadwal: nasi gorengnya tidak untuk makan malem). Jujur, bahkan di depan pria pun aku nggak pake jaim kalo lagi makan. Mungkin temponya memang lambat, tapi hampir selalu habis, sebanyak apa pun. Kalo para pria yang nggak biasa ngeliat cewe makan banyak mungkin akan agak il-feel ngeliat aku makan, hahah. Btw, kata temen-temen, meskipun aku banyak makan tapi nggak terlihat gemuk. Well, iya, memang nggak nyebar ke sekujur badan, melainkan tertimbun dan menumpuk di perut! Karena itu, fokus latihan selama ini adalah area lengan dan perut (karena lengan kecil tapi perut buncit, heheh). Tapi dengan rutin olahraga, akhir-akhir ini nafsu makanku jadi lebih terkontrol. Dan biasanya 1-2 hari setelah fitness malah agak males makan dan makan sedikit banget karena badan, terutama area perut, masih terasa sakit. Kalo dipaksain makan banyak malah pengen muntah rasanya. Jadi paling ya diganti susu hi-protein saja yang lumayan mengenyangkan. Itu normal nggak ya? Aku mulai browsing referensi mengenai fitness lagi setelah cukup lama vakum. Any recommendation?

Sekian dulu. Peace for the world. XOXO.

Listening to :  Eminem – Not Afraid

Make Up Disaster & New Year 2012 Resolutions

•December 30, 2011 • Leave a Comment

Aku tidak menemukan judul yang tepat untuk postingan ini, hahah. But, I think I need to write this. Well, asal muasal ide untuk nulis postingan ini adalah karena sekarang sudah akhir tahun. Orang-orang tampak mulai sibuk dengan resolusi tahun baru mereka. Dan, lucunya, entah kenapa beberapa teman malah meminta dan mendorongku untuk membuat resolusi tahun baru 2012 yaitu untuk mengubah penampilan. Saat itu kejadiannya tentu saja sambil chit n chat dan bercanda. Dari subjek “mengubah penampilan” tersebut mulailah keluar kalimat seperti: “2012 mulai pake make up ya, lipstick dong jangan hanya lipbalm berwarna, blush on ditebelin, pake rok, hi-heels. Rambut dipanjangin. Handbag cewek. Hot pants juga sekalian deh, Ki.” (Beuh, rempong amat ya…) Dan kami pun tertawa. (Bagi kalian yang belum tau deskripsi penampilan dan karakterku seperti apa, silahkan baca 100 Things About Me, ya… dan baca postingan lainnya di blog ini juga. Hahah…).

Aku hanya bilang bahwa aku tidak menjanjikan apa pun. Tapi tentu saja aku punya resolusi tahun baruku sendiri. Tiba-tiba, start dari bagian itu, seorang teman pria ngomong dan seketika itu juga suasana jadi lebih serius dan tidak terasa santai lagi. Yah, intinya sih dia bilang bahwa, seharusnya, bagi para wanita, dari sejak mulai mendapatkan menstruasi pertama, harus mulai belajar bersolek dan merawat diri untuk menebar bunga (baca: memikat pria) sehingga di usiaku yang sekarang seharusnya aku sudah pandai bersolek dan dibanjiri pria. Plus ada tambahan kata-kata seperti, “Kamu kan udah dewasa, seharusnya udah ngerti.”

Suasana langsung hening. It felt so weird, really. Ya know, dinasehati seorang teman pria mengenai penampilan kita seharusnya seperti apa untuk memikat pria. Orangtua gua aja nggak sampe segitunya. Kalo merawat diri sih emang udah kulakukan dari sejak zaman SMP-SMU (ya know, remaja kan nggak jauh-jauh dari yang namanya bau badan dan jerawat saat itu… dan terbukti sekarang nih muka nggak sampe punya bekas jerawat gitu koq. Paling ya komedo dikit. Sempet pernah nyoba totok wajah. Tapi itu kan cukup sesekali aja… Kalo punya duit lebih, hahah). Dan definisi mengerti mengenai itu sesungguhnya relatif. Make up merepresentasikan banyak hal, pro dan kontra, good side and bad side. Paradoks yang kompleks. Itu yang aku mengerti mengenai make up. Sesuatu yang dibahas pada kuliah women study, women and media (inget definisi cantik ala media untuk para wanita? Bahwa definisi wanita cantik itu adalah tinggi, langsing, berkulit putih, serta ber-make up sempurna?), dan bahkan agama (I’m a Moslem, so modest lifestyle is my family’s choice). Dan peranku saat ini sebagai tulang punggung keluarga bagaimanapun juga membuatku lebih memikirkan keluargaku terlebih dahulu dibandingkan egoku untuk tampil cantik. Buat apa cantik tapi bodoh? Buat apa bersusah payah untuk terlihat cantik tapi tidak memedulikan lingkungan sekitar? Inget selebritis kita yang menghabiskan uang hingga ratusan juta rupiah hanya untuk foto pre-wedding? Bukankah uang sebanyak itu akan lebih berguna bagi mereka yang lebih membutuhkan?

Yah, so I told him that even my parents never said that to me. And dia bilang bahwa orangtua kita hidup di zaman dulu jadi ya memang berbeda dengan tuntutan kehidupan di zaman sekarang. Suasana jadi dingin setelah itu. Temen-temen yang lain yang ada di TKP saat itu jadi terdiam dan bingung harus bereaksi gimana. Dan sejak itu, hingga sekarang aku jadi agak males untuk chit n chat rame-rame lagi. Well, okay, my mum dulu saat masih gadis dan jadi wanita karier memang sering berdandan, pake rok, dan hi-heels, until she married my dad. Kami, anak-anaknya, tiga orang cewe semua, tapi didikan (alm.) bokap semi-militer. Dan nggak kebayang deh kalo aku mengenakan semua yang tadi disebut teman-temanku di atas. Bokap pasti bakalan komentar, “Mau dipake untuk ke mana emangnya? Jangan kayak artis deh. Ke mana-mana kan kamu naek angkot bukan limousine.” Hahah. Sementara kalo komentar nyokap lebih untuk menyarankan dandan sewajarnya saja. Waktu dulu rambutku pernah panjang jadi otomatis kan butuh perawatan ekstra, apalagi kalo mau pergi ke mana pasti kan mikir dulu mau diapain nih rambut. Sementara bokap dah nglaksonin and teriak, “Lama amat sih? Yang gesit dong, buruan.” Dan ketika rambutku akhirnya pendek, bokap bilang, “Nah, kalo gitu kan cakep. Lebih fresh.” Yeah, bokap nggak suka tipe yang menye-menye. Dan mungkin juga karena sebenernya dari dulu bokap pengennya punya anak cowo. Pernah waktu zaman awal-awal kuliah aku beli rok panjang yang girly dan manis gitu, bokap tertawa dan ngomong, “Yakin mau pake itu? Kalo nggak merasa nyaman nggak usahlah”. Akhirnya rok itu nggak pernah aku pake. Dan beberapa bulan kemudian aku cari rok itu di lemari baju, aku nggak menemukannya. Dah dijual atau dikasih ke orang lain mungkin ya, heheh. Terus, oh ya, waktu aku bilang bahwa aku ikut judo, nyokap khawatir sementara bokap bilang. “Oh, bagus. Kenapa nggak dari dulu?” Hahah. Tapi aku mulai fitness setelah bokap sudah tidak ada dan nyokap mendukung penuh atas keputusanku untuk memiliki tubuh atletis dan berotot. Yeah, kalo untuk masalah badan, ortuku sangat care. Mereka nggak mau anak-anaknya overweight dan kami sering disuguhi sayuran dan menghindari junk food. Mereka juga nggak mau anak-anaknya bertubuh kurus bak model sehingga terlihat tidak sehat. Nyokap dulu atlet voli tingkat propinsi. Bokap hingga sebelum sakit dan meninggal selalu rajin push up dan sit up. Dan di masa pre-teenku ketika aku paling malas olahraga, setiap hari Minggu aku selalu harus bangun pagi, lari keliling lapangan voli di depan rumah dan berjemur di bawah sinar matahari pagi, dan push up serta sit up! Dan kebiasaan itu masih kulakukan sampe sekarang, hampir setiap pagi aku push-up dan sit-up, kecuali untuk lari, karena agak susah nyari lokasi yang nyaman di area sini (kalau waktu di Bandung biasanya aku langsung berangkat ke Sabuga ITB), jadinya kuganti dengan sepeda statis di gym atau dance aerobic sendiri di kamar pake video fitness/aerobic gitu. Oh ya, sekarang aku sudah punya dumbles 2 kg sepasang beli yang murah dan diskonan, hahah.

So, sebenernya, kemarin ini setelah temenku itu ngomong begitu, aku sempet jalan-jalan ke mall untuk liat-liat make up. Tapi ketika tiba-tiba teringat bokap dan kakakku saat itu (yang sedang dalam proses cerai. Dan masalah hak asuh 2 orang anaknya pun sekarang sedang diproses), ada perasaan bahwa aku akan merasa menyesal kalo beli mahal-mahal tapi akhirnya nggak dipake atau malah nggak cocok dengan kulitku nantinya. Jadilah aku pergi menjauh dari counter tersebut dan malah jadi liat-liat buku di Gramedia. Malam sebelum tidur hari itu, kepalaku dipenuhi pikiran: “What was wrong with me today? Why did I almost do what people told me while I actually didn’t feel happy at all? Why did I have to do what he told me to do while he doesn’t know anything about me?” I’m exactly happy to become who I am. I don’t think I’m comfortable to dressed up like a bitch. Dan kalaupun aku terpaksa harus ber-make up, aku melakukannya secara wajar untuk diriku sendiri agar terlihat lebih fresh pada suatu acara dan untuk menghargai serta dihargai orang lain. Sometimes I think that putting make up on your face is a dishonest act. So, kalau dibilang untuk memikat pria, yah… aku juga nggak akan nyari pria yang menuntutku untuk selalu tampil sempurna tanpa cacat koq.

Pada postinganku yang agak lama di blog ini aku pernah nulis mengenai Amber Liu, personil girlband Korea f(x). Aku males upload fotoku sendiri di blog, jadi kudeskripsikan bahwa aku agak mirip Amber Liu sekitar 50 persennya. Separonya ya, karena penampilanku juga nggak seekstrem dia.

Okay, mungkin aku lebih mirip Ella Chen (personil girlband Taiwan SHE) hampir 80 persen, hahah.

And I’m jealous to them because with their boyish style and androgynous face, no one complain to them about it. Instead of complain, their fans think that they have made difference in their group (girlband) and respect their different style and love their styles! Aku kurang tau Ella Chen dan SHE sebenernya, jadi mungkin aku lebih merasa iri dengan Amber Liu karena dia jago dance, nyanyi, rap, dan fasih 3 bahasa (English, Chinese, Korean). And she feels comfortable of being herself. Lama-lama aku jadi males kerja kantoran. Lebih milih jadi rocker atau penulis aja sebenernya dan kerja di bidang entertainment, hahah.

Oh, well, baiklah, resolusi tahun baru 2012-ku adalah:

  1. Mulai meningkatkan intensitas traveling, pemanasan sebelum jadi backpacker beneran
  2. Semakin giat mencari uang, berinvestasi, menabung, dan menimbun kekayaan
  3. Stick to my fitness routine and my diet (hi-protein, calcium, fiber, & low-carbo) untuk memahat otot lagi
  4. Meningkatkan intensitas menulis (blog ini, terutama. Sisanya, coba buka novel karangan sendiri yang terbengkalai lagi) dan membaca (tahun 2011 ini aku bener-bener jarang baca buku. Lebih fokus untuk menabung dulu)
  5. Well, okay, agak mengubah penampilan. Mungkin sedikit memperjelas make up yang dipake (blush on dan lip colour/lipbalm, lipstick, terutama). Tapi gaya tetap androgyny, well, sweet androgyny, I guess.  Rambut agak dipanjangin sedikit sampe bahu deh. Well,  gaya Agyness Deyn cukup memberikan inspirasi…

                                   

Atau Emma Watson dengan rambut pendek

Atau Mia Wasikowska dengan rambut pendek juga…

       6.   Work hard, play hard, sleep hard… To inspire and to be inspired!

        7. Organize my life…!

Okay. Happy new year 2012. Peace for the world.

References:

Google Image

My Mom Said, ”Marriage Is Like A Lottery”

•December 21, 2011 • 3 Comments

Okay, ide untuk menulis postingan ini udah dari beberapa bulan lalu munculnya, tapi karena tidak punya cukup waktu untuk menulis dan berkontemplasi, serta ternyata selama di-pending itu perlahan terkumpul hal-hal dan fakta-fakta yang semakin menambah bahan untuk postingan ini, and now, ta-da…! Akhirnya sekarang bisa nulis juga (meskipun kamar masih berantakan dan belum sempet diberesin).

Ini aja udah diketawain oleh beberapa teman yang terheran-heran because I have to spend my Saturday night just for writing, bukannya pacaran! And… isi postingan ini pun bagi kebanyakan orang mungkin akan terdengar pathetic. Well, am I the only one in this world who is not really into marriage?!

I’m not stupid, but maybe not so smart too. But, I always think that everything must be considered the good and the bad. Kenapa ya orang-orang selalu memikirkan pernikahan itu hanya indah-indahnya aja. Dan kebanyakan dari mereka ketika menganut sistem tersebut akhirnya pun menyesal di kemudian hari. Jujur, aku pribadi lebih memilih untuk menikah di umur 30-an (saat kondisi mental sudah lebih stabil dan lebih matang dalam berpikir dan bersikap) tapi awet sampe mati daripada menikah di usia yang begitu muda atau 20-an tapi kemudian menyesal dan harus cerai (umur segini aja gua masih ababil gitu loh! Mata masih suka jelalatan ke mana-mana setiap ngeliat cowo ganteng. Dan sering dipanggil “ade”, beneran kayak dulu-dulu kita ditanya sama om-om atau tante-tante dengan intonasi seperti, “Kelas berapa, De? Sekolah di mana?”). Dan pengennya punya anak cukup 1 aja, paling banyak 2 lah (itu pun kalo iya dikasih n diizinkan YME kan?) And I have my own dreams that I pursue before I have to settle down with a man for the rest of my life. I have places to go! I want to travel alone or with some friends/communities to some places as a backpacker. Aku lagi nabung mati-matian untuk bisa meluangkan waktu mungkin sekitar 6 bln, jadi backpacker ke beberapa negara sebelum melepas masa lajang. First destination: Singapore! Seorang teman pernah ada yang malah bilang gini, “Bukannya malah lebih enak kalo udah nikah dulu, Mbak? Jadi kan sekalian bulan madu bareng suami?” hey, itu sih cerita lain. Lebih dari sekali kunjungan akan lebih baik, hahah.

Well, kenapa aku bisa nulis postingan ini juga sebenarnya karena ada beberapa masalah keluarga yang semakin bertambah rumit sekarang ini. Termasuk salah satunya, mengenai perceraian. Aku tidak akan menuliskan mengenai hal itu habis-habisan di sini. Karena memang sangat complicated. Masalah dua insan yang akhirnya malah merambat ke mana-mana dan bikin hampir semua orang anggota keluarga turun tangan, buntutnya pun sampe ke pihak berwajib dan konsekuensinya bisa hukuman penjara (sinetron banget gitu loh). Serius. Aku berusaha untuk tidak menyalahkan kedua orang ini (terutama yang dari pihak keluargaku, my own old sis), meskipun dari awal aku tahu hubungan mereka tidak akan baik karena dari awal pun keluarga kami dan keluarga pihak sana hubungannya udah tidak baik. Sebulan ini aku lebih banyak diam di kantor (karena bawaannya uring-uringan terus) sampe beberapa temen pada terheran-heran. Ditambah, juga karena ada beberapa lelucon teman yang tidak bisa kuterima dan membuatku tersinggung terkait dengan situasi (mood dan background keluarga) saat ini. Berjuang keras untuk ikhlas, yang rasanya sungguh berat. Mood seringkali kacau, but the good side is, jadi rutin fitness to bring back good mood. Well, I can only pray the best for them and try to help her as long as I can. Like my mom said, “Marriage is like a lottery. Ada yang beruntung dan ada yang nggak…” well, siapa sih yang nggak mau rumah tangga harmonis dan awet terus until the end of time? Tapi kalo pun kita ternyata telah ditentukan bahwa yang terbaik untuk kita yaitu perceraian, bagaimana? Masa mau nolak? Beruntung atau tidak, I don’t have problem to have life like those, eventhough divorce sucks. Sayangnya, society di negara kita selalu menuntut kita untuk punya kehidupan yang sempurna: ya know, pacaran-menikah-punya anak-keluarga harmonis-pendidikan anak baik-menikahkan anak-punya cucu-punya cicit-terakhir, rest in peace. Whatsoever. Too bad, happy ending never exist in this world, it exists only in fairy tales (sorry, I’m not a big believer of happy ending). Rite now, I’ll do my best for my family, for my mom and my own sisters… Because, saat perceraian itu terjadi, atau divonis sakit berat, atau kematian pasangan misalnya, bagaimanapun kita akan kembali lagi ke keluarga kita sendiri.

So, for me, Romeo was a loser. Apa yang dia lakukan tidak akan pernah menyelesaikan masalah sesungguhnya. Kalo hubungan keluarga Montegue dan Capulet memang sudah tidak baik sejak awal, tentu saja it’s not gonna work. At all. Sorry, skeptic in here. And while some guy said, “I can’t live without you. I’d rather die than live without you” (Eits, koq jadi lirik lagunya Backstreet Boys – I’ll Never Break Your Heart ya… Wkakwakakak…!) menurutku itu udah lampu merah. Seorang pria sejati or gentleman akan menerima dengan lapang dada apa pun konsekuensinya dan siap berjuang menghadapi rintangan apa pun dalam hidup ini. Termasuk dalam hal patah hati dan kehilangan pasangan hidupnya. Paling itu cuma gertakan (kalo nggak mau dibilang rayuan). Coba kasih pisau sekalian, mana mau dia mati konyol. Entah napa, kata-kata seperti itu sudah mengurangi kualitas seorang pria di mataku. So, if I were Juliet (and Thank God, I’m not and I’d never gonna be like her), I’d rather continue my life, obeying my parents, work and make a lot of money (Yeah, Money! And I’d be a total workaholic!), but still say my opinion to my parents that I won’t married a man who I don’t love (Hmm… Terdengar Jane Austen sekali bukan?).

And I actually have problems with guys recently. Gua sih berusaha untuk jadi orang baik dan ramah ya selama ini. Tapi kalo mereka tiba-tiba ngelunjak pake maen colek atau tiba-tiba nyomot tangan seenaknya atau melontarkan kata-kata tidak senonoh, gua nggak segan-segan murka and ngajak ketemuan di ring tinju. Atau kalo nasib mereka masih lebih mujur paling gua ceritain di blog ini abis-abisan lengkap dengan nama mereka gua sebut di sini dan blog ini gua link ke orang banyak biar mereka tau.

Okay. Udah dulu ah. Btw, tidak terasa sudah mau akhir Desember. Sebentar lagi tahun baru. May a better life and year wait ahead!

Wish me luck. Peace for the world.

Listening to : Linkin Park – From the Inside

 
Design a site like this with WordPress.com
Get started